Aku membuatkan teh melati untuk Lucas dan Isla. Lucas menatap tumpukan kertas yang menggunung di meja kerjaku. Hal itu membuatku tersenyum dan meletakkan cangkir tehku di atas meja.
“Apa tidak ada pekerjaan penting di Istana?” tanyaku pada Lucas.
“Aku baru saja menyelesaikan semuanya. Oleh karena itu aku kesini untuk melihat keadaanmu,” jawab Lucas. “Apa kau masih sering berlatih pedang?”
Aku menggeleng. “Ayahku terus melarangku untuk keluar dari rumah. Aku tidak bisa berlatih bersama Jayden.”
“Jayden?”
“Tangan kanan Ayahku,” kataku menjelaskan.
Lucas mengangguk paham. “Pekerjaanmu banyak sekali, ya. Apa mau kubantu?”
“Tidak perlu, aku senang mengerjakannya sendiri, Lucas.”
“Sampai kapan Yang Mulia mau berada di sana? Para pengawal Yang Mulia sedang menunggu. Katanya Yang Mulia Raja mau bertemu!” seru Ava dari kristal komunikasi.
Lucas berdecak kesal. “Ya-ya, aku akan segera pergi,” kata Lucas. “Charlotte, aku pergi dulu.”
“Baik, Lucas. Terima kasih sudah mau mampir.”
Lucas mengangguk.
“Aku akan mengantar Anda, Yang Mulia,” kata Isla yang mengekor di belakang Lucas.
Isla kembali sendirian sementara aku melanjutkan pekerjaanku hingga menjelang larut malam. Lembur adalah hal yang mengasyikan bagiku. Lebih baik kuselesaikan pekerjaan di rumah sebelum pergi ke Istana untuk bekerja bersama Idris.
***
Isla sudah kuminta untuk mempelajari wilayah Vanhoiren dan melihat jika ada sesuatu yang mencurigakan. Sesekali aku berkomunikasi dengan Isla untuk melihat perkembangan investigasinya.
Jika sudah dihadapkan dengan sesuatu yang serius, Isla akan dengan sigap melakukannya dengan cepat dan tepat. Aku bahkan yakin jika sihir adalah bonus dari kemampuannya sekarang. Isaac telah membesarkan seorang anak yang jenius.
Selagi Isla pergi, aku pun juga ikut keluar menuju Perpustakaan Kekaisaran untuk mengembalikan buku duplikat Ava bersama Jayden. Dia sama sekali tak membiarkanku pergi sendirian. Bahkan jarak kami maksimal jauhnya hanya boleh dua meter.
Baru saja hendak naik ke kereta kudaku bersama Jayden, kereta kuda Kekaisaran muncul di belakang kami. Kereta itu berhenti dan keluarlah Idris bersama Jack. Idris tersenyum padaku saat aku memberi salam bersama Jayden.
“Aku tidak tahu takdir apa yang bisa membuat kita bertemu lagi, Nona Winston,” ucap Idris. Aku hanya bisa berusaha tersenyum. Berkat Ava, sakit kepalaku bisa dihilangkan untuk sementara waktu. Sihir Ava hanya bisa bertahan selama satu jam saja setiap aku melihat Idris. “Kebetulan sekali, setelah dari sini aku ingin mengunjungimu.”
“Ada apa, Yang Mulia?” tanyaku.
“Aku ingin menjemputmu untuk pergi ke istana bersama untuk rapat pertama kita mengenai Festival Bunga,” jawab Idris. “Para bangsawan lain juga akan berkumpul di sana.”
“Yang Mulia terlalu merepotkan diri. Yang Mulia bisa mengirim surat agar saya bisa pergi sendiri,” ucapku dengan nada terkejut.
Idris kembali tersenyum. “Jack, antar Nona Winston ke kereta kuda kita,” perintahnya pada Jack tanpa menanggapi perkataanku.
Jack menatapku dan mengulurkan tangannya sambil tersenyum.
Entah mengapa aku merasa tidak nyaman saat bersama Jack. Mungkin karena dia adalah orang yang ikut andil dalam kematianku dahulu. Ugh, sakit kepalaku malah muncul.
“Jayden, kembalilah sendiri dan katakan pada Ayah jika aku bersama Yang Mulia Putra Mahkota,” ucapku pada Jayden lalu meraih tangan Jack.
“Baik, Nona Charlotte,” kata Jayden.
Aku di antar masuk ke dalam kereta kuda Kekaisaran yang lebih mewah dibanding milik keluargaku. Yah, itu adalah hal yang wajar. Jack menutup pintu kereta dan pergi menemani Idris masuk ke dalam perpustakaan.
Sakit kepalaku mereda. Aku bersyukur akan hal itu.
“Nona, bagaimana keadaanmu?” Isla menghubungiku.
“Aku sedang berada di kereta kuda Kekaisaran,” bisikku padanya lewat kristal komunikasi.
“Ya, Nona Charlotte. Aku melihatmu dari atap perpustakaan. Apakah aku harus membuntuti kereta itu?” tanya Isla.
“Ya. Tapi, jangan diteruskan kalau kondisinya berbahaya,” kataku padanya masih dengan berbisik.
Isla setuju dan aku menyimpan kembali kristalku.
Idris dan Jack kembali sekitar tiga puluh menit. Mereka sepertinya punya urusan dengan Ruby. Keduanya ikut masuk ke dalam kereta dan duduk berhadapan denganku. Lalu kami pun menuju ke Istana Kekaisaran.
“Maaf sudah membuatmu menunggu lama, Nona Winston,” kata Idris.
“Tidak apa-apa, Yang Mulia. Berkat Yang Mulia, saya bisa beristirahat sejenak di sini.”
“Begitu, ya. Waktu itu aku melihat banyak sekali pekerjaan yang menumpuk di ruang kerjamu,” ucap Idris seraya menerawang kejadian tempo lalu. “Apakah masih ada yang harus dikerjakan?”
“Semuanya sudah saya selesaikan, Yang Mulia,” jawabku sopan.
Idris agak kaget mendengar hal itu. “Bagus sekali, Nona Winston. Tapi pikirkan juga kesehatanmu.”
“Baik, Yang Mulia. Terima kasih atas perhatiannya.” Aku menunduk sedikit untuk memperlihatkan kesopanan pada Idris karena sedaritadi tanpa Idris sadari ... Jack memperhatikanku.
“Bunga-bunga untuk festival kali ini akan diambil dari Kerajaan Naorikan dan Kerajaan Bevram,” jelas Idris. “Utusan dari Raja dua kerajaan ini sudah datang kemarin. Tinggal bagaimana pihak kita mengoordinasi Festival Bunga ini dengan baik.”
“Apakah bunga-bunga di Kekaisaran tidak cukup untuk festival kali ini?” tanyaku serius.
“Aku kan sudah bilang untuk membuat festivalnya lebih meriah, Nona Winston,” jawab Idris. “Untuk itulah aku ingin mendiskusikan beberapa hal dengan bangsawan kelas atas terkait rencana kontribusi dengan bangsawan biasa.”
Perbedaan kasta masih terasa di Kekaisaran Vanhoiren. Hanya bangsawan kelas atas dan berbakat saja yang akan dipandang. Idris harus berusaha keras agar meyakinkan mereka.
“Grand Duke sudah setuju dengan hal ini, Nona Winston. Mereka pasti bisa setuju,” tambah Idris.
“Baiklah, Yang Mulia. Saya juga akan membantu sebisa mungkin,” kataku akhirnya. Kemudian aku teringat sesuatu. “Apakah saya bisa membuat satu permintaan kepada Yang Mulia?”
“Katakan, Nona Winston.”
“Karena saya masih dalam pengawasan, apakah bisa jika saya membawa satu pelayan saat bekerja di istana nanti?”
Idris berpikir sejenak. “Apakah Nona Winston akan merasa nyaman dengan hal itu?”
Aku mengangguk. “Ya, Yang Mulia.”
“Baiklah, Nona Winston.”
Sekarang, aku tinggal membuat skenario perekrutan Isla ke kediamanku agar Isla bisa kubawa ke dalam istana. Selangkah demi selangkah, aku berharap tidak ada yang mengganggu.
“Aku sudah meminta Jack menyelidiki masalah yang Nona Winston alami. Namun, tidak ada hal yang mencurigakan,” kata Idris. “Apa yang terjadi sebelum Nona Winston pingsan?”
Aku bertingkah seolah-olah sedang berpikir. “Saat masuk ke dalam gang, saya ... saya merasa ada yang memukul kepala saya dengan keras sampai tidak sadarkan diri.”
“Begitu, ya. Padahal aku sudah memperketat penjagaan, tapi ada saja kejadian seperti ini. Kesehatan Kaisar juga sedang tidak baik. Fokusku terpecah karenanya,” ungkap Idris sedang wajah muram.
“Tenanglah, Yang Mulia. Semuanya pasti akan berjalan dengan baik. Saya akan membantu Yang Mulia,” kataku sambil tersenyum.
“Terima kasih, Nona Winston.”
Ya, semuanya pasti berjalan dengan baik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments
Dorkas
menarik sekali novelnya.. suka...❤️❤️
2021-09-06
0
senja
si Jack juga tau sihir juga kah?
2020-05-20
4
Lenha oks
up
2020-04-14
4