Hilda menatap heran pesan beruntun yang dikirim Inggit padanya. Gadis itu bahkan sampi membaca ulang karena belum begitu mudeng dengan arti pertemuan mereka, yang mana Inggit ingin bertemu di suatu tempat dan perempuan itu harus membawa kekasihnya Biru.
"Kenapa Da? Ngajak keluar sepagi ini? Kamu nggak ada kuliah?"
"Kosong, tapi ada yang lebih penting, ini tiba-tiba Inggit ngajakin kita ketemuan, katanya penting," jawabnya penasaran.
"Sepenting apa, coba aku lihat?" Biru menyambar ponsel kekasihnya dari tangannya.
Sial, baru gue peringatin, berani berulah lagi?
"Owh ... biarin aja beb, mendingan kita nonton. Atau kita main ke hotel, lama nih nggak ngecas," ujarnya mengerling.
"Nggak bisa gitu dong beb, ini pasti Inggit penting nih, nggak mungkin banget kalau nggak urgent, dia udah pasti ngomong di telfon tanpa harus ketemu banget gitu, tapi yang aku heran kenapa aku harus ngajak kamu?" tanyanya mulai ada yang ganjil.
Biru berkilah, ia sebisa mungkin mencoba untuk tidak menampakan muka curiga yang sejatinya ia khawatirkan. Biar bagaimanapun Hilda adalah satu-satunya yang tengah mengisi jiwanya saat ini, walaupun ia sejatinya seorang player tetapi dengan kehadiran wanita ini mampu membuat ia teralihkan dengan dunia bebasnya yang sudah mendarah daging.
Biru akui, ia sering bermain dengan banyak wanita, bahkan hubungannya dengan Hilda sudah terlampau jauh, namun ia belum berniat untuk menikahinya sekarang, karena menikah memang nomor sekian untuknya. Selain dirinya yang masih begitu muda, ia juga masih ingin puas untuk melajang.
Biru selalu bermain tanpa jejak, pria dingin itu hanya ingin kepuasan dengan memberikan materi tanpa mau adanya ikatan cinta, hanya dengan Hilda lelaki itu menjalin asmara, itu pun Hilda rela memuaskan pria itu supaya tidak berkeliyaran menjamah wanita lain di club.
Track rekord pria itu memang sudah tidak bisa diragukan lagi, jangan pandang usianya, kelakuannya jauh lebih matang dari semenjak pria itu SMA. Paras yang dimiliki bak arjuna mampu membuat semua wanita bertekuk lutut padanya, di tambah anak semata wayang dari seorang pengusaha kaya raya, sempurna membuat sebagian wanita tunduk akan materinya.
"Lebih penting mana, aku atau sahabat kamu itu, hmm," Biru mengendus wajah kekasihnya.
"Oke, aku cancel pertemuan dengan Inggit, kita main ya?" jawabnya antusias.
Mereka menuju kost Hilda yang tidak begitu jauh dari kampus. Perempuan itu tinggal di sebuah kost elit, yang tak lain dibiayai Biru. Laki-laki itu memang sangat royal, orang tuanya yang begitu memanjakan tak urung menjadi bomerang dalam dirinya.
"Kamu masih rutin pake KB, 'kan?" tanyanya memastikan. Laki-laki itu selalu bermain di luar, hanya dengan Hilda yang berani tembak di dalam itu pun tetap tak mau rugi dengan menyuruh perempuan itu rutin mengkonsumsi kontrasepsi tersebut.
"Masih," jawabnya sendu.
Ada sisi senang karena masih merasa di pake oleh kekasihnya, tapi ada sisi sendu itu artinya Biru masih enggan untuk serius dan bertanggung jawab.
"Aku suka posisi ini, one on top, kamu paling bisa memuaskan aku," ujar pria itu tersenyum puas.
"Aku pasti akan selalu membuatmu puas beb, asal jangan jajan di luar," ucapnya tersenyum nakal.
Mereka berdua menghabiskan siang mereka dengan kenikmatan dunia yang semu. Walaupun Biru tidak pernah mendapatkan keperawanan Hilda, tetapi ia cukup puas dengan permainan yang disuguhkan kekasihnya itu.
Biru memang sebrengsek itu, ia tidak munafik, kebebasan saat ini adalah prioritas utama. Baginya itu adalah sebuah hiburan anak muda, di tengah padatnya rutinitas sebagai mahasiswa, dan banyaknya aturan yang diberikan dari orang tuanya.
Biru baru saja mandi, sedang Hilda masih bersantai di bawah gelungan selimut dengan tubuh polosnya.
"Aku cabut dulu ya? Kamu istirahat saja, capek 'kan?" ujarnya tersenyum, melangkah ke luar dan segera menuju tempat tujuan.
Diam-diam tanpa sepengetahuan Hilda, Biru menemui Inggit.
"Wah ... sepenting ini sampe rela nungguin gue dan juga Hilda ke sini," ujar pria itu tiba-tiba sudah berada di sekitar Inggit.
Inggit menanti berjam-jam, dan yang datang ternyata Biru, padahal Inggit tidak memberi tahu Biru, ia hanya memberitahu Hilda dan ingin menjelaskannya.
"Mana Hilda?" tukasnya tak sabaran.
"Dia tidak akan datang, dan lo benar-benar memuakan!" bentaknya marah.
"Lo mengacaukan segalanya? Mari kita batalkan pernikahan kita sama-sama, gue bakalan bantuin bilang ke Tante Diana kalau lo sudah punya pasangan," ucapnya yakin.
"Percuma, nggak bakalan didengerin, sampe mulut lo berbusa juga sia-sia belaka, karena lo pilihan orang tua gue. Tapi, jangan harap gue mau ngejalanin rumah tangga ini semulus orang tua kita, nggak akan."
"Kalau lo mengiyakan, itu sama saja lo mengkhianati Hilda, Biru, lo cinta 'kan sama Hilda?" tanyanya memperjelas.
Inggit prihatin dengan hubungan mereka kalau tidak sampe berakhir di pernikahan. Dirinya bahkan orang yang pertama menentang, karena Inggit berharap Hilda mendapat pria yang jauh lebih baik, tapi kalau pada akhirnya Biru itu memilih menikahi dirinya itu Inggit lebih menentang lagi.
Biru terdiam sejenak, "Cinta lah, gue nggak akan pernah khianatin, kita tetap akan menikah, dan lo tenang aja karena gue nggak akan sudi menganggap lo sebagai istri gue, jadi ... kita tidak harus bersikap layaknya suami istri. Pernikahan ini hanya akan dilakuin secara diam-diam, dan mari kita lakuin sandiwara ini," jelasnya panjang lebar.
"Anggap saja lo bantuin gue buat mendapatkan segalanya, dan lo bantuin keluarga lo buat nurut padanya."
"Berapa lama, dan kapan kita bercerai?"
Biru tertawa mendengar pertanyaan Inggit, belum juga menikah sudah membahas cerai, tapi memang ini yang dinginkan Biru, jadi, laki-laki itu tidak perlu khawatir dengan kesepakatan yang telah dibuat.
Cukup menarik
"Secepatnya, setelah Papa mengesahkan semua harta warisan hanya untuk aku seorang," jawabnya yakin.
"Apakah ada jaminan bisa lebih cepat, gue tidak mau dirugikan dalam bentuk apapun!" camnya tegas.
"Lo hanya akan menyandang status janda Tuan Albiru Rasdan tanpa tersentuh."
Inggit sedikit lebih lega mendengar hal itu. Walaupun yang dilakukan padanya sebuah perjanjian konyol, tapi bagi Inggit akan lebih baik, sebab ia akan sangat dirugikan dengan perjodohan tanpa cinta ini.
Kesepakatan diperoleh keduanya, Inggit berharap semua berakhir cepat tanpa banyak drama. Persahabatan tetap terjaga tanpa ada yang tersakiti di antara keduanya.
"Oke, deal. Apa yang gue dapat jika lo melanggar dengan membocorkan semuanya?"
"Maksud lo?"
"Kalau sampe rencana gue berantakan, gue mau imbalan yang setimpal," tukasnya tegas dengan senyum smirk yang membuat Inggit menatap muak.
Inggit bergeming, apa maksud dari semua perkataannya, apakah kehancuran keluarganya. Mengingat keluarga pria itu punya kuasa.
"Kita, akan menikah besok," ucapnya yakin.
Inggit membelalakkan matanya kaget, gadis itu benar-benar tidak menyangka akan lebih cepat dari perkiraan yang ada.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Ney Maniez
waduhh 🏃🏻♀️🏃🏻♀️
2024-03-22
0
Nur fadillah
Atuuuttt....😥😥
2023-02-15
0
Nur fadillah
Mengerikan....
2023-02-15
0