"Dari mana saja kamu?"
Bella menghentikan langkahnya saat ia sedang mengendap masuk kedalam rumah nya. Lalu, ia menoleh kearah kursi pijat yang berada di sudut ruang keluarga.
"Eh, daddy.." Bella tersenyum salah tingkah.
Pongki mematikan mesin pijatnya, lalu ia beranjak mendekati Bella.
"Mengapa kamu tinggalkan Paijo? Untung dia bisa pulang kalau tidak bagaimana dia. Lagi pula tidak ada yang menjagamu sendiri diluar, kemana kamu?" Tanya Pongki dengan wajah yang dingin.
Bella merasa bersalah, ia tidak berani menatap mata daddy nya.
"Jawab Bella!" Desak Pongki.
"Hmmmm, aku bertemu dengan Frans."
"Bedebah anak itu!" Umpat Pongki.
"Dad!"
"Diam! Daddy tidak suka kamu dengan anak itu! Ingat, kamu akan lulus S2 Bella! Sedangkan lelaki itu tidak ada masa depan!! Dia pengangguran!"
"Siapa bilang? Dia punya usaha dad!" Bella mencoba menentang Pongki.
"Usaha? Usaha apa?"
"Dia punya sebuah produksi clothing dad! Sekarang dia dalam proses untuk maju!"
"Dimana? Modal dari mana? Kamu sudah pernah melihat nya?"
Bella terdiam saat mendengar pertanyaan dari Pongki.
"Kamu itu pintar Bella. Tetapi urusan hati, kamu mau saja dibohongin oleh lelaki busuk itu. Jangan sampai daddy memberikan pelajaran kepada laki-laki itu!"
"Dad!" Berta yang sudah memakai piyama dan bersiap untuk tidur pun keluar dan menegur suaminya. Berta sangat memanjakan Bella, maka dari itu, Bella selalu dapat perlindungan dari Berta saat dirinya di marahi oleh Pongki.
Berta berjalan menghampiri Bella dan memeluk anak satu-satunya itu. Lalu, ia menatap Pongki dengan wajah yang marah.
"Aku sedang mendidik anak ini Berta! Aku ayahnya, aku berhak untuk mendidik dia lebih baik, agar dia sadar kalau dia hanya dipermainkan oleh lelaki itu!"
"Kamu tahu dari mana? Bila Frans hanya mempermainkan Bella?"
"Aku itu laki-laki! Asal kalian tahu, aku tahu maksud dan tujuan lelaki mendekati wanita. Kalau aku lihat sampai detik ini Frans tidak berani datang ke sini, Itu tandanya dia tidak serius dengan Bella!"
"Dad, Frans serius dengan Bella! Dia berjanji, setelah usahanya sukses dia akan datang melamar Bella!" Bella masih saja membela Frans kekasih nya.
Pongki tertawa sinis,
"Terserah kamu saja, daddy sudah memberikan kamu peringatan. Bila sesuatu terjadi kedepannya, daddy nggak mau tahu! Itu semua kerugian mu. Ada baiknya kamu mencari tahu tentang lelaki itu, jangan buta karena cinta, Bella! Kamu daddy didik untuk menjadi perempuan yang mandiri dan pintar. Lalu, mengapa setelah besar kau selalu dibodoh-bodohi dengan lelaki! Stupid!"
Bella terdiam mendengar ucapan Pongki yang terdengar sangat kasar ditelinga nya. Dengan penuh amarah, Bella beranjak dari hadapan Pongki dan bergegas menuju ke kamarnya di lantai atas.
"Bella!" Panggil Berta.
Bella tidak peduli, ia terus menaiki anak tangga dan menghilang di balik pintu kamarnya.
Brakkkkk..!
Bella membanting daun pintu kamarnya, lalu ia melemparkan tas nya ke sembarang arah, dan menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.
Bella sudah memiliki hubungan dengan Frans selama 5 tahun. Selama itu ia merasa Frans adalah lelaki yang baik, yang selalu memperhatikan dirinya. Frans membuat dirinya mabuk dalam ikatan cinta yang semu, tanpa ia sadari sudah ratusan juta hingga milyaran uang yang ia miliki, habis untuk Frans saja. Meskipun begitu, Bella tetap merasa ikhlas dengan segalanya. Karena ia yakin, Frans serius kepada dirinya.
Dreeettt... Dreeettt...!
Bella beranjak dari atas ranjang dan meraih tasnya yang ada di atas lantai. Lalu, ia mengambil ponselnya yang sedang berdering.
Frans, lelaki itulah yang sedang menghubungi dirinya.
Bella merapatkan bibirnya dan memandangi layar ponselnya. Dengan ragu, ia menerima panggilan telepon tersebut.
"Halo baby," Sapa Bella.
"Hai sayang, jangan lupa besok transfer ya..."
Degggg...!
Jantung Bella berdegup kencang, entah mengapa ia merasa ada benarnya apa yang dikatakan Pongki kepada dirinya. Frans tidak mempertanyakan apakah dirinya sudah berada dirumah atau belum, bagaimana perjalanan nya atau apa saja. Melainkan, Frans langsung menodong dirinya dengan janji untuk memberikan Frans sejumlah uang di esok hari.
Bella termenung dan menatap layar ponselnya.
"Baby..." Panggil Frans, dari seberang sana.
"I-i-iya..." Sahut Bella.
"Jangan lupa transfer ya... I love you.. good night..."
"I-i-iya, good night baby.."
Tut....tut...tut......
Panggilan itupun di akhiri oleh Frans.
Bella mulai merasa gelisah. Apakah yang dikatakan Pongki memang benar adanya. Ternyata Frans tidak benar-benar peduli kepada dirinya. Frans selalu mengutamakan uang yang ia miliki.
Bella mulai menangis dan tertunduk di tepi ranjangnya.
...
Dari kamarnya, Topan termenung saat mendengar perdebatan antara Bella dan Pongki. Ia dapat mendengar pembicaraan mereka melalui alat sadap yang sudah ia taruh di beberapa titik, di ruang keluarga. Topan tidak menyangka bila ternyata Bella yang cantik dan tampak begitu sulit di gapai, sedang dimanfaatkan oleh seorang lelaki bajingan.
"Cinta... segitu buta kah?" Gumam nya. Lalu, ia beranjak turun dari ranjangnya dan meraih sebungkus rokok yang tergeletak diatas meja. Lalu, ia keluar untuk merokok, hanya dengan menggunakan sarung dan singlet saja.
Topan berjalan ke arah taman dan duduk disana. Ia menyalakan sebatang rokok dan menatap bintang-bintang. Topan tidak tahu, berapa lama waktu yang akan ia habiskan di rumah itu. Sedangkan, ia mulai merindukan keluarganya dan berniat akan membawa keluarganya liburan setelah misi ini selesai.
Kemarin, saat ia baru saja pulang dari Batang, ia bertemu keluarga nya hanya beberapa jam saja. Setelah itu, ia meneken misi yang sedang ia jalani saat ini. Ada perasaan lelah dan ingin pindah devisi saja, di kantor misalnya, yang dapat pulang setiap hari dan mulai mencari pendamping hidup.
Rasa sepi mulai merasuki jiwa Topan yang sudah berada di usia dewasa dan ingin merasakan manisnya kisah cinta. Tetapi apa daya, menjadi anggota kesatuan membuat dirinya adalah putra negara, yang harus siap dengan segala tugas apa pun yang diberikan kepada dirinya.
Grosekkkkk..!
Topan menoleh kearah suara yang terdengar samar di belakang nya. Wajahnya terlihat waspada dan siap untuk membela dirinya, bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Betapa terkejutnya Topan, saat melihat Pongki yang sedang berjalan kearah nya.
"Pak bos...!" Seru Topan.
Pongki pun terkejut saat melihat Topan yang sedang duduk disana. Lalu, lelaki paruh baya itu tersenyum dan menghampiri Topan.
"Kok belum tidur?" Tanya Pongki seraya beranjak duduk di samping Topan.
Topan terlihat grogi, saat ini dirinya sedang duduk bersama target yang harusnya siap untuk ia cokok. Namun, apa daya, semua butuh proses dan tidak membahayakan dirinya dalam bertugas.
"Be-belum pak bos. Saya habis makan dan menikmati rokok sejenak,"
Pongki tersenyum dan meraih bungkus rokok Topan yang tergeletak di bangku taman tersebut.
"Minta satu ya," Ucap Pongki.
Topan terdiam, ia tidak menyangka bila Pongki memiliki sisi yang begitu sederhana.
"Ngeh pak bos," Sahutnya.
Pongki menyalakan rokoknya dan menghisapnya dengan perlahan. Lalu, ia tersenyum dan menatap Topan dengan wajah yang semringah.
"Rokok apa ini? Enak ya.."
"Rokok kampung pak boss." Sahut Topan sambil tersenyum malu-malu.
"Enak kok. Nanti kalau kamu pulang kampung, saya nitip rokok ini satu slop ya," Ucap Pongki.
Topan tersenyum, lalu ia mengangguk pelan.
Terlihat guratan kegelisahan di wajah Pongki. Sejatinya, Topan menangkap perasaan lelah juga di wajah Pongki.
"Pak boss kok belum tidur?" Tanya Topan berbasa basi.
Pongki menggeleng lemah, lalu ia tertunduk lesu.
"Saya insomnia," Ucap Pongki.
"Lagi banyak pikiran ya pak?" Tanya Topan lagi.
Pongki melirik Topan dan tersenyum dengan lembut.
"Andai anak lelaki ku masih hidup, mungkin dia seusia dengan mu."
Topan terdiam, ia terus menatap Pongki.
"Maafkan Bella ya," Ucap Pongki.
Topan semakin terpaku, ia tidak menyangka, lelaki yang di anggap sebagai gembong nark*ba itu, sangat jauh dari kata bengis. Namun, entah mengapa bisa Pongki memilih jalan yang sesat.
"Iya pak bos, rapopo." Sahut Topan.
Pongki tersenyum dan beranjak dari duduknya.
"Besok, jangan biarkan Bella terlepas dari pandangan mu. Antar kan dia, jaga dia dengan baik dan jangan mengebut."
"Ngeh pak bos," Sahut Topan.
"Ya sudah, saya kembali kedalam dulu."
Pongki melangkah menuju ke rumahnya. Sedangkan Topan terus menatap punggung lelaki paruh baya itu. Lalu, ia menghela nafas panjang dan terus menatap Pongki, hingga lelaki itu menghilang dari pandangan nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 187 Episodes
Comments
sandi
jgn2 bkn bapake y gembong tp anak buahnya, pongky gak tw😁😁
2021-12-28
1
ama luph endhe
cinta buta tu ga tau yg salah tau ny yg bnr ja
kl bella sprt ny cinta bod**, d ksh tau kl d manfaatin tp ttp ja ga peduli pdhl bukti ny dy ngrasain ndri, 🤭🤭🤭
2021-11-20
2
Annie
bella cepet sadar klu frans g cinta qm, tapi die cinta duit qm 😁
2021-11-18
7