...***...
Istana kerajaan Suka Damai.
"Jika kau tidak mau pergi dari sini? Maka aku yang akan memaksamu pergi dari sini!." Raden Gentala Giandra hendak melakukan sesuatu pada Ratu Dewi Anindyaswari?.
"Hentikan!."
Deg!.
Mereka semua terkejut ketika melihat sosok yang misterius yang hadir di tengah-tengah mereka.
"Putraku? Bukankah itu adalah putraku nanda cakara casugraha?." Ratu Dewi Anindyaswari dapat merasakan getaran suara anaknya.
"Siapa kau?!." Bentaknya. "Berani sekali kau! Duduk di singgasana kebesaran kerajaan suka damai!." Senopati Mandala Sakuta mengarahkan senjatanya untuk mengancam orang tersebut.
Namun orang misterius itu hanya diam saja, ia diam dengan tenangnya. Tidak merasa terganggu sama sekali, dengan ujung pedang yang kapan saja siap mengancam keselamatannya.
Tapi rasanya ada yang aneh.
Mereka semua terkejut, dan terheran-heran. Karena orang itu masih aman di singgasana itu?. Sedangkan Raden Ganendra Garjitha, yang tadi mencoba menduduki singgasana itu, malah terlempar dari sana. Tapi bagaimana bisa? Orang itu masih bisa duduk dengan tenang di singgasana itu?. Apakah itu artinya, ia menjadi raja baru?. Tapi kenapa tidak muncul mahkota, atau jubah kebesaran kerajaan Suka Damai?.
"Hei!." Bentaknya penuh amarah. "Siapa kau?!." Amarahnya kembali berkobar. "Beraninya kau duduk di singgasana itu!." Tunjuknya kasar. "Kau tidak berhak menjadi raja!." Tegasnya. "Jika kau bukan keturunan langsung, dari mendiang ayahanda Prabu kawiswara arya ragnala!." Bentak Raden Gentala dengan amarah yang berapi-api. siapa orang itu?. Mengapa ia tidak mengalami hal yang serupa dengan kakaknya?.
"Jangan-jangan dia adalah rayi Prabu?." Dalam hatinya langsung berpikir ke arah sana. "Yang menyamar menyerupai orang yang sering bersamanya?." Putri Andhini Andita mencoba berpikir jernih. Mengapa orang itu dengan santainya duduk di singgasana itu?.
"Putraku nanda cakara casugraha?." Ratu Dewi Anindyaswari dengan perasaan rindu, mendekati orang asing yang kini sedang duduk di singgasana, seakan ingin memeluk sosok itu.
Mereka yang mendengar Ratu Dewi Anindyaswari, menyebut nama putranya?. Mereka memandang aneh pada ratu Dewi Anindyaswari. Apakah begitu sedih hatinya karena kehilangan putranya, hingga membuatnya seperti itu?.
"Gusti Ratu?." Ucapnya heran. "Apa yang gusti Ratu katakan?." Senopati Mandala Sakuta merasa heran, ia menarik kembali senjatanya. Karena melihat Ratu Dewi Anindyaswari mendekati orang misterius itu.
"Kau kembali nak?." Tatapan matanya sangat dalam. "Kau kembali sesuai dengan janjimu nak?." Ratu Dewi Anindyaswari tidak menghiraukan, apa yang dikatakan Senopati Mandaka Sakuta.
"Ibunda." Dalam hatinya.
"Ternyata bisikan itu memang benar, dari putraku nanda cakara casugraha?." Dalam hati Ratu Dewi Anindyaswari hampir tidak percaya. "Putraku."
Orang misterius bangkit dari duduknya, ia membuka topeng yang menutupi wajahnya itu, hingga terlihat senyuman manis dari wajahnya, dan ia menyambut pelukan ibundanya.
"Ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak dapat menahan kerinduannya, pada ibunda yang sangat ia sayangi.
...***...
Di pondok pesantren.
Putri Agniasari Ariani saat ini sedang bersama Nila Ayu di bilik.
"Terima kasih nila ayu."
"Sama-sama Gusti Putri."
"Tapi rasanya agak kaku sekali, bagaimana?." Ucapnya. "Kalau kau memanggil namaku saja?."
Nila Ayu berpikir sejenak. "Tapi, rasanya sangat tidak sopan sama sekali Gusti."
"Aku merasa tidak nyaman sama sekali." Balasnya. "Rasanya ada perbedaan diantara kita." Ia menghela nafas. "Jika kau menyembur aku sebagai Gusti Putri."
Kembali Nila Ayu berpikir, ia hanya menghormati seseorang yang berasal dari keluarga istana saja.
"Bagaimana? Kalau aku panggil dengan sebutan nimas saja? Boleh, kan?."
Putri Agniasari Ariani tidak langsung menjawabnya, menatap Nila Ayu dengan aneh. "Baiklah, aku rasa itu tidak buruk."
"Syukurlah, jika nimas tidak keberatan sama sekali." Nila Ayu menghela nafas dengan sangat lega.
"Kalau begitu? Mohon bantuannya nila ayu." Putri Agniasari Ariani tersenyum ramah. "Aku rasa kau telah memahami banyak hal, tentang agama Islam."
"Hanya beberapa saja." Responnya. "Namun nimas tetap harus belajar pada guru dewi cantika."
"Ya, tentu saja."
Saat itu juga terhubung tali persahabatan yang erat antara Putri Agniasari Ariani dan Nila Ayu, keduanya belajar bersama dengan baik.
...***...
Di rumah Syekh Asmawan Mulia.
"Assalamualaikum warahmatullahi."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh." Nyi Ayudiyah Purwati tersenyum lembut melihat kedatangan suaminya. "Mari masuk kakang Syekh."
"Terima kasih nini."
"Bagaimana keadaan nanda cakara casugraha?." Hatinya sangat gelisah. "Apakah keadaannya baik-baik saja?." Nyi Ayudiyah Purwati segera menyajikan minuman, dan beberapa lauk pauk untuk suaminya.
"Alhamdulillah hirobbil'alamin, keadaan nanda cakara casugraha telah baikan."
"Alhamdulillah hirobbil'alamin kakang Syekh." Nyi Ayudiyah Purwati sangat senang mendengarnya. "Rasanya aku sangat merindukan nanda cakara, ia sangat baik sekali kakang."
"Nanda cakara casugraha saat ini." Balasnya. "Masih sibuk dengan urusan kerajaan." Lanjutnya. "Mungkin lain kali aku ajak nini menemui nanda cakara casugraha."
"Terima kasih kakang Syekh."
"Lantas? Bagaimana dengan putri kita?."
"Untuk saat ini ia sedang fokus belajar." Jawabnya. "Jadi? Aku tidak mau mengganggunya."
"Syukurlah kalau begitu."
Setelah itu Syekh Asmawan Mulia menikmati makanan yang telah dihidangkan oleh Nyi Ayudiyah Purwati.
...***...
Istana kerajaan Suka Damai.
Sementara itu mereka semua terkejut, tidak percaya jika orang bertopeng itu, adalah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana?. Jadi sang Prabu masih hidup?. Tapi bagaimana ceritanya?.
Ratu Dewi Anindyaswari melepaskan pelukannya, menatap putranya dengan senyuman. Ratu Dewi Anindyaswari memperhatikan putranya yang kembali dengan selamat, dan tanpa kekurangan apapun?.
"Ibunda sangat merindukanmu, putraku." Ratu Dewi Anindyaswari tidak dapat menahan kerinduannya pada putranya, Ratu Dewi Anindyaswari menangis melihat kehadiran anaknya.
"Nanda juga merindukan ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencium tangan ibundanya, ia mencium tangan ibundanya berulang-ulang, rasanya ia tidak ingin menjauh dari ibundanya. "Maafkan nanda, jika kembali agak lama." Ungkap sang Prabu. "Karena ada hal yang harus nanda kerjakan."
"Tidak apa-apa nak, ibunda hanya cemas dengan keadaan nanda."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum menatap ibundanya. Kemudian membimbing ibundanya duduk di sampingnya. Duduk di kursi permaisuri Raja, setelah itu sang Prabu kembali duduk di kursi singgasananya, menatap mereka semua dengan senyuman ramah.
"Kalian semua duduklah." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, mempersilahkan mereka semua duduk, di kursi masing-masing. "Terima kasih atas kehadiran kalian hari ini."
"Sembah hormat kami Gusti Prabu."
Mereka semua memberi hormat kepada sang Prabu.
Mereka begitu tampak tunduk pada sang prabu, termasuk keluarga Ratu Ardiningrum Bintari, dan Ratu Gendhis Cendrawati.
"Kurang ajar!." Umpatnya dalam hati. "Bagaimana mungkin? Cakara casugraha masih hidup?." Raden Ganendra Garjitha yang masih sakit tidak percaya melihat adiknya kembali?. "Apakah dia sangat sakti? Sehingga ia masih hidup?." Dalam hatinya sangat dongkol.
"Ada apa ini?." Sang Prabu masih bersikap ramah. "Tidak biasanya berkumpul di sini?." Lanjut sang Prabu. "Apakah ada sesuatu yang hendak kalian sampaikan?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menatap mereka.
"Mohon ampun Gusti Prabu." Ia memberi hormat. "Kami semua telah mengira bahwa Gusti Prabu telah tewas, dalam pertarungan itu." Senopati Mandaka Sakuta yang berbicara. "Karena kami tidak menemukan keberadaan Gusti Prabu di hutan taring belati raga." Lanjutnya. "Maafkan hamba Gusti Prabu."
Senopati Mandaka Sakuta menjelaskan kesalahan fahaman yang terjadi, hingga mereka berniat mengangkat raja baru.
"Jadi begitu?."
"Sekali lagi maafkan hamba Gusti Prabu."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil, ia memaklumi pemikiran seperti itu, dan ia tidak bisa menyalahkan senopatinya.
"Tidak apa-apa Senopati mandaka sakuta." Respon Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Sekarang saya baik-baik saja." Lanjut sang Prabu. "Tidak perlu merasa bersalah." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menatap Senopati Mandaka Sakuta, yang terlihat merasa berdosa padanya. "Setiap manusia memiliki kesalahan." Ucapnya sang Prabu. "Baik itu disengaja ataupun tidak disengaja." Sang Prabu juga menatap mereka yang hadir.
Mereka semua memperhatikan, apa yang dikatakan oleh Raja mereka dengan baik, apalagi perasaan bersalah itu telah menyelimuti hati mereka.
"Allah SWT maha pengampun, Allah selalu memaafkan kesalahan hambanya." Jelas sang Prabu. "Baik itu kesalahan kecil ataupun kesalahan besar." Senyuman ramah terlihat pada wajahnya yang rupawan. "Jadi? Sebagai umat-Nya yang dipenuhi kesalahan?." Sang Prabu terlihat begitu tenang. "Saya sebagai Raja, memaafkan apa yang terjadi hari ini." Lanjut Sang Prabu dengan wajah tulus, penuh kasih sayang.
Dan saat itu juga, sebuah keajaiban terjadi. Mereka semua terpaku melihat kejadian aneh itu. Setelah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana berkata telah memaafkan apa yang mereka lakukan hari ini?. Terlihat mahkota kebesaran Raja muncul di kepalanya.
Bajunya yang tadinya sang Prabu kenakan adalah pakaian seorang pendekar serba hitam?. Namun berganti dengan pakaian indah seorang Raja yang berwibawa disertai jubah kebesarannya.
Entah karena refleks atau apa, mereka yang tercengang melihat keajaiban itu berdiri. Saking tidak percaya dengan apa yang terjadi di depan mata mereka. Bahkan mereka berpikir prabu Asmalaraya Arya Ardhana adalah seorang tukang sihir. Bagaimana mungkin? Seorang Raja yang tadinya hanya mengenakan pakaian biasa?. Bisa berganti dengan pakaian kebesaran seorang Raja yang memancarkan kewibawaan luar biasa seperti itu?.
"Putraku nanda cakara casugraha." Ratu Dewi Anindyaswari yang berada di samping anaknya juga terkejut, dengan keajaiban yang ia lihat. Putranya tampak gagah dengan pakaian seperti itu. Senyumannya adalah senyuman kebahagiaan yang sangat luar biasa.
...***...
Jaya Satria yang saat itu sedang berada di wisma Prajurit.
"Alhamdulillah makasih, semuanya telah berjalan dengan baik." Dalam hatinya merasa sangat lega.
"Sampurasun."
"Rampes."
Jaya Satria memberi hormat.
"Eyang Prabu?."
"Syukurlah, keadaan nanda baik-baik saja."
"Alhamdulillah hirobbil'alamin eyang Prabu, keadaan nanda telah baikan."
"Namun nanda jangan senang dulu, karena nanda akan menghadapi masalah yang lebih besar lagi setelah ini." Tatapan matanya terlihat sangat menusuk.
"Masalah pastinya akan terus datang, eyang Prabu." Jaya Satria merasa gelisah.
"Namun? Kali ini bukan hanya dari kerajaan kegelapan saja, akan tetapi juga dari saudara-saudara nanda." Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta terlihat sangat cemas. "Bukankah? Nanda dapat melihat sendiri? Bagaimana tatapan mereka pada nanda?."
"Ya, eyang Prabu benar."
"Juga nanda harus berhati-hati pada Ardiningrum bintari, ia bisa menjadi serigala yang dapat mengadu domba kalian semua."
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Jaya Satria semakin gelisah. "Apa yang harus nanda lakukan eyang Prabu?."
"Nanda harus bisa mendekatkan diri dengan mereka." Dengan senyuman ramah Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta berkata seperti itu. "Sebisa mungkin, nanda harus bisa menjaga hubungan baik dengan mereka."
"Tapi itu rasanya sangat berat eyang Prabu, karena dari kecil? Kami memang bersebrangan."
"Apapun yang terjadi? Nanda harus bisa melakukannya."
Deg!.
Jaya Satria sedikit terkejut, karena saat itu ia tidak lagi melihat Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta.
"Apakah aku harus melakukannya?." Dalam hatinya sedang memikirkan saran itu.
...***...
Istana kerajaan Suka Damai.
"Bagaimana mungkin itu bisa terjadi?!." Hatinya terasa panas. "Aku sangat yakin! Dia adalah seorang dukun sihir." Ratu Ardiningrum Bintari, Ratu Gendhis Cendrawati, serta putra-putri mereka tidak percaya, dengan apa yang baru saja mereka lihat.
"Kau memang menggunakan cara yang licik rayi." Raden Ganendra Garjitha begitu benci.
"Sekarang percaya,, bahwa dia adalah seorang dukun sihir." Putri Ambarsari malah berpikir kesana. "Bagaimana mungkin? Dia yang terkutuk malah menjadi raja di negeri ini?." Hatinya tidak terima. "Aku yakin dia telah berniat sesuatu." Dalam hatinya sangat tidak terima melihat kejadian aneh itu.
"kau benar-benar pintar sekali cakara casugraha." Dalam hatinya. "Kau tipu mereka dengan cara licik mu itu!." Dalam hati putri Andhini Andita merasa kagum, dengan apa yang dilakukan oleh adiknya. "Tidak salah lagi, kau adalah penyihir yang sangat jahat!."
Dalam hati mereka sangat mengutuk Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Kami sangat mencemaskan keadaan nanda Prabu." Ucapnya sambil memberi hormat. "Kami sangat takut, apalagi lawan yang ananda Prabu lawan, bukan lah pendekar sembarangan."
"Alhamdulillah hirobbil'alamin." Respon Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Saya telah kembali dengan selamat." Sang Prabu menatap mereka dengan senyuman ramah. "Walaupun berhadapan dengan pendekar yang kuat."
"Syukurlah kalau begitu nanda Prabu."
Mereka semua sangat lega mendengarnya.
"Apakah kami boleh mengetahui?." Ucapnya dengan hati-hati. "Mengapa gusti Prabu masih bisa selamat dari sana?." Lanjutnya. "Mohon ampun, jika pertanyaan hamba begitu lancang gusti prabu?." Senopati Mandala Sakuta mewakili mereka bertanya seperti itu.
Sang Prabu mengerti, ia menatap mereka dengan senyuman kecil.
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin." Respon Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Saya masih diberikan nikmat hidup oleh Allah SWT." Senyuman ramah menghiasi wajah rupawan sang Prabu. "Hingga hari ini saya masih bisa, bertemu dengan kalian semua dipertemuan hari ini." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menjawab pertanyaan mereka, sepertinya ia memang harus menjelaskan apa yang ia alami. "Saya memang bertarung dengan penjahat, yang tidak bisa dianggap remeh ilmu kanuragannya." Jelas sang Prabu. "Bahkan saya terkena jurus berbahayanya, jurus telapak tangan dewa kematian."
Deg!.
Mereka semua sangat terkejut mendengarnya penjelasan dari Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, termasuk Ratu Dewi Anindyaswari.
"Oh? Putraku." Dalam hatinya sangat sedih.
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin." Respon Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Allah SWT telah mengirimkan saya orang yang telah menyelamatkan saya."
"Aku sangat yakin, dia adalah orang misterius itu." Dalam hati Putri Andhini Andita.
"Siapa yang menolong Gusti Prabu?." Ucapnya heran. $Mengapa ia tidak diajak ke sini?." Lanjutnya. "Untuk diberikan penghargaan." Ia menatap mereka semua. "Karena ia telah menyelamatkan nyawa seorang raja?." Pendeta Agung istana penasaran, mengapa beliau tidak membawa orang yang menolongnya.
Sang Prabu tersenyum kecil menanggapi perkataan dari pendeta agung istana. "Orang yang telah menolong saya." Jawab sang Prabu. "Adalah guru saya sendiri, Syekh asmawan mulia, juga aki jarah setandan." Lanjut sang Prabu. "Suatu hari nanti saya akan mengajak kedua guru saya." Sang Prabu tersenyum kecil. "Untuk datang ke istana ini untuk membantu saya, dalam menjalankan tahta pemerintahan ini."
"Gurunya?." Dalam hati Putri Andhini Andita heran. "Aku rasa pasti dia telah berkata bohong." Hatinya sangat percaya itu. "Tidak mungkin orang bertopeng itu adalah gurunya." Dalam hati Putri Andhini Andita sama sekali tidak percaya, dengan apa yang dikatakan oleh sang Prabu. "Kau memang menyimpan banyak rahasia, cakara casugraha."
...***...
Di kerajaan kegelapan.
Putri Gempita Bhadrika telah kembali ke istana, ia tidak hanya membawa obat yang dapat menyembuhkan ayahandanya, melainkan juga membawa Nini Kabut Bidadari yang langsung mengobati sang Prabu.
"Mengapa ayahandaku?." Hatinya cemas. "Belum juga membuka matanya nini?." Ia terlihat panik. "Apakah obatnya tidak bekerja dengan baik?!."
"Mohon maaf Gusti Putri." Nini Kabut Bidadari memberi hormat. "Hamba rasa obat itu tidak bekerja secara langsung." Lanjutnya. "Obatnya bekerja perlahan mengobati luka dalam, yang Gusti Prabu alami." Jelasnya. "Luka itu sepertinya membutuhkan waktu, agar benar-benar sembuh secara sempurna."
"Apa maksudmu nini?."
"Tidak semua obat yang sifatnya." Jawabnya. "Diberikan langsung, akan membuat seseorang langsung sembuh." Lanjutnya. "Ada juga obat, yang membutuhkan waktu, untuk menyembuhkan seseorang.
"Oh? Begitu?." Responnya. "Tapi harus berapa lama lagi? Aku menunggu kesembuhan ayahandaku?." Putri Gempita sudah tidak sabar, untuk melihat kesembuhan Ayahandanya.
"Bersabarlah Gusti Putri." Balasnya. "Semuanya akan baik-baik saja, kita hanya perlu menunggu saja."
"Ayahanda, cepatlah sembuh." Hatinya sangat sakit. "Aku tidak sabar lagi, ingin bersamamu." Matanya menatap sedih. "Aku ingin belajar banyak hal dengan ayahanda." Putri Gempita Bhadrika begitu sedih, melihat ayahandanya yang masih terbaring di tempat tidurnya. "Kita harus membunuh kawiswara arya ragnala."
"Kabar yang kami dapatkan." Ucapnya. "Mengenai Prabu kawiswara arya ragnala, bahwa beliau telah tewas." Semara Layana menatap mereka.
"Apakah benar yang kau katakan itu?." Putri Gempita Bhadrika terkejut. "Kenapa? Aku tidak mendapatkan kabar itu?."
"Benar Gusti Putri." Jawabnya. "Kerajaan suka damai sekarang, dipimpin oleh putra bungsunya bernama." Lanjutnya. "Raden bahuwirya cakara casugraha, nama gelarnya Prabu asmalaraya arya ardhana."
"Hum." Putri Gempita Bhadrika nampak berpikir. "Aku tidak menduga itu." Ucapnya sambil melihat ke arah ayahandanya. "Bagaimana tanggapan ayahanda nanti?." Lanjutnya. "Saat mengetahui tentang masalah itu?."
"Hamba rasa Gusti Prabu wajendra bhadrika." Responnya. "Masih berkeinginan untuk menaklukkan kerajaan suka damai." Lanjutnya. "Hamba yakin itu Gusti Putri."
"Pasti seperti itu."
"Lantas? Apa yang akan Gusti Putri lakukan?." Balasnya. "Sembari menunggu kesembuhan Gusti Prabu?."
"Sepertinya memberikan sapaan." Jawabnya dengan senyuman kecil. "Terhadap mereka itu tidak masalah." Lanjutnya. "Sembari menunggu ayahanda Prabu bangun dari tidurnya."
"Apakah Gusti Putri yakin? Ingin melakukannya?."
"Tentu saja aku sangat yakin." Jawabnya. "Lagi pula, aku merasa bosan." Ungkapnya. "Berdiam diri saja di istana ini."
"Ya, Gusti Putri benar." Respon Nini Kabut Bidadari. "Kita tidak mungkin berdiam diri saja di istana ini." Ia tersenyum lebar. "Kita akan memberi salam pada raja baru." Ada perasaan aneh di hatinya. "Yang memimpin kerajaan suka damai." Nini Kabut Bidadari menyeringai lebar.
"Tapi kita harus berhati-hati." Balasnya. "Karena orang bertopeng itu pasti akan bertindak." Ia menarik nafas dalam-dalam. "Jika kita mengganggu kedamaian kerajaan suka damai." Semara Layana masih ingat dengan kejadian Mayang Sari yang ditahan waktu itu.
"Aku tidak peduli." Balasnya cepat. "Dengan orang bertopeng itu." Ia tunjukkan rasa tidak sukanya. "Akan aku habisi dia! Jika menghalangi aku nantinya."
"Ya, kita bunuh siapa saja yang berani melawan." Ia tampak bersemangat. "Termasuk orang-orang yang telah membunuh kakang dharma seta." Nini Kabut Bidadari masih merasakan kemarahan yang sangat luar biasa. "Aku tidak terima!." Tegasnya. "Dan bersumpah! Akan membalaskan dendam ku pada orang yang telah membunuh kekasihku!."
"Aku juga dendam, karena ia." Ungkap Mayang Sari "telah membunuh kawan-kawanku."
"Kalau begitu, mari kita bergerak."
"Mari."
"Mari Gusti."
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Apakah mereka akan membalaskan dendam terhadap Jaya Satria?. Simak dengan baik kisahnya, temukan jawabannya. Next.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 372 Episodes
Comments
Anonymous
wk.. wk.. wk, sdh dikerajaan suka Damai tetapi org tamak dan kerjaan lain ingin menguasai kerajaannya suka damai
2024-09-04
0