...***...
Di Telaga Warna Bidadari.
Dua orang pendekar sedang bertarung, mengadu ilmu Kanuragan yang mereka miliki. Kekuatan yang mereka miliki seimbang. Gerakan mereka sungguh cepat, hampir tidak dapat ditangkap mata biasa.
"Hentikan nini!."
Suara lelaki itu terdengar sangat keras, ia menghentikan jurusnya. Mencegah pertarungan lebih lama lagi.
"Ada apa kakang?." Ia tersenyum lebar. "Apa kau sudah mulai merasa tua?." Ejeknya. "Hingga tidak mau bertarung denganku lagi?."
Seorang wanita empat puluh tahunan, namun wajahnya masih cantik, anggun, memikat siapa saja yang melihatnya, termasuk Ki Dharma Seta.
"Aku datang kemari bukan untuk bertarung denganmu nini." Ki Dharma Seta mencoba menenangkan dirinya. "Tidak perlu terbawa nafsu menyerangku seperti itu." Raut wajahnya terlihat sangat kesal.
"Lalu? Ada keperluan apa kakang kemari?." Nini Kabut Bidadari mendekati Ki Dharma Seta yang terlihat gelisah. "Apakah kakang ingin mengajak aku? Membangun rumah tangga yang harmonis?." Suaranya terdengar sangat menggoda.
"Hush! Jangan ngawur kau nini!." Ia terlihat semakin kesal.
"Hahaha!." Ia malah tertawa keras.
"Aku ingin meminta bantuan darimu nini." Ki Dharma Seta mengetuk kepala wanita itu dengan kesalnya.
"Ho?." Responnya. "Suatu kebanggaan bagiku, dapat membantumu kakang." Senyumannya terlihat semakin manis, ia mengabaikan kepalanya yang sedikit berdenyut karena ketukan itu.
"Hm." Ki Dharma Seta menghela nafas pelan.
"Katakan saja, apa yang kakang inginkan?." Ia bersemangat. "Dengan senang hati aku akan menurutinya." Nini kabut Bidadari tersenyum lebar mendengar itu.
"Semangat sekali." Dalam hati Ki Dharma Seta heran.
"Kali ini bantuan apalagi? Yang diinginkan oleh kekasihku ini?." Dalam hatinya merasa berdebar-debar.
"Hufh!." Ki Dharma Seta menghela nafasnya. "Apakah kau tidak mempersilahkan aku masuk? Ke istana mu ini?."
"Kalau begitu ayo masuk ke istana ku ini kakang." Sambutnya. "Aku akan menyajikan beberapa makanan enak kesukaanmu kakang." Ia semakin bersemangat. "Mari kakang." Nini kabut Bidadari mempersilahkan Ki Dharma Seta mampir ke pondoknya. Rasanya sudah lama ia tidak menyambut kedatangan lelaki itu.
"Terima kasih nini." Ki Dharma Seta merasa lega karena Nini Kabut Bidadari masih mau menerima kedatangannya. "Apakah dia memang cinta padaku atau apa?." Dalam hatinya heran. "Rasanya aku yang tua ini, tidak terlalu berharap." Dalam hatinya masih ragu dengan perasaanya pada wanita yang sangat mencintainya itu.
"Tidak perlu sungkan kakang." Balasnya dengan senyuman ramah. "Aku selalu menunggu mu datang ke sini." Dalam hatinya sangat senang.
Saat berada di dalam pondok.
"Memangnya masalah apa kakang?." Ucapnya heran. "Tidak biasanya kakang datang, dengan raut wajah kusut seperti itu." Ia mengambil beberapa makanan yang telah ia siapkan.
"Salah satu anak buahku tertangkap." Jawabnya kesal. "Oleh orang yang tidak aku ketahui dia siapa." Raut wajah cemas yang belum pernah dilihat oleh Nini kabut Bidadari, membuat wanita itu penasaran.
"Tertangkap?." Ulangnya. "Bodoh sekali dia itu." Ia menyajikannya dengan baik makanan itu. "Kalau aku? Ya aku biarkan saja."
"Ini masalah harga diri." Balasnya. "Karena aku tidak becus mengurus anak buah." Ia mengambil minuman yang disodorkan Nini Kabut Bidadari.
"Lalu? Apa yang harus aku lakukan kakang?." Senyuman manis kembali terpampang di wajahnya. "Tidak biasanya, kau tidak dapat melakukan penerawangan." Ia merasa heran.
Belum ada respon dari Ki Dharma Seta.
"Apakah ilmu kanuraganmu sudah mulai pudar?." Godanya. "Karena uban yang sudah mulai tumbuh dirambutmu kakang?."
Nini kabut bidadari masih sempat bercanda di saat seperti ini?. Jika saja Nini kabut Bidadari bukan wanita yang ia sukainya?. Pastilah Ki Dharma Seta telah menghajarnya karena lancang berkata seperti itu padanya.
"Aku sedang berbicara serius nini." Ki Dharma Seta menatap tajam pada wanita setengah baya itu.
"Hahaha!." Ia malah tertawa tanpa perasaan takut.
"Jika aku mampu melakukannya? Maka aku tidak akan datang menemuimu." Ki Dharma Seta nampaknya kesal, ia membuang muka. Tidak ingin menatap mata Nini kabut Bidadari.
"Hehehe!." Kali ini malah cengengesan. "Maafkan aku kakang, aku hanya bercanda." Ia hanya bisa tertawa saja. "Jangan terbawa suasana dulu." Nini Kabut Bidadari tertawa kecil, ia suka sekali menjahili Ki Dharma Seta. Sudah lama juga ia tidak melihat lelaki ini, laki-laki yang datang ketika keperluan mendesak.
Namun Ki Dharma hanya diam saja, ia tidak menanggapinya. Ia tidak menyangka bahwa Nini Kabut Bidadari masih memiliki jiwa jahil. Masih seperti dulu, suka mengerjainya. Kadang hatinya yang keras bertanya bagaimana bisa diluluhkan oleh wanita pemikat ini?.
"Kalau begitu." Ucapnya pelan. "Mari kita ke telaga warna bidadari." Ia merangkul lengan Ki Dharma Seta. "Aku akan melakukan penerawangan di sana."
Tanpa membuang waktu Nini Kabut Bidadari langsung mengajak Ki Dharma Seta menuju Telaga Warna Bidadari, ia ingin melihat penerawangan di sana.
Saat mereka sampai di sana, Nini Kabut Bidadari langsung berdiri di atas air telaga itu. Sementara itu Ki Dharma Seta berdiri di pinggir telaga tersebut.
"Katakan padaku." Ucapnya. "Bagaimana ciri-ciri orang itu?." Lanjutnya. "Agar aku bisa menerawangnya, supaya mudah melakukan pencarian, kakang"
"Kalau tidak salah, dia menggunakan topeng penutup wajah." Ia mencoba mengingatnya. "Menggunakan pakaian serba hitam, serba hitam pokoknya." Lanjutnya. "Dan dia masih muda." Ki Dharma Seta nampak berpikir.
"Apakah hanya itu saja?." Semakin heran. "Itu sangat aneh sekali."
"Hanya itu saja yang aku ketahui dari anak buahku." Balas Ki Dharma Seta.
Ia tidak mengetahui dengan pasti, karena ia memang tidak bisa melakukan penerawangan dengan jelas.
"Akan aku coba kakang." Ia mengganti air telaga bidadari dengan jeli. "Semoga saja aku bisa menemukannya meskipun keterangannya agak sulit."
"Aku yakin kau bisa melakukannya nini."
Kedua pipi Nini Kabut Bidadari memerah mendengarkan kalimat pujian itu. "Jika kau berkata seperti itu, maka akan aku lakukan."
...****...
Di lingkungan Istana.
Di bilik Raden Hadyan Hastanta.
Sepertinya keadaan Raden Hadyan Hastanta sudah terlihat baik-baik saja.
"Bagaimana keadaanmu rayi? Apakah kau sudah baikan?." Raden Ganendra Garjitha begitu perhatian pada Raden Hadyan Hastanta.
Ia duduk di samping kanan Raden Hadyan Hastanta, sementara itu Raden Gentala berdiri di belakang kakaknya. Sedangkan Ratu Gendhis Cendrawati dan Ratu Ardiningrum Bintari duduk di sebelah kiri ranjang Raden Hadyan Hastanta.
"Aku baik-baik saja raka, aku tidak merasakan sakit lagi." Jawab Raden Hadyan tersenyum kecil. "Terima kasih, telah datang menjenguk aku."
"Syukurlah putraku." Ucap Ratu Ardiningrum Bintari. "Nanda hadyan hastanta, ibunda lega mendengarnya." Ratu Ardiningrum Bintari tersenyum kecil, menatap Raden Hadyan Hastanta. Mereka terlihat sangat akur di dalam istana.
"Terima kasih ibunda Ratu." Ucapnya sambil memberi hormat. "Telah mengkhawatirkan keadaan nanda."
"Tapi aku penasaran." Ucapnya heran. "Mengapa rayi hadyan hastanta? Bisa terkena jarum beracun?." Ia tampak berpikir. "Siapa yang telah berani mencelakaimu rayi?." Raden Ganendra Garjitha begitu penasaran.
"Benar rayi." Sambungnya. "Memangnya apa yang kau lakukan saat itu?." Ucapnya heran. "Katakan pada rakamu ini, mungkin aku bisa mencari orangnya."
"Saat itu aku sedang berjalan-jalan keluar istana." Jawabnya. "Aku ingin melihat suasana luar." Lanjutnya. "Tapi aku dihadang oleh kawanan perampok." Raden Hadyan Hastanta mencoba untuk mengingatnya.
"Kawanan rampok?."
Mereka benar-benar terkejut mendengarnya.
"Bagaimana mungkin? Ada rampok di kawasan kerajaan suka damai?."
"Ini aneh sekali."
"Lantas? Apa yang terjadi saat itu?."
"Aku berhadapan dengan mereka." Jawabnya. "Yang saat itu hendak merampok aku."
"Kau menghadapi mereka sendirian?."
"Benar raka."
"Apakah karena itu? Kau terluka?."
"Awalnya aku berhasil menghajar mereka." Jawabnya. "Tapi, pasukan mereka semakin banyak." Lanjutnya. "Saat itu aku lengah, dan terkena serangan beracun itu."
Deg!.
Mereka benar-benar terkejut mendengar ucapan Raden Hadyan Hastanta.
"Lalu? Apa yang terjadi padamu setelah itu, putraku?." Ratu Gendhis Cendrawati begitu terlihat cemas, ia mencemaskan putranya meskipun kejadian itu sudah berlalu.
"Saat aku sedang kesakitan." Jawabnya. "Tiba-tiba aku melihat ada orang misterius, yang datang menolongku." Raden Hadyan Hastanta masih ingat.
Mereka semua menyimak dengan baik apa yang telah dijelaskan oleh Raden Hadyan Hastanta.
...***...
Masih di lingkungan Istana.
Di kaputren tempat anak-anak perempuan, dan permaisuri raja tinggal.
"Kurang ajar." Umpat Putri Andhini Andita dalam hati. "Bagaimana bisa? Aku malah semakin penasaran? Dengan identitas asli, dari orang bertopeng itu." Dalam hatinya sangat kesal.
"Sampurasun, rayi andhini andita."
Sapa Putri Ambarsari dengan suara pelan, ia duduk di samping adik tirinya itu.
"Rampes."
Balas Putri Andhini Andita, sambil mengalihkan pandangannya. Ia melihat kedatangan kakaknya putri Ambarsari, yang sedang tersenyum kecil padanya.
"Apa yang sedang kau pikirkan rayi?." Senyumannya sangat ramah. "Mengapa kau melamun panjang seperti itu?." Ia duduk bersama adiknya. "Katakan padaku, tidak bisanya kau seperti ini."
"Aku tidak apa-apa yunda." Jawabnya. "Aku hanya sedang bosan saja."
Raut wajah Putri Andhini Andita terlihat merengut kesal, ia cemberut. Sedangkan Putri Ambarsari tertawa kecil melihat betapa lucunya ekspresi adiknya saat ini.
"Benarkah?." Ia terlihat tidak percaya. "Tapi kenapa kau malah cemberut seperti itu?." Ia cubit pipi adiknya. "Apakah kau ragu untuk bercerita padaku?." Putri Ambarsari menjahili adiknya itu, ia malah menertawakan adiknya.
"Wah, ada pangeran ardapati." Dengan jahilnya putri menyebut nama pangeran Ardapati, seorang pangeran yang sedang jatuh hati pada kakaknya.
Putri Ambarsari yang memang menyukai pangeran Ardapati, spontan melihat ke arah yang ditunjuk adiknya itu. Namun matanya tidak melihat keberadaan sang pangeran pujaan hatinya.
"Rayi! Beraninya kau menipuku!." Kali ini putri Ambarsari terlihat cemberut, ia kesal dengan kejahilan adiknya. Sehingga mereka main kejar-kejaran di sekitar kaputren. "Aku tidak akan pernah memaafkan dirimu!."
"Kau saja yang mudah ditipu yunda." Balasnya. "Jangan salahkan aku, hahaha!." Putri Andhini Andita semakin mengejek kakaknya.
Begitulah kedekatan kedua putri mendiang prabu Kawiswara Arya Ragnala di dalam istana. Lalu bagaimana dengan Putri Agniasari Ariani?. Saat ini ia sedang berada di luar istana. Matanya ia ingin berguru. Mencari guru untuk belajar ilmu Kanuragan, juga guru yang dapat membantunya belajar agama Islam. Seperti yang dilakukan oleh adiknya Raden Cakara Casugraha.
Putri Agniasari Ariani mengatakan, jika ia belajar dari adiknya tentang agama Islam. Akan terapi ia takut, jika ia akan mengganggu adiknya yang kini sebagai raja, yang memiliki tugas mendadak. Putri Agniasari Ariani memutuskan untuk belajar di luar, walaupun ia berat pergi meninggalkan ibundanya, tapi ia percaya bahwa adiknya akan selalu menjaga ibundanya.
...***...
Meskipun dalam keadaan terluka, Raden Hadyan Hastanta masih dapat melihat, siapa yang menolongnya walaupun ia tidak mengenali sosok itu.
"Orang misterius?."
Mereka serentak bertanya, karena bingung dengan apa yang mereka dengar.
"Benar, orang misterius itu menolongku."
"Lalu? Apakah mereka sempat bertarung?."
"Apakah kau kenal? Dengan jurus yang ia mainkan?."
"Apakah dia terlihat dewasa?."
"Tidak raka." Jawabnya. "Aku tidak mengetahui dengan pasti." Lanjutnya. "Aku tidak melihat mereka bertarung."
"Tidak bertarung? Kenapa?."
"Ketua perampok itu sepertinya ketakutan." Jawabnya. "Melihat orang misterius itu." Ucapnya dengan aneh. "Dan menyuruh anak buahnya mundur."
"Mundur?."
Dengan serentak mereka mengulangi kalimat itu.
"Rasanya memang sangat aneh." Responnya. "Apakah mereka sempat bertemu sebelumnya?."
"Aku juga tidak tahu raka." Jawabnya. "Sebab mereka terlihat bermusuhan."
"Tapi setidaknya aku bersyukur, putraku baik-baik saja." Senyuman mengembang diwajahnya. "Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana anakku hadyan hastanta terluka." Hatinya sakit mengingat bagaimana keadaan anaknya.
"Kita harus menuntut nanda prabu asmalaraya arya ardhana." Ucapnya. "Dia harus bertanggung jawab, atas keselamatan keluarga istana." Ratu Ardiningrum Bintari terlihat serius, ia terlihat marah, kesal dengan apa yang terjadi. "Harusnya dia bisa menjaga kita semua dengan baik." Hatinya terasa memanas. "Tapi kenapa? Dia tidak ada di saat salah satu dari kita terluka?." Tatapan matanya sangat tajam. "Apakah menurut kalian? Itu tidak aneh?."
"Apa maksud yunda berkata seperti itu?." Tentunya Ratu Gendhis Cendrawati bertanya. "Aku yakin dia tidak akan mau bertanggungjawab yunda, sebab kita adalah musuh baginya."
"Bukankah dia harus bertanggung jawab?." Respon Ratu Ardiningrum Bintari. "Atas keselamatan keluarga istana?." Ia balik bertanya. "Tapi dia malah tidak peduli." Ucapnya dengan perasaan benci. "Atau melihat keadaan nanda hadyan hastanta sama sekali." Raut wajahnya terlihat sangat kesal. "Dimana tanggung jawabnya sebagai seorang raja?." Lanjutnya. "Kepala keluarga yang seharusnya melindungi keselamatan keluarga istana?." Ucapan Ratu Ardiningrum Bintari. "Seharusnya sebagai kepala keluarga istana tertinggi, ia menjenguk Raden Hadyan Hastanta." Ia mencoba memanasi keadaan. "Namun selama dua hari ini belum ia lakukan juga."
"Ibunda benar." Ucap Raden Ganendra Garjitha. "Rayi prabu asmalaraya arya ardhana, benar-benar tidak bertanggungjawab sebagai raja." Raden Ganendra Garjitha membenarkan apa yang dikatakan oleh ibundanya. "Dia itu hanya melindungi keluarganya saja."
"Benar sekali itu raka, ibunda." Raden Gentala Giandra juga ikut bersuara. "Bukankah itu sangat aneh?." Lanjutnya. "Kenapa rayi Prabu asmalaraya arya ardhana? tidak melakukannya?." Ia menatap adiknya. "Apakah ia tidak tahu mengenai kejadian ini?."
Raden Gentala Giandra juga memikirkan hal yang sama, ia tidak melihat Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mendatangi Raden Hadyan Hastanta.
"Bukankah sudah sangat jelas?." Ungkapnya. "Sebagai seorang Raja, ia harusnya memperhatikan keadaan keluarga istana?." Ia terlihat kesal. "Ini namanya pilih kasih! Tidak adil untuk kita!."
"Lalu? Ke mana Prabu asmalaraya arya ardhana pergi?." Ucapnya lagi. "Di saat keadaan seperti ini?." Ucapnya heran. "Apakah tidak ada rasa kepeduliannya? Pada Raden Hadyan Hastanta?." Ratu Ardiningrum Bintari kembali berucap. "Aku rasa dia mau balas dendam pada kita semua." Ratu Ardiningrum Bintari semakin memanasi keadaan. "Itulah alasan, kenapa? Ia tidak ada di sini, untuk melihat keadaan Raden hadyan hastanta."
"Aku memang belum melihatnya." Hatinya sangat heran. "Sejak putraku dipindahkan ke kamarnya." Hatinya terasa sakit. "Cakara casugraha selalu disibukkan oleh masalah istana." Ratu Gendhis Cendrawati merasa sesak. "Apakah mungkin dia?." Hatinya mulai membenci. "Memang tidak peduli? Dengan keselamatan anakku?." Hatinya saat itu sangat panas. Memang ia akui prabu Asmalaraya Arya Ardhana, belum sama sekali melihat keadaan anaknya. Hanya Ratu Dewi Anindyaswari, dan putrinya saja yang melihat, dan bertanya kondisi putranya.
Apakah melalui perwakilan mereka?. Namun rasanya tidak masuk akal. Apapun alasannya, tetap saja melihat sebentar saja, tidak akan memakan waktu yang lama. Tapi sang prabu tidak melakukannya.
"Kau tidak boleh diam saja rayi." Ucapnya. "Kau harus menemui nanda Prabu." Ratu Ardiningrum Bintari seakan mematik api kebencian. "Katakan padanya." Ucapnya lagi. "Untuk bertanggungjawab atas keselamatan putramu nanda hadyan hastanta." Ratu Ardiningrum Bintari sepertinya, sedang memanasi suasana hati Ratu Gendhis Cendrawati. Bisa dilihat dengan jelas apa yang ia rencanakan. Yaitunya mengadu domba mereka agar bermusuhan.
"Kau juga rayi." Ucap Raden Ganendra Garjitha. "Keselamatan kita itu berada ditangan rayi Prabu." Lanjutnya. "Tapi dia tidak peduli sama sekali." Hatinya juga memanas. "Dengan keadaanmu sekarang." Ia menepuk pundak adiknya dengan pelan. "Sungguh, ia tidak peduli sama sekali padamu rayi." Raden Ganendra Garjitha juga memanasi hati Raden Hadyan Hastanta, agar menuntut keadilan pada prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Kita harus menuntut keadilan padanya."
Dari raut wajah mereka itu terlihat sangat jelas bahwa ada perasaan amarah yang berlebihan pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
...***...
Nini Kabut Bidadari mencoba menerawang, melalui air telaga warna bidadari. Ia mengucapkan mantra-mantra pemanggil sosok gambaran orang yang ia cari.
"Mataku pandang, batinku melihat." Ucapnya. "Rupa-rupa yang tidak bisa dilihat oleh mataku, namun biarkan batinku melihatnya."
Nini Kabut Bidadari merapal mantramnya, ada beberapa sosok bertopeng hitam yang muncul. Namun hilang lagi, karena sosok-sosok itu bisa ia terawang siapa orangnya. Dan ia mengenali beberapa sosok itu, tidak mungkin mereka yang melakukannya.
Nini Kabut Bidadari melakukannya berkali-kali, hingga akhirnya muncul satu sosok yang tidak bisa ia lihat, atau ia kenali. Selain hanya melihat mengenakan topeng hitam penutup wajahnya.
"Ada apa Nini?." Ucapnya heran. "Apakah kau sudah menemukan orang itu?." Ki Dharma Seta melihat Nini Kabut Bidadari seperti kebingungan.
Nini Kabut Bidadari masih mencoba melakukan penerawangan, belum memberikan tanggapan.
"Apa yang sebenarnya yang kau lihat?." Ia kembali bertanya. "Raut wajahmu sangat kusut sekali, tidak biasanya."
"Coba kakang lihat?." Balasnya. "Aku sungguh tidak percaya." Lanjutnya. "Dengan apa yang ditangkap? Oleh penerawangan yang ditampilkan air telaga warna bidadari ini." Tunjuknya.
Sementara itu, Ki Dharma Seta mencoba melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Nini Kabut Bidadari. Sosok itu seorang laki-laki yang masih tampak muda?.
"Air telaga warna bidadari ini." Ucapnya. "Hanya bisa menangkap sosok ini kakang." Keningnya mengkerut aneh.
Ki Dharma Seta mengamati dengan seksama, mencoba mengingat sesuatu.
"Tapi tidak tahu, siapa sosok? Yang berada di balik topeng ini kakang." Nini Kabut Bidadari merasa heran, mengapa air telaga warna bidadari tidak dapat menangkap, atau memperlihatkan wajah asli dari orang itu?.
"Apakah kau tidak bisa menembus mata batinnya?." Ki Dharma Seta menatap serius. "Aku masih penasaran dengan anak muda ini."
"Sayang sekali kakang." Balasnya. "Aku tidak bisa menembus mata batinnya." Ia menghela nafas pelan. "Seakan-akan ada hawa kegelapan, yang menghalanginya." Lanjutnya. "Aku benar-benar tidak bisa membuka mata batinnya."
"Masih muda, tetapi memiliki ajian pelindung jiwa yang sangat hebat." Secara tidak langsung Ki Dharma Seta, mengakui kehebatan ilmu Kanuragan, yang dimiliki oleh pendekar yang sangat misterius itu. "Bahkan kau tidak bisa mengetahui orang itu siapa?."
"Benar-benar orang yang sangat misterius kakang." Nini Kabut Bidadari juga merasa kagum pada pemuda itu. "Baru kali ini, aku tidak bisa melihat siapa?." Lanjutnya. "Identitas anak muda ini." Hatinya sangat kecewa. "Maafkan aku kakang." Ada perasaan bersalah dalam hatinya.
"Tidak apa-apa." Balasnya. "Tapi setidaknya, aku bisa mengetahui ciri-ciri orangnya." Ia tampak kesal. "Dengan begitu, aku bisa memaksa orang itu." Ia kepal kuat tangannya. "Untuk mengatakan, dimana dia menyembunyikan anak buahku?!." Ki Dharma Seta merasa marah. "Meskipun terasa agak sulit, aku akan mencoba mencari orang itu." Ya, ia akan melakukannya. ia menemui Nini Kabut Bidadari hanya untuk mengetahui keberadaan anak buahnya saja. "Mungkin saja aku bisa membebaskan mayang sari." Lanjutnya. "Tanpa harus bertarung dengan sosok misterius itu." Ucapnya lagi. "Tapi sepertinya tidak semudah yang aku bayangkan." Dalam hatinya semakin kesal.
"Jika kakang butuh bantuan?." Nini Kabut Bidadari tersenyum kecil. "Aku akan selalu bersedia untuk meluangkan waktu."
"Terima kasih nini, kau memang sangat baik."
"Tentu saja kakang." Ia tersenyum lebar. "Bahkan jika berdampingan denganmu aku pasti akan bersedia." Dalam hatinya tidak berani berkata seperti itu. "Tapi aku tidak menyangka ada orang yang hebat seperti itu." Dalam hatinya.
...**...
Di ruang pertemuan raja
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana baru saja selesai menggelar rapat, membahas masalah yang dihadapi desa-desa terdekat Istana. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengatakan, untuk memberikan bantuan pada rakyat-rakyat kecil, yang sedang mengalami kesulitan bahan pangan. Atau yang membutuhkan pengamanan, dari kawanan perampokan yang mengancam keselamatan mereka.
Mentri, Adipati, lurah dan sebagainya yang berjajaran sesuai pangkat, telah menerima keputusan baik dari sang prabu. Mereka semua setuju dengan apa yang dikatakan oleh sang Prabu yang begitu memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Namun beberapa selang mereka semua meninggalkan sang Prabu, ratu Gendhis Cendrawati datang menemui sang Prabu.
"Hormat kami nanda prabu."
Meskipun hatinya saat ini dipenuhi oleh kemarahan, ia mencoba untuk bersikap hormat, kepada prabu Asmalaraya Arya Ardhana sebagai seorang raja.
"Duduklah, ibunda gendhis cendrawati."
Sambut Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sambil tersenyum kecil, meskipun ia merasa lelah setelah rapat tadi, namun ia masih menunjukkan sikap ramahnya pada salah satu Ratu kerajaan Suka Damai.
"Terima kasih, nanda prabu."
Ratu Gendhis Cendrawati duduk, di salah satu kursi yang ada, di hadapan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Entah kenapa?." Dalam hati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa tidak enak sama sekali. "Semoga saja ini hanya firasat biasa saja." Dalam hati sang Prabu hanya bisa berharap.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya. Next.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 372 Episodes
Comments
Elmo Damarkaca
mau kasih Vote poin ku gk cukup, aku kasih segelas Kopi dulu aja ya thor ...
2022-06-03
2
Elmo Damarkaca
Raja yg Bijaksana...
2022-06-03
1
SoVay
aku lagi ikut lomba yang muda yang bercinta ni
2021-12-18
0