Kesehatan Kaisar Ke-XIX memanglah memburuk di saat-saat Idris akan naik takhta. Kaisar sempat menghadiri pernikahan dan penobatan Idris di masa lalu. Tetapi kemudian meninggal keesokan harinya. Aku dan Kaisar belum sempat berbincang lama kala itu. Tapi aku merasa ada ikatan yang membuat kami dekat. Beliau adalah Ayahanda yang baik.
Kami sampai di istana Kekaisaran. Rasanya seperti kembali lagi ke masa lalu. Aku menggenggam tangan Idris saat turun dari kereta. Itu sudah jadi protokol dasar. Kulepaskan tangannya begitu kami hendak masuk ke dalam istana.
Jack tetap mengikuti aku dan Idris dari belakang. Bisa kurasakan tatapan tajam darinya menghujam punggungku. Mungkin aku harus meminta Isla atau Ava menyelidiki Jack. Dari dulu kami tidaklah dekat atau bahkan akrab. Dia hanya menghormati Idris sebagai majikannya.
Aku masuk bersama Idris ke dalam ruangan rapat dan meninggalkan Jack di luar sesuai permintaan Idris. Di dalam sudah ada banyak sekali bangsawan kelas atas yang berkumpul. Sorot mata mereka tertuju padaku.
“Maaf sudah membuat kalian menunggu lama,” kata Idris dengan nada bersahabat.
“Semoga Yang Mulia diberkati Dewi Kebajikan,” sambut mereka serentak. “Tidak perlu khawatir, Yang Mulia.”
Idris duduk di kursinya yang menghadap seluruh bangsawan termasuk aku. Kursiku agak jauh dari Idris dan berada di antara Duchess Harriston dan Marquess Franklin. Aku agak terkejut melihat Rose Hindley berada di rapat ini. Sepertinya dia adalah perwakilan dari bangsawan biasa sama sepertiku. Mengingat kemampuan bersosialisasinya juga tidak bisa dianggap remeh.
“Baiklah, mari kita mulai rapatnya,” kata Idris.
Ya, kira-kira pokok bahasan yang dibicarakan dalam rapat kali ini sudah kubahas dengan Idris saat di perjalanan ke istana. Bahasan sensitifnya adalah rencana mengikutsertaan bangsawan biasa dalam festival yang sudah menjadi tradisi setiap tahun. Banyak sekali komentar pedas yang dilontarkan untuk para bangsawan biasa yang dikritik sebagai bangsawan yang tidak punya kemampuan dalam hal seni dan estetika.
Saat Rose hendak membela pun, Marchioness Franklin sempat melirik tajam ke arah Rose untuk tetap diam. Di sini, aku maupun Rose tidak akan diberikan kesempatan untuk bicara.
Aku ingat jika keluarga Franklin adalah tempat para kesatria berbakat dilahirkan. Hal itu membuat mereka besar kepala dan angkuh. Saat aku naik takhta di masa lalu, keluarga Franklin adalah orang pertama yang menentangnya. Kupikir sekarang aku akan ditentang untuk yang kedua kalinya.
“Marchioness Franklin, kupikir kau harusnya tidak boleh bersikap seperti itu pada para bangsawan biasa,” kata Grand Duke yang kini membuka mulut. “Apa Marchioness tidak ingat kejadian tahun lalu? Tentang kegagalan yang telah kita perbuat?”
Marchioness Franklin tutup mulut.
“Kupikir suasana di tempat ini semakin memanas. Aku ingin kalian bersikap terbuka dan memikirkan aspek-aspek yang membuat festival kali ini tidak akan gagal seperti yang sebelumnya,” kata Idris. “Aku tidak ingin ada kegagalan kedua dan seterusnya. Kaisar melimpahkan semua kepercayaannya kepada kita. Dan aku tidak mau mengecewakannya untuk yang kedua kali.”
“Yang Mulia, kami tahu jika itu adalah kesalahan kami di masa lalu. Tapi jika Yang Mulia memberi kami kesempatan-”
“Percayakan hal ini dan bekerja samalah bersama bangsawan biasa,” potong Idris dengan nada memerintah. “Untuk itu aku juga akan ditemani oleh Nona Charlotte Winston sebagai sekretaris dalam festival ini.”
Grand Duchess mendelik padaku. “Apakah Yang Mulia sudah memikirkannya matang-matang soal keputusan ini?” tanya Grand Duchess.
Idris berdiri. “Grand Duchess, apakah Anda meragukan keputusanku?” tanya Idris. Tahun lalu keputusan Idris diabaikan oleh Grand Duchess meski sudah ditegur oleh suaminya sendiri Grand Duke. Kegagalan itu bermula darinya.
“Tidak, Yang Mulia.” Grand Duchess menunduk. Aku bisa merasakan emosi Grand Duchess yang terasa sesak.
Idris kembali duduk. “Aku sudah membicarakan beberapa hal dengan Viscount Winston saat pergi ke Kediamannya terkait cara agar bunganya tetap segar di dalam perjalanan dari Naorikan dan Bevram.”
Grand Duke tersenyum. Lalu Jack masuk dengan beberapa lembar kertas. Setelah dia berdiri di samping Idris dan mulai membacakan informasi di dalam kertas itu.
“Viscount Winston telah bersepakat untuk menyumbangkan beberapa hasil panen gandumnya kepada Kekaisaran. Gandum tersebut nantinya akan dibuat sebagai bahan baku cuka,” jelas Jack. “Cuka ini akan dicampurkan bersama dengan gula untuk pengawet bunga di perjalanan.”
“Marquess Franklin juga sudah setuju dengan memberikan hasil panen tebunya,” tambah Idris. “Grand Duke akan memberikan beberapa kantung koin emas sebagai tambahan biaya. Kekaisaran akan mengerjakan beberapa hal yang masih harus ditambahkan seperti panggung besar untuk pertunjukan di luar istana dan juga ballroom.”
Semua rencana Idris sudah tertata dengan baik. Yang sekarang harus dilakukan adalah eksekusinya. Semua ini memerlukan kerja keras dan deadline waktu yang sedikit. Aku sama sekali tidak mengutarakan sepatah kata pun karena tidak ingin menambah masalah di rapat ini. Aku tahu jika Grand Duchess dan Marchioness Franklin tidak suka jika ada bangsawan biasa yang bicara. Rose kelihatannya juga enggan buka suara.
“Di Festival Bunga kali ini, aku ingin mengumumkan berita besar untuk para bangsawan dan rakyat Vanhoiren. Aku harap kalian menantikannya,” ucap Idris sambil melirikku sekali.
“Apakah itu kabar baik?” tanya Grand Duke pada Idris.
Idris tersenyum. “Tentu saja, Grand Duke. Ini adalah hal yang kalian nanti-nantikan.”
Ugh, lamaran itu, ya.
“Untuk perkembangannya akan diumumkan pada rapat kedua minggu depan. Aku harap semuanya bekerja sama dengan baik bersama bangsawan biasa,” kata Idris.
Rapat kali ini akhirnya dibubarkan. Belum sempat aku berdiri dari kursiku, Rose datang menghampiriku dengan raut wajah khawatir.
“Nona Charlotte, apakah tubuh Nona sudah baik-baik saja?” tanya Rose sambil memegang kedua tanganku.
“Tentu, Nona Hindley.”
“Pergaulan Atas jadi terasa sepi tanpa Nona Winston. Aku harap Nona segera kembali berkumpul di perkumpulan Pergaulan Atas selanjutnya,” kata Rose.
Aku mengangguk. “Aku juga berharap begitu.”
Idris menghampiri kami bersama Jack. Para bangsawan lain sudah keluar dari ruang rapat duluan. Menyisakan kami berempat di sini. Aku berusaha keras tidak melakukan kontak mata dengan Jack.
“Nona Winston, apakah kau mau makan malam denganku sekarang?” tanya Idris. Dia melirik Rose. “Nona Hindley juga bisa ikut.”
“Sebuah keberuntungan bisa makan malam bersama Yang Mulia,” kataku.
“Yang Mulia baik sekali,” ucap Rose sumringah.
Sorot mata Jack menajam saat Rose berkata santai seperti itu. Aku tidak akan pernah tahu apa yang ada di dalam kepala Jack. Jack punya senyuman ramah yang penuh makna tertentu. Baik sebuah kelicikan ataupun hal lain.
“Baiklah, ayo ikuti aku,” kata Idris sambil berjalan duluan.
Rose tersenyum padaku dan mengikuti Idris duluan sebelum akhirnya aku dan Jack menyusuli mereka.
Kalau dipikir-pikir, ternyata bisnis yang Idris maksud dengan Ayahku adalah untuk Festival Bunga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments
Sunshine
kak jelasin ada berapa aja dan siapa nama nama bangsawan nya dong
2020-07-12
1
senja
syukurlah bisnis yg disebut sm si ayah itu ttg ini, kirain bakal ada kek semacam ancaman demi putrinya
2020-05-20
2
Via Nitria
lanjut kk, semangat!!
2020-04-15
4