Tepat dua minggu aku bekerja bersama dengan Idris. Semua pekerjaan telah diselesaikan dengan baik. Isla terus mengikutiku tanpa bersikap lengah lagi. Aku berharap tidak ada hal buruk yang menimpa kami. Hari ini rapat terakhir dengan para bangsawan. Semuanya hadir untuk melihat perkembangan terakhir dari persiapan perayaan Festival Bunga.
“Semua persiapannya hampir selesai,” ucap Idris. “Kita sudah melakukannya dengan baik.”
“Yang Mulia juga sudah bekerja keras,” kata Grand Duke.
Idris tersenyum. “Aku sudah menyuruh prajurit Kekaisaran menempelkan pengumuman terkait Festival Bunga di seluruh penjuru Vanhoiren. Kita tetap saja tidak boleh melupakan para rakyat.”
“Bagaimana dengan penjagaan kereta berisi bunga dari Naorikan dan Bevram?” tanya Duke Harriston.
“Saat ini, kereta-kereta angkut sedang menuju ke dua wilayah itu dengan berisi pengawet bunga yang telah dibuat di sini. Ada dua puluh prajurit yang mengawalnya di masing-masing tujuan. Kita hanya perlu menunggu dan tidak perlu khawatir pada ancaman bandit di perjalanan,” tutur Idris.
Semuanya mengangguk paham. Puas dengan seluruh pekerjaan Idris dan caranya menyelesaikan masalah. Minggu depan adalah perayaan Festival Bunga. Butuh waktu empat hari bagi kereta angkut pulang-pergi dari Naorikan dan Bevram ke Vanhoiren. Itu sudah lebih dari cukup.
Clek!
“Oh, maaf. Apakah aku terlambat?” tanya wanita yang tidak kusangka akan muncul di hadapan bangsawan kelas atas lain. Selir termuda dari Kaisar Ke-XVIII, Sienna Luimie Vanhoiren. Dengan rambut merah dan mata bagaikan permata ruby. “Halo, Putra Mahkota.”
Idris tetap diam dan tidak berekspresi apa pun, namun kulihat tangannya gemetar. Semua bangsawan juga enggan buka suara. Dan saat kulihat Rose, dia terlihat ketakutan bahkan tidak sanggup mengangkat kepalanya.
Di masa lalu, Sienna tidak pernah memperlihatkan batang hidungnya di depanku. Dia menjadi selir Kaisar saat masih berumur lima tahun karena dianggap anak paling pintar di panti asuhan dibandingkan angkatannya yang lain. Umurnya sama seperti Kaisar Ke-XIX. Sekarang dia masih terlihat awet muda.
Rumornya, dia tidak mengandung anak dari Kaisar melainkan laki-laki lain. Anak yang dilahirkannya pun dikabarkan meninggal.
“Kalian ingin merayakan Festival Bunga, ya,” gumam Sienna. “Dewi Kebajikan pasti akan senang dengan hal itu.”
“Apakah Selir Sienna sudah tidak punya malu dengan datang menemui kami semua?” Grand Duchess mengeluarkan ketidaksukaannya secara terang-terangan.
Aura apa ini? Dadaku tiba-tiba saja sesak saat Sienna berada dekat denganku.
“Grand Duchess, hormatlah sedikit padaku. Meskipun aku hanyalah seorang selir, tapi kedudukanku lebih tinggi darimu.” Sienna tersenyum sedikit lalu menatap Idris. “Jika kau punya waktu luang berkunjunglah ke Istana Perak.”
“Baik, Selir Sienna.” Idris menyanggupi.
Istana Perak adalah istana tempat para selir tinggal. Saat ini hanya ada Sienna di istana itu. Beberapa selir lainnya sudah meninggal bahkan angkat kaki dari Istana Perak setelah Kaisar Ke-XVIII meninggal.
“Lanjutkan rapatnya. Aku ingin mendengarnya juga,” kata Sienna dengan nada memerintah.
“Rapat kami telah berakhir,” ucap Idris. “Semuanya sudah diselesaikan.”
Sienna berdecak kesal. Tekanan di ruangan ini semakin membuatku tidak tahan. Jika aku menggunakan sihir ..., ada kemungkinan aku akan ketahuan kali ini. Aku menunduk dan terus menggigit bibir bawahku.
“Baiklah, aku akan pergi.” Sienna buru-buru keluar dari ruang rapat tanpa menghilangkan kesan anggunnya.
Tekanan itu perlahan menghilang dan aku pun bisa bernapas lega sekarang.
Aku sempat mendengar jika Rose bukanlah anak kandung keluarga Hindley dari informasi yang diselidiki oleh Isla. Namun, tidak ada aktivitas sihir di Kediaman Hindley bahkan dari Rose sendiri. Yang menarik di sini, Rose dan Sienna punya wajah yang mirip dan rambut merah berkilau yang sama. Apakah mungkin ...
Rose adalah anak dari Selir Sienna?
Aku juga akan meminta Isla memeriksa Istana Perak setelah Festival Bunga berakhir nanti.
“Nona Charlotte?” Aku mengangkat kepalaku dan menatap Idris. Dia melotot kaget hingga membuatku bingung. “Apa yang terjadi dengan bibirmu?”
Aku menyentuh bibirku dan melihat ada darah yang menempel di telunjukku. Aku menggigit bibirku terlalu keras. “Ah, maaf.”
“Jack! Suruh pelayan Nona Charlotte masuk!” seru Idris. Tak lama setelah itu, Isla pun masuk dan menghampiriku. Wajahnya pucat. Mungkin bukan aku yang harus diperhatikan sekarang, melainkan Isla. “Bawa Nona Charlotte ke ruang kerjaku dan obati dia di sana.”
Isla mengangguk dan merangkulku pergi meninggalkan Idris dan semua bangsawan yang ada di ruang rapat menuju ruang kerja Idris.
“Apa Nona juga merasakannya tadi?” bisik Isla setelah kami berada di ruang kerja.
Aku mengangguk. “Rose dan Putra Mahkota juga bereaksi saat melihat selir itu.”
“Ada sihir kegelapan yang terdeteksi di dalam tubuh wanita itu meskipun samar-samar,” kata Isla. “Nona harus menjaga jarak dengannya sebelum aku selesai memeriksa semuanya.”
“Sepertinya kita perlu Ava,” kataku. “Kita tidak tahu seberapa besar mana yang dimiliki pemegang sihir kegelapan itu. Aku tidak ingin kau terluka.”
“Nona tidak perlu khawatir soal itu. Wanita itu pasti sudah tahu jika ada penyihir lain yang masuk ke dalam istana. Makanya dia datang dan memeriksa,” tebak Isla. “Jika kita tidak bergerak sekarang, dia yang akan datang dan menangkap kita.”
Aku berpikir sejenak. “Diskusikan hal ini dengan Ava terlebih dahulu sebelum kau memeriksa selir itu.”
“Baiklah, Nona.” Isla pun mengobati luka di bibirku. Pelayan istana memberikanku teh melati dan kue coklat. Karena terlalu lama di istana, para pelayan jadi tahu apa yang kusukai.
Clek!
“Semoga Yang Mulia diberkati Dewi Kebajikan,” sapaku bersama Isla ketika Idris masuk. “Apakah rapatnya sudah selesai?”
“Itu tidak penting.” Idris mendekatiku dan memperhatikan luka di bibirku dengan seksama. “Bagaimana bisa kau melukai bibirmu sendiri, Charlotte?”
“Maaf, Yang Mulia.”
“Sudah kubilang panggil aku Idris,” kata Idris kesal. Aku melirik Isla. “Pelayanmu juga pasti akan tutup mulut jika kau memanggilku Idris saat berduaan.”
Isla menunduk. “Benar, Nona. Abaikan saja kehadiran saya.”
Idris menghela napas dan mengusap kepalaku dengan hati-hati seakan aku adalah wanita yang rapuh. “Berjanjilah padaku kau tidak akan membuat dirimu terluka seperti ini.”
“Baik, Idris,” kataku tanpa berniat untuk berjanji.
Idris tersenyum padaku. “Akhirnya kau memanggil namaku juga, Charlotte. Aku senang.” Dia meraih tanganku dan mengecupnya. “Istirahatlah di rumah sampai hari perayaan Festival Bunga. Pekerjaanmu di sini sudah selesai.”
“Terima kasih, Idris,” kataku seadanya.
“Aku akan berkunjung jika punya waktu,” ucap Idris. Aku berharap jika Idris terus berkutat dengan pekerjaannya hingga tidak perlu repot-repot mengunjungiku. “Ayo, kuantar kau pulang.”
Aku pun kembali ke Kediaman Winston dengan diantar oleh Idris bersama kereta kuda Kekaisaran. Di perjalanan, Idris terus menggenggam tanganku tanpa berniat melepasnya.
Hari ini adalah hari yang melelahkan. Aku berencana beristirahat di rumah seharian dan menikmati teh melati buatan Layla sambil membaca buku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments
est
kayaknya rose anak selir tu dech yg punya ilmu hitam utk nguasai kerajaan
2022-07-16
0
Frando Kanan
nth knp gw jd benci lht Idris ini....soj akrab 😒
2021-09-01
3
senja
hm? selirnya berambut merah? apa yg rambut merah itu khas Penyihir? dan maksudnya dia seumuran sm Kaisar selanjutnya itu berarti usianya berapa Ka?
2020-05-20
6