...****...
Keesokan harinya.
Keluarga Ratu Ardiningrum Bintari sedang menikmati hidangan pagi. Berkumpul bersama anak-anaknya sambil membicarakan tentang ketidaksukaan mereka terhadap Raden Bahuwirya Cakara Casugraha yang kini menjadi Raja.
"Aku merasa sangat heran." Ungkapnya. "Bagaimana mungkin? Cakara casugraha bisa menjadi Raja?." Hatinya masih tidak terima. "Apakah kalian tidak merasakan? Ada yang ganjal." Lanjutnya. "Dengan pemilihan Raja, yang telah kita lakukan itu?."
"Itu memang sangat aneh." Responnya. "Seakan-akan itu semua, sudah ada yang membuat." Lanjutnya. "Sandiwara itu dengan sangat rapi."
"Bagaimana dengan pendapat ibunda mengenai itu?." Matanya melihat ke arah ibundanya. "Apakah ibunda mengetahui? Bagaimana ketika ayahanda Prabu diangkat menjadi Raja?."
Ratu Ardiningrum Bintari sedang memikirkan apa yang telah diucapkan anaknya. "Ibunda rasa ayahanda kalian pernah mengatakan." Jawabnya Ratu Ardiningrum Bintari. "Jika dengan duduk di singgasana itu, keturunan langsung dari Gusti Prabu bahuwirya jayantaka byakta." Ucapnya dengan aneh. "Memang seperti itu." Matanya menatap mereka semua. "Tapi ibunda tidak mengetahui dengan pasti, duduk yang seperti apa."
"Apapun alasannya?." Responnya. "Aku sama sekali tidak terima." Ungkapnya. "Jika dia yang menjadi Raja!." Hatinya terasa panas. "Seharusnya aku lah yang memimpin kerajaan ini!."
"Benar itu raka." Sambutnya. "Seharusnya raka yang memimpin istana ini." Hatinya juga memanas. "Bukan dia! Yang merupakan anak terkutuk!."
"Lalu apa yang akan kita lakukan?." Ia menatap mereka semua. "Supaya dia langsung lengser dari jabatannya?."
"Kita harus mencaritahu." Jawabnya cepat. "Apa yang membuat dia menjadi Raja?." Ia tampak berpikir. "Namun kita harus memberikan masalah yang banyak padanya." Kali ini senyumannya terlihat aneh. "Aku sangat yakin, dia akan merasa kewalahan." Lanjutnya. "Dengan masalah yang kita buat."
"Ibunda sangat cerdas." Responnya semangat. "Itu adalah pemikiran yang sangat cemerlang sekali ibunda."
"Kami akan melakukannya ibunda." Ia juga terlihat semangat. "Akan kami buat dia kerepotan, dengan masalah yang kita buat."
"Saya akan ikut melakukannya."
Sepertinya mereka memiliki niat yang tidak baik terhadap Prabu Asmalaraya Arya Ardhana atau Prabu Bahuwirya Cakara Casugraha.
...****...
Masih di lingkungan istana.
Putri Andhini Andita sepertinya sedang mengintip di ruangan pribadi Raja, ruangan yang tidak boleh diganggu oleh siapa saja. Ia berusaha untuk mengintip apa yang ada di dalam ruangan itu, termasuk ketika matanya menangkap sosok pemuda serba hitam yang sedang bersama adiknya?.
"Pemuda itu sekarang bersama cakara casugraha." Dalam hatinya memperhatikan itu. "Pemuda yang sama persis dengan yang bersama mendiang ayahanda Prabu." Setidaknya itulah yang ada di dalam pikirannya ketika melihat sosok itu. "Apakah aku harus masuk? Dan mengamuk untuk membentak mereka?." Dalam hatinya sedikit bimbang dengan dampak apa yang akan terjadi jika ia melakukan itu nantinya.
Sementara itu di dalam ruangan.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedang menotok aliran darah pemuda bertopeng itu. Sang Prabu sedang berusaha untuk meredam amarah yang juga dirasakan dari pemuda itu. Setelah beberapa menit kemudian, sang Prabu berhasil menekan titik-titik yang menjadi sumber aliran hawa kemarahan yang timbul di tubuh pemuda bertopeng. Perlahan-lahan pemuda bertopeng itu berhasil mengendalikan kemarahan yang ia rasakan, dan bernafas dengan sangat baik.
"Terima kasih karena Gusti Prabu telah membantu hamba." Ucapnya sambil memberi hormat. "Maaf jika telah membuat Gusti Prabu merasakan dampaknya." Hatinya dipenuhi oleh penyesalan.
"Tidak apa-apa, berdirilah." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa tidak enak hati. "Mari kita kita bahas masalah sandera, yang engkau bawa itu, jaya satria."
"Baiklah kalau begitu Gusti."
Ya, pemuda bertopeng hitam, dan berpakaian serba hitam itu bernama Jaya Satria. Ia adalah orang kepercayaan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, apakah memang seperti itu?.
"Bagaimana dengan keadaan penduduk desa di sana?." Sang Prabu memberi kode untuk duduk pada Jaya Satria. "Apakah mereka akan baik-baik saja?."
"Untuk saat ini semuanya baik-baik saja." Jawabnya sambil memberi hormat. "Dan maaf, jika hamba terpaksa menyamar." Lanjutnya. "Memerintahkan prajurit, untuk berjaga-jaga di sana."
"Tidak apa-apa, itu lebih baik." Balas sang Prabu. "Lanjutkan."
"Keadaan mereka sangat memprihatinkan." Lanjutnya. "Banyak anak-anak yang kehilangan orang tua, begitu juga sebaliknya."
"Masalah ini sangat berat." Ucap Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Kita harus segera menyelesaikannya." Tegas sang Prabu. "Kita tidak boleh membiarkan, orang luar melakukan kejahatan di wilayah ini."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria selalu membicarakan tentang keamanan wilayah kerajaan Suka Damai, tentu saja itu adalah janjinya.
"Lalu bagaimana? Dengan orang yang engkau sandera itu?." Sang Prabu kembali pada penjahat yang telah diamankan. "Apakah tidak akan membahayakan rakyat nantinya?."
"Gusti Prabu tenang saja." Jawabnya. "Itu tidak akan terjadi." Ucapnya sambil memberi hormat. "Hamba telah membawanya keluar dari kawasan penduduk."
"Syukurlah-."
"Apa yang yunda lakukan di sini?!."
Deg!.
Ketika itu Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak dapat melanjutkan ucapannya karena mendengarkan suara kakaknya yang sangat keras. Sementara itu Jaya Satria langsung menghilang dari ruangan itu, tentunya ia tidak ingin dilihat oleh siapapun selain Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan mendiang Prabu Kawiswara Arya Ragnala.
"Apa yang yunda lakukan lakukan di depan ruangan pribadi Raja?." Hatinya sangat memanas. "Apakah yunda ingin melakukan sesuatu?!."
"Kau tidak usah banyak bertanya agniasari ariani!." Balasnya juga dipenuhi amarah. "Aku memiliki tujuan khusus untuk datang ke sini!." Tegasnya. "Kau pikir? Aku tidak berhak datang ke sini?." Hatinya benar-benar diisi oleh kemarahan yang mendalam. "Berani sekali kau bertanya seperti itu padaku!."
Keduanya tampak memanas karena membenarkan apa yang ada di dalam hati masing-masing.
"Sampurasun."
"Rampes."
Keduanya memberi hormat.
"Ada apa ini yunda?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menatap kedua kakaknya. "Kenapa yunda berdua bersuara keras sekali?."
"Yunda andhini andita." Jawab Putri Agniasari Ariani. "Ia terlihat sangat mencurigakan sekali rayi Prabu." Ucapnya memberi hormat pada adiknya. "Dia seperti ingin mengintip, apa yang telah rayi prabu lakukan di dalam ruangan pribadi Raja?."
"Kau jangan asal menuduh agniasari ariani!." Bantahnya dengan suara yang keras. "Kau akan aku hajar-!."
"Yunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana segera bersuara, namun masih nada yang ramah. "Mari masuk terlebih dahulu." Lanjut sang Prabu. "Tidak baik berbicara sambil berdiri seperti itu." Lanjut sang Prabu. "Apalagi dengan suara yang tinggi." Senyuman sang Prabu sangat ramah. "Mari masuk yunda andhini andita, yunda agniasari ariani."
Deg!.
Keduanya sedikit gugup dengan sikap ramah yang diperlihatkan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, ditambah lagi dengan senyuman yang sangat menawan itu?. Entah kenapa keduanya sangat terpesona dengan senyuman itu, sehingga keduanya menurut begitu saja, ketika dipersilahkan masuk ke dalam ruangan pribadi Raja.
"Duduklah yunda." Suara sang Prabu sangat ramah pada kedua kakak perempuannya. "Mari kita selesaikan masalah dengan baik."
"Tidak perlu berbicara dengan lembut seperti itu cakara casugraha." Putri Andhini Andita sangat curiga. "Aku sangat yakin, ini adalah kesempatan yang bagus untukmu." Hatinya sangat sakit. "Membuat aku merasa bersalah, kau pasti akan membela saudaramu!."
"Yunda!." Putri Agniasari Ariani sangat kesal mendengarnya.
"Tenanglah." Respon Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Ceritakan dengan baik, bagaimana kejadiannya." Lanjut sang Prabu lagi. "Semoga saja, saya bisa mendengarkannya yunda."
"Heh!." Putri Andhini Andita mendengus kesal.
"Huf!." Putri Agniasari Ariani menghela nafasnya dengan sangat lelahnya. "Tadi, ketika saya hendak masuk ke sini." Ucap Putri Agniasari Ariani. "Saya tadi melihat dengan sangat jelas sekali rayi Prabu." Ucapnya sambil memberi hormat. "Jika yunda andhini andita terlihat-."
"Tidak!." Bantahnya. "Aku mengintip ke dalam! Hanya untuk memastikan!." Tegasnya. "Jika aku tidak mengganggumu!." Tunjuknya kasar ke arah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Yang mungkin saja tertidur pulas! Di dalam ruangan ini!." Ucapnya lagi, suaranya terdengar semakin tinggi. "Karena sangat mustahil rasanya! Jika kau mengerjakan, apa yang dikerjakan ayahanda di dalam ruangan pribadi Raja!." Bentaknya dengan suara yang sangat keras.
"Yunda andhini andita!." Putri Agniasari Ariani sangat marah. "Kau sangat keterlaluan sekali!." Hatinya semakin memanas. "Bukankah kawasan ruangan pribadi Raja?! Terlarang bagi siapa saja untuk masuk?." Ia semakin marah. "Bahkan ketika ada kabar darurat sekalipun?!."
"Kau jangan memberikan kesan yang buruk padaku agniasari ariani!." Putri Andhini Andita benar-benar terbawa amarah yang membara. "Jika kau tidak suka-!."
"Yunda berdua jangan bertengkar lagi." Ucap Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dengan lembut, menatap keduanya sambil tersenyum ramah. "Janganlah menuruti amarah yang akan merugikan diri sendiri." Lanjut sang Prabu. "Bukankah ayahanda Prabu sering berkata seperti itu pada kita semua?."
Deg!.
Keduanya kali ini benar-benar sangat terkejut, tentu saja mereka ingat dengan apa yang telah dikatakan oleh mendiang Prabu Kawiswara Arya Ragnala.
"Maafkan saya rayi, yunda." Putri Agniasari Ariani memberi hormat. "Saya telah menuduh tanpa adanya alasan." Ucapnya dengan perasaan bersalah. "Sehingga membuat kegaduhan di ruangan ini."
"Itu lebih baik yunda agniasari ariani." Respon Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Jangan terlalu cepat mengambil keputusan, saat melihat sesuatu."
"Sekali lagi maafkan saya." Ucapnya lagi, kembali memberi hormat. "Maafkan aku yunda andhini andita." Bahkan memberi hormat pada Putri Andhini Andita. "Karena aku telah menuduh mu yang tidak-tidak."
"Ucapannya sangat tulus." Dalam hati Putri Andhini Andita malah gugup karena adiknya minta maaf padanya.
"Bagaimana yunda andhini andita?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menatap Putri Andhini Andita. "Apakah yunda bersedia memaafkannya?."
Putri Andhini Andita melihat ke arah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang sedang tersenyum ramah padanya. "Baiklah." Responnya. "Kali ini saja aku maafkan." Suaranya terdengar ketus. "Tapi jika dia berbuat seperti itu lagi?." Namun masih ada kebencian di hatinya. "Aku tidak akan sungkan, untuk menghajar kau!." Ucapnya lagi. "Kenapa aku malah terpesona? dengan sikapnya yang seperti itu?." Dalam hatinya merasakan ada yang aneh dengan dirinya.
"Terima kasih yunda." Putri Agniasari Ariani merasa sangat lega.
"Aku pikir tadi itu dia akan marah padaku." Dalam hatinya sangat gugup. "Tapi kenapa malah membela aku?." Dalam hati Putri Andhini Andita sedang waspada dengan sikap baik yang ditunjukkan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Aku yakin dia hanya mencari muka saja padaku." Dalam hatinya sangat tidak percaya dengan kebaikan itu. "Aku harus waspada."
"Jika yunda berada di depan ruangan pribadi Raja?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana penasaran. "Tentunya yunda memiliki urusan yang sangat penting." Lanjut sang Prabu. "Apakah yunda hendak menyampaikan sesuatu padaku?."
"Tadinya aku sangat ingin mengatakannya." Jawabnya. "Karena tadi dikejutkan rayi agniasari ariani, aku jadi lupa mau berkata apa."
"Apa?." Protes Putri Agniasari Ariani. "Jadi? Yunda ingin menyalahkan aku?!."
"Tentu saja kau yang salah."
Kembali keduanya berdebat, dan saat itu Prabu Asmalaraya Arya Ardhana hanya menyaksikan saja bagaimana kedua kakaknya yang sedang berdebat panjang karena masalah itu.
"Semoga saja yunda andhini andita tidak melihat jaya satria." Dalam hati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Akan berbahaya, jika yunda andhini andita mencaritahu siapa jaya satria." Dalam hati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana ada perasaan takut mengenai identitas tersembunyi tentang Jaya Satria. "Aku tidak ingin yunda andhini andita." Dalam hati sang Prabu. "Memanfaatkan keberadaan jaya satria, sebagai bahan untuk membuat kerusuhan nantinya." Dalam hati sang Prabu harus waspada dengan tindakan kakaknya.
"Mulai sekarang aku harus berhati-hati." Ucapnya dalam hati. "Dalam mencari celah kelemahan dari cakara casugraha." Dalam hatinya masih menyimpan gejolak itu. "Aku masih penasaran siapa sosok misterius itu." Dalam hati Putri Andhini Andita masih penasaran. "Aku sangat yakin jika dia, dia, dan ayahanda." Dalam hatinya sangat yakin. "Memiliki kedekatan yang tidak boleh kami ketahui." Dalam hatinya sangat yakin ada rahasia yang sedang disembunyikan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dari mereka semua. "Aku pasti akan mencari tahu itu semua, dan akan aku perlihatkan kalau kau menjadi Raja karena bantuan dukun." Dalam hatinya yang saat itu hanya diisi oleh pikiran yang tidak baik mengenai Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
...***...
Di markas kelompok Sengkar Iblis.
"Apa?." Suaranya terdengar keras. "Mayang sari ditangkap oleh orang misterius?." Hatinya semakin panas. "Dan kalian tidak bisa mencari jejak orang itu?!." Ki Dharma Sea terlihat sangat murka .
"Benar ki, maafkan kami."
"Bahkan kalian terlihat terluka." Ucapnya sambil memperhatikan mereka. "Karena pertarungan dengan satu orang saja?."
"Orang itu sangat kuat sekali ki." Jawabnya. "Kami berlima saja, sampai dipukul mundur." Lanjutnya. "Bahkan dia mengancam kami dengan menculik mayang sari."
"Benar ki." Sambungnya. "Kami tidak menduga, jika ada pendekar yang kuat di desa itu."
"Kalian memang bodoh!." Makinya dengan suara keras. "Tidak berguna sama sekali!." Ia terlihat geram, dan marah. "Bagaimana mungkin? Kalian bisa kalian mendapatkan masalah?." Hatinya benar-benar diisi oleh kemarahan yang membara. "Sedangkan kalian adalah pembuat masalah?!." Ki Dharma Seta sangat marah pada anak buahnya.
Tidak ada tanggapan dari mereka, tidak berani membantah.
"Aku tidak menduga, jika desa itu di jaga oleh seseorang." Dalam hatinya heran. "Yang memiliki ilmu kanuragan yang cukup kuat?." Dalam hatinya sedang memikirkan cara apa yang akan ia gunakan untuk menemukan keberadaan musuhnya. "Kalau begitu kalian tetap di sini." Ucapnya dengan suara lunak. "Aku akan mecoba menggunakan ilmu penerawangan yang aku miliki."
"Baik ki."
Mereka hanya menurut saja, daripada terkena amukan lelaki tua itu. Sedangkan Ki Dharma Seta sedang berusaha untuk melihat apa yang terjadi pada pada Mayang Sari.
"Kurang ajar!." Umpatnya dalam hati. "Padahal aku telah memusatkan tenaga dalamku!." Ia sama sekali tidak menduga. "Untuk melacak keberadaannya, tapi kenapa tidak bisa?." Dalam hatinya sangat bingung dengan apa yang terjadi. "Pasti orang itu memiliki ilmu kanuragan yang sangat tinggi, sehingga aku tidak bisa melacaknya!." Ki Darma Seta sangat kesal, ia masih saja belum bisa melakukannya. "Kalau begitu aku akan meminta bantuan dari nini kabut bidadari, aku rasa dia yang bisa mencari keberadaan orang asing itu." Perlahan-lahan Ki Dharma Seta membuka kedua matanya.
"Bagaimana ki? Apakah bisa?."
"Kalian tetaplah bergerak sampai aku kembali."
"Memangnya mau ke mana ki?."
"Aku akan ke telaga bidadari." Jawabnya. "Untuk menemuinya, kalian tetaplah bergerak."
"Baik ki."
"Jangan sampai lengah lagi!." Setelah berkata seperti itu Ki Dharma Seta pergi meninggalkan mereka semua.
"Sepertinya pendekar yang kita hadapi itu sangat kuat." Ucapnya. "Sehingga ki dharma seta saja, meminta bantuan dari nini kabut bidadari."
"Aku tidak bisa membayangkan." Sambungnya. "Jika malam itu kita semua dibantai oleh pendekar itu."
Deg!.
Tiba-tiba saja mereka menggamang membayangkan jika memang itu terjadi. Sehebat apa pendekar yang mereka lawan sehingga Ki Dharma Seta tidak bisa menemukan keberadaannya?.
...***...
Di taman Istana.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedang duduk bersama anak-anak kecil yang sangat lucu dan menggemaskan. Sang Prabu sedang bersenandung menyiarkan islam kepada anak-anak lucu itu. Dengan suara yang sangat merdu sang Prabu sedang melantunkan shalawat badar pada mereka semua.
"Nah, anak-anak sekalian." Ucap Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dengan suara lembut. "Tadi itu sholawat badar, sholawat nabi yang sangat indah sekali."
"Hamba sangat senang mendengarnya Gusti Prabu." Dengan suara menggemaskan ia berkata seperti itu. "Sungguh itu adalah nyanyian yang sangat indah."
"Apakah di dalam ajaran kitab budha? Diajarkan seperti itu Gusti?."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil mendengarkan pertanyaan seperti itu. "Kelak engkau akan mendengarkan nyanyian indah seperti itu." Sambut sang Prabu. "Dalam agama islam yang sangat damai wahai anakku." Ucap sang Prabu. "Engkau akan dibimbing dengan sangat baik, dalam agama yang sangat baik nantinya."
"Apakah Gusti Prabu akan membimbing hamba? Untuk mempelajarinya?." Raut wajahnya sangat polos sekali.
"Tentu saja." Respon sang Prabu sambil mengelus kepala anak kecil itu. "Dan juga niat baikmu, untuk mempelajarinya dengan baik."
"Hamba akan belajar dengan sangat baik."
"Hamba juga akan belajar dengan sangat baik."
"MasyaAllah." Respon Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Semoga kalian semua menjadi anak-anak yang soleh, dan soleha nantinya, aamiin." Ada kebahagian yang sangat luar biasa yang dirasakan sang Prabu saat itu.
Sementara itu Ratu Dewi Anindyaswari sedang memperhatikan itu dengan penuh kekaguman.
"Aku tidak menduga." Dalam hatinya merasa tenang. "Jika putraku akan sedekat itu dengan anak-anak kecil." Dalam hatinya terharu melihat itu. "Lihatlah rayimu putriku." Ucapnya tanpa sadar. "Itu adalah bukti, bahwa ia memiliki hati yang sangat baik." Ucapnya lagi. "Rasanya ibunda hendak menangis, melihatnya yang sekarang." Hampir saja Ratu Dewi Anindyaswari menangis melihat anaknya.
"Ibunda benar." Respon Putri Agniasari Ariani. "Rayi cakara casugraha mengalami perubahan, yang sangat luar biasa sekali, setelah memeluk agama islam." Putri Agniasari Ariani juga terharu melihat bagaiman adiknya saat itu. "Sungguh banyak perubahan yang terjadi padanya ibunda"
"Entah kenapa?." Balas Ratu Dewi Anindyaswari. "Setiap ibunda mendengarkan suaranya mengaji?." Ada perasaan aneh di hatinya. "Rasanya ibunda sangat tentram sekali, sangat damai." Ratu Dewi Anindyaswari bahkan mengungkapkan apa yang dirasakannya. "Mungkin ibunda juga, akan belajar ilmu agama islam darinya."
"Ananda juga ingin belajar darinya ibunda." Ucap Putri Agniasari Ariani dengan sangat yakin. "Ananda merasakan kesejukan hati, yang sangat damai." Lanjutnya. "Ketika mendengarkan suaranya ibunda."
Ratu Dewi Anindyaswari dan Putri Agniasari Ariani sepertinya ingin belajar dan masuk agama islam dengan sangat baik. Apakah bisa?.
...****...
Di suatu tempat.
Raden Hadyan Hastanta sepertinya sedang berjalan-jalan di luar istana, ia sangat bosan berada di lingkungan istana yang menurutnya sangat sesak. Namun siapa sangka ia malah bertemu dengan kawanan perampok yang sengaja mengincarnya.
"Hei kau!." Tunjuknya kasar. "Sepertinya kau mempunyai banyak barang berharga!." Ia mengamati penampilan targetnya. "Jika aku lihat dari pakaian yang kau kenakan!." Lanjutnya. "Kau adalah anak bangsawan."
"Sebaiknya kau serahkan pada kami." Sambungnya. "Atau kau ingin kami bunuh dahulu? Baru menyerahkannya secara baik-baik?."
"Perampok kelas teri seperti kalian." Responnya. "Mau mengancam Raden hadyan hastanta?." Hatinya sangat kesal. "Rupanya kalian sudah bosan hidup! Hah?!."
Mereka yang mendengarkan apa yang dikatakan oleh Raden Hadyan Hastanta malah tertawa keras.
"Sepertinya kita akan mendapatkan penghasilan melimpah." Ucapnya. "Karena merampok dari seorang pangeran, hahaha!."
Mereka malah tertawa keras, namun Raden Hadyan sangat tidak suka itu. Setelah itu terjadi pertarungan antara Raden Hadyan Hastanta dengan kawanan perampok itu. Satu dua jurus telah ia keluarkan, ia berhasil melumpuhkan beberapa dari mereka.
"Kurang ajar!." Umpatnya kasar. "Beri tahu ketua!."
Perintah salah satu dari mereka agar pergi melapor. mereka tidak mampu mengatasi Raden Hadyan Hastanta yang memiliki ilmu Kanuragan diatas mereka. Raden Hadyan Hastanta masih fokus menyerang kawanan perampok yang tersisa.
"Sialan!." Umpatnya dalam hati. "Mereka cukup tangguh juga untukku atasi sendiri." Dalam hatinya sangat kesal. "Meskipun ilmu kanuragan mereka tidak seberapa." Ia mulai waspada. "Namun tetap saja, merepotkan juga menghadapi mereka." Dalam hati Raden Hadyan Hastanta mengakui kewalahan menghadapi kawanan perompak itu.
"Fhyuh."
"CEKH!."
Tiba-tiba saja Raden Hadyan Hastanta mendapatkan serangan datang dari mana. Ia tidak dapat menghindarinya, bahu kirinya terkena jarum yang menancap cukup dalam.
"Akh!."
Raden Hadyan Hastanta berteriak kesakitan, sedangkan kawanan perampok terkejut melihat itu. Setelah itu mereka malah tertawa terbahak-bahak melihat Raden Hadyan Hastanta kesakitan.
Setelah itu muncul seorang laki-laki sambil tertawa. Dia adalah Nala Gareng, salah satu anak buah kelompok sengkar iblis.
"Hanya segitu kah? Kemampuan yang kau miliki Raden?." Nala Gareng tertawa keras, ia tidak menduga semudah itu mengalahkan seorang pangeran?. "Ternyata sangat lemah sekali, hahaha!."
"Kurang ajar!." Raden Hadyan Hastanta mengumpat kesal. Tenaganya sedikit demi sedikit terkuras karena jarum itu sepertinya mengandung racun.
"Kau akan menerima kematianmu pangeran bodoh!." Nala Gareng merasa senang, ia akan mendapatkan pujian dari golongan hitam karena berhasil membunuh salah satu putra raja. Nala Gareng telah siap dengan senjatanya yang akan memenggal kepala Raden Hadyan Hastanta. Mereka semua tertawa atas rasa sakit dan ketidakberdayaan Raden Hadyan saat itu.
Tapi siapa sangka tubuhnya malah terkena sebuah serangan yang membuatnya terlempar jauh. Sedangkan yang lainnya terkejut melihat ketua mereka terjatuh tersungkur?.
"Kau lagi?!." Ucap orang misterius itu, yang tak lain adalah Jaya Satria.
"Kau?." Ia terlihat takut. "Bukankah kau adalah orang yang waktu itu?." Nala Gareng tidak menyangka akan bertemu lagi dengan orang bertopeng itu lagi.
Sesuai dengan kata temannya, jika bertemu dengan orang misterius itu lebih baik menghindar dulu, dari pada ditangkap lagi olehnya.
"Kalian semua mundur!." Perintah Nala Gareng kepada anak buahnya. Mau tak mau mereka menuruti perkataan ketua mereka yang sepertinya sangat kenal dengan Jaya Satria.
"Raden? Apakah Raden baik-baik saja?."
Jaya Satria membantu Raden Hadyan Hastanta berdiri. Melihat ada jarum beracun yang tertancap di kirinya.
"Siapapun kau?." Ia sangat curiga. "Bantu aku ke istana!." Namun hatinya masih ingin meminta bantuan. "Aku tidak mau mati sia-sia di sini, akh!." Raden Hadyan merintih kesakitan, ia menyuruh orang misterius itu membawanya ke istana agar segera diobati.
Namun sebelum itu, Jaya Satria menotok aliran darah Hadyan agar racunnya tidak menyebar kemana-mana.
"Baiklah Raden." Ia memberi hormat. "Untuk sementara rasanya aman." Lanjutnya. "Hamba akan membawa raden ke istana." Ucap jaya satria sambil memapah tubuh Raden Hadyan Hastanta yang terasa kaku. Jaya Satria segera membawa Raden Hadyan ke istana. "Racunnya cukup berbahaya, jika tidak segera diobati akan membahayakan nyawanya." Dalam hatinya sangat takut jika terjadi sesuatu pada Raden Hadyan Hastanta.
"Kegh!." Ia meringis sakit. "Rasanya sangat sakit sekali!." Rintihnya lagi. "Apakah aku akan mati di sini?!." Dalam hati Raden Hadyan Hastanta sangat takut.
Tubuhnya terasa kaku, nafasnya mulai terasa sesak, pikiran-pikiran buruk mulai menghantui hatinya. "Perampok kurang ajar!." Dalam hatinya mengutuk. "Akan aku bunuh mereka nanti!." Hatinya mulai dendam. "Berani sekali mereka melukai aku!." Dalam hatinya sangat mengutuk atas apa yang terjadi padanya.
"Sangat pemarah juga." Dalam hati Jaya Satria.
Dalam hatinya sangat tidak terima atas apa yang terjadi pada dirinya, bagaimana mungkin seorang putra Mahkota terhormat sepertinya mudah dikalahkan oleh kawanan perampok?. Namun yang menjadi pertanyaan adalah?. Apakah ia bisa bertahan sebelum sampai ke Istana Kerajaan Suka Damai dengan keadaan selamat?. Simak dengan baik kisahnya.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 372 Episodes
Comments
Anonymous
siapakah Raden Hadiah Hantanta dan Jaya Satria?
2024-09-03
0
Elmo Damarkaca
siapakah Jaya Satria thor ...
2022-06-03
0
SoVay
jangan lupa mampir juga ya Thor.. di detektif muda
2021-12-14
1