VIII - Calon Ratu

Kali ini aku duduk minum teh bersama Lucas di ruang kerjanya pada Istana Avnevous. Ava dan Isla akan menyusul kami ke sini setelah mengurus beberapa pekerjaan di perbatasan. Menurut berita, tim ekspedisi Vanhoiren sedang berusaha masuk secara diam-diam ke dalam teritorial Avnevous.

Meskipun sebentar lagi Lucas akan naik tahta, dia tidak pernah mau berhenti menjadi pelatihku. Aku khawatir jika nantinya pekerjaan Lucas jadi menumpuk karena aku. Kesehatannya harus diutamakan.

“Bagaimana rencanamu ke depannya?” tanya Lucas setelah meminum seteguk tehnya.

“Soal Putra Mahkota Vanhoiren?” Lucas mengangguk. “Mungkin saja dia ada hubungannya dengan pengguna sihir kegelapan itu.”

“Dana untuk meneliti sihir tidaklah sedikit. Mungkin saja ada sokongan dana dari Kekaisaran,” tambah Lucas. Aku mengangguk setuju. “Lalu, masalahnya adalah kematianmu di masa lalu.”

Clek!

Ava membuka pintu tanpa mengetuknya. Aku tak ingin berkomentar apa pun. Begitulah tabiat beliau. Meskipun bersikap seenaknya, wajahnya tetap saja tegang. Isla juga menunjukkan ekspresi yang sama.

“Yang Mulia, bisa kita bicara berdua?” Ava menatap Lucas. Lucas pun berdiri dan keluar bersama Ava. Meninggalkanku berdua dengan Isla.

“Apa yang terjadi?” tanyaku pada Isla. Isla memilih bungkam dan duduk berhadapan denganku. “Apakah terjadi sesuatu yang buruk?”

Berapa kali pun aku bertanya, Isla tetap enggan menjawab pertanyaanku. Aku tak bisa terus-menerus memaksanya untuk menjawab. Alasan di balik kejadian saat aku dibawa diam-diam oleh Lucas pun belum kuketahui jawabannya. Aku pikir seakrab apa pun aku dengan mereka, tetap akan ada dinding transparan yang membatasi aku dan mereka.

Brak!

Sekarang Lucas membuka pintu secara kasar. Mungkin saja dalam waktu beberapa tahun saja, pihak istana harus mengganti pintu ruang kerja Lucas.

“Ada apa lagi?” tanyaku akhirnya. Lucas dan Ava saling melirik lalu Ava akhirnya berdecak kesal.

“Kau harus kembali ke Vanhoiren sekarang juga,” kata Ava. Perkataannya lebih seperti sebuah perintah untukku.

Aku senang mendengar hal itu, tapi tetap saja sesuatu yang tiba-tiba membuat aku tidak tenang. “Apakah ada hal buruk yang terjadi di Vanhoiren?”

“Kalau ada hal seperti itu, sih, aku akan senang. Sayangnya bukan itu,” ucap Ava. “Ini tentangmu.”

“Aku?” Aku menunjuk diriku sendiri.

“Putra Mahkota Vanhoiren memutuskan untuk menjadikanmu calon Ratu,” ucap Ava. “Oleh karena itu, kau harus pulang.”

“Kenapa bisa begitu?! Kalian bilang ada orang lain yang menggantikanku. Dan sekarang orang itu malah membuatku menjadi calon Ratu?” Aku terbelalak. “Aku ... tidak mau ...”

Mengingat semuanya pun aku tidak sudi lagi. Aku tidak mau masuk ke lubang yang sama dan tertimbun karena hal itu. Idris bukanlah satu-satunya laki-laki yang harus kujadikan seorang suami di dunia ini. Masih banyak laki-laki yang lebih berkompeten daripada dia.

Isla menggenggam tanganku. Berusaha membuatku tetap tenang. Aku menghela napas dan menatap Ava dengan penuh tekad. “Tapi Anda pasti punya rencana, kan?”

Ava menyeringai. “Tentu saja. Pertama-tama, ambilah ini.” Ava memberikan sebuah kristal kecil berwarna ungu yang diambilnya dari kantong kecil yang selalu dibawa olehnya. Aku menerimanya dan memperhatikan kristal itu. “Itu adalah alat komunikasi sihir. Jangan dihilangkan. Harganya sama dengan satu kastil kecil di area Vanhoiren.”

“Baiklah,” ucapku gugup karena benda mahal ini ada di tanganku.

“Kau sudah kuajarkan banyak hal, Charlotte. Pastikan untuk menggunakannya dengan baik karena aku mengawasimu,” kata Ava.

Lucas mendekat padaku dan menyodorkanku sebuah pedang dengan sarungnya. Ketika kupegang, sarung pedang ditanganku ini sudah dapat dipastikan terbuat dari kulit berkualitas.

“Ini hadiah untuk kegigihanmu berlatih denganku,” ucap Lucas. Kali ini sikapnya melembut. Apa karena aku akan segera pergi, ya? “Jangan berpikiran yang tidak-tidak.”

Aku tersenyum. “Terima kasih semuanya.”

Isla memegangi lengan gaunku dan aku menoleh padanya. Kotak kecil diberikan padaku. “Bukanya kalau sudah di Vanhoiren.”

“Baiklah. Terima kasih, Isla.”

Aku pun akhirnya mulai berkemas untuk pulang ke Vanhoiren besok. Barang-barangku di Avnevous memanglah sedikit. Jadi, aku hanya mengemas barangku dalam satu koper besar saja.

Malamnya, kami berkumpul untuk mendengar rencana Ava dan Lucas yang belum sempat kudengar tadi siang di Menara Serikat Sihir. Rencananya benar-benar gila dari yang kubayangkan. Aku bahkan tak pernah berpikir jika hal seperti ini muncul dari otak seorang Penyihir Agung yang tubuhnya sering dipakai sebagai sebuah wadah Dewi Kebajikan.

Pertama-tama, aku harus menyanggupi pernikahan itu. Artinya aku harus masuk ke lubang yang sama. Namun membawa persiapan yang matang. Selagi aku mengurusi urusan Ratu, aku juga bertindak secara diam-diam menyelidiki Kekaisaran dan sihir kegelapan. Selama menjadi Ratu sejak dulu, aku memang jarang diberi kebebasan dan jarang pergi ke istana Kekaisaran. Hanya Idris yang sering berkunjung ke istana Ratu kala itu.

Lalu kemudian Isla akan menemaniku dan menyamar sebagai seorang dayang. Lucas dan Ava akan secara bergantian datang dan masuk ke dalam istana Ratu untuk mengunjungiku setelah Isla membuat portal teleportasi.

Rencana ini adalah rencana yang tidak akan bisa berjalan dengan cepat. Kekaisaran adalah tempat yang dipenuhi oleh para pasukan yang handal, pergerakan mencurigakan sekecil apa pun pasti akan dicurigai.

Apalagi, dalang dibalik pengguna sihir kegelapan masih abu-abu. Ava hanya bisa mendeteksi sihir di dalam tubuh orang lain jika berjarak kurang dari lima meter.

“Kemungkinan besar pengguna sihir kegelapannya adalah perempuan,” kata Ava. “Aku sudah menghilangkan keberadaan sihirmu dari penyihir lain selama kau tidak memakai sihir. Kau aman sekarang.”

Aku mengangguk paham.

“Sekarang istirahatlah,” perintah Ava. Baru saja semuanya berdiri, Ava menahan jubah Isla. “Kecuali kau, Isla. Kau harus kuajari cara menjadi dayang yang baik.”

“Tidaaakkk, Nona Charlotte tolong aku!” teriak Isla untuk terakhir kalinya sebelum Ava pergi menyeret Isla ke ruangannya.

Tersisa aku dan Lucas di ruangan ini. Aku menatap Lucas lalu menyadari jika dirinya juga menatapku. Kenapa suasana di tempat ini menjadi canggung?

“Apa kau takut?” tanya Lucas. Kami masih berdiri dan tidak ada yang mau duduk.

“Sedikit.” Aku sudah menceritakan kisah masa laluku pada mereka. Jadi, kekhawatiran Lucas adalah hal yang normal. “Hanya saja aku takut jika semuanya terulang seperti dulu.”

Lucas tersenyum. “Tenang saja, kau tidak akan pernah bisa disentuh oleh Putra Mahkota Vanhoiren,” kata Lucas.

“Tapi dia akan jadi suamiku, kami pasti akan melakukan kontak fisik,” kataku.

“Aku tak mau membahasnya. Aku akan pulang sekarang,” ucap Lucas. Kali ini raut wajahnya terlihat kesal.

“Baiklah.”

Aku melambai sampai Lucas pergi dengan kereta kudanya menuju istana. Aku harap semuanya berjalan seperti semula.

*

Aku tidur di kamarku dan bermimpi sedang berada di sebuah taman bunga bersama seorang laki-laki. Aku tidak tahu siapa itu. Tapi entah mengapa, aku sangat senang saat berada di sampingnya.

Apakah itu adalah pertanda baik?

Terpopuler

Comments

Sulati Cus

Sulati Cus

pasti si rambut cabe merah😂

2023-05-29

0

Linda Lie

Linda Lie

Jgn2 penyihir hitamnya si Rose kali ya

2022-04-07

1

•̀✧Alice Greenwich•̀✧

•̀✧Alice Greenwich•̀✧

Huwweh... kak Author mending Charlotte sama Lucas aja soalnya lebih cocok Ama dia klw sama Idris bkl jatuh kelubang yg samakan pada akhirnya

aku ga terima huweee...🤧

2020-06-21

10

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 I - Hidup Baru
3 II - Muka Dua
4 III - Kenangan Indah
5 IV - Pembuat Masalah
6 V - Lembar Pertama
7 VI - Penyihir Avnevous
8 VII - Ava Bloodhart
9 VIII - Calon Ratu
10 IX - Kediaman Winston
11 X - Lamaran Dadakan
12 XI - Persiapan Festival
13 XII - Rapat Pertama
14 XIII - Bersama Idris
15 XIV - Penyihir Vanhoiren
16 XV - Rapat Terakhir
17 XVI - Pernyataan Cinta
18 XVII - Festival Bunga (I)
19 XVIII - Festival Bunga (II)
20 XIX - Kediaman Dominic
21 XX - Calon Mertua
22 XXI - Istana Perunggu
23 XXII - Hari Pemburuan (I)
24 XXIII - Hari Pemburuan (II)
25 XXIV - Hari Pemburuan (III)
26 XXV - Kebersamaan Kami
27 XXVI - Hilangnya Rekan
28 XXVII - Menjadi Kuat
29 XXVIII - Anak Marquess
30 XXIX - Rekan Baru
31 XXX - Makan Malam
32 XXXI - Memberitahu Kebenaran
33 XXXII - Malam Pertunangan
34 XXXIII - Emosi Sesaat
35 XXXIV - Penyemangat Charlotte
36 XXXV - Makan Siang
37 XXXVI - Penobatan Lucas
38 XXXVII - Ava Galak
39 XXXVIII - Perasaan Isaac
40 XXXIX - Persiapan Pernikahan (I)
41 XL - Persiapan Pernikahan (II)
42 XLI - Kasus Penculikan
43 XLII - Kaisar Ke-XIX
44 XLIII - Penemuan Menggemparkan
45 XLIV - Bujuk Rayu
46 XLV - Kejutan Menegangkan
47 XLVI - Semakin Memanas
48 XLVII - Pengadilan Tinggi (I)
49 XLVIII - Pengadilan Tinggi (II)
50 XLIX - Pengadilan Tinggi (III)
51 L - Pengadilan Tinggi (IV)
52 LI - Pengadilan Tinggi (V)
53 LII - Balasan Kecil
54 LIII - Merasa Déjà vu
55 LIV - Hari Terakhir
56 LV - Upacara Pernikahan (I)
57 LVI - Upacara Pernikahan (II)
58 LVII - Era XX
59 LVIII - Malam Pertama
60 LIX - Bincang Malam
61 LX - Kegiatan Pagi (I)
62 LXI - Kegiatan Pagi (II)
63 LXII - Kegiatan Pagi (III)
64 LXIII - Kehebohan Mendadak
65 LXIV - Berita Duka
66 LXV - Serangan Dadakan
67 LXVI - Mulai Menghantui
68 LXVII - Diselamatkan Ava
69 LXVIII - Benang Merah
70 LXIX - Pertemuan Rahasia
71 LXX - Tumpahkan Saja
72 LXXI - Pemecatan Massal
73 LXXII - Misi Penyelamatan (I)
74 LXXIII - Misi Penyelamatan (II)
75 LXXIV - Selamat Tinggal
76 LXXV - Merasa Hancur
77 LXXVI - Titik Balik
78 LXXVII - Terancam Dibunuh
79 LXXVIII - Ancaman Ava
80 LXXIX - Interogasi Belka (I)
81 LXXX - Interogasi Belka (II)
82 LXXXI - Topik Berat
83 LXXXII - Bertemu Idris
84 LXXXIII - Hari Eksekusi (I)
85 LXXXIV - Hari Eksekusi (II)
86 LXXXV - Hari Eksekusi (III)
87 LXXXVI - Mata-mata Ayah
88 LXXXVII - Masa Lalu
89 LXXXVIII - Informasi Menarik
90 LXXXIX - Rahasia Liontin
91 XC - Potongan Puzzle (I)
92 XCI - Potongan Puzzle (II)
93 XCII - Adegan Ranjang
94 XCIII - Ibu Hamil
95 XCIV - Pemakaman Isla
96 XCV - Rencana Terakhir
97 XCVI - Kudeta Ratu (I)
98 XCVII - Kudeta Ratu (II)
99 XCVIII - Kudeta Ratu (III)
100 XCIX - Kudeta Ratu (IV)
101 C - Usai Kudeta (I)
102 CI - Usai Kudeta (II)
103 CII - Ingatan Idris (I)
104 CIII - Ingatan Idris (II)
105 CIV - Ingatan Idris (III)
106 CV - Pertemuan Resmi (I)
107 CVI - Pertemuan Resmi (II)
108 CVII - Bertemu Ayah
109 CVIII - Menyelesaikan Masalah
110 CIX - Menunggu Jack
111 CX - Serangan Kejutan
112 CXI - Menjadi Kaisarina
113 Epilog
114 Pojok Informasi
115 『S2』 Prolog
116 『S2』 I - Laporan
117 『S2』 II - Kecupan
118 『S2』 III - Duke
119 『S2』 IV - Dongeng
120 『S2』 V - Hantu
121 『S2』 VI - Pertemuan
Episodes

Updated 121 Episodes

1
Prolog
2
I - Hidup Baru
3
II - Muka Dua
4
III - Kenangan Indah
5
IV - Pembuat Masalah
6
V - Lembar Pertama
7
VI - Penyihir Avnevous
8
VII - Ava Bloodhart
9
VIII - Calon Ratu
10
IX - Kediaman Winston
11
X - Lamaran Dadakan
12
XI - Persiapan Festival
13
XII - Rapat Pertama
14
XIII - Bersama Idris
15
XIV - Penyihir Vanhoiren
16
XV - Rapat Terakhir
17
XVI - Pernyataan Cinta
18
XVII - Festival Bunga (I)
19
XVIII - Festival Bunga (II)
20
XIX - Kediaman Dominic
21
XX - Calon Mertua
22
XXI - Istana Perunggu
23
XXII - Hari Pemburuan (I)
24
XXIII - Hari Pemburuan (II)
25
XXIV - Hari Pemburuan (III)
26
XXV - Kebersamaan Kami
27
XXVI - Hilangnya Rekan
28
XXVII - Menjadi Kuat
29
XXVIII - Anak Marquess
30
XXIX - Rekan Baru
31
XXX - Makan Malam
32
XXXI - Memberitahu Kebenaran
33
XXXII - Malam Pertunangan
34
XXXIII - Emosi Sesaat
35
XXXIV - Penyemangat Charlotte
36
XXXV - Makan Siang
37
XXXVI - Penobatan Lucas
38
XXXVII - Ava Galak
39
XXXVIII - Perasaan Isaac
40
XXXIX - Persiapan Pernikahan (I)
41
XL - Persiapan Pernikahan (II)
42
XLI - Kasus Penculikan
43
XLII - Kaisar Ke-XIX
44
XLIII - Penemuan Menggemparkan
45
XLIV - Bujuk Rayu
46
XLV - Kejutan Menegangkan
47
XLVI - Semakin Memanas
48
XLVII - Pengadilan Tinggi (I)
49
XLVIII - Pengadilan Tinggi (II)
50
XLIX - Pengadilan Tinggi (III)
51
L - Pengadilan Tinggi (IV)
52
LI - Pengadilan Tinggi (V)
53
LII - Balasan Kecil
54
LIII - Merasa Déjà vu
55
LIV - Hari Terakhir
56
LV - Upacara Pernikahan (I)
57
LVI - Upacara Pernikahan (II)
58
LVII - Era XX
59
LVIII - Malam Pertama
60
LIX - Bincang Malam
61
LX - Kegiatan Pagi (I)
62
LXI - Kegiatan Pagi (II)
63
LXII - Kegiatan Pagi (III)
64
LXIII - Kehebohan Mendadak
65
LXIV - Berita Duka
66
LXV - Serangan Dadakan
67
LXVI - Mulai Menghantui
68
LXVII - Diselamatkan Ava
69
LXVIII - Benang Merah
70
LXIX - Pertemuan Rahasia
71
LXX - Tumpahkan Saja
72
LXXI - Pemecatan Massal
73
LXXII - Misi Penyelamatan (I)
74
LXXIII - Misi Penyelamatan (II)
75
LXXIV - Selamat Tinggal
76
LXXV - Merasa Hancur
77
LXXVI - Titik Balik
78
LXXVII - Terancam Dibunuh
79
LXXVIII - Ancaman Ava
80
LXXIX - Interogasi Belka (I)
81
LXXX - Interogasi Belka (II)
82
LXXXI - Topik Berat
83
LXXXII - Bertemu Idris
84
LXXXIII - Hari Eksekusi (I)
85
LXXXIV - Hari Eksekusi (II)
86
LXXXV - Hari Eksekusi (III)
87
LXXXVI - Mata-mata Ayah
88
LXXXVII - Masa Lalu
89
LXXXVIII - Informasi Menarik
90
LXXXIX - Rahasia Liontin
91
XC - Potongan Puzzle (I)
92
XCI - Potongan Puzzle (II)
93
XCII - Adegan Ranjang
94
XCIII - Ibu Hamil
95
XCIV - Pemakaman Isla
96
XCV - Rencana Terakhir
97
XCVI - Kudeta Ratu (I)
98
XCVII - Kudeta Ratu (II)
99
XCVIII - Kudeta Ratu (III)
100
XCIX - Kudeta Ratu (IV)
101
C - Usai Kudeta (I)
102
CI - Usai Kudeta (II)
103
CII - Ingatan Idris (I)
104
CIII - Ingatan Idris (II)
105
CIV - Ingatan Idris (III)
106
CV - Pertemuan Resmi (I)
107
CVI - Pertemuan Resmi (II)
108
CVII - Bertemu Ayah
109
CVIII - Menyelesaikan Masalah
110
CIX - Menunggu Jack
111
CX - Serangan Kejutan
112
CXI - Menjadi Kaisarina
113
Epilog
114
Pojok Informasi
115
『S2』 Prolog
116
『S2』 I - Laporan
117
『S2』 II - Kecupan
118
『S2』 III - Duke
119
『S2』 IV - Dongeng
120
『S2』 V - Hantu
121
『S2』 VI - Pertemuan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!