KABAR DUKA

...***...

Pondok kecil.

"Alhamdulillah hirobbil a'lamin, kau baik-baik saja jaya satria?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memeluk erat Jaya Satria. "Aku sangat cemas sekali padamu."

"Alhamdulillah hirobbil a'lamin." Respon Jaya Satria. "Allah SWT masih memberikan kita nikmat hidup." Hatinya terasa lega. "Meskipun kita telah mendapatkan serangan yang mematikan."

"Tapi? Bagaimana?."

Saat itu juga Aki Jarah Setandan dan Syekh Asmawan Mulia memasuki pondok itu.

"Guru?."

Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memberi hormat kepada gurunya Ki Jarah Setandan. Rasa hormat kepada gurunya sangat lah besar, meskipun dalam ia sendiri adalah seorang raja.

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, syekh guru."

"Walaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh, nanda jaya satria." Syekh Asmawan Mulia tersenyum kecil.

"Guru, hormat nanda." Kali ini Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria memberi hormat pada Aki Jarah Setandan.

"Alhamdulillah hirobbil'alamin." Respon Syekh Asmawan Mulia. "Sepertinya obat yang diberikan, telah berhasil menyembuhkan Gusti Prabu, juga nanda jaya satria."

"Alhamdulillah hirobbil'alamin."

"Untuk dua hari ini tetaplah di sini." Tatapan matanya sangat sendu. "Untuk memastikan bahwa tubuh nanda aman, dari pengaruh racun ganas itu." Ucap Aki Jarah Setandan.

"Apakah selama itu guru?."

"Mohon ampun nanda Prabu." Syekh Asmawan Mulia memberi hormat. "Keadaan nanda Prabu sangat tidak memungkinkan." Lanjutnya. "Untuk kembali ke istana dalam waktu yang dekat ini."

"Kondisi nanda yang melemah." Sambung Aki Jarah Setandan. "Bisa saja dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang menginginkan kematian nanda."

"Banyak luka dalam yang harus dipulihkan." Ucap Syekh Asmawan Mulia dengan perasaan cemas. "Akan berbahaya, jika memaksa untuk kembali ke istana."

"Tinggallah barang beberapa hari di sini." Tatapannya sangat dalam. "Percayalah pada kami." Lanjutnya. "Ini semua, demi keselamatan nanda berdua."

Belum ada tanggapan dari Prabu Asmalaraya Arya Ardhana ataupun Jaya Satria. Keduanya masih memikirkan ucapan Syekh Asmawan Mulia dan Aki Jarah Setandan.

"Ini semua demi kesembuhan nanda berdua." Dengan hati-hati Aki Jarah Setandan berbicara. "Jangan terlalu memaksakan diri." Hatinya semakin cemas. "Untuk melakukan hal, yang kadang tidak bisa kita lakukan sebagai manusia biasa."

"Benar itu nanda Prabu, nanda jaya satria." Syekh Asmawan di juga memberikan nasihat. "Jangan terlalu kaku dengan urusan pemerintahan." Lanjutnya. "Serahkan semuanya kepada Allah SWT." Ucapnya dengan senyuman ramah. "Sang pemilik kehidupan takdir, yang telah kita lalui selama ini."

Apakah sang Prabu akan mendengarkan apa yang mereka katakan?. Baca terus ceritanya.

...***...

Putri Gempita Bhadrika dan Nini Kabut Bidadari masih bertarung, mereka tidak mau mengalah satu sama lain. Mereka terus mengadu ilmu Kanuragan yang mereka miliki.

"Jangan kira kau masih muda?." Ucapnya. "Tapi masih memiliki tenaga yang kuat untuk menjatuhkan aku?!." Nini Kabut Bidadari sangat kesal. "Heh!." Ia mendengus marah. "Jangan bermimpi kau!."

Ia merasa dipermainkan, oleh jurus-jurus yang dikeluarkan oleh Putri Gempita Bhadrika.

Namun ketika mereka hendak melanjutkan pertarungan, mereka dikejutkan oleh dua orang yang datang dalam keadaan terluka parah.

"Kalian?." Nini Kabut Bidadari memperhatikan mereka. "Bukankah kalian adalah, anak buahnya kakang dharma seta?." Nini Kabut Bidadari mengalihkan pandangannya, ia tidak menyangka akan melihat anak buah Ki Dharma Seta berada di sini?.

"Benar nini." Pemuda itu terlihat kesakitan.

"Bagaimana mungkin? Kalian bisa berada di sini?." Matanya memperhatikan orang yang ia cari. "Di mana kakang Dharma Seta berada? Katakan padaku di mana dia?!." Nini Kabut Bidadari sangat panik, ia tidak melihat orang yang ia cintai bersama kedua orang itu.

"Maaf nini." Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya. Semara Layana takut mengatakan, apa yang mereka alami?. Apalagi tubuhnya masih sakit setelah pertarungan itu.

Sedangkan Mayang Sari telah pingsan, karena tidak sanggup lagi bergerak, setelah melakukan perjalanan jauh dengan tubuh terluka dalam?.

"Katakan padaku!." Amarahnya meledak begitu saja. "Apa yang terjadi pada kakang dharma seta?!." Bentak Nini Kabut Bidadari tidak sabaran, ia ingin segera mengetahui bagaimana keadaan Ki Dharma Seta.

Sementara itu, Putri Gempita Bhadrika untuk sementara waktu, hanya berdiam diri saja. Karena memang tidak mengerti apa yang terjadi, dan mengapa mereka terluka.

"Aki dharma seta tewas." Ucapnya sambil menahan sakit. "Di tangan dua orang penopeng."

"Apa?!." Nini Kabut Bidadari merasa panas mendengarkan ucapan itu

"Kami tidak sanggup untuk melawan mereka." Balasnya. "Karena dia mempunyai jurus cakar naga cakar petir."

"Itu tidak mungkin!." Bantahnya dengan hati yang bergemuruh. "Tidak mungkin kakang dharma seta kalah begitu saja!." Ya, rasanya memang tidak mungkin. "Ilmu kanuragan kakang dharma seta, jauh diatas pendekar manapun!." Suaranya terdengar sangat putus asa. "Mana mungkin bisa?! Dikalahkan begitu saja?!."

"Tapi itulah yang terjadi nini." Semara Layana tidak akan pernah lupa kejadian itu. "Kami tidak sanggup melawan orang itu."

"Siapa orang yang dicari kakang dharma seta sebenarnya?!." Amarahnya semakin menjadi-jadi. "Mengapa ia bisa tewas? Itu tidak mungkin! Pasti salah!." Batinnya tidak bisa menerima kenyataan itu, hatinya semakin terasa sesak, mengapa orang yang ia cintai, pergi begitu saja meninggalkan dirinya?.

Apakah yang akan dilakukan oleh Nini Kabut Bidadari?. Apakah ia akan membalaskam dendam kematian orang yang ia cintainya, kepada sosok misterius itu?. Lalu bagaimana dengan Putri Gempita Bhadrika, yang menginginkan air telaga warna bidadari?. Apakah ia akan menunggu izin dari Nini Kabut Bidadari, atau mengambilnya sendiri mumpung pemiliknya sedang bersedih?. penasaran?. Temukan jawabannya.

...***...

Pagi harinya Putri Agniasari Ariani pamitan.

"Apakah Gusti Putri tidak ingin menetap?." Tatapannya seperti memohon. "Di sini barang beberapa hari di desa ini?."

"Maafkan aku rangga ulung." Jawabnya. "Aku harus melanjutkan perjalanan ku." Lanjutnya. "Sampai aku bertemu dengan seorang guru, yang dapat mengajari aku ilmu agama."

"Baiklah." Responnya sedih. "Kalau begitu teruskan saja perjalanan Gusti Putri ke barat." Rangga Ulung hanya bisa merelakan kepergian Putri Agniasari Ariani. "Di wilayah kerajaan daun bidara." Lanjutnya. "Ada sekelompok orang yang belajar agama Islam." Ucapnya dengan senyuman ramah. "Mungkin Gusti Putri bisa belajar di sana."

"Terima kasih atas informasinya rangga ulung."

"Semoga Gusti Putri menjadi wanita muslimah yang hebat nantinya."

"Semoga saja." Putri Agniasari Ariani tersenyum ramah.

Putri Agniasari Ariani sangat bersyukur.

"Lantas? Apa yang akan kau lakukan setelah ini?."

"Hamba akan tetap berjaga di desa ini." Jawabnya sambil memberi hormat. "Hamba akan selalu berada di sini."

"Itu keputusan yang baik." Respon Putri Agniasari Ariani.

"Jika Gusti Putri mengalami kesulitan di perjalanan." Ucapnya. "Jangan sungkan, untuk meminta bantuan pada hamba."

"Terima kasih atas kebaikanmu rangga ulung." Balas Putri Agniasari Ariani. "Semoga dewata agung membalas kebaikan mu."

"Semoga saja."

Pertemuan yang sangat singkat, namun berkesan bagi Putri Agniasari Ariani dan Rangga Ulung.

...***...

Sementara itu di Istana Selatan.

"Lihatlah rayi dewi anindyaswari?!." Ucapnya dengan nada mengejek. "Itu akibat dari kesombongan putramu!." Ia menyeringai lebar. "Sekarang ia belum kembali." Lanjutnya. "Itu adalah karma untuknya!."

"Oh? Tenangkan hatimu." Dalam hati Ratu Dewi Anindyaswari berusaha untuk sabar.

"Kau harusnya menyadarkan putramu." Ucapnya ketus. "Agar tetap mengingat karmaphala." Ujarnya. "Atas apa yang ia lakukan padaku! juga keluargaku di masa lalu."

"Aku mohon yunda, janganlah yunda berkata seperti itu." Hatinya terasa pedih.

Ratu Ardiningrum Bintari dan Ratu Gendhis Cendrawati hanya cuek saja.

"Aku percaya bahwa nanda Prabu." Ratu Dewi Anindyaswari menekan perasaan sesaknya. "Akan segera pulang ke istana ini!." Tegasnya. "Jadi? Yunda jangan berkata seperti itu padaku!."

"Heh!." Ia mendengus kesal. "Kau tidak usah menghibur diri." Bentaknya. "Katakan saja! Kau sangat takut! Jika anakmu itu tewas di sana!."

"Jika kau ingin menangis? Lakukan saja." Ratu Ardiningrum Bintari memanasi. "Wajahmu terlihat jelek, karena menahan tangisan kesedihan."

"Untuk apa?." Respon Ratu Dewi Anindyaswari. "Yunda berdua repot-repot datang ke istana selatan?." Ratu Dewi Anindyaswari mencoba untuk kuat. "Bukankah? Kalian sangat terlarang masuk ke kawasan ini?." Ratu Dewi Anindyaswari mengingatkan mereka. "Apakah kalian lupa itu?."

Ratu Ardiningrum Bintari dan Ratu Gendhis Cendrawati saling bertatapan.

"Jika aku mengatakan pada nanda Prabu?." Hatinya terasa sakit. "Bahwa kalian masuk ke kawasan ini tanpa izin darinya?." Ancam Ratu Dewi Anindyaswari. "Maka kalian akan mendapatkan hukuman yang sangat berat."

"Kurang ajar kau dewi anindyaswari!." Bentaknya. "Berani sekali kau mengancam aku?!." Ucapnya sambil menunjuk kasar tepat di depan wajah Ratu Dewi Anindyaswari.

"Kau mulai kurang ajar dewi anindyaswari!."

"Kalian lah yang kurang ajar!." Ratu Dewi Anindyaswari melawan. "Kalian telah melawan perintah Raja!." Bahkan suaranya terdengar tinggi. "Siap-siap saja kalian akan mendapatkan hukuman."

"Awas saja kau!."

Setelah berkata seperti itu, keduanya segera pergi meninggalkan istana selatan dengan hati yang dongkol.

"Putraku nanda cakara casugraha? Kembali lah nak."

Hatinya perih, hingga tanpa sadar ia menangis sedih, karena terlintas pikiran buruk, akibat pengaruh dari ucapan ratu Ardiningrum Bintari.

Hati ibu mana yang tidak sedih, ketika menunggu kabar dari anaknya, yang sedang berjuang melawan kejahatan, Untuk melindungi keselamatan rakyat Suka Damai.

...***...

Di sekitaran pondok kecil.

Dalam dua hari setelah masa pemulihan.

Keduanya langsung berlatih dengan sungguh-sungguh, gerakan keduanya tidak kaku lagi.

"Kakang terlihat sangat cemas." Ucapnya. "Apakah ada sesuatu yang sedang kakang pikirkan?."

"Sewaktu-waktu aku merasa cemas padanya adi Syekh."

"Kecemasan seperti apa yang kakang rasakan?."

"Dulu, ketika ia pertama kali berguru padaku." Jawabnya. "Aku takut satu hal adi Syekh." Ingatan Aki Jarah Setandan seakan-akan kembali pada saat itu. "Nanda cakara casugraha, adalah anak muda dengan kemampuan yang luar biasa." Kali ini terlihat Aki Jarah Setandan menghela nafasnya. "Kemampuan meniru jurus seseorang, dalam waktu yang singkat adi Syekh." Lanjutnya agak berat. "Ia telah menguasai beberapa jurus pendekar golongan hitam." Hatinya sangat resah. "Sehingga aku sangat waspada mengajarinya saat itu."

Syekh Asmawan Mulia diam sejenak, sambil mengingat apa yang telah dikatakan oleh Aki Jarah Setandan.

"Mendiang Gusti Prabu pernah mengatakan padaku kakang." Balasnya. "Jika nanda cakara casugraha, memang mempelajari beberapa jurus berbahaya."

"Tapi, setidaknya?." Responnya. "Saat bersama adi Syekh?." Matanya menerawang jauh. "Nanda cakara casugraha tidak lagi ganas, ia telah belajar dengan baik."

"Semuanya karena Allah kakang." Balasnya. "Aku hanya sebagai perantara saja." Syekh Asmawan Mulia tersenyum kecil.

"Ya, aku rasa begitu."

"Sarapan lah terlebih dahulu nanda cakara casugraha."

Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria menghentikan kegiatan latihan itu.

"Isi tenaga nanda berdua, supaya lebih berenergi lagi."

"Baik Syekh guru."

Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria mencuci tangan, setelah itu mendekati Syekh Asmawan Mulia, dan Aki Jarah Setandan.

"Mari kita sarapan bersama-sama."

"Mari guru."

Mereka terlihat bersemangat, pagi itu rasanya sangat istimewa.

"Sudah lama rasanya tidak makan bersama nanda berdua."

"Ya, kakang benar."

"Nanti, pada saatnya kita akan berkumpul kembali guru."

"Ya, semoga saja kita berkumpul kembali seperti ini."

Hanya itu saja harapan mereka saat ini, karena peristiwa seperti itu jarang terjadi lagi. Setelah ini mereka akan kembali pada kegiatan masing-masing?.

"Apakah guru tidak ingin ikut kami ke istana?."

"Mungkin tidak dalam waktu dekat ini."

"Hamba akan kembali ke kaki bukit menawan batin." Jawabnya. "Hamba terlalu tua, untuk ikut masalah pemerintahan."

"Baiklah kalau begitu guru." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak memaksakan Aki Jarah Setandan, karena sang Prabu mengetahui, jika memang seperti itu keinginan gurunya.

...***...

Sementara itu, masih dilingkungan istana.

Raden Ganendra Garjitha, Raden Gentala Giandra, Raden Hadyan Hastanta, dan juga putri Ambarsari sangat geram, karena ternyata anak buah yang dikirim untuk membunuh prabu Asmalaraya Arya Ardhana ternyata gagal, dan mereka malah kabur dari sana?.

"Benar-benar tidak becus! Tidak berguna!."

Umpat Raden Ganendra Garjitha dengan marahnya. "Apakah tidak bisa mereka membunuh satu orang saja?." Hatinya terasa membara. "Padahal mereka adalah pendekar pembunuh bayaran?."

"Rayi hadyan hastanta!." Bentaknya. "Kau berkata bahwa mereka dapat diandalkan?!." Suaranya semakin tinggi. "Tapi tetap saja! Itu tidak bisa membunuh cakara casugraha!." Raden Gentala Giandra terlihat marah, ia tidak terima hasil kerja orang-orang suruhan itu.

"Maafkan aku raka." Ucapnya lesu. "Aku tidak menyangka, bahwa mereka dapat dikalahkan raka." Raden Hadyan Hastanta mencoba untuk menenangkan kakaknya, Raden Ganendra Garjitha agar tidak marah padanya.

Di saat mereka marah-marah, mereka melihat kedatangan Senopati Mandaka Sakuta, yang telah pulang membawa beberapa prajurit istana, untuk memastikan kondisi sang Prabu, raja junjungan mereka.

Raden Ganendra Garjitha dan adik-adiknya begitu penasaran, mengapa mereka pulang tanpa adanya prabu Asmalaraya Arya Ardhana?. kemana sang prabu berada?.

Tentunya menjadi pertanyaan bagi mereka, hingga dengan refleks mereka ikut masuk ke dalam istana, dan mengetahui alasan kenapa, sang prabu tidak pulang bersama rombongan yang datang menjemputnya.

...***...

Putri Agniasari Ariani telah meninggalkan kawasan desa Agung Setia, dan bahkan hampir memasuki kawasan kerajaan Daun Bidara.

Matanya memperhatikan orang-orang di sana, mereka yang berpakaian berbeda darinya.

"Punten, permisi?."

"Apakah benar di sini ada pondok pesantren?."

"Oh? Nini ingin menuju ke sana?."

Seorang wanita dewasa, malah balik bertanya pada Putri Agniasari Ariani.

"Ya, benar sekali." Jawabnya. "Apakah nyai bisa menunjukkan arahnya pada saya?."

"Tentu saja bisa."

"Biarkan aku saja yang menunjukkan arah padanya."

Saat itu ada seorang pemuda dengan tatapan menggoda berkata seperti itu.

"Maaf, dia tidak ada urusan denganmu!." Wanita dewasa itu terlihat mendadak galak.

"Kau tenang saja." Balasnya pelan. "Aku pasti akan mengantarkannya sampai ke sana."

"Diam kau!." Dengan cepat wanita dewasa itu menarik tangan Putri Agniasari agar bersembunyi dibalik tubuhnya.

"Sebaiknya kau jangan ikut campur nyi!." Hatinya terasa panas seketika. "Atau kau yang akan celaka!." Bentaknya.

"Ada apa ini?." Ucap seorang wanita muda. "Kenapa kau malah membentak wanita itu? Widuri?."

"Ho?." Responnya. "Nila ayu?." Ia sedikit melunak. "Ada urusan apa kau ke sini?!." Pemuda itu tampak takut, ia mundur beberapa langkah.

"Aku ke sini ada urusan denganmu!." Matanya menatap tajam ke arah Widuri. "Aku ingin menuntut pertanggungjawaban darimu!." Matanya melototi tajam. "Kau telah berani! Menodai temanku! Hyah!."

Tanpa perasaan ragu, Nila Ayu menerjang tubuh Widuri, tubuh pemuda itu terjajar, hingga berteriak kesakitan. Saat itu juga Widuri segera keluar dari kedai makan, ia tidak ingin bertarung di tempat yang sempit.

"Kau tidak akan bisa lari begitu saja!."

Nila Ayu segera mengejar Widuri, hingga terjadi pertarungan antara mereka.

"Apa yang harus aku lakukan?." Putri Agniasari Ariani malah terlihat kebingungan.

"Nini, tolong bantu nini nila ayu." Wanita dewasa itu terlihat sangat takut. "Widuri itu orangnya sangat tidak waras, tolong hentikan dia."

"Baiklah." Responnya. "Aku akan membantunya." Putri Agniasari Ariani segera menyusul mereka. "Mungkin, aku akan meminta penjelasan darinya nanti." Dalam hatinya mencoba untuk melakukan yang bisa saja.

...***...

Kembali ke Istana Kerajaan Suka Damai.

kabar kepulangan Senopati Mandaka Sakuta telah sampai ditelinga Ratu Dewi Anindyaswari, ia segera menuju ruang utama istana di mana tempat bertemunya tamu raja?.

"Hormat hamba Gusti Ratu."

Senopati Mandala Sakuta memberi hormat pada Permaisuri Dewi Anindyaswari.

Di saat waktu bersamaan, keluarga istana berkumpul semua di sana, mereka ingin tahu apa yang terjadi setelah kepulangan Senopati Mandaka Sakuta, dari Hutan Taring Belati Raga.

"Senopati mandala sakuta?." Ratu Dewi Anindyaswari sangat takut. "Katakan pada saya, di mana putraku Prabu Asmalaraya Arya Ardhana?." Hatinya bergetar. "Mengapa tidak pulang bersamamu?."

"Mohon ampun Gusti Ratu dewi anindyaswari." Senopati Mandaka Sakuta memberi hormat. "Kami telah memeriksa hutan taring belati raga." Lanjutnya. "Namun kami tidak menemukan keberadaan Gusti Prabu di sana."

Deg!.

Hatinya seperti dihantam oleh palu keras, sehingga bergetar sakit, dan bahkan terasa sesak.

"Apa yang kau katakan Senopati?." Ratu Dewi Anindyaswari berusaha menahan diri. "Katakan padaku!." Hatinya bergejolak begitu saja. "Jika kau berbohong padaku Senopati."

"Mohon ampun Gusti Ratu." Kembali ia memberi hormat. "Kami telah memeriksanya dengan baik." Ucapnya dengan perasaan bimbang. "Tapi kami memang tidak menemukan Gusti Prabu di sana."

"Jika putra saya tidak ditemukan di sana? Saya yakin nanda Prabu masih hidup." Ratu Dewi Anindyaswari mencoba menekan perasaan takutnya, akan kehilangan putra satu-satunya yang ia miliki.

"Gusti Ratu." Dalam hati Senopati Mandala Sakuta merasa bersimpati.

"Kalau begitu?." Ucap Ratu Dewi Anindyaswari. "Saya mohon pastikan sekali lagi, putra saya pasti masih berada di sana."

"Sudahlah dewi anindyaswari!."

Suara Ratu Ardiningrum Bintari membuat mereka melihat ke arahnya. Termasuk Ratu Dewi Anindyaswari, dan Senopati Mandala Sakuta.

"Jangan kau salahkan mereka!." Bentaknya. "Harusnya kau berterima kasih pada mereka!." Ada amarah yang ia lampiaskan saat itu. "Karena mereka mau bersusah payah, masuk ke hutan angker itu!." Lanjutnya. "Hanya untuk memastikan kematian putramu!."

Perkataan Ratu Ardiningrum Bintari, semakin menusuk hati Ratu Dewi Anindyaswari.

"Kau ini memang tidak tahu terima kasih!." Ucap Ratu Gendhis Cendrawati. "Kau pikir kau siapa? Berani meragukan laporan mereka? Hah?."

"Benar yang dikatakan ibundaku, kenapa ibunda masih saja ragu?." Raden Ganendra Garjitha ikutan bersuara. "Jika memang? Ibunda tidak terima?." Lanjutnya. "Dengan apa yang disampaikan oleh senopati mandala sakuta?." Matanya melihat ke arah Senopati Mandala Sakuta. "Kenapa tidak kau saja? Yang pergi ke sana?." Ia menyeringai lebar. "Untuk memastikannya sendiri? Jika putramu masih hidup?."

"Ya, jika memang ibunda tidak percaya?." Sambungnya. "Pergilah ke hutan taring belati." Lanjutnya. "Kau bisa sepuasnya memastikan kematian anakmu itu." Raden Gentala Giandra tersenyum lebar, mendengus mengejek Ratu Dewi Anindyaswari.

"Aku rasa itu percuma saja." Lanjut Putri Ambarsari. "Karena hasilnya akan tetap sama." Ia mendengus kesal. "Sebaiknya ibunda persiapkan kremasi untuk rayi Prabu." Ia tertawa kecil. "Mungkin ada orang luar yang mengantar jenazahnya ke istana ini nantinya."

"Maaf ibunda." Putri Andhini Andita memberi hormat. "Sebaiknya ibunda jangan terlalu larut dalam kesedihan." Ucapnya lagi. "Tidak baik meratapi, apa yang telah terjadi?."

Tidak adakah diantara mereka yang merasa simpati padanya?. Hatinya terasa sakit mendebarkan apa yang mereka katakan.

"Ternyata benar, apa yang dikatakan oleh gusti Prabu." Dalam hati Senopati Mandala Sakuta. "Bahwa tidak ada satupun dari mereka." Hatinya terasa lelah. "Yang akan bersimpati pada Gusti Ratu dewi anindyaswari?." Dalam hatinya sangat miris. "Mereka ini sangat keterlaluan sekali."

Senopati Mandala Sakuta masih ingat, dengan pesan yang disampaikan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sebelum pergi. Beliau menitipkan pesan bahwa, jangan ada satupun orang yang mendekati ibundanya selama ia pergi.

"Senopati Mandala sakuta, jagalah ibunda saya." Ucap Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Selama saya tidak ada di istana ini." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memberikan pesan. "Jangan sampai mereka berkata-kata yang kejam pada ibunda saya nantinya."

"Sandika Gusti Putri."

Senopati Mandaka Sakuta saat itu hanya beranggapan, bahwa itu hanyalah sekedar kecemasan saja, namun itu benar adanya.

Sekarang ia bisa melihat sendiri, bagaimana perlakuan mereka pada Ratu Dewi Anindyaswari. Sungguh sangat menyakitkan hati. Jadi, wajar saja jika sang prabu mengkhawatirkan ibundanya.

"Mohon ampun Gusti Ratu." Senopati Mandaka Sakuta memberi hormat. "Sebaiknya Gusti Ratu dewi anindyaswari untuk saat ini beristirahatlah." Ia tersenyum ramah. "Kami akan berusaha ke sana, untuk memastikannya kembali." Lanjutnya. "Bagaimana keadaan Gusti Prabu asmalaraya arya ardhana."

"Terima kasih Senopati." Ratu Dewi Anindyaswari merasa lega. Setidaknya, masih ada yang merasa iba pada dirinya. "Kalau begitu? Saya serahkan padamu." Hatinya mencoba tegar. "Kabari saya, jika telah kembali."

"Sandika Gusti Ratu."

Ratu Dewi Anindyaswari pergi meninggalkan mereka semua. Karena tidak ingin mendengarkan perkataan buruk lainnya.

"Kau terlalu memanjakannya mandala sakuta!."

"Mohon ampun Gusti Ratu, hamba pamit, sampurasun." Senopati Mandala Sakuta juga pergi dari tempat.

"Kurang ajar! Dia malah pergi!."

"Tidak apa-apa ibunda, jangan marah dulu." Raden Ganendra Garjitha menenangkan ibundanya. "Lagi pula? Bukankah ini kesempatan bagi kita semua?."

Saat itu mereka memikirkan apa yang dikatakan Raden Ganendra Garjitha.

"Ya, tentu saja."

Apakah yang akan mereka lakukan?. Simak dengan baik kisahnya.

...***...

Putri Agniasari Ariani dan Nila Ayu benar-benar bekerja sama dengan baik, dengan kekuatan yang mereka miliki?. Keduanya dapat melumpuhkan Widuri.

Putri Agniasari Ariani dari arah belakang dengan jurus hentakan angin menahan badai, sedangkan Nila Ayu dari arah depan dengan jurus tusukan jari kematian. Keduanya berhasil mengalahkan Widuri, walaupun tidak membunuh pemuda itu.

"Belum saatnya kau mati!." Nila Ayu menarik kuat kerah baju Widuri, hingga pemuda itu meringis kesakitan. "Aku tidak akan membiarkan temanku, anaknya lahir tanpa bapak!."

"Jadi ini masalah masa depan seseorang?."

"Benar, karena itulah aku tidak membunuhnya." Hatinya memanas. "Dia harus bertanggung jawab!."

"Kalau begitu? Serahkan dia pada orang tua temanmu." Balasnya. "Supaya masalahnya segera diselesaikan."

"Tentu saja." Ucapnya dengan tegas. "Terima kasih atas bantuanmu nini."

"Sama-sama."

"Hm." Dalam hati Putri Agniasari Ariani." Sepertinya ini akan menjadi masalah yang cukup rumit." Dalam hatinya cemas. "Aku harus sabar, dan tetap semangat."

Putri Agniasari Ariani sedikit mengeri dengan apa yang terjadi pada mereka, alasan kenapa Nila Ayu menghajar Widuri tanpa ampun.

Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Bagaimana lanjutan kisahnya?. Simak dengan baik kisah selanjutnya.

...***...

Terpopuler

Comments

Anonymous

Anonymous

lanjut cari

2024-09-04

0

Elmo Damarkaca

Elmo Damarkaca

Kanteb ...👍
lanjut thor...

2022-06-03

1

SoVay

SoVay

jadi karena aku tim hore, boleh aku ketawa aja..wkwkwkw

2021-12-18

1

lihat semua
Episodes
1 KEPERGIAN PRABU KAWISWARA ARYA RAGNALA
2 RAJA BARU
3 TERPILIHNYA RAJA BARU
4 PERDEBATAN
5 RACUN
6 SOSOK MISTERIUS
7 TUDUHAN
8 PERTARUNGAN JAYA SATRIA
9 MENYELESAIKAN MASALAH
10 KEPUTUSAN SANG PRABU
11 HUTAN TARING BELATI RAGA
12 PRABU ASMALARAYA ARYA DAN JAYA SATRIA
13 KABAR DUKA
14 KESEMBUHAN SANG PRABU?.
15 KEPULANGAN SANG PRABU
16 KERUSUHAN DI KOTA RAJA
17 SIDANG DI ISTANA
18 RASA PENASARAN
19 SYAIR PEMIKAT
20 PERTARUNGAN SENGIT
21 RENCANA JAHAT
22 KEMARAHAN DAN KASIH SAYANG
23 TULUS DAN KESUNGGUHAN
24 PUTRI ANDHINI ANDITA
25 PENGLIHATANNYA TENTANG RAJA
26 KEJAHATAN GAIB
27 JAMUAN
28 KECURANGAN PERTARUNGAN
29 TAHTA YANG SAH
30 KEPUTUSAN YANG BERAT
31 PERSIAPAN PERANG
32 PERANG DIMULAI
33 SITUASI PERANG
34 YANG BERPERANG
35 KEMARAHAN DAN BENCI
36 KEBENCIAN DAN KASIH SAYANG
37 PRABU ASMALARAYA ARYA ARDHANA
38 PRABU RAHWANA BIMANTARA
39 MEMAAFKAN DAN KEBAIKAN HATI
40 BERSABAR DALAM KESAKITAN
41 KEPULANGAN RATU DEWI ANINDYASWARI
42 KAKEK MISTERIUS
43 KEGELISAHAN DAN KEJADIAN
44 PERASAAN CEMAS
45 KEADAAN SANG PRABU DAN JAYA SATRIA
46 JAYA SATRIA DISERANG
47 KEJADIAN DEMI KEJADIAN
48 KEADAAN JAYA SATRIA
49 KESEMBUHAN DUA INSAN
50 JAYA SATRIA
51 PERSIAPAN
52 PERTARUNGAN DI KERAJAAN KEGELAPAN
53 KEMARAHAN DALAM PERTARUNGAN
54 PRABU ASMALARAYA ARYA ARDHANA DAN JAYA SATRIA
55 DIBALIK ALASAN
56 KASIH SAYANG DAN KERINDUAN
57 KEKUATAN BATIN SEORANG IBU
58 RENCANA DAN INGATAN
59 JANJI DAN KEINGINAN
60 DENDAM MASA LALU
61 KESESATAN YANG NYATA
62 KESALAHAN MASA LALU
63 PERTARUNGAN RADEN CAKARA CASUGRAHA
64 PATUH PADA ORANGTUA
65 PENDEKAR PEMBURU BENDA PUSAKA
66 ANCAMAN SANG PRABU
67 KEMARAHAN JAYA SATRIA
68 BENDA PUSAKA DAN TUANNYA
69 PEMBERONTAKAN
70 JALAN KELUAR
71 ILMU YANG BERMANFAAT
72 KEDATANGAN PUTRI AMBARSARI
73 PERASAAN HATI
74 KEADAAN KERAJAAN MEKAR JAYA
75 MASALAH YANG TERJADI
76 MIMPI
77 DILUAR DUGAAN
78 PERTARUNGAN DI KOTA RAJA
79 PEDANG PANGGILAN JIWA
80 RATU ARDININGRUM BINTARI
81 KEPULANGAN PRABU RAHWANA BIMANTARA
82 GEJOLAK HATI
83 DIMENSI WAKTU, PEDANG PELEBUR SUKMA
84 PERTARUNGAN TANPA AMPUN
85 JAYA SATRIA?
86 PESAN DARI LANGITYA SUKMANA
87 AMARAH DIHATI
88 KEGELAPAN TELAH DATANG
89 PEDANG PELEBUR SUKMA
90 PERTARUNGAN BATIN
91 LUKA YANG SAMA?
92 KELEMAHAN SANG PRABU?.
93 PERTARUNGAN DAHSYAT
94 RISIKO
95 KONDISI SETELAH PERTARUNGAN
96 GUNDAH KARENA SESUATU
97 PERASAAN CEMAS
98 KABAR BURUK
99 KENAPA SEPERTI ITU?
100 PETUNJUK
101 PANGGILAN
102 JAWABAN
103 MENEKAN PERASAAN HATI
104 USAHA MEREKA
105 KASIH SAYANG YANG TULUS
106 KEBAHAGIAAN DAN DENDAM
107 SANGAT MENGEJUTKAN
108 INGATAN NYAI BESTARI DHATU
109 PERUBAHAN SIKAP
110 TUJUAN
111 KEMARAHAN
112 KETETAPAN HATI
113 KEKUATAN BANTUAN
114 KEGUNDAHAN DAN KASIH SAYANG
115 HATI YANG GELISAH
116 BERUSAHA DENGAN BAIK
117 TEKAD YANG KUAT
118 MEMANCING AMARAH
119 SEMAKIN MARAH
120 BUKAN KEPUTUSAN BIASA
121 INGIN BERUBAH
122 HASRAT YANG MENGGEBU
123 JANGAN SOMBONG
124 PERASAAN CEMAS
125 ADA YANG ANEH
126 HAL YANG TERSEMBUNYI
127 JANGAN TERLALU BERPIKIRAN BURUK
128 MEMASTIKAN SEMUA
129 PERLAWANAN YANG KUAT
130 SUASANA PERTARUNGAN
131 MAHA PEMILIK KEKUASAAN
132 MEREKA YANG BERMASALAH
133 PILIHAN YANG SULIT
134 MENGOBATI PRABU MAHESWARA JUMANTA
135 DAPAT MELIHATNYA?
136 HANYA ITU SAJA
137 SAUDARA?
138 YANG DIBAYANGKAN
139 KEMBALI KE ISTANA
140 KEGELISAHAN DAN HARAPAN
141 KERUSUHAN DAN LAMARAN
142 KEDATANGAN YANG TAK TERDUGA
143 UCAPAN YANG MENYAKITKAN
144 MENGALAHKAN DAN ANEH
145 KETAKUTAN AKAN KEHILANGAN
146 HAL YANG SANGAT PENTING
147 WASPADA TERHADAP SESUATU
148 GETARAN AMARAH
149 PERASAAN YANG KUAT
150 AIR MATA KESEDIHAN
151 PIKIRAN DAN CINTA?
152 KESEDIHAN RATU DEWI ANINDYASWARI
153 KUTUKAN RADEN CAKARA CASUGRAHA
154 TANGISAN KESEDIHAN
155 TIDAK ADA PERASAAN KAH?
156 TIDAK PERLU DIPERJELAS
157 HANYA RAHASIA DI DALAM HATI
158 PELAJARAN YANG BERHARGA
159 RADEN CAKARA CASUGRAHA KEMBALI
160 ALASAN MENJADI RAJA?
161 MASALAH BARU?
162 HATI YANG KUAT
163 TIDAK GOYAH BEGITU SAJA
164 DALAM AMARAH YANG DIRASAKAN
165 RASAKAN KEMARAHANKU
166 JANGAN DENGARKAN MEREKA
167 MASA LALU YANG PERNAH DILALUI
168 KENAPA BERBOHONG?
169 INGATAN MASA LALU YANG TIDAK BISA DILUPAKAN
170 TIDAK BISA SEPERTI ITU.
171 KERESAHAN HATI YANG LARA
172 KEPERCAYAAN YANG SANGAT KUAT
173 KESEDIHAN HATI
174 HUBUNGAN YANG TERJALIN
175 DIJODOHKAN?
176 SUASANA HATI
177 MASA YANG TELAH DILALUI
178 GEJOLAK PERANG DI HATI
179 JIKA KAU INGIN ITU
180 HILANGNYA PERASAAN HATI
181 APAKAH AKU MELAKUKANNYA
182 SAKIT, SAMPAI KE ULU HATI
183 KABAR YANG MENGEJUTKAN
184 KERAGUAN, SIAPA YANG BERHAK
185 KEPUTUSAN YANG DIAMBIL
186 RATU AGUNG KERAJAAN MEKAR JAYA
187 HUKUMAN MATI
188 MENGUATKAN HATI YANG LARA
189 SUASANA HATI MEREKA
190 KENAPA BISA?
191 PERTEMUAN YANG MENGEJUTKAN
192 RASA PENASARAN YANG MENGGELITIK HATI
193 KISAH PUTRI AGNIASARI ARIANI
194 PERTANDA APA ITU?
195 SIAPA ORANG ASING ITU?
196 MIMPI YANG SANGAT BURUK
197 APA YANG KAU KETAHUI?
198 MENGUAK RAHASIA SANG PRABU
199 KATAKAN SELAMAT TINGGAL
200 APAKAH ITU BENAR?
201 MASIH MENJADI MISTERI
202 JANGAN COBA-COBA BERKHIANAT
203 INGIN MENDENGARKAN KISAH TENTANGNYA
204 GEJOLAK AMARAH YANG DIRASAKAN
205 PEDANG SUKMA MAGA PEMBELAH BUMI
206 JURUS CAKAR NAGA CAKAR PETIR
207 TERUS BERUSAHA
208 RASANYA BUKAN DIA
209 NAMA JAYA SATRIA
210 MUSTIKA NAGA MERAH DELIMA
211 BENARKAH BISA KEMBALI?
212 RASA SAKIT DI HATI
213 SUDAH DITENTUKAN
214 PENJELASAN YANG ANEH
215 ADA KECEMASAN DI DALAM HATI
216 SANGAT PEMARAH SEKALI
217 KERESAHAN HATI YANG MENDALAM
218 TAMU JAUH
219 PERMASALAHAN SUASANA HATI
220 PENGEMBARAAN JAYA SATRIA
221 PENDENGAR YANG BAIK
222 ALASAN KENAPA SEPERTI ITU?
223 PENYATUAN RAGA YANG MENYAKITKAN
224 JANGAN MEMBANTAH, TURUTI SAJA
225 KENYATAAN YANG TIDAK BISA DIBANTAH
226 MASIH DALAM MASA PENYESUAIAN
227 MARAH YANG BERLEBIHAN
228 BERHASIL DENGAN BAIK
229 KYAI YANG DIBURU
230 MEMBUNCAH BEGITU SAJA
231 PERASAAN DILEMA PRABU ASMALARAYA ARYA ARDHANA
232 SANGAT MENYENTUH HATI
233 MENCOBA BERSIKAP TEGAR
234 BERDEBAR-DEBAR KARENA APA?
235 PERTARUNGAN BATIN YANG DAHSYAT
236 DENGARKAN DENGAN BAIK
237 GAGAL UNTUK BERSAMA
238 SAKIT, MEMANG SAKIT
239 KABAR YANG TIDAK DIINGINKAN
240 SEMAKIN PARAH
241 MEREDAM SEGALA BENTUK EMOSI JIWA
242 SEDANG BERUSAHA
243 SIAPA DIA?
244 KEYAKINAN HATI YANG KUAT
245 ADA KECEMASAN YANG TIDAK BIASA
246 APAKAH ITU BENAR?
247 GEJOLAK HATI YANG TAK TERSAMPAIKAN
248 JANJI YANG PERNAH DIUCAPKAN
249 BAHAGIA? TAPI MASIH BINGUNG
250 PEMBUKTIAN?
251 APAKAH SEBUAH KEBETULAN?
252 SALAM PERPISAHAN
253 MENCARI PETUNJUK DARI MASALAH YANG TERJADI
254 MENERAPKAN PILIHAN HATI
255 JIKA TELAH MEMILIKI TEKAD
256 SIKAP KERAS HATI
257 SANGAT MENGEJUTKAN SEKALI
258 PERMINTAAN PRABU ASMALARAYA ARYA ARDHANA
259 BERTEMU DENGAN SANG PRABU
260 TIDAK PERNAH DIDUGA SEBELUMYA
261 TIDAK SEPERTI YANG DIBAYANGKAN
262 ADA YANG HARUS DIKETAHUI
263 PERTARUNGAN DI SUMBER MATA AIR DEWA
264 KEKUATAN YANG SANGAT DAHSYAT
265 BAGAIMANA BISA? KEKUATAN KERIS KEMBAR?
266 IDENTITAS ASLI JAYA SATRIA
267 MALAH JADI TAKUT
268 MEMAHAMI SITUASI YANG TERJADI
269 SESUATU YANG TIDAK BISA DIMENGERTI
270 MASALAH YANG CUKUP RUMIT
271 GONCANGAN HATI
272 SAKIT YANG MENUSUK HATI
273 KISAH LAMA YANG TELAH TERJADI
274 MEMANG TIDAK BISA
275 MEMBEBASKAN SUKMA YANG TERSESAT
276 UCAPAN YANG MENCEMASKAN HATI
277 MUNGKIN INI ALASAN YANG TEPAT
278 PERASAAN YANG KUAT
279 GEJOLAK API KEBENCIAN YANG TERTANAM DI HATI
280 HADIAH DARI KELUARGA ISTANA
281 KALIAN BERANI MENANTANG AKU?
282 MARI KITA BICARA
283 MENGUJI KESABARAN HATI?
284 HAL YANG TIDAK TERDUGA SEBELUMNYA
285 BERKOMUNIKASI DENGAN PENGHUNI ALAM SUKMA
286 BUKAN BERMAKSUD MENGHAKIMI SATU PIHAK SAJA
287 MENURUTI KEINGINAN HATI
288 BUKAN PENGLIHATAN BIASA
289 KEMUNGKINAN YANG AKAN TERJADI
290 KEJADIAN YANG SEBENARNYA
291 SESUATU YANG TIDAK BISA DIJELASKAN DENGAN KATA-KATA
292 MEMASUKI ALAM SUKMA
293 MENGUATKAN HATI YANG GELISAH
294 MENGATASI MASALAH TEKANAN BATIN
295 DESA GAIB
296 KETAKUTAN YANG MENYIKSA BATIN
297 MENGGANJAL DI HATI
298 KENANGAN MANIS YANG TAK TERLUPAKAN
299 SUASANA HATI YANG TIDAK KARUAN
300 KEPUTUSAN YANG SANGAT KUAT DARI HATI
301 DAPAT MELIHAT DENGAN JELAS
302 TAKDIR YANG DIJALANI
303 KEGELAPAN YANG MENGUSIK JIWA
304 YANG SEHARUSNYA DILAKUKAN
305 PENCARIAN SUKMA DEWI SUARABUMI
306 HUBUNGAN YANG TERJALIN ERAT
307 PERMOHONAN
308 PERTARUNGAN TIGA SUKMA
309 PASAR KOTA RAJA
310 KENAPA TIDAK BISA MENERIMANYA?
311 AKAR PERMASALAHANNYA
312 HATI YANG INGIN BERONTAK
313 DENGARKAN DENGAN BAIK
314 MASIH ADA HARAPAN
315 MEMPERSIAPKAN DIRI
316 HATI YANG MENENTUKAN
317 TIDAK MUDAH GOYAH
318 APA YANG DICEMASKAN?
319 APAKAH SEMUA ITU BENAR?
320 APA YANG INGIN KAU BUKTIKAN?
321 AKAN AKU TUNJUKKAN SEMUANYA
322 MENGATUR EMOSI JIWA
323 APAKAH MEMANG SEPERTI ITU?
324 MASALAH YANG SANGAT SERIUS
325 KEGELISAHAN YANG MENDALAM
326 PENGLIHATAN YANG TIDAK BIASA
327 PERASAAN HATI YANG TIDAK BISA BERBOHONG
328 KEBENARAN YANG TERSEMBUNYI
329 KEKUATAN YANG DAHSYAT
330 KEJADIAN YANG TIDAK MASUK AKAL
331 MEMIKIRKAN KEMUNGKINAN YANG AKAN DILAKUKAN
332 SIAPA YANG BERANI?
333 GEJOLAK HATI DALAM KEMARAHAN
334 GANASNYA SUASANA HATI RADEN CAKARA CASUGRAHA
335 PERASAAN YANG KUAT SEKALI
336 KETANGGUHAN HATI
337 PERTARUNGAN YANG TIDAK BISA DIHINDARI
338 TERIMA ATAU TIDAK? SEGERA TENTUKAN PILIHANNYA
339 KENAPA MEREKA BISA ADA?
340 KARMA YANG DIDAPATKAN
341 SEHARUSNYA TIDAK SEPERTI INI
342 AMARAH YANG SEMAKIN MEMBUNCAH
343 KEPUTUSAN, DAN MASA LALU
344 JANGAN TANYA KENAPA?
345 MAU MENGUJI KESABARAN KU?
346 MENGERAHKAN SEMUA KEKUATAN
347 HATI YANG TERLUKA
348 KUATKAN HATI SANG PRABU
349 TERHUBUNGNYA PERASAAN MEREKA
350 PERASAAN YANG LEBIH KUAT
351 APA YANG TERJADI SEBENARNYA?
352 TEKAD UNTUK MELAKUKANNYA
353 HARAPAN YANG BAIK
354 LAMARAN DARI DUA PANGERAN?
355 HARUSKAH SEPERTI ITU?
356 ADA YANG TIDAK BERES
357 HATI YANG TERLUKA PARAH
358 KENYATAAN YANG MENYAKITKAN BATIN
359 MENJAGA PERASAAN HATI
360 APAKAH ITU SUDAH TEPAT?
361 ADA YANG DISEMBUNYIKAN?
362 DIA SEORANG RAJA?
363 GEJOLAK AMARAH
364 KASIH SAYANG YANG DALAM
365 SANGAT BERBAHAYA SEKALI
366 MENGERIKAN SEKALI
367 HANYA BISA BERBUAT DEMIKIAN SAJA
368 APA YANG KAU LIHAT?
369 MAU MENGUJI AKU? BOLEH SAJA
370 AKAN AKU TUNJUKKAN KEBENARANNYA
371 KAU MAU APA SEBENARNYA?
372 MASALAH YANG SEAKAN TIADA HENTI
Episodes

Updated 372 Episodes

1
KEPERGIAN PRABU KAWISWARA ARYA RAGNALA
2
RAJA BARU
3
TERPILIHNYA RAJA BARU
4
PERDEBATAN
5
RACUN
6
SOSOK MISTERIUS
7
TUDUHAN
8
PERTARUNGAN JAYA SATRIA
9
MENYELESAIKAN MASALAH
10
KEPUTUSAN SANG PRABU
11
HUTAN TARING BELATI RAGA
12
PRABU ASMALARAYA ARYA DAN JAYA SATRIA
13
KABAR DUKA
14
KESEMBUHAN SANG PRABU?.
15
KEPULANGAN SANG PRABU
16
KERUSUHAN DI KOTA RAJA
17
SIDANG DI ISTANA
18
RASA PENASARAN
19
SYAIR PEMIKAT
20
PERTARUNGAN SENGIT
21
RENCANA JAHAT
22
KEMARAHAN DAN KASIH SAYANG
23
TULUS DAN KESUNGGUHAN
24
PUTRI ANDHINI ANDITA
25
PENGLIHATANNYA TENTANG RAJA
26
KEJAHATAN GAIB
27
JAMUAN
28
KECURANGAN PERTARUNGAN
29
TAHTA YANG SAH
30
KEPUTUSAN YANG BERAT
31
PERSIAPAN PERANG
32
PERANG DIMULAI
33
SITUASI PERANG
34
YANG BERPERANG
35
KEMARAHAN DAN BENCI
36
KEBENCIAN DAN KASIH SAYANG
37
PRABU ASMALARAYA ARYA ARDHANA
38
PRABU RAHWANA BIMANTARA
39
MEMAAFKAN DAN KEBAIKAN HATI
40
BERSABAR DALAM KESAKITAN
41
KEPULANGAN RATU DEWI ANINDYASWARI
42
KAKEK MISTERIUS
43
KEGELISAHAN DAN KEJADIAN
44
PERASAAN CEMAS
45
KEADAAN SANG PRABU DAN JAYA SATRIA
46
JAYA SATRIA DISERANG
47
KEJADIAN DEMI KEJADIAN
48
KEADAAN JAYA SATRIA
49
KESEMBUHAN DUA INSAN
50
JAYA SATRIA
51
PERSIAPAN
52
PERTARUNGAN DI KERAJAAN KEGELAPAN
53
KEMARAHAN DALAM PERTARUNGAN
54
PRABU ASMALARAYA ARYA ARDHANA DAN JAYA SATRIA
55
DIBALIK ALASAN
56
KASIH SAYANG DAN KERINDUAN
57
KEKUATAN BATIN SEORANG IBU
58
RENCANA DAN INGATAN
59
JANJI DAN KEINGINAN
60
DENDAM MASA LALU
61
KESESATAN YANG NYATA
62
KESALAHAN MASA LALU
63
PERTARUNGAN RADEN CAKARA CASUGRAHA
64
PATUH PADA ORANGTUA
65
PENDEKAR PEMBURU BENDA PUSAKA
66
ANCAMAN SANG PRABU
67
KEMARAHAN JAYA SATRIA
68
BENDA PUSAKA DAN TUANNYA
69
PEMBERONTAKAN
70
JALAN KELUAR
71
ILMU YANG BERMANFAAT
72
KEDATANGAN PUTRI AMBARSARI
73
PERASAAN HATI
74
KEADAAN KERAJAAN MEKAR JAYA
75
MASALAH YANG TERJADI
76
MIMPI
77
DILUAR DUGAAN
78
PERTARUNGAN DI KOTA RAJA
79
PEDANG PANGGILAN JIWA
80
RATU ARDININGRUM BINTARI
81
KEPULANGAN PRABU RAHWANA BIMANTARA
82
GEJOLAK HATI
83
DIMENSI WAKTU, PEDANG PELEBUR SUKMA
84
PERTARUNGAN TANPA AMPUN
85
JAYA SATRIA?
86
PESAN DARI LANGITYA SUKMANA
87
AMARAH DIHATI
88
KEGELAPAN TELAH DATANG
89
PEDANG PELEBUR SUKMA
90
PERTARUNGAN BATIN
91
LUKA YANG SAMA?
92
KELEMAHAN SANG PRABU?.
93
PERTARUNGAN DAHSYAT
94
RISIKO
95
KONDISI SETELAH PERTARUNGAN
96
GUNDAH KARENA SESUATU
97
PERASAAN CEMAS
98
KABAR BURUK
99
KENAPA SEPERTI ITU?
100
PETUNJUK
101
PANGGILAN
102
JAWABAN
103
MENEKAN PERASAAN HATI
104
USAHA MEREKA
105
KASIH SAYANG YANG TULUS
106
KEBAHAGIAAN DAN DENDAM
107
SANGAT MENGEJUTKAN
108
INGATAN NYAI BESTARI DHATU
109
PERUBAHAN SIKAP
110
TUJUAN
111
KEMARAHAN
112
KETETAPAN HATI
113
KEKUATAN BANTUAN
114
KEGUNDAHAN DAN KASIH SAYANG
115
HATI YANG GELISAH
116
BERUSAHA DENGAN BAIK
117
TEKAD YANG KUAT
118
MEMANCING AMARAH
119
SEMAKIN MARAH
120
BUKAN KEPUTUSAN BIASA
121
INGIN BERUBAH
122
HASRAT YANG MENGGEBU
123
JANGAN SOMBONG
124
PERASAAN CEMAS
125
ADA YANG ANEH
126
HAL YANG TERSEMBUNYI
127
JANGAN TERLALU BERPIKIRAN BURUK
128
MEMASTIKAN SEMUA
129
PERLAWANAN YANG KUAT
130
SUASANA PERTARUNGAN
131
MAHA PEMILIK KEKUASAAN
132
MEREKA YANG BERMASALAH
133
PILIHAN YANG SULIT
134
MENGOBATI PRABU MAHESWARA JUMANTA
135
DAPAT MELIHATNYA?
136
HANYA ITU SAJA
137
SAUDARA?
138
YANG DIBAYANGKAN
139
KEMBALI KE ISTANA
140
KEGELISAHAN DAN HARAPAN
141
KERUSUHAN DAN LAMARAN
142
KEDATANGAN YANG TAK TERDUGA
143
UCAPAN YANG MENYAKITKAN
144
MENGALAHKAN DAN ANEH
145
KETAKUTAN AKAN KEHILANGAN
146
HAL YANG SANGAT PENTING
147
WASPADA TERHADAP SESUATU
148
GETARAN AMARAH
149
PERASAAN YANG KUAT
150
AIR MATA KESEDIHAN
151
PIKIRAN DAN CINTA?
152
KESEDIHAN RATU DEWI ANINDYASWARI
153
KUTUKAN RADEN CAKARA CASUGRAHA
154
TANGISAN KESEDIHAN
155
TIDAK ADA PERASAAN KAH?
156
TIDAK PERLU DIPERJELAS
157
HANYA RAHASIA DI DALAM HATI
158
PELAJARAN YANG BERHARGA
159
RADEN CAKARA CASUGRAHA KEMBALI
160
ALASAN MENJADI RAJA?
161
MASALAH BARU?
162
HATI YANG KUAT
163
TIDAK GOYAH BEGITU SAJA
164
DALAM AMARAH YANG DIRASAKAN
165
RASAKAN KEMARAHANKU
166
JANGAN DENGARKAN MEREKA
167
MASA LALU YANG PERNAH DILALUI
168
KENAPA BERBOHONG?
169
INGATAN MASA LALU YANG TIDAK BISA DILUPAKAN
170
TIDAK BISA SEPERTI ITU.
171
KERESAHAN HATI YANG LARA
172
KEPERCAYAAN YANG SANGAT KUAT
173
KESEDIHAN HATI
174
HUBUNGAN YANG TERJALIN
175
DIJODOHKAN?
176
SUASANA HATI
177
MASA YANG TELAH DILALUI
178
GEJOLAK PERANG DI HATI
179
JIKA KAU INGIN ITU
180
HILANGNYA PERASAAN HATI
181
APAKAH AKU MELAKUKANNYA
182
SAKIT, SAMPAI KE ULU HATI
183
KABAR YANG MENGEJUTKAN
184
KERAGUAN, SIAPA YANG BERHAK
185
KEPUTUSAN YANG DIAMBIL
186
RATU AGUNG KERAJAAN MEKAR JAYA
187
HUKUMAN MATI
188
MENGUATKAN HATI YANG LARA
189
SUASANA HATI MEREKA
190
KENAPA BISA?
191
PERTEMUAN YANG MENGEJUTKAN
192
RASA PENASARAN YANG MENGGELITIK HATI
193
KISAH PUTRI AGNIASARI ARIANI
194
PERTANDA APA ITU?
195
SIAPA ORANG ASING ITU?
196
MIMPI YANG SANGAT BURUK
197
APA YANG KAU KETAHUI?
198
MENGUAK RAHASIA SANG PRABU
199
KATAKAN SELAMAT TINGGAL
200
APAKAH ITU BENAR?
201
MASIH MENJADI MISTERI
202
JANGAN COBA-COBA BERKHIANAT
203
INGIN MENDENGARKAN KISAH TENTANGNYA
204
GEJOLAK AMARAH YANG DIRASAKAN
205
PEDANG SUKMA MAGA PEMBELAH BUMI
206
JURUS CAKAR NAGA CAKAR PETIR
207
TERUS BERUSAHA
208
RASANYA BUKAN DIA
209
NAMA JAYA SATRIA
210
MUSTIKA NAGA MERAH DELIMA
211
BENARKAH BISA KEMBALI?
212
RASA SAKIT DI HATI
213
SUDAH DITENTUKAN
214
PENJELASAN YANG ANEH
215
ADA KECEMASAN DI DALAM HATI
216
SANGAT PEMARAH SEKALI
217
KERESAHAN HATI YANG MENDALAM
218
TAMU JAUH
219
PERMASALAHAN SUASANA HATI
220
PENGEMBARAAN JAYA SATRIA
221
PENDENGAR YANG BAIK
222
ALASAN KENAPA SEPERTI ITU?
223
PENYATUAN RAGA YANG MENYAKITKAN
224
JANGAN MEMBANTAH, TURUTI SAJA
225
KENYATAAN YANG TIDAK BISA DIBANTAH
226
MASIH DALAM MASA PENYESUAIAN
227
MARAH YANG BERLEBIHAN
228
BERHASIL DENGAN BAIK
229
KYAI YANG DIBURU
230
MEMBUNCAH BEGITU SAJA
231
PERASAAN DILEMA PRABU ASMALARAYA ARYA ARDHANA
232
SANGAT MENYENTUH HATI
233
MENCOBA BERSIKAP TEGAR
234
BERDEBAR-DEBAR KARENA APA?
235
PERTARUNGAN BATIN YANG DAHSYAT
236
DENGARKAN DENGAN BAIK
237
GAGAL UNTUK BERSAMA
238
SAKIT, MEMANG SAKIT
239
KABAR YANG TIDAK DIINGINKAN
240
SEMAKIN PARAH
241
MEREDAM SEGALA BENTUK EMOSI JIWA
242
SEDANG BERUSAHA
243
SIAPA DIA?
244
KEYAKINAN HATI YANG KUAT
245
ADA KECEMASAN YANG TIDAK BIASA
246
APAKAH ITU BENAR?
247
GEJOLAK HATI YANG TAK TERSAMPAIKAN
248
JANJI YANG PERNAH DIUCAPKAN
249
BAHAGIA? TAPI MASIH BINGUNG
250
PEMBUKTIAN?
251
APAKAH SEBUAH KEBETULAN?
252
SALAM PERPISAHAN
253
MENCARI PETUNJUK DARI MASALAH YANG TERJADI
254
MENERAPKAN PILIHAN HATI
255
JIKA TELAH MEMILIKI TEKAD
256
SIKAP KERAS HATI
257
SANGAT MENGEJUTKAN SEKALI
258
PERMINTAAN PRABU ASMALARAYA ARYA ARDHANA
259
BERTEMU DENGAN SANG PRABU
260
TIDAK PERNAH DIDUGA SEBELUMYA
261
TIDAK SEPERTI YANG DIBAYANGKAN
262
ADA YANG HARUS DIKETAHUI
263
PERTARUNGAN DI SUMBER MATA AIR DEWA
264
KEKUATAN YANG SANGAT DAHSYAT
265
BAGAIMANA BISA? KEKUATAN KERIS KEMBAR?
266
IDENTITAS ASLI JAYA SATRIA
267
MALAH JADI TAKUT
268
MEMAHAMI SITUASI YANG TERJADI
269
SESUATU YANG TIDAK BISA DIMENGERTI
270
MASALAH YANG CUKUP RUMIT
271
GONCANGAN HATI
272
SAKIT YANG MENUSUK HATI
273
KISAH LAMA YANG TELAH TERJADI
274
MEMANG TIDAK BISA
275
MEMBEBASKAN SUKMA YANG TERSESAT
276
UCAPAN YANG MENCEMASKAN HATI
277
MUNGKIN INI ALASAN YANG TEPAT
278
PERASAAN YANG KUAT
279
GEJOLAK API KEBENCIAN YANG TERTANAM DI HATI
280
HADIAH DARI KELUARGA ISTANA
281
KALIAN BERANI MENANTANG AKU?
282
MARI KITA BICARA
283
MENGUJI KESABARAN HATI?
284
HAL YANG TIDAK TERDUGA SEBELUMNYA
285
BERKOMUNIKASI DENGAN PENGHUNI ALAM SUKMA
286
BUKAN BERMAKSUD MENGHAKIMI SATU PIHAK SAJA
287
MENURUTI KEINGINAN HATI
288
BUKAN PENGLIHATAN BIASA
289
KEMUNGKINAN YANG AKAN TERJADI
290
KEJADIAN YANG SEBENARNYA
291
SESUATU YANG TIDAK BISA DIJELASKAN DENGAN KATA-KATA
292
MEMASUKI ALAM SUKMA
293
MENGUATKAN HATI YANG GELISAH
294
MENGATASI MASALAH TEKANAN BATIN
295
DESA GAIB
296
KETAKUTAN YANG MENYIKSA BATIN
297
MENGGANJAL DI HATI
298
KENANGAN MANIS YANG TAK TERLUPAKAN
299
SUASANA HATI YANG TIDAK KARUAN
300
KEPUTUSAN YANG SANGAT KUAT DARI HATI
301
DAPAT MELIHAT DENGAN JELAS
302
TAKDIR YANG DIJALANI
303
KEGELAPAN YANG MENGUSIK JIWA
304
YANG SEHARUSNYA DILAKUKAN
305
PENCARIAN SUKMA DEWI SUARABUMI
306
HUBUNGAN YANG TERJALIN ERAT
307
PERMOHONAN
308
PERTARUNGAN TIGA SUKMA
309
PASAR KOTA RAJA
310
KENAPA TIDAK BISA MENERIMANYA?
311
AKAR PERMASALAHANNYA
312
HATI YANG INGIN BERONTAK
313
DENGARKAN DENGAN BAIK
314
MASIH ADA HARAPAN
315
MEMPERSIAPKAN DIRI
316
HATI YANG MENENTUKAN
317
TIDAK MUDAH GOYAH
318
APA YANG DICEMASKAN?
319
APAKAH SEMUA ITU BENAR?
320
APA YANG INGIN KAU BUKTIKAN?
321
AKAN AKU TUNJUKKAN SEMUANYA
322
MENGATUR EMOSI JIWA
323
APAKAH MEMANG SEPERTI ITU?
324
MASALAH YANG SANGAT SERIUS
325
KEGELISAHAN YANG MENDALAM
326
PENGLIHATAN YANG TIDAK BIASA
327
PERASAAN HATI YANG TIDAK BISA BERBOHONG
328
KEBENARAN YANG TERSEMBUNYI
329
KEKUATAN YANG DAHSYAT
330
KEJADIAN YANG TIDAK MASUK AKAL
331
MEMIKIRKAN KEMUNGKINAN YANG AKAN DILAKUKAN
332
SIAPA YANG BERANI?
333
GEJOLAK HATI DALAM KEMARAHAN
334
GANASNYA SUASANA HATI RADEN CAKARA CASUGRAHA
335
PERASAAN YANG KUAT SEKALI
336
KETANGGUHAN HATI
337
PERTARUNGAN YANG TIDAK BISA DIHINDARI
338
TERIMA ATAU TIDAK? SEGERA TENTUKAN PILIHANNYA
339
KENAPA MEREKA BISA ADA?
340
KARMA YANG DIDAPATKAN
341
SEHARUSNYA TIDAK SEPERTI INI
342
AMARAH YANG SEMAKIN MEMBUNCAH
343
KEPUTUSAN, DAN MASA LALU
344
JANGAN TANYA KENAPA?
345
MAU MENGUJI KESABARAN KU?
346
MENGERAHKAN SEMUA KEKUATAN
347
HATI YANG TERLUKA
348
KUATKAN HATI SANG PRABU
349
TERHUBUNGNYA PERASAAN MEREKA
350
PERASAAN YANG LEBIH KUAT
351
APA YANG TERJADI SEBENARNYA?
352
TEKAD UNTUK MELAKUKANNYA
353
HARAPAN YANG BAIK
354
LAMARAN DARI DUA PANGERAN?
355
HARUSKAH SEPERTI ITU?
356
ADA YANG TIDAK BERES
357
HATI YANG TERLUKA PARAH
358
KENYATAAN YANG MENYAKITKAN BATIN
359
MENJAGA PERASAAN HATI
360
APAKAH ITU SUDAH TEPAT?
361
ADA YANG DISEMBUNYIKAN?
362
DIA SEORANG RAJA?
363
GEJOLAK AMARAH
364
KASIH SAYANG YANG DALAM
365
SANGAT BERBAHAYA SEKALI
366
MENGERIKAN SEKALI
367
HANYA BISA BERBUAT DEMIKIAN SAJA
368
APA YANG KAU LIHAT?
369
MAU MENGUJI AKU? BOLEH SAJA
370
AKAN AKU TUNJUKKAN KEBENARANNYA
371
KAU MAU APA SEBENARNYA?
372
MASALAH YANG SEAKAN TIADA HENTI

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!