IX - Kediaman Winston

Aku berdiri di depan portal besar yang mengarah ke perbatasan Vanhoiren. Aku berpamitan dengan Ava, Lucas, dan Isaac. Isla ikut denganku dalam mode penyamaran. Aku harus secara alami merekrut Isla masuk ke dalam kediamanku agar tidak menimbulkan kecurigaan.

“Kalau begitu kami pergi dulu,” kataku sambil mengangkat koperku dan bersiap masuk ke dalam portal.

“Charlotte,” panggil Lucas.

“Ya?” Sejak kapan Lucas memanggil namaku dengan akrab? “Ada apa?”

“Hati-hati,” kata Lucas sambil memalingkan wajah. Aku tersenyum dan mengangguk.

Aku dan Isla pun masuk ke dalam portal itu lalu keluar di sebuah hutan. Ini wilayah Beck yang sudah tidak diperhatikan oleh Kekaisaran Vanhoiren setelah berhasil diklaim. Isla mengeluarkan kubah sihir yang bisa membuat kami tidak bisa dilihat oleh orang lain selama berada di kubah itu.

Aku dibawa terbang oleh Isla ke rumahku tepatnya di kediaman Viscount Winston. Aku belum mahir menggunakan sihir tingkat tinggi yang membutuhkan mana besar seperti Isla.

“Itu dia. Kita bisa lewat jendela kamarku yang terbuka,” kataku sambil menunjuk bangunan besar di bawah kami.

“Baiklah. Pegangan, Nona Charlotte,” ucap Isla sambil turun ke bawah.

Aku masuk ke dalam kamarku yang sama sekali tak berubah. Dan di atas tempat tidurku, ada aku yang sedang terbaring kaku. Kulirik Isla yang tersenyum padaku. Mereka membuat penggantiku seperti gadis yang koma. Tapi bagaimana mungkin Idris malah menjadikanku calon Ratu? Mungkin saja itu rumor, hiburku dalam hati.

“Itu hanya boneka,” kata Isla. “Aku membuatnya sedikit hidup agar seperti koma. Karena sihir penyamaran membutuhkan mana yang besar, kami tidak mampu memakai manusia asli lagi.”

Isla kemudian menjentikkan jarinya dan gadis itu menghilang. Aku pun berpakaian sepertinya dan naik ke tempat tidur lalu memanggil Layla. Isla masih ada di kamarku, memakai kubah sihir yang membuatnya menghilang. Aku sendiri pun sudah tak bisa melihatnya.

“Layla!”

Layla masuk ke dalam kamar bersama Ayah. Wajah mereka terlihat kaget saat melihatku bangun. Ayah berlari ke arahku dan memelukku dengan erat. Layla menyembunyikan wajahnya karena menitikkan airmata. Aku membalas pelukan Ayah dan ikut menangis. Aku merindukannya, merindukan Layla, Jayden, dan semua orang di tempat ini.

Jayden masuk dengan napas terengah-engah. Dia memakai zirahnya yang jarang dia pakai. Sepertinya dia baru saja kembali dari Kekaisaran. Matanya terbelalak dan aku pun tersenyum padanya. Jayden terduduk di lantai. Seperti tak percaya dengan apa yang telah terjadi. Aku tahu dia menyalahkan dirinya sendiri untuk apa yang telah menimpaku. Meskipun dia memang tidaklah salah.

“Ayah ..., jangan khawatirkan apa pun lagi,” ucapku pada Ayah. Ya, semuanya akan baik-baik saja mulai sekarang. Aku akan melindungi keluargaku.

“Charlotte, anakku. Ayah sangat khawatir karena kau tidak sadarkan diri. Ini salah Ayah karena membuatmu bekerja di luar rumah,” kata Ayah dengan raut wajah sedih. “Maafkan, Ayah.”

Aku menggenggam tangan Ayahku dan menggeleng. “Jangan menyalahkan diri Ayah dan siapa pun soal ini. Yang penting sekarang aku sudah baik-baik saja,” kataku.

“Maaf, Nona Charlotte. Ini karena aku tidak menemanimu waktu itu,” ucap Jayden yang sudah kembali berdiri.

“Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Jayden. Sebagai seorang suami, sudah sepantasnya kau meluangkan waktu dengan keluargamu di rumah.” Aku hendak berdiri, namun ditahan oleh Ayah. “Aku baik-baik saja, Ayah.”

“Baik-baik saja bagaimana, Charlotte? Kau baru sadar dari koma. Bahkan Dokter Kekaisaran pun tidak sanggup mendiagnosa apa penyakit yang ada di dalam tubuhmu,” ucap Ayah.

Lagi-lagi Idris. “Kenapa ada Dokter Kekaisaran? Bagaimana dengan dokter keluarga kita?” tanyaku sedikit kesal.

“Uhm, Yang Mulia Putra Mahkota merasa bersalah karena membiarkanmu mengalami musibah ini. Oleh karena itu, Yang Mulia mengirimkan Dokter Kekaisaran untuk menangani penyakitmu,” tutur Ayah. “Ada hal lain yang harus Ayah beritahukan nanti setelah kau pulih dengan baik.”

“Aku sudah cukup pulih untuk mendengar informasi apa pun, Ayah,” sergahku. Sudah pasti soal calon Ratu dan segala hal yang membuatku tidak tenang. “Katakan semuanya padaku.”

Ayah sepertinya memang tidak ingin memberitahukannya. “Maaf, Charlotte. Lebih baik kau istirahat dulu. Layla akan memberikanmu makanan enak yang kau sukai.”

“Baiklah,” kataku.

Mereka bertiga pun keluar meninggalkanku berdua dengan Isla. Isla muncul di sampingku lalu tersenyum. Aku mengurut pelipisku yang tegang. Ada banyak hal yang harus kuatur mulai sekarang. Aku ingin cepat-cepat kembali bekerja di ruanganku.

Buku Ava masih tersimpan di laci mejaku. Aku ingat jika Ava bilang buku itu harus kuberikan padanya agar bisa diduplikat. Mengingat itu adalah buku pinjaman.

Buku itu sempat dicuri dari tangan Ava dan malah ada di Perpustakaan Kekaisaran. Siapa yang berani mencuri sesuatu dari tangan Ava? Pastilah itu orang terdekatnya.

“Kau bisa membuat portal di ruang bawah tanah yang ada di ruang kerjaku nanti,” kataku pada Isla.

Isla mengangguk. “Apa sebaiknya aku mencari penginapan untuk sementara waktu?” tanya Isla.

“Tidak perlu. Kau tetap di kamarku saja. Lagipula kasurku terlalu besar untuk satu orang saja,” ucapku sambil tersenyum.

Kami berbicara dengan nada serendah mungkin agar tidak didengar sampai ke luar.

Tok! Tok! Tok!

“Nona Charlotte, saya datang membawakan makan siang untuk Nona,” kata Layla dari luar.

“Masuklah,” ucapku tegas.

Layla pun masuk dengan membawa makanan yang terlihat lezat. Makanan buatan Layla tak kalah enak dengan buatan Isaac. Layla sepertinya masih shock dengan kejadian hari ini.

“Layla, bisakah kau membawakanku satu porsi lagi? Aku agak sedikit lapar,” pintaku pada Layla.

“Baiklah, Nona. Saya akan segera kembali. Tolong katakan apa pun yang Nona butuhkan padaku,” ucapnya senang.

Aku mengangguk. “Tentu, Layla.”

Aku makan sedikit untuk menunggu Layla kembali dengan makanan tambahan. Aku makan di meja jamuan dekat jendela besar tempatku masuk tadi. Layla kembali dan meninggalkanku makan. Isla pun memperlihatkan dirinya. Dia pasti sudah kelaparan.

“Makanlah, Isla.”

“Terima kasih, Nona Charlotte,” kata Isla.

Kami pun makan bersama dalam diam. Hari ini, tidak ada rencana yang bisa kita bahas. Aku dan Isla akan bersantai sejenak.

Layla tak kaget karena melihat semua makanan di atas meja telah bersih tanpa sisa karena aku dalam kondisi koma selama hampir setahun. Malamnya, porsi makanku pun dilebihkan. Aku memilih makan di dalam kamar agar Isla bisa ikut makan denganku.

Seusai makan, aku duduk di sofa yang ada di dalam kamarku bersama Isla. Kami membicarakan banyak hal. Termasuk sihir kegelapan.

Sihir yang membuat penggunanya terikat dalam perjanjian seumur hidupnya. Biasanya wadah perjanjianya adalah darah. Dan perjanjian seperti ini hanya akan membawa dampak buruk pada pengguna sihir kegelapan. Konsekuensi yang diterima sama sekali tidak sepadan dengan keuntungan yang diterima.

Untuk itulah, sihir kegelapan adalah sebuah hal terlarang. Sekali masuk ke dalamnya, sulit untuk melepaskan diri.

Terpopuler

Comments

Marfuah Darren

Marfuah Darren

rose mungkin sang penyihir kegelapan

2021-04-30

0

❟❛❟工匕丹匚卄工

❟❛❟工匕丹匚卄工

🤭

2020-09-21

0

❟❛❟工匕丹匚卄工

❟❛❟工匕丹匚卄工

tidur ah siapa tau besok ada yng nglamar🤭

2020-09-21

5

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 I - Hidup Baru
3 II - Muka Dua
4 III - Kenangan Indah
5 IV - Pembuat Masalah
6 V - Lembar Pertama
7 VI - Penyihir Avnevous
8 VII - Ava Bloodhart
9 VIII - Calon Ratu
10 IX - Kediaman Winston
11 X - Lamaran Dadakan
12 XI - Persiapan Festival
13 XII - Rapat Pertama
14 XIII - Bersama Idris
15 XIV - Penyihir Vanhoiren
16 XV - Rapat Terakhir
17 XVI - Pernyataan Cinta
18 XVII - Festival Bunga (I)
19 XVIII - Festival Bunga (II)
20 XIX - Kediaman Dominic
21 XX - Calon Mertua
22 XXI - Istana Perunggu
23 XXII - Hari Pemburuan (I)
24 XXIII - Hari Pemburuan (II)
25 XXIV - Hari Pemburuan (III)
26 XXV - Kebersamaan Kami
27 XXVI - Hilangnya Rekan
28 XXVII - Menjadi Kuat
29 XXVIII - Anak Marquess
30 XXIX - Rekan Baru
31 XXX - Makan Malam
32 XXXI - Memberitahu Kebenaran
33 XXXII - Malam Pertunangan
34 XXXIII - Emosi Sesaat
35 XXXIV - Penyemangat Charlotte
36 XXXV - Makan Siang
37 XXXVI - Penobatan Lucas
38 XXXVII - Ava Galak
39 XXXVIII - Perasaan Isaac
40 XXXIX - Persiapan Pernikahan (I)
41 XL - Persiapan Pernikahan (II)
42 XLI - Kasus Penculikan
43 XLII - Kaisar Ke-XIX
44 XLIII - Penemuan Menggemparkan
45 XLIV - Bujuk Rayu
46 XLV - Kejutan Menegangkan
47 XLVI - Semakin Memanas
48 XLVII - Pengadilan Tinggi (I)
49 XLVIII - Pengadilan Tinggi (II)
50 XLIX - Pengadilan Tinggi (III)
51 L - Pengadilan Tinggi (IV)
52 LI - Pengadilan Tinggi (V)
53 LII - Balasan Kecil
54 LIII - Merasa Déjà vu
55 LIV - Hari Terakhir
56 LV - Upacara Pernikahan (I)
57 LVI - Upacara Pernikahan (II)
58 LVII - Era XX
59 LVIII - Malam Pertama
60 LIX - Bincang Malam
61 LX - Kegiatan Pagi (I)
62 LXI - Kegiatan Pagi (II)
63 LXII - Kegiatan Pagi (III)
64 LXIII - Kehebohan Mendadak
65 LXIV - Berita Duka
66 LXV - Serangan Dadakan
67 LXVI - Mulai Menghantui
68 LXVII - Diselamatkan Ava
69 LXVIII - Benang Merah
70 LXIX - Pertemuan Rahasia
71 LXX - Tumpahkan Saja
72 LXXI - Pemecatan Massal
73 LXXII - Misi Penyelamatan (I)
74 LXXIII - Misi Penyelamatan (II)
75 LXXIV - Selamat Tinggal
76 LXXV - Merasa Hancur
77 LXXVI - Titik Balik
78 LXXVII - Terancam Dibunuh
79 LXXVIII - Ancaman Ava
80 LXXIX - Interogasi Belka (I)
81 LXXX - Interogasi Belka (II)
82 LXXXI - Topik Berat
83 LXXXII - Bertemu Idris
84 LXXXIII - Hari Eksekusi (I)
85 LXXXIV - Hari Eksekusi (II)
86 LXXXV - Hari Eksekusi (III)
87 LXXXVI - Mata-mata Ayah
88 LXXXVII - Masa Lalu
89 LXXXVIII - Informasi Menarik
90 LXXXIX - Rahasia Liontin
91 XC - Potongan Puzzle (I)
92 XCI - Potongan Puzzle (II)
93 XCII - Adegan Ranjang
94 XCIII - Ibu Hamil
95 XCIV - Pemakaman Isla
96 XCV - Rencana Terakhir
97 XCVI - Kudeta Ratu (I)
98 XCVII - Kudeta Ratu (II)
99 XCVIII - Kudeta Ratu (III)
100 XCIX - Kudeta Ratu (IV)
101 C - Usai Kudeta (I)
102 CI - Usai Kudeta (II)
103 CII - Ingatan Idris (I)
104 CIII - Ingatan Idris (II)
105 CIV - Ingatan Idris (III)
106 CV - Pertemuan Resmi (I)
107 CVI - Pertemuan Resmi (II)
108 CVII - Bertemu Ayah
109 CVIII - Menyelesaikan Masalah
110 CIX - Menunggu Jack
111 CX - Serangan Kejutan
112 CXI - Menjadi Kaisarina
113 Epilog
114 Pojok Informasi
115 『S2』 Prolog
116 『S2』 I - Laporan
117 『S2』 II - Kecupan
118 『S2』 III - Duke
119 『S2』 IV - Dongeng
120 『S2』 V - Hantu
121 『S2』 VI - Pertemuan
Episodes

Updated 121 Episodes

1
Prolog
2
I - Hidup Baru
3
II - Muka Dua
4
III - Kenangan Indah
5
IV - Pembuat Masalah
6
V - Lembar Pertama
7
VI - Penyihir Avnevous
8
VII - Ava Bloodhart
9
VIII - Calon Ratu
10
IX - Kediaman Winston
11
X - Lamaran Dadakan
12
XI - Persiapan Festival
13
XII - Rapat Pertama
14
XIII - Bersama Idris
15
XIV - Penyihir Vanhoiren
16
XV - Rapat Terakhir
17
XVI - Pernyataan Cinta
18
XVII - Festival Bunga (I)
19
XVIII - Festival Bunga (II)
20
XIX - Kediaman Dominic
21
XX - Calon Mertua
22
XXI - Istana Perunggu
23
XXII - Hari Pemburuan (I)
24
XXIII - Hari Pemburuan (II)
25
XXIV - Hari Pemburuan (III)
26
XXV - Kebersamaan Kami
27
XXVI - Hilangnya Rekan
28
XXVII - Menjadi Kuat
29
XXVIII - Anak Marquess
30
XXIX - Rekan Baru
31
XXX - Makan Malam
32
XXXI - Memberitahu Kebenaran
33
XXXII - Malam Pertunangan
34
XXXIII - Emosi Sesaat
35
XXXIV - Penyemangat Charlotte
36
XXXV - Makan Siang
37
XXXVI - Penobatan Lucas
38
XXXVII - Ava Galak
39
XXXVIII - Perasaan Isaac
40
XXXIX - Persiapan Pernikahan (I)
41
XL - Persiapan Pernikahan (II)
42
XLI - Kasus Penculikan
43
XLII - Kaisar Ke-XIX
44
XLIII - Penemuan Menggemparkan
45
XLIV - Bujuk Rayu
46
XLV - Kejutan Menegangkan
47
XLVI - Semakin Memanas
48
XLVII - Pengadilan Tinggi (I)
49
XLVIII - Pengadilan Tinggi (II)
50
XLIX - Pengadilan Tinggi (III)
51
L - Pengadilan Tinggi (IV)
52
LI - Pengadilan Tinggi (V)
53
LII - Balasan Kecil
54
LIII - Merasa Déjà vu
55
LIV - Hari Terakhir
56
LV - Upacara Pernikahan (I)
57
LVI - Upacara Pernikahan (II)
58
LVII - Era XX
59
LVIII - Malam Pertama
60
LIX - Bincang Malam
61
LX - Kegiatan Pagi (I)
62
LXI - Kegiatan Pagi (II)
63
LXII - Kegiatan Pagi (III)
64
LXIII - Kehebohan Mendadak
65
LXIV - Berita Duka
66
LXV - Serangan Dadakan
67
LXVI - Mulai Menghantui
68
LXVII - Diselamatkan Ava
69
LXVIII - Benang Merah
70
LXIX - Pertemuan Rahasia
71
LXX - Tumpahkan Saja
72
LXXI - Pemecatan Massal
73
LXXII - Misi Penyelamatan (I)
74
LXXIII - Misi Penyelamatan (II)
75
LXXIV - Selamat Tinggal
76
LXXV - Merasa Hancur
77
LXXVI - Titik Balik
78
LXXVII - Terancam Dibunuh
79
LXXVIII - Ancaman Ava
80
LXXIX - Interogasi Belka (I)
81
LXXX - Interogasi Belka (II)
82
LXXXI - Topik Berat
83
LXXXII - Bertemu Idris
84
LXXXIII - Hari Eksekusi (I)
85
LXXXIV - Hari Eksekusi (II)
86
LXXXV - Hari Eksekusi (III)
87
LXXXVI - Mata-mata Ayah
88
LXXXVII - Masa Lalu
89
LXXXVIII - Informasi Menarik
90
LXXXIX - Rahasia Liontin
91
XC - Potongan Puzzle (I)
92
XCI - Potongan Puzzle (II)
93
XCII - Adegan Ranjang
94
XCIII - Ibu Hamil
95
XCIV - Pemakaman Isla
96
XCV - Rencana Terakhir
97
XCVI - Kudeta Ratu (I)
98
XCVII - Kudeta Ratu (II)
99
XCVIII - Kudeta Ratu (III)
100
XCIX - Kudeta Ratu (IV)
101
C - Usai Kudeta (I)
102
CI - Usai Kudeta (II)
103
CII - Ingatan Idris (I)
104
CIII - Ingatan Idris (II)
105
CIV - Ingatan Idris (III)
106
CV - Pertemuan Resmi (I)
107
CVI - Pertemuan Resmi (II)
108
CVII - Bertemu Ayah
109
CVIII - Menyelesaikan Masalah
110
CIX - Menunggu Jack
111
CX - Serangan Kejutan
112
CXI - Menjadi Kaisarina
113
Epilog
114
Pojok Informasi
115
『S2』 Prolog
116
『S2』 I - Laporan
117
『S2』 II - Kecupan
118
『S2』 III - Duke
119
『S2』 IV - Dongeng
120
『S2』 V - Hantu
121
『S2』 VI - Pertemuan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!