XIII - Bersama Idris

Aku bangun dari tidurku yang sama sekali tidak nyenyak. Tadi malam aku harus berupaya keras agar tidak pingsan karena durasi sihir Ava telah habis. Untunglah Rose lebih banyak mengambil perhatian Idris saat dia hendak mengajakku bicara. Tingkah Rose terbukti menyelamatkanku di saat seperti itu.

Matahari sudah tinggi, aku kesiangan untuk pergi ke istana. Isla duduk di sofa sambil membaca buku. Tadi malam dia pergi ke Avnevous untuk melaporkan investigasinya pada Lucas dan Ava. Mungkin dia kembali pagi-pagi buta.

“Selamat pagi, Isla,” sapaku.

“Selamat pagi, Nona Charlotte,” balas Isla. “Apakah lilin herbal yang dibawakan Layla membuat Nona tidur nyenyak?”

“Itu tidak banyak membantu,” jawabku jujur. “Hari ini aku harus pergi ke istana dan bertemu dengan Putra Mahkota. Apakah Layla dan Jayden telah menerima lamaranmu?”

Isla mengangguk. “Tadi pagi aku sudah diterima oleh Layla karena bantuan Nona Charlotte. Sekarang aku sudah bisa bebas berkeliaran di rumah ini.”

“Baguslah. Kita akan langsung pergi ke istana setelah aku bersiap-siap,” kataku sambil beranjak dari ranjang.

“Baik, Nona Charlotte.”

***

Kereta kudaku sampai di istana tepat jam sebelas siang. Tidak biasanya aku kesiangan seperti ini. Isla mengantikan Jayden untuk menemaniku. Jayden terlalu sibuk dengan urusan bisnis bersama Ayah. Mereka bahkan tidak terlihat di rumah saat aku makan siang tadi.

Jack sudah menunggu di depan gerbang istana dengan wajah kusut. Begitu melihatku datang, mukanya tambah kusut seakan hendak memakiku jika itu adalah hal yang legal di Vanhoiren.

“Maaf, aku terlambat,” ucapku menyesal.

“Yang Mulia Putra Mahkota sudah menunggu Anda di ruang kerjanya. Silahkan ikut saya,” kata Jack sambil masuk ke dalam istana. Dia mengabaikanku. Agak menyebalkan tapi itu lebih baik.

Isla mengekor di belakangku sambil memperhatikan sekeliling.

Di dalam ruang kerjanya, Idris duduk di depan meja panjang tempatnya bekerja dengan memasang raut wajah serius. Tapi hal yang menarik adalah adanya Rose Hindley di ruangannya yang sedang minum teh. Jack sudah keluar dari ruang kerja Idris tanpa mengatakan apa pun.

“Duduklah, Nona Winston,” kata Idris. “Sudah kuletakkan berkas-berkas yang harus diperiksa di atas meja itu.”

Aku melirik meja kecil di tengah-tengah antara sofa yang diduduki Rose dan mendekatinya. Aku duduk berhadapan dengan gadis itu lalu meraih berkas yang dimaksud dan mulai membacanya.

Isla berdiri di belakangku tanpa berkata sepatah kata pun.

Aku berusaha agar tidak terganggu dengan lirikan Idris yang terang-terangan dia lontarkan untukku. Kalau begini terus, seluruh informasi yang kubaca tidak akan masuk ke dalam otak. Aku merinding.

“Yang Mulia, apakah Yang Mulia sudah menemukan pasangan dansa untuk Festival Bunga nanti?” tanya Rose spontan.

Syukurlah, Idris langsung fokus pada Rose. “Pasangan dansa? Uhm, aku masih belum yakin, Nona Hindley.”

“Tolong pertimbangkan aku menjadi pasangan Yang Mulia.” Hoo ...., apa ini? Semacam sebuah godaan? Aku tidak pernah melihat Rose dan Idris sedekat ini di masa lalu.

Idris lagi-lagi melirikku. Aku hanya tersenyum tanpa menatapnya. “Baiklah, Nona Hindley. Akan kupertimbangkan.”

Rose tersenyum. “Terima kasih, Yang Mulia!”

*

“Apakah Nona Charlotte merasa terganggu?” tanya Idris dikala aku mencari angin di balkon saat istirahat. Isla berdiam diri di dalam ruang kerja Idris. Lalu Rose sedang diperintahkan Idris mencari beberapa perancang terkenal di kota.

Aku tak menatap Idris. “Apa maksud Yang Mulia?”

“Soal bagaimana Nona Hindley bersikap padaku dan permintaannya untuk menjadi pasangan dansaku,” jawab Idris.

Aku tertawa dalam hati. Sungguh pemikiran yang konyol. Untuk apa aku harus merasa terganggu? Aku sudah tidak peduli dengan apa pun yang dilakukan olehmu, Idris.

“Yang Mulia, saya sama sekali tidak keberatan dengan siapa Yang Mulia akan berdansa atau saling mengumbar ketertarikan,” kataku.

Idris menggenggam tanganku. “Nona Winston. Ah, tidak. Apakah aku boleh memanggilmu dengan namamu?”

“Yang Mulia ...”

“Aku tertarik padamu, Charlotte,” ucap Idris dengan genggaman tangannya yang semakin erat. Aku agak terganggu dengan sikap Idris padaku. “Maaf jika kau merasa tidak nyaman dengan perlakuanku padamu.”

“Kumohon, Yang Mulia. Jangan seperti ini,” kataku sambil berusaha melepaskan diri.

“Idris,” ralatnya. “Panggil aku Idris jika kita sedang berduaan.”

Memangnya aku senang berduaan denganmu?!

Aku memilih untuk diam saja. Sepertinya Idris sudah melupakan kehadiran Isla. Lagipula, Isla masih bisa melihat kami dari dalam. Di saat-saat seperti ini aku malah teringat pada Lucas. Apalagi saat dia bilang jika Idris tidak boleh menyentuhku.

“Charlotte, lihat aku,” pinta Idris. “Aku sebenarnya tidak ingin menunggu lebih jauh apalagi saat Festival Bunga berakhir. Tapi aku ingin menghargaimu.”

“Jika ada yang melihat ini, mereka bisa berpikiran buruk tentang Yang Mulia,” kataku sekenanya.

Idris mengernyitkan dahi. “Apa aku melakukan hal yang buruk?” Aku tak menjawab. “Jawab aku, Charlotte.”

Aku ingat jika Idris memang seperti ini. Lembut tapi mematikan. Kami bertemu pada perayaan Festival Bunga kala itu lalu saling jatuh cinta. Aku hanyut terlalu jauh dalam perasaan itu dan saat tenggelam perlahan pun ... aku tidak menyadarinya. Idris membuatku tidak bisa hidup tanpanya. Sekarang, bagaimana kalau aku melakukan hal yang sebaliknya?

Clek!

“Yang Mulia!” Itu Rose. Buru-buru kulepaskan diri dari Idris dan menjauh. Idris terlihat kecewa karena tindakanku. “Aku sudah selesai mencari perancang yang sudah Yang Mulia minta.”

Idris masuk ke dalam ruangan dan duduk di depan meja kerjanya kembali. “Terima kasih, Nona Hindley. Kapan mereka bisa memperlihatkan contoh rancangan mereka padaku?”

“Paling lambat minggu depan, Yang Mulia. Mereka akan mengusahakannya pada minggu ini,” tutur Rose.

“Baiklah, mengenai rincian biayanya tolong diatur. Akan kutambahkan dengan biaya-biaya yang lain,” kata Idris serius.

Rose mengangguk lalu melirikku yang baru saja masuk ke dalam setelah menenangkan diri di balkon. “Ngomong-ngomong, apakah Yang Mulia dan Nona Charlotte ada hubungan khusus?”

“Tidak, tidak ada hubungan yang seperti itu,” jawabku cepat sambil kembali fokus pada pekerjaanku.

Rose terlihat senang. “Syukurlah! Uhm, maaf Nona Charlotte. Aku tidak bermaksud apa-apa.”

“Tenang saja, Nona Hindley.” Aku tersenyum dan berpikir sejenak. Apakah dulu Rose dan Idris punya hubungan gelap?

“Nona Hindley, kau boleh istirahat jika kau mau. Kau sudah bekerja keras hari ini,” ucap Idris.

“Aku ingin menemani Yang Mulia di sini bersama Nona Charlotte. Meskipun jarang bertemu, sebenarnya aku dan Nona Charlotte cukup akrab,” kata Rose percaya diri. “Aku sangat khawatir saat Nona Charlotte ditimpa masalah waktu itu.”

Haruskah dia membahas hal itu di sini?

“Nona Hindley, kau terlalu perhatian padaku,” kataku tanpa menatapnya. “Malahan, dibanding perhatian ... kau malah terlalu ikut campur.”

Rose menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan saat aku juga menatapnya. Mungkin aku harus meminta Isla memeriksa Rose dan Keluarga Hindley.

Terpopuler

Comments

est

est

yg punya ilmu hitam jangan2 rose krn katanya perempuan

2022-07-16

1

AK_Wiedhiyaa16

AK_Wiedhiyaa16

Jangan2 dulu si Idris & Rose emang terlibat scandal di belakang Charlotte makanya dia tega fitnah Ratunya sendiri..
Bisa jadi kemungkinan 50% si Rose yg kliatan aneh/beda dr kluarganya yg lain merupakan si penyihir gelap

2020-08-12

2

senja

senja

banyak yg kudhu diperiksa, ttg Jack sdh ada hasil kah?

2020-05-20

1

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 I - Hidup Baru
3 II - Muka Dua
4 III - Kenangan Indah
5 IV - Pembuat Masalah
6 V - Lembar Pertama
7 VI - Penyihir Avnevous
8 VII - Ava Bloodhart
9 VIII - Calon Ratu
10 IX - Kediaman Winston
11 X - Lamaran Dadakan
12 XI - Persiapan Festival
13 XII - Rapat Pertama
14 XIII - Bersama Idris
15 XIV - Penyihir Vanhoiren
16 XV - Rapat Terakhir
17 XVI - Pernyataan Cinta
18 XVII - Festival Bunga (I)
19 XVIII - Festival Bunga (II)
20 XIX - Kediaman Dominic
21 XX - Calon Mertua
22 XXI - Istana Perunggu
23 XXII - Hari Pemburuan (I)
24 XXIII - Hari Pemburuan (II)
25 XXIV - Hari Pemburuan (III)
26 XXV - Kebersamaan Kami
27 XXVI - Hilangnya Rekan
28 XXVII - Menjadi Kuat
29 XXVIII - Anak Marquess
30 XXIX - Rekan Baru
31 XXX - Makan Malam
32 XXXI - Memberitahu Kebenaran
33 XXXII - Malam Pertunangan
34 XXXIII - Emosi Sesaat
35 XXXIV - Penyemangat Charlotte
36 XXXV - Makan Siang
37 XXXVI - Penobatan Lucas
38 XXXVII - Ava Galak
39 XXXVIII - Perasaan Isaac
40 XXXIX - Persiapan Pernikahan (I)
41 XL - Persiapan Pernikahan (II)
42 XLI - Kasus Penculikan
43 XLII - Kaisar Ke-XIX
44 XLIII - Penemuan Menggemparkan
45 XLIV - Bujuk Rayu
46 XLV - Kejutan Menegangkan
47 XLVI - Semakin Memanas
48 XLVII - Pengadilan Tinggi (I)
49 XLVIII - Pengadilan Tinggi (II)
50 XLIX - Pengadilan Tinggi (III)
51 L - Pengadilan Tinggi (IV)
52 LI - Pengadilan Tinggi (V)
53 LII - Balasan Kecil
54 LIII - Merasa Déjà vu
55 LIV - Hari Terakhir
56 LV - Upacara Pernikahan (I)
57 LVI - Upacara Pernikahan (II)
58 LVII - Era XX
59 LVIII - Malam Pertama
60 LIX - Bincang Malam
61 LX - Kegiatan Pagi (I)
62 LXI - Kegiatan Pagi (II)
63 LXII - Kegiatan Pagi (III)
64 LXIII - Kehebohan Mendadak
65 LXIV - Berita Duka
66 LXV - Serangan Dadakan
67 LXVI - Mulai Menghantui
68 LXVII - Diselamatkan Ava
69 LXVIII - Benang Merah
70 LXIX - Pertemuan Rahasia
71 LXX - Tumpahkan Saja
72 LXXI - Pemecatan Massal
73 LXXII - Misi Penyelamatan (I)
74 LXXIII - Misi Penyelamatan (II)
75 LXXIV - Selamat Tinggal
76 LXXV - Merasa Hancur
77 LXXVI - Titik Balik
78 LXXVII - Terancam Dibunuh
79 LXXVIII - Ancaman Ava
80 LXXIX - Interogasi Belka (I)
81 LXXX - Interogasi Belka (II)
82 LXXXI - Topik Berat
83 LXXXII - Bertemu Idris
84 LXXXIII - Hari Eksekusi (I)
85 LXXXIV - Hari Eksekusi (II)
86 LXXXV - Hari Eksekusi (III)
87 LXXXVI - Mata-mata Ayah
88 LXXXVII - Masa Lalu
89 LXXXVIII - Informasi Menarik
90 LXXXIX - Rahasia Liontin
91 XC - Potongan Puzzle (I)
92 XCI - Potongan Puzzle (II)
93 XCII - Adegan Ranjang
94 XCIII - Ibu Hamil
95 XCIV - Pemakaman Isla
96 XCV - Rencana Terakhir
97 XCVI - Kudeta Ratu (I)
98 XCVII - Kudeta Ratu (II)
99 XCVIII - Kudeta Ratu (III)
100 XCIX - Kudeta Ratu (IV)
101 C - Usai Kudeta (I)
102 CI - Usai Kudeta (II)
103 CII - Ingatan Idris (I)
104 CIII - Ingatan Idris (II)
105 CIV - Ingatan Idris (III)
106 CV - Pertemuan Resmi (I)
107 CVI - Pertemuan Resmi (II)
108 CVII - Bertemu Ayah
109 CVIII - Menyelesaikan Masalah
110 CIX - Menunggu Jack
111 CX - Serangan Kejutan
112 CXI - Menjadi Kaisarina
113 Epilog
114 Pojok Informasi
115 『S2』 Prolog
116 『S2』 I - Laporan
117 『S2』 II - Kecupan
118 『S2』 III - Duke
119 『S2』 IV - Dongeng
120 『S2』 V - Hantu
121 『S2』 VI - Pertemuan
Episodes

Updated 121 Episodes

1
Prolog
2
I - Hidup Baru
3
II - Muka Dua
4
III - Kenangan Indah
5
IV - Pembuat Masalah
6
V - Lembar Pertama
7
VI - Penyihir Avnevous
8
VII - Ava Bloodhart
9
VIII - Calon Ratu
10
IX - Kediaman Winston
11
X - Lamaran Dadakan
12
XI - Persiapan Festival
13
XII - Rapat Pertama
14
XIII - Bersama Idris
15
XIV - Penyihir Vanhoiren
16
XV - Rapat Terakhir
17
XVI - Pernyataan Cinta
18
XVII - Festival Bunga (I)
19
XVIII - Festival Bunga (II)
20
XIX - Kediaman Dominic
21
XX - Calon Mertua
22
XXI - Istana Perunggu
23
XXII - Hari Pemburuan (I)
24
XXIII - Hari Pemburuan (II)
25
XXIV - Hari Pemburuan (III)
26
XXV - Kebersamaan Kami
27
XXVI - Hilangnya Rekan
28
XXVII - Menjadi Kuat
29
XXVIII - Anak Marquess
30
XXIX - Rekan Baru
31
XXX - Makan Malam
32
XXXI - Memberitahu Kebenaran
33
XXXII - Malam Pertunangan
34
XXXIII - Emosi Sesaat
35
XXXIV - Penyemangat Charlotte
36
XXXV - Makan Siang
37
XXXVI - Penobatan Lucas
38
XXXVII - Ava Galak
39
XXXVIII - Perasaan Isaac
40
XXXIX - Persiapan Pernikahan (I)
41
XL - Persiapan Pernikahan (II)
42
XLI - Kasus Penculikan
43
XLII - Kaisar Ke-XIX
44
XLIII - Penemuan Menggemparkan
45
XLIV - Bujuk Rayu
46
XLV - Kejutan Menegangkan
47
XLVI - Semakin Memanas
48
XLVII - Pengadilan Tinggi (I)
49
XLVIII - Pengadilan Tinggi (II)
50
XLIX - Pengadilan Tinggi (III)
51
L - Pengadilan Tinggi (IV)
52
LI - Pengadilan Tinggi (V)
53
LII - Balasan Kecil
54
LIII - Merasa Déjà vu
55
LIV - Hari Terakhir
56
LV - Upacara Pernikahan (I)
57
LVI - Upacara Pernikahan (II)
58
LVII - Era XX
59
LVIII - Malam Pertama
60
LIX - Bincang Malam
61
LX - Kegiatan Pagi (I)
62
LXI - Kegiatan Pagi (II)
63
LXII - Kegiatan Pagi (III)
64
LXIII - Kehebohan Mendadak
65
LXIV - Berita Duka
66
LXV - Serangan Dadakan
67
LXVI - Mulai Menghantui
68
LXVII - Diselamatkan Ava
69
LXVIII - Benang Merah
70
LXIX - Pertemuan Rahasia
71
LXX - Tumpahkan Saja
72
LXXI - Pemecatan Massal
73
LXXII - Misi Penyelamatan (I)
74
LXXIII - Misi Penyelamatan (II)
75
LXXIV - Selamat Tinggal
76
LXXV - Merasa Hancur
77
LXXVI - Titik Balik
78
LXXVII - Terancam Dibunuh
79
LXXVIII - Ancaman Ava
80
LXXIX - Interogasi Belka (I)
81
LXXX - Interogasi Belka (II)
82
LXXXI - Topik Berat
83
LXXXII - Bertemu Idris
84
LXXXIII - Hari Eksekusi (I)
85
LXXXIV - Hari Eksekusi (II)
86
LXXXV - Hari Eksekusi (III)
87
LXXXVI - Mata-mata Ayah
88
LXXXVII - Masa Lalu
89
LXXXVIII - Informasi Menarik
90
LXXXIX - Rahasia Liontin
91
XC - Potongan Puzzle (I)
92
XCI - Potongan Puzzle (II)
93
XCII - Adegan Ranjang
94
XCIII - Ibu Hamil
95
XCIV - Pemakaman Isla
96
XCV - Rencana Terakhir
97
XCVI - Kudeta Ratu (I)
98
XCVII - Kudeta Ratu (II)
99
XCVIII - Kudeta Ratu (III)
100
XCIX - Kudeta Ratu (IV)
101
C - Usai Kudeta (I)
102
CI - Usai Kudeta (II)
103
CII - Ingatan Idris (I)
104
CIII - Ingatan Idris (II)
105
CIV - Ingatan Idris (III)
106
CV - Pertemuan Resmi (I)
107
CVI - Pertemuan Resmi (II)
108
CVII - Bertemu Ayah
109
CVIII - Menyelesaikan Masalah
110
CIX - Menunggu Jack
111
CX - Serangan Kejutan
112
CXI - Menjadi Kaisarina
113
Epilog
114
Pojok Informasi
115
『S2』 Prolog
116
『S2』 I - Laporan
117
『S2』 II - Kecupan
118
『S2』 III - Duke
119
『S2』 IV - Dongeng
120
『S2』 V - Hantu
121
『S2』 VI - Pertemuan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!