Setelah aku pingsan, aku terbangun di kamarku lagi. Kuraih segelas air yang telah disediakan di atas nakas. Tenggorokanku kembali segar setelah meneguk air itu. Layla masuk ke kamarku dan terkejut ketika melihatku sudah bangun.
“Maaf, Nona. Saya tidak tahu jika Nona sudah bangun dan lancang tidak mengetuk pintu,” katanya sambil menunduk.
“Tak apa, Layla. Tidak perlu terlalu formal padaku,” ucapku pelan. “Ada apa?”
“Dokter Kekaisaran baru saja pulang setelah memeriksa keadaan Nona, beliau juga memberikan Nona beberapa obat untuk diminum,” jelas Layla.
“Dokter Kekaisaran?”
Layla mengangguk. “Setelah Yang Mulia Putra Mahkota mengantar Nona pulang, Yang Mulia Putra Mahkota memerintahkan Dokter Kekaisaran untuk datang memeriksa kesehatan Nona.”
Aku kaget mendengar hal itu. Bagaimana bisa Idris melakukan hal merepotkan seperti itu untukku yang masih berstatus bukan siapa-siapanya? Aku merinding saat yakin jika yang menggendongku adalah Idris.
“Maaf menanyakan hal ini, Nona. Apa Nona masih belum bisa merelakan kepergian Nyonya Viscountess?” tanya Layla dengan raut wajah khawatir.
Ibuku yang seorang Viscountess memang sudah meninggal sejak aku masih kecil. Dan karena hal itu, aku jadi sering sakit kepala jika melihat sesuatu yang memicu ingatanku tentang Ibu. Jadi, Layla terus memberiku lilin herbal agar aku tetap rileks.
“Kenapa kau bertanya seperti itu, Layla?” tanyaku pada Layla.
“Dokter Kekaisaran bilang, Nona mengalami sebuah gejala trauma,” kata Layla. “Untuk itulah saya berpi-”
“Kau tidak perlu khawatir, Layla. Aku baik-baik saja sekarang. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku,” potongku.
Layla tersenyum lalu memberikan sebuah amplop kuning yang dia keluarkan dari saku roknya kepadaku. “Pelayan dari kediaman Baron Hindley mengirimkan surat ini untuk Nona.”
Aku menerima amplop itu dan melihat stempel keluarga Hindley. Kubuka amplop itu dan membaca isinya.
Nona Charlotte, aku minta maaf karena membiarkanmu sendirian kemarin. Apakah Nona sudah baikan? Putra Mahkota sangat mengkhawatirkan Nona Charlotte kemarin. Semoga Nona diberkati Dewi Kebajikan.
Tertanda, Rose Hindley
Dalam tata krama Kekaisaran maupun di antara para bangsawan, sudah sepantasnya jika seorang bangsawan meminta ijin terlebih dahulu untuk saling mengirim surat kepada bangsawan yang dituju kecuali untuk hal mendesak.
Rose mengabaikan hal itu dan bersikap seenaknya. Apakah pelajaran tata krama hanya dilewatkan begitu saja olehnya?
“Apa Nona akan membalas surat itu?” tanya Layla.
“Tidak. Besok akan ada pertemuan antar bangsawan di kediaman Grand Duke. Aku akan bicara dengannya nanti.” Bisa kurasakan jika tubuhku sudah kembali fit. “Panggilkan Jayden saat kau keluar nanti. Minta dia menemuiku di ruang kerja besok.”
“Baik, Nona.”
Aku tidak bisa menunda-nunda sesuatu yang sudah ditakdirkan untukku. Untuk sekarang, aku harus pergi ke Perpustakaan Kekaisaran dan mencari buku tentang Kerajaan Wilayah Barat.
Semasa hidupku dulu di masa lalu, Kerajaan Wilayah Barat termasuk kerajaan yang tertutup. Dahulu kerajaan ini sempat berperang dengan Kekaisaran Vanhoiren. Namun, akhirnya memilih gencatan senjata dan tidak pernah berhubungan lagi dengan Vanhoiren. Mereka adalah kerajaan yang independen. Untuk itulah pengetahuan Vanhoiren tentang Kerajaan Wilayah Barat cukup minim.
*
Perpustakaan Kekaisaran hanya bisa dimasuki oleh keluarga Kaisar dan para bangsawan. Aku sering ke sini untuk menghabiskan waktu setelah mengurus pekerjaan di rumah yang merupakan pekerjaan Ibu di masa lampau sebagai Viscountess.
Para penjaga perpustakaan tersenyum padaku saat turun dari kereta kuda. Yah, mereka semua mengenalku karena aku adalah pengunjung lama di sini.
Namun, tetap saja. Meskipun mereka familiar denganku, mencari buku tentang Kerajaan Wilayah Barat adalah sebuah hal yang tidak biasa. Untuk itulah aku membawa Jayden. Jayden adalah tangan kanan Ayah yang sangat akrab dengan Kepala Perpustakaan bernama Ruby.
Selagi aku menunggu Jayden bernegosiasi dengan Ruby, aku mencoba mencari buku-buku menarik lain yang sangat ingin kubaca namun terhalang tugas Ratu dahulu.
Aku menyayangkan semua dedikasiku sebagai seorang Ratu. Apa artinya itu semua? Tidak ada.
“Nona Winston?” Itu ... suara Idris. Aku tidak ingat jika dulu aku pernah bertemu dengannya di perpustakaan. Biar bagaimanapun, segala hal yang berbeda dari masa lalu akan menciptakan masa depan yang berbeda pula.
Aku menunduk untuk memberi salam. “Semoga Yang Mulia Putra Mahkota diberkati Dewi Kebajikan.” Kulihat Idris tersenyum saat aku mengangkat kepalaku.
Sakit kepalaku mulai datang kembali.
“Apa Nona sudah baik-baik saja?” tanya Idris.
“Uhm, y-ya. Terima kasih atas perhatiannya, Yang Mulia,” kataku sambil berusaha tersenyum. Tapi kurasa senyumanku malah lebih seperti seringaian.
“Yang Mulia, kita harus segera pergi,” kata Jack yang daritadi berada di samping Idris.
Idris mengangguk lalu pergi setelah menatapku dan tersenyum. Kakiku lemas hingga tak bisa menopang tubuhku. Aku mengabaikan gaunku yang akan kotor karena duduk di lantai.
Tak sengaja kujatuhkan sebuah buku tebal yang usang dari rak saat mencoba berpegangan pada rak di belakangku untuk berdiri.
Ada sengatan kecil saat kusentuh buku itu. Setelah kusentuh untuk yangkedua kalinya, buku itu tidak lagi menyengat. Mungkin hanya perasaanku saja. Kupegang buku itu dan Jayden pun menghampiriku.
“Bagaimana?” tanyaku pada Jayden. Sakit kepalaku sudah sirna entah ke mana.
“Hanya satu buku yang bisa dipinjam. Besok harus dikembalikan,” jawab Jayden.
Aku tersenyum puas. “Kerja bagus, Jayden. Itu sudah lebih dari cukup.”
Aku pun meminjam salah satu buku tentang Kerajaan Wilayah Barat dan satu buku yang jatuh dari rak. Karena lupa meletakannya kembali di rak, aku terus membawa buku tersebut sampai di bagian peminjaman.
Sampai rumah, aku langsung disambut oleh Rose di ruang tamu. Dia datang ke kediamanku tanpa memberi kabar apa pun. Apa lagi yang dia inginkan?
“Selamat datang, Nona Charlotte,” sambut Rose sumringah. “Apa Nona dari Perpustakaan Kekaisaran?”
“Ya. Ada perlu apa Nona Hindley kemari hingga tidak memberi kabar padaku terlebih dahulu?” tanyaku to the point.
“Maafkan aku. Nona pasti kaget karena aku datang secara tiba-tiba. Aku hanya ingin melihat kondisi Nona Charlotte,” kata Rose bersemangat.
Aku tersenyum. “Sejak kapan kita akrab, Nona Hindley?” tanyaku serius.
Rose bungkam. Sepertinya dia berpikir aku tidak akan berani menyinggung segala bentuk kelancangannya dan terus mengusikku seakan-akan kami adalah teman akrab. Bukannya aku tidak suka, hanya saja aku terganggu jika dia datang dengan semena-mena tanpa memberitahu terlebih dahulu. Itu adalah sebuah tata krama dasar dalam kehidupan bangsawan.
“Maaf menyinggungmu, Nona Hindley. Namun, sebaiknya kau menghentikan sikapmu yang seperti ini. Aku pasti akan membiarkan hal ini dan hanya menegurmu. Tapi, jika bangsawan kelas atas yang kau perlakukan seperti ini ..., aku tidak menjamin hal baik,” tegurku pada Rose.
Semoga setelah ini, dia bisa berubah menjadi lebih baik.
Rose berdiri dari sofa. “Baiklah, Nona Charlotte. Maaf mengganggumu. Kupikir kita sudah cukup akrab untuk saling menjenguk satu sama lain saat salah satu di antara kita sakit. Aku pamit pulang dulu,” kata Rose yang kemudian pergi tanpa mendengar tanggapanku.
Aku bisa mendengar Rose berdecak kesal di luar ruang tamu. Ternyata dia memang tipe gadis seperti itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments
Sulati Cus
kyknya rose klan penyihir
2023-05-29
0
Priska Anita
Lanjut disini thor 💜
2020-08-19
1
Mawar Syafitri
ciriga rumornya yang dulu disebarin sama rose juga, atau rose dan rajanya selingkuh, hmmmm
2020-07-05
9