"Ya ampun ... kebo banget sih, suruh bantuin ngerjain tugas malah tidur, gue bales biar besok lo bangun tidur dapat kejutan."
Biru benar-benar kesal suruh bantuin malah dengan enaknya tidur tanpa dosa. "Dasar cewek nyebelin, gue buat lo ngerasa jijik sama gue lebih dalam. Sampe lo benar-benar nggak betah dan menyerah, terus merengek minta pisah sama Papa. Hahaha ... "
Biru mendekati Inggit yang sudah terlelap, pria itu nekat membuka beberapa kancing piyama Inggit dan menyebabkan pandangan yang luar biasa menantang.
"Sial, kok gue jadi halu sama nih cewek, nggak banget! Akhh ... gue salah mode nih ... lagian nih cewek dikerjain juga merem aja, apa nggak takut gue perkosa?" Biru bergumam-gumam lirih.
"Lanjutin nggak ya? Lanjut, nggak, lanjut, nggak, lanjut aja deh, biar lo tambah syok, pagi-pagi kena serangan jantung terus mati."
"Eh, tapi ... nggak banget gue sentuh-sentuh tuh cewek." Biru terus memutar otaknya.
Sebenci itukah Biru terhadap Inggit? Iya, Biru membenci Inggit lebih dari hanya sekedar ingin membuat gadis itu menyerah dan meminta pisah secara suka rela. Biru tidak tahan terus dituntut keluarganya untuk memenuhi semua keinginannya, nyatanya cinta itu tidak bisa dipaksakan. Sekuat orang tua mereka menjodohkan, antara mereka berdua bagaikan air dan minyak, walaupun dekat tetapi tidak bisa saling menyatu menjadi manis.
"Sorry, Nggit, tapi lo bikin gue muak."
Biru tersenyum sinis, pria itu memalingkan wajahnya di saat tangan lucknut itu membuka keseluruhan kancing piyamanya. Tidak munafik jiwa playernya memburu, tapi tentu saja Inggit bukan targetnya. Ia cukup setia belakangan ini dengan Hilda, ngomong-ngomong soal Hilda, Biru tersenyum sendiri bakalan menghabiskan liburan bersama.
"Aku, akan membunuh mentalmu secara perlahan, seberapa kuat kamu bertahan, mari kita lihat?" Biru tersenyum senang, menutupi seluruh tubuh Inggit dengan selimut dan mengangkat gadis itu menuju ranjangnya.
"Permainan akan segera dimulai, lo bakalan syok, lihat pemandangan pagi hari diri lo sendiri," ujarnya bergumam lirih.
Pagi harinya Inggit merasa tidurnya semalam begitu nyenyak. Gadis itu membuka matanya, bangkit dan hendak turun. Namun, ia baru saja sadar bahwa semalam ia bukan tidur di ranjang, melainkan di sofa, Inggit bingung sendiri.
Inggit menoleh ke samping dan menemukan Biru yang masih terlelap dengan bertelanjang dada. Gadis itu membelalakkan matanya kaget, dan langsung menyingkap selimut yang membungkus tubuhnya sendiri. Melihat dirinya yang acak-acakan dengan semua kancing piyama terlepas, Inggit langsung menyimpulkan hal negatif terjadi pada dirinya.
Gadis itu menutup mulutnya yang ingin memekik, masih belum bisa menyimpulkan dengan situasi yang telah terjadi.
Apa yang udah gue lakuin, kenapa gue musti seranjang sama pria itu? Ya ampun ... nggak! Nggak! Ini nggak boleh sampe terjadi, tapi kenapa gue nggak inget, kalau nglakuin seharusnya gue inget dong ...!
Inggit langsung melesat ke kamar dengan wajah bingungnya. Ia juga tidak merasakan apapun pada tubuhnya. Menurut sepengetahuannya, melakukan pertama kalinya itu akan terasa sakit, dan Inggit tidak merasa demikian.
Tok! tok tok!
"Inggit! Buka dong ... gue mau mandi!" teriaknya menggema dari luar.
Inggit merampungkan mandi dengan cepat, ia merasa bingung tapi malu ingin bertanya pada Biru. Gadis itu membuka pintu kamar mandi, netra mereka bertemu, Inggit menyorot dengan penuh tanda tanya sedang Biru lempeng aja, cuek dan dingin.
"Kenapa? Kagum lihat tubuh gue, bukannya lo semalam udah ...!"
"Udah apa?" tanyanya sengit demi membunuh rasa penasaran.
"Menurut lo?"
Plakk
Inggit geram, ia muak dengan muka cengengesan dan tingkah songong pria di depannya. Dirinya bahkan sudah bertekad tidak ada kontak fisik dalam bentuk apa pun, mengingat Biru adalah partner ranjang sahabatnya. Inggit tidak sudi sekaligus tidak mau berkhianat dengan apa yang sudah dibatin raganya.
"Sialan, lo berani nampar gue?" bentaknya marah.
Merasa kesal dengan cewek sok suci di depannya pun, Biru langsung menarik tengkuk Inggit dan melum*t bibir istrinya dengan rakus.
Inggit jelas memberontak, gadis itu menampar yang kedua kalinya pada Biru. Ia merasa sakit hati atas perlakuannya yang semena-mena atas dirinya. Inggit berlalu dengan wajah memerah kesal. Sementara pria itu memegang pipinya yang terasa panas. Ia tidak menyangka respon Inggit semurka itu, itu hanya sebuah kiss.
"Cewek gila, semua orang bahkan mengantri ciumanku, mendambakan tubuhku, dasar muna!" gerutunya kesal membanting pintu kamar mandi.
Inggit benar-benar dongkol setengah mati. Biru salah satunya sudah mengingkari perjanjian mereka yang telah disepakati. Apa yang ingin Inggit katakan terhadap Hilda, nantinya.
Sama halnya dengan Inggit, Biru juga pagi-pagi memendam kesal yang sama. Ekspektasinya, ia akan terbangun karena jeritan Inggit dan berakhir gadis itu struk atau pingsan mungkin, eh malah dirinya yang dibuat darah tinggi. Harga dirinya sebagai makhluk Tuhan paling tampan seantero kampus jatuh di mata Inggit, Biru merasa tamparan itu sangat memukul batinnya. Ia seorang pria, bahkan berstatus sebagai suaminya, andaikan ia mau tentu halal bagi Biru untuk menyentuhnya. Kenapa Inggit bahkan semurka itu.
Sialnya hari ini adalah hari libur, mereka terjebak berdua di rumah. Di luar hujan, tentu saja mager untuk beraktifitas. Inggit dan Biru masih perang dingin, sedingin udara saat ini, untuk membunuh rasa jenuhnya pria itu sengaja bertelepon mesra dengan Hilda dan asyik merencanakan liburan bersama.
Inggit bergeming, sejauh ini ia tidak akan pernah mengusik kehidupan pribadi Biru, ia tidak mau tahu apa pun yang pria itu lakukan. Asal ... Biru masih setia menjadikan dirinya janda tanpa tersentuh sesuai kesepakatan yang telah disepakati.
Hari sudah lumayan siang, namun karena rintik hujan masih melanda, Inggit pun masih stay di kamarnya. Sementara Biru sendiri masih cekikikan dengan congkaknya di ruang tamu, masih sibuk mengobrol di telphon.
Inggit yang merasa lapar, lantas bangkit dari kamar. Ia menilik isi kulkas, dan ternyata isinya penuh semua bahan makanan. Mungkin Biru yang mengisi, atau Mama mertuanya yang begitu sangat pengertian dan baik hati itu.
Inggit bersiap untuk membuat sarapan, tiba-tiba pria itu beralih ke meja tengah yang terhubung langsung dengan dapur. Sudut mata Inggit menangkap bayangan yang sama, Biru masih asyik mengobrol, tapi kali ini cowok tersebut telah mengubah menjadi vidio call, dengan dirinya yang masih santuy duduk si ruang makan.
"Sayang, itu tempatnya kok kaya asing di mana sih?" Hilda berujar aneh pada tempat tinggal Biru sekarang.
"Owh ... aku sedang main di tempat teman," ujar Biru santai.
"Coba aku lihat, teman kamu yang mana?"
Biru mengarahkan kamera ponselnya ke seluruh ruangan, tak sengaja menangkap punggung bayangan Inggit yang tengah sibuk di dapur.
"Mana, teman kamu perempuan?"
Biru langsung berkilah mendengar pertanyaan kekasihnya.
"Bukan lah, cowok, lagi mandi di kamar mandi. Itu tadi pembantu rumah di sini, lagi masak kan dia siapin sarapan buat Tuannya," jelas Biru tanpa dosa.
"Owh ... aku kira kamu kumat lagi dengan membawa wanita lain ke tempatmu main."
"Nggak lah, selama masih ada kamu yang setia, aku bakalan stop perempuan mana pun," ujarnya bangga.
Inggit merasa kupingnya mulai panas, sepertinya Biru sengaja membuat gara-gara. Namun, perempuan itu masih sabar, berusaha menahan emosinya. Ia sama sekali tidak terpengaruh dengan telephon mesra laki-laki itu. Namun, ia sedikit tersinggung ketika mendengar perkataan Biru yang menyebut dirinya hanyalah pembantunya saja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Fe
inggit sama ares aja, kayanya jauh lebih baik
2023-03-30
0
Nur fadillah
Heem...hemmm
😣😣
2023-02-15
0
Julyzee
suka aj bacanya...
2022-12-24
0