XVI - Pernyataan Cinta

Layla meletakkan teh yang kuminta di atas meja dekat sofa tempat aku membaca buku. Sudah lama aku tidak santai seperti ini. Isla sedang pergi melaporkan semua kejadian kemarin pada Ava di Avnevous. Dan selagi menunggunya, aku menikmati kesendirianku sejenak.

“Nona, apakah Isla melakukan pekerjaannya dengan baik?” tanya Layla sambil menatapku.

“Ya. Dia melakukan semua yang kuminta dengan baik. Kau tidak perlu khawatir, Layla,” jawabku. “Sekarang aku menyuruhnya untuk membelikanku beberapa kertas dan pena di pusat kota.”

“Syukurlah kalau begitu. Sebagai seorang pelayan yang telah lama mengabdi pada keluarga ini, saya tidak ingin Nona atau Tuan Viscount tidak puas dengan kinerja saya dan para pelayan yang lain. Maafkan kekhawatiran saya ini, Nona Charlotte,” ucap Layla sopan.

Aku tersenyum. “Aku mengerti, Layla. Terima kasih.”

“Tapi, Nona. Ada apa dengan bibir Nona Charlotte?”

Reflek aku menyentuh bibirku sendiri. “Aku tidak sengaja mengigit bibirku berlebihan. Isla sudah mengobatiku. Kau tidak perlu cemas.”

“Baiklah. Saya permisi dulu, Nona Charlotte.” Aku mengangguk lalu Layla keluar dari kamarku.

Tak berselang berapa lama, aku mendengar bunyi dari arah ruang kerjaku. Mungkin saja Isla sudah kembali. Aku pun beranjak dari kamarku dan berjalan ke sana. Tapi, bukannya Isla yang kutemui malahan Lucas-lah yang datang dari portal ruang bawah tanah.

“Halo,” sapaku. “Apa pekerjaanmu di Avnevous sudah selesai?”

Lucas tersenyum lalu diam saat melihat wajahku. Aku mundur sedikit saat Lucas tiba-tiba saja mendekatiku. Dia menatap mataku sekilas saja lalu berdecak kesal. Aku tidak mengerti apa yang dipikirkan olehnya.

“Ada apa, Lucas?” Aku menatapnya bingung.

“Apa b*jingan itu yang melakukan hal ini padamu?!” seru Lucas. Itu bukan seperti pertanyaan, malah lebih ke tuduhan. Lagipula, siapa b*jingan yang dimaksud oleh Lucas? “Jawab aku, Charlotte.”

“Lucas, jaga ucapanmu dan bicarakan hal ini baik-baik. Apa maksudmu?” Aku berterima kasih kepada Isla yang sudah membuat sihir kedap suara di ruang kerjaku. “Siapa orang yang kau maksudkan itu?”

“Siapa lagi kalau bukan Putra Mahkota Vanhoiren,” kata Lucas. “Kurang ajar sekali dia membuat bibirmu sampai luka seperti ini bahkan sebelum kalian resmi menikah.”

Tunggu dulu, kenapa Lucas malah salah paham dengan hal ini?!

“Aku mengigit bibirku secara berlebihan. Ini bukan salahnya. Dia bahkan tidak berani memelukku,” kataku mencoba menjelaskan.

Raut wajah Lucas tidak semarah yang tadi. “Benarkah? Apa kau tidak menyembunyikan sesuatu tentang kebusukannya?”

“Tidak, Lucas.”

Lucas menghela napas. “Syukurlah! Aku kaget sekali melihatmu seperti itu,” katanya lalu kemudian tertawa kecil.

Kadang-kadang, Lucas bisa seperti anak kecil yang menginginkan mainan. Lalu kadang-kadang, dia bisa jadi laki-laki dewasa yang penuh kebijaksanaan. Aku menyukai Lucas apa pun sikapnya.

“Oh, ya. Terima kasih untuk bunga-bunga yang sudah kau berikan,” ucapku saat melihat bunga pemberian Lucas yang ada di vas.

“Itu semua agar kau tidak lupa padaku,” kata Lucas tanpa memandangku. “Untuk jaga-jaga ..., lebih baik aku duluan yang melakukannya.”

Apa? “Melakukan apa?” tanyaku bingung.

Lucas tidak menjawab lagi, dia menarikku di dalam dekapannya hingga kami tidak membuat jarak apa pun lagi. Jantungku berdegup kencang lebih dari biasanya. Dia memelukku erat seakan tak ingin aku pergi kemana pun.

Tidak, ini tidak benar. Apakah aku harus membiarkan hal ini terjadi?

“Lucas ..., apa yang kau lakukan?”

Lucas melepaskan pelukannya dan menatapku. Aku terpaku saat wajah Lucas perlahan-lahan mendekatkan wajahnya padaku. Aku tidak sanggup memejamkan mataku. Yang kutahu adalah, Lucas menciumku.

Kudorong tubuh Lucas karena kaget. Tapi Lucas tidak terganggu dengan hal itu. Dia kembali mendekatiku dan menggenggam kedua tanganku. Memainkan jari-jemariku hingga akhirnya menghela napas panjang.

“Lucas, apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan padaku?” tanyaku setelah keheningan yang cukup panjang di antara kami.

Lucas mengangguk. “Aku tidak akan mencium wanita yang tidak kusukai, Charlotte.” Dia menatapku. “Apa kau marah?”

Marah? Sebenarnya tidak.

Lucas tersenyum karena membaca pikiranku. “Soal masa lalumu ..., tentang segala kehidupanmu yang berlalu dengan kesengsaraan. Melupakan hal itu memang sulit. Tapi aku ingin kau terus melangkah maju tanpa memikirkannya.”

“Apakah setelah menciumku, kau mau menghiburku?” candaku.

“Charlotte ..., aku serius,” kata Lucas sambil tertawa yang membuatku ikut tertawa juga. “Kau bilang jika di masa lalu, si b*jingan itu menuduhmu punya hubungan gelap denganku, kan?”

Aku hanya mengangguk.

“Bagaimana kalau di masa ini kita wujudkan tuduhannya?” usul Lucas.

“Lucas ..., jangan bilang ...”

“Charlotte, aku mencintaimu,” ungkap Lucas. “Aku ingin kau hanya jadi milikku saja nantinya.”

Aku diam dengan pikiran campur aduk. Bagaimana ini? Aku sama sekali tidak benci dengan pernyataan cinta Lucas. Tetapi bagaimana caranya aku menanggapi hal ini?

“Awalnya aku ingin membawamu kabur ke Avnevous. Tapi sepertinya kau ingin menyelamatkan Vanhoiren dari sihir kegelapan,” kata Lucas.

“Lucas, sebenarnya aku juga senang berada di sampingmu,” ucapku jujur. “Tapi apa kau mau menungguku menuntaskan segalanya yang ada di sini?”

Lucas mengangguk. “Tentu, My Lady.” Dia mengecup keningku. “Aku pastinya akan membantumu menggulingkan Kekaisaran yang sudah terikat dengan sihir kegelapan.”

“Terima kasih, Lucas. Kalau begitu aku akan lebih berusaha keras lagi,” ujarku. “Mungkin kau bisa membantuku latihan pedang nanti.”

Lucas mengangguk. “Jangan harap aku sekarang mau mengalah padamu, ya!”

“Aku berterima kasih kalau kau tidak melakukannya,” kataku.

Kami pun menghabiskan waktu bersama sampai sore hari. Isla bahkan kaget karena melihat Lucas yang ada bersamaku.

“Yang Mulia, sedang apa Anda di sini?” tanya Isla.

“Aku hanya ingin melihat wajah Charlotte. Sebentar lagi aku akan pulang,” jawab Lucas.

“Pulang sekarang!” seru Ava dari kristal komunikasi milik Isla. Aku lupa membawa kristalku di dalam kamar. Mungkin saja Lucas sengaja tidak membawa kristal miliknya. “Yang Mulia ini mau aku mati muda, ya?!”

“Ava, ingat umurmu,” tegur Lucas. “Aku kan hanya mau melihat Charlotte.”

“Ya sudah, cepat pulang ke sini. Seisi istana gempar karena Yang Mulia menghilang secara tiba-tiba,” omel Ava. “Kalau Yang Mulia Raja sampai tahu Yang Mulia hanya sibuk bermesraan dengan Nona Charlotte di Vanhoiren, Yang Mulia pasti dipecat dari garis kerajaan.”

Lucas bergidik ngeri. “Memangnya kau punya bukti kalau aku ini hanya sibuk bermesraan di sini?”

Ava tertawa. “Oh, Yang Mulia menantangku? Apa Yang Mulia lupa kalau tadi sempat menci-”

“Charlotte, aku pulang sekarang,” potong Lucas. Dia tersenyum padaku dan kembali ke Avnevous.

Isla menatapku dengan penuh pertanyaan. Aku hanya tertawa kecil dan memikirkan kembali betapa konyolnya tingkah kami tadi. Aku harap kebahagiaan ini tidak cepat berakhir. Malahan, tetap ada sampai akhir hidupku.

Terpopuler

Comments

Frando Kanan

Frando Kanan

what? charllote kehidupan sebelomny kna tuduh hubungan gelap bersama dgn Lucas?
yare2

2021-09-01

0

LilyArni

LilyArni

aaaaaa lucas lucu🤣😁

2021-08-11

0

•̀✧Alice Greenwich•̀✧

•̀✧Alice Greenwich•̀✧

Gyaa... Kaka Author keknya aku ga usah khawatir deh hubungan🤣 Lucas Ama Charlotte

Dunia masih mendukung mereka berdua wkwkw❤️🤭

2020-06-21

5

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 I - Hidup Baru
3 II - Muka Dua
4 III - Kenangan Indah
5 IV - Pembuat Masalah
6 V - Lembar Pertama
7 VI - Penyihir Avnevous
8 VII - Ava Bloodhart
9 VIII - Calon Ratu
10 IX - Kediaman Winston
11 X - Lamaran Dadakan
12 XI - Persiapan Festival
13 XII - Rapat Pertama
14 XIII - Bersama Idris
15 XIV - Penyihir Vanhoiren
16 XV - Rapat Terakhir
17 XVI - Pernyataan Cinta
18 XVII - Festival Bunga (I)
19 XVIII - Festival Bunga (II)
20 XIX - Kediaman Dominic
21 XX - Calon Mertua
22 XXI - Istana Perunggu
23 XXII - Hari Pemburuan (I)
24 XXIII - Hari Pemburuan (II)
25 XXIV - Hari Pemburuan (III)
26 XXV - Kebersamaan Kami
27 XXVI - Hilangnya Rekan
28 XXVII - Menjadi Kuat
29 XXVIII - Anak Marquess
30 XXIX - Rekan Baru
31 XXX - Makan Malam
32 XXXI - Memberitahu Kebenaran
33 XXXII - Malam Pertunangan
34 XXXIII - Emosi Sesaat
35 XXXIV - Penyemangat Charlotte
36 XXXV - Makan Siang
37 XXXVI - Penobatan Lucas
38 XXXVII - Ava Galak
39 XXXVIII - Perasaan Isaac
40 XXXIX - Persiapan Pernikahan (I)
41 XL - Persiapan Pernikahan (II)
42 XLI - Kasus Penculikan
43 XLII - Kaisar Ke-XIX
44 XLIII - Penemuan Menggemparkan
45 XLIV - Bujuk Rayu
46 XLV - Kejutan Menegangkan
47 XLVI - Semakin Memanas
48 XLVII - Pengadilan Tinggi (I)
49 XLVIII - Pengadilan Tinggi (II)
50 XLIX - Pengadilan Tinggi (III)
51 L - Pengadilan Tinggi (IV)
52 LI - Pengadilan Tinggi (V)
53 LII - Balasan Kecil
54 LIII - Merasa Déjà vu
55 LIV - Hari Terakhir
56 LV - Upacara Pernikahan (I)
57 LVI - Upacara Pernikahan (II)
58 LVII - Era XX
59 LVIII - Malam Pertama
60 LIX - Bincang Malam
61 LX - Kegiatan Pagi (I)
62 LXI - Kegiatan Pagi (II)
63 LXII - Kegiatan Pagi (III)
64 LXIII - Kehebohan Mendadak
65 LXIV - Berita Duka
66 LXV - Serangan Dadakan
67 LXVI - Mulai Menghantui
68 LXVII - Diselamatkan Ava
69 LXVIII - Benang Merah
70 LXIX - Pertemuan Rahasia
71 LXX - Tumpahkan Saja
72 LXXI - Pemecatan Massal
73 LXXII - Misi Penyelamatan (I)
74 LXXIII - Misi Penyelamatan (II)
75 LXXIV - Selamat Tinggal
76 LXXV - Merasa Hancur
77 LXXVI - Titik Balik
78 LXXVII - Terancam Dibunuh
79 LXXVIII - Ancaman Ava
80 LXXIX - Interogasi Belka (I)
81 LXXX - Interogasi Belka (II)
82 LXXXI - Topik Berat
83 LXXXII - Bertemu Idris
84 LXXXIII - Hari Eksekusi (I)
85 LXXXIV - Hari Eksekusi (II)
86 LXXXV - Hari Eksekusi (III)
87 LXXXVI - Mata-mata Ayah
88 LXXXVII - Masa Lalu
89 LXXXVIII - Informasi Menarik
90 LXXXIX - Rahasia Liontin
91 XC - Potongan Puzzle (I)
92 XCI - Potongan Puzzle (II)
93 XCII - Adegan Ranjang
94 XCIII - Ibu Hamil
95 XCIV - Pemakaman Isla
96 XCV - Rencana Terakhir
97 XCVI - Kudeta Ratu (I)
98 XCVII - Kudeta Ratu (II)
99 XCVIII - Kudeta Ratu (III)
100 XCIX - Kudeta Ratu (IV)
101 C - Usai Kudeta (I)
102 CI - Usai Kudeta (II)
103 CII - Ingatan Idris (I)
104 CIII - Ingatan Idris (II)
105 CIV - Ingatan Idris (III)
106 CV - Pertemuan Resmi (I)
107 CVI - Pertemuan Resmi (II)
108 CVII - Bertemu Ayah
109 CVIII - Menyelesaikan Masalah
110 CIX - Menunggu Jack
111 CX - Serangan Kejutan
112 CXI - Menjadi Kaisarina
113 Epilog
114 Pojok Informasi
115 『S2』 Prolog
116 『S2』 I - Laporan
117 『S2』 II - Kecupan
118 『S2』 III - Duke
119 『S2』 IV - Dongeng
120 『S2』 V - Hantu
121 『S2』 VI - Pertemuan
Episodes

Updated 121 Episodes

1
Prolog
2
I - Hidup Baru
3
II - Muka Dua
4
III - Kenangan Indah
5
IV - Pembuat Masalah
6
V - Lembar Pertama
7
VI - Penyihir Avnevous
8
VII - Ava Bloodhart
9
VIII - Calon Ratu
10
IX - Kediaman Winston
11
X - Lamaran Dadakan
12
XI - Persiapan Festival
13
XII - Rapat Pertama
14
XIII - Bersama Idris
15
XIV - Penyihir Vanhoiren
16
XV - Rapat Terakhir
17
XVI - Pernyataan Cinta
18
XVII - Festival Bunga (I)
19
XVIII - Festival Bunga (II)
20
XIX - Kediaman Dominic
21
XX - Calon Mertua
22
XXI - Istana Perunggu
23
XXII - Hari Pemburuan (I)
24
XXIII - Hari Pemburuan (II)
25
XXIV - Hari Pemburuan (III)
26
XXV - Kebersamaan Kami
27
XXVI - Hilangnya Rekan
28
XXVII - Menjadi Kuat
29
XXVIII - Anak Marquess
30
XXIX - Rekan Baru
31
XXX - Makan Malam
32
XXXI - Memberitahu Kebenaran
33
XXXII - Malam Pertunangan
34
XXXIII - Emosi Sesaat
35
XXXIV - Penyemangat Charlotte
36
XXXV - Makan Siang
37
XXXVI - Penobatan Lucas
38
XXXVII - Ava Galak
39
XXXVIII - Perasaan Isaac
40
XXXIX - Persiapan Pernikahan (I)
41
XL - Persiapan Pernikahan (II)
42
XLI - Kasus Penculikan
43
XLII - Kaisar Ke-XIX
44
XLIII - Penemuan Menggemparkan
45
XLIV - Bujuk Rayu
46
XLV - Kejutan Menegangkan
47
XLVI - Semakin Memanas
48
XLVII - Pengadilan Tinggi (I)
49
XLVIII - Pengadilan Tinggi (II)
50
XLIX - Pengadilan Tinggi (III)
51
L - Pengadilan Tinggi (IV)
52
LI - Pengadilan Tinggi (V)
53
LII - Balasan Kecil
54
LIII - Merasa Déjà vu
55
LIV - Hari Terakhir
56
LV - Upacara Pernikahan (I)
57
LVI - Upacara Pernikahan (II)
58
LVII - Era XX
59
LVIII - Malam Pertama
60
LIX - Bincang Malam
61
LX - Kegiatan Pagi (I)
62
LXI - Kegiatan Pagi (II)
63
LXII - Kegiatan Pagi (III)
64
LXIII - Kehebohan Mendadak
65
LXIV - Berita Duka
66
LXV - Serangan Dadakan
67
LXVI - Mulai Menghantui
68
LXVII - Diselamatkan Ava
69
LXVIII - Benang Merah
70
LXIX - Pertemuan Rahasia
71
LXX - Tumpahkan Saja
72
LXXI - Pemecatan Massal
73
LXXII - Misi Penyelamatan (I)
74
LXXIII - Misi Penyelamatan (II)
75
LXXIV - Selamat Tinggal
76
LXXV - Merasa Hancur
77
LXXVI - Titik Balik
78
LXXVII - Terancam Dibunuh
79
LXXVIII - Ancaman Ava
80
LXXIX - Interogasi Belka (I)
81
LXXX - Interogasi Belka (II)
82
LXXXI - Topik Berat
83
LXXXII - Bertemu Idris
84
LXXXIII - Hari Eksekusi (I)
85
LXXXIV - Hari Eksekusi (II)
86
LXXXV - Hari Eksekusi (III)
87
LXXXVI - Mata-mata Ayah
88
LXXXVII - Masa Lalu
89
LXXXVIII - Informasi Menarik
90
LXXXIX - Rahasia Liontin
91
XC - Potongan Puzzle (I)
92
XCI - Potongan Puzzle (II)
93
XCII - Adegan Ranjang
94
XCIII - Ibu Hamil
95
XCIV - Pemakaman Isla
96
XCV - Rencana Terakhir
97
XCVI - Kudeta Ratu (I)
98
XCVII - Kudeta Ratu (II)
99
XCVIII - Kudeta Ratu (III)
100
XCIX - Kudeta Ratu (IV)
101
C - Usai Kudeta (I)
102
CI - Usai Kudeta (II)
103
CII - Ingatan Idris (I)
104
CIII - Ingatan Idris (II)
105
CIV - Ingatan Idris (III)
106
CV - Pertemuan Resmi (I)
107
CVI - Pertemuan Resmi (II)
108
CVII - Bertemu Ayah
109
CVIII - Menyelesaikan Masalah
110
CIX - Menunggu Jack
111
CX - Serangan Kejutan
112
CXI - Menjadi Kaisarina
113
Epilog
114
Pojok Informasi
115
『S2』 Prolog
116
『S2』 I - Laporan
117
『S2』 II - Kecupan
118
『S2』 III - Duke
119
『S2』 IV - Dongeng
120
『S2』 V - Hantu
121
『S2』 VI - Pertemuan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!