XV - Rapat Terakhir

Tepat dua minggu aku bekerja bersama dengan Idris. Semua pekerjaan telah diselesaikan dengan baik. Isla terus mengikutiku tanpa bersikap lengah lagi. Aku berharap tidak ada hal buruk yang menimpa kami. Hari ini rapat terakhir dengan para bangsawan. Semuanya hadir untuk melihat perkembangan terakhir dari persiapan perayaan Festival Bunga.

“Semua persiapannya hampir selesai,” ucap Idris. “Kita sudah melakukannya dengan baik.”

“Yang Mulia juga sudah bekerja keras,” kata Grand Duke.

Idris tersenyum. “Aku sudah menyuruh prajurit Kekaisaran menempelkan pengumuman terkait Festival Bunga di seluruh penjuru Vanhoiren. Kita tetap saja tidak boleh melupakan para rakyat.”

“Bagaimana dengan penjagaan kereta berisi bunga dari Naorikan dan Bevram?” tanya Duke Harriston.

“Saat ini, kereta-kereta angkut sedang menuju ke dua wilayah itu dengan berisi pengawet bunga yang telah dibuat di sini. Ada dua puluh prajurit yang mengawalnya di masing-masing tujuan. Kita hanya perlu menunggu dan tidak perlu khawatir pada ancaman bandit di perjalanan,” tutur Idris.

Semuanya mengangguk paham. Puas dengan seluruh pekerjaan Idris dan caranya menyelesaikan masalah. Minggu depan adalah perayaan Festival Bunga. Butuh waktu empat hari bagi kereta angkut pulang-pergi dari Naorikan dan Bevram ke Vanhoiren. Itu sudah lebih dari cukup.

Clek!

“Oh, maaf. Apakah aku terlambat?” tanya wanita yang tidak kusangka akan muncul di hadapan bangsawan kelas atas lain. Selir termuda dari Kaisar Ke-XVIII, Sienna Luimie Vanhoiren. Dengan rambut merah dan mata bagaikan permata ruby. “Halo, Putra Mahkota.”

Idris tetap diam dan tidak berekspresi apa pun, namun kulihat tangannya gemetar. Semua bangsawan juga enggan buka suara. Dan saat kulihat Rose, dia terlihat ketakutan bahkan tidak sanggup mengangkat kepalanya.

Di masa lalu, Sienna tidak pernah memperlihatkan batang hidungnya di depanku. Dia menjadi selir Kaisar saat masih berumur lima tahun karena dianggap anak paling pintar di panti asuhan dibandingkan angkatannya yang lain. Umurnya sama seperti Kaisar Ke-XIX. Sekarang dia masih terlihat awet muda.

Rumornya, dia tidak mengandung anak dari Kaisar melainkan laki-laki lain. Anak yang dilahirkannya pun dikabarkan meninggal.

“Kalian ingin merayakan Festival Bunga, ya,” gumam Sienna. “Dewi Kebajikan pasti akan senang dengan hal itu.”

“Apakah Selir Sienna sudah tidak punya malu dengan datang menemui kami semua?” Grand Duchess mengeluarkan ketidaksukaannya secara terang-terangan.

Aura apa ini? Dadaku tiba-tiba saja sesak saat Sienna berada dekat denganku.

“Grand Duchess, hormatlah sedikit padaku. Meskipun aku hanyalah seorang selir, tapi kedudukanku lebih tinggi darimu.” Sienna tersenyum sedikit lalu menatap Idris. “Jika kau punya waktu luang berkunjunglah ke Istana Perak.”

“Baik, Selir Sienna.” Idris menyanggupi.

Istana Perak adalah istana tempat para selir tinggal. Saat ini hanya ada Sienna di istana itu. Beberapa selir lainnya sudah meninggal bahkan angkat kaki dari Istana Perak setelah Kaisar Ke-XVIII meninggal.

“Lanjutkan rapatnya. Aku ingin mendengarnya juga,” kata Sienna dengan nada memerintah.

“Rapat kami telah berakhir,” ucap Idris. “Semuanya sudah diselesaikan.”

Sienna berdecak kesal. Tekanan di ruangan ini semakin membuatku tidak tahan. Jika aku menggunakan sihir ..., ada kemungkinan aku akan ketahuan kali ini. Aku menunduk dan terus menggigit bibir bawahku.

“Baiklah, aku akan pergi.” Sienna buru-buru keluar dari ruang rapat tanpa menghilangkan kesan anggunnya.

Tekanan itu perlahan menghilang dan aku pun bisa bernapas lega sekarang.

Aku sempat mendengar jika Rose bukanlah anak kandung keluarga Hindley dari informasi yang diselidiki oleh Isla. Namun, tidak ada aktivitas sihir di Kediaman Hindley bahkan dari Rose sendiri. Yang menarik di sini, Rose dan Sienna punya wajah yang mirip dan rambut merah berkilau yang sama. Apakah mungkin ...

Rose adalah anak dari Selir Sienna?

Aku juga akan meminta Isla memeriksa Istana Perak setelah Festival Bunga berakhir nanti.

“Nona Charlotte?” Aku mengangkat kepalaku dan menatap Idris. Dia melotot kaget hingga membuatku bingung. “Apa yang terjadi dengan bibirmu?”

Aku menyentuh bibirku dan melihat ada darah yang menempel di telunjukku. Aku menggigit bibirku terlalu keras. “Ah, maaf.”

“Jack! Suruh pelayan Nona Charlotte masuk!” seru Idris. Tak lama setelah itu, Isla pun masuk dan menghampiriku. Wajahnya pucat. Mungkin bukan aku yang harus diperhatikan sekarang, melainkan Isla. “Bawa Nona Charlotte ke ruang kerjaku dan obati dia di sana.”

Isla mengangguk dan merangkulku pergi meninggalkan Idris dan semua bangsawan yang ada di ruang rapat menuju ruang kerja Idris.

“Apa Nona juga merasakannya tadi?” bisik Isla setelah kami berada di ruang kerja.

Aku mengangguk. “Rose dan Putra Mahkota juga bereaksi saat melihat selir itu.”

“Ada sihir kegelapan yang terdeteksi di dalam tubuh wanita itu meskipun samar-samar,” kata Isla. “Nona harus menjaga jarak dengannya sebelum aku selesai memeriksa semuanya.”

“Sepertinya kita perlu Ava,” kataku. “Kita tidak tahu seberapa besar mana yang dimiliki pemegang sihir kegelapan itu. Aku tidak ingin kau terluka.”

“Nona tidak perlu khawatir soal itu. Wanita itu pasti sudah tahu jika ada penyihir lain yang masuk ke dalam istana. Makanya dia datang dan memeriksa,” tebak Isla. “Jika kita tidak bergerak sekarang, dia yang akan datang dan menangkap kita.”

Aku berpikir sejenak. “Diskusikan hal ini dengan Ava terlebih dahulu sebelum kau memeriksa selir itu.”

“Baiklah, Nona.” Isla pun mengobati luka di bibirku. Pelayan istana memberikanku teh melati dan kue coklat. Karena terlalu lama di istana, para pelayan jadi tahu apa yang kusukai.

Clek!

“Semoga Yang Mulia diberkati Dewi Kebajikan,” sapaku bersama Isla ketika Idris masuk. “Apakah rapatnya sudah selesai?”

“Itu tidak penting.” Idris mendekatiku dan memperhatikan luka di bibirku dengan seksama. “Bagaimana bisa kau melukai bibirmu sendiri, Charlotte?”

“Maaf, Yang Mulia.”

“Sudah kubilang panggil aku Idris,” kata Idris kesal. Aku melirik Isla. “Pelayanmu juga pasti akan tutup mulut jika kau memanggilku Idris saat berduaan.”

Isla menunduk. “Benar, Nona. Abaikan saja kehadiran saya.”

Idris menghela napas dan mengusap kepalaku dengan hati-hati seakan aku adalah wanita yang rapuh. “Berjanjilah padaku kau tidak akan membuat dirimu terluka seperti ini.”

“Baik, Idris,” kataku tanpa berniat untuk berjanji.

Idris tersenyum padaku. “Akhirnya kau memanggil namaku juga, Charlotte. Aku senang.” Dia meraih tanganku dan mengecupnya. “Istirahatlah di rumah sampai hari perayaan Festival Bunga. Pekerjaanmu di sini sudah selesai.”

“Terima kasih, Idris,” kataku seadanya.

“Aku akan berkunjung jika punya waktu,” ucap Idris. Aku berharap jika Idris terus berkutat dengan pekerjaannya hingga tidak perlu repot-repot mengunjungiku. “Ayo, kuantar kau pulang.”

Aku pun kembali ke Kediaman Winston dengan diantar oleh Idris bersama kereta kuda Kekaisaran. Di perjalanan, Idris terus menggenggam tanganku tanpa berniat melepasnya.

Hari ini adalah hari yang melelahkan. Aku berencana beristirahat di rumah seharian dan menikmati teh melati buatan Layla sambil membaca buku.

Terpopuler

Comments

est

est

kayaknya rose anak selir tu dech yg punya ilmu hitam utk nguasai kerajaan

2022-07-16

0

Frando Kanan

Frando Kanan

nth knp gw jd benci lht Idris ini....soj akrab 😒

2021-09-01

3

senja

senja

hm? selirnya berambut merah? apa yg rambut merah itu khas Penyihir? dan maksudnya dia seumuran sm Kaisar selanjutnya itu berarti usianya berapa Ka?

2020-05-20

6

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 I - Hidup Baru
3 II - Muka Dua
4 III - Kenangan Indah
5 IV - Pembuat Masalah
6 V - Lembar Pertama
7 VI - Penyihir Avnevous
8 VII - Ava Bloodhart
9 VIII - Calon Ratu
10 IX - Kediaman Winston
11 X - Lamaran Dadakan
12 XI - Persiapan Festival
13 XII - Rapat Pertama
14 XIII - Bersama Idris
15 XIV - Penyihir Vanhoiren
16 XV - Rapat Terakhir
17 XVI - Pernyataan Cinta
18 XVII - Festival Bunga (I)
19 XVIII - Festival Bunga (II)
20 XIX - Kediaman Dominic
21 XX - Calon Mertua
22 XXI - Istana Perunggu
23 XXII - Hari Pemburuan (I)
24 XXIII - Hari Pemburuan (II)
25 XXIV - Hari Pemburuan (III)
26 XXV - Kebersamaan Kami
27 XXVI - Hilangnya Rekan
28 XXVII - Menjadi Kuat
29 XXVIII - Anak Marquess
30 XXIX - Rekan Baru
31 XXX - Makan Malam
32 XXXI - Memberitahu Kebenaran
33 XXXII - Malam Pertunangan
34 XXXIII - Emosi Sesaat
35 XXXIV - Penyemangat Charlotte
36 XXXV - Makan Siang
37 XXXVI - Penobatan Lucas
38 XXXVII - Ava Galak
39 XXXVIII - Perasaan Isaac
40 XXXIX - Persiapan Pernikahan (I)
41 XL - Persiapan Pernikahan (II)
42 XLI - Kasus Penculikan
43 XLII - Kaisar Ke-XIX
44 XLIII - Penemuan Menggemparkan
45 XLIV - Bujuk Rayu
46 XLV - Kejutan Menegangkan
47 XLVI - Semakin Memanas
48 XLVII - Pengadilan Tinggi (I)
49 XLVIII - Pengadilan Tinggi (II)
50 XLIX - Pengadilan Tinggi (III)
51 L - Pengadilan Tinggi (IV)
52 LI - Pengadilan Tinggi (V)
53 LII - Balasan Kecil
54 LIII - Merasa Déjà vu
55 LIV - Hari Terakhir
56 LV - Upacara Pernikahan (I)
57 LVI - Upacara Pernikahan (II)
58 LVII - Era XX
59 LVIII - Malam Pertama
60 LIX - Bincang Malam
61 LX - Kegiatan Pagi (I)
62 LXI - Kegiatan Pagi (II)
63 LXII - Kegiatan Pagi (III)
64 LXIII - Kehebohan Mendadak
65 LXIV - Berita Duka
66 LXV - Serangan Dadakan
67 LXVI - Mulai Menghantui
68 LXVII - Diselamatkan Ava
69 LXVIII - Benang Merah
70 LXIX - Pertemuan Rahasia
71 LXX - Tumpahkan Saja
72 LXXI - Pemecatan Massal
73 LXXII - Misi Penyelamatan (I)
74 LXXIII - Misi Penyelamatan (II)
75 LXXIV - Selamat Tinggal
76 LXXV - Merasa Hancur
77 LXXVI - Titik Balik
78 LXXVII - Terancam Dibunuh
79 LXXVIII - Ancaman Ava
80 LXXIX - Interogasi Belka (I)
81 LXXX - Interogasi Belka (II)
82 LXXXI - Topik Berat
83 LXXXII - Bertemu Idris
84 LXXXIII - Hari Eksekusi (I)
85 LXXXIV - Hari Eksekusi (II)
86 LXXXV - Hari Eksekusi (III)
87 LXXXVI - Mata-mata Ayah
88 LXXXVII - Masa Lalu
89 LXXXVIII - Informasi Menarik
90 LXXXIX - Rahasia Liontin
91 XC - Potongan Puzzle (I)
92 XCI - Potongan Puzzle (II)
93 XCII - Adegan Ranjang
94 XCIII - Ibu Hamil
95 XCIV - Pemakaman Isla
96 XCV - Rencana Terakhir
97 XCVI - Kudeta Ratu (I)
98 XCVII - Kudeta Ratu (II)
99 XCVIII - Kudeta Ratu (III)
100 XCIX - Kudeta Ratu (IV)
101 C - Usai Kudeta (I)
102 CI - Usai Kudeta (II)
103 CII - Ingatan Idris (I)
104 CIII - Ingatan Idris (II)
105 CIV - Ingatan Idris (III)
106 CV - Pertemuan Resmi (I)
107 CVI - Pertemuan Resmi (II)
108 CVII - Bertemu Ayah
109 CVIII - Menyelesaikan Masalah
110 CIX - Menunggu Jack
111 CX - Serangan Kejutan
112 CXI - Menjadi Kaisarina
113 Epilog
114 Pojok Informasi
115 『S2』 Prolog
116 『S2』 I - Laporan
117 『S2』 II - Kecupan
118 『S2』 III - Duke
119 『S2』 IV - Dongeng
120 『S2』 V - Hantu
121 『S2』 VI - Pertemuan
Episodes

Updated 121 Episodes

1
Prolog
2
I - Hidup Baru
3
II - Muka Dua
4
III - Kenangan Indah
5
IV - Pembuat Masalah
6
V - Lembar Pertama
7
VI - Penyihir Avnevous
8
VII - Ava Bloodhart
9
VIII - Calon Ratu
10
IX - Kediaman Winston
11
X - Lamaran Dadakan
12
XI - Persiapan Festival
13
XII - Rapat Pertama
14
XIII - Bersama Idris
15
XIV - Penyihir Vanhoiren
16
XV - Rapat Terakhir
17
XVI - Pernyataan Cinta
18
XVII - Festival Bunga (I)
19
XVIII - Festival Bunga (II)
20
XIX - Kediaman Dominic
21
XX - Calon Mertua
22
XXI - Istana Perunggu
23
XXII - Hari Pemburuan (I)
24
XXIII - Hari Pemburuan (II)
25
XXIV - Hari Pemburuan (III)
26
XXV - Kebersamaan Kami
27
XXVI - Hilangnya Rekan
28
XXVII - Menjadi Kuat
29
XXVIII - Anak Marquess
30
XXIX - Rekan Baru
31
XXX - Makan Malam
32
XXXI - Memberitahu Kebenaran
33
XXXII - Malam Pertunangan
34
XXXIII - Emosi Sesaat
35
XXXIV - Penyemangat Charlotte
36
XXXV - Makan Siang
37
XXXVI - Penobatan Lucas
38
XXXVII - Ava Galak
39
XXXVIII - Perasaan Isaac
40
XXXIX - Persiapan Pernikahan (I)
41
XL - Persiapan Pernikahan (II)
42
XLI - Kasus Penculikan
43
XLII - Kaisar Ke-XIX
44
XLIII - Penemuan Menggemparkan
45
XLIV - Bujuk Rayu
46
XLV - Kejutan Menegangkan
47
XLVI - Semakin Memanas
48
XLVII - Pengadilan Tinggi (I)
49
XLVIII - Pengadilan Tinggi (II)
50
XLIX - Pengadilan Tinggi (III)
51
L - Pengadilan Tinggi (IV)
52
LI - Pengadilan Tinggi (V)
53
LII - Balasan Kecil
54
LIII - Merasa Déjà vu
55
LIV - Hari Terakhir
56
LV - Upacara Pernikahan (I)
57
LVI - Upacara Pernikahan (II)
58
LVII - Era XX
59
LVIII - Malam Pertama
60
LIX - Bincang Malam
61
LX - Kegiatan Pagi (I)
62
LXI - Kegiatan Pagi (II)
63
LXII - Kegiatan Pagi (III)
64
LXIII - Kehebohan Mendadak
65
LXIV - Berita Duka
66
LXV - Serangan Dadakan
67
LXVI - Mulai Menghantui
68
LXVII - Diselamatkan Ava
69
LXVIII - Benang Merah
70
LXIX - Pertemuan Rahasia
71
LXX - Tumpahkan Saja
72
LXXI - Pemecatan Massal
73
LXXII - Misi Penyelamatan (I)
74
LXXIII - Misi Penyelamatan (II)
75
LXXIV - Selamat Tinggal
76
LXXV - Merasa Hancur
77
LXXVI - Titik Balik
78
LXXVII - Terancam Dibunuh
79
LXXVIII - Ancaman Ava
80
LXXIX - Interogasi Belka (I)
81
LXXX - Interogasi Belka (II)
82
LXXXI - Topik Berat
83
LXXXII - Bertemu Idris
84
LXXXIII - Hari Eksekusi (I)
85
LXXXIV - Hari Eksekusi (II)
86
LXXXV - Hari Eksekusi (III)
87
LXXXVI - Mata-mata Ayah
88
LXXXVII - Masa Lalu
89
LXXXVIII - Informasi Menarik
90
LXXXIX - Rahasia Liontin
91
XC - Potongan Puzzle (I)
92
XCI - Potongan Puzzle (II)
93
XCII - Adegan Ranjang
94
XCIII - Ibu Hamil
95
XCIV - Pemakaman Isla
96
XCV - Rencana Terakhir
97
XCVI - Kudeta Ratu (I)
98
XCVII - Kudeta Ratu (II)
99
XCVIII - Kudeta Ratu (III)
100
XCIX - Kudeta Ratu (IV)
101
C - Usai Kudeta (I)
102
CI - Usai Kudeta (II)
103
CII - Ingatan Idris (I)
104
CIII - Ingatan Idris (II)
105
CIV - Ingatan Idris (III)
106
CV - Pertemuan Resmi (I)
107
CVI - Pertemuan Resmi (II)
108
CVII - Bertemu Ayah
109
CVIII - Menyelesaikan Masalah
110
CIX - Menunggu Jack
111
CX - Serangan Kejutan
112
CXI - Menjadi Kaisarina
113
Epilog
114
Pojok Informasi
115
『S2』 Prolog
116
『S2』 I - Laporan
117
『S2』 II - Kecupan
118
『S2』 III - Duke
119
『S2』 IV - Dongeng
120
『S2』 V - Hantu
121
『S2』 VI - Pertemuan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!