Grand Duke adalah orang terdekat Idris semasa masih menjadi Putra Mahkota. Aku biasa berkunjung ke kediaman Grand Duke bersama Idris dan cukup akrab kala itu. Beliau adalah sosok yang kuhormati.
Sekarang pun, beliau masih tetap seperti orang yang kukenal dulu. Kharismanya tidak bisa diabaikan begitu saja. Grand Duchess memang beruntung mendapatkan beliau. Aku sempat berbicara sedikit dengan Grand Duchess saat beliau menyapa para tamu. Yah, meskipun kami tidak akrab.
Duchess Harriston juga ikut hadir dan terlihat sedang bersama dengan Rose Hindley. Rose mengajak Duchess Harriston menghampiriku saat tatapan kami tak sengaja bertemu.
“Nona Charlotte, apa kau sudah baik-baik saja?” tanya Duchess Harriston kepadaku.
“Saya sudah baik-baik saja, Duchess. Terima kasih atas perhatiannya,” kataku setelah menunduk hormat.
Rose merangkul lenganku lalu memasang wajah cemas. “Katanya kemarin Nona Charlotte hampir saja terluka karena ingin diserang oleh pencuri yang akhir-akhir ini dibicarakan oleh seisi kota.”
Kupikir dia sudah menyerah untuk mendekatiku. Ternyata tidak. Mungkin saja dia telah meredam emosinya kemarin.
“Oh, ya ampun. Benarkah itu?!” Duchess Harriston terlihat cemas.
“Ya. Itu benar, Duchess.” Jayden sudah mengantarkan surat mengenai hal ini kepada pihak Kekaisaran. Dengan begitu, aku berharap tidak ada lagi yang mengalami hal serupa. “Saya sudah memberikan laporan dan kejadian rincinya kepada Kekaisaran.”
Rose tersenyum penuh arti. “Wah, Nona Charlotte memang selalu cepat tanggap, ya.”
“Benar kata Nona Hindley. Nona Charlotte memang berbakat dalam urusan seperti ini,” kata Duchess Harriston dengan wajah memuji.
Sekilas kulihat wajah tak suka Rose dari ekor mataku. Aku tak mempedulikannya dan kemudian tersenyum pada Duchess Harriston.
“Anda terlalu memuji, Duchess.”
“Yang Mulia Putra Mahkota telah tiba!” seru Pasukan Kekaisaran.
Kami semua menoleh ke pintu masuk kediaman Grand Duke. Idris telah tiba bersama Jack di belakangnya. Aku memilih untuk menjauh dari titik yang bisa dilihat Idris. Tepatnya ke barisan belakang. Jika aku terlalu lama melihatnya, sakit kepalaku pasti akan kambuh lagi.
Bangsawan yang lain berlomba-lomba mengajak Idris bicara. Namun, aku hanya berharap jika Duchess Harriston maupun Rose Hindley tidak membuatku bicara dengan Idris. Sekarang mereka bertiga sedang bersama dan aku berusaha untuk bersembunyi.
“Nona Charlotte!” Aku dipanggil oleh Rose.
Aku menoleh ke belakang dan Rose muncul bersama Idris dan Jack. Sebisa mungkin aku menghindari kontak mata dengan Idris.
“Aku sudah menerima surat yang kau kiriman kemarin,” kata Idris setelah aku memberi salam. “Aku juga sudah memperketat penjagaan di titik-titik kota yang Nona Winston prediksikan. Aku sangat berterima kasih tentang hal ini.”
Aku menatap lantai yang kupijaki. “Terima kasih, Yang Mulia. Sudah menjadi kewajiban saya untuk membantu Vanhoiren aman dan tentram.”
“Yang Mulia, Nona Charlotte dinilai oleh Duchess Harriston sebagai gadis yang berbakat,” kata Rose. “Jika gadis seperti Nona Charlotte berada di sisi Yang Mulia-”
Aku naik pitam dan mendelik pada Rose. “Apa maksudmu, Nona Rose Hindley? Apakah perkataan itu harus keluar dari mulutmu?”
“Itu benar, Nona Hindley. Bagaimana bisa kau bersikap sekurang ajar ini pada Yang Mulia Putra Mahkota?!” seru Jack sambil memperbaiki letak kacamatanya.
Rose menunduk serendah mungkin. “Maafkan aku, Yang Mulia. Aku sudah bersikap lancang pada Yang Mulia,” ucap Rose. Meskipun dia meminta maaf, nada bicaranya sama sekali tidak menyiratkan sebuah rasa penyesalan.
Seluruh perhatian para bangsawan termasuk Grand Duke tertuju pada kami. Aku memilih untuk mengundurkan diri dari hadapan Idris dan berpamitan pada Grand Duke untuk pulang lebih awal. Rose Hindley sudah bersikap lebih seenaknya kepadaku. Tingkahnya di masa lalu tidak separah sekarang. Tetap berada di sana bukanlah hal yang baik.
***
Tepat sehari berlalu setelah kejadian yang menurutku memalukan. Aku berdiam diri di dalam kamar sambil membaca buku milik Ava. Tidak ada batas peminjaman untuk buku biasa. Aku bisa membacanya lebih leluasa dibanding dengan buku Avnevous.
Cara mengumpulkan mana diberitahukan memiliki beberapa tahapan.
Yang pertama, aku harus berada di sebuah ruangan yang kedap suara. Karena kamar bukanlah pilihan yang tepat, aku masuk ke dalam ruangan bawah tanah yang ada di ruang kerjaku. Ruangan itu dulunya adalah ruangan milik Ibu. Dan sekarang telah menjadi tempat penyimpanan benda berharga. Sudah lama aku tidak mencoba hal-hal baru seperti ini.
Yang kedua, aku harus memejamkan mataku dan merapalkan sebuah kata-kata yang dituliskan di dalam buku selama dua puluh kali sambil mengosongkan pikiran. Terdengar agak tak masuk akal. Tapi tetap kulakukan.
Augmente mon pouvoir magique
Lalu terakhir, bayangkanlah sebuah titik biru di dalam pikiran. Buatlah titik itu menjadi cahaya yang besar. Semua sudah kulakukan, tetapi tidak ada hal menarik yang terjadi.
Ava menulis sebuah catatan di bawah tata cara tersebut.
Jika semuanya sudah dilakukan dan tidak ada yang terjadi, itu adalah sesuatu yang normal. Atau bisa dibilang, kau tidak memiliki kekuatan sihir.
Tulisannya membuatku agak gemas.
Yah, seharusnya aku tidak percaya pada sebuah buku yang ditulis oleh seorang Penyihir.
Ugh, karena sudah bertahun-tahun menjadi Ratu sikap anggunku tidak bisa hilang. Padahal, dulu aku dinilai sebagai gadis yang tomboi sebelum aku menjadi Ratu dan belum menerima tata krama serta pelajaran dasar Ratu.
Saat kecil ku sempat belajar pedang dari Jayden. Sebelum akhirnya dilarang oleh Ayah karena dapat membuat tanganku menjadi kasar.
Aku berubah karena jatuh cinta pada seorang lelaki. Dan itu adalah Idris.
Masa lalu tetaplah masa lalu. Mungkin akan kupertimbangkan kembali untuk belajar pedang bersama dengan Jayden berhubung Ayah baru memulai perjalanan bisnisnya. Aku tahu jika Jayden, Layla, dan para pekerja lainnya tidak akan membuka mulut.
Aku harus bertambah kuat.
*
“Tidak, Nona,” tolak Jayden saat aku mengutarakan keinginanku untuk berlatih pedang kembali. “Tuan Viscount bisa murka jika tahu hal ini.”
“Ayah tidak akan tahu jika kau tutup mulut, Jayden,” kataku tenang. “Aku ingin melakukannya dengan maksud untuk mempertahanan diri.”
Jayden menggeleng dengan cepat. “Tidak! Tidak boleh, Nona!” serunya histeris.
“Jika kau tidak mau melatihku berpedang, aku bisa menyewa kesatria lain yang sama kompetennya denganmu,” ledekku.
“Oh, ya ampun. Tolong jangan seperti itu, Nona. Dilatih olehku saja Tuan Viscount hampir membunuhku apalagi jika Nona Charlotte dilatih oleh orang lain. Bisa-bisa Istri dan anak-anakku akan kehilangan sosok suami dan ayah.”
Aku tertawa mendengar keluh kesah Jayden. Ya, Jayden sudah menikah dan memiliki dua orang anak laki-laki yang jika tidak salah kuhitung berumur tujuh dan lima tahun. Setiap sebulan dua kali, Jayden pasti akan pulang untuk mengunjungi mereka.
Dan saat itulah seluruh pekerjaan Jayden harus ku-handle sendiri untuk sementara. Meskipun Jayden bilang hal itu tidak perlu kulakukan, aku tetap saja tidak tahan melihat pekerjaan yang menumpuk.
“Mulai besok kau harus melatihku berpedang, Jayden.”
Jayden menghela napas. “Tapi-”
“Ini perintah,” potongku sambil pergi meninggalkannya. Aku tertawa kecil saat melihat raut wajah pasrah Jayden dari kejauhan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments
Anonymous
yah,gak ada mana dy nya,kasihan😁
2021-10-24
0
Indah Putri
jjkkk
2021-06-06
0
•̀✧Alice Greenwich•̀✧
Bhs Prancis yh dari rapalan mantra tdi
augmente mon pouvoir magique
: Tingkatkan kekuatan sihirku
2020-06-21
9