***
Kejadian memalukan itu disaksikan oleh semua orang yang berada di sana. Mereka semua sangat terkejut ketika melihat bagaimana Raden Ganendra Garjitha terlempar dari singgasana itu, ia jatuh tersungkur secara tidak terhormat di hadapan banyak orang.
"Putraku!." Ratu Ardiningrum Bintari segera berlari mendekati anaknya.
"Sakit sekali ibunda." Raden Ganendra Garjitha meringis kesakitan di pelukan ibundanya.
"Raka!." Raden Gentala Giandra dan Putri Ambarsari juga mendekati saudaranya.
"Apa yang terjadi sebenarnya?." Dalam hatinya heran. "Kenapa putra sulung dari kanda Prabu? Tidak bisa menduduki singgasana?." Dalam hati Ratu Gendhis Cendrawati merasa heran dengan itu.
"Aku sangat penasaran." Dalam hatinya juga bingung. "Apa sebenarnya? Makna dari pemilihan Raja baru? Dengan cara seperti ini?." Dalam hati Putri Andhini Andita masih mengamati bagaimana kondisi yang sebenarnya. "Tapi, para sepuh telah menyaksikannya." Dalam hatinya lagi. "Memang seperti itu cara pengangkatan Raja?."
"Benar apa yang dikatakan ayahanda prabu." Dalam hati Raden Cakara Casugraha melihat itu dengan jelas. "Jika ada secuil sikap sombong, amarah, dan juga sikap serakah." Dalam hatinya lagi. "Yang ada di dalam diri manusia." Dalam hatinya mengingat kembali ucapan ayahandanya. "Ketika hendak memimpin sebuah kerajaan? Maja ia akan menjadi Raja yang celaka."
"Orang yang sombong dan jahat seperti dia." Dalam hati Putri Agniasari Ariani. "Mana mungkin bisa menjadi Raja." Ingatannya kembali pada kejadian masa lalu. "Bahkan menyamai ayahanda Prabu saja, aku rasa sangat mustahil baginya!." Dalam hati Putri Agniasari Ariani juga mengamati bagaimana sikap Raden Ganendra Garjitha selama ini pada dirinya, saudaranya, dan bahkan pada ibundanya.
"Baiklah." Ucapnya dengan penuh percaya diri. "Jika raka ganendra garjitha tidak bisa melakukannya?." Ia tersenyum lebar. "Kini giliran aku untuk mencobanya."
"Silahkan Raden." Pedanda Istana mempersilahkan putra kedua untuk melakukannya.
Untuk sementara waktu mereka mengalihkan pandangannya pada Raden Gentala Giandra, dan mengabaikan Raden Ganendra Garjitha yang masih kesakitan. Mereka jadi bertanya-tanya?. Jika anak pertama tidak bisa melakukannya?. Apakah anak kedua mampu melakukannya?.
"Aku yakin kau bisa melakukannya anakku!." Ratu Ardiningrum Bintari seakan-akan memiliki ambisi yang sangat kuat, bahwa salah satu dari anak laki-lakinya harus menjadi Raja.
"Tentu saja aku bisa!." Suaranya sangat keras. "Menjadi Raja yang hebat dari pada ayahanda Prabu, ibunda." Dengan sangat yakin ia berjalan menuju singgasana itu, dan ia mulai duduk.
Namun hasilnya sama saja, Raden Gentala Giandra saat itu terlempar dari singgasana. Membuat mereka kembali terkejut dengan kejadian memalukan itu.
"Putraku!." Hati Ratu Ardiningrum Bintari sangat sakit melihat bagaimana anaknya terlempar dari singgasana. "Bagaimana mungkin?!." Hatinya diisi oleh kemarahan yang membara. "Pasti ada seseorang! Yang telah memberikan mantra sihir!." Matanya melotot ke arah sepuh istana. "Pada singgasana itu! Sehingga kedua putraku tidak bisa duduk di singgasana!." Ratu Ardiningrum Bintari terlihat sangat histeris.
Mereka yang menyaksikan itu hanya diam saja, karena mereka tidak merasa melakukan apapun yang diucapkan oleh Ratu Ardiningrum Bintari.
"Tenanglah ibunda." Putri Ambarsari mendekati ibundanya. "Tenanglah, saya akan melakukannya." Putri Ambarsari memang terlihat panik, karena kondisi kedua saudaranya yang kini melemah, mereka seperti kehabisan tenaga.
"Bagaimana menurutmu raka?." Ia mencolek kakaknya. "Apakah kita juga bisa melakukannya?." Bisik Putri Andhini Andita pada saudaranya Raden Hadyan Hastanta.
"Tenanglah rayi." Balasnya. "Aku pasti bisa melakukannya."
"Kau harus bisa melakukannya raka."
"Ya, tentu saja."
"Bagaimana pendapatmu rayi?." Putri Agniasari Ariani kembali mencolek adiknya. "Apakah kau tidak melihat? Ada yang aneh dengan mereka?." Bisik Putri Agniasari Ariani pada adiknya Raden Cakara Casugraha.
"Memang aneh yunda." Responnya. "Mereka terlalu memaksakan diri." Lanjutnya. "Dengan sikap yang tidak baik seperti itu." Ia menghela nafas pelan. "Bahkan mereka tidak menghormati ayahanda Prabu, yang duduk di singgasana itu yunda."
Deg!.
Putri Agniasari Ariani terkejut mendengarkan apa yang dikatakan oleh adiknya itu.
"Apa maksudmu rayi?." Hatinya bergetar aneh. "Aku tidak melihat ayahanda Prabu, duduk di singgasana itu." Putri Agniasari Ariani merasa tidak karuan.
"Ayahanda Prabu sedang mengamati kita yunda." Balasnya. "Minta lah izin pada ayahanda Prabu, jika memang ingin memimpin negeri ini." Lanjutnya. "Jangan terburu-buru ingin menduduki singgasana itu yunda."
"Oh? Ayahanda Prabu." Perlahan-lahan tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja karena rasa kehilangan yang sangat dalam. "Bagaimana mungkin? Kau mengatakan ayahanda Prabu? Sedang duduk di sana rayi?." Dalam hatinya merasakan perasaan sesak yang sangat dalam, sehingga ia terpaksa membekap mulutnya untuk menahan tangisnya itu.
"Saya juga sulit." Ucap Raden Cakara Casugraha sambil memberikan sapu tanga kecil pada yundanya. "Untuk menjelaskannya yunda." Lanjutnya. "Tapi, ayahanda Prabu memang duduk di sana."
"Oh? Dewata yang agung, ayahanda Prabu." Putri Agniasari Ariani sedang menahan gejolak emosi di hatinya.
"Sekarang giliran aku! Yang mencobanya!." Putri Ambarsari maju ke depan dengan penuh keangkuhan.
"Kau harus bisa melakukannya anakku!." Tegasnya. "Ibunda tidak akan mengampuni siapa saja?! Yang berani berbuat curang padamu." Kembali Ratu Ardiningrum Bintari terlihat mengeluarkan amarahnya.
Kembali mereka memperhatikan bagaimana putri sulung dari Prabu Kawiswara Arya Ragnala mencoba untuk melakukan peruntungan, namun apakah kali ini akan berhasil?.
"Wahai singgasana yang ajaib." Ucapnya dalam hati dengan aneh. "Pilihlah aku menjadi Ratu agung!." Hatinya sangat membara. "Maka akan buat negeri ini! Menjadi negeri yang sangat subur." Dalam hati Putri Ambarsari hanya berharap seperti itu.
Entah kenapa suasana cukup tegang karena Putri Ambarsari cukup lama duduk di singgasana itu, tapi tidak terjadi apapun juga?.
"Bagaimana mungkin?!." Ia tidak merasakan apa-apa?. "Tidak terjadi perubahan apapun padaku?!." Amarah yang ia rasakan saat itu keluar begitu saja, hingga saat itu ia merasakan tubuhnya melayang seperti kapas?. Namun sayangnya ketika tubuhnya mendarat ke tanah?. Tubuhnya seperti batu yang dihempaskan begitu saja.
"Putriku!."
Ratu Ardiningrum Bintari terkejut bukan kepalang, ia tidak menduga jika anak perempuannya akan mengalami nasib yang sama dengan kedua anak laki-lakinya?.
"Putriku?."
"Maafkan saya ibunda." Suaranya terdengar sangat lemah, kekuatan tenaga dalamnya seperti disedot oleh suatu ilmu gaib yang sangat kuat.
"Kau harus mencobanya raka." Bisik Putri Andhini Andita.
"Ya." Raden Hadyan Hastanta maju ke depan.
Namun hasilnya tetep sama, mereka mengalami kegagalan yang sangat memalukan untuk keluarga istana?. Suasana Balai pertemuan saat itu sangat tegang, karena belum ada yang berhasil untuk duduk di singgasana. Bahkan Putri Andhini Andita pun tidak bisa melakukannya?.
"Apa yang terjadi sebenarnya?." Ratu Gendhis Cendrawati sangat marah. "Kenapa kedua anakku tidak bisa menduduki singgasana itu?." Dalam hati Ratu Gendhis Cendrawati sangat heran dengan kejadian yang menimpa kedua anaknya.
"Kini giliran keluarga Ratu dewi anindyaswari yang mencobanya." Pedanda Istana seakan-akan tidak memberi waktu istirahat pada mereka, ataupun merasa simpati pada siapapun yang gagal.
Putri Agniasari Ariani tersenyum dengan sangat ramah, sehingga mereka dapat melihat bagaimana raut wajah indah dari Putri Agniasari Ariani kala itu.
"Mohon maaf sepuh." Ucapnya sambil memberi hormat. "Sepertinya saya belum pantas, untuk memimpin kerajaan ini." Ia tersenyum ramah. "Apalagi kodrat saya sebagai seorang wanita." Ia melirik ke arah adiknya.
"Apa maksud Gusti Putri?."
"Apakah Gusti Putri takut?."
"Itu bukan berarti saya takut." Jawabnya. "Mengalami hal serupa, terjadi pada saudara-saudara yang lainnya." Senyuman itu terlihat sangat tulus. "Saya sangat yakin." Lanjutnya. "Jika rayi cakara casugraha lebih pantas, memimpin istana ini dibandingkan saya."
"Oh? Putriku." Ratu Dewi Anindyaswari terharu mendengarkan ucapan anak perempuannya.
Mata mereka semua tertuju pada Raden Cakara Casugraha, putra bungsu dari mendiang Gusti Prabu Kawiswara Arya Ragnala.
"Sebaiknya kau tidak usah mencobanya cakara casugraha!." Amarahnya keluar begitu saja. "Karena kami semua mengetahui kau itu siapa!." Tunjuknya dengan kasar. "Anak yang paling terkutuk! Di kerajaan ini!." Ratu Ardiningrum Bintari terlihat sangat tidak terima jika itu terjadi.
"Itu benar!." Sambutnya. "Kau tidak akan kami izinkan! Untuk ikut dalam pemilihan Raja!." Hatinya benar-benar dikuasai oleh amarah. "Kami semua mengetahui!." Tegasnya. "Jika kau adalah orang yang paling kejam di istana ini!." Ratu Gendhis Cendrawati mengeluarkan semua amarahnya.
"Yunda, jangan berkata seperti itu." Ratu Dewi Anindyaswari sangat sedih. "Pada putra saya nanda cakara casugraha." Matanya terlihat berkaca-kaca. "Putra saya juga berhak! Untuk ikut dalam pemilihan ini." Tegasnya.
Mereka semua saling bertatapan satu sama lain, memikirkan ucapan Ratu Dewi Anindyaswari.
"Jika memang putraku adalah anak yang kejam di istana ini?." Matanya kini menatap sendu ke arah anaknya. "Kenapa tidak dibuktikan dengan pemilihan Raja?." Hatinya sangat rapuh. "Supaya kita sama-sama mengetahui, jika memang anak saya." Hatinya sedang bertarung. "Adalah anak yang kejam di kerajaan ini."
"Ya!." Putri Agniasari Ariani memberanikan dirinya. "Benar yang dikatakan ibunda Ratu dewi!." Ucapnya dengan penuh penekanan. "Menapa tidak dibuktikan saja?." Putri Agniasari Ariani membela adiknya. "Jika memang rayi cakara casugraha! Adalah orang yang paling kejam!."
Mereka semua menyimak dengan sangat baik apa yang hendak disampaikan Ratu Dewi Anindyaswari dan Putri Agniasari Ariani, mereka menimang-nimang ucapan itu.
"Dulu mendiang Gusti Prabu kawiswara arya ragnala." Ucap sepuh istana. "Juga dipandang remeh oleh saudara-saudaranya yang lainnya." Lanjutnya. "Hanya mendiang yunda beliau saja yang selalu membelanya." Ia masih mengingat kejadian itu. "Rasanya ini sama persis dengan kejadian masa lalu." Pedanda istana mengingat kejadian yang ia saksikan kala itu. "Kalau begitu selamat mencoba, Raden cakara casugraha."
"Kau!."
"Tidak perlu merasa takut Gusti Ratu." Ia memberi hormat. "Juga putra-putri Gusti Prabu yang lainnya." Kembali ia tersenyum ramah. "Karena ini juga ajang pembuktian, siapa yang memilliki hati tulus? Dalam bersikap selama ini."
"Coba saja rayi." Ucap Putri Agniasari Ariani segera berdiri di depan adiknya. "Jika mereka berani menyerang? Maka aku yang akan membunuh mereka."
"Kau harus mencobanya putraku."
"Baiklah kalau begitu ibunda, yunda." Raden Cakara Casugraha juga tidak ingin membuat ibunda dan kakaknya kecewa. "Bismillahirrahmanirrahim ." Dalam hatinya mengucapkan kalimat itu sambil menghela nafasnya.
Sebelum Raden Cakara Casugraha menuju singgasana ia bersimpuh di hadapan ibundanya, membuat merea semua yang melihat itu sangat heran.
"Ibunda." Matanya menatap ibundanya dengan tatapan yang sangat dalam. "Nanda mohon ridho dari ibunda." Ucapnya dengan senyuman tulus. "Karena tidak ada kekuatan yang sangat luar biasa di dunia ini." Ia mencium tangan ibundanya. "Jika tidak di doa kan oleh seorang ibu, ketika anaknya akan melakukan hal yang sangat besar." Ia mencium tangan ibundanya dengan penuh kasih sayang.
"Tentu saja ibunda akan selalu." Balas Ratu Dewi Anindyaswari. "Memberikan doa yang paling baik untukmu putraku." Hati ibu mana yang tidak tersentuh dengan apa yang dikatakan anaknya. "Di mana pun engkau berada." Hatinya mencoba tegar. "Ibunda akan sellau memberikan doa yang terbaik untukmu." Ratu Dewi Anindyaswari mengecup puncak kepala anaknya, tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja. "Pergilah engkau melangkah lebih baik lagi." Ratu Dewi Anindyaswari tersenyum lembut. "Ibunda akan selalu memberikan doa yang baik untukmu."
"Terima kasih ibunda." Raden Cakara Casugraha memberi hormat pada ibundanya.
Ia mencoba mengabaikan apapun yang dikatakan oleh mereka tentang dirinya, ia terus melangkah menuju singgasana, dan berhenti sambil memberi hormat pada singgasana?.
"Hei! Cakara casugraha!." Teriaknya keras. "Apa yang kau lakukan sebenarnya?!." Hatinya juga memanas. "Apakah kau sedang mengulur-."
"Hormat nanda, ayahanda Prabu."
Deg!.
Mereka semua sangat terkejut dengan apa yang telah dikatakan oleh Raden Cakara Casugraha.
"Cakara casugraha! Kau jangan gila!."
"Apa tujuanmu yang sebenarnya?!." Hatinya kembali panas. "Jika kau merasa tidak mampu-."
"Raka ganendra garjitha!." Putri Agniasari Ariani benar-benar telah terbawa amarah. "Berhentilah mengatakan hal yang tidak pantas! Pada rayi cakara casugraha!."
Entah kenapa suasana menjadi panas karena perdebatan itu, mereka sama-sama bersikeras dengan apa yang ada di dalam hati masing-masing saat itu.
"Itu karena rayi mu itu!." Balasnya. Hanya mengulur waktu saja!." Bentaknya. "Aku sangat yakin! Dia sedang menyiapkan sebuah sandiwara!." Lanjutnya. "Yang akan menjebak kita semua!."
"Tidak mungkin putraku melakukan itu!." Ratu Dewi Anindyaswari yang membantahnya.
"Aku yakin anakmu itu! Juga akan mengalami kegagalan!."
"Anakmu itu adalah anak kutukan!."
"Berhentilah mengatakan rayi cakara casugraha anak kutukan!."
Mereka semua benar-benar tidak mau mengalah satu sama lain, hati mereka sedang dipenuhi dengan amarah yang sangat membara.
"Mohon ampun ayahanda." Raden Cakara Casugraha kembali memberi hormat. "Jika apa yang terjadi di depan ayahanda Prabu." Lanjutnya. "Saat ini adalah bentuk ketidakpuasan suasana hati yang sangat mendalam." Ia menekan hatinya, agar tidak terbawa amarah. "Tapi nanda mohon ayahanda Prabu, agar tidak marah pada kami semua."
Deg!.
Saat itu mereka semua terdiam mendengarkan ucapan Raden Cakara Casugraha, kali ini tatapan mereka tertuju padanya.
"Maafkan kami yang belum bisa menyatukan hati." Kembali ia berucap sambil memberi hormat. "Langkah, dan bahkan perasaan kami, dalam bentuk keluarga yang ayahanda Prabu bangun selama ini." Raden Cakara Casugraha kembali memberi hormat.
"Rayi." Dalam hati Putri Agniasari Ariani.
"Putraku nanda cakara casugraha." Dalam hati Ratu Dewi Anindyaswari sangat tersentuh.
"Nanda yang masih muda ini, tentunya belum bisa menyamai ayahanda dalam memimpin istana." Ucap Raden Cakara Casugraha lagu. "Dan bahkan kerajaan ini, karena itulah berikan nanda izin." Hatinya benar-benar gelisah. "Bimbinglah nanda, untuk melakukan tugas itu ayahanda prabu." Semua yang ada di dalam hatinya saat itu diungkapkan dengan baik. "Ayahanda Prabu adalah guru yang paling berharga untuk nanda." Tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja. "Semoga nanda bisa melakukan, apa yang ayahanda lakukan, demi orang-orang yang ayahanda sayangi."
"Berhentilah kau melakukan hal yang tidak berguna seperti itu cakara casugraha!."
"Kau memang sangat memuakkan!."
"Aku pasti akan membunuhmu!."
Raden Ganendra Garjitha, Raden Gentala Giandra, dan Raden Hadyan Hastanta saat itu hendak maju menghajar Raden Cakara Casugraha, akan tetapi saat itu niat mereka gagal.
"Ayahanda terima hormatmu, putraku nanda cakara casugraha."
Deg!.
Kembali mereka semua terkejut dengan apa yang mereka saksikan saat itu, tidak mungkin mata mereka salah dalam melihat sesuatu yang sangat ajaib?.
"Ayahanda Prabu?."
"Kanda Prabu?."
"Gusti Prabu?."
"Kau dapat melihat ayahanda dengan sangat baik, putraku cakara casugraha." Senyuman penuh kebanggaan terlihat di wajah Sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala. "Jau meminta izin padaku, untuk memimpin istana ini dengan sangat baik." Senyuman itu masih senyumannya yang biasnya.
"Hormat hamba Gusti Prabu." Pedanda Istana memberi hormat. "Dahulu Gusti Prabu, ketika hendak diangkat menjadi Raja." Lanjutnya. "Juga melakukan hal yang sama, dengan apa yang dilakukan Raden cakara casugraha yang sekarang."
"Ya, kau benar sepuh." Prabu Kawiswara Arya Ragnala tersenyum ramah. "Hati yang bersih, pasti dapat melihat Raja sebelumnya." Lanjut sang Prabu. "Meminta izin untuk meneruskan kepemimpinan kerajaan ini." Matanya tertuju pada anak bungsunya. "Dan kau lulus pada tahap itu, putraku nanda cakara casugraha."
"Tidak mungkin! Kanda Prabu!."
"Benar itu ayahanda!."
"Tidak mungkin dia anak terkutuk lulus menjadi Raja!."
"Putraku nanda cakara casugraha." Sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala tersenyum lembut. "Cobalah engkau duduk di sini." Seraya memanggil anaknya. "Dan buktikan pada mereka, jika kau memang pantas menjadi Raja."
"Sandika ayahanda Prabu." Kembali Raden Cakara Casugraha memberi hormat.
Raden Cakara Casugraha mendekati singgasana, ia duduk dengan sangat tenang, dan mereka juga sedikit tegang memperhatikan itu dengan seksama.
"Heh!." Ia mendengus kesal. "Mana mungkin dia akan menjadi Raja!."
"Itu sangat mustahil!."
Deg!.
"Apakah itu benar?."
Entah berapa kali mereka seakan-akan senam jantung ketika melihat ada mahkota yang sangat mewah terpasang dengan gagahnya di kepala Raden Cakara Casugraha, bahkan jubah kebesaran Raja menambah kesan betapa hebatnya sang Prabu. Bukan hanya itu saja, nampan emas muncul di hadapan sang Prabu, dan sekilas mereka melihat ada wanita cantik bak bidadari yang memberikan nampan emas itu pada pedanda Istana. Gelar apa yang akan didapatkan sang Prabu?. Next.
...****...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 372 Episodes
Comments
Anonymous
rendah hati, bijaksana dan penuh ketulusan sehingga cakara terpilih jadi Raja namun hal ini membawa dampak saudara2nya tidak menyukainya demikian juga para permaisuri I & 2
2024-09-03
0
Anonymous
raja yang rendah hati & bijaksana
2024-09-03
0
𝐀⃝🥀𝐀'𝐃69°
lanjut
2022-03-11
2