Aku berdiri di depan portal besar yang mengarah ke perbatasan Vanhoiren. Aku berpamitan dengan Ava, Lucas, dan Isaac. Isla ikut denganku dalam mode penyamaran. Aku harus secara alami merekrut Isla masuk ke dalam kediamanku agar tidak menimbulkan kecurigaan.
“Kalau begitu kami pergi dulu,” kataku sambil mengangkat koperku dan bersiap masuk ke dalam portal.
“Charlotte,” panggil Lucas.
“Ya?” Sejak kapan Lucas memanggil namaku dengan akrab? “Ada apa?”
“Hati-hati,” kata Lucas sambil memalingkan wajah. Aku tersenyum dan mengangguk.
Aku dan Isla pun masuk ke dalam portal itu lalu keluar di sebuah hutan. Ini wilayah Beck yang sudah tidak diperhatikan oleh Kekaisaran Vanhoiren setelah berhasil diklaim. Isla mengeluarkan kubah sihir yang bisa membuat kami tidak bisa dilihat oleh orang lain selama berada di kubah itu.
Aku dibawa terbang oleh Isla ke rumahku tepatnya di kediaman Viscount Winston. Aku belum mahir menggunakan sihir tingkat tinggi yang membutuhkan mana besar seperti Isla.
“Itu dia. Kita bisa lewat jendela kamarku yang terbuka,” kataku sambil menunjuk bangunan besar di bawah kami.
“Baiklah. Pegangan, Nona Charlotte,” ucap Isla sambil turun ke bawah.
Aku masuk ke dalam kamarku yang sama sekali tak berubah. Dan di atas tempat tidurku, ada aku yang sedang terbaring kaku. Kulirik Isla yang tersenyum padaku. Mereka membuat penggantiku seperti gadis yang koma. Tapi bagaimana mungkin Idris malah menjadikanku calon Ratu? Mungkin saja itu rumor, hiburku dalam hati.
“Itu hanya boneka,” kata Isla. “Aku membuatnya sedikit hidup agar seperti koma. Karena sihir penyamaran membutuhkan mana yang besar, kami tidak mampu memakai manusia asli lagi.”
Isla kemudian menjentikkan jarinya dan gadis itu menghilang. Aku pun berpakaian sepertinya dan naik ke tempat tidur lalu memanggil Layla. Isla masih ada di kamarku, memakai kubah sihir yang membuatnya menghilang. Aku sendiri pun sudah tak bisa melihatnya.
“Layla!”
Layla masuk ke dalam kamar bersama Ayah. Wajah mereka terlihat kaget saat melihatku bangun. Ayah berlari ke arahku dan memelukku dengan erat. Layla menyembunyikan wajahnya karena menitikkan airmata. Aku membalas pelukan Ayah dan ikut menangis. Aku merindukannya, merindukan Layla, Jayden, dan semua orang di tempat ini.
Jayden masuk dengan napas terengah-engah. Dia memakai zirahnya yang jarang dia pakai. Sepertinya dia baru saja kembali dari Kekaisaran. Matanya terbelalak dan aku pun tersenyum padanya. Jayden terduduk di lantai. Seperti tak percaya dengan apa yang telah terjadi. Aku tahu dia menyalahkan dirinya sendiri untuk apa yang telah menimpaku. Meskipun dia memang tidaklah salah.
“Ayah ..., jangan khawatirkan apa pun lagi,” ucapku pada Ayah. Ya, semuanya akan baik-baik saja mulai sekarang. Aku akan melindungi keluargaku.
“Charlotte, anakku. Ayah sangat khawatir karena kau tidak sadarkan diri. Ini salah Ayah karena membuatmu bekerja di luar rumah,” kata Ayah dengan raut wajah sedih. “Maafkan, Ayah.”
Aku menggenggam tangan Ayahku dan menggeleng. “Jangan menyalahkan diri Ayah dan siapa pun soal ini. Yang penting sekarang aku sudah baik-baik saja,” kataku.
“Maaf, Nona Charlotte. Ini karena aku tidak menemanimu waktu itu,” ucap Jayden yang sudah kembali berdiri.
“Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Jayden. Sebagai seorang suami, sudah sepantasnya kau meluangkan waktu dengan keluargamu di rumah.” Aku hendak berdiri, namun ditahan oleh Ayah. “Aku baik-baik saja, Ayah.”
“Baik-baik saja bagaimana, Charlotte? Kau baru sadar dari koma. Bahkan Dokter Kekaisaran pun tidak sanggup mendiagnosa apa penyakit yang ada di dalam tubuhmu,” ucap Ayah.
Lagi-lagi Idris. “Kenapa ada Dokter Kekaisaran? Bagaimana dengan dokter keluarga kita?” tanyaku sedikit kesal.
“Uhm, Yang Mulia Putra Mahkota merasa bersalah karena membiarkanmu mengalami musibah ini. Oleh karena itu, Yang Mulia mengirimkan Dokter Kekaisaran untuk menangani penyakitmu,” tutur Ayah. “Ada hal lain yang harus Ayah beritahukan nanti setelah kau pulih dengan baik.”
“Aku sudah cukup pulih untuk mendengar informasi apa pun, Ayah,” sergahku. Sudah pasti soal calon Ratu dan segala hal yang membuatku tidak tenang. “Katakan semuanya padaku.”
Ayah sepertinya memang tidak ingin memberitahukannya. “Maaf, Charlotte. Lebih baik kau istirahat dulu. Layla akan memberikanmu makanan enak yang kau sukai.”
“Baiklah,” kataku.
Mereka bertiga pun keluar meninggalkanku berdua dengan Isla. Isla muncul di sampingku lalu tersenyum. Aku mengurut pelipisku yang tegang. Ada banyak hal yang harus kuatur mulai sekarang. Aku ingin cepat-cepat kembali bekerja di ruanganku.
Buku Ava masih tersimpan di laci mejaku. Aku ingat jika Ava bilang buku itu harus kuberikan padanya agar bisa diduplikat. Mengingat itu adalah buku pinjaman.
Buku itu sempat dicuri dari tangan Ava dan malah ada di Perpustakaan Kekaisaran. Siapa yang berani mencuri sesuatu dari tangan Ava? Pastilah itu orang terdekatnya.
“Kau bisa membuat portal di ruang bawah tanah yang ada di ruang kerjaku nanti,” kataku pada Isla.
Isla mengangguk. “Apa sebaiknya aku mencari penginapan untuk sementara waktu?” tanya Isla.
“Tidak perlu. Kau tetap di kamarku saja. Lagipula kasurku terlalu besar untuk satu orang saja,” ucapku sambil tersenyum.
Kami berbicara dengan nada serendah mungkin agar tidak didengar sampai ke luar.
Tok! Tok! Tok!
“Nona Charlotte, saya datang membawakan makan siang untuk Nona,” kata Layla dari luar.
“Masuklah,” ucapku tegas.
Layla pun masuk dengan membawa makanan yang terlihat lezat. Makanan buatan Layla tak kalah enak dengan buatan Isaac. Layla sepertinya masih shock dengan kejadian hari ini.
“Layla, bisakah kau membawakanku satu porsi lagi? Aku agak sedikit lapar,” pintaku pada Layla.
“Baiklah, Nona. Saya akan segera kembali. Tolong katakan apa pun yang Nona butuhkan padaku,” ucapnya senang.
Aku mengangguk. “Tentu, Layla.”
Aku makan sedikit untuk menunggu Layla kembali dengan makanan tambahan. Aku makan di meja jamuan dekat jendela besar tempatku masuk tadi. Layla kembali dan meninggalkanku makan. Isla pun memperlihatkan dirinya. Dia pasti sudah kelaparan.
“Makanlah, Isla.”
“Terima kasih, Nona Charlotte,” kata Isla.
Kami pun makan bersama dalam diam. Hari ini, tidak ada rencana yang bisa kita bahas. Aku dan Isla akan bersantai sejenak.
Layla tak kaget karena melihat semua makanan di atas meja telah bersih tanpa sisa karena aku dalam kondisi koma selama hampir setahun. Malamnya, porsi makanku pun dilebihkan. Aku memilih makan di dalam kamar agar Isla bisa ikut makan denganku.
Seusai makan, aku duduk di sofa yang ada di dalam kamarku bersama Isla. Kami membicarakan banyak hal. Termasuk sihir kegelapan.
Sihir yang membuat penggunanya terikat dalam perjanjian seumur hidupnya. Biasanya wadah perjanjianya adalah darah. Dan perjanjian seperti ini hanya akan membawa dampak buruk pada pengguna sihir kegelapan. Konsekuensi yang diterima sama sekali tidak sepadan dengan keuntungan yang diterima.
Untuk itulah, sihir kegelapan adalah sebuah hal terlarang. Sekali masuk ke dalamnya, sulit untuk melepaskan diri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments
Marfuah Darren
rose mungkin sang penyihir kegelapan
2021-04-30
0
❟❛❟工匕丹匚卄工
🤭
2020-09-21
0
❟❛❟工匕丹匚卄工
tidur ah siapa tau besok ada yng nglamar🤭
2020-09-21
5