"Jadi nggak sabar, pingin cepet punya cucu," celetuk Pak Rasdan. Sontak membuat Inggit sampai tersedak makanan.
"Sayang ... kalau makan hati-hati." Biru sok perhatian. Menyodorkan minuman yang ia ambil di depannya.
Inggit benar-benar kesal, bisa serangan jantung mendadak kalau berada dalam situasi yang menegangkan seperti ini terus. Mereka bahkan tidak bersiap untuk melanjutkan pernikahan itu, apa jadinya kalau harus punya cucu? Itu pasti bukan berasal dari rahimnya, sudah jelas antara Inggit dan Biru berkomitmen tidak saling menyentuh.
Usai makan malam selesai, Inggit pikir bisa bernapas lega dan langsung pulang. Ternyata tante Diana menahannya. Mereka terjebak obrolan panjang keluarga, tentu saja gadis itu hanya diam, sesekali menimpali untuk sopan santun. Bagi Inggit, tidak ada topik yang menarik untuk dibahas kalau ujung-ujungnya soal momongan.
"Kalian nggak usah pulang ya, nginep sini aja," ujar Mama Diana.
Kalau masalah menginap, keduanya langsung kompak menyeru penolakan.
"Lain kali saja Ma, kebetulan besok ada kuliah pagi." Inggit mengemukakan alasan yang cukup logis.
"Ya ... 'kan bisa bangun lebih pagi juga, ayolah sayang ... Mama masih senang nih ada temannya," pinta Mama berharap.
"Mama sayang ... katanya pingin cepet punya cucu, ya kita butuh waktu berdua dong Mah." Biru sangat berusaha mencari alasan yang paling tepat.
"Ya ... Mama tahu, Mama bahkan udah siapin kamar buat kalian berdua, sia-sia dong." Sampai segitunya usaha Mama Diana. Tentu saja membuat Inggit merasa bersalah, ia ingin segera mengakhiri semuanya, biar dirinya tidak terjebak semakin banyak drama.
"Baiklah, karena Mama cukup baik, jadi malam ini kita nginep di sini." Mama Diana sampai berjingkrak senang mendengar keputusan anaknya.
"Lo gila! Pulang atau gue bongkar sandiwara kita di sini!" bisik Inggit penuh ancaman.
Biru mematung di tempat, mencoba memahami situasi yang pastinya bakalan menguntungkan dirinya sendiri. Sama sekali tidak mengindahkan ancaman Inggit, ia bahkan mengaku punya kartu Asnya Istrinya itu, yang membuat gadis itu terdiam dan bingung.
"Ya sudah ... kalian lanjut ngobrol di kamar saja, selamat beristirahat sayang ..." ucap Mama lalu.
"Kamu tidak menghargai betapa keras usaha mereka untuk menyatukan kita. Setidaknya kita mengikuti untuk menjaga perasaannya."
Pria itu benar-benar otak batu. Tidak pernah memikirkan dampak dari semuanya, bahkan sedikit pun mengerti perasaan Inggit yang setiap hari tidak tenang.
"Gue nggak peduli, itu urusan lo buat ngejelasin semuanya pada Mama dan juga Papa, ayolah Biru ... kerjasamanya," nego Inggit di tengah keputusan yang pelik.
"Lo pingin semuanya cepat berakhir 'kan? Jadi ... lo harus nurut supaya Mama sama Papa yakin."
"Perasaan dari kemarin-kemarin ngomongnya itu mulu, kapan terealisasinya," protes Inggit kesal.
Mereka tengah debat kecil di ruang keluarga, sementara Mama Diana dan Papa sudah beranjak dari sana.
"Lho ... kalian kok belum tidur?" seru Papa yang kebetulan melewati mereka.
"Hmm ... iya Pah, ini baru mau tidur, ayo sayang ... ke kamar," ajak Biru sok manis. Inggit benar-benar pingin muntah mendengar mulut manis sandiwaranya.
Sesampai di kamar, benar saja, ruangan yang cukup luas untuk kamar pribadi itu disetting yang begitu apik. Mama pasti niat sekali melakukan ini.
Bruk!
Biru langsung melempar tubuhnya di atas kasur begitu memasuki kamarnya.
"Hmm ... kangen banget sama ranjang, apa kabar lo dianggurin minggu-minggu ini," gumam pria itu seraya mengusap-usap kasur dengan rentangan tangannya. Matanya terpejam, menikmati khayalannya sendiri, bahkan lupa kalau di kamar ini bukan hanya sendiri.
"Lebay," celetuk Inggit berlalu, menuju sofa yang terletak di samping ranjang. Gadis itu duduk dengan tenang, mengabaikan Biru yang sama sekali tidak penting baginya.
Inggit lebih memilih bersibuk ria dengan benda pipih kesayangan sejuta umat itu. Tentu saja untuk membunuh rasa jenuh dan hiburan di kala penat, seperti sekarang ini.
Tiba-tiba satu buah notifikasi pesan masuk dari email tertera di sana. Inggit mengeryit bingung, menyorot layar ponselnya dengan hati bertanya- tanya?
[Bisa tolong kembalikan kemeja saya, besok!]~Ares
Kemarin Ares sempat meninggalkan nomor handphone dan alamat rumahnya. Tapi, gadis itu belum menghubungi kembali sama sekali, ia bahkan belum mencuci, baru merendamnya.
Kok ini orang bisa tahu alamat email gue
Inggit dibuat penasaran sepanjang malamnya, gadis itu tidak berniat membalas pesannya, tetapi merasa perlu klarifikasi.
"Woi ... lo belum tidur?" suara bass Biru tiba-tiba mampir di telinganya. Pria tersebut mendatangi lemari dan mengambil selimut bersih di sana.
"Nih, buat lo ... tidur di sofa ya? Awas aja sampai pindah ke ranjang, gue kelonin nanti," ucap pria itu mengerikan, melempar selimut ke tubuh Inggit.
Inggit menyorot tajam pria batu di depannya, dan kembali tenggelam dalam ponselnya.
"Ya elah ... nggak usah liatin gue kaya gitu kalee, gue lagi kangen pingin tidur di kasur empuk gue yang nyaman ini, jangan resek lo ya, apalagi sampai berani ngerjain gue, habis lo besok pagi," ancamnya penuh penekanan.
Sayangnya Inggit sama sekali tidak merespon perkataan Biru dengan Baik. Ia lebih tertarik berbalas email dengan pria di sebrang sana. Mengacuhkan Biru dan bersikap cuek bebek.
"Asyik banget sich ... chat sama siapa?" Biru merampas ponsel di tangan Inggit.
"Eh, handphone gue ... balikin enggak!" bentak Inggit kesal.
"Hukuman buat lo, karena mengabaikan omongan gue," cecar Biru.
"Rese' banget jadi orang, balikin!" Inggit masih bersusah payah merebutnya.
Biru naik ke atas ranjang, dan berusaha mengangkat tinggi-tinggi ponsel gadis itu. Karena kesal, Inggit sampai menarik kaus Biru dan terjadilah pergulatan sengit di antara mereka, yang seketika samar-samar terdengar gaduh dari luar.
"Ambil aja kalau bisa!" Biru melempar ponsel Inggit ke atas lemari.
Inggit benar-benar kesal setengah mati, dirinya sudah berusaha menanam sabar belakangan ini, tetapi kali ini Biru benar-benar keterlaluan.
"Ambilin! Atau ..."
"Atau apa? Bilang ke Mama sama Papa? Silahkan ... tapi, lo perlu lihat ini dulu, gue yakin lo orang yang cukup menjaga image," sergahnya cukup percaya diri.
"Maksud lo?"
Biru menampilkan gambar Inggit yang tidak senonoh dengan dirinya yang tengah berada dalam satu ranjang di ponselnya. Tentu saja tampilan muka pria itu di cat, dan itu terlihat Inggit seperti cewek murahan yang tengah ngamar.
"Lo!" Inggit jelas marah, menyorot Biru penuh dengan kilatan emosi yang menyala.
"Hapus nggak! Gue nggak pernah ngerecokin hidup lo, tapi kenapa lo jahat sama gue!" bentak Inggit murka.
Biru malah cengengesan tidak jelas, benar-benar tidak berperasaan.
"Udah lah, nggak usah marah-marah, kalau lo pingin gambar-gambar ini aman, tidak sampe tersebar ke seantero kampus, ya lo nurut aja! PAHAM!" sarkasnya sinis.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Nur fadillah
Ternyata Biru yaa...
2023-02-15
0
Julyzee
ikh ikh ikh... keknya si biru uda mulai ada percik percikkan nyaman deh
2022-12-24
0
Julyzee
😂😂😂
2022-12-24
0