...***...
Pertarungan antara Jaya Satria dengan kelompok sengkar iblis masih berlanjut, meskipun dikeroyok bukan berarti Jaya Satria mundur. Malahan dengan kemarahan yang sedang menguasai dirinya, membuat mereka kewalahan menghadapinya. Serangan-serangan yang mereka lakukan seakan tidak berarti sama sekali. Jaya Satria berhasil memukul mundur mereka satu persatu?. Sebenarnya aura kemarahan itu aura kemarahan apa?.
"Uhuk!."
Narumi Putih terbatuk darah, karena menerima beberapa pukulan serta hantaman di tubuhnya. ia tidak dapat menahan serangan, dari jurus Jaya Satria yang sangat mematikan.
"Nimas!."
Raksa Bumi terkejut melihat Narumi Putih terluka, akibat serangan dari orang misterius itu. Ia segera menolong Narumi Putih dari pada wanita itu mati ditangan orang itu.
"Bedebah! Dia memang benar-benar kuat." Umpatnya kasar. "Dia benar-benar merepotkan." Hatinya sangat mengutuk.
"Apakah dia memang sekuat itu?." Dalam hatinya sangat kewalahan.
"Dia memang sangat kuat."
"Kalian! hadapi dia!." Ucapnya keras. "Sementara aku akan menyiapkan jurus andalanku." Perintah Ki Dharma Seta dengan suara keras.
Ia harus menghadapi orang misterius itu, dengan jurus telapak dewa kematian. Ya, ia akan mencoba menggunakan jurus itu, untuk menghabisi nyawa Jaya Satria.
"Baiklah ki!."
Semara Layana dan Raksa Bumi mengerti. Namun keadaan Narumi Putih tidak mungkin bisa menghadapi Jaya Satria. Sehingga mereka terpaksa melawan orang bertopeng itu, tanpa temannya.
"Heh! Kalian pikir? Kalian bisa mengalahkan aku?." Jaya Satria begitu merendahkan mereka semua.
"Diam kau!."
"Tidak usah banyak bicara!."
"Siap-siap saja, kalian akan aku ringkus!." Tegasnya. "Setelah itu, akan aku hukum kalian, dengan hukuman yang berat." Jaya Satria yang masih diselimuti amarah, masih bertahan, kekuatan aneh telah merasuki tubuhnya.
Senyumnya yang menyeringai membuat bulu kuduk merinding melihat betapa garangnya ia saat ini karena amarahnya yang sudah tidak terkendali lagi.
"Jangan sombong dulu kau!." Balasnya penuh amarah. "Si buruk rupa yang bersembunyi dibalik topeng!." Semara Layana sungguh tidak suka, dengan apa yang dikatakan Jaya Satria, ia merasa tersinggung.
"Kami lah yang akan meringkus kau terlebih dahulu!." Raksa Bumi sangat marah, karena Jaya Satria melukai kekasihnya Narumi Putih.
Karena itulah ia harus membalaskan, apa yang telah dilakukan oleh Jaya Satri. Dan ia tidak akan melepaskan orang itu dalam keadaan hidup.
"Tidak usah banyak bicara kalian!." Responnya. "Maju saja, dan buktikan ilmu kanuragan yang kalian miliki." Sepertinya tidak ada kesabaran dalam dirinya.
Kemarahan telah mengendalikan dirinya yang tadinya masih mengingat Allah SWT. Sekarang kesabaran itu seakan telah sirna dari dirinya.
Di satu sisi, sepertinya Ki Dharma Seta telah selesai dengan jurusnya. Ia hanya menunggu Jaya Satria lengah, setelah itu ia akan menghajarnya. Benar saja, saat Jaya Satria sedang fokus menghadapi kedua anak buahnya. Ki Dharma Seta menyerang Jaya Satria dengan pukulan telapak tangan dewa kematian. Jaya Satria yang tidak menyadari serangan itu, berteriak kesakitan karena dari empat arah, tangan raksasa mengapit tubuhnya.
"Eqhak!."
Jaya Satria berteriak keras, rasanya tubuhnya sangat sakit.
Seperti biasanya, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga merasakan sakit yang sama. Namun saat ini ia tidak berada di istana, ia sedang berada di sebuah tempat.
"Eghak!." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga berteriak kesakitan, sungguh, tubuhnya sulit untuk digerakkan. "Ya Allah, berikanlah hamba kekuatan untuk melangkah." Hatinya berusaha kuat. "Hamba ingin menyelamatkan jaya satria ya Allah." Hatinya sangat sedih, karena tubuhnya yang sakit, membuatnya sulit untuk bergerak. "Lahaulawala kuatailla billahil'aliyi'azim." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menguatkan hatinya untuk menyelematkan Jaya Satria walaupun tubuhnya terasa sangat sakit. Bahkan darah segar mengalir di sudut bibirnya diabaikan begitu saja, karena pikirannya sedang fokus pada Jaya Satria.
...***...
Sementara itu. Jaya Satria merasakan kesakitan yang luar biasa. Ia tidak bisa menahan rasa sakit itu.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Jaya Satria mencoba mengatur hawa murninya agar mengurangi rasa sakit itu. "Ternyata mereka ini orang-orang yang berbahaya." Dalam hatinya. "Tapi aku tidak akan kalah dari mereka." Dalam hatinya mencoba memikirkan cara mengalahkan mereka.
Sedangkan Ki Dharma Seta dan anak buahnya tertawa keras melihat itu, mereka senang karena berhasil mengalahkan orang misterius itu. Di saat yang bersamaan, Ki Dharma Seta dan anak buahnya mendapatkan serangan dari arah yang tidak mereka duga, mereka terjajar menjauhi Jaya Satria. Mereka melihat ada sosok hitam yang tidak mereka ketahui telah menyelamatkan Jaya Satria, membawanya dari sana.
"Bedebah!." Umpatnya kasar. "Siapa lagi orang itu?!." Ki Dharma Seta merasa kesal, ia harusnya bisa membunuh orang misterius itu.
Tetapi ada sosok lain, yang mencoba menyelamatkan orang itu?. Ketika Ki Dharma Seta menerawang dengan mata batinnya, lagi dan lagi ia tidak bisa mendeteksi keberadaan orang itu.
"Kurang ajar!." Umpatnya lagi. "Siapa lagi orang misterius itu?!." Ki Dharma Seta marah, ia tidak menyangka jika penerawangannya tidak bisa menemukan keberadaan kedua orang itu?. Ajian halimun apa yang mereka gunakan?. Sehingga mata batinnya tidak bisa mendeteksi keberadaan mereka?.
"Setidaknya, kita tahu di mana keberadaan mayang sari." Ucapnya kesal. "Aku akan meminta bantuan nini kabut bidadari, untuk memasuki daerah hutan belati raga."
Ya, ia rasa cukup pertarungannya hari ini. Ia akan segera membebaskan anak buahnya itu. "Dan kalian?!." Tegasnya. "Segera kembali, pulihkan tenaga dalam kalian!." Lanjutnya. "Agar bisa ke sana besok." Ki Dharma Seta memberi perintah kepada anak buahnya.
"Baiklah ki."
Balas mereka bertiga dengan patuhnya. Mereka segera meninggalkan tempat itu, untuk melakukan persiapan besok, Yaitunya ke hutan belati raga.
...***...
Sementara itu.
Orang yang membawa Jaya Satria tadi tak lain adalah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Sang Prabu berhasil menyelamatkan Jaya Satria dari pukulan mematikan milik Ki Dharma Seta.
Jaya Satria dan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sama-sama terbatuk, keringat membasahi kening mereka. Bukan hanya itu saja, mereka sama-sama mengalami luka.
"Kau baik-baik saja jaya satria?." Sang Prabu sangat cemas. "Tenangkan dulu amarahmu itu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba menenangkan Jaya Satria, yang masih dipengaruhi oleh aura kemarahannya.
Jaya Satria duduk bersila, mereka saling berhadapan. Jaya Satria mencoba memusatkan pikirannya, dan mengatur hawa murninya. Tak lupa ia mengucapkan kalimat takbir, tahmid, dan tahlil agar bisa mengendalikan dirinya.
Setelah agak tenang, ia membuka matanya perlahan. Tanpa sadar ia menitikkan air mata kesedihan. Tentunya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasakannya, merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Jaya Satria.
"Hamba memang sangat tidak berguna Gusti Prabu." Hatinya sangat sedih. "Hamba telah membuat Gusti Prabu juga ikut terluka." Ungkapnya. "Sungguh, maafkan hamba." Hatinya sedih, sesak, melihat kondisi Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang pucat pasi.
Tidak ada tenaga sedikitpun atau aura wibawa, dari seorang raja kecuali wajah lesu menahan sakit.
"Kau tidak perlu berkata seperti itu." Sang Prabu berusaha menahan semuanya. "Ayahanda pernah mengatakannya." Hatinya sangat tegar. "Kau tidak perlu bersedih, atau merasa menyesal."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba untuk tidak membuat Jaya Satria merasa sedih. "Semua ini adalah ujian bagiku, juga kau jaya satria." Ungkapnya.
"Sekali lagi maafkan hamba."
"Sudahlah raka jaya satria." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat sedih.
Jaya Satria juga mencoba menenangkan dirinya.
"Lalu bagaimana setelah ini?." Sang Prabu tersenyum kecil. "Mereka telah mengetahui, di mana keberadaan temannya?."
"Kita harus mencegahnya." Jawab Jaya Satria. "Kita tidak boleh membiarkan mereka, mengambil tahanan."
"Kalau begitu." Respon Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Aku akan kembali ke istana, dan kau." Ucapnya sambil menepuk pundak Jaya Satria. "Pulihkan tenaga dalam mu, untuk berhadapan dengan mereka nantinya."
"Sandika Gusti Prabu." Jaya Satria memberi hormat. "Jika itu yang Gusti Prabu inginkan? Hamba akan melakukan sesuai dengan perintah Gusti Prabu."
Jaya Satri setuju dengan apa yang dilakukan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, ia juga tidak akan membiarkan para perusuh membuat keonaran di wilayah kerajaan Suka Damai.
"Aku akan segera kembali ke istana." Ucap sang Prabu. "Aku takut ibunda akan mencemaskan keadaan kita." Ucap sang Prabu. "Tadi aku berpesan pada prajurit, agar melarang siapa saja, memasuki bilik pribadi Raja."
"Kalau begitu, berhati-hatilah gusti prabu saat pulang." Jaya Satria kembali memberi hormat. "Hamba akan segera ke hutan taring belati raga."
Jaya Satria hanya menganggukkan kepalanya, ia mengerti apa yang dicemaskan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Setelah itu mereka pergi dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh, dan dibantu dengan pedang panggilan jiwa, mereka menuju tempat mereka masing-masing.
...***...
Di sebuah tempat.
Putri Agniasari Ariani telah sampai di sebuah desa, namun entah kenapa saat itu ia melihat ada banyak orang yang berlari ketakutan.
"Apa yang terjadi? Kenapa mereka berlari ketakutan seperti itu?." Dalam hatinya bertanya-tanya.
Deg!.
Matanya terbelalak lebar, ketika melihat ada beberapa orang yang membawa golok?.
"Hentikan!." Teriaknya. "Apa yang telah kalian lakukan?."
Putri Agniasari Ariani segera berlari, menghadang seorang pemuda yang hendak membacok seorang wanita muda.
Duakh!.
Dengan sekuat tenaga ia menendang golok di tangan pemuda itu, menghalangi niat jahat itu.
"Kurang ajar!." Umpatnya kasar. "Siapa kau? Berani ikut campur urusan kami?!." Bentaknya dengan suara yang sangat keras.
"Lari lah nini." Ucap Putri Agniasari Ariani. "Biar saya atasi mereka."
Wanita muda itu segera berlari, ia tidak sempat mengeluarkan kata-kata, karena ia sangat ketakutan setengah mati.
"Sebaiknya kau tidak usah ikut campur." Ucapnya penuh amarah. "Dengan urusan kami!." Tegasnya. "Atau kau akan celaka!."
"Atau? Kau ingin menggantikan posisinya?."
Kelima pemuda itu tampak ganas, mereka seperti sedang dipengaruhi oleh sesuatu.
"Bukankah? Ini masih kawasan kerajaan suka damai?." Dalam hati Putri Agniasari Ariani tidak menduga akan mendapatkan masalah yang aneh. "Kenapa kalian berbuat jahat?."
"Hahaha!."
Mereka malah tertawa dengan ucapan Putri Agniasari Ariani.
...***...
Di bilik Raden Ganendra Garjitha.
Ia saat ini sedang berbicara dengan adiknya Raden Gentala Giandra, juga Putri Ambarsari.
"Akhir-akhir ini, rayi prabu sering berada di ruang pribadinya." Ucapnya dengan heran. "Sebenarnya apa yang ia lakukan?." Lanjutnya. "Rasanya ada sesuatu yang ia sembunyikan dari kita semua."
"Entahlah raka." Responnya. "Aku juga tidak tahu, aku juga heran." Lanjutnya. "Apakah setiap Raja melakukan hal yang sama?."
Ada perasaan aneh, yang mengganjal pikiran mereka saat itu juga.
"Rayi andhini andita pernah berkata kepadaku." Ucap Putri Ambarsari. "Jika ia dulu pernah mengintip ruang pribadi raja." Lanjutnya. "Ia melihat ayahanda Prabu bersama sosok misterius." Ia mencoba mengingat kembali cerita dari adiknya. "Begitu juga dengan rayi prabu yang sekarang."
"Melihat ayahanda prabu bersama sosok misterius?." Ulangnya. "Dan rayi Prabu juga?." Raden Ganendra Garjitha dan Raden Gentala Giandra saling berpandangan. Apakah adiknya ini tidak salah dalam berbicara?.
"Iya raka." Responnya. "Rayi andhini andita yang berkata seperti itu padaku waktu itu."
"Kita selidiki saja raka." Ucapnya. "Kita bekerjasama dengan rayi andhini andita." Lanjutnya. "Kita bisa memanfaatkan kesempatan yang ada." Ia menatap semua saudara-saudaranya. "Untuk menjatuhkan rayi Prabu."
Raut wajah Raden Gentala terlihat senang, ia memiliki ide di kepalanya saat ini. Ia tahu caranya untuk membuat wibawa adiknya Cakara Casugraha atau prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak dipercayai oleh rakyat.
"Kau memang rayiku yang pintar." Pujinya. "Bisa memanfaatkan kesempatan." Raden Ganendra Garjitha malah berbangga hati, memiliki adik seperti Raden Gentala Giandra. Begitu juga dengan Putri Ambarsari yang merasa terkesan.
Sepertinya mereka memiliki rencana, yang dapat menjatuhkan wibawa prabu Asmalaraya Arya Ardhana, dihadapan semua rakyat Suka Damai.
Apakah yang akan mereka lakukan?. Temukan jawabannya.
...***...
Setelah menunggu agak lama, akhirnya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana akhirnya keluar dari ruangan pribadinya. Ratu Dewi Anindyaswari yang melihat kedatangan anaknya merasa lega.
"Oh? Putraku nanda cakara casugraha." Ratu Dewi Anindyaswari segera mendekati anaknya. "Apakah nanda baik-baik saja nak?." Ratu Dewi Anindyaswari sangat senang melihat keadaan putranya baik-baik saja.
"Ibunda."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mendekati ibundanya, sang Prabu mencium tangan ibundanya penuh dengan kasih sayang.
"Nanda baik-baik saja ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencium tangan ibundanya, dengan segenap perasaan kasih sayangnya. Sang Prabu merasa bersalah karena telah membuat ibundanya cemas.
"Maafkan nanda, karena telah membuat ibunda cemas." Suara Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terdengar lirih.
Namun setidaknya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sudah tidak pucat lagi, saat menemui ibundanya. Sang Prabu tentunya tidak mau, membuat ibundanya semakin cemas.
"Syukurlah nak, ibunda lega mendengarnya." Ratu Dewi Anindyaswari merasa lega, anaknya baik-baik saja.
Tangannya mengelus kepala putranya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Anaknya yang sangat ia cintai, anaknya yang sangat peduli padanya.
Sementara itu, Ratu Ardiningrum Bintari dan ratu Gendhis Cendrawati melihat itu dari kejauhan.
"Lihatlah rayi?." Hatinya semakin benci. "Mereka baru saja terpisah, hanya karena nanda prabu Asmalaraya Arya Ardhana bersemedi di ruang pribadinya." Ucapnya kesal. "Tapi rayi dewi anindyaswari malah bersikap berlebihan, mengkhawatirkan putranya." Ratu Ardiningrum Bintari sangat muak melihat pemandangan itu. Sama sekali tidak enak untuk dilihat, betapa lemahnya mental mereka hanya karena seperti itu malah membuat drama menangis tidak jelas.
"Yunda benar." Responnya. "Harusnya rayi dewi anindyaswari, menyadari posisi anaknya, tapi malah bersikap seperti itu?." Ratu Gendhis Cendrawati sungguh tidak mengerti apa yang mereka lakukan.
Namun yang tidak mereka mengerti mengapa ada adegan menangis khawatir di istana ini hanya karena ketidaktahuan mereka, atas apa yang terjadi pada prabu Asmalaraya Arya Ardhana sehingga ibundanya ratu Dewi Anindyaswari menangis.
...***...
Putri Agniasari Ariani sedang berhadapan dengan kelima pemuda itu, dengan sekuat tenaga ia menggunakan pedang Dewi Langit untuk mengalahkan mereka.
Dengan jurus-jurus yang ia pelajari dari ayahandanya, ia gunakan jurus itu untuk mengalahkan mereka.
"Kurang ajar!." Umpatnya penuh dengan amarah. "Siapa kau?!." Hatinya semakin panas. "Sepertinya ilmu pedang yang kau gunakan?! Bukan dari kalangan pendekar biasa!."
"Aku tidak harus menjawabnya!." Responnya cepat. "Dan kalian?." Putri Agniasari Ariani menatap tajam ke arah mereka. "Kalian harus bertanggungjawab! Atas apa yang telah kalian lakukan." Entah kenapa hatinya sangat panas saat itu.
"Tidak usah banyak bicara kau!."
"Ini masih wilayah kerajaan suka damai, dan kalian?." Hati Putri Agniasari Ariani telah dikuasai oleh amarah. "Telah berani berbuat onar?!." Baginya benar-benar terasa panas. "Aku tidak akan mengampuni kalian! Hyah!." Putri Agniasari Ariani kembali menyerang mereka.
Kali ini dengan menggabungkan jurus tapak angin dalam kesunyian, ia melumpuhkan mereka semua.
"Eagkh!."
Terdengar suara teriakan dari mereka, ketika pedang Dewi Langit menyayat tubuh mereka dengan ganasnya. Dan saat itu pula, terdengar suara tepuk tangan yang sangat banyak, membuat Putri Agniasari Ariani terkejut mendengarnya.
"Terima kasih nini, terima kasih telah membunuh mereka semua." Ucapan seorang laki-laki padanya.
Putri Agniasari Ariani kembali memasukkan pedang Dewi Langit di dalam warangkannya.
"Maaf tuan?." Responnya. "Apa yang terjadi sebenarnya?." Hatinya sangat prihatin. "Kenapa desa ini terjadi penyerangan mengerikan seperti itu?."
"Kalau begitu mari ikuti kami nini." Ucapnya dengan ramah. "Semoga nini bisa membantu kami."
Putri Agniasari Ariani hanya ikut saja, ia penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya di desa itu?.
...***...
Keesokan harinya, seperti biasa.
Sidang pertemuan antara menteri, Adipati, lurah membahas apa saja yang menjadi keluhan rakyat apalagi memasuki satu bulan masa jabatan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sebagai raja.
Namun mereka sedang menunggu sang prabu karena menunaikan ibadah sholat Dhuha, hingga rapat sedikit tertunda.
"Lihatlah?!." Ucapnya heran. "Sebagai seorang raja, harusnya tepat waktu." Lanjutnya. "Tapi mengapa? Malah membuat kita menunggu?." Salah satu Adipati tidak sabar menunggu dilaksanakan rapat tersebut.
"Raja kita adalah seorang muslim." Jawabnya. "Jadi wajar saja! Jika beliau melakukan kewajibannya." Lurah Raweyai mengerti, jika di istana ini belum banyak yang memeluk agama Islam. Jadi banyak yang belum mengerti, apa yang dilakukan oleh prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Sudahlah!." Tegasnya. "Tidak baik berdebat masalah keterlambatan Gusti Prabu." Lanjutnya. "Kita sebagai abdi yang baik? Haruslah memberikan waktu untuk Gusti Prabu."
Salah satu menteri setuju dengan apa yang dikatakan oleh lurah tentang prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
Tak lama kemudian saat mereka membahas keterlambatan sang prabu, ia muncul dengan mengucapkan salam kepada mereka semua.
"Sampurasun."
Sang Prabu yang datang dari arah luar berjalan dengan santai, menuju singgasananya, dan mereka yang melihat kedatangan sang prabu langsung memberi hormat kepada mereka.
"Rampes"
Balas mereka semua dengan nada sopan, menyambut kedatangan sang Prabu.
Setelah sang Prabu duduk di singgasananya. Ia menatap satu persatu bawahannya yang telah menunggu kedatangannya.
"Maafkan saya, jika saya terlambat datang."
Sang Prabu meminta maaf pada mereka, dan mereka hanya diam, mencoba memaklumi keterlambatan sang Prabu.
"Mohon maaf Gusti Prabu." Ia memberi hormat. "Ada apa gerangan kiranya? Gusti Prabu memanggil kami semua? Untuk berkumpul di sini?." Mentri Moja Pribadio bertanya apa gerangan, yang membuat Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memanggil mereka semua.
"Benar Gusti Prabu." Sambungnya. "Bukankah kita sudah membahas beberapa masalah yang terjadi? Di negeri ini Gusti."
"Mohon penjelasannya Gusti."
"Saya memanggil kalian semua." Jawab Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Karena ada hal penting yang ingin saya sampaikan kepada kalian." Sang Prabu menatap lurus ke depan.
Seketika suara menjadi lebih tenang dari yang sebelumnya.
"Beberapa hari yang lalu." Ucap Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dengan suara yang keras. "Saya telah menangkap salah seorang kelompok sengkar iblis!." Tegas sang Prabu. "Yang dulunya pernah membuat keonaran di wilayah kerajaan Suka Damai!." Lanjut sang Prabu. "Ketika ayahanda prabu kawiswara arya ragnala masih hidup."
"Mohon ampun Gusti Prabu." Ia memberi hormat. "Mengapa Gusti Prabu baru mengatakannya sekarang?."
Mereka heran mengapa prabu Asmalaraya Arya Ardhana baru mengatakan kepada mereka masalah itu?.
"Lalu dimana tahanan tersebut?."
"Mengapa kami tidak mendengar, ada tahanan baru yang masuk ke penjara istana?."
"Mohon penjelasannya Gusti Prabu."
"Jangan sembunyikan masalahnya."
"Terbuka lah pada kami Gusti."
"Katakan Gusti!."
Ya, itu benar, jika memang sang Prabu menahan salah satu dari mereka?. Apa jawaban dari sang Prabu?.
Apakah pembaca tercinta penasaran?.
Bagaimana kelanjutannya?. next.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 372 Episodes
Comments
Anonymous
lanjutkan
2024-09-03
0
AGhanteng
Author buat cerita putri bestari dgn anaknya yg baru lahir dong.Penasaran dgn cerita lucu bayinya...
2022-05-23
1
SoVay
tapi karena aku lg malas mikir cerita baru, sedangkan ini aja blum tamat
2021-12-18
1