"Permainan macam apa ini? Lo pikir gue mau menikah dengan lo, dasar sinting!" omel Inggit sendiri setelah Biru berlalu.
Gadis itu kembali ke dalam kelas dan menyambar tasnya yang tertinggal. Melesat ke luar dengan muka kesal. Masih ada satu lagi makul yang harus ia ikuti, namun karena moodnya yang cukup buruk membuat ia tidak minat untuk mengikuti.
Perlahan ia ayunkan langkahnya menuju parkiran, mendekat ke arah motor yang terparkir miliknya. Hatinya bertambah dongkol menemui fakta kenaasan dirinya.
"****!! siapa yang ngelakuin ini sih?" Inggit menendang ban motornya yang mendadak kempes padahal baru kemarin sore gadis itu ganti ban motor.
"Awas aja sampe gue tahu siapa pelakunya, habis lo sama gue," ancamnya sengit, sarat akan dendam yang menyala.
"Nggit, kenapa lo? Bannya kempes?" Hilda menghampiri dengan muka prihatin.
"Iya nih, kayaknya ada yang sengaja ngelakuin ini ke gue deh," curhatnya gusar.
"Sabar ya Nggit, gue bantu dorong ke bengkel depan yok?" tawarnya penuh dengan persahabatan. Inggit mengangguk setuju.
Dengan semangat Inggit mendorong motor kesayangannya.
"Da, ngapain?" Tiba-tiba Biru muncul dengan gaya congkaknya. Motor gede yang ia bawa sengaja ia gas kenceng-kenceng menimbulkan suara yang tidak ramah lingkungan.
"Hai, beb. Ini lho, kempes," curhatnya menunjuk prihatin. Spontan Inggit dan Hilda berhenti sejenak karena Biru yang menghalangi jalan.
"Ayo cabut, kamu lupa kita punya janji?" ajaknya pada Hilda, sekilas melirik Inggit acuh penuh dengan permusuhan.
"Tapi beb, gue mau nganter Inggit dulu, kasihan."
"Nggak pa-pa Da, tinggal aja, udah deket kok," jawabnya kalem. Membalas lirikan Biru tak kalah sengit.
"Sorry ya Nggit, gue tinggal," sesal Hilda dengan tatapan memelas.
Inggit menatap kepergian mereka dengan biasa saja, entah itu sebuah karma atau apa? Tapi kalau sampe Inggit menikah dengan Biru, ia menikah dengan orang yang sama sekali tidak ada dalam list kriterianya.
Mampus lo
Batin Biru berteriak, menatap puas atas ulahnya sendiri. Meninggalkan Inggit tak berperasaan.
Inggit meneruskan kegiatannya, ia menganggap hari ini mungkin sedang tidak seberuntung hari kemarin. Antrian panjang di bengkel membuat gadis itu tertahan.
"Mas masih lama ya? Ngantri berapa?"
"Lumayan, lima mbak."
"Oalah ... lama juga ya, kalau saya tinggal dulu gimana Mas, saya masih ada kelas soalnya," tukasnya lugas.
"Oh, bisa mbak."
Sepertinya bolos memang tidak cocok untuk passion Inggit, terbukti ingin mangkir dari kelas pun, Tuhan sudah tidak meridhoi. Terbukti dengan kejadian ini, dari pada Inggit menunggu terlalu lama, sudah barang tentu lebih bermanfaat ia ikuti kuliah selanjutnya.
Hampir sesorean gadis itu sampe di depan pekarangan rumahnya. Sayup-sayup terdengar tawa pecah orang mengobrol, Inggit yang masuk rumah tak lupa memberi salam.
"Ini nih yang di tunggu-tunggu pulang juga," seloroh Tante Diana.
Inggit tersenyum simpul, menyalami kedua orang tuanya dan orang tua Biru dengan takzim.
"Sayang ... kamu makin cantik aja," pujinya jujur.
"Makasih Tante," jawab Inggit sopan, karena lelah dan juga penat, Inggit memutuskan untuk pamit ke belakang.
Inggit mengenal baik-baik kedua orang tua Biru, mereka sering berkunjung ke rumahnya sedari Inggit tidak tahu mau di jodohkan dengan anaknya. Gadis itu sempat mengemukakan rasa sungkannya atas perjodohan ini, hingga membuat Romo dan juga Biru murka.
"Bagaimana kalau tunangan dulu aja jeng?" Itu suara Tante Diana.
"Saya sih terserah baiknya gimana, sepertinya anak kita juga sudah kenal walaupun belum dekat."
"Langsung menikah saja Ma, Biru sudah setuju kok," usul Pak Rasdan yang langsung diangguki Pak Tama.
Inggit yang menangkap obrolan mereka dari ruang tengah mendengar dengan gusar, apa jadinya kalau sampai pernikahan itu nyata, bukankah sudah pasti Inggit tak akan menjalani dengan mudah.
Hari berikutnya pertemuan kedua keluarga pun dilakukan. Ini adalah lamaran yang di nanti-nantikan keluarga Pak Tama dan Pak Rasdan, karena sebentar lagi mereka akan menjadi besan.
Inggit duduk diantara segerombol orang yang tak lain adalah keluarganya. Gadis itu menatap lurus ke depan, segaris dengan Biru yang duduk di pojokan. Mata mereka bertabrakan, sudah jelas menatap dalam mode permusuhan.
Tante Diana baru saja menyematkan cincin ke jari manis Inggit sebagai tanda bahwa gadis itu telah terikat pertunangan dengan Biru. Acara berlangsung cukup hikmad, hanya keluarga inti dan kerabat dekat saja.
Yang membuat Inggit syok, pernikahan mereka bahkan akan dilangsungkan dua minggu dari sekarang. Tak bisa protes, apalagi menentang kesepakatan yang telah dibuat, baik Biru dan Inggit sama-sama terdiam dan mengikuti dengan tenang.
Suasana keakraban masih terasa di antara kedua keluarga tersebut. Biru menghampiri Inggit yang tengah duduk menyamping, sedikit menepi dari segerombolan orang yang tengah berbahagia versi mereka.
"Ehem," Biru berdehem duduk di sampingnya dengan muka datar.
"Gimana perasaan lo, Nggi, seharusnya lo bangga 'kan? Karena sebentar lagi bakalan jadi nyonya Rasdan," bisiknya dengan nada mengejek.
"Ngapain lo, sana pergi nggak usah sok care," jawabnya ketus.
"Well, nikmati saja alurmu yang tenang," ucapnya sarkas dengan nada penuh penekanan.
"Gue mau bilang ke Hilda," ucap Inggit menghentikan gerakan Biru yang hendak beranjak. Pria itu kembali duduk dan menatap tajam ke arah Inggit.
"Gue nggak sanggup bohongin dia, dia sahabat gue sedari dulu, dan lo tiba-tiba datang mengacaukan semuanya," adunya dramatis.
"Sebaiknya tak usah repot-repot girl, karena pernikahan kita hanya sementara dan sebagai formalitas saja, gue pastikan akan bercerai setelah apa yang gue mau dapat," jawabnya lugas, meluncur tanpa beban.
Oh ya ampun ... ayolah nggit, berfikir dari sekarang, masih ada harapan untuk menggagalkan pernikahan konyol ini.
Inggit bergeming, menatap punggung Biru yang berjalan menjauh. Entah apa yang salah dalam dirinya, kenapa harus menjalani ikatan yang menyedihkan begini.
Ia menatap sendu cincin yang melingkar di jari manisnya. Gadis itu sudah kembali ke kamarnya dengan pikiran yang menerawang, lengkap dengan background kegalauan yang teramat nyata. Dirinya bahkan tak diberikan kesempatan untuk berkelit sejenak saja, atau setidaknya sama-sama menjelaskan ke Hilda, yang notabene sebagai kekasih dari calon suaminya dan juga sahabat akrabnya.
Inggit menatap sendu, akan sebenci apa Hilda padanya kalau sampe ia tahu atas kebohongan semua ini. Walaupun percintaan mereka terkesan cuek dan bebas, tapi mereka saling terikat kuat tanpa enggan terpisah.
Biru sendiri bahkan sudah tidak pernah bermain dengan banyak wanita semenjak mengenal Hilda. Hubungan mereka yang terlampau jauh, kontras membuat Inggit semakin ingin keluar dari ikatan yang seakan menjeratnya.
Pokoknya gue harus bisa membatalkan pernikahan ini. tekad Inggit yakin.
Gadis itu mengirim pesan singkat pada sahabatnya dan mengajak ketemuan bersama.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Ney Maniez🍒⃞⃟🦅
geli ma cowo kyk gt🤦🏻♀️
2024-03-22
0
Lilisdayanti
aqu tunggu bucin mu biru,,
2022-11-30
1
Aisyah Septiyasa
Pernikan cuma sementara tp ujung2nya akan menjadi pernikahan selamanya sampai menua bersama
2022-11-06
1