XII - Rapat Pertama

Kesehatan Kaisar Ke-XIX memanglah memburuk di saat-saat Idris akan naik takhta. Kaisar sempat menghadiri pernikahan dan penobatan Idris di masa lalu. Tetapi kemudian meninggal keesokan harinya. Aku dan Kaisar belum sempat berbincang lama kala itu. Tapi aku merasa ada ikatan yang membuat kami dekat. Beliau adalah Ayahanda yang baik.

Kami sampai di istana Kekaisaran. Rasanya seperti kembali lagi ke masa lalu. Aku menggenggam tangan Idris saat turun dari kereta. Itu sudah jadi protokol dasar. Kulepaskan tangannya begitu kami hendak masuk ke dalam istana.

Jack tetap mengikuti aku dan Idris dari belakang. Bisa kurasakan tatapan tajam darinya menghujam punggungku. Mungkin aku harus meminta Isla atau Ava menyelidiki Jack. Dari dulu kami tidaklah dekat atau bahkan akrab. Dia hanya menghormati Idris sebagai majikannya.

Aku masuk bersama Idris ke dalam ruangan rapat dan meninggalkan Jack di luar sesuai permintaan Idris. Di dalam sudah ada banyak sekali bangsawan kelas atas yang berkumpul. Sorot mata mereka tertuju padaku.

“Maaf sudah membuat kalian menunggu lama,” kata Idris dengan nada bersahabat.

“Semoga Yang Mulia diberkati Dewi Kebajikan,” sambut mereka serentak. “Tidak perlu khawatir, Yang Mulia.”

Idris duduk di kursinya yang menghadap seluruh bangsawan termasuk aku. Kursiku agak jauh dari Idris dan berada di antara Duchess Harriston dan Marquess Franklin. Aku agak terkejut melihat Rose Hindley berada di rapat ini. Sepertinya dia adalah perwakilan dari bangsawan biasa sama sepertiku. Mengingat kemampuan bersosialisasinya juga tidak bisa dianggap remeh.

“Baiklah, mari kita mulai rapatnya,” kata Idris.

Ya, kira-kira pokok bahasan yang dibicarakan dalam rapat kali ini sudah kubahas dengan Idris saat di perjalanan ke istana. Bahasan sensitifnya adalah rencana mengikutsertaan bangsawan biasa dalam festival yang sudah menjadi tradisi setiap tahun. Banyak sekali komentar pedas yang dilontarkan untuk para bangsawan biasa yang dikritik sebagai bangsawan yang tidak punya kemampuan dalam hal seni dan estetika.

Saat Rose hendak membela pun, Marchioness Franklin sempat melirik tajam ke arah Rose untuk tetap diam. Di sini, aku maupun Rose tidak akan diberikan kesempatan untuk bicara.

Aku ingat jika keluarga Franklin adalah tempat para kesatria berbakat dilahirkan. Hal itu membuat mereka besar kepala dan angkuh. Saat aku naik takhta di masa lalu, keluarga Franklin adalah orang pertama yang menentangnya. Kupikir sekarang aku akan ditentang untuk yang kedua kalinya.

“Marchioness Franklin, kupikir kau harusnya tidak boleh bersikap seperti itu pada para bangsawan biasa,” kata Grand Duke yang kini membuka mulut. “Apa Marchioness tidak ingat kejadian tahun lalu? Tentang kegagalan yang telah kita perbuat?”

Marchioness Franklin tutup mulut.

“Kupikir suasana di tempat ini semakin memanas. Aku ingin kalian bersikap terbuka dan memikirkan aspek-aspek yang membuat festival kali ini tidak akan gagal seperti yang sebelumnya,” kata Idris. “Aku tidak ingin ada kegagalan kedua dan seterusnya. Kaisar melimpahkan semua kepercayaannya kepada kita. Dan aku tidak mau mengecewakannya untuk yang kedua kali.”

“Yang Mulia, kami tahu jika itu adalah kesalahan kami di masa lalu. Tapi jika Yang Mulia memberi kami kesempatan-”

“Percayakan hal ini dan bekerja samalah bersama bangsawan biasa,” potong Idris dengan nada memerintah. “Untuk itu aku juga akan ditemani oleh Nona Charlotte Winston sebagai sekretaris dalam festival ini.”

Grand Duchess mendelik padaku. “Apakah Yang Mulia sudah memikirkannya matang-matang soal keputusan ini?” tanya Grand Duchess.

Idris berdiri. “Grand Duchess, apakah Anda meragukan keputusanku?” tanya Idris. Tahun lalu keputusan Idris diabaikan oleh Grand Duchess meski sudah ditegur oleh suaminya sendiri Grand Duke. Kegagalan itu bermula darinya.

“Tidak, Yang Mulia.” Grand Duchess menunduk. Aku bisa merasakan emosi Grand Duchess yang terasa sesak.

Idris kembali duduk. “Aku sudah membicarakan beberapa hal dengan Viscount Winston saat pergi ke Kediamannya terkait cara agar bunganya tetap segar di dalam perjalanan dari Naorikan dan Bevram.”

Grand Duke tersenyum. Lalu Jack masuk dengan beberapa lembar kertas. Setelah dia berdiri di samping Idris dan mulai membacakan informasi di dalam kertas itu.

“Viscount Winston telah bersepakat untuk menyumbangkan beberapa hasil panen gandumnya kepada Kekaisaran. Gandum tersebut nantinya akan dibuat sebagai bahan baku cuka,” jelas Jack. “Cuka ini akan dicampurkan bersama dengan gula untuk pengawet bunga di perjalanan.”

“Marquess Franklin juga sudah setuju dengan memberikan hasil panen tebunya,” tambah Idris. “Grand Duke akan memberikan beberapa kantung koin emas sebagai tambahan biaya. Kekaisaran akan mengerjakan beberapa hal yang masih harus ditambahkan seperti panggung besar untuk pertunjukan di luar istana dan juga ballroom.”

Semua rencana Idris sudah tertata dengan baik. Yang sekarang harus dilakukan adalah eksekusinya. Semua ini memerlukan kerja keras dan deadline waktu yang sedikit. Aku sama sekali tidak mengutarakan sepatah kata pun karena tidak ingin menambah masalah di rapat ini. Aku tahu jika Grand Duchess dan Marchioness Franklin tidak suka jika ada bangsawan biasa yang bicara. Rose kelihatannya juga enggan buka suara.

“Di Festival Bunga kali ini, aku ingin mengumumkan berita besar untuk para bangsawan dan rakyat Vanhoiren. Aku harap kalian menantikannya,” ucap Idris sambil melirikku sekali.

“Apakah itu kabar baik?” tanya Grand Duke pada Idris.

Idris tersenyum. “Tentu saja, Grand Duke. Ini adalah hal yang kalian nanti-nantikan.”

Ugh, lamaran itu, ya.

“Untuk perkembangannya akan diumumkan pada rapat kedua minggu depan. Aku harap semuanya bekerja sama dengan baik bersama bangsawan biasa,” kata Idris.

Rapat kali ini akhirnya dibubarkan. Belum sempat aku berdiri dari kursiku, Rose datang menghampiriku dengan raut wajah khawatir.

“Nona Charlotte, apakah tubuh Nona sudah baik-baik saja?” tanya Rose sambil memegang kedua tanganku.

“Tentu, Nona Hindley.”

“Pergaulan Atas jadi terasa sepi tanpa Nona Winston. Aku harap Nona segera kembali berkumpul di perkumpulan Pergaulan Atas selanjutnya,” kata Rose.

Aku mengangguk. “Aku juga berharap begitu.”

Idris menghampiri kami bersama Jack. Para bangsawan lain sudah keluar dari ruang rapat duluan. Menyisakan kami berempat di sini. Aku berusaha keras tidak melakukan kontak mata dengan Jack.

“Nona Winston, apakah kau mau makan malam denganku sekarang?” tanya Idris. Dia melirik Rose. “Nona Hindley juga bisa ikut.”

“Sebuah keberuntungan bisa makan malam bersama Yang Mulia,” kataku.

“Yang Mulia baik sekali,” ucap Rose sumringah.

Sorot mata Jack menajam saat Rose berkata santai seperti itu. Aku tidak akan pernah tahu apa yang ada di dalam kepala Jack. Jack punya senyuman ramah yang penuh makna tertentu. Baik sebuah kelicikan ataupun hal lain.

“Baiklah, ayo ikuti aku,” kata Idris sambil berjalan duluan.

Rose tersenyum padaku dan mengikuti Idris duluan sebelum akhirnya aku dan Jack menyusuli mereka.

Kalau dipikir-pikir, ternyata bisnis yang Idris maksud dengan Ayahku adalah untuk Festival Bunga.

Terpopuler

Comments

Sunshine

Sunshine

kak jelasin ada berapa aja dan siapa nama nama bangsawan nya dong

2020-07-12

1

senja

senja

syukurlah bisnis yg disebut sm si ayah itu ttg ini, kirain bakal ada kek semacam ancaman demi putrinya

2020-05-20

2

Via Nitria

Via Nitria

lanjut kk, semangat!!

2020-04-15

4

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 I - Hidup Baru
3 II - Muka Dua
4 III - Kenangan Indah
5 IV - Pembuat Masalah
6 V - Lembar Pertama
7 VI - Penyihir Avnevous
8 VII - Ava Bloodhart
9 VIII - Calon Ratu
10 IX - Kediaman Winston
11 X - Lamaran Dadakan
12 XI - Persiapan Festival
13 XII - Rapat Pertama
14 XIII - Bersama Idris
15 XIV - Penyihir Vanhoiren
16 XV - Rapat Terakhir
17 XVI - Pernyataan Cinta
18 XVII - Festival Bunga (I)
19 XVIII - Festival Bunga (II)
20 XIX - Kediaman Dominic
21 XX - Calon Mertua
22 XXI - Istana Perunggu
23 XXII - Hari Pemburuan (I)
24 XXIII - Hari Pemburuan (II)
25 XXIV - Hari Pemburuan (III)
26 XXV - Kebersamaan Kami
27 XXVI - Hilangnya Rekan
28 XXVII - Menjadi Kuat
29 XXVIII - Anak Marquess
30 XXIX - Rekan Baru
31 XXX - Makan Malam
32 XXXI - Memberitahu Kebenaran
33 XXXII - Malam Pertunangan
34 XXXIII - Emosi Sesaat
35 XXXIV - Penyemangat Charlotte
36 XXXV - Makan Siang
37 XXXVI - Penobatan Lucas
38 XXXVII - Ava Galak
39 XXXVIII - Perasaan Isaac
40 XXXIX - Persiapan Pernikahan (I)
41 XL - Persiapan Pernikahan (II)
42 XLI - Kasus Penculikan
43 XLII - Kaisar Ke-XIX
44 XLIII - Penemuan Menggemparkan
45 XLIV - Bujuk Rayu
46 XLV - Kejutan Menegangkan
47 XLVI - Semakin Memanas
48 XLVII - Pengadilan Tinggi (I)
49 XLVIII - Pengadilan Tinggi (II)
50 XLIX - Pengadilan Tinggi (III)
51 L - Pengadilan Tinggi (IV)
52 LI - Pengadilan Tinggi (V)
53 LII - Balasan Kecil
54 LIII - Merasa Déjà vu
55 LIV - Hari Terakhir
56 LV - Upacara Pernikahan (I)
57 LVI - Upacara Pernikahan (II)
58 LVII - Era XX
59 LVIII - Malam Pertama
60 LIX - Bincang Malam
61 LX - Kegiatan Pagi (I)
62 LXI - Kegiatan Pagi (II)
63 LXII - Kegiatan Pagi (III)
64 LXIII - Kehebohan Mendadak
65 LXIV - Berita Duka
66 LXV - Serangan Dadakan
67 LXVI - Mulai Menghantui
68 LXVII - Diselamatkan Ava
69 LXVIII - Benang Merah
70 LXIX - Pertemuan Rahasia
71 LXX - Tumpahkan Saja
72 LXXI - Pemecatan Massal
73 LXXII - Misi Penyelamatan (I)
74 LXXIII - Misi Penyelamatan (II)
75 LXXIV - Selamat Tinggal
76 LXXV - Merasa Hancur
77 LXXVI - Titik Balik
78 LXXVII - Terancam Dibunuh
79 LXXVIII - Ancaman Ava
80 LXXIX - Interogasi Belka (I)
81 LXXX - Interogasi Belka (II)
82 LXXXI - Topik Berat
83 LXXXII - Bertemu Idris
84 LXXXIII - Hari Eksekusi (I)
85 LXXXIV - Hari Eksekusi (II)
86 LXXXV - Hari Eksekusi (III)
87 LXXXVI - Mata-mata Ayah
88 LXXXVII - Masa Lalu
89 LXXXVIII - Informasi Menarik
90 LXXXIX - Rahasia Liontin
91 XC - Potongan Puzzle (I)
92 XCI - Potongan Puzzle (II)
93 XCII - Adegan Ranjang
94 XCIII - Ibu Hamil
95 XCIV - Pemakaman Isla
96 XCV - Rencana Terakhir
97 XCVI - Kudeta Ratu (I)
98 XCVII - Kudeta Ratu (II)
99 XCVIII - Kudeta Ratu (III)
100 XCIX - Kudeta Ratu (IV)
101 C - Usai Kudeta (I)
102 CI - Usai Kudeta (II)
103 CII - Ingatan Idris (I)
104 CIII - Ingatan Idris (II)
105 CIV - Ingatan Idris (III)
106 CV - Pertemuan Resmi (I)
107 CVI - Pertemuan Resmi (II)
108 CVII - Bertemu Ayah
109 CVIII - Menyelesaikan Masalah
110 CIX - Menunggu Jack
111 CX - Serangan Kejutan
112 CXI - Menjadi Kaisarina
113 Epilog
114 Pojok Informasi
115 『S2』 Prolog
116 『S2』 I - Laporan
117 『S2』 II - Kecupan
118 『S2』 III - Duke
119 『S2』 IV - Dongeng
120 『S2』 V - Hantu
121 『S2』 VI - Pertemuan
Episodes

Updated 121 Episodes

1
Prolog
2
I - Hidup Baru
3
II - Muka Dua
4
III - Kenangan Indah
5
IV - Pembuat Masalah
6
V - Lembar Pertama
7
VI - Penyihir Avnevous
8
VII - Ava Bloodhart
9
VIII - Calon Ratu
10
IX - Kediaman Winston
11
X - Lamaran Dadakan
12
XI - Persiapan Festival
13
XII - Rapat Pertama
14
XIII - Bersama Idris
15
XIV - Penyihir Vanhoiren
16
XV - Rapat Terakhir
17
XVI - Pernyataan Cinta
18
XVII - Festival Bunga (I)
19
XVIII - Festival Bunga (II)
20
XIX - Kediaman Dominic
21
XX - Calon Mertua
22
XXI - Istana Perunggu
23
XXII - Hari Pemburuan (I)
24
XXIII - Hari Pemburuan (II)
25
XXIV - Hari Pemburuan (III)
26
XXV - Kebersamaan Kami
27
XXVI - Hilangnya Rekan
28
XXVII - Menjadi Kuat
29
XXVIII - Anak Marquess
30
XXIX - Rekan Baru
31
XXX - Makan Malam
32
XXXI - Memberitahu Kebenaran
33
XXXII - Malam Pertunangan
34
XXXIII - Emosi Sesaat
35
XXXIV - Penyemangat Charlotte
36
XXXV - Makan Siang
37
XXXVI - Penobatan Lucas
38
XXXVII - Ava Galak
39
XXXVIII - Perasaan Isaac
40
XXXIX - Persiapan Pernikahan (I)
41
XL - Persiapan Pernikahan (II)
42
XLI - Kasus Penculikan
43
XLII - Kaisar Ke-XIX
44
XLIII - Penemuan Menggemparkan
45
XLIV - Bujuk Rayu
46
XLV - Kejutan Menegangkan
47
XLVI - Semakin Memanas
48
XLVII - Pengadilan Tinggi (I)
49
XLVIII - Pengadilan Tinggi (II)
50
XLIX - Pengadilan Tinggi (III)
51
L - Pengadilan Tinggi (IV)
52
LI - Pengadilan Tinggi (V)
53
LII - Balasan Kecil
54
LIII - Merasa Déjà vu
55
LIV - Hari Terakhir
56
LV - Upacara Pernikahan (I)
57
LVI - Upacara Pernikahan (II)
58
LVII - Era XX
59
LVIII - Malam Pertama
60
LIX - Bincang Malam
61
LX - Kegiatan Pagi (I)
62
LXI - Kegiatan Pagi (II)
63
LXII - Kegiatan Pagi (III)
64
LXIII - Kehebohan Mendadak
65
LXIV - Berita Duka
66
LXV - Serangan Dadakan
67
LXVI - Mulai Menghantui
68
LXVII - Diselamatkan Ava
69
LXVIII - Benang Merah
70
LXIX - Pertemuan Rahasia
71
LXX - Tumpahkan Saja
72
LXXI - Pemecatan Massal
73
LXXII - Misi Penyelamatan (I)
74
LXXIII - Misi Penyelamatan (II)
75
LXXIV - Selamat Tinggal
76
LXXV - Merasa Hancur
77
LXXVI - Titik Balik
78
LXXVII - Terancam Dibunuh
79
LXXVIII - Ancaman Ava
80
LXXIX - Interogasi Belka (I)
81
LXXX - Interogasi Belka (II)
82
LXXXI - Topik Berat
83
LXXXII - Bertemu Idris
84
LXXXIII - Hari Eksekusi (I)
85
LXXXIV - Hari Eksekusi (II)
86
LXXXV - Hari Eksekusi (III)
87
LXXXVI - Mata-mata Ayah
88
LXXXVII - Masa Lalu
89
LXXXVIII - Informasi Menarik
90
LXXXIX - Rahasia Liontin
91
XC - Potongan Puzzle (I)
92
XCI - Potongan Puzzle (II)
93
XCII - Adegan Ranjang
94
XCIII - Ibu Hamil
95
XCIV - Pemakaman Isla
96
XCV - Rencana Terakhir
97
XCVI - Kudeta Ratu (I)
98
XCVII - Kudeta Ratu (II)
99
XCVIII - Kudeta Ratu (III)
100
XCIX - Kudeta Ratu (IV)
101
C - Usai Kudeta (I)
102
CI - Usai Kudeta (II)
103
CII - Ingatan Idris (I)
104
CIII - Ingatan Idris (II)
105
CIV - Ingatan Idris (III)
106
CV - Pertemuan Resmi (I)
107
CVI - Pertemuan Resmi (II)
108
CVII - Bertemu Ayah
109
CVIII - Menyelesaikan Masalah
110
CIX - Menunggu Jack
111
CX - Serangan Kejutan
112
CXI - Menjadi Kaisarina
113
Epilog
114
Pojok Informasi
115
『S2』 Prolog
116
『S2』 I - Laporan
117
『S2』 II - Kecupan
118
『S2』 III - Duke
119
『S2』 IV - Dongeng
120
『S2』 V - Hantu
121
『S2』 VI - Pertemuan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!