Aku bangun dari tidurku yang sama sekali tidak nyenyak. Tadi malam aku harus berupaya keras agar tidak pingsan karena durasi sihir Ava telah habis. Untunglah Rose lebih banyak mengambil perhatian Idris saat dia hendak mengajakku bicara. Tingkah Rose terbukti menyelamatkanku di saat seperti itu.
Matahari sudah tinggi, aku kesiangan untuk pergi ke istana. Isla duduk di sofa sambil membaca buku. Tadi malam dia pergi ke Avnevous untuk melaporkan investigasinya pada Lucas dan Ava. Mungkin dia kembali pagi-pagi buta.
“Selamat pagi, Isla,” sapaku.
“Selamat pagi, Nona Charlotte,” balas Isla. “Apakah lilin herbal yang dibawakan Layla membuat Nona tidur nyenyak?”
“Itu tidak banyak membantu,” jawabku jujur. “Hari ini aku harus pergi ke istana dan bertemu dengan Putra Mahkota. Apakah Layla dan Jayden telah menerima lamaranmu?”
Isla mengangguk. “Tadi pagi aku sudah diterima oleh Layla karena bantuan Nona Charlotte. Sekarang aku sudah bisa bebas berkeliaran di rumah ini.”
“Baguslah. Kita akan langsung pergi ke istana setelah aku bersiap-siap,” kataku sambil beranjak dari ranjang.
“Baik, Nona Charlotte.”
***
Kereta kudaku sampai di istana tepat jam sebelas siang. Tidak biasanya aku kesiangan seperti ini. Isla mengantikan Jayden untuk menemaniku. Jayden terlalu sibuk dengan urusan bisnis bersama Ayah. Mereka bahkan tidak terlihat di rumah saat aku makan siang tadi.
Jack sudah menunggu di depan gerbang istana dengan wajah kusut. Begitu melihatku datang, mukanya tambah kusut seakan hendak memakiku jika itu adalah hal yang legal di Vanhoiren.
“Maaf, aku terlambat,” ucapku menyesal.
“Yang Mulia Putra Mahkota sudah menunggu Anda di ruang kerjanya. Silahkan ikut saya,” kata Jack sambil masuk ke dalam istana. Dia mengabaikanku. Agak menyebalkan tapi itu lebih baik.
Isla mengekor di belakangku sambil memperhatikan sekeliling.
Di dalam ruang kerjanya, Idris duduk di depan meja panjang tempatnya bekerja dengan memasang raut wajah serius. Tapi hal yang menarik adalah adanya Rose Hindley di ruangannya yang sedang minum teh. Jack sudah keluar dari ruang kerja Idris tanpa mengatakan apa pun.
“Duduklah, Nona Winston,” kata Idris. “Sudah kuletakkan berkas-berkas yang harus diperiksa di atas meja itu.”
Aku melirik meja kecil di tengah-tengah antara sofa yang diduduki Rose dan mendekatinya. Aku duduk berhadapan dengan gadis itu lalu meraih berkas yang dimaksud dan mulai membacanya.
Isla berdiri di belakangku tanpa berkata sepatah kata pun.
Aku berusaha agar tidak terganggu dengan lirikan Idris yang terang-terangan dia lontarkan untukku. Kalau begini terus, seluruh informasi yang kubaca tidak akan masuk ke dalam otak. Aku merinding.
“Yang Mulia, apakah Yang Mulia sudah menemukan pasangan dansa untuk Festival Bunga nanti?” tanya Rose spontan.
Syukurlah, Idris langsung fokus pada Rose. “Pasangan dansa? Uhm, aku masih belum yakin, Nona Hindley.”
“Tolong pertimbangkan aku menjadi pasangan Yang Mulia.” Hoo ...., apa ini? Semacam sebuah godaan? Aku tidak pernah melihat Rose dan Idris sedekat ini di masa lalu.
Idris lagi-lagi melirikku. Aku hanya tersenyum tanpa menatapnya. “Baiklah, Nona Hindley. Akan kupertimbangkan.”
Rose tersenyum. “Terima kasih, Yang Mulia!”
*
“Apakah Nona Charlotte merasa terganggu?” tanya Idris dikala aku mencari angin di balkon saat istirahat. Isla berdiam diri di dalam ruang kerja Idris. Lalu Rose sedang diperintahkan Idris mencari beberapa perancang terkenal di kota.
Aku tak menatap Idris. “Apa maksud Yang Mulia?”
“Soal bagaimana Nona Hindley bersikap padaku dan permintaannya untuk menjadi pasangan dansaku,” jawab Idris.
Aku tertawa dalam hati. Sungguh pemikiran yang konyol. Untuk apa aku harus merasa terganggu? Aku sudah tidak peduli dengan apa pun yang dilakukan olehmu, Idris.
“Yang Mulia, saya sama sekali tidak keberatan dengan siapa Yang Mulia akan berdansa atau saling mengumbar ketertarikan,” kataku.
Idris menggenggam tanganku. “Nona Winston. Ah, tidak. Apakah aku boleh memanggilmu dengan namamu?”
“Yang Mulia ...”
“Aku tertarik padamu, Charlotte,” ucap Idris dengan genggaman tangannya yang semakin erat. Aku agak terganggu dengan sikap Idris padaku. “Maaf jika kau merasa tidak nyaman dengan perlakuanku padamu.”
“Kumohon, Yang Mulia. Jangan seperti ini,” kataku sambil berusaha melepaskan diri.
“Idris,” ralatnya. “Panggil aku Idris jika kita sedang berduaan.”
Memangnya aku senang berduaan denganmu?!
Aku memilih untuk diam saja. Sepertinya Idris sudah melupakan kehadiran Isla. Lagipula, Isla masih bisa melihat kami dari dalam. Di saat-saat seperti ini aku malah teringat pada Lucas. Apalagi saat dia bilang jika Idris tidak boleh menyentuhku.
“Charlotte, lihat aku,” pinta Idris. “Aku sebenarnya tidak ingin menunggu lebih jauh apalagi saat Festival Bunga berakhir. Tapi aku ingin menghargaimu.”
“Jika ada yang melihat ini, mereka bisa berpikiran buruk tentang Yang Mulia,” kataku sekenanya.
Idris mengernyitkan dahi. “Apa aku melakukan hal yang buruk?” Aku tak menjawab. “Jawab aku, Charlotte.”
Aku ingat jika Idris memang seperti ini. Lembut tapi mematikan. Kami bertemu pada perayaan Festival Bunga kala itu lalu saling jatuh cinta. Aku hanyut terlalu jauh dalam perasaan itu dan saat tenggelam perlahan pun ... aku tidak menyadarinya. Idris membuatku tidak bisa hidup tanpanya. Sekarang, bagaimana kalau aku melakukan hal yang sebaliknya?
Clek!
“Yang Mulia!” Itu Rose. Buru-buru kulepaskan diri dari Idris dan menjauh. Idris terlihat kecewa karena tindakanku. “Aku sudah selesai mencari perancang yang sudah Yang Mulia minta.”
Idris masuk ke dalam ruangan dan duduk di depan meja kerjanya kembali. “Terima kasih, Nona Hindley. Kapan mereka bisa memperlihatkan contoh rancangan mereka padaku?”
“Paling lambat minggu depan, Yang Mulia. Mereka akan mengusahakannya pada minggu ini,” tutur Rose.
“Baiklah, mengenai rincian biayanya tolong diatur. Akan kutambahkan dengan biaya-biaya yang lain,” kata Idris serius.
Rose mengangguk lalu melirikku yang baru saja masuk ke dalam setelah menenangkan diri di balkon. “Ngomong-ngomong, apakah Yang Mulia dan Nona Charlotte ada hubungan khusus?”
“Tidak, tidak ada hubungan yang seperti itu,” jawabku cepat sambil kembali fokus pada pekerjaanku.
Rose terlihat senang. “Syukurlah! Uhm, maaf Nona Charlotte. Aku tidak bermaksud apa-apa.”
“Tenang saja, Nona Hindley.” Aku tersenyum dan berpikir sejenak. Apakah dulu Rose dan Idris punya hubungan gelap?
“Nona Hindley, kau boleh istirahat jika kau mau. Kau sudah bekerja keras hari ini,” ucap Idris.
“Aku ingin menemani Yang Mulia di sini bersama Nona Charlotte. Meskipun jarang bertemu, sebenarnya aku dan Nona Charlotte cukup akrab,” kata Rose percaya diri. “Aku sangat khawatir saat Nona Charlotte ditimpa masalah waktu itu.”
Haruskah dia membahas hal itu di sini?
“Nona Hindley, kau terlalu perhatian padaku,” kataku tanpa menatapnya. “Malahan, dibanding perhatian ... kau malah terlalu ikut campur.”
Rose menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan saat aku juga menatapnya. Mungkin aku harus meminta Isla memeriksa Rose dan Keluarga Hindley.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments
est
yg punya ilmu hitam jangan2 rose krn katanya perempuan
2022-07-16
1
AK_Wiedhiyaa16
Jangan2 dulu si Idris & Rose emang terlibat scandal di belakang Charlotte makanya dia tega fitnah Ratunya sendiri..
Bisa jadi kemungkinan 50% si Rose yg kliatan aneh/beda dr kluarganya yg lain merupakan si penyihir gelap
2020-08-12
2
senja
banyak yg kudhu diperiksa, ttg Jack sdh ada hasil kah?
2020-05-20
1