Sepeninggalan Rose, aku masuk ke dalam ruang kerja dan membaca buku terkait Kerajaan Wilayah Barat. Tidak ada yang perlu kupikirkan lebih jauh lagi tentang Rose.
Kerajaan Wilayah Barat disebut sebagai Kerajaan Avnevous. Tempat di mana Penyihir Agung lahir dan membuat wilayah kekuasaan Avnevous menjadi wilayah yang subur dan makmur.
Titik di mana Vanhoiren dan Avnevous berada di dalam kondisi yang memanas adalah karena perebutan hak kekuasaan wilayah terpencil bernama Beck. Walau akhirnya jatuh kepada Vanhoiren.
Aku pernah mengunjungi wilayah itu bersama Idris ketika hendak meninjau pembukaan ladang baru untuk keperluan pangan Kekaisaran yang tempatnya tidak jauh dari Beck. Kata Idris, tempat itu dulunya adalah tempat pembuatan kristal untuk memanipulasi sihir agar bisa digunakan oleh orang-orang yang tidak memiliki sihir.
Sekarang, sihir adalah hal yang tabu di Vanhoiren. Bahan pembuatan kristal sihir pun telah punah karena perang. Raja terakhir yang dicatat memimpin Kerajaan Avnevous adalah Clovis Galen Avnevous. Jika dihitung dari tahun catatan terakhir di buku ini, sebentar lagi cucunya lah yang akan memimpin Avnevous.
Tok! Tok! Tok!
“Masuk.” Aku menyembunyikan buku Avnevous di laci meja bersama satu buku yang kupinjam tadi.
Yang masuk adalah Ayahku, tenyata hari ini beliau pulang setelah bepergian ke seluruh penjuru Vanhoiren demi keperluan bisnis. Aku berdiri dan memeluknya. Rasa rindu yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata memenuhi hatiku.
Saat menjadi Ratu pun, aku sama sekali tidak punya waktu untuk menemui Ayah. Ayah membalas pelukanku dengan canggung. Aku tahu hal itu karena kami tidak pernah seperti ini. Maksudku, mengekspresikan perasaan secara terang-terangkan.
Saat kulepas pelukanku, Ayah tersenyum.
“Baru Ayah tinggal sebulan kau sudah seperti ini,” kata Ayah mencoba mencairkan suasana. “Apa kau makan dengan teratur?”
“Iya, Ayah. Bagaimana dengan Ayah?” tanyaku balik.
Ayah mengusap kepalaku. “Tentu saja Ayah juga, Charlotte.”
Kusuguhi teh melati buatanku sendiri untuk Ayah. Wajah Ayah kembali muram, sepertinya Ayah teringat kembali pada Ibu. Apalagi teh melati adalah teh kesukaan kami bertiga. Untunglah sakit kepalaku tidak kambuh lagi sesering dulu.
“Jayden bilang kau menyelesaikan pekerjaan rumah dengan baik. Keuangan pun jadi lebih stabil dibandingkan dengan saat Ayah mengelolanya sendiri,” kata Ayah sambil menyesap teh buatanku. Tersirat sesuatu pada tatapan Ayah ketika memandangi cangkir teh di tangannya. “Kau sudah dewasa, Charlotte.”
Ah, muncul siluet tentang Ibuku yang mengatakan hal yang sama.
Kau sudah dewasa, Charlotte. Ibu bangga padamu. Jangan menangis dan tetaplah jadi anak yang baik hati.
Ibu ....
Makanlah yang teratur. Baca bukulah yang banyak. Carilah lelaki yang baik dan mau menerimamu apa adanya. Didiklah anakmu kelak dengan hal-hal baik.
Semua kebaikan dan kasih sayang Ibu menghilang bersamaan dengan tubuh Ibu yang kaku dan pucat. Terkubur di tanah.
Aku merindukan Ibu. Ya, amat sangat.
*
Setelah makan malam bersama dengan Ayah, aku kembali membaca buku tentang Avnevous hingga larut malam. Banyak sekali informasi tentang hal-hal yang bermanfaat mengenai Avnevous. Aku tidak ingin menyalinnya karena tak ingin terjadi hal yang tidak diinginkan jika informasi ini sampai bocor.
Jadi, kuputuskan untuk membaca sedikit buku lain yang kupinjam sebelum pergi tidur.
Aku hampir tidak bisa membaca tulisan di buku ini. Setelah dicerna berkali-kali, akhirnya aku tahu jika ini bukanlah sebuah buku biasa. Buku ini ditulis oleh Ava, seorang penyihir dari Avnevous seratus tahun yang lalu.
Dan buku ini adalah buku terkait pengendalian mana. Mana adalah sebuah bentuk sihir yang ada di dalam tubuh manusia. Berbakat atau tidaknya seorang penyihir, ditentukan dari besar kecil mana-nya. Bahkan Ava menulis tata cara mengumpulkan mana.
Setidaknya aku harus mencobanya sekali nanti untuk kesenangan. Sekarang, kuputuskan mengunci buku-buku itu di dalam laci dan kembali ke kamarku.
“Pastikan untuk menjaga Charlotte saat dia bepergian ke luar rumah.” Itu suara Ayah. Aku tak sengaja mendengarnya ketika lewat. “Lalu, bagaimana dengan para pembeli itu?”
“Minggu ini pun mereka mendesak kita untuk mengirimkan lebih banyak bahan pangan daripada jumlah yang sudah disepakati.” Sekarang Jayden yang bicara.
“Hasil pertanian kali ini tidak sebaik tahun kemarin. Aku tidak bisa membiarkan mereka mengambil semuanya,” kata Ayah.
Kuputuskan untuk berjalan kembali menuju kamar. Langkah kakiku terhenti saat Jayden kembali bicara.
“Mereka takut soal rumor tentang Avnevous. Katanya ada orang yang melihat salah satu dari pasukannya berdiri di dalam gang kecil,” kata Jayden.
Avnevous, di Vanhoiren?
Buru-buru aku berjalan ke kamarku. Menguping hal ini bukanlah sesuatu yang benar.
***
Setelah mengembalikan buku Avnevous pada Ruby, aku memilih berjalan-jalan sejenak bersama dengan Jayden. Selain bekerja sebagai tangan kanan Ayah, Jayden adalah Kesatria hebat di kediaman kami. Aku tidak perlu khawatir soal keselamatanku sendiri.
Banyak sekali rakyat miskin yang masih harus diperhatikan oleh Kekaisaran. Dan di sepanjang jalan pun, tidak sedikit yang meminta-minta untuk sesuap nasi. Beberapa di antaranya kuberikan dua sampai tiga keping emas yang bisa dipergunakan untuk membeli berbagai hal termasuk makanan.
“Jayden,” panggilku pada Jayden yang berada di belakangku.
“Ya, Nona Charlotte?”
“Apa akhir-akhir ini ada rumor terbaru yang tidak kuketahui di Vanhoiren?” tanyaku tanpa berbasa-basi.
Jayden terdiam sejenak dan aku pun tersenyum. Apa berat menceritakan tentang Avnevous padaku?
“Ada beberapa pencuri yang sering meresahkan para bangsawan ketika berjalan di kota,” kata Jayden. “Untuk itulah, Nona tidak boleh berjalan-jalan di kota sendirian.”
Padahal aku baru ingin berjalan-jalan sendiri di kota. “Baiklah, Jayden.”
Baru beberapa saat berjalan, Jayden menarik tubuhku untuk mendekat padanya. Jika dia tidak melakukan hal itu, seorang lelaki tak dikenal akan menabrakku. Jayden punya reflek yang kuat. Mungkin saja lelaki itu adalah pencuri yang dibicarakan Jayden tadi.
“Apa Nona baik-baik saja?” tanya Jayden padaku.
Aku mengangguk. “Terima kasih, Jayden.”
Aku memutuskan untuk kembali ke kediamanku dan bersiap-siap untuk menghadiri pertemuan bangsawan di kediaman Grand Duke.
Karena Ayah sudah kembali pergi untuk urusan bisnisnya tadi pagi, aku harus pergi ke kediaman Grand Duke sendirian. Sudah lama aku tidak bepergian dengan Ayah. Lagipula aku bukanlah anak kecil lagi, akan memalukan jika aku bersikap egois dan membuat Ayah tidak nyaman.
Aku adalah orang yang sangat menghormati pendapat orang lain. Saat menjalin pernikahan dengan Idris pun ..., ah aku malah memikirkannya. Aku harus membuat rasa cinta dan sayangku terhadap Idris menghilang secepat mungkin. Bagaimana bisa aku mengingat-ngingat masa lalu bersama Idris tanpa beban seakan kematianku di masa lalu bukanlah karena dia?
Aku harus berpikiran rasional mulai detik ini. Harus.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments
Anonymous
btw2 sering dgr kt MC, apa artinya itu yah🤔maaf krg th,heehe
2021-10-24
0
senja
MC sekarang usia berapa Ka?
2020-05-20
1
senja
hmmm apa dia penyihir, sesuai dg yg dibilang sm Dewi, bakat spesial pakai telur
2020-05-20
6