Layla meletakkan teh yang kuminta di atas meja dekat sofa tempat aku membaca buku. Sudah lama aku tidak santai seperti ini. Isla sedang pergi melaporkan semua kejadian kemarin pada Ava di Avnevous. Dan selagi menunggunya, aku menikmati kesendirianku sejenak.
“Nona, apakah Isla melakukan pekerjaannya dengan baik?” tanya Layla sambil menatapku.
“Ya. Dia melakukan semua yang kuminta dengan baik. Kau tidak perlu khawatir, Layla,” jawabku. “Sekarang aku menyuruhnya untuk membelikanku beberapa kertas dan pena di pusat kota.”
“Syukurlah kalau begitu. Sebagai seorang pelayan yang telah lama mengabdi pada keluarga ini, saya tidak ingin Nona atau Tuan Viscount tidak puas dengan kinerja saya dan para pelayan yang lain. Maafkan kekhawatiran saya ini, Nona Charlotte,” ucap Layla sopan.
Aku tersenyum. “Aku mengerti, Layla. Terima kasih.”
“Tapi, Nona. Ada apa dengan bibir Nona Charlotte?”
Reflek aku menyentuh bibirku sendiri. “Aku tidak sengaja mengigit bibirku berlebihan. Isla sudah mengobatiku. Kau tidak perlu cemas.”
“Baiklah. Saya permisi dulu, Nona Charlotte.” Aku mengangguk lalu Layla keluar dari kamarku.
Tak berselang berapa lama, aku mendengar bunyi dari arah ruang kerjaku. Mungkin saja Isla sudah kembali. Aku pun beranjak dari kamarku dan berjalan ke sana. Tapi, bukannya Isla yang kutemui malahan Lucas-lah yang datang dari portal ruang bawah tanah.
“Halo,” sapaku. “Apa pekerjaanmu di Avnevous sudah selesai?”
Lucas tersenyum lalu diam saat melihat wajahku. Aku mundur sedikit saat Lucas tiba-tiba saja mendekatiku. Dia menatap mataku sekilas saja lalu berdecak kesal. Aku tidak mengerti apa yang dipikirkan olehnya.
“Ada apa, Lucas?” Aku menatapnya bingung.
“Apa b*jingan itu yang melakukan hal ini padamu?!” seru Lucas. Itu bukan seperti pertanyaan, malah lebih ke tuduhan. Lagipula, siapa b*jingan yang dimaksud oleh Lucas? “Jawab aku, Charlotte.”
“Lucas, jaga ucapanmu dan bicarakan hal ini baik-baik. Apa maksudmu?” Aku berterima kasih kepada Isla yang sudah membuat sihir kedap suara di ruang kerjaku. “Siapa orang yang kau maksudkan itu?”
“Siapa lagi kalau bukan Putra Mahkota Vanhoiren,” kata Lucas. “Kurang ajar sekali dia membuat bibirmu sampai luka seperti ini bahkan sebelum kalian resmi menikah.”
Tunggu dulu, kenapa Lucas malah salah paham dengan hal ini?!
“Aku mengigit bibirku secara berlebihan. Ini bukan salahnya. Dia bahkan tidak berani memelukku,” kataku mencoba menjelaskan.
Raut wajah Lucas tidak semarah yang tadi. “Benarkah? Apa kau tidak menyembunyikan sesuatu tentang kebusukannya?”
“Tidak, Lucas.”
Lucas menghela napas. “Syukurlah! Aku kaget sekali melihatmu seperti itu,” katanya lalu kemudian tertawa kecil.
Kadang-kadang, Lucas bisa seperti anak kecil yang menginginkan mainan. Lalu kadang-kadang, dia bisa jadi laki-laki dewasa yang penuh kebijaksanaan. Aku menyukai Lucas apa pun sikapnya.
“Oh, ya. Terima kasih untuk bunga-bunga yang sudah kau berikan,” ucapku saat melihat bunga pemberian Lucas yang ada di vas.
“Itu semua agar kau tidak lupa padaku,” kata Lucas tanpa memandangku. “Untuk jaga-jaga ..., lebih baik aku duluan yang melakukannya.”
Apa? “Melakukan apa?” tanyaku bingung.
Lucas tidak menjawab lagi, dia menarikku di dalam dekapannya hingga kami tidak membuat jarak apa pun lagi. Jantungku berdegup kencang lebih dari biasanya. Dia memelukku erat seakan tak ingin aku pergi kemana pun.
Tidak, ini tidak benar. Apakah aku harus membiarkan hal ini terjadi?
“Lucas ..., apa yang kau lakukan?”
Lucas melepaskan pelukannya dan menatapku. Aku terpaku saat wajah Lucas perlahan-lahan mendekatkan wajahnya padaku. Aku tidak sanggup memejamkan mataku. Yang kutahu adalah, Lucas menciumku.
Kudorong tubuh Lucas karena kaget. Tapi Lucas tidak terganggu dengan hal itu. Dia kembali mendekatiku dan menggenggam kedua tanganku. Memainkan jari-jemariku hingga akhirnya menghela napas panjang.
“Lucas, apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan padaku?” tanyaku setelah keheningan yang cukup panjang di antara kami.
Lucas mengangguk. “Aku tidak akan mencium wanita yang tidak kusukai, Charlotte.” Dia menatapku. “Apa kau marah?”
Marah? Sebenarnya tidak.
Lucas tersenyum karena membaca pikiranku. “Soal masa lalumu ..., tentang segala kehidupanmu yang berlalu dengan kesengsaraan. Melupakan hal itu memang sulit. Tapi aku ingin kau terus melangkah maju tanpa memikirkannya.”
“Apakah setelah menciumku, kau mau menghiburku?” candaku.
“Charlotte ..., aku serius,” kata Lucas sambil tertawa yang membuatku ikut tertawa juga. “Kau bilang jika di masa lalu, si b*jingan itu menuduhmu punya hubungan gelap denganku, kan?”
Aku hanya mengangguk.
“Bagaimana kalau di masa ini kita wujudkan tuduhannya?” usul Lucas.
“Lucas ..., jangan bilang ...”
“Charlotte, aku mencintaimu,” ungkap Lucas. “Aku ingin kau hanya jadi milikku saja nantinya.”
Aku diam dengan pikiran campur aduk. Bagaimana ini? Aku sama sekali tidak benci dengan pernyataan cinta Lucas. Tetapi bagaimana caranya aku menanggapi hal ini?
“Awalnya aku ingin membawamu kabur ke Avnevous. Tapi sepertinya kau ingin menyelamatkan Vanhoiren dari sihir kegelapan,” kata Lucas.
“Lucas, sebenarnya aku juga senang berada di sampingmu,” ucapku jujur. “Tapi apa kau mau menungguku menuntaskan segalanya yang ada di sini?”
Lucas mengangguk. “Tentu, My Lady.” Dia mengecup keningku. “Aku pastinya akan membantumu menggulingkan Kekaisaran yang sudah terikat dengan sihir kegelapan.”
“Terima kasih, Lucas. Kalau begitu aku akan lebih berusaha keras lagi,” ujarku. “Mungkin kau bisa membantuku latihan pedang nanti.”
Lucas mengangguk. “Jangan harap aku sekarang mau mengalah padamu, ya!”
“Aku berterima kasih kalau kau tidak melakukannya,” kataku.
Kami pun menghabiskan waktu bersama sampai sore hari. Isla bahkan kaget karena melihat Lucas yang ada bersamaku.
“Yang Mulia, sedang apa Anda di sini?” tanya Isla.
“Aku hanya ingin melihat wajah Charlotte. Sebentar lagi aku akan pulang,” jawab Lucas.
“Pulang sekarang!” seru Ava dari kristal komunikasi milik Isla. Aku lupa membawa kristalku di dalam kamar. Mungkin saja Lucas sengaja tidak membawa kristal miliknya. “Yang Mulia ini mau aku mati muda, ya?!”
“Ava, ingat umurmu,” tegur Lucas. “Aku kan hanya mau melihat Charlotte.”
“Ya sudah, cepat pulang ke sini. Seisi istana gempar karena Yang Mulia menghilang secara tiba-tiba,” omel Ava. “Kalau Yang Mulia Raja sampai tahu Yang Mulia hanya sibuk bermesraan dengan Nona Charlotte di Vanhoiren, Yang Mulia pasti dipecat dari garis kerajaan.”
Lucas bergidik ngeri. “Memangnya kau punya bukti kalau aku ini hanya sibuk bermesraan di sini?”
Ava tertawa. “Oh, Yang Mulia menantangku? Apa Yang Mulia lupa kalau tadi sempat menci-”
“Charlotte, aku pulang sekarang,” potong Lucas. Dia tersenyum padaku dan kembali ke Avnevous.
Isla menatapku dengan penuh pertanyaan. Aku hanya tertawa kecil dan memikirkan kembali betapa konyolnya tingkah kami tadi. Aku harap kebahagiaan ini tidak cepat berakhir. Malahan, tetap ada sampai akhir hidupku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments
Frando Kanan
what? charllote kehidupan sebelomny kna tuduh hubungan gelap bersama dgn Lucas?
yare2
2021-09-01
0
LilyArni
aaaaaa lucas lucu🤣😁
2021-08-11
0
•̀✧Alice Greenwich•̀✧
Gyaa... Kaka Author keknya aku ga usah khawatir deh hubungan🤣 Lucas Ama Charlotte
Dunia masih mendukung mereka berdua wkwkw❤️🤭
2020-06-21
5