HUTAN TARING BELATI RAGA

...***...

Hutan Taring Belati Raga.

"Bedebah!." Umpatnya kasar. "Kau benar-benar keras kepala!." Ki Dharma Seta sangat muak, mengapa ia begitu sulit untuk menghadapi pemuda itu?. "Anak ini memang memiliki ilmu kanuragan yang sangat tinggi." Dalam hatinya sangat kesal.

"Sudahlah!." Ucapnya jengkel. "Tidak ada gunanya kalian melawanku!." Jaya Satria terus menghalau serangan mereka. "Sebaiknya kalian menyerah saja!."

Jaya Satria tidak akan kalah begitu saja, meskipun ia sendirian menghadapi mereka. Ia akan bertahan sebisa mungkin, hingga prabu Asmalaraya Arya Ardhana datang ke sini.

"Kalian tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga." Jaya Satria menggunakan jurus andalannya. "Aku akan mengampuni kalian, jika kalian menyerah dengan damai."

"Kau jangan jumawa dulu buruk rupa! Kutu busuk!." Makinya dengan penuh amarah. "Kau pikir kau siapa?." Ia juga menghalangi semua serangan dari Jaya Satria, baik secara fisik, ataupun ilmu Kanuragan. "Berani berkata seperti itu padaku?!." Hatinya semakin panas.

"Sudahlah orang tua." Balas Jaya Satria. "Tubuhmu itu sudah tidak sanggup lagi untuk bertarung."

"Aku lebih suka beradu pukulan." Ki Dharma Seta melompat mundur. "Dari pada aku menyerahkan diri, pada bocah kurang ajar seperti kau!." Amarahnya semakin menjadi-jadi.

"Biarkan kami yang menghadapinya ki." Semara Layana sama sekali, tidak menyukai gaya sombong Jaya Satria. "Kami yang akan membuat dia kerepotan." Ia ingin segera menghajar orang itu dengan tangannya, jika perlu menggunakan pedangnya. "Kami yang akan membuka peluang, supaya kau bisa menyerangnya."

"Kalau begitu lakukan!." Ucapnya. "Biar aku cari cara, agar membebaskan mayang sari."

Ki Dharma Seta mempersilahkan mereka menghadapi Jaya Satria, sedangkan ia mencari cara, agar dapat membebaskan Mayang Sari.

"Aku tidak akan kalah! Dari bocah kurang ajar itu." Dalam hatinya sangat dongkol. "Baru kali ini merasa repot." Ucapnya kesal. "Karena seorang bocah kemarin sore." Grutuknya kesal.

......***......

Prabu Asmalaraya Arya Ardhana baru saja meninggalkan istana,  pergi dengan menggunakan kuda agar cepat sampai di hutan taring belati raga. Sang Prabu tidak mau buang-buang waktu, takut terjadi sesuatu pada Jaya Satria.

"Berhati-hatilah nak, perhatikan langkah nanda." Ratu Dewi Anindyaswari melepaskan kepergian anaknya. Dengan berat hati, ia melepaskan kepergian anaknya. Tapi apalah daya, ia tidak bisa mencegahnya. "Ibunda takut terjadi sesuatu padamu." Tatapan matanya sangat sedih. "Ibunda harap nanda selalu berhati-hati saat berada di luar."

"Ibunda juga berhati-hatilah di istana." Balas Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Nanda telah menugaskan senopati mandala sakuta, untuk menjaga ibunda."

Sementara itu, Raden Ganendra Garjitha, Raden Gentala Giandra, Raden Hadyan Hastanta, dan putri Ambarsari. Sedang mengintip dari kejauhan memperhatikan kepergian prabu Asmalaraya Arya Ardhana.

"Rasanya ada yang aneh raka." Raden Gentala memperhatikan penampilan adiknya itu. "Tidak biasanya."

"Benar raka." Responnya. "Mengapa rayi prabu menggunakan? Penutup wajah seperti itu?." Putri Ambarsari merasa curiga.

"Mungkin rayi Prabu tidak ingin." Jawabnya. "Ada satu orang pun yang mengenalinya sebagai seorang raja." Lanjutnya. "Makanya dia menggunakan topeng penutup wajah." Raden Ganendra Garjitha berpendapat mengenai penampilan sang prabu.

"Benar juga raka." Ucapnya setuju. "Akan sangat berbahaya, jika dia pergi dengan mahkota kebesarannya." Raden Hadyan Hastanta setuju dengan pendapat kakaknya. "Ternyata dia cukup pintar juga."

Sepertinya, mereka sangat memerhatikan kepergian Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.

Namun disisi lain, Putri Andhini Andita juga mengintai dari kejauhan.

"Rayi Prabu, menggunakan pakaian yang sama." Dalam hatinya. "Dengan orang misterius itu?." Ia mengingat penampilan sosok misterius itu. "Sebenarnya apa yang sedang direncanakan olehnya?."

Putri Andhini Andita juga memperhatikan kepergian Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, hanya saja ia tidak bersama saudara-saudaranya yang lain.

"Apakah dia memiliki hubungan?." Ia kembali berpikir. "Yang sangat dekat dengan orang bertopeng itu? sehingga dia menggunakan pakaian yang sama?." Dalam hatinya bertanya-tanya. "Ya, aku harus mengikutinya diam-diam." Ia bertekad dalam hatinya. "Agar aku mengetahui, apa yang dia lakukan di luar istana?." Putri Andhini Andita telah menguatkan hatinya, ia menekan perasaan ingin tahunya.

Tentang sosok misterius yang bersama adiknya. Ia juga harus berganti pakaian, agar ia tidak dicurigai adiknya jika ketahuan.

...***...

Putri Agniasari Ariani saat ini bersama Rangga Ulung, pemuda yang menawarkan kerja sama untuk membasmi para penjahat, yang telah menebar teror pada penduduk desa agung setia.

"Kita akan memancing mereka satu persatu, rasanya sangat mustahil bagi kita melawan mereka sekaligus."

"Baiklah, aku setuju."

"Kalau begitu, malam ini kita lakukan." Ucapnya. "Aku sangat yakin, mereka akan kembali bergerak ketika malam hari."

"Ya, kalau begitu?." Responnya. "Mari kita lakukan persiapan."

"Ya, tentu saja."

Namun saat itu, ada perasaan yang mengganjal di hati Rangga Ulung.

"Maaf, jika aku berkata tidak sopan." Ia berucap dengan hati-hati. "Entah kenapa? Ketika melihat nini?." Ucapnya sambil memperhatikan penampilan Putri Agniasari Ariani. "Rasanya aku melihat mendiang Gusti Prabu kawiswara arya ragnala, dalam sosok wanita, pada nini" Ucapannya agak ragu. "Apakah nini? Anak perempuan Gusti Prabu kawiswara arya ragnala?."

Deg!.

Putri Agniasari Ariani terkejut mendengarnya, apakah ia akan berkata dengan jujur?.

"Apakah? Di matamu saat ini?." Balasnya. "Aku mirip dengan mendiang Gusti Prabu kawiswara arya ragnala?." Putri Agniasari Ariani mencoba menekan perasaan itu.

"Ya, sangat mirip." Jawabnya sambil menganggukkan kepalanya. "Entah itu dari wajahnya, cara berbicara." Lanjutnya. "Dan sikap Gusti Prabu yang tidak terburu-buru dalam bertindak." Ucapannya dengan senyuman ramah.

Deg!.

Tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja, membuat Rangga Ulung terkejut melihat itu.

"Ternyata? Kau mengenal ayahandaku sedekat itu? Luar biasa sekali." Putri Agniasari Ariani menghapus air matanya.

"Jadi benar?." Responnya. "Nini adalah putri dari? Mendiang Gusti Prabu kawiswara arya ragnala?."

"Ya." Jawabnya. "Tapi rahasiakan dari yang lainnya, dari penduduk desa ini."

"Baiklah Gusti Putri." Rangga Ulung memberi hormat.

...***...

Ratu Dewi Anindyaswari saat itu merasa sangat gelisah, hatinya bergemuruh hebat, ketika memikirkan keselamatan anaknya.

"Putraku, ibunda sangat senang ketika nanda kembali ke istana ini." Ratu Dewi Anindyaswari mengingat bagaimana perasaan suasana hatinya ketika kembali ke istana ini. "Bahkan ibunda sangat bahagia, ketika nanda dinobatkan sebagai Raja, menggantikan ayahandamu." Perasaan itu kembali membuncah. "Namun saat ini? Ibunda sangat cemas akan keselamatan nanda." Air matanya mengalir begitu saja, membasahi pipinya.

"Tenanglah dinda dewi." Suara lembut itu berasal dari Sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala. "Putra kita akan baik-baik saja, percayalah."

"Kanda Prabu?." Ratu Dewi Anindyaswari terkejut ketika melihat sosok Prabu Kawiswara Arya Ragnala.

"Dinda tenang saja, jangan khawatir akan keselamatan putra kita." Sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala tersenyum lembut menatap istrinya.

"Bagaimana mungkin? Dinda bisa tenang kanda?." Hatinya semakin gelisah. "Putra kita, nanda cakara casugraha akan menghadapi bahaya." Ratu Dewi Anindyaswari mencoba menghapus air matanya. "Dinda tidak bisa tenang sama sekali kanda."

"Dinda dewi." Sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala menyebut nama istrinya. "Kecemasan yang dinda rasakan? Itu hanya akan membuat putra kita tidak tenang sama sekali dalam melangkah." Sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala mencoba menenangkan Ratu Dewi Anindyaswari. "Percayalah pada takdir baik." Sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala memeluk istrinya. "Yang akan dilalui oleh putra kita, nanda cakara casugraha."

"Oh? Kanda Prabu." Ratu Dewi Anindyaswari hanya bisa menahan gejolak di hatinya, ketika mendengarkan ucapan itu. "Dinda mohon, agar kanda Prabu menjaga putra kita." Hatinya bergetar sakit. "Jangan biarkan orang jahat menyakitinya kanda." Hanya itu saja harapan Ratu Dewi Anindyaswari.

...***...

Jaya Satria akhirnya terpojok, disaat itulah Ki Dharma Seta berhasil membebaskan Mayang Sari. ia juga membebaskan Mayang Sari dari totokan, yang membuat anak buahnya itu tidak bisa bergerak.

"Kegh!." Jaya Satria meringis, ia hampir saja lupa cara bernafas, karena serangan yang mereka lakukan, hampir saja mengancam keselamatan nyawanya.

"Terima kasih, karena aki telah membebaskan aku." Mayang Sari sangat senang karena terbebas. Ia merasa lega, karena terlalu lama berada di hutan taring belati raga.

"Jangan kau pikir, pertarungan ini berakhir!." Amarahnya masih meledak. "Setelah aku membebaskan anak buahku anak muda."

Tampaknya Ki Dharma Seta masih dendam pada Jaya Satria yang telah menahan anak buahnya.

"Urusan kita belum selesai!." Tegasnya. "Sebelum aku membunuhmu!." Tunjuknya ke arah Jaya Satria. "Karena kau telah menginjak harga diriku!." Hatinya tidak terima sama sekali. "Yang tidak becus mengurus anak buah." Amarahnya masih tidak bisa ia tahan ketika melihat keadaan Jaya Satria.

Sementara itu, Jaya Satria mengatur hawa murninya. Agak kesal juga memang, karena tahanannya berhasil dibebaskan.

"Aku juga tidak akan membiarkan, kalian pergi dari sini." Jaya Satria telah siaga. "Akan aku pastikan, kalian membalas apa telah kalian lakukan." Jaya Satria balik mengancam mereka. "Kalian telah melakukan kejahatan, di wilayah leluhur Gusti Prabu bahuwirya jayantaka byakta." Hatinya juga memanas. "Dan kalian harus membayarnya dengan nyawa kalian." Jaya Satria tidak takut sama sekali dengan ancaman mereka.

"Kita harus mengerahkan kembali, ilmu kanuragan kita." Ucapnya. "Agar benar-benar dapat melumpuhkan orang itu ki." Narumi Putih memberi saran pada ketuanya.

Ia melihat kondisi Jaya Satria yang mulai melemah. Apalagi saat ini dadanya terasa sakit, begitu juga dengan tenaganya yang mulai melemah.

"Benar yang dikatakan nimas narumi putih." Responnya. "Jika begini terus? Kita yang akan dihabisi oleh orang itu." Raksa Bumi setuju, dengan apa yang dikatakan oleh Narumi Putih.

"Ya, kita tidak bisa berlama-lama di sini." Ki Dharma Seta setuju dengan usulan mereka.

Ia juga tidak bisa berlama-lama karena hutan ini sebenarnya bukan hutan yang baik untuk mereka.

"Aku juga akan membantu." Hatinya ikut panas. "Aku sangat kesal, karena disandera orang buruk seperti dia!."

Mayang Sari yang baru saja terbebas, tidak mungkin berdiam diri saja kan?. Pastinya ia memiliki tenaga dalam yang masih banyak. Jadi ia bisa menambah kekuatan mereka.

Lagi-lagi mereka mengerahkan tenaga dalam mereka, untuk menghadapi Jaya Satria. Namun ketika mereka hendak menyerang Jaya Satria. Tiba-tiba ada sosok berpakaian hitam, menyambar tubuh Jaya Satria.

...***...

Sementara itu di sisi lainnya.

Aki Jarah Setandan hampir saja memasuki perbatasan kerajaan Suka Damai, namun saat itu ia mengenali seseorang yang tampak terburu-buru berjalan memasuki kawasan itu.

"Sampurasun."

"Rampes." Syekh Asmawan Mulia membalikkan badannya, melihat ke arah belakangnya. "Kakang jarah setandan?."

"Adi Syekh? Mau ke mana?." Ia terlihat heran. "Kenapa terburu-buru seperti itu?."

Syekh Asmawan Mulia tampak berpikir, apakah ia harus menjawabnya.

"Begini kakang." Jawabnya. "Aku mendapatkan perintah dari sukma Gusti Prabu kawiswara arya ragnala." Jawabnya sambil mendekati Aki Jarah Setandan. "Gusti Prabu meminta aku membantu nanda cakara casugraha, yang akan bertarung di hutan taring belati."

"Jadi adi Syekh?." Balasnya. "Juga mendapatkan perintah dari Gusti Prabu kawiswara arya ragnala?."

"Benar kakang." Jawabnya. "Mari kita lanjutkan perjalanan kalau begitu kakang."

"Mari adi Syekh."

Keduanya kembali melanjutkan perjalanan.

"Sepertinya pertarungan yang akan dihadapi nanda cakara casugraha sangat berat, sehingga Gusti Prabu kawiswara arya ragnala meminta bantuan kita."

"Aku rasa itu benar adi, kita harus segera sampai ke sana."

"Baiklah kakang."

Dengan langkah yang cepat, Syekh Asmawan Mulia, dan Aki Jarah Setandan menuju hutan Taring Belati Raga. Apakah mereka akan sempat bertemu, dan membantu Jaya Satria?. Simak terus cerita.

...***...

Hutan Taring Belati Raga.

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana ternyata yang menolong Jaya Satria.

Deg!.

"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh, Gusti Prabu." Balas Jaya Satria, ia menghela nafasnya dengan lega.

"Alhamdulillah hirobbil a'lamin, akhirnya Gusti Prabu sampai juga." Jaya Satria memberi hormat sambil memperhatikan prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga memakai pakaian yang sama persis dengan dirinya.

"Maafkan aku agak lama." Ucapnya sang Prabu. "Di perjalanan tadi? Ada sedikit gangguan." Lanjut sang Prabu. "Dan aku harus menghadapi mereka sebentar."

"Tidak apa-apa Gusti." Balas Jaya Satria. "Sepertinya Gusti Prabu, juga mengalami apa yang hamba alami." Jaya Satria juga tidak bisa menyalahkan keterlambatan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, akan tetapi kondisi yang menjebaknya.

"Bagus!." Ucapnya. "Kau juga datang untuk mengantarkan nyawamu kepada kami." Ki Dharma Seta melihat kedatangan orang yang menolong temannya itu?. 

Prabu Asmalaraya Arya Ardhana maju beberapa langkah.

"Akan aku bunuh kalian berdua di sini." Sorot matanya tidak bersahabat.

"Selain pengecut, kalian juga bermulut besar." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana melihat penampilan mereka yang hampir kacau, akibat pertarungan dengan Jaya Satria.

Sang Prabu telah mengetahui, alasan mengapa kondisinya juga ikut terluka?. Itu karena Jaya Satria dikeroyok pendekar jahat seperti mereka.

"Main keroyokan, aku rasa kalian memang cocok." Ucap Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengamati mereka. "Disebut sebagai pendekar rendahan, yang hanya bisa membantai orang lemah saja."

"Kau!."

Mereka semua sangat emosi mendengarkan ucapan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.

"Jahanam busuk!." Makinya kasar. "Berani sekali kau berkata seperti itu pada kami?." Hatinya tersulut oleh amarah. "Rupanya kau juga ingin segera pindah alam!." Raksa Bumi sangat marah dan kesal, ia tidak terima ucapan itu.

"Tidak perlu banyak bicara kau orang asing, dan orang bertopeng." Balasnya. "Buktikan saja dengan ilmu yang kau miliki."

"Berapa banyak pun orang seperti kalian? Akan kami hadapi di gelanggang pertarungan!."

"Aku akan membalas perbuatanmu, karena kau telah berani menyandera ku!." Hatinya juga panas. "Berani sekali kau menyiksa aku!."

"Majulah!." Balasnya. "Jika kalian pendekar yang berani? Jangan main keroyokan." Jaya Satria menantang mereka agar bertarung secara sehat, beraninya mereka main keroyokan.

"Tanpa kau minta, kami semua akan maju meringkus kalian berdua." Ki Dharma Seta tersenyum lebar, ia memandang rendah terhadap keduanya.

...***...

Sebuah tempat.

"Bagaimana menurut pengamatan kalian?." Ia meminta saran pada mereka. "Apakah benar? Mereka masih berada di hutan rindu jati?."

Saat itu Putri Agniasari Ariani dibawa ke rumah kepala Desa.

"Ya, mereka masih betah berada di sana."

"Lantas? Apa yang akan kau lakukan rangga ulung?." Putri Agniasari Ariani menatap rekannya. "Bukankah? Kau juga membantu mendiang Gusti Prabu kawiswara arya ragnala? Dalam menumpas mereka?."

"Ya, begitulah yang terjadi."

"Mereka sangat meresahkan sekali." Jawabnya. "Apakah tidak ada pekerjaan? Yang bermanfaat selain membunuh orang?." Kepala desa Sareh Dipa terlihat sangat takut.

"Jika mereka manusia normal?." Responnya. "Yang berpikiran baik seperti kita ini?." Lanjutnya. "Maka desa ini akan kembali aman." Rangga Ulung tampak kesal. "Namun sayangnya." Ucapnya dengan aneh. "Mereka tidak bisa kita sebut normal." Lanjutnya. "Sehingga mereka melakukan perbuatan keji."

"Untuk itulah, kita sebagai pendekar." Balas Putri Agniasari Ariani. "Yang memiliki niat baik terlahir ke dunia ini." Putri Agniasari Ariani menatap mereka dengan sangat serius. "Tentu saja untuk menumpas kejahatan yang mereka perbuat."

"Nini benar, kita harus menumpas orang-orang jahat seperti mereka."

"Kalau begitu? Aku mohon bantuan pada kalian." Ia memberi hormat. "Kasihan penduduk desa ini, jika mereka terus bergerak." Kepala desa Sareh Dipa hanya bisa berharap saja. "Dan menebarkan kejahatan yang sangat merugikan.

"Tuan tenang saja, malam ini kami akan segera bergerak." Dengan cepat Rangga Ulung menanggapinya. "Namun sebelum itu? Sampaikan kepada penduduk desa, agar tidak keluar malam ini."

"Baiklah, aku akan mengumumkan berita ini pada penduduk desa."

"Kami juga akan membantu."

"Terima kasih aku ucapkan pada kalian."

Setelah itu mereka segera bergerak, tentu saja melakukan hal penting untuk melindungi penduduk desa, dari ancaman marabahaya.

...***...

Di bilik Ratu Gendhis Cendrawati dan Ratu Ardningrum Bintari.

"Sebenarnya aku sangat muak pada mereka." Ungkapnya. "Bagaimana bisa? Anak terkutuk itu menjadi Raja?."

"Yunda benar." Ucapnya setuju. "Aku rasa mereka memang telah mempersiapkan ini semua." Lanjutnya. "Saat kanda Prabu pergi ke kerajaan kegelapan."

"Ya, kau benar rayi." Ia membenarkan ucapan itu. "Aku sangat yakin sekali." Hatinya terasa panas. "Jika kematian kanda Prabu? Itu dibunuh oleh cakara casugraha."

"Kenapa yunda berpikir?." Ucapnya heran. "Bahwa cakara casugraha? Yang telah membunuh kanda Prabu?."

"Apakah kau tidak berpikir rayi?." Jawabnya. "Kanda Prabu bukanlah orang yang lemah, kanda Prabu adalah orang yang kuat." Ucapnya dengan perasaan yang membuncah. "Bagaimana mungkin? Ketika cakara casugraha keluar dari bilik kanda Prabu?." Hatinya heran. "Dia mengabarkan? Bahwa kanda Prabu tiada?." Keningnya tampak mengkerut ketika mengucapkan kalimat itu. "Apakah menurutmu? Itu bukanlah suatu kesalahan?." Ucapannya seakan-akan memberikan patik api pada Ratu Gendhis Cendrawati. "Aku sangat yakin dia yang telah membunuh kanda Prabu, dia yang ingin berkuasa di kerajaan ini."

"Yunda benar." Tanggapnya. "Tapi? Alasan pastinya seperti apan?." Ratu Gendhis Cendrawati masih berpikir. "Kenapa cakara casugraha melakukan itu?."

"Aku sangat yakin, itu adalah bentuk balas dendamnya pada kanda Prabu." Jawabnya. "Karena kanda Prabu, telah memberikan hukuman buang padanya." Lanjutnya. "Itulah alasan, kenapa? Ia membunuh kanda Prabu." Pikirannya sedang membayangkan kejadian itu. "Saat kanda Prabu, dalam keadaan melemah."

"Ya, itu masuk akal juga yunda."

"Dia benar-benar lebih biadab!." Umpatnya penuh amarah. "Dari apa yang kita pikirkan."

Suasana hari mereka saat itu hanya diisi oleh perasaan curiga pada Raden Cakara Casugraha, pikiran buruk atas apa yang telah terjadi.

...***...

Hutan Taring Belati Raga.

"Kalian semua hadapi yang baru datang." Perintahnya. "Sementara aku akan berhadapan dengan yang satunya."

"Baik ki!."

Mereka menjawab perintah ketua mereka. Setelah itu, mereka mulai menyerang Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.

"Sekarang kita bertarung satu lawan satu." Ki Dharma Seta menyeringai lebar, ia begitu berambisi untuk membunuh Jaya Satria saat ini.

"Tidak usah banyak bicara, maju saja!." Jaya Satri tidak perlu berbasa-basi lagi, dan pertarungan diantara keduanya dimulai.

Ki Dharma mulai menyerang dengan jurus-jurusnya. Ia menyerang Jaya Satria dengan beberapa pukulan, tatapi Jaya Satria berhasil menepisnya.

Mereka melompat ke sana kemari untuk menyerang satu sama lain. Terkadang mereka terkena pukulan atau hantaman, namun belum juga membuat mereka jatuh.

Sementara itu, Prabu Asmalaraya Arya melawan anak buah Ki Dharma Seta. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menghadapi serangan mereka dengan cekatan, bahkan mereka terkena pukulan dari sang Prabu.

"Kurang ajar!." Umpatnya dengan penuh amarah. "Ternyata dia tidak bisa kita remehkan begitu saja." Raksa Bumi merasa kesal karena terkena hantaman dari sang prabu.

"Dia tidak bisa kita anggap remeh." Sambungnya. "Kalau begitu ayo kita hajar dia! Dengan jurus auman macan berburu mangsa." Narumi Putih menyarankan mereka agar menggunakan jurus itu untuk meluluhkan orang itu.

"Benar juga." Responnya. "Ayo kita hadapi dia dengan jurus itu." Semara Layana setuju dengan ide temannya, dan mereka semua mulai memainkan jurus auman macan berburu mangsa.

"Bismillahirrahmanirrahim." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga tidak tinggal diam. Sang Prabu juga menggunakan jurus andalannya.

"Setan belang!." Umpatnya kasar. "Setan bodong!." Umpatnya lagi. "Bagaimana mungkin? Dia menguasai jurus cakar naga cakar petir?."

Ki Dharma Seta yang tadinya fokus berhadapan dengan Jaya Satria terkejut, melihat gerakan jurus yang dimainkan oleh prabu Asmalaraya Arya Ardhana.

"Heh!." Jaya Satria mendengus kesal. "Kau tidak perlu terkejut seperti itu." Ia melirik ke arah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Bahkan aku pun juga bisa melakukannya." Ia menyeringai lebar. "Jika kau ingin merasakan jurus itu."

Jaya Satri juga memainkan jurus yang sama, dengan jurus Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.

"Bedebah! Jurus itu-." Ki Dharma Seta sangat geram, mendengarkan perkataan Jaya Satria. "Bagaimana mungkin? Mereka memiliki jurus cakar naga cakar petir?." Dalam hati Ki Dharma Seta sangat bingung. "Bukankah? Seharusnya jurus itu telah musnah?."

Ya, jurus itu seharusnya memang telah musnah, tapi Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria memiliki jurus itu.

"Akan aku gunakan, jurus pukulan tapak dewa kematian." Ya, hanya jurus itu rasanya yang dapat ia gunakan untuk menghadapi jurus itu.

"Cakar ku cakar naga, cakar naga yang menghasilkan aliran petir." Ucap Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria. "Jadilah naga petir, dengan kekuatan cakar naga petir yang dahsyat."

Keduanya mengulang gerakan jurus itu merapalkan mantra yang terkandung dari jurus itu. Seketika ada aura petir yang membentuk naga petir. Dentuman suara petir yang memekakkan telinga, hingga membuat suasana hutan taring belati raga terasa seram.

Tak membuang waktu Narumi Putih maju duluan, ia menyerang Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Namun serangannya dapat dipatahkan dengan mudah, malahan wanita itu terkena jurus itu, bahu kirinya terkena cakaran Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Aura naga petir itu menyambar bahu kiri Narumi Putih, hingga wanita itu berteriak kesakitan, ia tidak bisa menahan sengatan naga petir itu.

...***...

Ratu Dewi Anindyaswari semakin merasakan kegelisahan yang tiada hentinya, hatinya masih dipenuhi oleh pikiran tentang keadaan putranya.

"Apa yang harus aku lakukan?." Dalam hatinya sangat bingung. "Walaupun kanda Prabu telah mengatakan, jika aku harus tenang." Dalam hatinya merasakan sesak.

"Ibunda dewi anindyaswari."

"Ananda putri ambarsari?. Nanda nanda ganendra garjhita?."

Ratu Dewi Anindyaswari tidak menduga, jika Putri Ambarsari dan Raden Ganendra Garjitha berani memasuki kawasan istana selatan?.

"Apa yang nanda berdua lakukan di sini?." Ratu Dewi Anindyaswari mencoba bersikap tenang.

"Itu tidak penting ibunda." Jawabnya ketus. "Aku hanya ingin memastikan, bahwa kau tidak menangis darah saat ini."

"Ya, kami hanya memastikan itu saja." Sambungnya. "Karena kasihan." Ucapnya dengan nada mengejek. "Jika istana selatan ini akan berubah warna merah." Lanjutnya. "Karena tangisanmu dewi anindyaswari, atas kematian anakmu."

"Oh? Tega sekali kalian berkata seperti itu?." Ratu Dewi Anindyaswari semakin sedih mendengarnya.

"Heh!." Ia mendengus kesal. "Tidak usah merasa teraniaya seperti itu." Ucapnya jengkel. "Kau hanya menunggu kenyataan saja."

"Cukup!." Bentaknya keras. "Sebaiknya kalian pergi saja!."

"Hahahaha!."

Keduanya malah tertawa keras ketika mendengarkan suara putus asa dari Ratu Dewi Anindyaswari.

"Tunggu saja kabar itu." Ucapnya dari jarak yang agak jauh. "Aku sangat yakin, kau akan mati berdiri setelah ini."

"Mari kita pergi raka, hahaha!."

Setelah merasa puas? Mereka pergi meninggalkan tempat itu.

"Oh? Dewata yang agung?." Hatinya semakin pedih. "Hamba mohon, lindungilah putra hamba dari marabahaya." Dalam hati Ratu Dewi Anindyaswari semakin dipenuhi ketakutan yang sangat luar biasa. "Nanda cakara casugraha, kembalilah dengan selamat nak." Kembali air matanya mengalir begitu saja, hatinya semakin dipenuhi oleh ketakutan tentang keselamatan anaknya.

...***...

Desa Damai Serikat.

Syekh Asmawan Mulia dan Aki Jarah Setandan telah sampai di sana, cukup memakan waktu bagi mereka sampai di desa itu.

"Sebentar lagi kakang, kita akan sampai di hutan taring belati."

"Adi benar."

"Semoga saja kita tidak terlambat kakang."

"Ya, berdoa saja seperti itu adi Syekh."

Syekh Asmawan Mulia dan Aki Jarah tentunya sangat cemas akan keselamatan Raden Cakara Casugraha, hati keduanya sangat tidak tenang sama sekali.

"Nanda cakara casugraha, bertahan lah, jika memang nanda sedang bertarung saat ini." Dalam hati Syekh Asmawan Mulia sangat berharap. "Aku hanya bisa berdoa keselamatan untukmu." Dalam hatinya lagi.

...***...

Hutan Taring Belati.

"Eqhak!."

Teriakan keras terdengar dari mulut wanita itu, dan ia jatuh tak berdaya di tanah. Keadaan tubuhnya setengah gosong, setelah itu ia tidak bergerak lagi. Mereka terkejut melihat Narumi Putih yang sangat mengenaskan.

"Nimas!." Raksa Bumi terkejut melihat keadaan Narumi Putih, hatinya terasa sakit menyaksikan itu, dan amarah pun telah menguasai dirinya.

Tanpa pikir panjang lagi ia langsung menyerang Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Sayangnya ia mengalami hal yang serupa dengan kekasihnya itu.

Dari jarak jauh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menyalurkan tenaga dalamnya, menghantam dada Raksa Bumi. Aura naga petir itu seakan menembus dadanya. Hingga langkahnya terhenti dan ia berteriak kesakitan karena kekuatan dahsyat menghantam tubuhnya.

"Raksa bumi!." Semara Layana dan Mayang sari tidak percaya dengan apa yang mereka lihat, kedua temannya sudah berhasil dibunuh oleh orang itu?.

Ada rasa takut dalam diri mereka setelah melihat itu?. Ki Dharma Seta yang sedang beradu kekuatan dengan Satria merasa marah, karena dua anak buahnya sudah terbunuh. Ia akui jurus itu memang berbahaya, dan ia sendiri tidak tahu cara menghadapi jurus itu.

"Itu adalah balasan setimpal." Ucapnya. "Dengan apa yang mereka lakukan, terhadap rakyat suka damai." Jaya Satria yang masih gencar menyerang Ki Dharma Seta, tidak akan ia biarkan lelaki itu ikut campur, atau mencoba membantu kedua anak buahnya.

"Bedah busuk!." Makinya keras. "Kau tidak usah banyak bicara!." Ki Dharma Seta sangat kesal, ia tidak bisa bebas dari Jaya Satria. Jika ia lengah, bisa saja Jaya Satria membunuhnya dengan jurus cakar naga cakar petir.

"Aku tidak akan segan-segan lagi." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menyeringai lebar. "Karena perbuatan kalian sudah melampaui batas."

Prabu Asmalaraya Arya Ardhana melihat ke arah mereka berdua, yang sudah mulai tampak ketakutan. Tidak ada jawaban dari mereka, karena mulut mereka seakan terkunci.

Ki Dharma Seta yang terpojok merasa geram, ia tidak bisa berpikir jernih lagi. Ketika melihat kedua anak buahnya yang tersisa tidak bisa bergerak, karena takut dengan jurus itu

"Apa yang harus aku lakukan?." Dalam hatinya merasa gusar, hampir saja ia terkena sambaran jurus itu.

Jika saja ia tidak menyadari serangan itu datang padanya. Ia masih sempat menghindarinya dengan melompat ke belakang.

"Bedebah!." Umpatnya lagi. "Beraninya kau menyerangku!."

Ki Dharma Seta terlihat sangat marah. Namun kemarahan itu semakin besar, ketika prabu Asmalaraya Arya Ardhana menyerang kedua anak buahnya. Dengan menggunakan pukulan telapak dewa, dan mengarahkan pukulan itu ke arah prabu Asmalaraya Arya Ardhana, ia untuk menyerangnya.

"Tidak akan aku biarkan kau melakukannya!." Sedangkan Jaya Satria yang menyadari itu juga mengarahkan jurus cakar naga cakar petir ke arah Ki Dharma Seta, mereka saling menyerang satu sama lain.

"Marilah kau setan!."

Apakah yang akan terjadi pada prabu Asmalaraya Arya Ardhana?. Apakah serangan itu mengenai tubuhnya?. Temukan jawabannya dicerita berikutnya. Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya. Agar author yang tidak berwujud ini semangat lanjutin ceritanya. Salam jejak buat pembaca tercinta.

Next.

...***...

Terpopuler

Comments

Anonymous

Anonymous

lanjut bunuh para penjahat

2024-09-03

0

SoVay

SoVay

tapi buku barunya masih 3 bab

2021-12-18

1

lihat semua
Episodes
1 KEPERGIAN PRABU KAWISWARA ARYA RAGNALA
2 RAJA BARU
3 TERPILIHNYA RAJA BARU
4 PERDEBATAN
5 RACUN
6 SOSOK MISTERIUS
7 TUDUHAN
8 PERTARUNGAN JAYA SATRIA
9 MENYELESAIKAN MASALAH
10 KEPUTUSAN SANG PRABU
11 HUTAN TARING BELATI RAGA
12 PRABU ASMALARAYA ARYA DAN JAYA SATRIA
13 KABAR DUKA
14 KESEMBUHAN SANG PRABU?.
15 KEPULANGAN SANG PRABU
16 KERUSUHAN DI KOTA RAJA
17 SIDANG DI ISTANA
18 RASA PENASARAN
19 SYAIR PEMIKAT
20 PERTARUNGAN SENGIT
21 RENCANA JAHAT
22 KEMARAHAN DAN KASIH SAYANG
23 TULUS DAN KESUNGGUHAN
24 PUTRI ANDHINI ANDITA
25 PENGLIHATANNYA TENTANG RAJA
26 KEJAHATAN GAIB
27 JAMUAN
28 KECURANGAN PERTARUNGAN
29 TAHTA YANG SAH
30 KEPUTUSAN YANG BERAT
31 PERSIAPAN PERANG
32 PERANG DIMULAI
33 SITUASI PERANG
34 YANG BERPERANG
35 KEMARAHAN DAN BENCI
36 KEBENCIAN DAN KASIH SAYANG
37 PRABU ASMALARAYA ARYA ARDHANA
38 PRABU RAHWANA BIMANTARA
39 MEMAAFKAN DAN KEBAIKAN HATI
40 BERSABAR DALAM KESAKITAN
41 KEPULANGAN RATU DEWI ANINDYASWARI
42 KAKEK MISTERIUS
43 KEGELISAHAN DAN KEJADIAN
44 PERASAAN CEMAS
45 KEADAAN SANG PRABU DAN JAYA SATRIA
46 JAYA SATRIA DISERANG
47 KEJADIAN DEMI KEJADIAN
48 KEADAAN JAYA SATRIA
49 KESEMBUHAN DUA INSAN
50 JAYA SATRIA
51 PERSIAPAN
52 PERTARUNGAN DI KERAJAAN KEGELAPAN
53 KEMARAHAN DALAM PERTARUNGAN
54 PRABU ASMALARAYA ARYA ARDHANA DAN JAYA SATRIA
55 DIBALIK ALASAN
56 KASIH SAYANG DAN KERINDUAN
57 KEKUATAN BATIN SEORANG IBU
58 RENCANA DAN INGATAN
59 JANJI DAN KEINGINAN
60 DENDAM MASA LALU
61 KESESATAN YANG NYATA
62 KESALAHAN MASA LALU
63 PERTARUNGAN RADEN CAKARA CASUGRAHA
64 PATUH PADA ORANGTUA
65 PENDEKAR PEMBURU BENDA PUSAKA
66 ANCAMAN SANG PRABU
67 KEMARAHAN JAYA SATRIA
68 BENDA PUSAKA DAN TUANNYA
69 PEMBERONTAKAN
70 JALAN KELUAR
71 ILMU YANG BERMANFAAT
72 KEDATANGAN PUTRI AMBARSARI
73 PERASAAN HATI
74 KEADAAN KERAJAAN MEKAR JAYA
75 MASALAH YANG TERJADI
76 MIMPI
77 DILUAR DUGAAN
78 PERTARUNGAN DI KOTA RAJA
79 PEDANG PANGGILAN JIWA
80 RATU ARDININGRUM BINTARI
81 KEPULANGAN PRABU RAHWANA BIMANTARA
82 GEJOLAK HATI
83 DIMENSI WAKTU, PEDANG PELEBUR SUKMA
84 PERTARUNGAN TANPA AMPUN
85 JAYA SATRIA?
86 PESAN DARI LANGITYA SUKMANA
87 AMARAH DIHATI
88 KEGELAPAN TELAH DATANG
89 PEDANG PELEBUR SUKMA
90 PERTARUNGAN BATIN
91 LUKA YANG SAMA?
92 KELEMAHAN SANG PRABU?.
93 PERTARUNGAN DAHSYAT
94 RISIKO
95 KONDISI SETELAH PERTARUNGAN
96 GUNDAH KARENA SESUATU
97 PERASAAN CEMAS
98 KABAR BURUK
99 KENAPA SEPERTI ITU?
100 PETUNJUK
101 PANGGILAN
102 JAWABAN
103 MENEKAN PERASAAN HATI
104 USAHA MEREKA
105 KASIH SAYANG YANG TULUS
106 KEBAHAGIAAN DAN DENDAM
107 SANGAT MENGEJUTKAN
108 INGATAN NYAI BESTARI DHATU
109 PERUBAHAN SIKAP
110 TUJUAN
111 KEMARAHAN
112 KETETAPAN HATI
113 KEKUATAN BANTUAN
114 KEGUNDAHAN DAN KASIH SAYANG
115 HATI YANG GELISAH
116 BERUSAHA DENGAN BAIK
117 TEKAD YANG KUAT
118 MEMANCING AMARAH
119 SEMAKIN MARAH
120 BUKAN KEPUTUSAN BIASA
121 INGIN BERUBAH
122 HASRAT YANG MENGGEBU
123 JANGAN SOMBONG
124 PERASAAN CEMAS
125 ADA YANG ANEH
126 HAL YANG TERSEMBUNYI
127 JANGAN TERLALU BERPIKIRAN BURUK
128 MEMASTIKAN SEMUA
129 PERLAWANAN YANG KUAT
130 SUASANA PERTARUNGAN
131 MAHA PEMILIK KEKUASAAN
132 MEREKA YANG BERMASALAH
133 PILIHAN YANG SULIT
134 MENGOBATI PRABU MAHESWARA JUMANTA
135 DAPAT MELIHATNYA?
136 HANYA ITU SAJA
137 SAUDARA?
138 YANG DIBAYANGKAN
139 KEMBALI KE ISTANA
140 KEGELISAHAN DAN HARAPAN
141 KERUSUHAN DAN LAMARAN
142 KEDATANGAN YANG TAK TERDUGA
143 UCAPAN YANG MENYAKITKAN
144 MENGALAHKAN DAN ANEH
145 KETAKUTAN AKAN KEHILANGAN
146 HAL YANG SANGAT PENTING
147 WASPADA TERHADAP SESUATU
148 GETARAN AMARAH
149 PERASAAN YANG KUAT
150 AIR MATA KESEDIHAN
151 PIKIRAN DAN CINTA?
152 KESEDIHAN RATU DEWI ANINDYASWARI
153 KUTUKAN RADEN CAKARA CASUGRAHA
154 TANGISAN KESEDIHAN
155 TIDAK ADA PERASAAN KAH?
156 TIDAK PERLU DIPERJELAS
157 HANYA RAHASIA DI DALAM HATI
158 PELAJARAN YANG BERHARGA
159 RADEN CAKARA CASUGRAHA KEMBALI
160 ALASAN MENJADI RAJA?
161 MASALAH BARU?
162 HATI YANG KUAT
163 TIDAK GOYAH BEGITU SAJA
164 DALAM AMARAH YANG DIRASAKAN
165 RASAKAN KEMARAHANKU
166 JANGAN DENGARKAN MEREKA
167 MASA LALU YANG PERNAH DILALUI
168 KENAPA BERBOHONG?
169 INGATAN MASA LALU YANG TIDAK BISA DILUPAKAN
170 TIDAK BISA SEPERTI ITU.
171 KERESAHAN HATI YANG LARA
172 KEPERCAYAAN YANG SANGAT KUAT
173 KESEDIHAN HATI
174 HUBUNGAN YANG TERJALIN
175 DIJODOHKAN?
176 SUASANA HATI
177 MASA YANG TELAH DILALUI
178 GEJOLAK PERANG DI HATI
179 JIKA KAU INGIN ITU
180 HILANGNYA PERASAAN HATI
181 APAKAH AKU MELAKUKANNYA
182 SAKIT, SAMPAI KE ULU HATI
183 KABAR YANG MENGEJUTKAN
184 KERAGUAN, SIAPA YANG BERHAK
185 KEPUTUSAN YANG DIAMBIL
186 RATU AGUNG KERAJAAN MEKAR JAYA
187 HUKUMAN MATI
188 MENGUATKAN HATI YANG LARA
189 SUASANA HATI MEREKA
190 KENAPA BISA?
191 PERTEMUAN YANG MENGEJUTKAN
192 RASA PENASARAN YANG MENGGELITIK HATI
193 KISAH PUTRI AGNIASARI ARIANI
194 PERTANDA APA ITU?
195 SIAPA ORANG ASING ITU?
196 MIMPI YANG SANGAT BURUK
197 APA YANG KAU KETAHUI?
198 MENGUAK RAHASIA SANG PRABU
199 KATAKAN SELAMAT TINGGAL
200 APAKAH ITU BENAR?
201 MASIH MENJADI MISTERI
202 JANGAN COBA-COBA BERKHIANAT
203 INGIN MENDENGARKAN KISAH TENTANGNYA
204 GEJOLAK AMARAH YANG DIRASAKAN
205 PEDANG SUKMA MAGA PEMBELAH BUMI
206 JURUS CAKAR NAGA CAKAR PETIR
207 TERUS BERUSAHA
208 RASANYA BUKAN DIA
209 NAMA JAYA SATRIA
210 MUSTIKA NAGA MERAH DELIMA
211 BENARKAH BISA KEMBALI?
212 RASA SAKIT DI HATI
213 SUDAH DITENTUKAN
214 PENJELASAN YANG ANEH
215 ADA KECEMASAN DI DALAM HATI
216 SANGAT PEMARAH SEKALI
217 KERESAHAN HATI YANG MENDALAM
218 TAMU JAUH
219 PERMASALAHAN SUASANA HATI
220 PENGEMBARAAN JAYA SATRIA
221 PENDENGAR YANG BAIK
222 ALASAN KENAPA SEPERTI ITU?
223 PENYATUAN RAGA YANG MENYAKITKAN
224 JANGAN MEMBANTAH, TURUTI SAJA
225 KENYATAAN YANG TIDAK BISA DIBANTAH
226 MASIH DALAM MASA PENYESUAIAN
227 MARAH YANG BERLEBIHAN
228 BERHASIL DENGAN BAIK
229 KYAI YANG DIBURU
230 MEMBUNCAH BEGITU SAJA
231 PERASAAN DILEMA PRABU ASMALARAYA ARYA ARDHANA
232 SANGAT MENYENTUH HATI
233 MENCOBA BERSIKAP TEGAR
234 BERDEBAR-DEBAR KARENA APA?
235 PERTARUNGAN BATIN YANG DAHSYAT
236 DENGARKAN DENGAN BAIK
237 GAGAL UNTUK BERSAMA
238 SAKIT, MEMANG SAKIT
239 KABAR YANG TIDAK DIINGINKAN
240 SEMAKIN PARAH
241 MEREDAM SEGALA BENTUK EMOSI JIWA
242 SEDANG BERUSAHA
243 SIAPA DIA?
244 KEYAKINAN HATI YANG KUAT
245 ADA KECEMASAN YANG TIDAK BIASA
246 APAKAH ITU BENAR?
247 GEJOLAK HATI YANG TAK TERSAMPAIKAN
248 JANJI YANG PERNAH DIUCAPKAN
249 BAHAGIA? TAPI MASIH BINGUNG
250 PEMBUKTIAN?
251 APAKAH SEBUAH KEBETULAN?
252 SALAM PERPISAHAN
253 MENCARI PETUNJUK DARI MASALAH YANG TERJADI
254 MENERAPKAN PILIHAN HATI
255 JIKA TELAH MEMILIKI TEKAD
256 SIKAP KERAS HATI
257 SANGAT MENGEJUTKAN SEKALI
258 PERMINTAAN PRABU ASMALARAYA ARYA ARDHANA
259 BERTEMU DENGAN SANG PRABU
260 TIDAK PERNAH DIDUGA SEBELUMYA
261 TIDAK SEPERTI YANG DIBAYANGKAN
262 ADA YANG HARUS DIKETAHUI
263 PERTARUNGAN DI SUMBER MATA AIR DEWA
264 KEKUATAN YANG SANGAT DAHSYAT
265 BAGAIMANA BISA? KEKUATAN KERIS KEMBAR?
266 IDENTITAS ASLI JAYA SATRIA
267 MALAH JADI TAKUT
268 MEMAHAMI SITUASI YANG TERJADI
269 SESUATU YANG TIDAK BISA DIMENGERTI
270 MASALAH YANG CUKUP RUMIT
271 GONCANGAN HATI
272 SAKIT YANG MENUSUK HATI
273 KISAH LAMA YANG TELAH TERJADI
274 MEMANG TIDAK BISA
275 MEMBEBASKAN SUKMA YANG TERSESAT
276 UCAPAN YANG MENCEMASKAN HATI
277 MUNGKIN INI ALASAN YANG TEPAT
278 PERASAAN YANG KUAT
279 GEJOLAK API KEBENCIAN YANG TERTANAM DI HATI
280 HADIAH DARI KELUARGA ISTANA
281 KALIAN BERANI MENANTANG AKU?
282 MARI KITA BICARA
283 MENGUJI KESABARAN HATI?
284 HAL YANG TIDAK TERDUGA SEBELUMNYA
285 BERKOMUNIKASI DENGAN PENGHUNI ALAM SUKMA
286 BUKAN BERMAKSUD MENGHAKIMI SATU PIHAK SAJA
287 MENURUTI KEINGINAN HATI
288 BUKAN PENGLIHATAN BIASA
289 KEMUNGKINAN YANG AKAN TERJADI
290 KEJADIAN YANG SEBENARNYA
291 SESUATU YANG TIDAK BISA DIJELASKAN DENGAN KATA-KATA
292 MEMASUKI ALAM SUKMA
293 MENGUATKAN HATI YANG GELISAH
294 MENGATASI MASALAH TEKANAN BATIN
295 DESA GAIB
296 KETAKUTAN YANG MENYIKSA BATIN
297 MENGGANJAL DI HATI
298 KENANGAN MANIS YANG TAK TERLUPAKAN
299 SUASANA HATI YANG TIDAK KARUAN
300 KEPUTUSAN YANG SANGAT KUAT DARI HATI
301 DAPAT MELIHAT DENGAN JELAS
302 TAKDIR YANG DIJALANI
303 KEGELAPAN YANG MENGUSIK JIWA
304 YANG SEHARUSNYA DILAKUKAN
305 PENCARIAN SUKMA DEWI SUARABUMI
306 HUBUNGAN YANG TERJALIN ERAT
307 PERMOHONAN
308 PERTARUNGAN TIGA SUKMA
309 PASAR KOTA RAJA
310 KENAPA TIDAK BISA MENERIMANYA?
311 AKAR PERMASALAHANNYA
312 HATI YANG INGIN BERONTAK
313 DENGARKAN DENGAN BAIK
314 MASIH ADA HARAPAN
315 MEMPERSIAPKAN DIRI
316 HATI YANG MENENTUKAN
317 TIDAK MUDAH GOYAH
318 APA YANG DICEMASKAN?
319 APAKAH SEMUA ITU BENAR?
320 APA YANG INGIN KAU BUKTIKAN?
321 AKAN AKU TUNJUKKAN SEMUANYA
322 MENGATUR EMOSI JIWA
323 APAKAH MEMANG SEPERTI ITU?
324 MASALAH YANG SANGAT SERIUS
325 KEGELISAHAN YANG MENDALAM
326 PENGLIHATAN YANG TIDAK BIASA
327 PERASAAN HATI YANG TIDAK BISA BERBOHONG
328 KEBENARAN YANG TERSEMBUNYI
329 KEKUATAN YANG DAHSYAT
330 KEJADIAN YANG TIDAK MASUK AKAL
331 MEMIKIRKAN KEMUNGKINAN YANG AKAN DILAKUKAN
332 SIAPA YANG BERANI?
333 GEJOLAK HATI DALAM KEMARAHAN
334 GANASNYA SUASANA HATI RADEN CAKARA CASUGRAHA
335 PERASAAN YANG KUAT SEKALI
336 KETANGGUHAN HATI
337 PERTARUNGAN YANG TIDAK BISA DIHINDARI
338 TERIMA ATAU TIDAK? SEGERA TENTUKAN PILIHANNYA
339 KENAPA MEREKA BISA ADA?
340 KARMA YANG DIDAPATKAN
341 SEHARUSNYA TIDAK SEPERTI INI
342 AMARAH YANG SEMAKIN MEMBUNCAH
343 KEPUTUSAN, DAN MASA LALU
344 JANGAN TANYA KENAPA?
345 MAU MENGUJI KESABARAN KU?
346 MENGERAHKAN SEMUA KEKUATAN
347 HATI YANG TERLUKA
348 KUATKAN HATI SANG PRABU
349 TERHUBUNGNYA PERASAAN MEREKA
350 PERASAAN YANG LEBIH KUAT
351 APA YANG TERJADI SEBENARNYA?
352 TEKAD UNTUK MELAKUKANNYA
353 HARAPAN YANG BAIK
354 LAMARAN DARI DUA PANGERAN?
355 HARUSKAH SEPERTI ITU?
356 ADA YANG TIDAK BERES
357 HATI YANG TERLUKA PARAH
358 KENYATAAN YANG MENYAKITKAN BATIN
359 MENJAGA PERASAAN HATI
360 APAKAH ITU SUDAH TEPAT?
361 ADA YANG DISEMBUNYIKAN?
362 DIA SEORANG RAJA?
363 GEJOLAK AMARAH
364 KASIH SAYANG YANG DALAM
365 SANGAT BERBAHAYA SEKALI
366 MENGERIKAN SEKALI
367 HANYA BISA BERBUAT DEMIKIAN SAJA
368 APA YANG KAU LIHAT?
369 MAU MENGUJI AKU? BOLEH SAJA
370 AKAN AKU TUNJUKKAN KEBENARANNYA
371 KAU MAU APA SEBENARNYA?
372 MASALAH YANG SEAKAN TIADA HENTI
Episodes

Updated 372 Episodes

1
KEPERGIAN PRABU KAWISWARA ARYA RAGNALA
2
RAJA BARU
3
TERPILIHNYA RAJA BARU
4
PERDEBATAN
5
RACUN
6
SOSOK MISTERIUS
7
TUDUHAN
8
PERTARUNGAN JAYA SATRIA
9
MENYELESAIKAN MASALAH
10
KEPUTUSAN SANG PRABU
11
HUTAN TARING BELATI RAGA
12
PRABU ASMALARAYA ARYA DAN JAYA SATRIA
13
KABAR DUKA
14
KESEMBUHAN SANG PRABU?.
15
KEPULANGAN SANG PRABU
16
KERUSUHAN DI KOTA RAJA
17
SIDANG DI ISTANA
18
RASA PENASARAN
19
SYAIR PEMIKAT
20
PERTARUNGAN SENGIT
21
RENCANA JAHAT
22
KEMARAHAN DAN KASIH SAYANG
23
TULUS DAN KESUNGGUHAN
24
PUTRI ANDHINI ANDITA
25
PENGLIHATANNYA TENTANG RAJA
26
KEJAHATAN GAIB
27
JAMUAN
28
KECURANGAN PERTARUNGAN
29
TAHTA YANG SAH
30
KEPUTUSAN YANG BERAT
31
PERSIAPAN PERANG
32
PERANG DIMULAI
33
SITUASI PERANG
34
YANG BERPERANG
35
KEMARAHAN DAN BENCI
36
KEBENCIAN DAN KASIH SAYANG
37
PRABU ASMALARAYA ARYA ARDHANA
38
PRABU RAHWANA BIMANTARA
39
MEMAAFKAN DAN KEBAIKAN HATI
40
BERSABAR DALAM KESAKITAN
41
KEPULANGAN RATU DEWI ANINDYASWARI
42
KAKEK MISTERIUS
43
KEGELISAHAN DAN KEJADIAN
44
PERASAAN CEMAS
45
KEADAAN SANG PRABU DAN JAYA SATRIA
46
JAYA SATRIA DISERANG
47
KEJADIAN DEMI KEJADIAN
48
KEADAAN JAYA SATRIA
49
KESEMBUHAN DUA INSAN
50
JAYA SATRIA
51
PERSIAPAN
52
PERTARUNGAN DI KERAJAAN KEGELAPAN
53
KEMARAHAN DALAM PERTARUNGAN
54
PRABU ASMALARAYA ARYA ARDHANA DAN JAYA SATRIA
55
DIBALIK ALASAN
56
KASIH SAYANG DAN KERINDUAN
57
KEKUATAN BATIN SEORANG IBU
58
RENCANA DAN INGATAN
59
JANJI DAN KEINGINAN
60
DENDAM MASA LALU
61
KESESATAN YANG NYATA
62
KESALAHAN MASA LALU
63
PERTARUNGAN RADEN CAKARA CASUGRAHA
64
PATUH PADA ORANGTUA
65
PENDEKAR PEMBURU BENDA PUSAKA
66
ANCAMAN SANG PRABU
67
KEMARAHAN JAYA SATRIA
68
BENDA PUSAKA DAN TUANNYA
69
PEMBERONTAKAN
70
JALAN KELUAR
71
ILMU YANG BERMANFAAT
72
KEDATANGAN PUTRI AMBARSARI
73
PERASAAN HATI
74
KEADAAN KERAJAAN MEKAR JAYA
75
MASALAH YANG TERJADI
76
MIMPI
77
DILUAR DUGAAN
78
PERTARUNGAN DI KOTA RAJA
79
PEDANG PANGGILAN JIWA
80
RATU ARDININGRUM BINTARI
81
KEPULANGAN PRABU RAHWANA BIMANTARA
82
GEJOLAK HATI
83
DIMENSI WAKTU, PEDANG PELEBUR SUKMA
84
PERTARUNGAN TANPA AMPUN
85
JAYA SATRIA?
86
PESAN DARI LANGITYA SUKMANA
87
AMARAH DIHATI
88
KEGELAPAN TELAH DATANG
89
PEDANG PELEBUR SUKMA
90
PERTARUNGAN BATIN
91
LUKA YANG SAMA?
92
KELEMAHAN SANG PRABU?.
93
PERTARUNGAN DAHSYAT
94
RISIKO
95
KONDISI SETELAH PERTARUNGAN
96
GUNDAH KARENA SESUATU
97
PERASAAN CEMAS
98
KABAR BURUK
99
KENAPA SEPERTI ITU?
100
PETUNJUK
101
PANGGILAN
102
JAWABAN
103
MENEKAN PERASAAN HATI
104
USAHA MEREKA
105
KASIH SAYANG YANG TULUS
106
KEBAHAGIAAN DAN DENDAM
107
SANGAT MENGEJUTKAN
108
INGATAN NYAI BESTARI DHATU
109
PERUBAHAN SIKAP
110
TUJUAN
111
KEMARAHAN
112
KETETAPAN HATI
113
KEKUATAN BANTUAN
114
KEGUNDAHAN DAN KASIH SAYANG
115
HATI YANG GELISAH
116
BERUSAHA DENGAN BAIK
117
TEKAD YANG KUAT
118
MEMANCING AMARAH
119
SEMAKIN MARAH
120
BUKAN KEPUTUSAN BIASA
121
INGIN BERUBAH
122
HASRAT YANG MENGGEBU
123
JANGAN SOMBONG
124
PERASAAN CEMAS
125
ADA YANG ANEH
126
HAL YANG TERSEMBUNYI
127
JANGAN TERLALU BERPIKIRAN BURUK
128
MEMASTIKAN SEMUA
129
PERLAWANAN YANG KUAT
130
SUASANA PERTARUNGAN
131
MAHA PEMILIK KEKUASAAN
132
MEREKA YANG BERMASALAH
133
PILIHAN YANG SULIT
134
MENGOBATI PRABU MAHESWARA JUMANTA
135
DAPAT MELIHATNYA?
136
HANYA ITU SAJA
137
SAUDARA?
138
YANG DIBAYANGKAN
139
KEMBALI KE ISTANA
140
KEGELISAHAN DAN HARAPAN
141
KERUSUHAN DAN LAMARAN
142
KEDATANGAN YANG TAK TERDUGA
143
UCAPAN YANG MENYAKITKAN
144
MENGALAHKAN DAN ANEH
145
KETAKUTAN AKAN KEHILANGAN
146
HAL YANG SANGAT PENTING
147
WASPADA TERHADAP SESUATU
148
GETARAN AMARAH
149
PERASAAN YANG KUAT
150
AIR MATA KESEDIHAN
151
PIKIRAN DAN CINTA?
152
KESEDIHAN RATU DEWI ANINDYASWARI
153
KUTUKAN RADEN CAKARA CASUGRAHA
154
TANGISAN KESEDIHAN
155
TIDAK ADA PERASAAN KAH?
156
TIDAK PERLU DIPERJELAS
157
HANYA RAHASIA DI DALAM HATI
158
PELAJARAN YANG BERHARGA
159
RADEN CAKARA CASUGRAHA KEMBALI
160
ALASAN MENJADI RAJA?
161
MASALAH BARU?
162
HATI YANG KUAT
163
TIDAK GOYAH BEGITU SAJA
164
DALAM AMARAH YANG DIRASAKAN
165
RASAKAN KEMARAHANKU
166
JANGAN DENGARKAN MEREKA
167
MASA LALU YANG PERNAH DILALUI
168
KENAPA BERBOHONG?
169
INGATAN MASA LALU YANG TIDAK BISA DILUPAKAN
170
TIDAK BISA SEPERTI ITU.
171
KERESAHAN HATI YANG LARA
172
KEPERCAYAAN YANG SANGAT KUAT
173
KESEDIHAN HATI
174
HUBUNGAN YANG TERJALIN
175
DIJODOHKAN?
176
SUASANA HATI
177
MASA YANG TELAH DILALUI
178
GEJOLAK PERANG DI HATI
179
JIKA KAU INGIN ITU
180
HILANGNYA PERASAAN HATI
181
APAKAH AKU MELAKUKANNYA
182
SAKIT, SAMPAI KE ULU HATI
183
KABAR YANG MENGEJUTKAN
184
KERAGUAN, SIAPA YANG BERHAK
185
KEPUTUSAN YANG DIAMBIL
186
RATU AGUNG KERAJAAN MEKAR JAYA
187
HUKUMAN MATI
188
MENGUATKAN HATI YANG LARA
189
SUASANA HATI MEREKA
190
KENAPA BISA?
191
PERTEMUAN YANG MENGEJUTKAN
192
RASA PENASARAN YANG MENGGELITIK HATI
193
KISAH PUTRI AGNIASARI ARIANI
194
PERTANDA APA ITU?
195
SIAPA ORANG ASING ITU?
196
MIMPI YANG SANGAT BURUK
197
APA YANG KAU KETAHUI?
198
MENGUAK RAHASIA SANG PRABU
199
KATAKAN SELAMAT TINGGAL
200
APAKAH ITU BENAR?
201
MASIH MENJADI MISTERI
202
JANGAN COBA-COBA BERKHIANAT
203
INGIN MENDENGARKAN KISAH TENTANGNYA
204
GEJOLAK AMARAH YANG DIRASAKAN
205
PEDANG SUKMA MAGA PEMBELAH BUMI
206
JURUS CAKAR NAGA CAKAR PETIR
207
TERUS BERUSAHA
208
RASANYA BUKAN DIA
209
NAMA JAYA SATRIA
210
MUSTIKA NAGA MERAH DELIMA
211
BENARKAH BISA KEMBALI?
212
RASA SAKIT DI HATI
213
SUDAH DITENTUKAN
214
PENJELASAN YANG ANEH
215
ADA KECEMASAN DI DALAM HATI
216
SANGAT PEMARAH SEKALI
217
KERESAHAN HATI YANG MENDALAM
218
TAMU JAUH
219
PERMASALAHAN SUASANA HATI
220
PENGEMBARAAN JAYA SATRIA
221
PENDENGAR YANG BAIK
222
ALASAN KENAPA SEPERTI ITU?
223
PENYATUAN RAGA YANG MENYAKITKAN
224
JANGAN MEMBANTAH, TURUTI SAJA
225
KENYATAAN YANG TIDAK BISA DIBANTAH
226
MASIH DALAM MASA PENYESUAIAN
227
MARAH YANG BERLEBIHAN
228
BERHASIL DENGAN BAIK
229
KYAI YANG DIBURU
230
MEMBUNCAH BEGITU SAJA
231
PERASAAN DILEMA PRABU ASMALARAYA ARYA ARDHANA
232
SANGAT MENYENTUH HATI
233
MENCOBA BERSIKAP TEGAR
234
BERDEBAR-DEBAR KARENA APA?
235
PERTARUNGAN BATIN YANG DAHSYAT
236
DENGARKAN DENGAN BAIK
237
GAGAL UNTUK BERSAMA
238
SAKIT, MEMANG SAKIT
239
KABAR YANG TIDAK DIINGINKAN
240
SEMAKIN PARAH
241
MEREDAM SEGALA BENTUK EMOSI JIWA
242
SEDANG BERUSAHA
243
SIAPA DIA?
244
KEYAKINAN HATI YANG KUAT
245
ADA KECEMASAN YANG TIDAK BIASA
246
APAKAH ITU BENAR?
247
GEJOLAK HATI YANG TAK TERSAMPAIKAN
248
JANJI YANG PERNAH DIUCAPKAN
249
BAHAGIA? TAPI MASIH BINGUNG
250
PEMBUKTIAN?
251
APAKAH SEBUAH KEBETULAN?
252
SALAM PERPISAHAN
253
MENCARI PETUNJUK DARI MASALAH YANG TERJADI
254
MENERAPKAN PILIHAN HATI
255
JIKA TELAH MEMILIKI TEKAD
256
SIKAP KERAS HATI
257
SANGAT MENGEJUTKAN SEKALI
258
PERMINTAAN PRABU ASMALARAYA ARYA ARDHANA
259
BERTEMU DENGAN SANG PRABU
260
TIDAK PERNAH DIDUGA SEBELUMYA
261
TIDAK SEPERTI YANG DIBAYANGKAN
262
ADA YANG HARUS DIKETAHUI
263
PERTARUNGAN DI SUMBER MATA AIR DEWA
264
KEKUATAN YANG SANGAT DAHSYAT
265
BAGAIMANA BISA? KEKUATAN KERIS KEMBAR?
266
IDENTITAS ASLI JAYA SATRIA
267
MALAH JADI TAKUT
268
MEMAHAMI SITUASI YANG TERJADI
269
SESUATU YANG TIDAK BISA DIMENGERTI
270
MASALAH YANG CUKUP RUMIT
271
GONCANGAN HATI
272
SAKIT YANG MENUSUK HATI
273
KISAH LAMA YANG TELAH TERJADI
274
MEMANG TIDAK BISA
275
MEMBEBASKAN SUKMA YANG TERSESAT
276
UCAPAN YANG MENCEMASKAN HATI
277
MUNGKIN INI ALASAN YANG TEPAT
278
PERASAAN YANG KUAT
279
GEJOLAK API KEBENCIAN YANG TERTANAM DI HATI
280
HADIAH DARI KELUARGA ISTANA
281
KALIAN BERANI MENANTANG AKU?
282
MARI KITA BICARA
283
MENGUJI KESABARAN HATI?
284
HAL YANG TIDAK TERDUGA SEBELUMNYA
285
BERKOMUNIKASI DENGAN PENGHUNI ALAM SUKMA
286
BUKAN BERMAKSUD MENGHAKIMI SATU PIHAK SAJA
287
MENURUTI KEINGINAN HATI
288
BUKAN PENGLIHATAN BIASA
289
KEMUNGKINAN YANG AKAN TERJADI
290
KEJADIAN YANG SEBENARNYA
291
SESUATU YANG TIDAK BISA DIJELASKAN DENGAN KATA-KATA
292
MEMASUKI ALAM SUKMA
293
MENGUATKAN HATI YANG GELISAH
294
MENGATASI MASALAH TEKANAN BATIN
295
DESA GAIB
296
KETAKUTAN YANG MENYIKSA BATIN
297
MENGGANJAL DI HATI
298
KENANGAN MANIS YANG TAK TERLUPAKAN
299
SUASANA HATI YANG TIDAK KARUAN
300
KEPUTUSAN YANG SANGAT KUAT DARI HATI
301
DAPAT MELIHAT DENGAN JELAS
302
TAKDIR YANG DIJALANI
303
KEGELAPAN YANG MENGUSIK JIWA
304
YANG SEHARUSNYA DILAKUKAN
305
PENCARIAN SUKMA DEWI SUARABUMI
306
HUBUNGAN YANG TERJALIN ERAT
307
PERMOHONAN
308
PERTARUNGAN TIGA SUKMA
309
PASAR KOTA RAJA
310
KENAPA TIDAK BISA MENERIMANYA?
311
AKAR PERMASALAHANNYA
312
HATI YANG INGIN BERONTAK
313
DENGARKAN DENGAN BAIK
314
MASIH ADA HARAPAN
315
MEMPERSIAPKAN DIRI
316
HATI YANG MENENTUKAN
317
TIDAK MUDAH GOYAH
318
APA YANG DICEMASKAN?
319
APAKAH SEMUA ITU BENAR?
320
APA YANG INGIN KAU BUKTIKAN?
321
AKAN AKU TUNJUKKAN SEMUANYA
322
MENGATUR EMOSI JIWA
323
APAKAH MEMANG SEPERTI ITU?
324
MASALAH YANG SANGAT SERIUS
325
KEGELISAHAN YANG MENDALAM
326
PENGLIHATAN YANG TIDAK BIASA
327
PERASAAN HATI YANG TIDAK BISA BERBOHONG
328
KEBENARAN YANG TERSEMBUNYI
329
KEKUATAN YANG DAHSYAT
330
KEJADIAN YANG TIDAK MASUK AKAL
331
MEMIKIRKAN KEMUNGKINAN YANG AKAN DILAKUKAN
332
SIAPA YANG BERANI?
333
GEJOLAK HATI DALAM KEMARAHAN
334
GANASNYA SUASANA HATI RADEN CAKARA CASUGRAHA
335
PERASAAN YANG KUAT SEKALI
336
KETANGGUHAN HATI
337
PERTARUNGAN YANG TIDAK BISA DIHINDARI
338
TERIMA ATAU TIDAK? SEGERA TENTUKAN PILIHANNYA
339
KENAPA MEREKA BISA ADA?
340
KARMA YANG DIDAPATKAN
341
SEHARUSNYA TIDAK SEPERTI INI
342
AMARAH YANG SEMAKIN MEMBUNCAH
343
KEPUTUSAN, DAN MASA LALU
344
JANGAN TANYA KENAPA?
345
MAU MENGUJI KESABARAN KU?
346
MENGERAHKAN SEMUA KEKUATAN
347
HATI YANG TERLUKA
348
KUATKAN HATI SANG PRABU
349
TERHUBUNGNYA PERASAAN MEREKA
350
PERASAAN YANG LEBIH KUAT
351
APA YANG TERJADI SEBENARNYA?
352
TEKAD UNTUK MELAKUKANNYA
353
HARAPAN YANG BAIK
354
LAMARAN DARI DUA PANGERAN?
355
HARUSKAH SEPERTI ITU?
356
ADA YANG TIDAK BERES
357
HATI YANG TERLUKA PARAH
358
KENYATAAN YANG MENYAKITKAN BATIN
359
MENJAGA PERASAAN HATI
360
APAKAH ITU SUDAH TEPAT?
361
ADA YANG DISEMBUNYIKAN?
362
DIA SEORANG RAJA?
363
GEJOLAK AMARAH
364
KASIH SAYANG YANG DALAM
365
SANGAT BERBAHAYA SEKALI
366
MENGERIKAN SEKALI
367
HANYA BISA BERBUAT DEMIKIAN SAJA
368
APA YANG KAU LIHAT?
369
MAU MENGUJI AKU? BOLEH SAJA
370
AKAN AKU TUNJUKKAN KEBENARANNYA
371
KAU MAU APA SEBENARNYA?
372
MASALAH YANG SEAKAN TIADA HENTI

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!