Gaun untuk perayaan Festival Bunga sudah disiapkan oleh Idris. Aku mengenakan gaun itu lalu dirias oleh Layla dan Isla. Malam ini Idris mengatakan jika dia akan mengajakku berdansa di ballroom.
Isla akan ikut denganku bersama dengan Ayah ke Istana. Aku sempat bicara dengan Lucas sebelum didandani dan dia bilang jika dia juga sibuk dengan perayaan di Avnevous. Semenjak Avnevous melepaskan diri dari Kekaisaran, mereka jadi melakukan segala hal sendirian. Aku bisa membayangkan bagaimana kesalnya Ava menghadapi kelakuan Lucas.
Menggemaskan sekali.
“Charlotte, apakah kau setuju dengan pernikahanmu dengan Putra Mahkota?” tanya Ayah di sela perjalanan kami. Aku duduk berhadapan dengan Ayah saat berada di kereta kuda.
“Ya, Ayah. Aku sudah mempertimbangkan hal ini jauh-jauh hari. Dan mungkin saja pernikahan ini memang takdir yang telah diberikan untukku.”
Ayah tersenyum. “Charlotte, kau tahu kan kalau Ayah hanya ingin kau bahagia?”
“Tentu, Ayah.”
“Apakah Ayah tidur cukup saat perjalanan bisnis?” tanyaku mengalihkan topik pembicaraan. “Tubuh Ayah lebih kurus dari biasanya.”
“Festival kali ini membuat Ayah tidak bisa tidur dengan nyenyak. Ayah senang jika kau melakukan pekerjaanmu dengan baik di istana.”
“Ayah harus istirahat terlebih dahulu,” kataku. “Bagaimana kalau kita pergi berlibur ke vila milik Ayah di perbatasan Beck?”
Ayah berpikir sejenak. “Tapi bagaimana dengan pekerjaan kita?” tanya Ayah.
“Aku tidak ingin Ayah menjadi seorang workaholic. Jika Ayah terlalu fokus pada pekerjaan karena selalu teringat pada Ibu ..., apakah Ayah mau sedikit mengalah dan mengikuti perkataanku sekali saja?”
Ayah menghela napas lalu mengangguk. Senyuman Ayah kembali lagi meski hanya sesaat. “Maaf, Charlotte. Ayah ternyata terlalu egois hingga membuatmu sedih.”
“Kalau begitu minggu depan kita pergi berlibur, oke?” Aku tersenyum dan Ayah pun menyetujuinya.
*
“Selamat datang keluarga Winston,” sambut Jack di depan istana. “Silahkan ikuti saya.”
Aku mengikuti Jack bersama Ayah dan Isla. Kami masuk ke dalam ballroom yang sudah dihias dengan banyaknya bunga di berbagai tempat. Ballroom dipenuhi oleh para bangsawan yang menunggu acara dansa. Idris berdiri di antara bangsawan kelas atas. Pakaiannya senada dengan gaunku yang merupakan kombinasi dari warna biru dan putih. Hal itu menjadi pusat perhatian. Idris menghampiriku dan mengulurkan tangannya. Aku perlahan meraih tangan Idris dan dia pun menarikku untuk berada di dekatnya.
“Viscount Winston, kupinjam dulu anakmu,” ucap Idris yang kemudian pergi ke tengah-tengah lantai dansa.
Para pemusik pun memainkan musik pengiring dansa dan semua mata tertuju padaku dan Idris. Kami berdansa cukup lama hingga bangsawan lain ikut berdansa bersama kami. Aku bisa mengiringi kemampuan dansa Idris karena sudah terbiasa.
Yah, berdansa dengan Idris berkali-kali adalah sebuah pelajaran yang mengagumkan.
“Tak kusangka kau sangat pandai berdansa, Charlotte,” puji Idris. “Apakah kau sudah berlatih dansa sejak kecil?”
“Benar. Setiap ada kesempatan aku selalu berlatih bersama Ayah atau Jayden.”
Idris merangkul pinggangku dan mempererat genggaman tangannya. Dia memutar tubuhku lalu mendekapku kembali. Aku bisa melihat banyak sekali pasang mata yang memandang tidak suka ke arahku. Kurasa hanya Idris yang menikmati dansa ini dibandingkan dengan aku yang tidak nyaman karena dihujam ketidaksukaan.
Begitu musik berakhir, semua orang bertepuk tangan dan kami pun menunduk untuk memberi salam. Idris masih menggenggam tanganku dan aku membiarkan hal itu agar tidak menyinggung perasaan Idris di depan banyak orang.
Rose duluan yang menghampiri kami dan mengulurkan tangan pada Idris. Dia memakai gaun biru yang hampir mirip seperti milikku. Aneh. “Apakah Yang Mulia ingin berdansa denganku?” tanya Rose.
Idris mengangguk dan memberiku kode untuk menunggu. Aku hanya diam dan menyingkir ke pinggir lantai dansa bersama dengan Isla. Musik kembali dimainkan dan Idris pun berdansa bersama Rose.
“Di mana Ayahku?” tanyaku pada Isla.
“Ayah Nona sedang bicara dengan Grand Duke,” jawab Isla. “Lebih baik Nona cicipi cemilan ini. Enak sekali.”
Aku menerima piring kecil berisi kue yang diberikan oleh Isla. “Terima kasih.”
Isla mengangguk.
Musik di dansa kedua cukup lama dibanding saat pertama kali dimainkan. Aku jadi bisa menikmati jamuan yang disajikan lebih lama bersama Isla.
“Aku ingin ke toilet sebentar,” kataku pada Isla.
“Ayo, biar aku temani,” ajak Isla.
Aku tersenyum. “Biar aku sendiri. Nikmati saja pestanya,” kataku sambil berjalan sendirian menuju toilet.
“Baiklah, aku akan tetap berjaga dari sini,” kata Isla.
Aku menghela napas lega dan keluar dari toilet bertepatan dengan matinya pencahayaan di istana. Dengan perlahan aku berjalan menuju ballroom. Semoga saja tidak ada hal buruk yang terjadi.
Saat itulah aku ditarik oleh seseorang. Baru saja aku ingin berteriak, orang itu membekap mulutku dengan telapak tangannya.
“Belum pernah diculik, ya?” Syukurlah, itu suara Lucas. “Apa kau tidak bosan berada di pesta yang membosankan ini?”
Aku tersenyum setelah Lucas melepaskanku dari bekapannya. “Kau yang melakukan ini?”
“Ayo, pergi ke Avnevous!” serunya sambil menarikku pergi meninggalkan istana. Aku tertawa bersama Lucas dan berlari menuju taman belakang istana, tempat di mana Lucas membuat portal.
Di sana, Ava berdiam diri di depan portal dengan raut wajah kesal. Sepertinya Lucas memaksa Ava untuk membuat portal di tengah-tengah Vanhoiren. Lucas merangkul pinggangku lalu membawaku masuk ke dalam portal dan sampai ke Menara Serikat Sihir.
“Kalau saja aku tidak disogok, mana mau aku melakukan hal ini dan menginjakkan kaki di Vanhoiren menjijikkan,” omel Ava sambil berdecak kesal beberapa kali.
Lucas tertawa. “Tenanglah, Ava. Kau bisa darah tinggi jika terus-menerus memarahiku.”
“Apakah tidak apa-apa jika aku meninggalkan Isla di Vanhoiren sendirian?” tanyaku khawatir. “Kita tidak mengatakan apa pun padanya.”
“Anak itu terlalu bodoh jika tidak bisa menjaga dirinya sendiri. Tenanglah dan nikmati saja perayaan di Avnevous,” ucap Ava cuek.
Lucas mengajakku keluar dari Menara lalu naik ke kereta kerajaan menuju ke pusat kota. Di sana penuh dengan lampion cantik dengan bentuk beraneka ragam. Lucas memakai topeng lucu dengan gambar kucing, sedangkan aku memakai topeng dengan gambar tikus.
Topeng ini membuat Lucas jadi tidak dikenali oleh orang-orang dan tidak membuat gempar seisi Avnevous. Banyak sekali rakyat Avnevous yang bernyanyi dan menari di jalanan. Bunga-bunga disebarkan di seluruh pelosok tempat. Jajanan yang menggiurkan pun tidak luput dari pandanganku. Selagi melihat-lihat, Lucas tidak pernah mau melepaskan genggamannya pada tanganku.
Berbeda dengan Vanhoiren yang membedakan perayaan untuk rakyat dan para bangsawan, aku yang bersama Lucas jadi lebih tahu jika ada hal sederhana seperti ini yang bisa membuatku tersenyum.
Puncaknya, aku duduk di balkon istana Avnevous untuk menunggu pertunjukan kembang api bersama dengan Lucas yang akan segera dimulai. Tangan kami saling bertautan satu sama lain. Baik aku maupun Lucas, kami enggan melepaskannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments
Auriliya Mawadah
Masya Allahhh
2024-01-10
0