Aku melangkahkan kakiku memasuki Kediaman Dominic. Tempat Grand Duchess tinggal. Beberapa bangsawan kelas atas yang kuketahui sudah duduk berkerumunan membentuk kelompoknya sendiri-sendiri. Aku memilih duduk berdua bersama Isla setelah menyapa Grand Duchess di depan pintu.
Berbeda dengan suaminya, Grand Duke yang dijuluki si bijaksana. Grand Duchess adalah sosok yang dikenal angkuh dan suka memerintah. Dia adalah seorang pesolek dan mudah dipengaruhi oleh gosip-gosip negatif.
Aku tidak bisa membantah hal itu karena sudah lama aku dikelilingi oleh orang-orang seperti itu saat menjadi Ratu.
“Wah, Nona Winston.” Marchioness Franklin menghampiriku bersama Rose yang mengekor di belakang. “Senang melihatmu di sini.”
Aku memberi salam. “Senang melihat Anda di sini juga, Marchioness Franklin.”
“Yang Mulia Putra Mahkota sebentar lagi akan datang ke sini. Apakah Nona Winston akan me-monopoli Yang Mulia lagi?”
“Maaf?” Aku mengernyitkan dahi.
Bukannya menjawab, Marchioness Franklin malah tertawa kecil. “Nona Winston tidak perlu bersikap sepolos itu padaku,” ucapnya. “Apakah karena Nona Winston kehilangan sosok Ibu saat masih kecil hingga membuat Nona Winston kurang belajar tata krama wanita bangsawan?”
“Marchioness Franklin, bisakah Anda mengatakan hal itu dengan jelas?” Aku tahu jika dia berusaha menyindirku. Tapi aku tidak tahu sindiran apa yang sedang berusaha dia sampaikan. Apakah sesuatu tentang Idris?
“Nona Hindley melihat Nona Winston dengan mata kepalanya sendiri sedang menggoda Yang Mulia saat bekerja bersama di ruang kerja Yang Mulia saat persiapan perayaan Festival Bunga,” jelas Marchioness Franklin. “Jika ingin dianggap sebagai wanita milik Yang Mulia, lakukanlah dengan cara anggun.”
Aku menatap Rose yang tersenyum mengejek ke arahku. “Apa yang kau lakukan Nona Rose? Apakah kau ingin membuatku dalam masalah karena fitnahanmu?”
“Oh, ya ampun, Nona Winston.” Marchioness Franklin berdecak. “Bukan begitu cara bertanya yang sopan dan anggun. Ternyata menjadi seorang Viscount pun tetap saja kalah dari anak seorang Baron.”
Kulihat Isla sudah menunjukkan raut wajah kesal. Namun aku hanya bisa menghela napas karena tidak ingin terpancing emosi.
“Apakah Marchioness Franklin melihat dengan mata kepala Marchioness sendiri jika saya menggoda Yang Mulia Putra Mahkota?” tanyaku lantang. “Apakah hanya dengan perkataan satu orang saja semuanya akan menjadi fakta?”
Marchioness Franklin terkejut sama seperti Rose. “Nona Win-”
“Jika saya meminta buktinya sekarang, apakah Marchioness Franklin atau mungkin Nona Rose Hindley akan memberikannya?”
Grand Duchess yang mendengar suaraku segera menghampiri kami. Dia menatap kami bertiga dengan raut wajah menyelidik.
“Ada apa ini?” tanya Grand Duchess.
“Maaf karena telah membuat keributan, Grand Duchess,” ucapku sopan.
Grand Duchess mengalihkan pandangannya pada Marchioness Franklin. “Apakah kau bisa menjelaskan hal ini?”
“Ini mengenai perilaku menyimpang Nona Winston seperti yang dilaporkan oleh Nona Hindley,” adu Marchioness Franklin.
“Dan perilaku menyimpang apakah itu?” desak Grand Duchess.
Para bangsawan lain sudah berkumpul dan menonton kami berempat. Di saat seperti ini pun, Rose masih saja bersembunyi di belakang Marchioness Franklin. Bahkan Duchess Harriston enggan untuk ikut campur jika Grand Duchess sudah turun tangan.
“Nona Winston dipergoki oleh Nona Hindley telah menggoda Yang Mulia Putra Mahkota,” ucap Marchioness. Dan ucapannya itu membuat semua bangsawan yang mendengarnya kaget sekaligus kesal. Tatapan tajam langsung diberikan kepadaku. “Itu bukanlah contoh yang baik untuk seorang bangsawan sepertinya.”
“Memangnya kenapa kalau Nona Charlotte menggodaku?” Suara Idris muncul secara spontan. Ternyata, Idris sudah datang tanpa memerintahkan pengawalnya menyuarakan kedatangannya. Semua bangsawan menjauh untuk membuka jalan. “Marchioness, apa yang kau katakan sekarang bukan hanya membuat nama Nona Charlotte tercoreng. Tapi namaku juga.”
Marchioness menunduk. “Maafkan saya, Yang Mulia.”
Idris menghampiriku dan melingkarkan tangannya ke pinggangku dengan erat. “Karena sudah ada hal yang tidak diinginkan seperti ini, sebaiknya aku memberitahukan kabar baik ini kepada kalian semua yang ada di sini.”
Aku menghela napas.
“Aku dan juga Nona Charlotte adalah pasangan kekasih. Dan Nona Charlotte akan menjadi Ratuku nantinya,” kata Idris tanpa keraguan.
“Yang Mulia! Tapi, wanita itu ...”
“Marchioness Franklin, yang kau sebut wanita itu adalah calon istriku,” sanggah Idris. “Serta akan menjadi Ibu dari Kekaisaran. Orang yang punya jabatan lebih tinggi darimu kelak.”
“Apakah Yang Mulia sudah mempertimbangkan hal ini dengan Yang Mulia Kaisar dan juga Yang Mulia Ratu?” tanya Grand Duchess.
Idris tersenyum. “Apakah kau menilaiku kurang mampu mencari seorang istri, Grand Duchess?”
“Tidak begitu, Yang Mulia,” ucap Grand Duchess.
Bisa kupastikan Vanhoiren akan digemparkan oleh berita tentang Idris dan juga diriku besoknya. Selesai adu mulut dengan Grand Duchess serta Marchioness Franklin, Idris mengajakku bicara di balkon Kediaman Dominic.
Kami berdiam diri sejenak. Aku hanya menikmati angin malam yang sejuk di keadaan yang mulai memanas. Idris masih saja terus merangkulku seakan tidak ingin aku pergi kemana pun.
“Apa yang terjadi pada malam Festival Bunga?” tanya Idris. “Apakah kau cemburu karena aku berdansa dengan Nona Hindley?”
Oh, Idris. Apakah otakmu sudah terbentur?
“Tidak, Yang Mulia. Aku hanya sakit perut karena terlalu banyak makan cemilan. Dan yang paling penting, tidak ada kecemburuan di saat berada di lantai dansa.”
Idris tertawa. “Ya, kau benar, Charlotte. Siapa pun bisa mengajak lawan jenisnya berdansa.” Dia kemudian menarikku ke dalam pelukannya. “Tapi seharusnya kau harus memperhatikan kesehatanmu. Apakah kau mau tinggal di istana dan kuperhatikan setiap hari?”
“Idris, kau terlalu berlebihan.”
“Kalau untukmu, aku tidak masalah,” kata Idris. “Apakah kau tidak keberatan jika aku mengatakan bahwa kita adalah pasangan kekasih meski kau belum memberikan jawaban?”
Aku memilih diam.
“Kuanggap itu tanda setuju darimu,” simpul Idris. “Hari Pemburuan akan segera tiba. Besok pergilah ke istana dan kita akan mengukur baju untuk hari itu.”
“Baiklah.” Aku menyanggupi.
“Apakah kau pernah memegang pedang sebelumnya?” tanya Idris.
Aku tersenyum. “Kuanggap jika aku familiar dengan benda tajam itu,” jawabku setengah menantang. “Kita bisa saling melindungi saat berada di hutan.”
“Apa yang kau inginkan saat Hari Pemburuan?” tanya Idris. Dia mengabaikan perkataanku yang mungkin baginya hanyalah bualan.
“Salamander Raksasa,” kataku sedikit tak tertarik pada pembicaraannya. “Yang memiliki ekor bergaris putih.”
“Baiklah kalau begitu.”
Salamander Raksasa adalah makhluk hasil dari pemanggilan sihir yang sekarang hampir punah di hutan bagian barat Vanhoiren. Semoga saja Idris tidak mendapatkan makhluk itu dan kembali membanggakan diri.
“Apa hubunganmu dengan Nona Hindley tidak baik?” tanya Idris.
“Kami bahkan bukan teman,” kataku acuh.
“Padahal aku pikir jika Nona Hindley akan cocok menjadi bridesmaid-mu,” gumam Idris. “Apakah kau punya rekomendasi yang lain?”
“Idris, kau terlalu cepat memutuskan segala hal,” kataku cemas.
“Kau benar. Mungkin karena aku ingin cepat-cepat menjadikanmu istriku,” goda Idris padaku.
Rose Hindley menjadi bridesmaid-ku? Jawabanku tidak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments
Frando Kanan
brides apa itu? klo maid gw tau apa artiny...
2021-09-02
0
senja
kl tujuan Rose dan si Selir gak sama, Rose bisa jadi penjahat kakap selanjutnya
2020-05-20
3
senja
waw Rose skg deketin Franklin pdhl pas rapat kemarin gak berani nyela
2020-05-20
1