“Jangan bergerak.” Suara yang agak berat itu membuatku menoleh. Aku mengarahkan pisauku padanya tetapi dengan mudah ditahan olehnya. Cengkeramannya membuatku meringis kesakitan.
“Sa-sakit!” kataku reflek.
“Sst! Diamlah dan dengarkan aku,” perintahnya sambil menatapku dengan tatapan tajam. Aku bungkam dan dia pun melepaskan tanganku. Pergelangan tanganku jadi memerah karena ulahnya.
“Apa yang kau inginkan?” tanyaku was-was sambil terus menodongkan pisauku padanya.
Laki-laki berambut hitam dan bermata biru laut itu tersenyum. “Menyerah saja. Kau berada di dalam area tanpa ujung.”
“Area tanpa ujung?” Aku menatapnya bingung.
“Ya.” Dia memperlihatkan sebuah kristal sihir yang belum pernah kulihat secara langsung. Jantungku berdegup semakin cepat dan napasku memendek. “Oh, kau bereaksi pada kristal sihir ini, ya?”
Aku jatuh ke tanah sambil memegangi dadaku yang sesak. Napasku tersengal-sengal dan mataku berair. Kondisiku sama sekali tidak bisa dijelaskan. Aku tiba-tiba saja menjadi seperti ini saat melihat kristal itu.
Pandanganku memburam dan laki-laki itu berjongkok di depanku hingga aku tak sadarkan diri.
***
Aku bangun dengan mengangkat kepalaku secara reflek, namun sakit kepala yang datang seakan menonjok kepalaku secara cepat. Aku kembali berbaring dan menyadari jika sudah berada di sebuah kamar yang asing.
Memar di tanganku sudah hilang dan gaun yang kupakai sudah diganti oleh piama tidur. Dadaku pun sudah tak sesak dan aku bisa bernapas dengan baik.
Clek!
Gadis berambut violet masuk lalu kaget melihatku yang sudah bangun. Buru-buru dia keluar lagi dan kembali dengan laki-laki yang kutemui di dalam gang. Ah, aku sudah tak memiliki pisau pemberian Ayah. Mereka pasti menyimpannya agar aku tidak melawan.
“Kau bangun lebih cepat dari perkiraanku,” kata laki-laki itu.
“Di mana aku?” tanyaku cepat.
“Selamat datang di Avnevous,” ucapnya lantang. Dan jawabannya itu membuat aku tidak bisa menyembunyikan rasa kagetku. Bagaimana bisa mereka membawaku ke Avnevous seenaknya? Dan bagaimana bisa aku bertemu dengan orang-orang dari Avnevous sekebetulan ini?!
“Di sini kau akan baik-baik saja,” tambah gadis di sampingnya.
Aku menatap mereka berdua secara bergantian. Rasa kagetku sudah berganti dengan rasa kesal. “Kenapa aku dibawa ke sini? Apa yang kalian inginkan dariku?”
Bibir laki-laki itu mengeluarkan sebuah seringaian. Lihatlah selicik apa dirinya hingga tidak bisa menutupi aura menyebalkannya itu. “Kau hanya tidak beruntung saja karena masuk ke jebakanku.”
Maksudnya jebakan gang, ya.
“Iya,” katanya tiba-tiba. Aku menatapnya dan menyadari sesuatu yang sebenarnya mustahil.
Kau bisa membaca pikiranku?
“Kami semua bisa,” tutur laki-laki itu.
“Bagaimana bisa?” Akal sehatku masih menolak untuk percaya.
“Kami masih memiliki berkat dari Dewi Kebajikan yang diturunkan dari Penyihir Agung. Meskipun langka, sihir bukanlah hal yang mustahil di sini,” ungkap si gadis. “Kau terjebak dalam sihir ruang dimensi yang dibuat oleh Yang Mulia. Sihir itu membuat tempat yang dituju menjadi tidak punya jalan keluar. Seperti sebuah unlimited looping.”
“Dan kau bereaksi terhadap kristal sihir. Hal itu adalah sesuatu yang langka setidaknya untuk jaman sekarang,” kata laki-laki yang disebut Yang Mulia oleh si gadis.
Aku mencipitkan mata karena merasakan sesuatu yang tidak beres. Termasuk panggilan Yang Mulia. “Sesuatu yang langka?”
“Sebelum membahas hal ini lebih lanjut, bisa kau perkenalkan dirimu terlebih dahulu?” tanya laki-laki itu.
Aku menghela napas. “Aku Charlotte Mikaela Winston. Anak tunggal seorang Viscount.”
“Namaku Isla Constance Worcester. Penyihir Avnevous. Dan yang di sebelahku adalah Yang Mulia Putra Mahkota Kerajaan Avnevous. Lucas Cavan Avnevous,” jelas gadis berambut violet itu.
“Kau ... cucu Raja Clovis?!” Benar dugaanku tentang tatanan pemerintahan Avnevous masa kini. Tidak kusangka aku akan langsung bertemu dengan orang yang difitnah menjalin hubungan spesial denganku.
“Ya,” kata laki-laki bernama Lucas tersebut. “Bertemu denganmu adalah sebuah takdir yang diberikan oleh Dewi Kebajikan.” Tadi katanya aku hanya tidak beruntung. Sekarang dia bilang pertemuan kami itu takdir. Maunya apa?
“Penyihir Agung bilang beliau ingin bertemu dengan Nona Winston,” kata Isla.
Aku jadi ingat perkataan Dewi Kebajikan yang menyuruhku pergi ke wilayah Avnevous. Bukannya pergi sendiri, aku malah diculik oleh Putra Mahkota-nya. Lagipula, kenyataan bahwa Avnevous masih menggunakan sebuah sihir dan adanya penyihir lain selain Ava adalah berita yang bisa menggemparkan seisi Vanhoiren.
“Biarkan para pelayan memberinya pakaian yang layak. Temani Nona Winston dan kita semua akan bertemu di Menara Serikat Sihir,” ucap Lucas sambil keluar dari ruangan setelah Isla mengangguk.
Isla tetap berada denganku selagi aku dimandikan dan dibantu memakai gaun serta merias diri. Setelan pakaian di tempat ini lebih modern ketimbang Vanhoiren. Gaun yang kupakai sekarang lebih tipis sehingga jadi lebih mudah untuk bergerak. Aku diberi jamuan makan siang yang lezat dan juga makanan pencuci mulut yang manis.
Bukannya dijadikan tahanan (dilihat dari bagaimana aku dibawa ke Avnevous tanpa seijinku ini pasti bisa dibilang penculikan), mereka memperlakukanku seperti tamu. Isla banyak memberikanku informasi soal Avnevous yang tidak tercantum di dalam buku.
Bahkan, kristal sihir pun sebenarnya tidak punah di wilayah Beck. Semua kristal dan bahan pembuatannya itu dipindahkan menggunakan teleport sihir ke wilayah Avnevous sedikit demi sedikit untuk menghilangkan kecurigaan. Gencatan senjata pun dilakukan setelah mereka selesai memindahkan kristal itu. Vanhoiren benar-benar sudah terkelabui.
Kami sampai di Menara Serikat Sihir yang menjulang ke atas. Begitu masuk, aku sudah disambut oleh Lucas dan seorang laki-laki tua yang memakai kacamata.
“Di mana Nyonya?” tanya Isla.
Lucas berdecak kesal. “Dia sedang marah-marah di ruangannya. Penyakit tua.”
Isla terlihat murung. “Yang Mulia ..., Nyonya bisa lebih marah lagi kalau Nyonya tahu Yang Mulia mengatai beliau tua.”
“Lebih baik Yang Mulia dan Nona menunggu Nyonya di ruangan tunggu saja. Akan saya siapkan teh dan cemilan,” kata laki-laki tua itu.
Isla terlihat kesal. “Ayah harusnya memperkenalkan diri dulu pada Nona Winston!”
“Ah, maafkan saya, Nona Winston. Saya agak gugup berada di samping Yang Mulia,” tuturnya sambil menunduk. “Saya adalah satu-satunya pelayan di Menara Serikat Sihir ini. Nama saya Isaac Alberty Worcester.”
Aku juga memberi salam dan menunduk. “Aku Charlotte Mikaela Winston.”
“Karena sudah saling kenal sekarang buatkan kami teh, Isaac,” perintah Lucas sambil masuk ke ruang tunggu.
“Baik, mohon tunggu sebentar, Yang Mulia.”
Kami duduk di ruang tunggu dalam kondisi canggung. Otakku masih mencerna semua informasi yang kudapat. Apalagi rasa khawatirku soal Ayah, Layla, dan Jayden. Ugh, aku tidak mau mereka mengkhawatirkanku. Apa yang harus kulakukan?
“Ayahmu tidak akan khawatir padamu,” ucap Lucas tiba-tiba. “Aku sudah menggantikan wujudmu dengan salah satu pelayanku.”
“Itu adalah sihir Penyamaran,” tambah Isla. “Nona Winston tidak perlu khawatir untuk sekarang.”
“Baiklah,” kataku ragu.
Isaac kemudian datang sambil membawa banyak sekali cemilan dan teh untuk kami. Saat itulah pintu dibuka dengan kasar dan muncul gadis yang terlihat lebih muda dari Isla. Kedatangannya membuatku bergidik ngeri.
Perasaan macam apa ini?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments
Deasy Awenk
👍👍👍
2020-09-20
1
senja
akhirnya ketemu sama si Jodoh, cuman kl bener sm kerajaan ini, si ayah bisa kena imbasnya, kalau2 dianggap penghianat atau apa, kan ayahnya gak kuat
2020-05-20
4