...***...
Hutan Taring Belati Raga.
"Bedebah!." Umpatnya kasar. "Kau benar-benar keras kepala!." Ki Dharma Seta sangat muak, mengapa ia begitu sulit untuk menghadapi pemuda itu?. "Anak ini memang memiliki ilmu kanuragan yang sangat tinggi." Dalam hatinya sangat kesal.
"Sudahlah!." Ucapnya jengkel. "Tidak ada gunanya kalian melawanku!." Jaya Satria terus menghalau serangan mereka. "Sebaiknya kalian menyerah saja!."
Jaya Satria tidak akan kalah begitu saja, meskipun ia sendirian menghadapi mereka. Ia akan bertahan sebisa mungkin, hingga prabu Asmalaraya Arya Ardhana datang ke sini.
"Kalian tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga." Jaya Satria menggunakan jurus andalannya. "Aku akan mengampuni kalian, jika kalian menyerah dengan damai."
"Kau jangan jumawa dulu buruk rupa! Kutu busuk!." Makinya dengan penuh amarah. "Kau pikir kau siapa?." Ia juga menghalangi semua serangan dari Jaya Satria, baik secara fisik, ataupun ilmu Kanuragan. "Berani berkata seperti itu padaku?!." Hatinya semakin panas.
"Sudahlah orang tua." Balas Jaya Satria. "Tubuhmu itu sudah tidak sanggup lagi untuk bertarung."
"Aku lebih suka beradu pukulan." Ki Dharma Seta melompat mundur. "Dari pada aku menyerahkan diri, pada bocah kurang ajar seperti kau!." Amarahnya semakin menjadi-jadi.
"Biarkan kami yang menghadapinya ki." Semara Layana sama sekali, tidak menyukai gaya sombong Jaya Satria. "Kami yang akan membuat dia kerepotan." Ia ingin segera menghajar orang itu dengan tangannya, jika perlu menggunakan pedangnya. "Kami yang akan membuka peluang, supaya kau bisa menyerangnya."
"Kalau begitu lakukan!." Ucapnya. "Biar aku cari cara, agar membebaskan mayang sari."
Ki Dharma Seta mempersilahkan mereka menghadapi Jaya Satria, sedangkan ia mencari cara, agar dapat membebaskan Mayang Sari.
"Aku tidak akan kalah! Dari bocah kurang ajar itu." Dalam hatinya sangat dongkol. "Baru kali ini merasa repot." Ucapnya kesal. "Karena seorang bocah kemarin sore." Grutuknya kesal.
......***......
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana baru saja meninggalkan istana, pergi dengan menggunakan kuda agar cepat sampai di hutan taring belati raga. Sang Prabu tidak mau buang-buang waktu, takut terjadi sesuatu pada Jaya Satria.
"Berhati-hatilah nak, perhatikan langkah nanda." Ratu Dewi Anindyaswari melepaskan kepergian anaknya. Dengan berat hati, ia melepaskan kepergian anaknya. Tapi apalah daya, ia tidak bisa mencegahnya. "Ibunda takut terjadi sesuatu padamu." Tatapan matanya sangat sedih. "Ibunda harap nanda selalu berhati-hati saat berada di luar."
"Ibunda juga berhati-hatilah di istana." Balas Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Nanda telah menugaskan senopati mandala sakuta, untuk menjaga ibunda."
Sementara itu, Raden Ganendra Garjitha, Raden Gentala Giandra, Raden Hadyan Hastanta, dan putri Ambarsari. Sedang mengintip dari kejauhan memperhatikan kepergian prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Rasanya ada yang aneh raka." Raden Gentala memperhatikan penampilan adiknya itu. "Tidak biasanya."
"Benar raka." Responnya. "Mengapa rayi prabu menggunakan? Penutup wajah seperti itu?." Putri Ambarsari merasa curiga.
"Mungkin rayi Prabu tidak ingin." Jawabnya. "Ada satu orang pun yang mengenalinya sebagai seorang raja." Lanjutnya. "Makanya dia menggunakan topeng penutup wajah." Raden Ganendra Garjitha berpendapat mengenai penampilan sang prabu.
"Benar juga raka." Ucapnya setuju. "Akan sangat berbahaya, jika dia pergi dengan mahkota kebesarannya." Raden Hadyan Hastanta setuju dengan pendapat kakaknya. "Ternyata dia cukup pintar juga."
Sepertinya, mereka sangat memerhatikan kepergian Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
Namun disisi lain, Putri Andhini Andita juga mengintai dari kejauhan.
"Rayi Prabu, menggunakan pakaian yang sama." Dalam hatinya. "Dengan orang misterius itu?." Ia mengingat penampilan sosok misterius itu. "Sebenarnya apa yang sedang direncanakan olehnya?."
Putri Andhini Andita juga memperhatikan kepergian Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, hanya saja ia tidak bersama saudara-saudaranya yang lain.
"Apakah dia memiliki hubungan?." Ia kembali berpikir. "Yang sangat dekat dengan orang bertopeng itu? sehingga dia menggunakan pakaian yang sama?." Dalam hatinya bertanya-tanya. "Ya, aku harus mengikutinya diam-diam." Ia bertekad dalam hatinya. "Agar aku mengetahui, apa yang dia lakukan di luar istana?." Putri Andhini Andita telah menguatkan hatinya, ia menekan perasaan ingin tahunya.
Tentang sosok misterius yang bersama adiknya. Ia juga harus berganti pakaian, agar ia tidak dicurigai adiknya jika ketahuan.
...***...
Putri Agniasari Ariani saat ini bersama Rangga Ulung, pemuda yang menawarkan kerja sama untuk membasmi para penjahat, yang telah menebar teror pada penduduk desa agung setia.
"Kita akan memancing mereka satu persatu, rasanya sangat mustahil bagi kita melawan mereka sekaligus."
"Baiklah, aku setuju."
"Kalau begitu, malam ini kita lakukan." Ucapnya. "Aku sangat yakin, mereka akan kembali bergerak ketika malam hari."
"Ya, kalau begitu?." Responnya. "Mari kita lakukan persiapan."
"Ya, tentu saja."
Namun saat itu, ada perasaan yang mengganjal di hati Rangga Ulung.
"Maaf, jika aku berkata tidak sopan." Ia berucap dengan hati-hati. "Entah kenapa? Ketika melihat nini?." Ucapnya sambil memperhatikan penampilan Putri Agniasari Ariani. "Rasanya aku melihat mendiang Gusti Prabu kawiswara arya ragnala, dalam sosok wanita, pada nini" Ucapannya agak ragu. "Apakah nini? Anak perempuan Gusti Prabu kawiswara arya ragnala?."
Deg!.
Putri Agniasari Ariani terkejut mendengarnya, apakah ia akan berkata dengan jujur?.
"Apakah? Di matamu saat ini?." Balasnya. "Aku mirip dengan mendiang Gusti Prabu kawiswara arya ragnala?." Putri Agniasari Ariani mencoba menekan perasaan itu.
"Ya, sangat mirip." Jawabnya sambil menganggukkan kepalanya. "Entah itu dari wajahnya, cara berbicara." Lanjutnya. "Dan sikap Gusti Prabu yang tidak terburu-buru dalam bertindak." Ucapannya dengan senyuman ramah.
Deg!.
Tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja, membuat Rangga Ulung terkejut melihat itu.
"Ternyata? Kau mengenal ayahandaku sedekat itu? Luar biasa sekali." Putri Agniasari Ariani menghapus air matanya.
"Jadi benar?." Responnya. "Nini adalah putri dari? Mendiang Gusti Prabu kawiswara arya ragnala?."
"Ya." Jawabnya. "Tapi rahasiakan dari yang lainnya, dari penduduk desa ini."
"Baiklah Gusti Putri." Rangga Ulung memberi hormat.
...***...
Ratu Dewi Anindyaswari saat itu merasa sangat gelisah, hatinya bergemuruh hebat, ketika memikirkan keselamatan anaknya.
"Putraku, ibunda sangat senang ketika nanda kembali ke istana ini." Ratu Dewi Anindyaswari mengingat bagaimana perasaan suasana hatinya ketika kembali ke istana ini. "Bahkan ibunda sangat bahagia, ketika nanda dinobatkan sebagai Raja, menggantikan ayahandamu." Perasaan itu kembali membuncah. "Namun saat ini? Ibunda sangat cemas akan keselamatan nanda." Air matanya mengalir begitu saja, membasahi pipinya.
"Tenanglah dinda dewi." Suara lembut itu berasal dari Sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala. "Putra kita akan baik-baik saja, percayalah."
"Kanda Prabu?." Ratu Dewi Anindyaswari terkejut ketika melihat sosok Prabu Kawiswara Arya Ragnala.
"Dinda tenang saja, jangan khawatir akan keselamatan putra kita." Sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala tersenyum lembut menatap istrinya.
"Bagaimana mungkin? Dinda bisa tenang kanda?." Hatinya semakin gelisah. "Putra kita, nanda cakara casugraha akan menghadapi bahaya." Ratu Dewi Anindyaswari mencoba menghapus air matanya. "Dinda tidak bisa tenang sama sekali kanda."
"Dinda dewi." Sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala menyebut nama istrinya. "Kecemasan yang dinda rasakan? Itu hanya akan membuat putra kita tidak tenang sama sekali dalam melangkah." Sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala mencoba menenangkan Ratu Dewi Anindyaswari. "Percayalah pada takdir baik." Sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala memeluk istrinya. "Yang akan dilalui oleh putra kita, nanda cakara casugraha."
"Oh? Kanda Prabu." Ratu Dewi Anindyaswari hanya bisa menahan gejolak di hatinya, ketika mendengarkan ucapan itu. "Dinda mohon, agar kanda Prabu menjaga putra kita." Hatinya bergetar sakit. "Jangan biarkan orang jahat menyakitinya kanda." Hanya itu saja harapan Ratu Dewi Anindyaswari.
...***...
Jaya Satria akhirnya terpojok, disaat itulah Ki Dharma Seta berhasil membebaskan Mayang Sari. ia juga membebaskan Mayang Sari dari totokan, yang membuat anak buahnya itu tidak bisa bergerak.
"Kegh!." Jaya Satria meringis, ia hampir saja lupa cara bernafas, karena serangan yang mereka lakukan, hampir saja mengancam keselamatan nyawanya.
"Terima kasih, karena aki telah membebaskan aku." Mayang Sari sangat senang karena terbebas. Ia merasa lega, karena terlalu lama berada di hutan taring belati raga.
"Jangan kau pikir, pertarungan ini berakhir!." Amarahnya masih meledak. "Setelah aku membebaskan anak buahku anak muda."
Tampaknya Ki Dharma Seta masih dendam pada Jaya Satria yang telah menahan anak buahnya.
"Urusan kita belum selesai!." Tegasnya. "Sebelum aku membunuhmu!." Tunjuknya ke arah Jaya Satria. "Karena kau telah menginjak harga diriku!." Hatinya tidak terima sama sekali. "Yang tidak becus mengurus anak buah." Amarahnya masih tidak bisa ia tahan ketika melihat keadaan Jaya Satria.
Sementara itu, Jaya Satria mengatur hawa murninya. Agak kesal juga memang, karena tahanannya berhasil dibebaskan.
"Aku juga tidak akan membiarkan, kalian pergi dari sini." Jaya Satria telah siaga. "Akan aku pastikan, kalian membalas apa telah kalian lakukan." Jaya Satria balik mengancam mereka. "Kalian telah melakukan kejahatan, di wilayah leluhur Gusti Prabu bahuwirya jayantaka byakta." Hatinya juga memanas. "Dan kalian harus membayarnya dengan nyawa kalian." Jaya Satria tidak takut sama sekali dengan ancaman mereka.
"Kita harus mengerahkan kembali, ilmu kanuragan kita." Ucapnya. "Agar benar-benar dapat melumpuhkan orang itu ki." Narumi Putih memberi saran pada ketuanya.
Ia melihat kondisi Jaya Satria yang mulai melemah. Apalagi saat ini dadanya terasa sakit, begitu juga dengan tenaganya yang mulai melemah.
"Benar yang dikatakan nimas narumi putih." Responnya. "Jika begini terus? Kita yang akan dihabisi oleh orang itu." Raksa Bumi setuju, dengan apa yang dikatakan oleh Narumi Putih.
"Ya, kita tidak bisa berlama-lama di sini." Ki Dharma Seta setuju dengan usulan mereka.
Ia juga tidak bisa berlama-lama karena hutan ini sebenarnya bukan hutan yang baik untuk mereka.
"Aku juga akan membantu." Hatinya ikut panas. "Aku sangat kesal, karena disandera orang buruk seperti dia!."
Mayang Sari yang baru saja terbebas, tidak mungkin berdiam diri saja kan?. Pastinya ia memiliki tenaga dalam yang masih banyak. Jadi ia bisa menambah kekuatan mereka.
Lagi-lagi mereka mengerahkan tenaga dalam mereka, untuk menghadapi Jaya Satria. Namun ketika mereka hendak menyerang Jaya Satria. Tiba-tiba ada sosok berpakaian hitam, menyambar tubuh Jaya Satria.
...***...
Sementara itu di sisi lainnya.
Aki Jarah Setandan hampir saja memasuki perbatasan kerajaan Suka Damai, namun saat itu ia mengenali seseorang yang tampak terburu-buru berjalan memasuki kawasan itu.
"Sampurasun."
"Rampes." Syekh Asmawan Mulia membalikkan badannya, melihat ke arah belakangnya. "Kakang jarah setandan?."
"Adi Syekh? Mau ke mana?." Ia terlihat heran. "Kenapa terburu-buru seperti itu?."
Syekh Asmawan Mulia tampak berpikir, apakah ia harus menjawabnya.
"Begini kakang." Jawabnya. "Aku mendapatkan perintah dari sukma Gusti Prabu kawiswara arya ragnala." Jawabnya sambil mendekati Aki Jarah Setandan. "Gusti Prabu meminta aku membantu nanda cakara casugraha, yang akan bertarung di hutan taring belati."
"Jadi adi Syekh?." Balasnya. "Juga mendapatkan perintah dari Gusti Prabu kawiswara arya ragnala?."
"Benar kakang." Jawabnya. "Mari kita lanjutkan perjalanan kalau begitu kakang."
"Mari adi Syekh."
Keduanya kembali melanjutkan perjalanan.
"Sepertinya pertarungan yang akan dihadapi nanda cakara casugraha sangat berat, sehingga Gusti Prabu kawiswara arya ragnala meminta bantuan kita."
"Aku rasa itu benar adi, kita harus segera sampai ke sana."
"Baiklah kakang."
Dengan langkah yang cepat, Syekh Asmawan Mulia, dan Aki Jarah Setandan menuju hutan Taring Belati Raga. Apakah mereka akan sempat bertemu, dan membantu Jaya Satria?. Simak terus cerita.
...***...
Hutan Taring Belati Raga.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana ternyata yang menolong Jaya Satria.
Deg!.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh, Gusti Prabu." Balas Jaya Satria, ia menghela nafasnya dengan lega.
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin, akhirnya Gusti Prabu sampai juga." Jaya Satria memberi hormat sambil memperhatikan prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga memakai pakaian yang sama persis dengan dirinya.
"Maafkan aku agak lama." Ucapnya sang Prabu. "Di perjalanan tadi? Ada sedikit gangguan." Lanjut sang Prabu. "Dan aku harus menghadapi mereka sebentar."
"Tidak apa-apa Gusti." Balas Jaya Satria. "Sepertinya Gusti Prabu, juga mengalami apa yang hamba alami." Jaya Satria juga tidak bisa menyalahkan keterlambatan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, akan tetapi kondisi yang menjebaknya.
"Bagus!." Ucapnya. "Kau juga datang untuk mengantarkan nyawamu kepada kami." Ki Dharma Seta melihat kedatangan orang yang menolong temannya itu?.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana maju beberapa langkah.
"Akan aku bunuh kalian berdua di sini." Sorot matanya tidak bersahabat.
"Selain pengecut, kalian juga bermulut besar." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana melihat penampilan mereka yang hampir kacau, akibat pertarungan dengan Jaya Satria.
Sang Prabu telah mengetahui, alasan mengapa kondisinya juga ikut terluka?. Itu karena Jaya Satria dikeroyok pendekar jahat seperti mereka.
"Main keroyokan, aku rasa kalian memang cocok." Ucap Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengamati mereka. "Disebut sebagai pendekar rendahan, yang hanya bisa membantai orang lemah saja."
"Kau!."
Mereka semua sangat emosi mendengarkan ucapan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Jahanam busuk!." Makinya kasar. "Berani sekali kau berkata seperti itu pada kami?." Hatinya tersulut oleh amarah. "Rupanya kau juga ingin segera pindah alam!." Raksa Bumi sangat marah dan kesal, ia tidak terima ucapan itu.
"Tidak perlu banyak bicara kau orang asing, dan orang bertopeng." Balasnya. "Buktikan saja dengan ilmu yang kau miliki."
"Berapa banyak pun orang seperti kalian? Akan kami hadapi di gelanggang pertarungan!."
"Aku akan membalas perbuatanmu, karena kau telah berani menyandera ku!." Hatinya juga panas. "Berani sekali kau menyiksa aku!."
"Majulah!." Balasnya. "Jika kalian pendekar yang berani? Jangan main keroyokan." Jaya Satria menantang mereka agar bertarung secara sehat, beraninya mereka main keroyokan.
"Tanpa kau minta, kami semua akan maju meringkus kalian berdua." Ki Dharma Seta tersenyum lebar, ia memandang rendah terhadap keduanya.
...***...
Sebuah tempat.
"Bagaimana menurut pengamatan kalian?." Ia meminta saran pada mereka. "Apakah benar? Mereka masih berada di hutan rindu jati?."
Saat itu Putri Agniasari Ariani dibawa ke rumah kepala Desa.
"Ya, mereka masih betah berada di sana."
"Lantas? Apa yang akan kau lakukan rangga ulung?." Putri Agniasari Ariani menatap rekannya. "Bukankah? Kau juga membantu mendiang Gusti Prabu kawiswara arya ragnala? Dalam menumpas mereka?."
"Ya, begitulah yang terjadi."
"Mereka sangat meresahkan sekali." Jawabnya. "Apakah tidak ada pekerjaan? Yang bermanfaat selain membunuh orang?." Kepala desa Sareh Dipa terlihat sangat takut.
"Jika mereka manusia normal?." Responnya. "Yang berpikiran baik seperti kita ini?." Lanjutnya. "Maka desa ini akan kembali aman." Rangga Ulung tampak kesal. "Namun sayangnya." Ucapnya dengan aneh. "Mereka tidak bisa kita sebut normal." Lanjutnya. "Sehingga mereka melakukan perbuatan keji."
"Untuk itulah, kita sebagai pendekar." Balas Putri Agniasari Ariani. "Yang memiliki niat baik terlahir ke dunia ini." Putri Agniasari Ariani menatap mereka dengan sangat serius. "Tentu saja untuk menumpas kejahatan yang mereka perbuat."
"Nini benar, kita harus menumpas orang-orang jahat seperti mereka."
"Kalau begitu? Aku mohon bantuan pada kalian." Ia memberi hormat. "Kasihan penduduk desa ini, jika mereka terus bergerak." Kepala desa Sareh Dipa hanya bisa berharap saja. "Dan menebarkan kejahatan yang sangat merugikan.
"Tuan tenang saja, malam ini kami akan segera bergerak." Dengan cepat Rangga Ulung menanggapinya. "Namun sebelum itu? Sampaikan kepada penduduk desa, agar tidak keluar malam ini."
"Baiklah, aku akan mengumumkan berita ini pada penduduk desa."
"Kami juga akan membantu."
"Terima kasih aku ucapkan pada kalian."
Setelah itu mereka segera bergerak, tentu saja melakukan hal penting untuk melindungi penduduk desa, dari ancaman marabahaya.
...***...
Di bilik Ratu Gendhis Cendrawati dan Ratu Ardningrum Bintari.
"Sebenarnya aku sangat muak pada mereka." Ungkapnya. "Bagaimana bisa? Anak terkutuk itu menjadi Raja?."
"Yunda benar." Ucapnya setuju. "Aku rasa mereka memang telah mempersiapkan ini semua." Lanjutnya. "Saat kanda Prabu pergi ke kerajaan kegelapan."
"Ya, kau benar rayi." Ia membenarkan ucapan itu. "Aku sangat yakin sekali." Hatinya terasa panas. "Jika kematian kanda Prabu? Itu dibunuh oleh cakara casugraha."
"Kenapa yunda berpikir?." Ucapnya heran. "Bahwa cakara casugraha? Yang telah membunuh kanda Prabu?."
"Apakah kau tidak berpikir rayi?." Jawabnya. "Kanda Prabu bukanlah orang yang lemah, kanda Prabu adalah orang yang kuat." Ucapnya dengan perasaan yang membuncah. "Bagaimana mungkin? Ketika cakara casugraha keluar dari bilik kanda Prabu?." Hatinya heran. "Dia mengabarkan? Bahwa kanda Prabu tiada?." Keningnya tampak mengkerut ketika mengucapkan kalimat itu. "Apakah menurutmu? Itu bukanlah suatu kesalahan?." Ucapannya seakan-akan memberikan patik api pada Ratu Gendhis Cendrawati. "Aku sangat yakin dia yang telah membunuh kanda Prabu, dia yang ingin berkuasa di kerajaan ini."
"Yunda benar." Tanggapnya. "Tapi? Alasan pastinya seperti apan?." Ratu Gendhis Cendrawati masih berpikir. "Kenapa cakara casugraha melakukan itu?."
"Aku sangat yakin, itu adalah bentuk balas dendamnya pada kanda Prabu." Jawabnya. "Karena kanda Prabu, telah memberikan hukuman buang padanya." Lanjutnya. "Itulah alasan, kenapa? Ia membunuh kanda Prabu." Pikirannya sedang membayangkan kejadian itu. "Saat kanda Prabu, dalam keadaan melemah."
"Ya, itu masuk akal juga yunda."
"Dia benar-benar lebih biadab!." Umpatnya penuh amarah. "Dari apa yang kita pikirkan."
Suasana hari mereka saat itu hanya diisi oleh perasaan curiga pada Raden Cakara Casugraha, pikiran buruk atas apa yang telah terjadi.
...***...
Hutan Taring Belati Raga.
"Kalian semua hadapi yang baru datang." Perintahnya. "Sementara aku akan berhadapan dengan yang satunya."
"Baik ki!."
Mereka menjawab perintah ketua mereka. Setelah itu, mereka mulai menyerang Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Sekarang kita bertarung satu lawan satu." Ki Dharma Seta menyeringai lebar, ia begitu berambisi untuk membunuh Jaya Satria saat ini.
"Tidak usah banyak bicara, maju saja!." Jaya Satri tidak perlu berbasa-basi lagi, dan pertarungan diantara keduanya dimulai.
Ki Dharma mulai menyerang dengan jurus-jurusnya. Ia menyerang Jaya Satria dengan beberapa pukulan, tatapi Jaya Satria berhasil menepisnya.
Mereka melompat ke sana kemari untuk menyerang satu sama lain. Terkadang mereka terkena pukulan atau hantaman, namun belum juga membuat mereka jatuh.
Sementara itu, Prabu Asmalaraya Arya melawan anak buah Ki Dharma Seta. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menghadapi serangan mereka dengan cekatan, bahkan mereka terkena pukulan dari sang Prabu.
"Kurang ajar!." Umpatnya dengan penuh amarah. "Ternyata dia tidak bisa kita remehkan begitu saja." Raksa Bumi merasa kesal karena terkena hantaman dari sang prabu.
"Dia tidak bisa kita anggap remeh." Sambungnya. "Kalau begitu ayo kita hajar dia! Dengan jurus auman macan berburu mangsa." Narumi Putih menyarankan mereka agar menggunakan jurus itu untuk meluluhkan orang itu.
"Benar juga." Responnya. "Ayo kita hadapi dia dengan jurus itu." Semara Layana setuju dengan ide temannya, dan mereka semua mulai memainkan jurus auman macan berburu mangsa.
"Bismillahirrahmanirrahim." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga tidak tinggal diam. Sang Prabu juga menggunakan jurus andalannya.
"Setan belang!." Umpatnya kasar. "Setan bodong!." Umpatnya lagi. "Bagaimana mungkin? Dia menguasai jurus cakar naga cakar petir?."
Ki Dharma Seta yang tadinya fokus berhadapan dengan Jaya Satria terkejut, melihat gerakan jurus yang dimainkan oleh prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Heh!." Jaya Satria mendengus kesal. "Kau tidak perlu terkejut seperti itu." Ia melirik ke arah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Bahkan aku pun juga bisa melakukannya." Ia menyeringai lebar. "Jika kau ingin merasakan jurus itu."
Jaya Satri juga memainkan jurus yang sama, dengan jurus Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Bedebah! Jurus itu-." Ki Dharma Seta sangat geram, mendengarkan perkataan Jaya Satria. "Bagaimana mungkin? Mereka memiliki jurus cakar naga cakar petir?." Dalam hati Ki Dharma Seta sangat bingung. "Bukankah? Seharusnya jurus itu telah musnah?."
Ya, jurus itu seharusnya memang telah musnah, tapi Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria memiliki jurus itu.
"Akan aku gunakan, jurus pukulan tapak dewa kematian." Ya, hanya jurus itu rasanya yang dapat ia gunakan untuk menghadapi jurus itu.
"Cakar ku cakar naga, cakar naga yang menghasilkan aliran petir." Ucap Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria. "Jadilah naga petir, dengan kekuatan cakar naga petir yang dahsyat."
Keduanya mengulang gerakan jurus itu merapalkan mantra yang terkandung dari jurus itu. Seketika ada aura petir yang membentuk naga petir. Dentuman suara petir yang memekakkan telinga, hingga membuat suasana hutan taring belati raga terasa seram.
Tak membuang waktu Narumi Putih maju duluan, ia menyerang Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Namun serangannya dapat dipatahkan dengan mudah, malahan wanita itu terkena jurus itu, bahu kirinya terkena cakaran Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Aura naga petir itu menyambar bahu kiri Narumi Putih, hingga wanita itu berteriak kesakitan, ia tidak bisa menahan sengatan naga petir itu.
...***...
Ratu Dewi Anindyaswari semakin merasakan kegelisahan yang tiada hentinya, hatinya masih dipenuhi oleh pikiran tentang keadaan putranya.
"Apa yang harus aku lakukan?." Dalam hatinya sangat bingung. "Walaupun kanda Prabu telah mengatakan, jika aku harus tenang." Dalam hatinya merasakan sesak.
"Ibunda dewi anindyaswari."
"Ananda putri ambarsari?. Nanda nanda ganendra garjhita?."
Ratu Dewi Anindyaswari tidak menduga, jika Putri Ambarsari dan Raden Ganendra Garjitha berani memasuki kawasan istana selatan?.
"Apa yang nanda berdua lakukan di sini?." Ratu Dewi Anindyaswari mencoba bersikap tenang.
"Itu tidak penting ibunda." Jawabnya ketus. "Aku hanya ingin memastikan, bahwa kau tidak menangis darah saat ini."
"Ya, kami hanya memastikan itu saja." Sambungnya. "Karena kasihan." Ucapnya dengan nada mengejek. "Jika istana selatan ini akan berubah warna merah." Lanjutnya. "Karena tangisanmu dewi anindyaswari, atas kematian anakmu."
"Oh? Tega sekali kalian berkata seperti itu?." Ratu Dewi Anindyaswari semakin sedih mendengarnya.
"Heh!." Ia mendengus kesal. "Tidak usah merasa teraniaya seperti itu." Ucapnya jengkel. "Kau hanya menunggu kenyataan saja."
"Cukup!." Bentaknya keras. "Sebaiknya kalian pergi saja!."
"Hahahaha!."
Keduanya malah tertawa keras ketika mendengarkan suara putus asa dari Ratu Dewi Anindyaswari.
"Tunggu saja kabar itu." Ucapnya dari jarak yang agak jauh. "Aku sangat yakin, kau akan mati berdiri setelah ini."
"Mari kita pergi raka, hahaha!."
Setelah merasa puas? Mereka pergi meninggalkan tempat itu.
"Oh? Dewata yang agung?." Hatinya semakin pedih. "Hamba mohon, lindungilah putra hamba dari marabahaya." Dalam hati Ratu Dewi Anindyaswari semakin dipenuhi ketakutan yang sangat luar biasa. "Nanda cakara casugraha, kembalilah dengan selamat nak." Kembali air matanya mengalir begitu saja, hatinya semakin dipenuhi oleh ketakutan tentang keselamatan anaknya.
...***...
Desa Damai Serikat.
Syekh Asmawan Mulia dan Aki Jarah Setandan telah sampai di sana, cukup memakan waktu bagi mereka sampai di desa itu.
"Sebentar lagi kakang, kita akan sampai di hutan taring belati."
"Adi benar."
"Semoga saja kita tidak terlambat kakang."
"Ya, berdoa saja seperti itu adi Syekh."
Syekh Asmawan Mulia dan Aki Jarah tentunya sangat cemas akan keselamatan Raden Cakara Casugraha, hati keduanya sangat tidak tenang sama sekali.
"Nanda cakara casugraha, bertahan lah, jika memang nanda sedang bertarung saat ini." Dalam hati Syekh Asmawan Mulia sangat berharap. "Aku hanya bisa berdoa keselamatan untukmu." Dalam hatinya lagi.
...***...
Hutan Taring Belati.
"Eqhak!."
Teriakan keras terdengar dari mulut wanita itu, dan ia jatuh tak berdaya di tanah. Keadaan tubuhnya setengah gosong, setelah itu ia tidak bergerak lagi. Mereka terkejut melihat Narumi Putih yang sangat mengenaskan.
"Nimas!." Raksa Bumi terkejut melihat keadaan Narumi Putih, hatinya terasa sakit menyaksikan itu, dan amarah pun telah menguasai dirinya.
Tanpa pikir panjang lagi ia langsung menyerang Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Sayangnya ia mengalami hal yang serupa dengan kekasihnya itu.
Dari jarak jauh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menyalurkan tenaga dalamnya, menghantam dada Raksa Bumi. Aura naga petir itu seakan menembus dadanya. Hingga langkahnya terhenti dan ia berteriak kesakitan karena kekuatan dahsyat menghantam tubuhnya.
"Raksa bumi!." Semara Layana dan Mayang sari tidak percaya dengan apa yang mereka lihat, kedua temannya sudah berhasil dibunuh oleh orang itu?.
Ada rasa takut dalam diri mereka setelah melihat itu?. Ki Dharma Seta yang sedang beradu kekuatan dengan Satria merasa marah, karena dua anak buahnya sudah terbunuh. Ia akui jurus itu memang berbahaya, dan ia sendiri tidak tahu cara menghadapi jurus itu.
"Itu adalah balasan setimpal." Ucapnya. "Dengan apa yang mereka lakukan, terhadap rakyat suka damai." Jaya Satria yang masih gencar menyerang Ki Dharma Seta, tidak akan ia biarkan lelaki itu ikut campur, atau mencoba membantu kedua anak buahnya.
"Bedah busuk!." Makinya keras. "Kau tidak usah banyak bicara!." Ki Dharma Seta sangat kesal, ia tidak bisa bebas dari Jaya Satria. Jika ia lengah, bisa saja Jaya Satria membunuhnya dengan jurus cakar naga cakar petir.
"Aku tidak akan segan-segan lagi." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menyeringai lebar. "Karena perbuatan kalian sudah melampaui batas."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana melihat ke arah mereka berdua, yang sudah mulai tampak ketakutan. Tidak ada jawaban dari mereka, karena mulut mereka seakan terkunci.
Ki Dharma Seta yang terpojok merasa geram, ia tidak bisa berpikir jernih lagi. Ketika melihat kedua anak buahnya yang tersisa tidak bisa bergerak, karena takut dengan jurus itu
"Apa yang harus aku lakukan?." Dalam hatinya merasa gusar, hampir saja ia terkena sambaran jurus itu.
Jika saja ia tidak menyadari serangan itu datang padanya. Ia masih sempat menghindarinya dengan melompat ke belakang.
"Bedebah!." Umpatnya lagi. "Beraninya kau menyerangku!."
Ki Dharma Seta terlihat sangat marah. Namun kemarahan itu semakin besar, ketika prabu Asmalaraya Arya Ardhana menyerang kedua anak buahnya. Dengan menggunakan pukulan telapak dewa, dan mengarahkan pukulan itu ke arah prabu Asmalaraya Arya Ardhana, ia untuk menyerangnya.
"Tidak akan aku biarkan kau melakukannya!." Sedangkan Jaya Satria yang menyadari itu juga mengarahkan jurus cakar naga cakar petir ke arah Ki Dharma Seta, mereka saling menyerang satu sama lain.
"Marilah kau setan!."
Apakah yang akan terjadi pada prabu Asmalaraya Arya Ardhana?. Apakah serangan itu mengenai tubuhnya?. Temukan jawabannya dicerita berikutnya. Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya. Agar author yang tidak berwujud ini semangat lanjutin ceritanya. Salam jejak buat pembaca tercinta.
Next.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 372 Episodes
Comments
Anonymous
lanjut bunuh para penjahat
2024-09-03
0
SoVay
tapi buku barunya masih 3 bab
2021-12-18
1