...***...
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedang berjalan mengitari istana bersama gurunya Syekh Asmawan Mulia. Mereka membahas tentang agama, yang akan disebarkan oleh gurunya di sekitar istana. Dan itu juga Jaya Satria datang mendekati mereka, sambil mengucapkan salam.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh syekh guru."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh."
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin syekh guru mau datang ke istana." Ucapnya. "Dan menjadi salah satu abdi dalam istana."
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin jaya satria." Balasnya. "Kalian berdua mempercayai Syekh guru, untuk melakukan kebaikan di kerajaan ini."
Namun di sisi lain tanpa mereka sadari, Raden Hadyan Hastanta, Raden Ganendra Garjitha dan Raden Gentala Giandra, sedang mengamati mereka dari jarak yang agak jauh.
Mereka bertiga terkejut melihat kedatangan Jaya Satria, dan itu menguatkan bukti apa yang dikatakan oleh Putri Andhini Andita sangat benar? Mengenai sosok misterius yang hanya bersama prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Aku semakin mencurigai." Ucapnya. "Cakara casugraha memang bekerja sama, dengan orang yang berilmu tinggi." Raden Ganendra Garjitha sangat curiga. "Karena itulah dia bisa menaklukkan singgasana istana kerajaan suka damai, dengan sangat mudah."
"Kedua orang itu, pasti membantunya untuk menduduki istana ini." Hatinya sangat geram. "Mereka bekerjasama untuk membodohi kita semua."
"Sungguh perbuatan yang sangat licik!."
"Aku tidak menyangka." Ucapnya kesal. "Jika cakara casugraha memiliki pemikiran." Hatinya terasa sesak. "Yang kotor seperti itu." Hatinya sangat mengutuk. "Sungguh manusia yang hanya menjaga penampilan luar, namun di dalamnya sangat busuk."
"Kita harus mencari bukti, yang lebih kuat lagi." Ucapnya. "Setelah itu baru kita akan melakukannya." Ia menyeringai lebar. "Mempermalukan cakara casugraha dihadapan rakyat suka damai."
"Raka benar." Responnya. "Kita harus mencari bukti kecurangannya."
Hingga mereka selalu memperhatikan gerak gerik adiknya, yang ia anggap itu adalah kesalahan?. Ya, kesalahan yang dapat mereka gunakan sebagai senjata untuk melengserkan adiknya dari jabatannya sekarang.
Namun ketika mereka hendak meninggalkan tempat, mereka melihat hal ganjal. Saat mereka melihat kedatangan Ratu Dewi Anindyaswari. Orang misterius itu malah pergi dari sana?.
Rasa penasaran mereka semakin besar saat melihat itu. Dalam benak mereka semakin timbul pertanyaan-pertanyaannya yang membuat mereka keheranan. Mereka sepertinya belum bisa meninggalkan tempat itu, karena rasa curiga semakin besar.
Ratu Dewi Anindyaswari mendekati putranya, dan bersama orang yang baru ia kenal. Namun Ratu Dewi Anindyaswari tetap ramah kepada orang tersebut.
...**...
Di pondok pesantren tempat Putri Agniasari belajar ilmu agama.
Siang itu Putri Agniasari bersama temannya Nila Ayu baru saja pulang dari pasar.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."
Saat itu mereka berpas-pasan dengan beberapa orang santri laki-laki.
"Dari pasar ya nimas?."
"Jika kalian telah mengetahuinya?." Balas Nila Ayu kesal. "Sebaiknya kalian yang membawa belanjaan kami!."
"Ya, punya mulut jangan pedas seperti itu lah?."
"Benar itu nila ayu." Ketusnya. "Namamu saja yang bagus." Ia sangat kesal. "Tapi mulutmu pedas seperti lada hitam."
"Hahahaha!."
Mereka tertawa terbahak-bahak karena merasa sangat lucu dengan ucapan itu.
"Baik!." Tegasnya. "Akan aku tambahkan lada hitam di dalam masakan nantinya!." Bentaknya keras. "Khusus untuk kalian saja!." Lanjutnya. "Supaya kalian tidak bisa makan lagi! Saking pedasnya lada hitam, yang aku berikan pada masakan!."
"Owalah, kau ini wanita?." Responnya. "Tapi sangat mengerikan sekali." Ia bergidik ngeri "Berbeda dengan Gusti Putri agniasari ariani." Matanya memperhatikan penampilan Putri Agniasari Ariani. "Yang sangat ramah, manis, dan anggun."
"Heh!." Ia mendengus kesal. "Maaf saja!." Bentaknya. "Aku tidak akan pernah bersikap ramah pada kalian!."
"Maaf semuanya." Ucap Putri Agniasari Ariani. "Kalau begitu kami ke dapur dulu." Ia tersenyum ramah. "Tidak baik berlama-lama di sini." Lanjutnya. "Nanti tidak sempat memasak."
"Ba-ba-baiklah Gusti Putri agniasari ariani."
Mereka sangat gugup, karena melihat senyuman manis itu.
"Masak yang enak ya Gusti Putri?."
Hati mereka meluluh melihat senyuman ramah dari Putri Agniasari Ariani.
"Heh!." Nila Ayu kembali mendengus kesal. "Itu tidak akan terjadi." Dengan juteknya Nila Ayu menarik tangan Putri Agniasari Ariani agar menjauh dari mereka.
"Hahaha! Galak sekali."
Kembali terdengar suara tawa mereka saat melihat Nila Ayu marah-marah.
...***...
Ratu Ardiningrum Bintari dan Ratu Gendhis Cendrawati saat itu sedang bersama. Mereka masih saja belum menerima kenyataan pahit itu, bahwa salah satu dari anak mereka tidak bisa menjadi Raja.
"Apakah kau ingat dengan ucapan kanda Prabu?." Jawabnya. "Bahwa yang akan menjadi penerus Raja adalah mereka yang memiliki hati baik?."
"Tentu saja aku masih ingat dengan ucapan itu yunda, lantas kenapa?."
"Apakah kau tidak dapat melihat?." Balasnya. "Dan mengingat betapa bengisnya? Cakara casugraha pada kita di masa lalu?." Dengan perasaan menggebu Ratu Ardningrum Bintari berkata seperti itu. "Dia adalah orang jahat yang sebenarnya." Hatinya tidak terima. "Tapi bagaimana mungkin? Dia bisa menjadi seorang Raja?." Hatinya sangat kesal. "Apakah kau tidak merasakan? Adanya keanehan itu?."
"Yunda benar." Responnya. "Itu sangat tidak masak akal sama sekali." Lanjutnya. "Sangat tidak adil juga untuk kita yunda."
"Mereka dari dulu memang sangat licik!." Hatinya semakin terbakar. "Kanda Prabu hanya memperhatikan mereka saja." Perasaan benci itu semakin membesar di hatinya. "Tidak pernah berlaku adil pada kita." Hatinya hanya diisi oleh kebencian saja.
"Lantas? Apa yang harus kita lakukan yanda?."
"Mari kita bekerja sama." Responnya. "Mencari celah untuk menjatuhkan dewi anindyaswari beserta anak-anaknya."
"Baiklah kalau begitu yunda."
Apakah yang akan mereka lakukan?. Simak dengan baik kisahnya.
...***...
Istana Kerajaan Suka Damai.
"Sampurasun, hormat hamba Gusti Ratu." Syekh Asmawan Mulia memberi hormat pada Ratu Dewi Anindyaswari.
"Rampes."
"Ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memberi hormat. "Beliau adalah syekh asmawan mulia." Ucap sang Prabu. "Beliau adalah guru agama, yang membimbing nanda selama ini."
"Terima kasih atas bimbingan untuk anak saya." Ratu Dewi Anindyaswari terlihat canggung.
"Syekh guru." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memberi hormat pada Syekh Asmawan Mulia. "Beliau adalah ibunda Ratu dewi anindyaswari." Lanjut sang Prabu. "Ibunda yang telah melahirkan nanda ke dunia ini." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga memperkenalkan ibundanya pada syekh Asmawan Mulia. "Ibunda yang sangat nanda hormati."
"Jadi beliau? Adalah guru nanda Prabu?."
"Benar Ibunda."
"Hamba adalah seorang guru." Balas Syekh Asmawan Mulia memberi hormat. "Yang dipercayai oleh mendiang Gusti Prabu kawiswara arya ragnala, membimbing putra Gusti Ratu, untuk belajar ilmu agama islam."
"Terima kasih-, Syekh asmawan mulia?." Ratu Dewi Anindyaswari agak bingung saat menyebutkan nama itu.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil, melihat reaksi dari ibundanya yang agak canggung menyebutkan nama Syekh.
"Ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menatap ibundanya dengan senyuman kecil. "Syekh adalah nama gelar, untuk orang yang sudah ahli dalam agama islam." Lanjut sang Prabu. "Serta menyebarkan agama islam kepada orang lain, ibunda."
"Nama gelar?." Ratu Dewi Anindyaswari sedikit bingung dengan ucapan anaknya.
"Benar ibunda." Respon Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Namun ada juga sebagai bentuk keturunan, sama seperti gelar yang nanda sandang sekarang."
"Maafkan saya Syekh." Ucap Ratu Dewi Anindyaswari. "Sungguh saya tidak mengetahuinya sama sekali." Ratu Dewi Anindyaswari merasa bersalah. "Saya tidak bermaksud untuk menyingung syekh."
"Tidak apa-apa Gusti Ratu, hamba memakluminya." Syekh Asmawan Mulia mengerti ketidaktahuan sang ratu.
"Terima kasih banyak Syekh." Ratu Dewi Anindyaswari sangat lega mendengarnya.
"Nanda Prabu sungguh sangat perhatian pada ibundanya." Dalam hatinya sangat kagum. "Bahkan menjelaskan gelar nama syekh pada ibundanya, agar tidak terjadi kesalahpahaman."
"Ibunda juga bisa belajar banyak, dari Syekh guru tentang agama islam."
"Tentu saja nak." Balas Ratu Dewi Anindyaswari. "Terima kasih karena nanda Prabu memikirkan ibunda."
"Tentu saja ibunda."
...***...
Di suatu tempat.
Nini Kabut Bidadari, Putri Gempita Bhadrika, Mayang Sari dan Semara Layana sedang berada di sebuah tempat, yang masih berada di wilayah kerajaan Suka Damai. Mereka sepertinya memiliki rencana lain, untuk membuat kerusuhan. Mereka belum puas sebelum Raja baru itu keluar dari istananya. Karena itulah mereka ingin memancing sang prabu dengan berbuat kerusuhan.
Di ujung Kota raja, sebelum meninggalkan kota raja menuju desa Memanahan. Terdapat sebuah tempat hiburan, tempat itu dijadikan sarang untuk bersenang-senang siapa saja yang membutuhkan hiburan malam.
Entah itu berupa tarian, atau hanya sekedar mendengar seorang wanita cantik, yang membawakan syair-syair cinta yang indah didengar telinga.
Jadi tempat hiburan malam itu sering ramai dikunjungi oleh pemuda-pemuda. Entah itu anak muda, atau bapak-bapak yang terpikat, oleh indahnya atau kenikmatan yang tersaji kan di sana.
Tempat tersebut dimanfaatkan oleh mereka, untuk memikat pemuda-pemuda di sana. Mereka berencana untuk menarik mereka dengan suara indah, yang mengandung aura hipnotis dari Nini Kabut Bidadari, sebagai pemilik jurus pemikat cakra pemuda. Dengan jurus itu, mereka menghipnotis pemuda atau siapa saja laki-laki di sana untuk dijadikan wadah jin pemanggil jiwa pemuda.
Akibat dari jurus itu setelah dirasuki jin, orang itu akan mengamuk menghajar siapa saja yang berusaha untuk menenangkan dirinya.
Itulah tujuan dari mereka semua berada di tempat hiburan malam yang menjadi tempat untuk membuang harta. Karena orang-orang yang berada di sana, hanyalah diisi orang-orang berkelas atas, orang yang tidak tau mau diapakan uangnya.
Meskipun ada beberapa yang tidak berada, namun masih bisa menikmatinya, dengan cara mereka. Saat ini. Nini Kabut Bidadari, Putri Gempita Bhadrika, dan Mayang Sari sedang membuat rencana. Bahwa malam ini mereka akan melakukan apa yang telah mereka rencanakan.
"Aku tidak sabar lagi." Ucapnya. "Melihat Prabu asmalaraya arya ardhana menangis darah." Hatinya terasa senang. "Karena melihat kelakuan dari rakyatnya yang seperti ini." Nini Kabut Bidadari mencoba membayangkan situasinya.
Ia sedang membayangkan hal menyenangkan, yang akan ia dapatkan nantinya.
"Apalagi jika ia mengetahui." Ucapnya lagi. "Bahwa pemuda-pemuda di sini, hanya suka mabuk-mabukan." Lanjutnya. "Akhirnya saling membunuh karena kerasukan setan."
Nini Kabut Bidadari menyeringai lebar. Rasanya ada kepuasan tersendiri, dengan rencana yang telah mereka sepakati bersama.
"Benar nini." Responnya. "Aku sudah tidak sabar lagi, ingin mendengar kabar itu." Putri Gempita tersenyum senang.
Ia membayangkan bagaimana raut wajah prustasi prabu Asmalaraya Arya Ardhana, saat mengetahui masalah yang ditimbulkan oleh rakyatnya sendiri?.
"Ide yang diberikan nini kabut bidadari sangat bagus, sangat luar biasa." Mayang Sari merasa kagum dengan kepintaran Nini Kabut Bidadari.
"Tentu saja aku pintar!." Tegasnya. "Jika tidak? Mana mungkin aku berhasil mendapatkan hati kakang dharma seta." Dalam hati Nini Kabut Bidadari mengingat Ki Dharma Seta.
Lelaki yang telah mengikat hatinya, dan ia tidak akan pernah bisa melupakan sosok itu.
Apakah rencana mereka berhasil?. Kita lihat saja nantinya.
...****...
Di Wisma putra Raja.
Setelah melihat dan mengamati hal aneh yang terjadi?. Mereka memutuskan untuk meninggalkan tempat, tidak lagi mengamati percakapan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, Ratu Dewi Anindyaswari dan Syekh Asmawan Mulia.
"Apakah raka bisa melihatnya?." Ucapnya aneh. "Orang bertopeng itu pergi begitu saja, setelah ibunda Ratu dewi anindyaswari mendekati mereka."
"Ya, kau benar." Jawabnya. "Orang misterius itu, seperti tidak ingin terlihat oleh ibunda Ratu dewi anindyaswari."
"Mungkin saja dia tidak ingin." Sambungnya. "Jika ibundanya mengetahui, bahwa ia telah melakukan hal yang sangat licik."
"Lantas?." Balasnya. "Apa yang akan kita lakukan?." Lanjutnya. "Untuk membuktikan? Bahwa dia sebenarnya orang jahat?."
"Kita harus memikirkan cara." Jawabnya. "Yang tepat untuk melakukannya." Ia menghela nafas pelan. "Jangan sampai kita ketahuan."
"Kalau begitu." Responnya. "Kita pikiran cara terbaiknya."
Apakah yang akan mereka lakukan untuk mencari kebenaran yang telah disembunyikan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana?. Simak dengan baik kisahnya.
...***...
Di Padepokan.
Putri Agniasari Ariani, Nila Ayu dan beberapa santri lainnya sedang memasak di dapar.
"Maaf, saya memang tidak mahir." Ucapnya malu-malu. "Dalam mengenali beberapa bumbu dapar." Lanjutnya. "Mohon bimbingannya."
Mereka semua saling bertatapan satu sama lain, dan mencoba untuk memahaminya.
"Baiklah." Balasnya. "Kalau begitu perhatikan saja dulu." Lanjutnya. "Apa yang kami lakukan." Ia tersenyum ramah. "Jika tidak memahaminya? Kau bisa bertanya."
"Terima kasih." Respon Putri Agniasari Ariani. "Saya merasa terbantu."
Putri Agniasari Ariani sangat senang karena mereka menyambut ramah kedatangannya.
"Tapi sangat luar biasa sekali." Ucapnya. "Ada seorang putri Raja, mau belajar ilmu agama di padepokan ini."
Mereka melihat ke arah Putri Agniasari Ariani dengan aneh, tidak menduga akan berada di satu lingkungan bersama seorang Putri Raja?.
"Bukankah guru kita mengatakan?." Ucapnya. "Innamal a'malu binniats?." Ucapnya dengan yakin. "Jadi? Saya hanya melakukannya karena niat."
"Wah?." Ia sangat terkesan. "Sangat luar biasa sekali." Ungkapnya. "Gusti Putri telah menghafal beberapa hadits, yang telah diajarkan guru." Lanjutnya. "Bahkan langsung mengamalkannya."
"Kepintaran seorang Putri Raja memang beda."
"Ya, kepintaran seorang putri Raja memang beda."
"Apalah daya kita hanyalah rakyat biasa." Ucapnya dengan sedih. "Dengan otak setengah matang."
"Hahaha!."
Tawa mereka meledak seketika, namun mereka sangat kagum dengan apa yang dibacakan Putri Agniasari Ariani tadi, namun ada perasaan aneh karena adanya perbedaan diantara mereka.
"Jangan memberikan kesan kepada saya seperti makhluk asing." Ungkapnya. "Kita sama-sama manusia yang memiliki akal dan pikiran."
Kali ini mereka malah tertawa mendengarkan ucapan Putri Agniasari Ariani, apalagi raut wajahnya yang merajuk seperti itu. Tawa mereka telah memenuhi dapur, tidak ada dendam ataupun tersinggung saat itu. Mereka benar-benar murni ingin menjalin pertemanan.
...****...
Istana Kerajaan Suka Damai.
"Jika nanda prabu mengizinkan? Istri Syekh guru bisa membantu Gusti Ratu." Syekh Asmawan Mulia memberikan pendapat lain. "Akan lebih nyaman lagi bagi Gusti Ratu." Lanjutnya. "Untuk leluasa mempelajari agama islam." Lanjutnya. "Sebagai sesama wanita." Ungkap Syekh Asmawan Mulia. "Syekh guru bukannya tidak mau mengajarkan Gusti Ratu." Ungkapnya lagi. "Hanya saja tidak mau menimbulkan fitnah." Tegasnya. "Dari pihak lain yang nantinya." Hatinya gelisah. "Mohon maaf nanda Prabu." Ucapnya sambil memberi hormat.
"Astaghfirullah hal'azim." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menghela nafasnya. Ia baru ingat mengenai hal yang kemungkinan saja itu terjadi.
Apalagi mengingat bahwa di istana ini, ibundanya sering dijadikan bahan fitnah, atau gunjingan oleh kedua istri mendiang ayahandanya.
"Terima kasih syekh guru." Ucap Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memberi hormat. "Karena mengingatkan nanda, agar lebih berhati-hati dalam bertindak." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat bersyukur, ada guru yang baik, selalu mengingatkan dirinya.
"Ya, tentu saja nanda Prabu."
"Baiklah Syekh guru." Ucap Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Kalau begitu nanda minta tolong kepada istri Syekh guru." Lanjut sang Prabu. "Untuk mengajari ibunda tentang agama islam." Sang Prabu tersenyum kecil. "Terima kasih sekali lagi, atas sarannya Syekh guru."
"Tentu saja nanda Prabu." Syekh Asmawan Mulia merasa senang, dapat membantu prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Saya juga mengucapkan terima kasih sekali lagi pada Syekh." Ucap Ratu Dewi Anindyaswari. "Bukan hanya membantu nanda prabu." Ucapnya dengan senyuman ramah. "Syekh juga membantu saya." Lanjutnya. "Semoga kebaikan, selalu diberikan kepada syekh dan keluarga." Itulah ungkapan rasa terima kasih Ratu Dewi Anindyaswari.
"Hanya itu yang bisa hamba lakukan Gusti Ratu." Balas Syekh Asmawan Mulia. "Semoga gusti Ratu bisa masuk islam, dengan hati yang damai."
"Aamiin, semoga saja." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat berharap, jika ibundanya juga bisa masuk agama Islam.
"Semoga saja Syekh." Ratu Dewi Anindyaswari hanya bisa berharap saja.
...**...
Di bilik Ratu Ardningrum Bintari.
Hatinya masih saja gelisah karena memikirkan salah satu dari anaknya yang tidak bisa menjadi Raja.
"Anakku lebih baik dari anaknya." Hatinya masih tidak terima. "Tapi kenapa? Malah anaknya yang menjadi Raja?." Hatinya mulai terbakar. "Aku sangat yakin, jika mereka telah melakukan kecurangan." Hatinya terasa sakit jika mengingat anaknya terlempar dari Singgasana. "Bagaimana mungkin? Ada singgasana bisa memilih siapa yang berhak mendudukinya?." Hatinya merasakan keganjalan yang tidak biasa. "Itu sangat mustahil." Dalam hatinya kembali memikirkan kejadian itu.
"Dinda ardiningrum bintari."
Deg!.
Ratu Ardiningrum Bintari terkejut ketika mendengarkan suara itu, sehingga dengan cepat melihat ke arah sumber suara.
"Kanda Prabu?."
"Ini kanda."
"Untuk apa kanda Prabu menemui dinda?!." Suaranya terdengar tinggi. "Bukankah kanda telah pergi dari dunia ini?." Hatinya terasa hancur. "Kanda Prabu hanya meninggalkan kekecewaan bagi dinda." Terlihat kesedihan terpancar di matanya.
"Kanda tidak pernah meninggalkan kekecewaan untuk dinda." Balas sang Prabu. "Namun dinda lah, yang telah memilih jalan itu."
"Sebaiknya kanda Prabu pergi saja dari sini!." Usirnya. "Karena dinda tidak membutuhkan nasihat kanda!." Tegasnya. "Karena nasihat kanda! Hanya memberikan kesan, bahwa dinda lah yang paling bersalah!." Hatinya merasa sakit.
Bayangan Prabu Kawiswara Arya Ragnala menghilang dari pandangan Ratu Ardiningrum Bintari.
"Lebih baik kanda Kanda tidak datang." Hatinya sangat sakit. "Jika kanda tidak memberikan pesan." Ia mencoba menenangkan diri. "Bahwa putra dinda ganendra garjitha, yang menjadi maharaja agung di Istana ini." Hatinya semakin terasa sakit memikirkan itu semua.
...****...
Di bilik Ratu Gendhis Cendrawati.
Sama halnya dengan Ratu Ardningrum Bintari, Ratu Gendhis Cendrawati juga terlihat murung karena masih memikirkan alasan kenapa salah satu anaknya tidak bisa menjadi Raja?.
"Putraku hadyan hastanta." Ucapnya. "Selama ini telah berkelakuan sangat baik." Ratu Gendhis Cendrawati memikirkan kembali sikap putranya. "Bahkan dulu sering dihukum kanda Prabu." Ingatannya kembali pada kejadian saat itu. "Akibat ulah anak-anak dewi anindyaswari yang kurang ajar." Hatinya semakin panas dan tidak bisa menerima itu. "Bahkan putriku andhini andita?." Ucapnya lagi. "Sering menangis karena dijahati oleh cakara casugraha, lantas?." Hatinya sangat tidak terima. "Setelah bertahun-tahun tidak kembali?." Kali ini ia merasa aneh. "Dengan mudahnya dia menjadi Raja?!." Suaranya semakin tinggi. "Lawakan macam apa itu?!." Amarahnya keluar begitu saja ketika memikirkan yang telah terjadi.
"Dinda gendhis cendrawati."
Deg!.
Dalam keadaan marah?. Namun ada perasaan terkejut menerpa suasana hatinya.
Deg!.
Kembali Ratu Gendhis Cendrawati terkejut ketika melihat Prabu Kawiswara Arya Ragnala?.
"Apakah benar ini kanda Prabu?."
"Benar sekali dinda, ini kanda."
"Tidak mungkin!." Bantahnya. "Kanda telah dikuburkan!." Hatinya terasa panas. "Tidak mungkin, kanda bisa kembali ke istana ini!."
"Kanda kembali." Jawab sang Prabu. "Itu karena kanda, merasakan kegelisahan dinda."
"Untuk apa?!." Balasnya cepat. "Kanda merasakan kegelisahan dinda?." Perasaan ganjal di hatinya keluar begitu saja. "Selama ini, kanda tidak pernah perduli! Pada dinda!."
"Kanda selalu memperhatikan dinda-."
"Tidak!." Bantahnya cepat. "Sebaiknya kanda tidak usah menemui dinda!." Tegasnya. "Jika hanya untuk menyalahkan dinda!."
Teriak Ratu Gendhis Cendrawati dengan amarah yang memuncak, tidak ingin mendengarkan apapun yang akan diucapkan oleh Prabu Kawiswara Arya Ragnala.
"Kanda hanya berharap." Ucap sang Prabu sedih. "Dnda mau berubah ke arah yang baik."
Namun tidak ada tanggapan dari Ratu Gendhis Cendrawati, hingga Prabu Kawiswara Arya Ragnala menghilang dari pandangan Ratu Gendhis Cendrawati.
"Kenapa kanda?." Hatinya terasa sesak. "Bersikap tidak adil pada dinda?." Ia menangis sedih. "Kesalahan apa? Yang telah dinda lakukan pada kanda?." Ucapnya dalam tangisnya. "Sehingga kanda? Memperlakukan kami seperti ini?."
Dengan tangis yang menyesakkan dada, Ratu Gendhis Cendrawati berkata seperti itu. Hatinya sangat kecewa pada sosok yang telah dikaguminya selama ini.
...***...
Ratu Dewi Anindyaswari sedang bersama putranya. Mereka duduk berdua sambil menikmati pemandangan di istana. Putranya kadang masih menyempatkan waktu untuk bersamanya. Itulah yang membuat Ratu Dewi Anindyaswari merasa senang, dan bahagia.
Akan tetapi hari ini?.
"Putraku nanda cakara casugraha, apakah nanda sakit nak?." Ratu Dewi Anindyaswari begitu mencemaskan keadaan anaknya.
"Tidak apa-apa ibunda, nanda baik-baik saja."
"Tapi nak." Hatinya merasa cemas. "Bibirmu terlihat pucat dan kering." Lanjutnya. "Bahkan wajahmu juga terlihat sedikit pucat, nak."
"Ibunda tenang saja." Respon Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Saat ini ananda sedang berpuasa." Lanjut sang Prabu. "Karena itulah ananda terlihat seperti ini." Sang Prabu tersenyum kecil. "Tapi bukan berarti nanda sakit, ibunda."
"Puasa?." Respon Ratu Dewi Anindyaswari. "Apa itu puasa nak?." Ia terlihat bingung. "Coba nanda jelaskan pada ibunda." Ratu Dewi Anindyaswari tersenyum kecil. "Bagaimana mungkin? puasa bisa membuat seseorang terlihat pucat seperti itu?."
Ratu Dewi Anindyaswari hanya mencemaskan keadaan anaknya, bagaimana mungkin anaknya terlihat pucat?.
"Puasa itu adalah suatu perbuatan yang dikatakan." Jawab Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Menahan makan dan minum, dalam waktu yang telah ditentukan."
"Tapi dalam rangka apa nanda berpuasa?." Ratu Dewi Anindyaswari bingung. "Kenapa nanda melakukannya?." Kembali pertanyaan sederhana itu muncul dari hatinya. "Dan untuk apa nanda melakukannya?." Lanjutnya. "Bagaimana kalau nanda terlihat kurus karena berpuasa?."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana kembali tersenyum mendengarkan ucapan ibundanya yang terlihat sangat mengkhawatirkannya.
"Puasa merupakan salah satu rukun Islam." Jawab Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Alasan kenapa nanda melakukannya?." Sang Prabu mengulangi kalimat itu. "Karena itu merupakan, salah satu hal yang wajib dikerjakan."
"Tapi nanda terlihat seperti sakit."
"Ibunda tenang saja." Kembali sang Prabu tersenyum kecil. "Tata cara melakukannya itu, telah diatur dengan seindah mungkin ibunda."
"Caranya?."
"Kita melakukan makan sahur sebelum waktu imsak." Jawab Sang Prabu. "Yaitunya sebelum masuk waktu subuh." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menjelaskan dengan hati-hati. "Jika fajar telah datang? Maka di saat itulah kita menahan makan, lapar, haus." Lanjut sang Prabu. "Hingga terbenam matahari masuk waktu magrib."
"Sepertinya itu agak berat juga untuk dikerjakan."
"Itu salah satu ujian untuk bersabar ibunda." Respon Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Manfaat puasa sangat lah besar, bagi orang-orang yang beriman."
"Apakah karena alasan itu?." Balas Ratu Dewi Anindyaswari. "Nanda sekarang bisa mengendalikan diri nanda?."
"Alhamdulillah hirobbil'alamin ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil. "Salah satunya dengan berpuasa." Lanjut sang Prabu. "Itulah alasan kenapa? Nanda bisa menahan amarah, serta perasaan buruk di hati nanda selama ini."
"Itu adalah kebaikan yang sangat luar biasa sekali." Ratu Dewi Anindyaswari sangat terharu. "Ibunda bersyukur." Ungkapnya. "Karena nanda telah menjadi sosok yang sangat baik sekarang." Hatinya merasa lebih tenang. "Dahulunya ibunda sangat cemas." Ungkapnya. "Ketika ayahandamu mengatakan." Ingatannya tertuju pada kejadian harian itu. "Satu-satunya cara, untuk mengendalikan diri nanda." Ratu Dewi Anindyaswari menarik nafas pelan. "Adalah dengan masuk Islam." Rasanya Ratu Dewi Anindyaswari ingat ke masa itu. "Karena ibunda semakin takut." Ungkapnya lagi. "Nanda akan dikucilkan oleh orang lain." Ada perasaan sesak di hatinya. "Karena memiliki perbedaan agama." Ratu Dewi Anindyaswari menatap lekat anaknya. "Tapi untuk sekarang, ibunda sangat bersyukur." Ucapnya dengan senyuman lembut. "Nanda masuk agama Islam." Namun berusaha menahan gejolak hatinya. "Agama yang memberikan kebaikan, untuk masa depan nanda."
"Alhamdulillah hirobbil'alamin ibunda." Respon Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Nanda telah berubah ke arah yang lebih baik." Senyumannya mengembang begitu saja. "Meskipun dahulunya nanda merasa berat belajar agama Islam." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana hampir saja menangis mengingat masa-masa sulit itu. "Tapi ketika mengingat ibunda? Alasan nanda melakukannya semua demi ibunda?." Ungkap sang Prabu. "Semua kesulitan nanda lawan, agar bisa bertemu kembali dengan ibunda."
"Pasti lah sangat berat." Ratu Dewi Anindyaswari mengusap sayang pundak anaknya. "Maafkan ibunda." Hatinya terasa sakit. "Yang mungkin terkesan menuntut nanda, untuk melakukan, apa yang ibunda inginkan?."
"Tidak sama sekali ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum lembut. "Nanda melakukannya memang demi ibunda." Ungkap sang Prabu. "Nanda bersumpah!." Tegas sang Prabu. "Bawah nanda tidak akan pernah mengecewakan ibunda."
"Terima kasih putraku." Rasa haru menyelimuti hati Ratu Dewi Anindyaswari ketika mendengarkan ucapan putranya.
"Tentu saja ibunda."
"Baiklah." Responnya. "Kalau begitu jelaskan pada ibunda." Ratu Dewi Anindyaswari tersenyum kecil. "Lanjutan tentang puasa, ibunda ingin mendengarnya."
"Baiklah ibunda." Balas Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Nanda akan menjelaskannya." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana kembali tersenyum. "Dengarkan penjelasan nanda tentang puasa."
"Akan ibunda dengarkan."
"Puasa memiliki dua jenis, ada yang wajib dan ada yang sunnah."
"Yang wajib dan yang sunnah?."
"Benar ibunda." Jawab Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Wajib artinya, dikerjakan berpahala, namun jika ditinggalkan berdosa."
"Terdengar agak berat juga tuntunannya."
"Tidak terlalu berat ibunda." Respon Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Karena semuanya telah diatur dengan baik oleh Allah SWT."
"Nanda adalah putra ibunda yang sangat hebat." Ungkap Ratu Dewi Anindyaswari. "Bisa melewatinya dengan tabah, dan kuat."
"Alhamdulillah hirobbil'alamin ibunda." Respon Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Semuanya telah nanda lalui, dengan tabah, dan kuat."
"Apakah kanda bisa melihatnya?." Dalam hati Ratu Dewi Anindyaswari. "Putra kita nanda cakara casugraha sangat luar biasa sekali." Hatinya terasa hangat. "Terima kasih, atas hadiah baik ini kanda."
Pada saat itu Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menjelaskan dengan baik pada ibundanya mengenai puasa.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 372 Episodes
Comments
Elmo Damarkaca
jika sdh ada benci, dendam Hasat dan Hasut, Apapun Gerak Gerik orang di anggap Sebagai bangkai (Keburukan) Astaghfirullohhaladjim..
2022-06-03
1
SoVay
kok aq jtuh hati duluan sm mang prabu y
2021-12-20
1