"Eh, enggak ya, mana ada sengaja. Maaf, tapi aku sedang buru-buru," ucap Inggit penuh penyesalan.
Gadis itu hendak melangkah menjauh, namun tangannya tiba-tiba dicekal pria itu.
"Kamu harus bertanggung jawab," ucapnya dingin menghunus ke arah Inggit.
"Hah, ya ampun ... kotor dikit doang juga. Oke deh, gue cuciin," pasrah Inggit mengalah.
"Ini kemeja mahal, terbiasa dicuci dengan detergen terbaik, tapi ada yang lebih mahal, kamu ... telah membuang waktu berharga ku beberapa menit yang lalu karena tertahan di sini."
Inggit melongo mendengarkan penuturan pria itu. Ia berpikir semua orang kaya songong dan bersikap seperti itu.
"Maaf, Tuan, Pak, Om, Mas, Kak, saya beneran buru-buru jadi sekali lagi saya minta maaf, kalau Anda butuh ganti rugi atas insiden ini, baiklah saya akan mengembalikan noda di kemeja Anda menjadi bersih."
Sekarang giliran pemuda tampan di depannya yang melongo, pria itu tidak percaya dengan penuturan Inggit.
"Trik lama, kamu ... sengaja ingin berkenalan denganku kan? Terus pura-pura nabrak biar bisa sedikit lebih dekat."
Hello ... kamu pikir lo tuh siapa? Hadeh ... semua cowok songong!
Inggit menyorot pria di depannya tak suka, gadis itu berlalu begitu saja tanpa mempedulikan ocehan pria tersebut.
"Tuan Ares, gadis itu pergi," lapornya setelah melihat langkah Inggit yang menjauh.
"Sepertinya dugaanku salah, bisa kamu ikuti dia dan bawa ke hadapan aku sekarang juga!" titahnya dingin syarat akan keberhasilan.
Inggit terpaksa memesan taksi sebab perempuan itu tadi berangkat bareng Hilda tanpa motornya. Gadis itu menitipkannya di parkiran kampus dan akan mengambil kembali sepulangnya, mengingat jalan pulang melewati kampus lagi. Ia sedang menanti sebuah taksi di pinggir jalan ketika tiba-tiba dikejutkan dengan mobil prestisius yang berhenti di dekatnya.Tanpa aba-aba, orang yang tadi tak sengaja ditabraknya muncul spontan di depannya.
"Masuk!" titahnya. Inggit bergeming, menyorot waspada pria tersebut.
"Kamu bilang mau bertanggung jawab kan? Temani aku untuk mengganti waktuku sore ini yang hilang dengan sia-sia," ucap pria itu.
"Temani? Maksudnya?" tanyanya bingung, Inggit benar-benar merasa aura negatif langsung memenuhi isi kepalanya. Ia menatap ke kiri dan ke kanan. Dua pria tegap seperti mengunci dirinya dari jarak dua meter, jadi ... gadis itu seperti terpenjara di sekitar itu. Padahal hal yang terlintas dalam benaknya adalah lari dan segera menjauh dari pria misterius tersebut.
"Masuk!" Kali ini berucap dengan nada sedikit lebih tinggi.
Inggit terpaksa masuk ke dalam mobil tersebut, ia diam saja dengan segala prasangka yang bertumpuk di bagian isi kepalanya. Inggit benar-benar bingung, dan juga ... takut, mengingat belum mengenal pria tersebut.
"Kamu tahu siapa aku?" Suara itu memecah kesunyiaan di antara deru mesin mobil yang menyala.
"Nggak, dan itu sama sekali tidak penting bukan bagiku," ucap Inggit jujur.
Pria di sampingnya yang tengah bermain dengan bundaran setir pun tersenyum simpul mendengar penuturannya. Ia merasa baru pertama menemukan karakter cewek langka yang dalam pengamatannya tidak begitu tertarik dengan dirinya, padahal sudah jelas di luar sana banyak sekali para cewek yang berebut ingin berkencan dengan dirinya.
Mobil pria itu berhenti di depan sebuah restoran elit, menatap gadis di sampingnya yang terlihat bingung.
"Hari ini, seharusnya saya bertemu dengan seseorang yang begitu penting, relasi bisnis saya kabur gara-gara kamu menabrak saya, tender ratusan juta itu melayang begitu saja. Sebagai gantinya, kamu harus menemani saya sore ini hingga malam nanti."
"Maaf, salah saya kan cuma membuat kotor kemeja Anda, jadi ... nanti biar saya laundry saja," nego Inggit merasa gusar.
Pria itu spontan langsung membuka kemejanya begitu saja.
"Eh, lo mau ngapain?!" pekik Inggit syok. Hanya berdua dengan orang asing di dalam mobilnya, dan sekarang pria itu dengan santainya melepas kemejanya begitu saja tanpa sungkan, jelas Inggit ketakutan.
Pria itu malah terkekeh gemas, melihat Inggit yang syok dan kaget, gadis itu berujar cepat turun dari mobil tetapi tentu saja laki-laki itu mengurungnya.
"Buka!" teriaknya panik ketika tubuh pria itu sedikit mendekat, yang ternyata ia hanya ingin meraih kaus yang tersimpan di dashboard mobilnya. Pria itu segera mengganti bajunya dengan cepat.
"Ini kemeja kotor aku, cuci yang bersih dan kembalikan ke rumahku setelah bersih," ucapnya begitu saja.
Seketika Inggit merasa lebih lega dari menit sebelumnya. Dia pikir pria di sampingnya akan berbuat yang tidak senonoh terhadap dirinya.
"Iya," Inggit masih syok, ia langsung mengambil kemeja tersebut dari tangannya dan memasukkan ke dalam tasnya.
"Turun," titahnya dingin.
Inggit menurut, ia turun dari mobilnya dan mengekori pria tersebut. Berhenti di sebuah meja yang ternyata sudah di setting sebagai tempat makan yang romantis.
"Aku, Ares." Pria tersebut mengulurkan tangannya sopan, berbeda jauh dari karakter sebelumnya. "Well, malam ini kamu harus temani aku makan malam di sini," ujar pria itu.
"Inggit," membalas uluran tangan pria tersebut.
Setelah makan malam singkat yang cukup berkesan, pria yang baru beberapa menit memperkenalkan dirinya pun meninggalkan alamat miliknya dan meminta nomor Inggit. Setelahnya gadis itu pulang cukup malam.
Sementara Biru sudah di rumah kecilnya sedari sore. Pria itu pikir Inggit sudah di rumah mengingat hari sudah sore, tapi dugaan itu salah, yang ada Inggit tidak ada di rumah semenjak Biru tiba di rumahnya.
"Dari mana saja lo baru pulang?" Biru menyambut dengan murka.
Inggit bergeming, menatap pria yang berstatus suaminya tersebut dan berlalu begitu saja. Malam ini gadis itu cukup lelah dan tidak mau berdebat.
"Nggit, lo budeg ya? Ditanya tuh dijawab, nggak punya mulut?" bentaknya sekali lagi.
Inggit tidak menyaut, ia lebih memilih pergi ke kamar mandi dan membersihkan dirinya di sana. Ia tidak tertarik menanggapi protes Biru.
Inggit ke luar dari kamar mandi dengan baju tidur yang sudah rapi. Sekilas sudut matanya menangkap bayangan Biru yang sudah rebahan di atas ranjang. Inggit membuang napas kasar, malam ini ia bakalan tidur di ruang tamu lagi dengan terpaksa.
Biru melirik sekilas saat istrinya ke luar dari kamar memboyong selimut dan bantal. Ia sebenarnya bukan pria yang kejam, mungkin mulai malam ini ia berniat untuk berbagi ranjang. Namun, sepertinya Inggit akan tidak setuju.
"Lo dendam sama gue?" Tiba-tiba suara itu mampir ditelinga Inggit saat gadis itu hampir terlelap.
"Buat apa gue dendam, nggak asik banget," ucapnya malas.
"Lo yang pagi tadi ngerjain gue kan? Lo sengaja rubah alarm gue, terus lo juga matiin pedometer keran airnya. Becanda lo tuh nggak lucu tahu nggak, gara-gara lo, gue telat ke kampus dan terpaksa bolos kuliah, dan sekarang tugas gue nambah. Bantuin!" bentaknya melempar map ke tubuh Inggit.
Gadis itu ingin murka, tapi memang benar ia yang sudah ngerjain Biru. Jadi ia memilih diam dan mengambil map tersebut dengan dahi berkerut.
"Bantuin apa?" tanyanya malas.
"Bantu menyusun laporan tugas gue," ucapnya dingin.
Biru memposisikan di depan laptop dan segera menyalakan laptop punya dirinya. Ia melirik Inggit yang ternyata sudah tepar alias tertidur di sofa.
"Ya ampun ... kebo banget sih, suruh bantuin ngerjain tugas malah tidur, gue bales biar besok lo bangun tidur dapat kejutan."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
Ares masih perjaka tingting gak yaa?
kalo iya, mending Inggit sama Ares aja ...
Biru gosah dibikin bucin ... cere aja spt yg dia mau ...
biar Biru tetep sama Hilda ... sesama penyuka barang bekas ...
😁😁
2022-12-23
0
Lilisdayanti
lnggit sama ares saja,,🤭
2022-11-30
0
Riska
Jangan-jangan mau dipindahin ke kamar...
2022-11-30
0