...***...
Putri Agniasari Ariani dan Nila Ayu telah menyelesaikan masalah, saat ini mereka berada di sebuah kedai makan. Tentunya sambil berbincang-bincang, dan saling berkenalan.
"Terima kasih atas bantuan sebelumnya." Ia memperhatikan penampilan Putri Agniasari Ariani yang sangat rapi. "Jika aku perhatikan, kau bukan dari kalangan biasa."
"Namaku bahuwirya agniasari ariani, dari kerajaan suka damai."
"Bahuwirya?." Nila Ayu sangat terkejut. "Artinya? Putri seorang Raja?."
"Lebih kurang seperti itu."
"Maaf, jika hamba lancang pada Gusti Putri." Nila Ayu segera memberi hormat.
"Tidak apa-apa nila ayu." Putri Agniasari Ariani merasa tidak enak. "Lagi pula, saat ini aku sedang mengembara, aku hanyalah rakyat biasa."
Nila Ayu juga mencoba menghilangkan perasaan canggung itu.
"Lantas? Apa yang membuat Gusti Putri mengembara sampai ke daerah ini?." Ia sangat penasaran. "Tentunya ada hal penting yang hendak Gusti Putri cari."
"Menurut ucapan sahabat ku." Jawabnya. "Katanya di kawasan kerajaan daun bidara? Ada sebuah pondok pesantren." Lanjutnya. "Yang mengajarkan ilmu agama Islam, dan aku ingin belajar di sana."
"Kabar itu memang benar." Responnya dengan baik. "Hamba akan mengajak Gusti Putri ke sana." Lanjutnya. "Jika memang benar? Gusti ingin belajar agama Islam."
"Benarkah?."
"Tentu saja Gusti Putri." Jawabnya. "Kebetulan hamba murid di sana."
"Oh? Ini kebetulan yang sangat luar biasa."
"Tapi? Bukankah? Keluarga istana kerajaan suka damai?." Ucapnya dengan aneh. "Semuanya menganut agama Hindu-Budha?." Keningnya terlihat mengkerut. "Maaf jika hamba lancang."
Putri Agniasari Ariani tersenyum memaklumi itu. "Ya, memang sepeti itu yang terjadi." Putri Agniasari Ariani tersenyum kecil. "Namun, karena adikku telah memeluk agama Islam." Jelasnya dengan ramah. "Aku juga ingin memeluk agama Islam." Begitu juga senyumannya. "Agama yang telah dipercayai oleh adikku."
"Jadi begitu?." Nila Ayu sedikit memahaminya. "Kalau begitu, hamba akan memperkenalkan Gusti." Lanjutnya. "Pada guru dewi cantika." Ia terlihat bersemangat. "Semoga saja beliau mau mengajarkan agama Islam pada Gusti."
"Terima kasih nila ayu." Balas Putri Agniasari Ariani. "Kau sangat baik sekali."
"Hamba hanya membantu sebisanya saja Gusti."
Ya, begitulah perkenalan Putri Agniasari Ariani dan Nila Ayu. Apakah benar?. Putri Agniasari Ariani akan masuk agama Islam?.
...***...
Istana kerajaan Suka Damai, istana selatan.
"Putraku nanda cakara casugraha." Dalam hati Ratu Dewi Anindyaswari sangat cemas. "Kenapa nanda belum pulang juga nak?." Hatinya terasa sakit, tidak bisa diam sama sekali. "Apakah nanda baik-baik saja?."
Namun saat itu, Putri Andhini Andita datang menemui Ratu Dewi Anindyaswari.
"Sampurasun ibunda Ratu." Ucapnya sambil memberi hormat.
"Rampes." Balas Ratu Dewi Anindyaswari dengan suara tertahan.
"Apakah ananda boleh masuk?."
"Silahkan masuk putriku."
"Ibunda." Putri Andhini Andita mendekati Ratu Dewi Anindyaswari. "Bolehkah ananda duduk di samping ibunda?."
"Silahkan putriku, duduklah nak." Ratu Dewi Anindyaswari mencoba untuk tersenyum, walaupun itu terasa pahit.
"Terima kasih ibunda." Putri Andhini Andita tersenyum kecil, ternyata Ratu Dewi Anindyaswari tidak menolaknya.
"Mengapa ananda menangis?." Ratu Dewi Anindyaswari heran. "Apakah ada sesuatu yang menakuti ananda?."
Ratu Dewi Anindyaswari heran melihat Putri Andhini Andita menangis?. Tapi mengapa?.
"Ibunda." Putri Andhini Andita berusaha menahan tangisnya.
"Ada apa nak?." Ucapnya heran. "Jelaskan pada ibunda." Ratu Dewi Anindyaswari merasa tidak enak hati. "Mengapa ananda menangis seperti itu? Apakah terjadi sesuatu padamu?."
Ratu Dewi Anindyaswari takut terjadi kesalahpahaman, jika ibundanya Ratu Gendhis Cendrawati melihat anaknya menangis?. Ratu Dewi Anindyaswari takut, jika nantinya dituduh telah melakukan sesuatu pada Putri Andhini Andita.
"Rasanya tidak tega melihat kondisi ibunda seperti ini." Putri Andhini Andita berusaha untuk menahan isak tangisnya. "Menangis seharian sendirian di kamar." Ucapannya seakan meyakinkan Ratu Dewi Anindyaswari, bahwa dirinya memang memiliki simpati. "Ibunda jangan bersedih, rayi Prabu pasti akan kembali."
"Ada apa ini?." Dalam hati Ratu Dewi Anindyaswari semakin heran. "Permainan seperti apa? Yang sedang ia lakukan lakukan padaku?." Dalam hati Ratu Dewi Anindyaswari sangat waspada.
...***...
Syekh Asmawan Mulia dan Aki Jarah Setandan kembali memberikan pengobatan pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria. Hanya memastikan, tidak ada lagi racun berbahaya yang berada di dalam tubuh keduanya.
Dengan menggunakan tenaga dalam, dan bantuan ayat-ayat suci Alquran, Syekh Asmawan Mulia membacakan semuanya, meminta kepada Allah SWT, agar diberikan kesembuhan pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria.
وَاَيُّوۡبَ اِذۡ نَادٰى رَبَّهٗۤ اَنِّىۡ مَسَّنِىَ الضُّرُّ وَاَنۡتَ اَرۡحَمُ الرّٰحِمِيۡنَ
Wa Ayyuuba iz naadaa Rabbahuuu annii massaniyad durru wa Anta arhamur raahimiin
Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, "(Ya Tuhanku), sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang." (Al-Anbiya 83.)
Al Qur'an Surat Yunus ayat 57
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدْ جَآءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَآءٌ لِّمَا فِى ٱلصُّدُور وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ
Artinya: "Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman."
Al Qur'an Surat Al Isra ayat 82
وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
Artinya: "Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian."
Al Qur'an Surat Asy Syuara ayat 80
وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ
Artinya: Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku."
Tentunya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria juga mengikuti bacaan ayat itu dengan sempurna. Hingga beberapa saat, tubuh keduanya benar-benar merasa aman dari rasa sakit akibat racun ganas dari serangan musuh.
"Alhamdulillah hirobbil'alamin ya Allah." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria tidak lupa mengucapkan rasa syukur itu.
"Terima kasih Syekh guru, aki jarah setandan." Rasa haru itu menyelimuti suasana hari keduanya.
"Tanpa bantuan dari guru, kami tidak akan mungkin bisa sembuh seperti ini." Jaya Satria hampir saja menangis.
"Semua yang telah terjadi, itu karena takdir dari sang hyang Widhi." Responnya. "Kami tidak bisa melakukannya begitu saja."
"Allah SWT, telah memberikan kita kesempatan untuk sehat." Ucap Syekh Asmawan Mulia. "Agar bisa berbuat kebaikan, dan nanda berdua harus ingat itu."
"Ya, tentu saja guru."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria tentu saja mengetahui itu dengan sangat baik.
...***...
Putri Agniasari Ariani saat ini di dalam perjalanan menuju pondok pesantren. Saat itu ia berhenti, karena Nila Ayu hendak melaksanakan sholat ashar.
"Gerakan itu, sama seperti yang dilakukan oleh rayi Prabu." Dalam hati Putri Agniasari Ariani memperhatikan apa yang telah dilakukan oleh Nila Ayu. "Hanya saja? Kenapa ia menutupi seluruh tubuhnya dengan kain putih itu?." Dalam hatinya berpikir sejenak. "Apakah ada perbedaan? Tata cara sholat yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan?." Raut wajahnya terlihat dipenuhi oleh rasa penasaran yang membuncah. "Aku semakin ingin belajar tentang itu semua." Dalam hatinya merasa bersemangat. "Baiklah, aku akan mencoba dengan kesungguhan hatiku." Putri Agniasari Ariani telah membulatkan tekadnya, agar tidak ada lagi keraguan di hatinya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." Setelah menyelesaikan sholatnya ia mengucap salam ke kanan, dan ke kiri.
Tak lupa Nila Ayu berdoa kepada Allah SWT, agar senantiasa dilindungi, diberikan kesehatan, dan banyak lagi doa yang ia ucapkan pada saat itu.
...**...
Bilik Ratu Dewi Anindyaswari.
"Ceritakan lah pada ananda." Ucapnya dengan senyuman ramah. "Mungkin ananda bisa mencari jalan keluarnya, ibunda." Ia mencoba untuk mengorek, kesedihan yang dirasakan oleh Ratu Dewi Anindyaswari.
"Bagaimana ibunda tidak sedih nak?." Lagi-lagi hatinya kembali merasakan sakit yang luar biasa. "Ibunda tidak tahu, bagaimana nasib putra ibunda?." Ungkapnya sambil menekan perasaan sesak. "Hati ibu mana? Yang tidak sedih?." Tatapan matanya begitu pedih. "Ketika tidak mengetahui keadaan anaknya?." Hati Ratu Dewi Anindyaswari merasa sedih, ia tida percaya jika anaknya meninggal.
"Ibunda." Putri Andhini Andita terlihat bersimpati.
"Ibunda hanya menginginkan ia kembali dengan selamat." Suaranya terdengar bergetar. "Ibunda tidak menginginkan hal yang lain, selain kepulangannya" kembali ratu Dewi Anindyaswari menangis. Apakah ia tidak boleh berharap seperti itu?.
Putri Andhini Andita tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia memikirkan ucapan Ratu Dewi Anindyaswari yang menginginkan anaknya kembali. Karena ia yakin, bahwa anaknya masih hidup?.
"Tapi tunggu dulu!." Dalam hatinya memikirkan sesuatu.
Ada yang mengganjal di pikiran Putri Andhini Andita saat itu.
"Jika memang cakara casugraha tewas?." Dalam hatinya bingung. "Kenapa jasadnya tidak ditemukan?." Ia mencoba memikirkan kemungkinan.
Deg!.
Pikirannya Terbuka seketika.
"Jika terjadi sesuatu pada cakara casugraha, pasti orang itu yang akan menolongnya." Dalam hatinya sangat yakin. "Pasti, aku sangat percaya jika orang itu." Dalam hatinya lagi. "Orang bertopeng itu, pasti akan membantu cakara casugraha."
Putri Andhini Andita sangat ingat, dengan sosok misterius yang bersama Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Tidak mungkin, akan mengalami kesulitan. "Aku rasa, itulah alasan kenapa? Ia tidak mau diikuti oleh siapa saja, dari pihak istana." Dalam hatinya lagi.
Putri Andhini Andita benar-benar berperang dengan pikirannya sendiri.
"Ya, aku yakin dia masih hidup." Ia merasakan gejolak amarah. "Dasar raka dan yunda tidak berguna!." Umpat putri Andhini Andita dalam hatinya.
"Kenapa tiba-tiba saja ia termenung?." Dalam hati Ratu Dewi Anindyaswari merasa ada yang aneh pada Putri Andhini Andita. "Apa yang sedang ia pikirkan?."
"Apanya yang bahagia? Hanya karena kabar kematian cakara casugraha? Yang belum kepastiannya?!." Dalam hatinya semakin kesal. "Heh! Ternyata mereka memang tidak berguna!." Umpatnya dengan penuh amarah. "Hanya pandai berbicara saja."
"Ada apa putriku?."
"Oh?." Responnya. "Tidak apa-apa ibunda." Ia berusaha bersikap biasa saja. "Kalau begitu ibunda istirahat saja, ananda akan kembali nanti."
"Baiklah kalau begitu."
"Sampurasun."
"Rampes."
Ratu Dewi Anindyaswari hanya melihat kepergian Putri Andhini Andita.
"Aku yakin ada kesalahan." Dalam hatinya merasa seperti itu.
"Bahkan Senopati mandala sakuta yang menjemputnya?." Dalam hatinya bingung. "Mengatakan tidak menemukan rayi Prabu di sana?." Dalam hatinya masih memikirkan itu. "Hingga mereka menyimpulkan kematian cakara casugraha?." Ia semakin kesal. "Hanya karena menemukan robekan baju hitam di sana?." Hatinya sangat gelisah memikirkan itu semua. "Mungkin saja rayi Prabu terkena jurus berbahaya?." Ia memikirkan kemungkinan itu terjadi. "Sehingga pakaian yang ia kenakan robek?."
Putri Andhini Andita benar-benar tidak bisa tenang, belum mengetahui dengan pasti apakah?. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana masih hidup?. Atau telah pergi dari dunia fana ini?.
"Jika memang rayi Prabu masih hidup?." Dalam hatinya lagi. "Karena pertolongan orang misterius itu?." Pikirannya tertuju pada sosok pemuda mengenakan pakaian serba hitam. "Aku yakin dalam waktu dekat ini, ia akan kembali ke istana."
Antara galau, dan gelisah putri Andhini Andita tidak tahu bagaimana perasaannya. Yang jelas ia akan melihat apakah dugaannya benar atau tidak.
Bagaimana kelanjutannya?.
...***...
Di tempat Nini Kabut Bidadari.
Semara Layana menceritakan pada Nini Kabut Bidadari. Siapa yang mereka lawan sebenarnya?.
"Ternyata orang misterius itu, ia adalah bawahannya Prabu kawiswara arya ragnala." Ucapnya sambil mengingat kejadian itu. "Pantas saja ilmu kanuragan yang ia miliki sangat dahsyat." Dari raut wajahnya tergambar sangat jelas, bagaimana perasaan takut itu. "Aki dharma seta dibunuh orang itu, dengan menggunakan jurus cakar naga cakar petir." Semara Layana masih mengingat kejadian itu.
Saat ia berpasrah diri karena tidak bisa menghindari jurus cakar naga cakar petir milik prabu Asmalaraya Arya Ardhana?. Ia sempat melihat, Aki Dharma Seta, terkena hantaman keras dari orang misterius yang satunya lagi.
"Prabu kawiswara arya ragnala?." Putri Gempita Bhadrika merasa tidak asing dengan nama itu. Hingga ia mengulang menyebut nama itu?.
Nini Kabut Bidadari dan Semara Layana menoleh ke arah putri Gempita Bhadrika, yang menyebutkan nama Raja Kerajaan Suka Damai itu.
"Kau juga mengenali Prabu kawiswara arya ragnala?." Nini Kabut Bidadari ingin memastikan, bahwa wanita muda itu memang mengenali Raja hebat itu.
"Aku tidak terlalu mengenalinya." Jawabnya. "Akan tetapi aku memiliki dendam yang begitu besar padanya." Sorot mata Putri Gempita Bhadrika, terlihat menyimpan dendam yang sangat besar, hatinya terbakar oleh api kemarahan. "Prabu kawiswara arya ragnala, orang itu yang telah membuat ayahandaku mati suri." Lanjutnya lagi. "Karena itulah aku ke mari."
"Mati suri?." Dalam hati mereka.
Ia melihat ke arah Nini Kabut Bidadari. "Menurut tabib istana? Ayahandaku bisa diselamatkan, dengan air telaga warna bidadari." Ia menjelaskan mengapa ia berada di sini, juga alasan ia dendam pada prabu Kawiswara Arya Ragnala.
Nini Kabut Bidadari merasa tertarik dengan cerita putri Gempita Bhadrika, ia berdiri dan nampak berpikir.
"Siapakah nama ayahandamu?." Keningnya terlihat mengkerut aneh. "Jika aku boleh mengetahuinya?."
"Ayahandaku bernama Prabu maharaja wajendra bhadrika." Jawabnya. "Raja penguasa kegelapan, raja yang menguasai bangsa jin." Jawab Putri Gempita Bhadrika, yang membanggakan kekuasaan ayahandanya.
"Prabu wajendra bhadrika?." Nini Kabut Bidadari mengulang nama itu. Dan seketika itu, ingatannya melayang ke masa lalunya. "Ya, aku sangat mengenali Prabu wajendra bhadrika." Nini Kabut Bidadari tidak akan pernah melupakan sosok itu. Sosok yang pernah ia bantu di masa lalu?.
"Apakah itu benar? Nini mengenali ayahandaku?." Putri Gempita Bhadrika bertanya, karena ucapan Nini Kabut Bidadari, yang mengatakan bahwa ia mengenali ayahandanya?. Bagaimana bisa?.
"Dulu aku adalah abdi setia Prabu wajendra bhadrika." Jawabnya dengan sangat yakinnya. "Tapi karena aku bosan, dengan kehidupan di istana?." Ia tersenyum kecil. "Aku memutuskan untuk meninggalkan istana, karena ditempat ini lebih cocok dengan diriku yang sesungguhnya." Lanjutnya, sambil mengingat bagaimana kehidupannya saat itu.
"Jadi? Kau memanglah anak buah dari ayahandaku?." Putri Gempita Bhadrika tidak menyangka, akan mendengarkan cerita itu.
"Ya, itu benar." Balas Nini Kabut Bidadari.
"Kalau begitu? Cepat berikan aku air telaga warna bidadari!." Tegasnya. "Agar aku bisa menyembuhkan ayahandaku!." Putri Gempita Bhadrika sudah tidak sabaran lagi. Hingga ia terkesan memberi perintah, pada Nini Kabut Bidadari.
"Baiklah kalau begitu." Balasnya. "Ambil saja sesuka hatimu, aku tidak akan melarangnya."
"Ya, tentu saja." Putri Gempita Bhadrika segera melangkah keluar dari pondok itu.
Apakah benar?. Dengan air telaga warna bidadari?. Prabu Wajendra Bhadrika bisa pulih kembali?. Temukan jawabannya.
...***...
Sepertinya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria sudah baikan. Setelah melewati dua hari masa pengobatan, melatih kembali beberapa ilmu kanuragan mereka. Selain itu, mereka juga melatih diri untuk menggerakkan fisik mereka agar tidak kaku.
Saat ini keduanya sedang pamitan pada Aki Jarah Setandan, dan Syekh Asmawan Mulia, mereka akan kembali ke kerajaan Suka Damai. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana khawatir dengan keadaan Istana yang ia tinggali, dan ia juga mencemaskan keadaan ibundanya.
"Berhati-hatilah nanda Prabu." Ucapnya dengan senyuman ramah. "Juga nanda jaya Satria." Tatapan matanya begitu lembut. "Kami selalu mendoakan yang terbaik untuk ananda berdua."
"Terima kasih syekh guru." Jaya Satria memberi hormat. "Semoga Allah SWT selalu membalaskan kebaikan pada syekh guru."
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin." Respon Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Kami masih diberikan kesempatan hidup, mendapatkan nikmat kesehatan."
"Murid hamba adalah seorang Raja." Aki Jarah Setandan sangat terharu. "Rasanya suatu kehormatan dapat membantu nanda." Lanjutnya. "Apalagi semenjak mendiang Gusti Prabu kawiswara arya ragnala, mempercayai nanda Prabu pada hamba."
"Guru." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria memberi hormat pada Aki Jarah Setandan.
"Tentunya hamba akan selalu bersama nanda Prabu." Ungkapnya. "Nanda jaya satria, di saat nanda terluka, ataupun bahagia sekalipun?." Matanya tertuju pada Jaya Satria. "Hamba akan selalu bersama langkah kalian berdua."
"Terima kasih guru." Jaya Satria memberi hormat. "Rasanya kami sangat bersyukur memiliki guru yang sangat baik seperti guru." Jaya Satria sangat tersentuh. "Terima kasih juga pada syekh guru yang selalu membantu kami."
"Kalau begitu kami mohon pamit guru." Ucap Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sambil memberi hormat. "Karena nanda takut terjadi sesuatu pada ibunda."
"Berhati-hatilah nanda Prabu." Balas Aki Jarah Setandan. "Semoga nanda sampai ke istana dengan selamat, tanpa kekurangan apapun."
"Semoga Allah SWT, selalu melindungi nanda berdua." Begitu juga dengan Syekh Asmawan Mulia.
"Aamiin, semoga saja guru."
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh."
Keduanya mengucap salam pada Syekh Asmawan Mulia.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh." Balas Syekh Asmawan Mulia, menjawab salam sang prabu dengan senyuman ramah.
"Sampurasun."
Kali ini keduanya mengucapkan salam pada Ki Jarah Setandan.
"Rampes."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria telah meninggal pondok itu, keduanya akan kembali ke istana kerajaan Suka Damai.
"Mereka seperti pinang yang dibelah menjadi dua adi Syekh." Ungkapnya. "Rasanya aku sangat terharu, ketika Sukma Gusti Prabu kawiswara arya ragnala meminta bantuan padaku."
"Ya, kakang benar."
"Kini kita berpisah dengan mereka, rasanya sangat sedih sekali adi Syekh."
"Kakang tenang saja." Respon Syekh Asmawan Mulia. "Setiap perpisahan, pasti ada pertemuan." Ucapnya dengan senyuman ramah. "Dan begitu seterusnya kakang."
"Ya, aku rasa ucapan mu ada benarnya adi Syekh."
Aki Jarah Setandan merasa terharu, dengan sikap sopan yang ditunjukkan oleh prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria. Ingin rasanya ia menahan kedua orang itu, agar tetap berada di sini untuk menemaninya. Kerinduannya akan kebaikan keduanya, membuatnya ingin menangis. Tapi apalah daya, keduanya harus segera pergi, untuk menyelesaikan masalah yang mereka tinggalkan di istana.
...***...
Sementara itu, di istana kerajaan Suka Damai.
Jika Keluarga istana sedang berkumpul di ruang utama Istana, maka Ratu Dewi Anindyaswari berada di bilik putranya Raden Cakara Casugraha. Ia memperhatikan kamar itu, dengan perasaan sedih, kerinduannya akan sosok putranya.
"Putraku nanda Prabu." Hatinya semakin sedih. "Kembalilah nak, ibunda sangat merindukan nanda Prabu."
Ratu Dewi Anindyaswari duduk di tempat tidur anaknya. Ia membelai tempat tidur itu, juga bantal itu seakan ia sedang membelai anaknya yang sedang tertidur.
"Ibunda?."
Tiba-tiba Ratu Dewi Anindyaswari, mendengarkan suara anaknya yang memanggilnya?. Benarkah itu adalah suara anaknya?.
"Ibunda?."
Deg!.
"Putraku?!." Ratu Dewi Anindyaswari tersentak terkejut, karena mendengar suara putranya.
"Nanda Prabu?." Hatinya bergetar takut. "Nanda berada di mana nak? Katakan pada ibunda, putraku?." Ratu Dewi Anindyaswari menangis terisak, karena hanya mendengarkan suara anaknya. "Nanda di mana nak? Ibunda sangat ingin bertemu dengan nanda Prabu." Ia melihat ke arah pintu kamar anaknya, namun matanya tidak melihat keberadaan putranya.
"Ibunda?." Responnya. "Nanda akan segera kembali ke istana." Suaranya terdengar bahagia. "Ibunda bersabarlah menunggu ananda di singgasana, ibunda."
Suara itu sangat jelas, memang suara putranya. Ia tidak salah dengar, ketika putranya mengatakan, jika ia akan segera kembali ke istana. Dan menyuruhnya bersabar menunggunya di singgasananya?.
"Putraku nanda cakara casugraha akan segera kembali?." Air mata kebahagiaan telah membasahi pipinya. "Benarkah anakku akan segera kembali?." Tangannya spontan menghapus air matanya, dan bersikap tegar kembali. "Kalau begitu aku akan segera ke singgasana, ke ruang utama istana ini." Ratu Dewi Anindyaswari bangkit dari sana, ia berjalan cepat menuju ke sana. "Oh? Dewata yang agung, semoga saja putraku benar-benar kembali."
Ratu Dewi Anindyaswari menghapus air matanya. Ia mencoba untuk tersenyum, untuk menyambut kedatangan putranya, sesuai dengan bisikan yang ia dapatkan?.
Ya, memang itu bisikan dari Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, memalui mata batinnya untuk berkomunikasi dengan ibundanya.
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin, ibunda mendengarnya." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa lega. Setelah itu, ia mengatur hawa murninya, dan menatap Jaya Satria.
"Syukurlah kalau begitu." Responnya. "Kita harus segera sampai secepatnya." Jaya Satria merasa lega, jika Prabu Asmalaraya Arya Ardhana berhasil, berkomunikasi dengan Ratu Dewi Anindyaswari, agar beliau tidak mencemaskan putranya.
...***...
Putri Agniasari Ariani dan Nila Ayu telah sampai di pondok pesantren.
"Maaf? Apakah pakaian yang aku kenakan kurang sopan?." Putri Agniasari Ariani merasa tidak enak hati. "Mereka melihat ke arahku dengan tatapan aneh."
"Gusti Putri tenang saja." Nila Ayu tersenyum kecil. "Mereka melihat ke arah Gusti Putri?." Lanjutnya. "Itu karena mereka belum pernah melihat wanita cantik, putih, dan bersih seperti Gusti Putri."
"Kau yakin? Itu bukan karena pakaian yang aku kenakan?." Bisiknya lagi.
"Percayalah pada hamba."
"Baiklah kalau begitu."
Putri Agniasari Ariani kembali melanjutkan langkahnya, berharap ia tidak dianggap aneh oleh mereka semua.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."
Ada jawaban salam dari dalam rumah, ketika Nila Ayu menguca salam.
"Sampurasun."
"Rampes."
Dengan hati-hati Putri Agniasari Ariani mengucapkan salam tersebut.
"Mari masuk."
"Terima kasih."
Putri Agniasari Ariani segera masuk, ketika dipersilahkan masuk.
"Siapakah gerangan kiranya? Yang bertamu di pondok pesantren ini?."
"Nama saya bahuwirya agniasari ariani, saya dari kerajaan suka damai."
"Subhanallah, kiranya kami kedatangan tamu terhormat, dari kerajaan besar."
"Suatu kehormatan bagi saya bisa berkunjung ke mari." Putri Agniasari Ariani memberi hormat. "Namun, jika diperkenankan? Saya ingin belajar agama Islam di sini." Lanjutnya. "Saya ingin mengenal agama Islam, lebih lanjut lagi."
"Subhanallah, tentu saja dengan senang hati kami akan menerima Gusti Putri, belajar agama Islam di sini."
"Ya, semoga Gusti Putri belajar dengan giat di sini."
"Terima kasih saya ucapkan, mohon bimbingannya."
Putri Agniasari Ariani sangat bersyukur, jika memang ia diterima dengan baik di sana. Tapi apakah mampu belajar dengan baik?. Simak dengan baik kisahnya.
...***...
Sementara itu, di ruang utama istana.
Mereka sedang mengadakan pengangkatan raja baru, meskipun kakaknya Putri Ambarsari mengatakan bahwa mereka akan mengangkat putri Andhini Andita menjadi raja, namun tetap saja putra pertama yang mencoba kembali menduduki singgasana sana itu.
"Putraku Ganendra Garjitha, duduklah di singgasanamu!."
Ratu Ardiningrum Bintari mempersilahkan putranya duduk di singgasana itu. Senyuman manis mengembang di wajah Ratu Ardiningrum Bintari.
kali ini Ratu Ardningrum Bintari sangat yakin, bahwa singgasana itu akan menerima putranya. Kali ini putranya menjadi raja di kerajaan Suka Damai yang sebenarnya, tanpa adanya gangguan dari siapapun.
Sedangkan mereka semua memperhatikan, bagaimana Raden Ganendra Garjitha mendekati singgasana itu, dan duduk di sana dengan senyuman penuh kebanggaan karena duduk dengan tenang.
Tapi mereka semua tidak melihat kejadian apapun, selain wajah biasa. Bahkan terlihat aneh, membuat mereka semua terkejut, dan lebih terkejut lagi melihat Raden Ganendra Garjitha terlempar dari singgasana itu dengan keadaan yang memalukan.
"Putraku! Apa yang terjadi padamu?." Ratu Ardiningrum Bintari sangat terkejut dengan apa yang terjadi pada putranya.
"Raka? Apa yang terjadi sebenarnya?." Bisik Putri Andhini Andita.
"Sepertinya? Mereka telah memulai hal yang mustahil." Dalam hati Ratu Dewi Anindyaswari, saat itu telah sampai di istana Utama. "Mereka ini sangat kurang ajar, sama sekali tidak menghormati putraku sebagai Raja di istana ini." Entah kenapa, terselip perasaan marah di hatinya, ketika melihat apa yang mereka lakukan di saat anaknya tidak ada di istana.
"Aku juga tidak mengetahuinya rayi." Balasnya. "Sepeti ada sebuah dorongan yang sangat kuat, sehingga aku terlempar dari singgasana." Ia masih terlihat kesakitan.
"Hei! Dewi anindyaswari! Ini pasti ulah perbuatan kutukan anakmu!." Bentaknya dengan suara yang sangat keras. "Anakmu yang tidak menginginkan, siapapun menjadi raja di kerajaan ini!." Ratu Ardiningrum Bintari malah menuduh Ratu Dewi Anindyaswari karena perbuatan Raden Cakara Casugraha.
"Sudahlah yunda, aku datang ke sini bukan untuk berdebat denganmu." Balasnya. "Aku sedang menunggu kepulangan putraku."
"Kepulangan putramu?." Tatapan mata mereka semakin dipenuhi oleh kebencian yang dalam.
"Apakah kau sudah gila?!." Bentak mereka.
"Kita semua telah memastikan! Jika dia telah tewas! Karena kesombongannya itu!."
Begitu pedas ucapan Ratu Ardiningrum Bintari, namun Ratu Dewi Anindyaswari mencoba untuk menguatkan hatinya.
"Sebaiknya kau pergi saja dari sini dewi anindyaswari!."
"Kau tidak diundang sama sekali! Untuk menyaksikan pengangkatan Raja ini, karena kedua anakmu tidak ada di sini!."
"Pergi kau dari sini!."
"Pergi kau!."
"Aku telah mengatakan!. Tegasnya. "Jika putraku cakara casugraha, nanda Prabu asmalaraya arya ardhana akan kembali!." Ratu Dewi Anindyaswari sudah tidak tahan lagi. "Jadi?! Aku tidak akan pergi barang setapak pun dari sini!"
Mereka yang menyaksikan itu cukup terkejut, karena selama ini tidak pernah melihat kemarahan yang ditunjukkan oleh Ratu Dewi Anindyaswari.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Bagaimana kelanjutannya?. Temukan jawabannya. Next halaman.
...**...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 372 Episodes
Comments
Anonymous
woi Prabu cepat pulang, krn di istana mu banyak sekali org sombong & tamak utk merebut kekuasaanmu
2024-09-04
0
Elmo Damarkaca
orang2 tamak sedang bermain komedi....
2022-06-03
1
SoVay
sekian dulu hari ini..capek..hihi
2021-12-18
1