XVII - Festival Bunga (I)

Gaun untuk perayaan Festival Bunga sudah disiapkan oleh Idris. Aku mengenakan gaun itu lalu dirias oleh Layla dan Isla. Malam ini Idris mengatakan jika dia akan mengajakku berdansa di ballroom.

Isla akan ikut denganku bersama dengan Ayah ke Istana. Aku sempat bicara dengan Lucas sebelum didandani dan dia bilang jika dia juga sibuk dengan perayaan di Avnevous. Semenjak Avnevous melepaskan diri dari Kekaisaran, mereka jadi melakukan segala hal sendirian. Aku bisa membayangkan bagaimana kesalnya Ava menghadapi kelakuan Lucas.

Menggemaskan sekali.

“Charlotte, apakah kau setuju dengan pernikahanmu dengan Putra Mahkota?” tanya Ayah di sela perjalanan kami. Aku duduk berhadapan dengan Ayah saat berada di kereta kuda.

“Ya, Ayah. Aku sudah mempertimbangkan hal ini jauh-jauh hari. Dan mungkin saja pernikahan ini memang takdir yang telah diberikan untukku.”

Ayah tersenyum. “Charlotte, kau tahu kan kalau Ayah hanya ingin kau bahagia?”

“Tentu, Ayah.”

“Apakah Ayah tidur cukup saat perjalanan bisnis?” tanyaku mengalihkan topik pembicaraan. “Tubuh Ayah lebih kurus dari biasanya.”

“Festival kali ini membuat Ayah tidak bisa tidur dengan nyenyak. Ayah senang jika kau melakukan pekerjaanmu dengan baik di istana.”

“Ayah harus istirahat terlebih dahulu,” kataku. “Bagaimana kalau kita pergi berlibur ke vila milik Ayah di perbatasan Beck?”

Ayah berpikir sejenak. “Tapi bagaimana dengan pekerjaan kita?” tanya Ayah.

“Aku tidak ingin Ayah menjadi seorang workaholic. Jika Ayah terlalu fokus pada pekerjaan karena selalu teringat pada Ibu ..., apakah Ayah mau sedikit mengalah dan mengikuti perkataanku sekali saja?”

Ayah menghela napas lalu mengangguk. Senyuman Ayah kembali lagi meski hanya sesaat. “Maaf, Charlotte. Ayah ternyata terlalu egois hingga membuatmu sedih.”

“Kalau begitu minggu depan kita pergi berlibur, oke?” Aku tersenyum dan Ayah pun menyetujuinya.

*

“Selamat datang keluarga Winston,” sambut Jack di depan istana. “Silahkan ikuti saya.”

Aku mengikuti Jack bersama Ayah dan Isla. Kami masuk ke dalam ballroom yang sudah dihias dengan banyaknya bunga di berbagai tempat. Ballroom dipenuhi oleh para bangsawan yang menunggu acara dansa. Idris berdiri di antara bangsawan kelas atas. Pakaiannya senada dengan gaunku yang merupakan kombinasi dari warna biru dan putih. Hal itu menjadi pusat perhatian. Idris menghampiriku dan mengulurkan tangannya. Aku perlahan meraih tangan Idris dan dia pun menarikku untuk berada di dekatnya.

“Viscount Winston, kupinjam dulu anakmu,” ucap Idris yang kemudian pergi ke tengah-tengah lantai dansa.

Para pemusik pun memainkan musik pengiring dansa dan semua mata tertuju padaku dan Idris. Kami berdansa cukup lama hingga bangsawan lain ikut berdansa bersama kami. Aku bisa mengiringi kemampuan dansa Idris karena sudah terbiasa.

Yah, berdansa dengan Idris berkali-kali adalah sebuah pelajaran yang mengagumkan.

“Tak kusangka kau sangat pandai berdansa, Charlotte,” puji Idris. “Apakah kau sudah berlatih dansa sejak kecil?”

“Benar. Setiap ada kesempatan aku selalu berlatih bersama Ayah atau Jayden.”

Idris merangkul pinggangku dan mempererat genggaman tangannya. Dia memutar tubuhku lalu mendekapku kembali. Aku bisa melihat banyak sekali pasang mata yang memandang tidak suka ke arahku. Kurasa hanya Idris yang menikmati dansa ini dibandingkan dengan aku yang tidak nyaman karena dihujam ketidaksukaan.

Begitu musik berakhir, semua orang bertepuk tangan dan kami pun menunduk untuk memberi salam. Idris masih menggenggam tanganku dan aku membiarkan hal itu agar tidak menyinggung perasaan Idris di depan banyak orang.

Rose duluan yang menghampiri kami dan mengulurkan tangan pada Idris. Dia memakai gaun biru yang hampir mirip seperti milikku. Aneh. “Apakah Yang Mulia ingin berdansa denganku?” tanya Rose.

Idris mengangguk dan memberiku kode untuk menunggu. Aku hanya diam dan menyingkir ke pinggir lantai dansa bersama dengan Isla. Musik kembali dimainkan dan Idris pun berdansa bersama Rose.

“Di mana Ayahku?” tanyaku pada Isla.

“Ayah Nona sedang bicara dengan Grand Duke,” jawab Isla. “Lebih baik Nona cicipi cemilan ini. Enak sekali.”

Aku menerima piring kecil berisi kue yang diberikan oleh Isla. “Terima kasih.”

Isla mengangguk.

Musik di dansa kedua cukup lama dibanding saat pertama kali dimainkan. Aku jadi bisa menikmati jamuan yang disajikan lebih lama bersama Isla.

“Aku ingin ke toilet sebentar,” kataku pada Isla.

“Ayo, biar aku temani,” ajak Isla.

Aku tersenyum. “Biar aku sendiri. Nikmati saja pestanya,” kataku sambil berjalan sendirian menuju toilet.

“Baiklah, aku akan tetap berjaga dari sini,” kata Isla.

Aku menghela napas lega dan keluar dari toilet bertepatan dengan matinya pencahayaan di istana. Dengan perlahan aku berjalan menuju ballroom. Semoga saja tidak ada hal buruk yang terjadi.

Saat itulah aku ditarik oleh seseorang. Baru saja aku ingin berteriak, orang itu membekap mulutku dengan telapak tangannya.

“Belum pernah diculik, ya?” Syukurlah, itu suara Lucas. “Apa kau tidak bosan berada di pesta yang membosankan ini?”

Aku tersenyum setelah Lucas melepaskanku dari bekapannya. “Kau yang melakukan ini?”

“Ayo, pergi ke Avnevous!” serunya sambil menarikku pergi meninggalkan istana. Aku tertawa bersama Lucas dan berlari menuju taman belakang istana, tempat di mana Lucas membuat portal.

Di sana, Ava berdiam diri di depan portal dengan raut wajah kesal. Sepertinya Lucas memaksa Ava untuk membuat portal di tengah-tengah Vanhoiren. Lucas merangkul pinggangku lalu membawaku masuk ke dalam portal dan sampai ke Menara Serikat Sihir.

“Kalau saja aku tidak disogok, mana mau aku melakukan hal ini dan menginjakkan kaki di Vanhoiren menjijikkan,” omel Ava sambil berdecak kesal beberapa kali.

Lucas tertawa. “Tenanglah, Ava. Kau bisa darah tinggi jika terus-menerus memarahiku.”

“Apakah tidak apa-apa jika aku meninggalkan Isla di Vanhoiren sendirian?” tanyaku khawatir. “Kita tidak mengatakan apa pun padanya.”

“Anak itu terlalu bodoh jika tidak bisa menjaga dirinya sendiri. Tenanglah dan nikmati saja perayaan di Avnevous,” ucap Ava cuek.

Lucas mengajakku keluar dari Menara lalu naik ke kereta kerajaan menuju ke pusat kota. Di sana penuh dengan lampion cantik dengan bentuk beraneka ragam. Lucas memakai topeng lucu dengan gambar kucing, sedangkan aku memakai topeng dengan gambar tikus.

Topeng ini membuat Lucas jadi tidak dikenali oleh orang-orang dan tidak membuat gempar seisi Avnevous. Banyak sekali rakyat Avnevous yang bernyanyi dan menari di jalanan. Bunga-bunga disebarkan di seluruh pelosok tempat. Jajanan yang menggiurkan pun tidak luput dari pandanganku. Selagi melihat-lihat, Lucas tidak pernah mau melepaskan genggamannya pada tanganku.

Berbeda dengan Vanhoiren yang membedakan perayaan untuk rakyat dan para bangsawan, aku yang bersama Lucas jadi lebih tahu jika ada hal sederhana seperti ini yang bisa membuatku tersenyum.

Puncaknya, aku duduk di balkon istana Avnevous untuk menunggu pertunjukan kembang api bersama dengan Lucas yang akan segera dimulai. Tangan kami saling bertautan satu sama lain. Baik aku maupun Lucas, kami enggan melepaskannya.

Terpopuler

Comments

Auriliya Mawadah

Auriliya Mawadah

Masya Allahhh

2024-01-10

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 I - Hidup Baru
3 II - Muka Dua
4 III - Kenangan Indah
5 IV - Pembuat Masalah
6 V - Lembar Pertama
7 VI - Penyihir Avnevous
8 VII - Ava Bloodhart
9 VIII - Calon Ratu
10 IX - Kediaman Winston
11 X - Lamaran Dadakan
12 XI - Persiapan Festival
13 XII - Rapat Pertama
14 XIII - Bersama Idris
15 XIV - Penyihir Vanhoiren
16 XV - Rapat Terakhir
17 XVI - Pernyataan Cinta
18 XVII - Festival Bunga (I)
19 XVIII - Festival Bunga (II)
20 XIX - Kediaman Dominic
21 XX - Calon Mertua
22 XXI - Istana Perunggu
23 XXII - Hari Pemburuan (I)
24 XXIII - Hari Pemburuan (II)
25 XXIV - Hari Pemburuan (III)
26 XXV - Kebersamaan Kami
27 XXVI - Hilangnya Rekan
28 XXVII - Menjadi Kuat
29 XXVIII - Anak Marquess
30 XXIX - Rekan Baru
31 XXX - Makan Malam
32 XXXI - Memberitahu Kebenaran
33 XXXII - Malam Pertunangan
34 XXXIII - Emosi Sesaat
35 XXXIV - Penyemangat Charlotte
36 XXXV - Makan Siang
37 XXXVI - Penobatan Lucas
38 XXXVII - Ava Galak
39 XXXVIII - Perasaan Isaac
40 XXXIX - Persiapan Pernikahan (I)
41 XL - Persiapan Pernikahan (II)
42 XLI - Kasus Penculikan
43 XLII - Kaisar Ke-XIX
44 XLIII - Penemuan Menggemparkan
45 XLIV - Bujuk Rayu
46 XLV - Kejutan Menegangkan
47 XLVI - Semakin Memanas
48 XLVII - Pengadilan Tinggi (I)
49 XLVIII - Pengadilan Tinggi (II)
50 XLIX - Pengadilan Tinggi (III)
51 L - Pengadilan Tinggi (IV)
52 LI - Pengadilan Tinggi (V)
53 LII - Balasan Kecil
54 LIII - Merasa Déjà vu
55 LIV - Hari Terakhir
56 LV - Upacara Pernikahan (I)
57 LVI - Upacara Pernikahan (II)
58 LVII - Era XX
59 LVIII - Malam Pertama
60 LIX - Bincang Malam
61 LX - Kegiatan Pagi (I)
62 LXI - Kegiatan Pagi (II)
63 LXII - Kegiatan Pagi (III)
64 LXIII - Kehebohan Mendadak
65 LXIV - Berita Duka
66 LXV - Serangan Dadakan
67 LXVI - Mulai Menghantui
68 LXVII - Diselamatkan Ava
69 LXVIII - Benang Merah
70 LXIX - Pertemuan Rahasia
71 LXX - Tumpahkan Saja
72 LXXI - Pemecatan Massal
73 LXXII - Misi Penyelamatan (I)
74 LXXIII - Misi Penyelamatan (II)
75 LXXIV - Selamat Tinggal
76 LXXV - Merasa Hancur
77 LXXVI - Titik Balik
78 LXXVII - Terancam Dibunuh
79 LXXVIII - Ancaman Ava
80 LXXIX - Interogasi Belka (I)
81 LXXX - Interogasi Belka (II)
82 LXXXI - Topik Berat
83 LXXXII - Bertemu Idris
84 LXXXIII - Hari Eksekusi (I)
85 LXXXIV - Hari Eksekusi (II)
86 LXXXV - Hari Eksekusi (III)
87 LXXXVI - Mata-mata Ayah
88 LXXXVII - Masa Lalu
89 LXXXVIII - Informasi Menarik
90 LXXXIX - Rahasia Liontin
91 XC - Potongan Puzzle (I)
92 XCI - Potongan Puzzle (II)
93 XCII - Adegan Ranjang
94 XCIII - Ibu Hamil
95 XCIV - Pemakaman Isla
96 XCV - Rencana Terakhir
97 XCVI - Kudeta Ratu (I)
98 XCVII - Kudeta Ratu (II)
99 XCVIII - Kudeta Ratu (III)
100 XCIX - Kudeta Ratu (IV)
101 C - Usai Kudeta (I)
102 CI - Usai Kudeta (II)
103 CII - Ingatan Idris (I)
104 CIII - Ingatan Idris (II)
105 CIV - Ingatan Idris (III)
106 CV - Pertemuan Resmi (I)
107 CVI - Pertemuan Resmi (II)
108 CVII - Bertemu Ayah
109 CVIII - Menyelesaikan Masalah
110 CIX - Menunggu Jack
111 CX - Serangan Kejutan
112 CXI - Menjadi Kaisarina
113 Epilog
114 Pojok Informasi
115 『S2』 Prolog
116 『S2』 I - Laporan
117 『S2』 II - Kecupan
118 『S2』 III - Duke
119 『S2』 IV - Dongeng
120 『S2』 V - Hantu
121 『S2』 VI - Pertemuan
Episodes

Updated 121 Episodes

1
Prolog
2
I - Hidup Baru
3
II - Muka Dua
4
III - Kenangan Indah
5
IV - Pembuat Masalah
6
V - Lembar Pertama
7
VI - Penyihir Avnevous
8
VII - Ava Bloodhart
9
VIII - Calon Ratu
10
IX - Kediaman Winston
11
X - Lamaran Dadakan
12
XI - Persiapan Festival
13
XII - Rapat Pertama
14
XIII - Bersama Idris
15
XIV - Penyihir Vanhoiren
16
XV - Rapat Terakhir
17
XVI - Pernyataan Cinta
18
XVII - Festival Bunga (I)
19
XVIII - Festival Bunga (II)
20
XIX - Kediaman Dominic
21
XX - Calon Mertua
22
XXI - Istana Perunggu
23
XXII - Hari Pemburuan (I)
24
XXIII - Hari Pemburuan (II)
25
XXIV - Hari Pemburuan (III)
26
XXV - Kebersamaan Kami
27
XXVI - Hilangnya Rekan
28
XXVII - Menjadi Kuat
29
XXVIII - Anak Marquess
30
XXIX - Rekan Baru
31
XXX - Makan Malam
32
XXXI - Memberitahu Kebenaran
33
XXXII - Malam Pertunangan
34
XXXIII - Emosi Sesaat
35
XXXIV - Penyemangat Charlotte
36
XXXV - Makan Siang
37
XXXVI - Penobatan Lucas
38
XXXVII - Ava Galak
39
XXXVIII - Perasaan Isaac
40
XXXIX - Persiapan Pernikahan (I)
41
XL - Persiapan Pernikahan (II)
42
XLI - Kasus Penculikan
43
XLII - Kaisar Ke-XIX
44
XLIII - Penemuan Menggemparkan
45
XLIV - Bujuk Rayu
46
XLV - Kejutan Menegangkan
47
XLVI - Semakin Memanas
48
XLVII - Pengadilan Tinggi (I)
49
XLVIII - Pengadilan Tinggi (II)
50
XLIX - Pengadilan Tinggi (III)
51
L - Pengadilan Tinggi (IV)
52
LI - Pengadilan Tinggi (V)
53
LII - Balasan Kecil
54
LIII - Merasa Déjà vu
55
LIV - Hari Terakhir
56
LV - Upacara Pernikahan (I)
57
LVI - Upacara Pernikahan (II)
58
LVII - Era XX
59
LVIII - Malam Pertama
60
LIX - Bincang Malam
61
LX - Kegiatan Pagi (I)
62
LXI - Kegiatan Pagi (II)
63
LXII - Kegiatan Pagi (III)
64
LXIII - Kehebohan Mendadak
65
LXIV - Berita Duka
66
LXV - Serangan Dadakan
67
LXVI - Mulai Menghantui
68
LXVII - Diselamatkan Ava
69
LXVIII - Benang Merah
70
LXIX - Pertemuan Rahasia
71
LXX - Tumpahkan Saja
72
LXXI - Pemecatan Massal
73
LXXII - Misi Penyelamatan (I)
74
LXXIII - Misi Penyelamatan (II)
75
LXXIV - Selamat Tinggal
76
LXXV - Merasa Hancur
77
LXXVI - Titik Balik
78
LXXVII - Terancam Dibunuh
79
LXXVIII - Ancaman Ava
80
LXXIX - Interogasi Belka (I)
81
LXXX - Interogasi Belka (II)
82
LXXXI - Topik Berat
83
LXXXII - Bertemu Idris
84
LXXXIII - Hari Eksekusi (I)
85
LXXXIV - Hari Eksekusi (II)
86
LXXXV - Hari Eksekusi (III)
87
LXXXVI - Mata-mata Ayah
88
LXXXVII - Masa Lalu
89
LXXXVIII - Informasi Menarik
90
LXXXIX - Rahasia Liontin
91
XC - Potongan Puzzle (I)
92
XCI - Potongan Puzzle (II)
93
XCII - Adegan Ranjang
94
XCIII - Ibu Hamil
95
XCIV - Pemakaman Isla
96
XCV - Rencana Terakhir
97
XCVI - Kudeta Ratu (I)
98
XCVII - Kudeta Ratu (II)
99
XCVIII - Kudeta Ratu (III)
100
XCIX - Kudeta Ratu (IV)
101
C - Usai Kudeta (I)
102
CI - Usai Kudeta (II)
103
CII - Ingatan Idris (I)
104
CIII - Ingatan Idris (II)
105
CIV - Ingatan Idris (III)
106
CV - Pertemuan Resmi (I)
107
CVI - Pertemuan Resmi (II)
108
CVII - Bertemu Ayah
109
CVIII - Menyelesaikan Masalah
110
CIX - Menunggu Jack
111
CX - Serangan Kejutan
112
CXI - Menjadi Kaisarina
113
Epilog
114
Pojok Informasi
115
『S2』 Prolog
116
『S2』 I - Laporan
117
『S2』 II - Kecupan
118
『S2』 III - Duke
119
『S2』 IV - Dongeng
120
『S2』 V - Hantu
121
『S2』 VI - Pertemuan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!