"Wao ... ada mangsa nih ...!" Tiga pemuda nampak bergerombol saling bersiul. Mereka saling melirik, tersenyum iblis sambil mendekati Inggit yang sudah berhenti waspada.
Astaghfirullah ... gue dalam bahaya.
Inggit menyorot waspada, dalam hitungan ketiga gadis itu harus mundur dan berlari sejauh mungkin. Langkah kecilnya terhenti kala seorang pria tiba-tiba sudah menghadangnya di balik punggungnya.
"Mau kemana cantik?" tanya pria tersebut tersenyum mengerikan.
"Jangan mendekat!" bentak Inggit tegas.
Ketiga pemuda itu malah saling tertawa melihat pertahanan Inggit. Satu pemuda mencoba maju lebih dekat, ingin mencekal lengan Inggit, namun sebelum pria itu berhasil, Inggit selangkah lebih gesit dengan menepis kasar dan berlari dengan jeritan minta tolong.
Inggit jelas panik, tiga pemuda banding satu dirinya, bukan tanding dan lawan yang mumpuni. Satu-satunya jalan ialah berlari secepatnya meninggalkan lokasi.
"Dasar, cewek sialan! Lo masuk kawasan kita, itu artinya lo sama aja nyerahin hidup lo ke kita," tukas pemuda itu tertawa sumbang.
"Maaf Bang, saya cuma mau pulang, ini jalanan biasa, tolong lepasin," mohon Inggit cemas. Perempuan itu kalut bukan main di bawah tiga pemuda yang mengelilinginya saling mengunci, tanpa memberikan kesempatan untuk Inggit kabur.
"Malam ini, lo punya kita gadis manis," ucap salah satu pemuda menatap Inggit penuh kilatan napsu.
Inggit berteriak histeris, memberontak cekalan pemuda yang hendak menariknya.
"Hentikan! Lepasin cewek gue," murka Ares menatap nyalang tiga pria yang tengah mengerubungi gadis itu.
"Heh, lo siapa? Nantangin kita?!" tantang pemuda paling tinggi di antara tiga pria tersebut.
"Lepasin! Berani kalian menyentuh seujung kuku pun, habis kalian!" bentaknya sangar.
"Wah ... mau jadi sok pahlawan nih orang." Satu pemuda maju dan langsung melawan Ares.
Ares berkelit, dengan sigap memangkas pukulan lawan dalam satu telakan.
"Mampus lo!" sarkasnya kejam, memukul dengan membabi buta tanpa ampun.
Ketiga pria brengsek itu maju bebarengan menyerang Ares. Tiga banding satu, pemilik sabuk hitam itu tentu masih unggul dalam menangkis serangan, ketiga pria tersebut mampu dilumpuhkan Ares tanpa perlawanan yang berarti.
Dalam sekejap, pria-pria kurang ajar itu memohon ampun dan bersujud. Tentu saja Ares tidak mengampuni, enak saja, pria brengsek itu bahkan hampir berlaku kurang ajar dengan gadis yang disukainya, tiada ampun bagi ketiganya, mereka harus mendapat ganjaran yang setimpal.
"Kali ini lo lagi apes karena bertemu dengan gue, jangan harap gue mau melepaskan kalian," sarkasnya tegas. Ares menghubungi asistennya Edo, mereka semua dibawa ke kantor polisi dan harus diadili.
Inggit masih menangis ketakutan, malam yang mencekam semakin menambah rasa kalut yang menyelimuti hati. Ares membuka jasnya, dan menyelimuti ke pundak Inggit.
"Jangan takut, ayo aku antar pulang," titahnya lembut, ikut berjongkok mensjajarkan Inggit yang masih tersedu dengan isakan.
Tangan Ares terulur mengusap buliran bening di pipi Inggit yang ayu. Gadis itu masih syok, kejadian tadi benar-benar pengalaman paling mengerikan dalam hidupnya.
Inggit bergeming, memberanikan diri menatap pria tampan di depannya dengan mata basah.
"Makasih," ucap Inggit lirih. Gadis itu terasa lemas, kakinya tak mampu berdiri saking syoknya. Ares langsung menggendong dan membawanya ke dalam mobil. Inggit terlihat sangat menyedihkan, berbeda sekali dengan Inggit yang beberapa jam lalu ia temui, masih jutek dan galak.
"Ini kawasan rawan, lain kali jangan berkeliaran di jalan malam-malam," nasihat pria tersebut.
Inggit hanya mengiyakan dengan mengangguk, tak banyak kata yang terucap, gadis itu benar-benar merasa masih ketakutan.
"Jangan takut, aku nggak akan gigit," selorohnya mencoba merilekskan suasana yang lumayan menegang.
"Alamat rumah kamu mana? Biar aku antar?" tanyanya khawatir dan harus segera mengantar sampai rumah.
Inggit menggeleng lemah, pulang ke rumah Biru jelas bukan solusi, dirinya bahkan masih kesal dengan kejadian pria tega itu yang menurunkan di sembarang jalan, hampir mencelakai dirinya.
"Kamu nggak punya rumah? Tempat tinggal sementara, kost-kostan, atau penginapan?"
Lagi-lagi Inggit menggeleng lemah. Ia tidak mungkin pulang ke rumah Romo dalam keadaan sekalut ini, terlebih diantar pria lain. Orang tuanya itu pasti akan berpikir macam-macam tentang dirinya.
Ares nampak membuang napas kasar. Pria itu tidak mungkin membawa pulang Inggit ke rumah Bunda, bisa habis kena ceramahnya sepanjang masa, yang pasti bikin kuping panas nggak ketulungan.
Pria itu berpikir keras, dengan terpaksa membawa gadis itu ke apartemennya.
Tentu saja jangan sampai ada yang melihat, dirinya bukan sejenis pria nakal yang menganut asas bebas kehidupan. Sangat menjunjung nilai kesopanan dan tanggung jawab.
"Sementara kamu tinggal di sini dulu, nanti kalau kamu udah merasa baikan, aku antar cari kost-kostan," ucap Ares menenangkan.
"Makasih," jawabnya datar, menatap pria baik hati yang tengah menatapnya begitu intens.
"Kenapa ini bisa terjadi, siapa yang melakukan ini semua, aku lihat kamu datang dengan Nathan, terus kamu pulang masuk ke mobil Biru, kenapa kamu bisa berakhir di jalanan, apa ini ulah Biru?" tanyanya lembut. Namun, syarat akan interogasi.
"Mungkin hari ini gue lagi sial, naas, dan apes. Makasih udah nolongin gue," ucapnya sungkan.
"Kamu belum jawab pertanyaan aku, Nggit! Untung aku mengikutimu, coba kalau tidak, aku bahkan nggak tahu apa yang terjadi padamu, aku bener-bener murka atas insiden ini, siapapun yang ngelakuin ini ke kamu, nggak bakalan aku lepas."
Inggit menatap haru cowok tampan yang belakangan ini mulai hadir dalam hidupnya. Inggit tidak pernah menyangka malam ini Ares adalah pahlawan untuk dirinya.
"Maaf, atas sikapku yang kurang sopan tempo hari," sesal Inggit.
Ares bergeming, tidak membalas omongan apapun. Ia hendak berlalu namun Inggit menahannya.
"Jangan pergi, gue takut," ucap Inggit gusar.
"Mau ke kamar mandi, gerah," ucapnya sambil lalu.
Pria itu meninggalkan Inggit setelah memastikan gadis itu tenang. Membersihkan dirinya dengan durasi yang cukup singkat. Setelah bersih, keluar begitu saja hanya dengan handuk yang melilit pinggangnya, dengan percaya dirinya pria itu berjalan mendekati lemari dan mengambil ganti di sana. Inggit memalingkan wajahnya, tentu saja ia malu, dirinya bahkan baru saja saling mengenal dan sekarang hanya berdua saja dalam satu ruangan.
"Ini baju gantinya sementara, kamu bersih-bersih dulu, aku sudah nyuruh Edo buat beliin barang pribadi kamu," jelas pria itu teliti.
Inggit menurut, di kamar mandi Inggit lumayan lama. Gadis itu meringis, merasa pundaknya perih, goresan akibat cakaran Biru melukai kulit mulusnya. Gadis itu kembali menangis, ternyata hidupnya ini benar-benar timpang, harus berdampingan dengan pria yang bahkan tak pernah menganggapnya ada.
Inggit ke kamar mandi dengan balutan baju rapih pemberian Ares. Kemeja kebesaran yang membalut tubuh gadis itu membuat tatapan Ares gugup, pria itu memalingkan wajahnya untuk menghalau desiran aneh di dada.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Nur Aini
semoga Author jodohin inggit dengan ares😥
2023-11-09
1
Fe
inggit sama ares aja ya 😍
2023-03-30
0
Nur fadillah
Wa..o...o.....🤣🤣🤣
2023-02-16
0