...***...
Istana Kerajaan Suka Damai.
"Ada beberapa lainnya yang wajib dikerjakan, namun pengerjaan boleh ditunda." Sang Prabu menjelaskan dengan hati-hati. "Akan tetapi, jangan sampai melebihi pada waktu batas yang ditentukan." Lanjut sang Prabu. "Agar pengerjaan tidak memberatkan seseorang."
"Ibunda tidak mengerti apa maksudnya? Terdengar sedikit aneh." Respon Ratu Dewi Anindyaswari.
"Sebelum nanda menjelaskan apa maksudnya." Balas Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Ibunda harus mengetahui terlebih dahulu, tentang kewajiban melaksanakan puasa." Jelas sang Prabu. "Yaitunya terdapat dalam Alquran surah Al-Baqarah ayat 183."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana membacakan surat tersebut, dengan suara yang sangat merdu. Hingga membuat ibundanya sangat tersentuh.
"Putraku sungguh sangat luar biasa." Dalam hatinya sangat terkesan. "Tidak salah keputusan kanda Prabu, mengizinkannya masuk agama islam." Dalam hati ratu Dewi Anindyaswari merasa tersentuh, mengingat semuanya.
"Jadi? Puasa itu wajib hanya untuk orang-orang yang beriman saja?."
"Bisa jadi seperti itu ibunda." Jawab sang Prabu. "Jika tidak beriman? Bisa jadi dia tergoda, ingin segera membatalkan puasanya dengan bermacam cara." Lanjut sang Prabu. "Karena imannya yang tidak kuat."
"Jadi begitu?." Respon Ratu Dewi Anindyaswari. "Ibunda tidak bisa bayangkan." Ungkapnya. "Seberapa kuatnya ibunda? Menahan diri." Lanjutnya. "Agar tidak menyentuh makanan satu hari."
Ratu Dewi Anindyaswari tertawa kecil. Ia tidak bisa membayangkan dirinya berpuasa, dan dirinya dengan nakalnya membatalkan puasanya?.
"Mungkin ibunda harus bisa membiasakan diri nantinya."
"Pasti bisa ibunda." Respon Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Nanda yakin ibunda pasti bisa." Sang Prabu tertawa kecil, melihat raut wajah ibundanya yang lucu.
"Lalu bagaimana? Dengan pertanyaan ibunda tadi?."
"Seperti yang telah nanda jelaskan sebelumnya." Jawab Sang Prabu. "Bahwa puasa ramadhan itu adalah puasa yang wajib dikerjakan." Sang prabu mulai menjelaskannya. "Jadi? Puasa itu tidak bisa ditinggalkan begitu saja, memang harus dikerjakan."
"Harus nanda Prabu?." Raut wajah Ratu Dewi Anindyaswari memang tampak jelas terlihat kebingungan.
"Akan tetapi, Allah SWT tidak pernah memberatkan hamba-Nya." Jawab Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Karena itulah waktu pengerjaan puasa bisa ditunda." Lanjut sang Prabu. "Jika dia laki-laki dalam keadaan sakit, dalam perjalanan jauh, karena usianya yang sudah rentan." Jelas sang Prabu. "Maka ia diperbolehkan, untuk tidak mengerjakan puasa ibunda."
"Lalu bagaimana dengan wanita?." Ada perasaan penasaran di hatinya. "Apakah wanita? Tidak boleh meninggalkan puasa?."
"Jika ia adalah seorang wanita." Jawab Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dengan senyuman kecil. "Hal-hal yang membuatnya menunda puasanya." Lanjut sang Prabu. "Yaitunya ia haid, atau datang bulan, ibu menyusui, sakit parah, karena usianya yang telah tua? Maka ia boleh menundanya."
"Tapi bagaimana? Jika ia tidak bisa membayarnya nak?." Raut wajahnya tampak cemas. "Seperti orang tua yang sudah tidak sanggup lagi untuk berpuasa."
"Ia bisa membayar fidyah." Jawab sang Prabu. "Bayaran yang dapat berupa memberi makan fakir miskin, atau anak yatim"
"Jadi begitu?." Respon Ratu Dewi Anindyaswari. "Sungguh luar biasa sekali nanda."
"Kira-kira seperti itulah ibunda." Ucap Sang Prabu. "Sungguh agama Islam, adalah agama yang sangat luar biasa." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana masih tersenyum kecil menatap ibundanya.
"Ibunda rasa memang sangat luar biasa sekali putraku."
"Sejauh ini, apakah ibunda mengerti?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana kembali tersenyum. "Apa yang ananda jelaskan?."
"Ibunda sedikit mengerti putraku." Balas Ratu Dewi Anindyaswari mengangguk mengerti.
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil.
"Ibunda akan mencobanya."
"Ibaratkan kita membayar pajak, ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba menjelaskan kembali. "Jika kita tidak ingin menumpuk membayar pajak?." Jelas sang Prabu. "Maka kita bayar dengan menyicilnya, agar tidak terlalu berat untuk membayarnya." Lanjut sang Prabu. "Sebelum datang tagihan bulan berikutnya." Hatinya terasa lega. "Jika kita menumpuknya terus menerus? Maka kita akan kesulitan membayarnya." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengibaratkan puasa dengan membayar pajak, ya hampir sama meskipun ada perbedaannya.
"Lalu? Berapa lama kita harus berpuasa?." "Dan bagaimana pelaksanaannya?."
"Selama tiga puluh hari kita mengerjakannya ibunda."
"Tiga puluh hari?." Reaksi Ratu Dewi Anindyaswari. "Apakah itu tidak berlebihan nanda Prabu?." Ratu Dewi Anindyaswari sedikit terkejut mendengarnya, sedangkan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana malah tertawa kecil melihat ekspresi wajah ibundanya. "Pasti berat melakukannya." Ungkapnya dengan aneh. "Berpuasa selama tiga puluh hari? Tanpa makan dan minum?." Ratu Dewi Anindyaswari tidak bisa membayangkan ia melakukannya. "Apakah itu tidak memberatkan?."
"Tidak seberat yang dibayangkan ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba menjelaskan.
"Memangnya nanda kuat menjalaninya?."
"Seperti yang nanda katakan." Respon Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Agama islam itu agama yang tidak memberatkan seseorang." Lanjut sang Prabu. "Jika ia tidak mampu melakukannya? Namun ia bisa membayarnya dengan bentuk lain." Dengan pelan prabu Asmalaraya Arya Ardhana menjelaskan lagi.
"Lantas? Kapan waktu pelaksanaannya nanda?."
"Waktu pelaksanaan puasa itu, dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari." Jawab Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Setelah itu kita diperbolehkan untuk makan dan minum."
Ratu Dewi Anindyaswari mendengarkan penjelasan anaknya dengan tenang.
"Banyak sekali manfaat dari puasa itu ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana kembali menjelaskan. "Bahkan ayahanda prabu dulu melakukannya, namanya tapa puasa." Lanjut sang prabu. "Jika ibunda ingin mengetahui lebih lanjut tentang puasa? Ibunda boleh bertanya kepada nyi ayudiyah purwati, istri syekh guru nantinya."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat ingin menjelaskan puasa pada ibundanya, namun sepertinya tidak bisa menjelaskan terlalu banyak, tentang puasa pada ibundanya. Karena matanya melihat kedatangan Ratu Ardiningrum Bintari dan Gendhis Cendrawati mendekatinya dan ibundanya.
***
Wisma Prajurit.
"Jadi? Nanda tinggal di sini?." Syekh Asmawan Mulia menatap Jaya Satria. "Apakah itu tidak apa-apa?."
"Tentu saja tidak apa-apa Syekh guru." Jawabnya. "Lagi pula, Gusti Prabu akan mengalami kesulitan." Lanjutnya." Jika saya menampakkan diri, dan dilihat oleh mereka." Hatinya sambat cemas. "Karena selama ini, saya memang tidak pernah dilihat oleh mereka sama sekali." Ungkapnya. "Saya harus menghindari kontak langsung dengan mereka."
"Nanda harus tabah." Ucap Syekh Asmawan Mulia. "Nanda harus bisa, mengendalikan diri nanda."
"Saya akan selalu mencobanya Syekh guru."
"Syekh guru, akan selalu bersama nanda."
"Terima kasih Syekh guru."
***
Pondok pesantren.
Putri Agniasari Ariani terlihat sedikit merenung panjang.
"Apakah ibunda akan baik-baik saja di istana?." Dalam hatinya sangat cemas. "Semoga saja, mereka tidak lagi, mengganggu ibunda." Dalam hatinya sangat berharap. "Di sana ada rayi Prabu, yang selalu menjaga ibunda." Hatinya hanya bisa berharap, ibundanya tidak mengalami kesulitan nantinya.
***
Istana Kerajaan Suka Damai.
"Salam nanda Prabu." Ucap keduanya dengan nada sopan, dan tak lupa hormat mereka lada sang prabu.
"Duduklah ibunda Ratu." Prabu Asmalaraya Arya mempersilahkan kedua ibundanya untuk duduk.
"Terima kasih nanda Prabu."
Ratu Ardiningrum Bintari dan ratu Gendhis Cendrawati merasa senang diperbolehkan duduk oleh sang Prabu, mereka duduk di samping ratu Dewi Anindyaswari.
"Ada apa ibunda?." Matanya menatap kedua istri mendiang ayahandanya yang lain. "Sepertinya ada hal penting, yang ingin ibunda sampaikan kepada nanda."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menangkap sesuatu, yang ingin disampaikan oleh kedua ibundanya. Namun keduanya masih agak ragu.
Keduanya saling berpandangan, apakah mereka akan mengatakannya?.
"Begini nanda Prabu." Ratu Ardiningrum Bintari mencoba untuk memberanikan dirinya. "Rasanya ibunda sangat merindukan ayahanda prabu." Lanjutnya. "Yang berada di kerajaan mekar jaya." Ucapnya dengan yakin. "Rencananya ibunda akan pergi mengunjunginya."
"Ibunda juga mau mengunjungi makam ayahanda di telaga sarangan." Ucapnya. "Sekaligus menemui ibunda embun kasih." Lanjutnya. "Sungguh, ibunda sangat merindukan beliau."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana nampak berpikir sejenak, dan ia balik bertanya kepada kedua ibundanya.
"Apakah sudah dipikirkan dengan matang? Kepergian itu ibunda?."
"Tentu saja." Jawabnya. "Kami sudah memikirkannya, bukan begitu rayi gendhis cendrawati?." Ratu Ardiningrum Bintari tersenyum kecil, ia menyikut pelan lengan ratu Gendhis Cendrawati.
"Iya nanda Prabu." Responnya sedikit terkejut. "Kami sudah memikirkannya dengan matang." Lanjutnya. "Dan kami sudah memutuskan, untuk melakukan perjalanannya besok." Ratu Gendhis Cendrawati agak sedikit gugup.
"Tapi yunda, mengapa mendadak begitu?." Ratu Dewi Anindyaswari bersuara. "Apakah yunda sudah melakukan persiapan? Untuk perjalanan besok?." Ratu Dewi Anindyaswari sedikit mengkhawatirkan kepergian mereka yang terbilang mendadak.
"Kami hanya merindukan keluarga saja rayi." Jawabnya. "Tentu saja kami tidak bisa menunda keberangkatan besok." Balas ratu Ardiningrum Bintari sedikit meninggi, dan itu terlihat mencurigakan.
"Aku hanya bertanya, apakah sudah ada persiapan atau tidak?." Dalam hati Ratu Dewi Anindyaswari cemas.
"Jawabannya sedikit melenceng, dari apa yang ditanyakan." Dalam hati sang Prabu cemas.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana berusaha bersikap tenang.
"Kami tidak bermaksud apapun, hanya ingin mengunjungi keluarga saja."
"Jangan berpikiran aneh-aneh pada kami."
"Baiklah kalau begitu." Respon Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Berhati-hatilah ibunda Ratu ardiningrum bintari, dan juga ibunda Ratu gendhis cendrawati." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memberi hormat. "Dalam perjalanan besok." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengizinkan mereka pergi. "Akan nanda siapkan prajurit, untuk mendampingi kepergian ibunda." Sang Prabu hanya tidak ingin ada perdebatan panjang, antara ibundanya dengan Ratu Ardiningrum Bintari dan Ratu gendhis cendrawati.
"Terima kasih nanda prabu."
Setelah berkata seperti itu, keduanya memberi hormat pada prabu Asmalaraya Arya Ardhana, kemudian mereka pergi meninggalkan tempat itu.
"Apakah tidak apa-apa?." Hatinya terasa cemas. "Membiarkan mereka pergi? Nanda Prabu?."
"Tidak apa-apa ibunda." Jawab sang Prabu. "Mungkin ibunda Ratu ardiningrum bintari, juga ibunda Ratu gendhis cendrawati." Lanjut sang Prabu. "Memang merindukan keluarga mereka yang sangat jauh." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba tidak berpikiran buruk pada kedua ibundanya itu.
"Baiklah putraku." Ratu Dewi Anindyaswari hanya mencemaskan kemungkinan buruk yang akan terjadi. "Tapi sepertinya sebentar lagi matahari akan terbenam nak." Ucap Ratu Dewi Anindyaswari. "Bukankah sudah waktunya nanda prabu untuk makan?."
"Ibunda benar." Balas Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Tapi itu namanya berbuka puasa." Lanjut sang Prabu. "Sekalian berdoa hal baik-baik kepada Allah SWT."
"Kalau begitu." Respon Ratu Dewi Anindyaswari. "Biarkan ibunda yang menghidangkan makan berbuka untukmu nak." Entah mengapa Ratu Dewi Anindyaswari, ingin menyiapkan makan berbuka puasa untuk anaknya. "Ibunda sudah lama, tidak menyajikan makanan untukmu putraku." Rasanya ia ingin menangis karena menahan rindu.
"Terima kasih ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat senang mendengarnya, ia bahagia jika ibundanya yang menyiapkan menu hidangan puasa untuknya.
...***...
Dan siang telah malam, gelap gulita bagi orang-orang yang tidak dapat melihat cahaya karena mereka tidak memiliki penerangan.
Nini Kabut Bidadari dan anak buahnya termasuk putri Gempita Bhadrika, telah menyiapkan permainan yang akan mereka mainkan malam ini.
Di tempat hiburan malam.
Untuk pertama kalinya bagi Mayang Sari menari. Namun gerakan itu terlihat sangat indah, membuat para pengunjung merasa kagum dengan gerakan tari yang dimainkan Mayang Sari.
Mereka melihat itu dengan wajah penuh kegembiraan, bahkan ada yang ikut menari.
"Benar-benar orang yang mencari kenikmatan dunia malam." Batin Nini kabut Bidadari tersenyum lebar, melihat betapa ramainya hari ini sejak mereka memulai apa yang mereka kerjakan tempo hari.
Saat tarian berlangsung, tepuk tangan dan siulan mengisi ruangan itu. Mereka benar-benar terhibur di sini, melupakan masalah yang mereka hadapi ketika siang harinya.
Setelah satu dua tari selesai dimainkan, mereka nampak kecewa karena tidak ada lagi yang dapat menghibur hari mereka. Namun yang membawakan acara mengeraskan suaranya, dan memperkenalkan seorang wanita pembaca syair pemikat. Mereka semua merasa kagum dengan kecantikan putri Gempita Bhadrika
"Malam ini masih panjang." Ucapnya seraya membacakan syair. "Jadi? Tidak perlu kecewa." Lanjutnya. "Karena kita telah memiliki sang rembulan, yang telah menginjakkan kakinya di sini, untuk menghibur kalian semuanya."
Mereka yang mendengar itu merasa senang, sambil melihat wanita muda cantik berada di atas pentas. Penampilan itu sungguh memukau mata mereka seakan benar-benar memikat mata mereka semua agar tertuju padanya.
"Selamat malam akang-akang semuanya."
Sapa Putri Gempita Bhadrika dengan ayunya. Ia menyapa mereka dengan tatapan mata genit.
Menggoda mereka semua dengan pesonanya, seperti seorang bidadari yang jatuh dari langit, hadir untuk mereka semua.
"Malam neng gelis."
Jawab mereka menyambut sapaan putri Gempita Bhadrika, yang memancarkan kecantikannya sebagai seorang putri raja yang memiliki berjuta pesona.
"Kurang bersemangat." Ucapnya dengan perasaan kecewa. "Apakah saya datang ke sini? Hanya mendengarkan suara satu orang saja?." Ia terlihat cemberut. "Sedangkan yang hadir begitu banyak." Sepertinya putri Gempita Bhadrika sedikit menikmati malamnya.
Terdengar suara sorakan yang keras dari mereka, membuat ia semakin bersemangat.
"Malam akang-akang semuanya."
Ulang putri Gempita Bhadrika dengan senyuman menawan.
Hingga mereka tidak bisa menolak pesona itu, dan mereka menjawabnya dengan semangat. Sehingga suara mereka memenuhi tempat hiburan malam itu.
"Luar biasa sekali."
Mayang Sari dan Semara Layana merasa kagum, dengan apa yang dilakukan oleh Putria Gempita Bhadrika dalam memikat mereka semuanya.
"Baiklah, semoga akang-akang sekalian suka dengan syair yang saya bawakan."
Putri Gempita mulai dengan membaca syairnya, lebih tepatnya mantra pengikat.
"Syair ini menceritakan, tentang seorang yang merindukan kekasihnya."
Putri Gempita Bhadrika menyebutkan syair apa yang akan ia bacakan malam ini pada mereka semua. Sementara itu mereka menyambutnya dengan sorak-sorai yang ramai. Mereka senang dengan syair-syair yang mengungkapkan tentang perasaan cinta.
"Rembulanku bersinar, sinarnya memancarkan keindahan, oh?." Ungkapnya. "Sinar rembulan yang sedang menerpa diriku." Putri Gempita benar-benar meresapi tiap bait syair yang ia ucapkan, sedangkan mereka mendengarkannya dengan seksama. "Apakah cahaya bulan itu? Bisa menyampaikan pesan kepada kekasihku?." Begitu dalam syair yang ia bacakan. "Bahwa rasa rinduku telah merasuki jiwaku." Ucapnya dengan ekspresi yang memikat penonton. "Hatiku yang kosong, seakan telah dimasuki oleh merahnya kasih sayang." Lanjutnya. "Yang sangat ingin aku ungkapkan padanya."
Syair-syair itu seakan memiliki aura hawa panas. Ada sosok kasat mata cahaya kemerahan, yang sedang berkeliaran mencari jiwa kosong.
Jiwa kosong itu adalah jiwa yang menginginkan kasih sayang seseorang. Jiwanya kosong karena bentuk kerinduan akan kasih sayang kekasihnya. Hingga makhluk itu mudah merasuki jiwa yang kosong itu.
"Oh! Betapa besarnya kemarahanku." Ucapnya penuh membara. "Karena menahan rindu ini." Kali ini raut wajahnya terlihat sedih. "Kekasihku telah pergi meninggalkan aku."
Mereka benar-benar terpikat, bahkan terbawa suasana. Apa lagi melihat Putri Gempita Bhadrika meneteskan air matanya, mendalami apa yang telah ia bacakan malam itu.
"Kepada siapa lagi aku ingin berkata?." Lanjutnya. "Jika tak ada satupun? Yang menemani aku di malam ini?."
Syair-syair itu masih berlanjut, dan tiba-tiba ada seorang pemuda terlihat aneh. Matanya sudah memerah menahan gejolak yang ada di dalam dadanya.
Rasanya ia ingin meledak saking gelisahnya ia, menahan perasaan rindu kepada kekasihnya yang telah mengkhianatinya.
"Lepaskan!." Tegasnya. "Lepaskan aku dari belenggu api asmara ini!." Ucapnya lagi. "Biarkan aku berkelana, menemukan kekasihku!." Ia mendalami perannya. "Oh! Kekasihku, pujaan ku!." Ucapnya dengan penuh ketegasan. "Datanglah! Datanglah!." Kali ini ia berkata dengan tegas. "Agar aku bisa melepaskan amarah ini, amarah rindu padamu."
Setelah bait syair itu dibacakan, pemuda itu benar-benar lepas kendali. Suasana di tempat itu mendadak jadi ribut. Karena pemuda itu seperti kerasukan sesuatu, hingga ia menyerang siapa saja.
"Bagus!." Ucapnya senang. "Seperti yang diharapkan, dari seorang putri Raja dalam memikat seseorang."
Nini Kabut Bidadari merasa puas, dengan apa yang dilakukan oleh Putri Gempita Bhadrika, yang berhasil melantunkan syair pemikat itu dengan sempurna. Selain itu, ia juga telah menemukan wadah jin pemikat syair.
"Kau yang merasa benci, dendam, keluarkan semuanya!." Suaranya semakin menggelegar di dalam ruangan itu. "Dunia telah menolakmu!." Lanjutnya. "Dunia telah menghinamu!." Ada api dendam di sana. "Sanggupkah engkau menahan kerinduan ini?." Matanya kembali berkaca-kaca. "Sementara ia telah bahagia di sana!." Api dendam juga ia rasakan. "Sedangkan aku menderita di sini?."
Syair itu belum selesai dibacakan, ia tidak peduli kacaunya suasana di tempat itu. Bagaimana pemuda itu mengamuk menghajar mereka satu persatu tanpa ampun, bahkan membunuh mereka dengan sadis.
Namun saat kekacauan itu berlangsung, Jaya Satria datang. Ia melihat keributan luar biasa yang mengejutkannya.
"Hai nini!." Ucapnya keras. "Aku tidak suka dengan syair yang kau lantunkan!." Jaya Satria berdiri dihadapan Putri Gempita Bhadrika. Membuatnya terkejut, begitu juga dengan Nini Kabut Bidadari, Semara Layana dan juga Mayang Sari. "Syair yang kau lantunkan tidak enak didengar!." Tegasnya. "Lebih jelek dari suara tikus yang terjepit pintu." Lanjut Jaya Satria mengatakan suara Putri Gempita Bhadrika sangat jelek?.
Putri Gempita Bhadrika sangat tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh Jaya Satria.
"Bedebah!." Umpatnya. "Beraninya kau menghina suaraku." Putri Gempita Bhadrika telah terbawa amarah.
Ia tidak terima penghinaan itu, dengan perasaan marah yang luar biasa, ia membacakan syair pemikat agar wadah jin tadi menyerang Jaya Satria.
"Hei!." Tegasnya lagi. "Kau yang tidak mengerti suara merduku!." Ucapnya dengan nada syair. "Tidakkah kau lihat? Bagaimana kekuatan? Yang telah aku lambari." Lanjutnya. "Dengan kekuatan kebencian untuk menusukmu?."
Sesuai dengan syair yang ia bacakan, pemuda yang telah dirasuki itu merasa marah, menyerang Jaya Satria.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Dalam hati Jaya Satria. "Semoga saja masalah ini tidak membawa banyak korban."
Aura kemarahan itu semakin besar, hingga terlihat seperti senjata mematikan yang siap menusuk tubuh Jaya Satria.
Apakah yang akan terjadi?. Apakah pertarungan mereka akan berlangsung lama?. Temukan jawabannya.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 372 Episodes
Comments