Kali ini aku duduk minum teh bersama Lucas di ruang kerjanya pada Istana Avnevous. Ava dan Isla akan menyusul kami ke sini setelah mengurus beberapa pekerjaan di perbatasan. Menurut berita, tim ekspedisi Vanhoiren sedang berusaha masuk secara diam-diam ke dalam teritorial Avnevous.
Meskipun sebentar lagi Lucas akan naik tahta, dia tidak pernah mau berhenti menjadi pelatihku. Aku khawatir jika nantinya pekerjaan Lucas jadi menumpuk karena aku. Kesehatannya harus diutamakan.
“Bagaimana rencanamu ke depannya?” tanya Lucas setelah meminum seteguk tehnya.
“Soal Putra Mahkota Vanhoiren?” Lucas mengangguk. “Mungkin saja dia ada hubungannya dengan pengguna sihir kegelapan itu.”
“Dana untuk meneliti sihir tidaklah sedikit. Mungkin saja ada sokongan dana dari Kekaisaran,” tambah Lucas. Aku mengangguk setuju. “Lalu, masalahnya adalah kematianmu di masa lalu.”
Clek!
Ava membuka pintu tanpa mengetuknya. Aku tak ingin berkomentar apa pun. Begitulah tabiat beliau. Meskipun bersikap seenaknya, wajahnya tetap saja tegang. Isla juga menunjukkan ekspresi yang sama.
“Yang Mulia, bisa kita bicara berdua?” Ava menatap Lucas. Lucas pun berdiri dan keluar bersama Ava. Meninggalkanku berdua dengan Isla.
“Apa yang terjadi?” tanyaku pada Isla. Isla memilih bungkam dan duduk berhadapan denganku. “Apakah terjadi sesuatu yang buruk?”
Berapa kali pun aku bertanya, Isla tetap enggan menjawab pertanyaanku. Aku tak bisa terus-menerus memaksanya untuk menjawab. Alasan di balik kejadian saat aku dibawa diam-diam oleh Lucas pun belum kuketahui jawabannya. Aku pikir seakrab apa pun aku dengan mereka, tetap akan ada dinding transparan yang membatasi aku dan mereka.
Brak!
Sekarang Lucas membuka pintu secara kasar. Mungkin saja dalam waktu beberapa tahun saja, pihak istana harus mengganti pintu ruang kerja Lucas.
“Ada apa lagi?” tanyaku akhirnya. Lucas dan Ava saling melirik lalu Ava akhirnya berdecak kesal.
“Kau harus kembali ke Vanhoiren sekarang juga,” kata Ava. Perkataannya lebih seperti sebuah perintah untukku.
Aku senang mendengar hal itu, tapi tetap saja sesuatu yang tiba-tiba membuat aku tidak tenang. “Apakah ada hal buruk yang terjadi di Vanhoiren?”
“Kalau ada hal seperti itu, sih, aku akan senang. Sayangnya bukan itu,” ucap Ava. “Ini tentangmu.”
“Aku?” Aku menunjuk diriku sendiri.
“Putra Mahkota Vanhoiren memutuskan untuk menjadikanmu calon Ratu,” ucap Ava. “Oleh karena itu, kau harus pulang.”
“Kenapa bisa begitu?! Kalian bilang ada orang lain yang menggantikanku. Dan sekarang orang itu malah membuatku menjadi calon Ratu?” Aku terbelalak. “Aku ... tidak mau ...”
Mengingat semuanya pun aku tidak sudi lagi. Aku tidak mau masuk ke lubang yang sama dan tertimbun karena hal itu. Idris bukanlah satu-satunya laki-laki yang harus kujadikan seorang suami di dunia ini. Masih banyak laki-laki yang lebih berkompeten daripada dia.
Isla menggenggam tanganku. Berusaha membuatku tetap tenang. Aku menghela napas dan menatap Ava dengan penuh tekad. “Tapi Anda pasti punya rencana, kan?”
Ava menyeringai. “Tentu saja. Pertama-tama, ambilah ini.” Ava memberikan sebuah kristal kecil berwarna ungu yang diambilnya dari kantong kecil yang selalu dibawa olehnya. Aku menerimanya dan memperhatikan kristal itu. “Itu adalah alat komunikasi sihir. Jangan dihilangkan. Harganya sama dengan satu kastil kecil di area Vanhoiren.”
“Baiklah,” ucapku gugup karena benda mahal ini ada di tanganku.
“Kau sudah kuajarkan banyak hal, Charlotte. Pastikan untuk menggunakannya dengan baik karena aku mengawasimu,” kata Ava.
Lucas mendekat padaku dan menyodorkanku sebuah pedang dengan sarungnya. Ketika kupegang, sarung pedang ditanganku ini sudah dapat dipastikan terbuat dari kulit berkualitas.
“Ini hadiah untuk kegigihanmu berlatih denganku,” ucap Lucas. Kali ini sikapnya melembut. Apa karena aku akan segera pergi, ya? “Jangan berpikiran yang tidak-tidak.”
Aku tersenyum. “Terima kasih semuanya.”
Isla memegangi lengan gaunku dan aku menoleh padanya. Kotak kecil diberikan padaku. “Bukanya kalau sudah di Vanhoiren.”
“Baiklah. Terima kasih, Isla.”
Aku pun akhirnya mulai berkemas untuk pulang ke Vanhoiren besok. Barang-barangku di Avnevous memanglah sedikit. Jadi, aku hanya mengemas barangku dalam satu koper besar saja.
Malamnya, kami berkumpul untuk mendengar rencana Ava dan Lucas yang belum sempat kudengar tadi siang di Menara Serikat Sihir. Rencananya benar-benar gila dari yang kubayangkan. Aku bahkan tak pernah berpikir jika hal seperti ini muncul dari otak seorang Penyihir Agung yang tubuhnya sering dipakai sebagai sebuah wadah Dewi Kebajikan.
Pertama-tama, aku harus menyanggupi pernikahan itu. Artinya aku harus masuk ke lubang yang sama. Namun membawa persiapan yang matang. Selagi aku mengurusi urusan Ratu, aku juga bertindak secara diam-diam menyelidiki Kekaisaran dan sihir kegelapan. Selama menjadi Ratu sejak dulu, aku memang jarang diberi kebebasan dan jarang pergi ke istana Kekaisaran. Hanya Idris yang sering berkunjung ke istana Ratu kala itu.
Lalu kemudian Isla akan menemaniku dan menyamar sebagai seorang dayang. Lucas dan Ava akan secara bergantian datang dan masuk ke dalam istana Ratu untuk mengunjungiku setelah Isla membuat portal teleportasi.
Rencana ini adalah rencana yang tidak akan bisa berjalan dengan cepat. Kekaisaran adalah tempat yang dipenuhi oleh para pasukan yang handal, pergerakan mencurigakan sekecil apa pun pasti akan dicurigai.
Apalagi, dalang dibalik pengguna sihir kegelapan masih abu-abu. Ava hanya bisa mendeteksi sihir di dalam tubuh orang lain jika berjarak kurang dari lima meter.
“Kemungkinan besar pengguna sihir kegelapannya adalah perempuan,” kata Ava. “Aku sudah menghilangkan keberadaan sihirmu dari penyihir lain selama kau tidak memakai sihir. Kau aman sekarang.”
Aku mengangguk paham.
“Sekarang istirahatlah,” perintah Ava. Baru saja semuanya berdiri, Ava menahan jubah Isla. “Kecuali kau, Isla. Kau harus kuajari cara menjadi dayang yang baik.”
“Tidaaakkk, Nona Charlotte tolong aku!” teriak Isla untuk terakhir kalinya sebelum Ava pergi menyeret Isla ke ruangannya.
Tersisa aku dan Lucas di ruangan ini. Aku menatap Lucas lalu menyadari jika dirinya juga menatapku. Kenapa suasana di tempat ini menjadi canggung?
“Apa kau takut?” tanya Lucas. Kami masih berdiri dan tidak ada yang mau duduk.
“Sedikit.” Aku sudah menceritakan kisah masa laluku pada mereka. Jadi, kekhawatiran Lucas adalah hal yang normal. “Hanya saja aku takut jika semuanya terulang seperti dulu.”
Lucas tersenyum. “Tenang saja, kau tidak akan pernah bisa disentuh oleh Putra Mahkota Vanhoiren,” kata Lucas.
“Tapi dia akan jadi suamiku, kami pasti akan melakukan kontak fisik,” kataku.
“Aku tak mau membahasnya. Aku akan pulang sekarang,” ucap Lucas. Kali ini raut wajahnya terlihat kesal.
“Baiklah.”
Aku melambai sampai Lucas pergi dengan kereta kudanya menuju istana. Aku harap semuanya berjalan seperti semula.
*
Aku tidur di kamarku dan bermimpi sedang berada di sebuah taman bunga bersama seorang laki-laki. Aku tidak tahu siapa itu. Tapi entah mengapa, aku sangat senang saat berada di sampingnya.
Apakah itu adalah pertanda baik?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments
Sulati Cus
pasti si rambut cabe merah😂
2023-05-29
0
Linda Lie
Jgn2 penyihir hitamnya si Rose kali ya
2022-04-07
1
•̀✧Alice Greenwich•̀✧
Huwweh... kak Author mending Charlotte sama Lucas aja soalnya lebih cocok Ama dia klw sama Idris bkl jatuh kelubang yg samakan pada akhirnya
aku ga terima huweee...🤧
2020-06-21
10