Idris terdengar sedang menghela napas. Rose pun mengalihkan pandangannya pada Idris. Sepertinya dia agak terganggu karena perkataanku tadi.
Sepanjang hari, aku hanya fokus menghitung banyaknya anggaran dan membantu Idris memeriksa kekurangan yang harus ditambah pada perayaan Festival Bunga. Baru sehari, pekerjaan yang harus dikerjakan sudah seperti ini. Aku tidak sabar untuk menyelesaikan semuanya.
“Apakah aku harus menjauhkan Nona Hindley darimu?” tanya Idris saat aku hendak pulang bersama Isla. Rose sudah pulang duluan.
“Tidak perlu, Yang Mulia,” tolakku halus. “Kereta kuda saya sudah datang. Saya pamit pulang dulu, Yang Mulia.”
“Baiklah, hati-hati Nona Charlotte.” Sepertinya dia akan terus memanggil namaku.
Aku mengangguk dan masuk ke dalam kereta kuda bersama Isla.
Isla menatapku sambil tersenyum. Aku tahu apa yang sekarang dia pikirkan. Kejadian di balkon adalah sebuah kejadian yang memalukan untukku. Tapi yang paling penting adalah aku penasaran dengan isi pikiran dari Rose.
“Isi pikirannya hanya penuh dengan makian untuk Nona Charlotte,” kata Isla. “Sedangkan Putra Mahkota ..., aku tidak bisa membaca pikirannya.”
“Hm, begitu. Apa ada sihir kegelapan yang terdeteksi di dalam istana?” tanyaku penasaran. Aku bahkan tidak bisa mendengar suara apa pun dari kejauhan.
“Sebenarnya ..., bukannya tidak bisa terdeteksi lagi. Istana Kekaisaran diselimuti oleh lapisan pelindung dari sihir kegelapan,” ungkap Isla. “Aku tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Kekaisaran Vanhoiren, tapi yang jelas ini lebih serius dibanding kelihatannya.”
Aku tidak bisa merasakan sihir itu dengan kekuatanku. Bisa disimpulkan, sihir kegelapan bukanlah sebuah sihir yang bisa ditangani olehku yang merupakan orang yang baru belajar tentang sihir dalam waktu kurang dari setahun.
“Apakah kau sudah menemukan siapa dalang dibalik sihir itu?”
Isla menggeleng. “Kita membutuhkan bantuan Nyonya.”
“Apakah kalian memanggilku?” Suara Ava kembali terdengar dari kristal komunikasi.
“Nyonya!” Isla berseru senang.
“Keadaannya tidak segampang yang kupikirkan, ya.” Ava bergumam tetapi masih terdengar. “Aku akan ingin memeriksanya sendiri setelah pekerjaanku di Menara selesai. Tunggulah sedikit lagi.”
“Baiklah,” kataku pada Ava.
“Kau sedang bicara dengan Charlotte?” Itu suara Lucas.
“Tidak, Yang Mulia fokus saja pada tumpukan kertas itu,” jawab Ava dengan nada kesal. “Kalau begitu akan kuhubungi kalian lagi nanti.”
“Charlotte!” Teriakan Lucas membuatku tertawa. Ava mematikan komunikasinya hingga tak terdengar apa pun lagi di seberang.
Isla tiba-tiba saja jatuh dari tempat duduk dan memuntahkan darah setelah beberapa kali batuk. Aku mencoba untuk membantunya, namun Isla mendorongku. Aku menatapnya dengan perasaan bingung serta khawatir.
“Tidak, Nona. Jangan dekati aku,” ucap Isla yang kemudian kembali muntah. “Ini ..., ugh.”
Aku melotot kaget saat muntahan darah yang tadinya berwarna merah tua berubah menjadi hitam. Bau amis memenuhi kereta kuda yang kami tumpangi. “Apa yang terjadi?!”
“Nona Winston, apakah Anda perlu sesuatu?” tanya Max, kusir keluarga Winston.
“Tidak, Max. Jangan menghentikan keretanya,” jawabku setengah berteriak.
“Baik, Nona.”
Isla mengeluarkan sihir kedap suara lagi. Mungkin saja sihirnya menghilang karena dia muntah barusan. “Sihirnya saling bertentangan dengan sihir yang ada di dalam tubuhku. Jangan sentuh aku, Nona. Aku sedang dikutuk.”
“Kau harus segera pergi ke Avnevous,” usulku.
Isla mengangguk dan mengeluarkan kristal komunikasi miliknya. Bukannya terhubung dengan Ava, kristal itu malah pecah. Aku ingin membangunkan Isla dari lantai kereta tapi Isla berkata jika kutukan di dalam tubuhnya akan menempel padaku juga ketika aku menyentuhnya.
Bahkan ketika kami sampai ke rumahku, Isla menyuruhku untuk turun duluan selagi dia membereskan muntahannya. Aku pun menunggu Isla di dalam ruang kerjaku sambil mencoba menghubungi Ava.
“Mana Isla?” tanya Ava yang sudah muncul dari ruang bawah tanah. Bertepatan dengan Isla yang masuk ke dalam ruanganku. Isla dan Ava saling bertepatan dan tanpa basa basi. Ava menutup hidungnya dengan tangan. “Bau tengik dari mana ini?!”
“Nyonya ...,” gumam Isla. “Maaf karena aku sudah bersikap ceroboh di sana.”
“Kau ditempeli parasit,” kata Ava. “Mandi dengan air suci di Menara juga sudah sembuh.”
“Baiklah,” ucap Isla dengan wajah muram.
“Kenapa kau malah berwajah seperti itu, Isla?” tanyaku penasaran.
“Sebenarnya air suci itu-”
“Sudah cepat pergi,” potong Ava. Isla langsung lari menuju ruang bawah tanah. Ava melirikku dan menghela napas. “Ada yang aneh dengan rumahmu ini.”
Aneh?
“Ruangan apa yang ada di atas ruangan ini?” tanya Ava. Ini pertama kalinya dia mengunjungiku. “Sepertinya ada tongkat suci di sana.”
“Itu ruangan pribadi Ibuku,” jawabku pada Ava. “Apa maksudnya tongkat suci?”
“Ayo ke sana,” ucap Ava sambil keluar dari ruang kerjaku tanpa basa-basi. Mau tak mau aku menyusul Ava yang berjalan dengan langkah cepat.
Sebenarnya sudah lama aku tidak masuk ke dalam ruangan Ibuku. Biasanya Ibu menghabiskan waktu di dalam ruangannya dengan membaca buku dan bermeditasi. Aku sempat melihat Ibu duduk diam memandang ke luar jendela lalu menitikkan air mata. Saat ditanya, Ibu hanya tersenyum dan mengucapkan sesuatu yang tidak bisa kuingat.
“Dikunci,” gumamku saat mencoba membuka ruangan Ibuku.
Ava mengucapkan mantra sihir dan pintu itu langsung terbuka. Dia masuk begitu saja tanpa berkata apa pun. Aku ikut masuk dan menutup pintunya kembali. Ava memandangi lukisan Ibuku yang tergantung di tengah dinding.
“Ini Ibumu?”
“Ya,” kataku sambil ikut melihat lukisan itu. Rambut dan mata Ibu sama sepertiku. Ibu sangatlah cantik dan anggun, aku berharap jika aku bisa menjadi sepertinya.
Ava mendelik padaku. “Kenapa dia bisa mati?”
“Ibuku jatuh sakit.” Sebenarnya, aku hanya tahu Ibu meninggal karena sebuah penyakit yang tidak kuketahui.
Ava kembali menatap lukisan Ibu lalu mengangkat tangan kanannya ke arah lukisan. Dia memejamkan mata. “Abre este sello mágico,” gumam Ava.
Cahaya berwarna emas keluar dari lukisan Ibu. Lukisan itu berubah dengan lukisan lain. Sebuah gambaran sosok Ibu ketika masih muda. Namun berpenampilan seperti penyihir dengan sebuah tongkat emas. Atau ..., Ibu memanglah penyihir?!
“Siapa nama Ibumu?” tanya Ava.
“Eva Isabella Winston.”
Ava tertawa dengan sebuah tongkat persis seperti yang dipegang Ibuku di lukisan. Tongkat itu muncul secara ajaib di tangannya. Aku bergidik ngeri karena tawa Ava. “Ibumu adalah murid pertamaku, Charlotte. Dan kemungkinan besar, semua hal yang dilakukan Ibumu sebagai Penyihir Kekaisaran telah dikotori oleh orang lain.”
“A-Apa?”
“Tongkat ini benda yang berharga. Aku akan menyimpannya sampai maksimal kau naik takhta.” Tongkat itu sudah hilang dari tangannya secara ajaib juga. “Banyak hal yang ingin kukatakan padamu. Tapi waktuku sedikit.”
Aku tersenyum. “Jangan terburu-buru mengatakan hal itu. Aku akan menunggu,” kataku.
Ava menyeringai. “Pastikan kau berikan pekerjaan yang berat pada Isla jika dia kembali nanti.”
“Baiklah. Tapi, tolong kembalikan lukisan Ibuku seperti semula,” pintaku.
“Kau benar,” kata Ava sambil mengembalikan semuanya seperti semula.
Ava berpamitan padaku dan kembali pulang ke Avnevous tanpa berlama-lama. Paginya, Isla kembali pulang dengan kondisi fit dan persiapan yang lebih matang. Lucas menitipkan seikat bunga daisy pada Isla untukku. Kupajang bunga itu di vas agar tidak cepat layu. Mungkin saja aku akan meminta Lucas untuk minum teh denganku lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments
Frando Kanan
gk sangka ibu FMC adalah murid Dr penyihir itu....
2021-09-01
0
Ukhty Tutie
buat ku mana dong bunganya😂
2020-10-16
3
senja
hmm jadi ada yg tau kl si Ibu itu Penyihir ya dan bisa jadi si Raja itu sakit karna Penyihir hitam
2020-05-20
4