...***...
Pondok kecil.
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin, kau baik-baik saja jaya satria?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memeluk erat Jaya Satria. "Aku sangat cemas sekali padamu."
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin." Respon Jaya Satria. "Allah SWT masih memberikan kita nikmat hidup." Hatinya terasa lega. "Meskipun kita telah mendapatkan serangan yang mematikan."
"Tapi? Bagaimana?."
Saat itu juga Aki Jarah Setandan dan Syekh Asmawan Mulia memasuki pondok itu.
"Guru?."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memberi hormat kepada gurunya Ki Jarah Setandan. Rasa hormat kepada gurunya sangat lah besar, meskipun dalam ia sendiri adalah seorang raja.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, syekh guru."
"Walaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh, nanda jaya satria." Syekh Asmawan Mulia tersenyum kecil.
"Guru, hormat nanda." Kali ini Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria memberi hormat pada Aki Jarah Setandan.
"Alhamdulillah hirobbil'alamin." Respon Syekh Asmawan Mulia. "Sepertinya obat yang diberikan, telah berhasil menyembuhkan Gusti Prabu, juga nanda jaya satria."
"Alhamdulillah hirobbil'alamin."
"Untuk dua hari ini tetaplah di sini." Tatapan matanya sangat sendu. "Untuk memastikan bahwa tubuh nanda aman, dari pengaruh racun ganas itu." Ucap Aki Jarah Setandan.
"Apakah selama itu guru?."
"Mohon ampun nanda Prabu." Syekh Asmawan Mulia memberi hormat. "Keadaan nanda Prabu sangat tidak memungkinkan." Lanjutnya. "Untuk kembali ke istana dalam waktu yang dekat ini."
"Kondisi nanda yang melemah." Sambung Aki Jarah Setandan. "Bisa saja dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang menginginkan kematian nanda."
"Banyak luka dalam yang harus dipulihkan." Ucap Syekh Asmawan Mulia dengan perasaan cemas. "Akan berbahaya, jika memaksa untuk kembali ke istana."
"Tinggallah barang beberapa hari di sini." Tatapannya sangat dalam. "Percayalah pada kami." Lanjutnya. "Ini semua, demi keselamatan nanda berdua."
Belum ada tanggapan dari Prabu Asmalaraya Arya Ardhana ataupun Jaya Satria. Keduanya masih memikirkan ucapan Syekh Asmawan Mulia dan Aki Jarah Setandan.
"Ini semua demi kesembuhan nanda berdua." Dengan hati-hati Aki Jarah Setandan berbicara. "Jangan terlalu memaksakan diri." Hatinya semakin cemas. "Untuk melakukan hal, yang kadang tidak bisa kita lakukan sebagai manusia biasa."
"Benar itu nanda Prabu, nanda jaya satria." Syekh Asmawan di juga memberikan nasihat. "Jangan terlalu kaku dengan urusan pemerintahan." Lanjutnya. "Serahkan semuanya kepada Allah SWT." Ucapnya dengan senyuman ramah. "Sang pemilik kehidupan takdir, yang telah kita lalui selama ini."
Apakah sang Prabu akan mendengarkan apa yang mereka katakan?. Baca terus ceritanya.
...***...
Putri Gempita Bhadrika dan Nini Kabut Bidadari masih bertarung, mereka tidak mau mengalah satu sama lain. Mereka terus mengadu ilmu Kanuragan yang mereka miliki.
"Jangan kira kau masih muda?." Ucapnya. "Tapi masih memiliki tenaga yang kuat untuk menjatuhkan aku?!." Nini Kabut Bidadari sangat kesal. "Heh!." Ia mendengus marah. "Jangan bermimpi kau!."
Ia merasa dipermainkan, oleh jurus-jurus yang dikeluarkan oleh Putri Gempita Bhadrika.
Namun ketika mereka hendak melanjutkan pertarungan, mereka dikejutkan oleh dua orang yang datang dalam keadaan terluka parah.
"Kalian?." Nini Kabut Bidadari memperhatikan mereka. "Bukankah kalian adalah, anak buahnya kakang dharma seta?." Nini Kabut Bidadari mengalihkan pandangannya, ia tidak menyangka akan melihat anak buah Ki Dharma Seta berada di sini?.
"Benar nini." Pemuda itu terlihat kesakitan.
"Bagaimana mungkin? Kalian bisa berada di sini?." Matanya memperhatikan orang yang ia cari. "Di mana kakang Dharma Seta berada? Katakan padaku di mana dia?!." Nini Kabut Bidadari sangat panik, ia tidak melihat orang yang ia cintai bersama kedua orang itu.
"Maaf nini." Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya. Semara Layana takut mengatakan, apa yang mereka alami?. Apalagi tubuhnya masih sakit setelah pertarungan itu.
Sedangkan Mayang Sari telah pingsan, karena tidak sanggup lagi bergerak, setelah melakukan perjalanan jauh dengan tubuh terluka dalam?.
"Katakan padaku!." Amarahnya meledak begitu saja. "Apa yang terjadi pada kakang dharma seta?!." Bentak Nini Kabut Bidadari tidak sabaran, ia ingin segera mengetahui bagaimana keadaan Ki Dharma Seta.
Sementara itu, Putri Gempita Bhadrika untuk sementara waktu, hanya berdiam diri saja. Karena memang tidak mengerti apa yang terjadi, dan mengapa mereka terluka.
"Aki dharma seta tewas." Ucapnya sambil menahan sakit. "Di tangan dua orang penopeng."
"Apa?!." Nini Kabut Bidadari merasa panas mendengarkan ucapan itu
"Kami tidak sanggup untuk melawan mereka." Balasnya. "Karena dia mempunyai jurus cakar naga cakar petir."
"Itu tidak mungkin!." Bantahnya dengan hati yang bergemuruh. "Tidak mungkin kakang dharma seta kalah begitu saja!." Ya, rasanya memang tidak mungkin. "Ilmu kanuragan kakang dharma seta, jauh diatas pendekar manapun!." Suaranya terdengar sangat putus asa. "Mana mungkin bisa?! Dikalahkan begitu saja?!."
"Tapi itulah yang terjadi nini." Semara Layana tidak akan pernah lupa kejadian itu. "Kami tidak sanggup melawan orang itu."
"Siapa orang yang dicari kakang dharma seta sebenarnya?!." Amarahnya semakin menjadi-jadi. "Mengapa ia bisa tewas? Itu tidak mungkin! Pasti salah!." Batinnya tidak bisa menerima kenyataan itu, hatinya semakin terasa sesak, mengapa orang yang ia cintai, pergi begitu saja meninggalkan dirinya?.
Apakah yang akan dilakukan oleh Nini Kabut Bidadari?. Apakah ia akan membalaskam dendam kematian orang yang ia cintainya, kepada sosok misterius itu?. Lalu bagaimana dengan Putri Gempita Bhadrika, yang menginginkan air telaga warna bidadari?. Apakah ia akan menunggu izin dari Nini Kabut Bidadari, atau mengambilnya sendiri mumpung pemiliknya sedang bersedih?. penasaran?. Temukan jawabannya.
...***...
Pagi harinya Putri Agniasari Ariani pamitan.
"Apakah Gusti Putri tidak ingin menetap?." Tatapannya seperti memohon. "Di sini barang beberapa hari di desa ini?."
"Maafkan aku rangga ulung." Jawabnya. "Aku harus melanjutkan perjalanan ku." Lanjutnya. "Sampai aku bertemu dengan seorang guru, yang dapat mengajari aku ilmu agama."
"Baiklah." Responnya sedih. "Kalau begitu teruskan saja perjalanan Gusti Putri ke barat." Rangga Ulung hanya bisa merelakan kepergian Putri Agniasari Ariani. "Di wilayah kerajaan daun bidara." Lanjutnya. "Ada sekelompok orang yang belajar agama Islam." Ucapnya dengan senyuman ramah. "Mungkin Gusti Putri bisa belajar di sana."
"Terima kasih atas informasinya rangga ulung."
"Semoga Gusti Putri menjadi wanita muslimah yang hebat nantinya."
"Semoga saja." Putri Agniasari Ariani tersenyum ramah.
Putri Agniasari Ariani sangat bersyukur.
"Lantas? Apa yang akan kau lakukan setelah ini?."
"Hamba akan tetap berjaga di desa ini." Jawabnya sambil memberi hormat. "Hamba akan selalu berada di sini."
"Itu keputusan yang baik." Respon Putri Agniasari Ariani.
"Jika Gusti Putri mengalami kesulitan di perjalanan." Ucapnya. "Jangan sungkan, untuk meminta bantuan pada hamba."
"Terima kasih atas kebaikanmu rangga ulung." Balas Putri Agniasari Ariani. "Semoga dewata agung membalas kebaikan mu."
"Semoga saja."
Pertemuan yang sangat singkat, namun berkesan bagi Putri Agniasari Ariani dan Rangga Ulung.
...***...
Sementara itu di Istana Selatan.
"Lihatlah rayi dewi anindyaswari?!." Ucapnya dengan nada mengejek. "Itu akibat dari kesombongan putramu!." Ia menyeringai lebar. "Sekarang ia belum kembali." Lanjutnya. "Itu adalah karma untuknya!."
"Oh? Tenangkan hatimu." Dalam hati Ratu Dewi Anindyaswari berusaha untuk sabar.
"Kau harusnya menyadarkan putramu." Ucapnya ketus. "Agar tetap mengingat karmaphala." Ujarnya. "Atas apa yang ia lakukan padaku! juga keluargaku di masa lalu."
"Aku mohon yunda, janganlah yunda berkata seperti itu." Hatinya terasa pedih.
Ratu Ardiningrum Bintari dan Ratu Gendhis Cendrawati hanya cuek saja.
"Aku percaya bahwa nanda Prabu." Ratu Dewi Anindyaswari menekan perasaan sesaknya. "Akan segera pulang ke istana ini!." Tegasnya. "Jadi? Yunda jangan berkata seperti itu padaku!."
"Heh!." Ia mendengus kesal. "Kau tidak usah menghibur diri." Bentaknya. "Katakan saja! Kau sangat takut! Jika anakmu itu tewas di sana!."
"Jika kau ingin menangis? Lakukan saja." Ratu Ardiningrum Bintari memanasi. "Wajahmu terlihat jelek, karena menahan tangisan kesedihan."
"Untuk apa?." Respon Ratu Dewi Anindyaswari. "Yunda berdua repot-repot datang ke istana selatan?." Ratu Dewi Anindyaswari mencoba untuk kuat. "Bukankah? Kalian sangat terlarang masuk ke kawasan ini?." Ratu Dewi Anindyaswari mengingatkan mereka. "Apakah kalian lupa itu?."
Ratu Ardiningrum Bintari dan Ratu Gendhis Cendrawati saling bertatapan.
"Jika aku mengatakan pada nanda Prabu?." Hatinya terasa sakit. "Bahwa kalian masuk ke kawasan ini tanpa izin darinya?." Ancam Ratu Dewi Anindyaswari. "Maka kalian akan mendapatkan hukuman yang sangat berat."
"Kurang ajar kau dewi anindyaswari!." Bentaknya. "Berani sekali kau mengancam aku?!." Ucapnya sambil menunjuk kasar tepat di depan wajah Ratu Dewi Anindyaswari.
"Kau mulai kurang ajar dewi anindyaswari!."
"Kalian lah yang kurang ajar!." Ratu Dewi Anindyaswari melawan. "Kalian telah melawan perintah Raja!." Bahkan suaranya terdengar tinggi. "Siap-siap saja kalian akan mendapatkan hukuman."
"Awas saja kau!."
Setelah berkata seperti itu, keduanya segera pergi meninggalkan istana selatan dengan hati yang dongkol.
"Putraku nanda cakara casugraha? Kembali lah nak."
Hatinya perih, hingga tanpa sadar ia menangis sedih, karena terlintas pikiran buruk, akibat pengaruh dari ucapan ratu Ardiningrum Bintari.
Hati ibu mana yang tidak sedih, ketika menunggu kabar dari anaknya, yang sedang berjuang melawan kejahatan, Untuk melindungi keselamatan rakyat Suka Damai.
...***...
Di sekitaran pondok kecil.
Dalam dua hari setelah masa pemulihan.
Keduanya langsung berlatih dengan sungguh-sungguh, gerakan keduanya tidak kaku lagi.
"Kakang terlihat sangat cemas." Ucapnya. "Apakah ada sesuatu yang sedang kakang pikirkan?."
"Sewaktu-waktu aku merasa cemas padanya adi Syekh."
"Kecemasan seperti apa yang kakang rasakan?."
"Dulu, ketika ia pertama kali berguru padaku." Jawabnya. "Aku takut satu hal adi Syekh." Ingatan Aki Jarah Setandan seakan-akan kembali pada saat itu. "Nanda cakara casugraha, adalah anak muda dengan kemampuan yang luar biasa." Kali ini terlihat Aki Jarah Setandan menghela nafasnya. "Kemampuan meniru jurus seseorang, dalam waktu yang singkat adi Syekh." Lanjutnya agak berat. "Ia telah menguasai beberapa jurus pendekar golongan hitam." Hatinya sangat resah. "Sehingga aku sangat waspada mengajarinya saat itu."
Syekh Asmawan Mulia diam sejenak, sambil mengingat apa yang telah dikatakan oleh Aki Jarah Setandan.
"Mendiang Gusti Prabu pernah mengatakan padaku kakang." Balasnya. "Jika nanda cakara casugraha, memang mempelajari beberapa jurus berbahaya."
"Tapi, setidaknya?." Responnya. "Saat bersama adi Syekh?." Matanya menerawang jauh. "Nanda cakara casugraha tidak lagi ganas, ia telah belajar dengan baik."
"Semuanya karena Allah kakang." Balasnya. "Aku hanya sebagai perantara saja." Syekh Asmawan Mulia tersenyum kecil.
"Ya, aku rasa begitu."
"Sarapan lah terlebih dahulu nanda cakara casugraha."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria menghentikan kegiatan latihan itu.
"Isi tenaga nanda berdua, supaya lebih berenergi lagi."
"Baik Syekh guru."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria mencuci tangan, setelah itu mendekati Syekh Asmawan Mulia, dan Aki Jarah Setandan.
"Mari kita sarapan bersama-sama."
"Mari guru."
Mereka terlihat bersemangat, pagi itu rasanya sangat istimewa.
"Sudah lama rasanya tidak makan bersama nanda berdua."
"Ya, kakang benar."
"Nanti, pada saatnya kita akan berkumpul kembali guru."
"Ya, semoga saja kita berkumpul kembali seperti ini."
Hanya itu saja harapan mereka saat ini, karena peristiwa seperti itu jarang terjadi lagi. Setelah ini mereka akan kembali pada kegiatan masing-masing?.
"Apakah guru tidak ingin ikut kami ke istana?."
"Mungkin tidak dalam waktu dekat ini."
"Hamba akan kembali ke kaki bukit menawan batin." Jawabnya. "Hamba terlalu tua, untuk ikut masalah pemerintahan."
"Baiklah kalau begitu guru." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak memaksakan Aki Jarah Setandan, karena sang Prabu mengetahui, jika memang seperti itu keinginan gurunya.
...***...
Sementara itu, masih dilingkungan istana.
Raden Ganendra Garjitha, Raden Gentala Giandra, Raden Hadyan Hastanta, dan juga putri Ambarsari sangat geram, karena ternyata anak buah yang dikirim untuk membunuh prabu Asmalaraya Arya Ardhana ternyata gagal, dan mereka malah kabur dari sana?.
"Benar-benar tidak becus! Tidak berguna!."
Umpat Raden Ganendra Garjitha dengan marahnya. "Apakah tidak bisa mereka membunuh satu orang saja?." Hatinya terasa membara. "Padahal mereka adalah pendekar pembunuh bayaran?."
"Rayi hadyan hastanta!." Bentaknya. "Kau berkata bahwa mereka dapat diandalkan?!." Suaranya semakin tinggi. "Tapi tetap saja! Itu tidak bisa membunuh cakara casugraha!." Raden Gentala Giandra terlihat marah, ia tidak terima hasil kerja orang-orang suruhan itu.
"Maafkan aku raka." Ucapnya lesu. "Aku tidak menyangka, bahwa mereka dapat dikalahkan raka." Raden Hadyan Hastanta mencoba untuk menenangkan kakaknya, Raden Ganendra Garjitha agar tidak marah padanya.
Di saat mereka marah-marah, mereka melihat kedatangan Senopati Mandaka Sakuta, yang telah pulang membawa beberapa prajurit istana, untuk memastikan kondisi sang Prabu, raja junjungan mereka.
Raden Ganendra Garjitha dan adik-adiknya begitu penasaran, mengapa mereka pulang tanpa adanya prabu Asmalaraya Arya Ardhana?. kemana sang prabu berada?.
Tentunya menjadi pertanyaan bagi mereka, hingga dengan refleks mereka ikut masuk ke dalam istana, dan mengetahui alasan kenapa, sang prabu tidak pulang bersama rombongan yang datang menjemputnya.
...***...
Putri Agniasari Ariani telah meninggalkan kawasan desa Agung Setia, dan bahkan hampir memasuki kawasan kerajaan Daun Bidara.
Matanya memperhatikan orang-orang di sana, mereka yang berpakaian berbeda darinya.
"Punten, permisi?."
"Apakah benar di sini ada pondok pesantren?."
"Oh? Nini ingin menuju ke sana?."
Seorang wanita dewasa, malah balik bertanya pada Putri Agniasari Ariani.
"Ya, benar sekali." Jawabnya. "Apakah nyai bisa menunjukkan arahnya pada saya?."
"Tentu saja bisa."
"Biarkan aku saja yang menunjukkan arah padanya."
Saat itu ada seorang pemuda dengan tatapan menggoda berkata seperti itu.
"Maaf, dia tidak ada urusan denganmu!." Wanita dewasa itu terlihat mendadak galak.
"Kau tenang saja." Balasnya pelan. "Aku pasti akan mengantarkannya sampai ke sana."
"Diam kau!." Dengan cepat wanita dewasa itu menarik tangan Putri Agniasari agar bersembunyi dibalik tubuhnya.
"Sebaiknya kau jangan ikut campur nyi!." Hatinya terasa panas seketika. "Atau kau yang akan celaka!." Bentaknya.
"Ada apa ini?." Ucap seorang wanita muda. "Kenapa kau malah membentak wanita itu? Widuri?."
"Ho?." Responnya. "Nila ayu?." Ia sedikit melunak. "Ada urusan apa kau ke sini?!." Pemuda itu tampak takut, ia mundur beberapa langkah.
"Aku ke sini ada urusan denganmu!." Matanya menatap tajam ke arah Widuri. "Aku ingin menuntut pertanggungjawaban darimu!." Matanya melototi tajam. "Kau telah berani! Menodai temanku! Hyah!."
Tanpa perasaan ragu, Nila Ayu menerjang tubuh Widuri, tubuh pemuda itu terjajar, hingga berteriak kesakitan. Saat itu juga Widuri segera keluar dari kedai makan, ia tidak ingin bertarung di tempat yang sempit.
"Kau tidak akan bisa lari begitu saja!."
Nila Ayu segera mengejar Widuri, hingga terjadi pertarungan antara mereka.
"Apa yang harus aku lakukan?." Putri Agniasari Ariani malah terlihat kebingungan.
"Nini, tolong bantu nini nila ayu." Wanita dewasa itu terlihat sangat takut. "Widuri itu orangnya sangat tidak waras, tolong hentikan dia."
"Baiklah." Responnya. "Aku akan membantunya." Putri Agniasari Ariani segera menyusul mereka. "Mungkin, aku akan meminta penjelasan darinya nanti." Dalam hatinya mencoba untuk melakukan yang bisa saja.
...***...
Kembali ke Istana Kerajaan Suka Damai.
kabar kepulangan Senopati Mandaka Sakuta telah sampai ditelinga Ratu Dewi Anindyaswari, ia segera menuju ruang utama istana di mana tempat bertemunya tamu raja?.
"Hormat hamba Gusti Ratu."
Senopati Mandala Sakuta memberi hormat pada Permaisuri Dewi Anindyaswari.
Di saat waktu bersamaan, keluarga istana berkumpul semua di sana, mereka ingin tahu apa yang terjadi setelah kepulangan Senopati Mandaka Sakuta, dari Hutan Taring Belati Raga.
"Senopati mandala sakuta?." Ratu Dewi Anindyaswari sangat takut. "Katakan pada saya, di mana putraku Prabu Asmalaraya Arya Ardhana?." Hatinya bergetar. "Mengapa tidak pulang bersamamu?."
"Mohon ampun Gusti Ratu dewi anindyaswari." Senopati Mandaka Sakuta memberi hormat. "Kami telah memeriksa hutan taring belati raga." Lanjutnya. "Namun kami tidak menemukan keberadaan Gusti Prabu di sana."
Deg!.
Hatinya seperti dihantam oleh palu keras, sehingga bergetar sakit, dan bahkan terasa sesak.
"Apa yang kau katakan Senopati?." Ratu Dewi Anindyaswari berusaha menahan diri. "Katakan padaku!." Hatinya bergejolak begitu saja. "Jika kau berbohong padaku Senopati."
"Mohon ampun Gusti Ratu." Kembali ia memberi hormat. "Kami telah memeriksanya dengan baik." Ucapnya dengan perasaan bimbang. "Tapi kami memang tidak menemukan Gusti Prabu di sana."
"Jika putra saya tidak ditemukan di sana? Saya yakin nanda Prabu masih hidup." Ratu Dewi Anindyaswari mencoba menekan perasaan takutnya, akan kehilangan putra satu-satunya yang ia miliki.
"Gusti Ratu." Dalam hati Senopati Mandala Sakuta merasa bersimpati.
"Kalau begitu?." Ucap Ratu Dewi Anindyaswari. "Saya mohon pastikan sekali lagi, putra saya pasti masih berada di sana."
"Sudahlah dewi anindyaswari!."
Suara Ratu Ardiningrum Bintari membuat mereka melihat ke arahnya. Termasuk Ratu Dewi Anindyaswari, dan Senopati Mandala Sakuta.
"Jangan kau salahkan mereka!." Bentaknya. "Harusnya kau berterima kasih pada mereka!." Ada amarah yang ia lampiaskan saat itu. "Karena mereka mau bersusah payah, masuk ke hutan angker itu!." Lanjutnya. "Hanya untuk memastikan kematian putramu!."
Perkataan Ratu Ardiningrum Bintari, semakin menusuk hati Ratu Dewi Anindyaswari.
"Kau ini memang tidak tahu terima kasih!." Ucap Ratu Gendhis Cendrawati. "Kau pikir kau siapa? Berani meragukan laporan mereka? Hah?."
"Benar yang dikatakan ibundaku, kenapa ibunda masih saja ragu?." Raden Ganendra Garjitha ikutan bersuara. "Jika memang? Ibunda tidak terima?." Lanjutnya. "Dengan apa yang disampaikan oleh senopati mandala sakuta?." Matanya melihat ke arah Senopati Mandala Sakuta. "Kenapa tidak kau saja? Yang pergi ke sana?." Ia menyeringai lebar. "Untuk memastikannya sendiri? Jika putramu masih hidup?."
"Ya, jika memang ibunda tidak percaya?." Sambungnya. "Pergilah ke hutan taring belati." Lanjutnya. "Kau bisa sepuasnya memastikan kematian anakmu itu." Raden Gentala Giandra tersenyum lebar, mendengus mengejek Ratu Dewi Anindyaswari.
"Aku rasa itu percuma saja." Lanjut Putri Ambarsari. "Karena hasilnya akan tetap sama." Ia mendengus kesal. "Sebaiknya ibunda persiapkan kremasi untuk rayi Prabu." Ia tertawa kecil. "Mungkin ada orang luar yang mengantar jenazahnya ke istana ini nantinya."
"Maaf ibunda." Putri Andhini Andita memberi hormat. "Sebaiknya ibunda jangan terlalu larut dalam kesedihan." Ucapnya lagi. "Tidak baik meratapi, apa yang telah terjadi?."
Tidak adakah diantara mereka yang merasa simpati padanya?. Hatinya terasa sakit mendebarkan apa yang mereka katakan.
"Ternyata benar, apa yang dikatakan oleh gusti Prabu." Dalam hati Senopati Mandala Sakuta. "Bahwa tidak ada satupun dari mereka." Hatinya terasa lelah. "Yang akan bersimpati pada Gusti Ratu dewi anindyaswari?." Dalam hatinya sangat miris. "Mereka ini sangat keterlaluan sekali."
Senopati Mandala Sakuta masih ingat, dengan pesan yang disampaikan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sebelum pergi. Beliau menitipkan pesan bahwa, jangan ada satupun orang yang mendekati ibundanya selama ia pergi.
"Senopati Mandala sakuta, jagalah ibunda saya." Ucap Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Selama saya tidak ada di istana ini." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memberikan pesan. "Jangan sampai mereka berkata-kata yang kejam pada ibunda saya nantinya."
"Sandika Gusti Putri."
Senopati Mandaka Sakuta saat itu hanya beranggapan, bahwa itu hanyalah sekedar kecemasan saja, namun itu benar adanya.
Sekarang ia bisa melihat sendiri, bagaimana perlakuan mereka pada Ratu Dewi Anindyaswari. Sungguh sangat menyakitkan hati. Jadi, wajar saja jika sang prabu mengkhawatirkan ibundanya.
"Mohon ampun Gusti Ratu." Senopati Mandaka Sakuta memberi hormat. "Sebaiknya Gusti Ratu dewi anindyaswari untuk saat ini beristirahatlah." Ia tersenyum ramah. "Kami akan berusaha ke sana, untuk memastikannya kembali." Lanjutnya. "Bagaimana keadaan Gusti Prabu asmalaraya arya ardhana."
"Terima kasih Senopati." Ratu Dewi Anindyaswari merasa lega. Setidaknya, masih ada yang merasa iba pada dirinya. "Kalau begitu? Saya serahkan padamu." Hatinya mencoba tegar. "Kabari saya, jika telah kembali."
"Sandika Gusti Ratu."
Ratu Dewi Anindyaswari pergi meninggalkan mereka semua. Karena tidak ingin mendengarkan perkataan buruk lainnya.
"Kau terlalu memanjakannya mandala sakuta!."
"Mohon ampun Gusti Ratu, hamba pamit, sampurasun." Senopati Mandala Sakuta juga pergi dari tempat.
"Kurang ajar! Dia malah pergi!."
"Tidak apa-apa ibunda, jangan marah dulu." Raden Ganendra Garjitha menenangkan ibundanya. "Lagi pula? Bukankah ini kesempatan bagi kita semua?."
Saat itu mereka memikirkan apa yang dikatakan Raden Ganendra Garjitha.
"Ya, tentu saja."
Apakah yang akan mereka lakukan?. Simak dengan baik kisahnya.
...***...
Putri Agniasari Ariani dan Nila Ayu benar-benar bekerja sama dengan baik, dengan kekuatan yang mereka miliki?. Keduanya dapat melumpuhkan Widuri.
Putri Agniasari Ariani dari arah belakang dengan jurus hentakan angin menahan badai, sedangkan Nila Ayu dari arah depan dengan jurus tusukan jari kematian. Keduanya berhasil mengalahkan Widuri, walaupun tidak membunuh pemuda itu.
"Belum saatnya kau mati!." Nila Ayu menarik kuat kerah baju Widuri, hingga pemuda itu meringis kesakitan. "Aku tidak akan membiarkan temanku, anaknya lahir tanpa bapak!."
"Jadi ini masalah masa depan seseorang?."
"Benar, karena itulah aku tidak membunuhnya." Hatinya memanas. "Dia harus bertanggung jawab!."
"Kalau begitu? Serahkan dia pada orang tua temanmu." Balasnya. "Supaya masalahnya segera diselesaikan."
"Tentu saja." Ucapnya dengan tegas. "Terima kasih atas bantuanmu nini."
"Sama-sama."
"Hm." Dalam hati Putri Agniasari Ariani." Sepertinya ini akan menjadi masalah yang cukup rumit." Dalam hatinya cemas. "Aku harus sabar, dan tetap semangat."
Putri Agniasari Ariani sedikit mengeri dengan apa yang terjadi pada mereka, alasan kenapa Nila Ayu menghajar Widuri tanpa ampun.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Bagaimana lanjutan kisahnya?. Simak dengan baik kisah selanjutnya.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 372 Episodes
Comments
Anonymous
lanjut cari
2024-09-04
0
Elmo Damarkaca
Kanteb ...👍
lanjut thor...
2022-06-03
1
SoVay
jadi karena aku tim hore, boleh aku ketawa aja..wkwkwkw
2021-12-18
1