XIV - Penyihir Vanhoiren

Idris terdengar sedang menghela napas. Rose pun mengalihkan pandangannya pada Idris. Sepertinya dia agak terganggu karena perkataanku tadi.

Sepanjang hari, aku hanya fokus menghitung banyaknya anggaran dan membantu Idris memeriksa kekurangan yang harus ditambah pada perayaan Festival Bunga. Baru sehari, pekerjaan yang harus dikerjakan sudah seperti ini. Aku tidak sabar untuk menyelesaikan semuanya.

“Apakah aku harus menjauhkan Nona Hindley darimu?” tanya Idris saat aku hendak pulang bersama Isla. Rose sudah pulang duluan.

“Tidak perlu, Yang Mulia,” tolakku halus. “Kereta kuda saya sudah datang. Saya pamit pulang dulu, Yang Mulia.”

“Baiklah, hati-hati Nona Charlotte.” Sepertinya dia akan terus memanggil namaku.

Aku mengangguk dan masuk ke dalam kereta kuda bersama Isla.

Isla menatapku sambil tersenyum. Aku tahu apa yang sekarang dia pikirkan. Kejadian di balkon adalah sebuah kejadian yang memalukan untukku. Tapi yang paling penting adalah aku penasaran dengan isi pikiran dari Rose.

“Isi pikirannya hanya penuh dengan makian untuk Nona Charlotte,” kata Isla. “Sedangkan Putra Mahkota ..., aku tidak bisa membaca pikirannya.”

“Hm, begitu. Apa ada sihir kegelapan yang terdeteksi di dalam istana?” tanyaku penasaran. Aku bahkan tidak bisa mendengar suara apa pun dari kejauhan.

“Sebenarnya ..., bukannya tidak bisa terdeteksi lagi. Istana Kekaisaran diselimuti oleh lapisan pelindung dari sihir kegelapan,” ungkap Isla. “Aku tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Kekaisaran Vanhoiren, tapi yang jelas ini lebih serius dibanding kelihatannya.”

Aku tidak bisa merasakan sihir itu dengan kekuatanku. Bisa disimpulkan, sihir kegelapan bukanlah sebuah sihir yang bisa ditangani olehku yang merupakan orang yang baru belajar tentang sihir dalam waktu kurang dari setahun.

“Apakah kau sudah menemukan siapa dalang dibalik sihir itu?”

Isla menggeleng. “Kita membutuhkan bantuan Nyonya.”

“Apakah kalian memanggilku?” Suara Ava kembali terdengar dari kristal komunikasi.

“Nyonya!” Isla berseru senang.

“Keadaannya tidak segampang yang kupikirkan, ya.” Ava bergumam tetapi masih terdengar. “Aku akan ingin memeriksanya sendiri setelah pekerjaanku di Menara selesai. Tunggulah sedikit lagi.”

“Baiklah,” kataku pada Ava.

“Kau sedang bicara dengan Charlotte?” Itu suara Lucas.

“Tidak, Yang Mulia fokus saja pada tumpukan kertas itu,” jawab Ava dengan nada kesal. “Kalau begitu akan kuhubungi kalian lagi nanti.”

“Charlotte!” Teriakan Lucas membuatku tertawa. Ava mematikan komunikasinya hingga tak terdengar apa pun lagi di seberang.

Isla tiba-tiba saja jatuh dari tempat duduk dan memuntahkan darah setelah beberapa kali batuk. Aku mencoba untuk membantunya, namun Isla mendorongku. Aku menatapnya dengan perasaan bingung serta khawatir.

“Tidak, Nona. Jangan dekati aku,” ucap Isla yang kemudian kembali muntah. “Ini ..., ugh.”

Aku melotot kaget saat muntahan darah yang tadinya berwarna merah tua berubah menjadi hitam. Bau amis memenuhi kereta kuda yang kami tumpangi. “Apa yang terjadi?!”

“Nona Winston, apakah Anda perlu sesuatu?” tanya Max, kusir keluarga Winston.

“Tidak, Max. Jangan menghentikan keretanya,” jawabku setengah berteriak.

“Baik, Nona.”

Isla mengeluarkan sihir kedap suara lagi. Mungkin saja sihirnya menghilang karena dia muntah barusan. “Sihirnya saling bertentangan dengan sihir yang ada di dalam tubuhku. Jangan sentuh aku, Nona. Aku sedang dikutuk.”

“Kau harus segera pergi ke Avnevous,” usulku.

Isla mengangguk dan mengeluarkan kristal komunikasi miliknya. Bukannya terhubung dengan Ava, kristal itu malah pecah. Aku ingin membangunkan Isla dari lantai kereta tapi Isla berkata jika kutukan di dalam tubuhnya akan menempel padaku juga ketika aku menyentuhnya.

Bahkan ketika kami sampai ke rumahku, Isla menyuruhku untuk turun duluan selagi dia membereskan muntahannya. Aku pun menunggu Isla di dalam ruang kerjaku sambil mencoba menghubungi Ava.

“Mana Isla?” tanya Ava yang sudah muncul dari ruang bawah tanah. Bertepatan dengan Isla yang masuk ke dalam ruanganku. Isla dan Ava saling bertepatan dan tanpa basa basi. Ava menutup hidungnya dengan tangan. “Bau tengik dari mana ini?!”

“Nyonya ...,” gumam Isla. “Maaf karena aku sudah bersikap ceroboh di sana.”

“Kau ditempeli parasit,” kata Ava. “Mandi dengan air suci di Menara juga sudah sembuh.”

“Baiklah,” ucap Isla dengan wajah muram.

“Kenapa kau malah berwajah seperti itu, Isla?” tanyaku penasaran.

“Sebenarnya air suci itu-”

“Sudah cepat pergi,” potong Ava. Isla langsung lari menuju ruang bawah tanah. Ava melirikku dan menghela napas. “Ada yang aneh dengan rumahmu ini.”

Aneh?

“Ruangan apa yang ada di atas ruangan ini?” tanya Ava. Ini pertama kalinya dia mengunjungiku. “Sepertinya ada tongkat suci di sana.”

“Itu ruangan pribadi Ibuku,” jawabku pada Ava. “Apa maksudnya tongkat suci?”

“Ayo ke sana,” ucap Ava sambil keluar dari ruang kerjaku tanpa basa-basi. Mau tak mau aku menyusul Ava yang berjalan dengan langkah cepat.

Sebenarnya sudah lama aku tidak masuk ke dalam ruangan Ibuku. Biasanya Ibu menghabiskan waktu di dalam ruangannya dengan membaca buku dan bermeditasi. Aku sempat melihat Ibu duduk diam memandang ke luar jendela lalu menitikkan air mata. Saat ditanya, Ibu hanya tersenyum dan mengucapkan sesuatu yang tidak bisa kuingat.

“Dikunci,” gumamku saat mencoba membuka ruangan Ibuku.

Ava mengucapkan mantra sihir dan pintu itu langsung terbuka. Dia masuk begitu saja tanpa berkata apa pun. Aku ikut masuk dan menutup pintunya kembali. Ava memandangi lukisan Ibuku yang tergantung di tengah dinding.

“Ini Ibumu?”

“Ya,” kataku sambil ikut melihat lukisan itu. Rambut dan mata Ibu sama sepertiku. Ibu sangatlah cantik dan anggun, aku berharap jika aku bisa menjadi sepertinya.

Ava mendelik padaku. “Kenapa dia bisa mati?”

“Ibuku jatuh sakit.” Sebenarnya, aku hanya tahu Ibu meninggal karena sebuah penyakit yang tidak kuketahui.

Ava kembali menatap lukisan Ibu lalu mengangkat tangan kanannya ke arah lukisan. Dia memejamkan mata. “Abre este sello mágico,” gumam Ava.

Cahaya berwarna emas keluar dari lukisan Ibu. Lukisan itu berubah dengan lukisan lain. Sebuah gambaran sosok Ibu ketika masih muda. Namun berpenampilan seperti penyihir dengan sebuah tongkat emas. Atau ..., Ibu memanglah penyihir?!

“Siapa nama Ibumu?” tanya Ava.

“Eva Isabella Winston.”

Ava tertawa dengan sebuah tongkat persis seperti yang dipegang Ibuku di lukisan. Tongkat itu muncul secara ajaib di tangannya. Aku bergidik ngeri karena tawa Ava. “Ibumu adalah murid pertamaku, Charlotte. Dan kemungkinan besar, semua hal yang dilakukan Ibumu sebagai Penyihir Kekaisaran telah dikotori oleh orang lain.”

“A-Apa?”

“Tongkat ini benda yang berharga. Aku akan menyimpannya sampai maksimal kau naik takhta.” Tongkat itu sudah hilang dari tangannya secara ajaib juga. “Banyak hal yang ingin kukatakan padamu. Tapi waktuku sedikit.”

Aku tersenyum. “Jangan terburu-buru mengatakan hal itu. Aku akan menunggu,” kataku.

Ava menyeringai. “Pastikan kau berikan pekerjaan yang berat pada Isla jika dia kembali nanti.”

“Baiklah. Tapi, tolong kembalikan lukisan Ibuku seperti semula,” pintaku.

“Kau benar,” kata Ava sambil mengembalikan semuanya seperti semula.

Ava berpamitan padaku dan kembali pulang ke Avnevous tanpa berlama-lama. Paginya, Isla kembali pulang dengan kondisi fit dan persiapan yang lebih matang. Lucas menitipkan seikat bunga daisy pada Isla untukku. Kupajang bunga itu di vas agar tidak cepat layu. Mungkin saja aku akan meminta Lucas untuk minum teh denganku lagi.

Terpopuler

Comments

Frando Kanan

Frando Kanan

gk sangka ibu FMC adalah murid Dr penyihir itu....

2021-09-01

0

Ukhty Tutie

Ukhty Tutie

buat ku mana dong bunganya😂

2020-10-16

3

senja

senja

hmm jadi ada yg tau kl si Ibu itu Penyihir ya dan bisa jadi si Raja itu sakit karna Penyihir hitam

2020-05-20

4

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 I - Hidup Baru
3 II - Muka Dua
4 III - Kenangan Indah
5 IV - Pembuat Masalah
6 V - Lembar Pertama
7 VI - Penyihir Avnevous
8 VII - Ava Bloodhart
9 VIII - Calon Ratu
10 IX - Kediaman Winston
11 X - Lamaran Dadakan
12 XI - Persiapan Festival
13 XII - Rapat Pertama
14 XIII - Bersama Idris
15 XIV - Penyihir Vanhoiren
16 XV - Rapat Terakhir
17 XVI - Pernyataan Cinta
18 XVII - Festival Bunga (I)
19 XVIII - Festival Bunga (II)
20 XIX - Kediaman Dominic
21 XX - Calon Mertua
22 XXI - Istana Perunggu
23 XXII - Hari Pemburuan (I)
24 XXIII - Hari Pemburuan (II)
25 XXIV - Hari Pemburuan (III)
26 XXV - Kebersamaan Kami
27 XXVI - Hilangnya Rekan
28 XXVII - Menjadi Kuat
29 XXVIII - Anak Marquess
30 XXIX - Rekan Baru
31 XXX - Makan Malam
32 XXXI - Memberitahu Kebenaran
33 XXXII - Malam Pertunangan
34 XXXIII - Emosi Sesaat
35 XXXIV - Penyemangat Charlotte
36 XXXV - Makan Siang
37 XXXVI - Penobatan Lucas
38 XXXVII - Ava Galak
39 XXXVIII - Perasaan Isaac
40 XXXIX - Persiapan Pernikahan (I)
41 XL - Persiapan Pernikahan (II)
42 XLI - Kasus Penculikan
43 XLII - Kaisar Ke-XIX
44 XLIII - Penemuan Menggemparkan
45 XLIV - Bujuk Rayu
46 XLV - Kejutan Menegangkan
47 XLVI - Semakin Memanas
48 XLVII - Pengadilan Tinggi (I)
49 XLVIII - Pengadilan Tinggi (II)
50 XLIX - Pengadilan Tinggi (III)
51 L - Pengadilan Tinggi (IV)
52 LI - Pengadilan Tinggi (V)
53 LII - Balasan Kecil
54 LIII - Merasa Déjà vu
55 LIV - Hari Terakhir
56 LV - Upacara Pernikahan (I)
57 LVI - Upacara Pernikahan (II)
58 LVII - Era XX
59 LVIII - Malam Pertama
60 LIX - Bincang Malam
61 LX - Kegiatan Pagi (I)
62 LXI - Kegiatan Pagi (II)
63 LXII - Kegiatan Pagi (III)
64 LXIII - Kehebohan Mendadak
65 LXIV - Berita Duka
66 LXV - Serangan Dadakan
67 LXVI - Mulai Menghantui
68 LXVII - Diselamatkan Ava
69 LXVIII - Benang Merah
70 LXIX - Pertemuan Rahasia
71 LXX - Tumpahkan Saja
72 LXXI - Pemecatan Massal
73 LXXII - Misi Penyelamatan (I)
74 LXXIII - Misi Penyelamatan (II)
75 LXXIV - Selamat Tinggal
76 LXXV - Merasa Hancur
77 LXXVI - Titik Balik
78 LXXVII - Terancam Dibunuh
79 LXXVIII - Ancaman Ava
80 LXXIX - Interogasi Belka (I)
81 LXXX - Interogasi Belka (II)
82 LXXXI - Topik Berat
83 LXXXII - Bertemu Idris
84 LXXXIII - Hari Eksekusi (I)
85 LXXXIV - Hari Eksekusi (II)
86 LXXXV - Hari Eksekusi (III)
87 LXXXVI - Mata-mata Ayah
88 LXXXVII - Masa Lalu
89 LXXXVIII - Informasi Menarik
90 LXXXIX - Rahasia Liontin
91 XC - Potongan Puzzle (I)
92 XCI - Potongan Puzzle (II)
93 XCII - Adegan Ranjang
94 XCIII - Ibu Hamil
95 XCIV - Pemakaman Isla
96 XCV - Rencana Terakhir
97 XCVI - Kudeta Ratu (I)
98 XCVII - Kudeta Ratu (II)
99 XCVIII - Kudeta Ratu (III)
100 XCIX - Kudeta Ratu (IV)
101 C - Usai Kudeta (I)
102 CI - Usai Kudeta (II)
103 CII - Ingatan Idris (I)
104 CIII - Ingatan Idris (II)
105 CIV - Ingatan Idris (III)
106 CV - Pertemuan Resmi (I)
107 CVI - Pertemuan Resmi (II)
108 CVII - Bertemu Ayah
109 CVIII - Menyelesaikan Masalah
110 CIX - Menunggu Jack
111 CX - Serangan Kejutan
112 CXI - Menjadi Kaisarina
113 Epilog
114 Pojok Informasi
115 『S2』 Prolog
116 『S2』 I - Laporan
117 『S2』 II - Kecupan
118 『S2』 III - Duke
119 『S2』 IV - Dongeng
120 『S2』 V - Hantu
121 『S2』 VI - Pertemuan
Episodes

Updated 121 Episodes

1
Prolog
2
I - Hidup Baru
3
II - Muka Dua
4
III - Kenangan Indah
5
IV - Pembuat Masalah
6
V - Lembar Pertama
7
VI - Penyihir Avnevous
8
VII - Ava Bloodhart
9
VIII - Calon Ratu
10
IX - Kediaman Winston
11
X - Lamaran Dadakan
12
XI - Persiapan Festival
13
XII - Rapat Pertama
14
XIII - Bersama Idris
15
XIV - Penyihir Vanhoiren
16
XV - Rapat Terakhir
17
XVI - Pernyataan Cinta
18
XVII - Festival Bunga (I)
19
XVIII - Festival Bunga (II)
20
XIX - Kediaman Dominic
21
XX - Calon Mertua
22
XXI - Istana Perunggu
23
XXII - Hari Pemburuan (I)
24
XXIII - Hari Pemburuan (II)
25
XXIV - Hari Pemburuan (III)
26
XXV - Kebersamaan Kami
27
XXVI - Hilangnya Rekan
28
XXVII - Menjadi Kuat
29
XXVIII - Anak Marquess
30
XXIX - Rekan Baru
31
XXX - Makan Malam
32
XXXI - Memberitahu Kebenaran
33
XXXII - Malam Pertunangan
34
XXXIII - Emosi Sesaat
35
XXXIV - Penyemangat Charlotte
36
XXXV - Makan Siang
37
XXXVI - Penobatan Lucas
38
XXXVII - Ava Galak
39
XXXVIII - Perasaan Isaac
40
XXXIX - Persiapan Pernikahan (I)
41
XL - Persiapan Pernikahan (II)
42
XLI - Kasus Penculikan
43
XLII - Kaisar Ke-XIX
44
XLIII - Penemuan Menggemparkan
45
XLIV - Bujuk Rayu
46
XLV - Kejutan Menegangkan
47
XLVI - Semakin Memanas
48
XLVII - Pengadilan Tinggi (I)
49
XLVIII - Pengadilan Tinggi (II)
50
XLIX - Pengadilan Tinggi (III)
51
L - Pengadilan Tinggi (IV)
52
LI - Pengadilan Tinggi (V)
53
LII - Balasan Kecil
54
LIII - Merasa Déjà vu
55
LIV - Hari Terakhir
56
LV - Upacara Pernikahan (I)
57
LVI - Upacara Pernikahan (II)
58
LVII - Era XX
59
LVIII - Malam Pertama
60
LIX - Bincang Malam
61
LX - Kegiatan Pagi (I)
62
LXI - Kegiatan Pagi (II)
63
LXII - Kegiatan Pagi (III)
64
LXIII - Kehebohan Mendadak
65
LXIV - Berita Duka
66
LXV - Serangan Dadakan
67
LXVI - Mulai Menghantui
68
LXVII - Diselamatkan Ava
69
LXVIII - Benang Merah
70
LXIX - Pertemuan Rahasia
71
LXX - Tumpahkan Saja
72
LXXI - Pemecatan Massal
73
LXXII - Misi Penyelamatan (I)
74
LXXIII - Misi Penyelamatan (II)
75
LXXIV - Selamat Tinggal
76
LXXV - Merasa Hancur
77
LXXVI - Titik Balik
78
LXXVII - Terancam Dibunuh
79
LXXVIII - Ancaman Ava
80
LXXIX - Interogasi Belka (I)
81
LXXX - Interogasi Belka (II)
82
LXXXI - Topik Berat
83
LXXXII - Bertemu Idris
84
LXXXIII - Hari Eksekusi (I)
85
LXXXIV - Hari Eksekusi (II)
86
LXXXV - Hari Eksekusi (III)
87
LXXXVI - Mata-mata Ayah
88
LXXXVII - Masa Lalu
89
LXXXVIII - Informasi Menarik
90
LXXXIX - Rahasia Liontin
91
XC - Potongan Puzzle (I)
92
XCI - Potongan Puzzle (II)
93
XCII - Adegan Ranjang
94
XCIII - Ibu Hamil
95
XCIV - Pemakaman Isla
96
XCV - Rencana Terakhir
97
XCVI - Kudeta Ratu (I)
98
XCVII - Kudeta Ratu (II)
99
XCVIII - Kudeta Ratu (III)
100
XCIX - Kudeta Ratu (IV)
101
C - Usai Kudeta (I)
102
CI - Usai Kudeta (II)
103
CII - Ingatan Idris (I)
104
CIII - Ingatan Idris (II)
105
CIV - Ingatan Idris (III)
106
CV - Pertemuan Resmi (I)
107
CVI - Pertemuan Resmi (II)
108
CVII - Bertemu Ayah
109
CVIII - Menyelesaikan Masalah
110
CIX - Menunggu Jack
111
CX - Serangan Kejutan
112
CXI - Menjadi Kaisarina
113
Epilog
114
Pojok Informasi
115
『S2』 Prolog
116
『S2』 I - Laporan
117
『S2』 II - Kecupan
118
『S2』 III - Duke
119
『S2』 IV - Dongeng
120
『S2』 V - Hantu
121
『S2』 VI - Pertemuan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!