...***...
Kota Raja.
"Kenapa kalian malah menyerang prajurit?." Ia terlihat marah. "Apa kesalahan mereka?!." Suaranya terdengar tinggi. "Sehingga tanpa belas kasihan! Kalian menyerang prajurit istana?."
Namun mereka hanya diam tidak bersuara, hanya diam menunduk.
"Apakah begitu berat pertanyaanku?." Sorot matanya yang terlihat tajam. "Sehingga kalian tidak ingin menjawabnya?."
"Kami hanya mengikuti sayembara." Jawab seorang pemuda, ia menunduk takut. "Barang siapa yang menang?." Lanjutnya. "Akan menjadi pengawal seorang putri kadipaten." Ucapnya takut-takut. "Dengan imbalan seratus kepeng uang emas."
"Lantas? Kenapa kalian malah menyerang prajurit?."
Tidak ada jawaban dari mereka.
"Kenapa prajurit?."
"Itu karena mereka berbuat kerusakan tuan jaya satria." Jawabnya. "Saya telah mengatakan pada mereka." Lanjutnya. "Setiap putri kadipaten, pasti akan mendapatkan pengawalan dari istana." Ungkapnya. "Tapi mereka malah memukul kami."
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Respon Jaya Satria. "Apakah kalian tidak mengerti?." Ucapnya. "Kalian telah melakukan kesalahan." Lanjutnya. "Itulah alasan kenapa? Prajurit istana menghentikan kalian."
Tidak ada jawaban dari mereka, dan hanya mendengarkan ucapan Jaya Satria.
"Lihat dengan baik-baik." Tegas Jaya Satria. "Lihatlah dengan mata kalian!." Suaranya agak keras. "Lihat wanita itu!" Jaya Satria terlihat sangat marah, sambil menunjuk ke arah yang ia sebutkan. "Dia sudah lemah tak berdaya." Hatinya terasa miri. "Lihat anak itu terluka!." Tunjuknya dengan kesal. "Akibat perbuatan kalian!." Hatinya benar-benar dikuasai oleh kemarahan. "Begitu banyak korban yang terluka, akibat perbuatan bodoh kalian!." Matanya menatap tajam ke arah mereka semua. "Aku harap kalian mau bertanggung jawab, atas apa yang telah kalian lakukan!."
"Baik tuan pendekar."
Mereka semua hanya nurut saja, mereka tidak berani melawan sama sekali.
...***...
Istana kerajaan Suka Damai.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengumpulkan para Pedanda istana, yang mengerti tentang agama. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana ingin membahas sesuatu dengan mereka.
"Hari ini saya ingin membahas masalah, tentang beberapa agama." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memulai musyawarah. "Ada beberapa agama, keyakinan yang mulai tersebar di kerajaan ini."
Mereka semua menyimak dengan baik, apa yang hendak disampaikan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Diantaranya, agama Islam, dan agama hindu-budha."
"Ya, nanda Prabu benar."
"Gusti Prabu benar."
Respon mereka.
"Seperti yang kita ketahui, bahwa keluarga istana." Ucap sang Prabu. "Dari zamannya eyang buyut Prabu bahuwirya jayantaka byakta." Lanjut sang Prabu. "Telah menganut agama hindu-budha."
"Ya, Gusti Prabu bener."
"Tapi? Bagaimana dengan nanda Prabu sendiri?." Ucapnya. "Kenapa nanda Prabu? Bisa menganut kepercayaan islam?."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil. "Semua orang telah mengetahui." Jawab sang Prabu. "Bagaimana perangai saya di masa lalu, dan alasan kenapa?." Sang Prabu berkata jujur. "Saya diusir dari istana ini."
Untuk sesaat mereka terdiam, karena memang mengetahui bagaimana?. Masa lalu dari Raden Cakara Casugraha, atau yang kini bergelar Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Kekuatan yang saya miliki, adalah kekuatan kutukan."
Deg!.
Mereka semua sangat terkejut mendengarnya.
"Suatu hari mendiang ayahanda Prabu kawiswara arya ragnala." Sang Prabu mengingat kembali kejadian itu. "Mengatakan bahwa, beliau mendapatkan wangsit, petunjuk dari eyang buyut Prabu bahuwirya jayantaka byakta." Jelas sang Prabu. "Untuk mengendalikan semua kutukan amarah itu." Sang Prabu tersenyum kecil. "Saya harus masuk agama islam, agama yang mampu memberikan ketenangan batin pada saya."
"Ya, memang benar." Responnya. "Gusti Prabu memang telah mengalami perubahan." Lanjutnya. "Berdasarkan pemilihan Raja, Gusti sangat tenang sekali."
"Benar." Tanggapnya. "Ketika keluarga dari istri mendiang Gusti Prabu lainnya." Lanjutnya. "Memusuhi Gusti Prabu, namun Gusti tidak membalasnya dengan kemarahan."
"Sungguh, itu adalah perubahan yang sangat luar biasa sekali."
"Sehingga Gusti Prabu, bisa menduduki singgasana ini."
"Alhamdulillah hirobbil 'alamiin." Respon Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Lantas? Apa yang akan Gusti lakukan setelah ini?."
"Tanpa mengurangi rasa hormat." Jawab sang Prabu. "Saya ingin penyebaran agama ini, tidak menimbulkan kesenjangan di dalam kerajaan suka damai."
"Ya, kami juga berharap demikian Gusti Prabu."
"Semoga saja, masalah kepercayaan." Ucapnya. "Tidak akan menimbulkan masalah nantinya."
"Saya juga berharap demikian." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil menatap mereka. "Karena tidak ada paksaan sama sekali, dalam memeluk agama Islam."
لَآ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِۗ قَدْ تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَّكْفُرْ بِالطَّاغُوْتِ وَيُؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗوَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
yang artinya :
"Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”
Mereka semua menyimak dengan jelas, apa yang disampaikan oleh sang Prabu. Mencoba memahami apa yang dijelaskan sang Prabu, agar tidak salah paham, dan tidak mengambil keputusan yang salah nantinya.
"Dan Allah juga menjelaskan." Lanjut sang Prabu.
لَّا يَنْهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمْ يُقَٰتِلُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوٓا۟ إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُقْسِطِينَ
"Yang artinya, Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik, dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu, karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil (QS Al-Mumtahanah: 8)."
Sang prabu menatap gurunya Syekh Asmawan Mulia dengan senyuman ramah.
"Subhanallah." Dalam hati Syekh Asmawan Mulia. "Nanda Prabu memang luar biasa." Dalam hatinya sangat senang. "Dapat mengamalkan semua yang dipelajari selama ini." Dalam hati Syekh Asmawan Mulia merasa bangga dengan prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
...***...
Masih di lingkungan istana.
Saat itu mereka berkumpul di kaputren, tentu saja masih belum puas atas apa yang telah terjadi.
"Aku rasa cakara casugraha." Ucapnya sambil menatap mereka. "Ia menggunakan ilmu sihir, untuk mendapatkan tahta ini." Ratu Ardningrum Bintari masih memikirkan itu. "Jika tidak? Mana mungkin ia dengan mudahnya." Ucapnya dengan perasaan kesal. "Mendapatkan tahta kerajaan suka damai."
"Ibunda benar." Responnya. "Kita saja tidak bisa menduduki singgasana itu." Raden Ganendra Garjitha juga berpikiran sama. "Tetapi? Ketika ia menduduki singgasana itu?." Ia merasa heran. "Tidak terjadi apa-apa padanya." Lanjutnya. "Ia tidak terlempar, atau mengalami nasib buruk seperti kita."
"Ya, memang sangat aneh sekali." Ratu Gendhis Cendrawati juga merasa heran.
"Cakara casugraha memang sangat licik!." Hatinya terasa panas. "Aku yakin itu adalah ungkapan, balas dendamnya pada kita semua!." Putri Andhini Andita memikirkan ke arah sana.
"Ya." Responnya. "Aku rasa benar, yang dikatakan rayi andhini andita." Putri Ambarsari merasa cemas. "Cepat atau lambat?." Hatinya resah. "Aku yakin dia akan segera mengusir kita dari istana ini."
Perasaan mereka semakin tidak enak, ketika mendengarkan ucapan itu.
"Apapun caranya?." Ucapnya dengan perasaan marah yang membara. "Kita harus segera menyingkirkan dia!." Tegasnya. "Jangan sampai ia berlama-lama memegang kekuasaan!." Ratu Ardningrum Bintari semakin bergemuruh.
"Tapi bagaimana caranya?." Raden Hadyan Hastanta tidak bisa memikirkan ide yang tepat. "Kita telah memikirkan beberapa cara." Lanjutnya. "Namun masih belum berhasil."
"Kita tidak boleh menyerah begitu saja." Responnya. "Pasti ada caranya." Ratu Gendhis Cendrawati sedang memikirkan cara yang tepat. "Bagaimana pendapatmu yunda?." Matanya menatap ke arah Ratu Ardiningrum Bintari. "Biasanya kau memiliki ribuan rencana, untuk mengatasi masalah ini."
"Aku sedang memikirkan caranya rayi."
Ya, mereka semua tampak memikirkan cara untuk menyingkirkan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dari tahtanya. Apakah akan berhasil?.
...***...
Di pondok pesantren.
Telah tersebar kabar, bahwa seorang putri Raja belajar di pesantren itu, sehingga kalangan anak muda merasa sangat tertarik dengan kehadiran Putri Agniasari Ariani.
"Gusti Putri."
Lima orang pemuda memberi hormat dengan sangat sopan nya.
"Gusti Putri mau ke mana?." Ia bertanya dengan ramah. "Akan kami kenalkan, seluruh kawasan pesantren ini pada Gusti."
"Benar Gusti." Sambungnya. "Mumpung kami masih senggang?." Ucapnya malu-malu. *Dengan senang hati, kami akan mengajak Gusti, mengitari kawasan pesantren ini."
"Katakan saja." Ia terlihat antusias. "Gusti Putri mau ke mana?."
"Heh!." Ia mendengus kesal. "Najis!."
Deg!.
Mereka semua sangat terkejut ketika mendengarkan ucapan Nila Ayu.
"Sikap kalian itu, membuat aku ingin muntah! Huekh!."
Mereka benar-benar tercengang dengan sikap Nila Ayu yang seperti itu, namun setelah itu mereka malah tertawa keras, merespon ucapan Nila Ayu.
"Hei!." Teriaknya. "Sangat tidak sopan sekali!." Nila Ayu malah jengkel. "Apa yang kalian tertawakan?!."
"Kau ini sangat lucu sekali nila ayu." Jawabnya. "Kami tidak berbicara denganmu."
"Tapi kami berbicara dengan Gusti Putri."
"Hahaha!."
Tawa mereka pecah begitu saja, membuat Nila Ayu semakin murka.
*Kami sedang berbicara dengan Gusti Putri agniasari ariani." Ulangnya. "Dan kenapa malah kau yang terbakar?."
"Hahaha!."
Kembali suara tawa mereka terdengar keras, mengejek Nila Ayu.
"Jangan katakan pada kami? Kalau kau iri." Ucapnya. "Karena kami perhatian pada Gusti Putri agniasari ariani."
Mereka semakin tertawa keras, sedangkan Nila Ayu yang mendengarkan suara tawa mereka.
"Kalian ini benar kurang ajar!."
Dengan suasana hati yang sangat panas, ia menyerang mereka semua, hingga terjadi kegaduhan saat itu juga.
...***...
Kota Raja.
"Prajurit!." Tegasnya. "Bawa mereka yang terluka, obati mereka." Perintah Jaya Satria pada prajurit istana.
"Baik tuan jaya satria." Prajurit istana langsung melakukan, apa yang dikatakan oleh Jaya Satria. Prajurit-prajurit itu membawa seorang wanita, dan dua anak kecil sedang terluka ketempat pengobatan.
"Astaghfirullah hal'azim." Kembali mata itu melihat ke arah mereka semua. "Lihatlah keadaan kalian yang bertarung?." Jaya Satria melanjutkan ucapannya.
Ia mencoba menguatkan hatinya untuk tidak marah.
"Setahuku, seorang putri kadipaten tidak akan mencari pengawal." Ucapnya. "Dengan cara seperti itu." Lanjutnya dengan helaan nafas pelan. "Ia akan mendapatkan hukuman dari raja, jika berbuat seperti itu." Ia menjelaskan pada mereka, tentang aturan menjadi pengawal putri kadipaten. "Tapi kalian malah tertarik? Dengan hal yang merugikan seperti itu?."
Jaya Satria bertanya kepada mereka, yang tadinya ikut bertarung karena sayembara itu?.
Sementara itu, di tempat yang agak jauh dari mereka.
"Kenapa kau malah menyeretku dari sana?!." Putri Gempita Bhadrika merasa kesal.
Semara Layana sangat kurang ajar, telah merusak kesenangannya. Ia menatap kesal ke arah laki-laki itu, ia sangat marah.
"Hamba hanya tidak ingin." Jawabnya. "Gusti Putri dikenali oleh orang bertopeng itu!." Semara Layana juga kesal. "Jangan sampai, dia mengenali Gusti."
"Siapa dia memangnya?."
"Dia adalah orang, yang telah membunuh ki dharma seta."
Deg!.
"Jadi dia?." Ia sangat terkejut. "Orang bertopeng yang mengalahkan ki dharma seta?."
"Benar nini, dialah orangnya." Jawab Mayang Sari. "Saya tidak akan pernah lupa." Ucapnya membara. "Pada orang terkutuk itu." Hatinya terasa panas.
"Kurang ajar!." Umpatnya penuh amarah. "Aku pasti akan membalas kematian kakang dharma seta." Hatinya telah dipenuhi oleh dendam membara. "Jadi dia?." Dalam hatinya terasa sakit. "Orang yang tidak bisa aku terawang? Seperti apa wajah asli, dibalik topengnya itu?."
Dadanya terasa sesak, namun ia harus menahan diri. Agar tidak bertindak ceroboh, yang nantinya akan merusak rencana mereka.
Kembali pada Jaya Satria.
"Allah SWT telah melimpahkan kita akal untuk berpikir." Jaya Satria menjelaskan pada mereka. "Membedakan mana yang baik? Mana yang benar? Dan mana yang salah." Jaya Satria menasihati mereka, agar tidak gegabah jika mendapatkan suatu berita.
"Janganlah kita saling menyakiti satu sama lain." Hatinya terasa resah. "Tapi berbuat baiklah kalian kepada siapa saja yang membutuhkannya." Ucapnya penuh penekanan. "Allah SWT jelas mengatakan dalam Alquran." Jaya Satria mengingatkan mereka semua.
Mereka masih belum menanggapinya, karena mereka memang takut, jika Jaya Satria akan menghajar mereka.
"Janganlah kita menolong orang lain hanya karena imbalan." Ucapnya lagi. "Hingga kita menyakiti diri sendiri, dan bahkan menyakiti orang lain."
Tidak ada bantahan atau komentar dari mereka, saat mendengarkan apa yang dikatakan oleh Jaya Satria. Mereka seperti terpaku oleh kewibawaan, yang terpancar dari Jaya Satria, meskipun wajah itu ditutupi oleh topeng.
"Perintah untuk berbuat baik tercantum dalam Al Quran surat Al Isra ayat 7."
اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْ ۗوَاِنْ اَسَأْتُمْ فَلَهَاۗ فَاِذَا جَاۤءَ وَعْدُ الْاٰخِرَةِ لِيَسٗۤـُٔوْا وُجُوْهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوْهُ اَوَّلَ مَرَّةٍ وَّلِيُتَبِّرُوْا مَا عَلَوْا تَتْبِيْرًا
Jaya Satria membacakan ayat tersebut, dengan suara yang sangat merdu. Membuat mereka semakin terpaku dan merasa kagum.
"Yang artinya, jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri, dan Jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.” Jaya Satria membacakan arti dari ayat yang ia bacakan. Agar mereka memahaminya dengan baik.
"Dari ayat tersebut kita dapat menyimpulkan." Jaya Satria tersenyum kecil. "Baik buruknya yang kita lakukan, pasti akan mendapatkan balasan." Jaya Satria benar-benar menasehati mereka semua.
"Jadi? Berpikirlah sebelum bertindak." Matanya memperhatikan mereka. "Apakah kita mau dibalas kebaikan? Atau keburukan oleh Allah SWT."
Ia mencoba untuk bersabar juga, dalam mengeluarkan pendapat. Agar mereka benar-benar mendengarkan apa yang ia sampaikan.
"Kalau begitu aku pamit, sampurasun." Jaya Satria pergi dari sana, ia juga tidak mau berlama-lama di sana.
"Rampes."
Balas mereka semua sambil melihat kepergian Jaya Satria. Sepertinya mereka mulai berpikir, apalagi saat melihat keadaan sekitar.
Keadaan sekitar memang parah, setelah pertarungan mereka tadi. Apakah mereka masih mau berperilaku seperti?. Hanya mereka yang menjawabnya.
"Orang itu sepertinya bukan orang biasa, dia terlihat kuat." Putri Gempita Bhadrika memperhatikan orang bertopeng itu. Wibawanya yang begitu kental, sehingga mereka tidak bisa melawannya?.
"Lain kali, akan aku uji seberapa tinggi ilmu kanuragan yang ia miliki." Terlintas dibenak Nini Kabut Bidadari, untuk berhadapan langsung dengan Jaya Satria. Bagaimana kelanjutannya?. Temukan jawabannya.
...***...
Istana kerajaan Suka Damai.
"Jadi? Sebagai sesama saudara yang lahir di tanah yang sama." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil. "Saya mohon jangan ada perpecahan, antara kita karena masalah agama." Sang Prabu sangat berharap itu. "Kita bisa memilihnya tanpa ada perbedaan diantara kita." Lanjut sang Prabu. "Karena kita memiliki keyakinan agama masing-masing, untukmu agamamu dan untukku agamaku." Sang Prabu telah menjelaskan kepada mereka semuanya.
"Ya, tentu saja Gusti Prabu."
"Apapun pilihannya, jangan sampai menimbulkan perpecahan."
Mereka semua telah sepakat, bahwa apapun hasilnya akan memberikan kebaikan pada rakyat kerajaan Suka Damai.
"Kalau begitu, saya juga ingin mendengarkan pendapat hadirin sekalian." Ucap sang Prabu. "Rasanya tidak enak juga, jika saya saja yang banyak berbicara." Sang Prabu menatap mereka semua. "Katakanlah semua yang dirasakan, agar kita bisa mendengarnya bersama-sama di sini."
"Mohon ampun Gusti Prabu." Ia memberi hormat. "Sepertinya kami setuju dengan pendapat Gusti Prabu."
"Meskipun hati nurani dapat memilih agama baik dan benar." Ucapnya sambil memberi hormat. "Entah itu agama hindu-buddha atau Islam? Lanjutnya. "Tapi agama sebelumnya tidaklah mudah untuk ditinggalkan." Ungkapnya. "Karena begitu kentalnya ajaran yang terkandung." Hatinya terasa sulit. "Pada ajaran itu tersebut." Ungkapnya lagi. "Mohon ampun Gusti Prabu." Lanjutnya sambil memberi hormat. "Hamba hanya mengutarakan pendapat pribadi hamba." Ia terlihat gelisah. "Semoga saja, penyampaian hamba, tidak menimbulkan masalah nantinya."
"Hamba rasa." Ucapnya. "Itu bermaksud, agar tidak ada penyerangan, terhadap para pemuka agama nantinya."
"Tentu saja kita harus menghindari situasi seperti itu Gusti."
"Kita harus menetapkan hukum." Ungkapnya. "Agar masalah itu, bisa dihindari."
"Saya mengerti dengan kondisi itu." Respon Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Karena saya dulunya juga sulit melakukannya." Lanjut sang Prabu. "Rasanya sangat berat untuk saya lakukan." Matanya kembali melihat ke arah satu sosok. "Akan tapi guru saya syekh asmawan mulia." Sang prabu dengan sopannya memperkenalkan guru agamanya kepada mereka semua.
Syekh Asmawan Mulia memberi hormat kepada prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga kepada hadirin di ruangan itu.
"Beliau dengan sabar membimbing saya." Ucap sang Prabu. "Mengajari saya tentang agama Islam." Lanjut sang Prabu. "Saya sangat berterima kasih kepada Syekh guru." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memberi hormat pada gurunya.
"Belajar menahan marah, belajar tentang menahan diri dari segala cobaan." Senyuman sang Prabu begitu tulus. "Tanpa bimbingan Syekh guru, saya tidak akan bisa melangkah sejauh ini."
"Terima kasih juga kepada Gusti Prabu." Syekh Asmawan Mulia memberi hormat. "Karena ananda prabu memperkenankan hamba hadir di sini." Lanjutnya. "Suatu kehormatan bagi hamba, bisa hadir di sini, atas undangan Gusti Prabu."
"Saya membawa Syekh guru." Balas Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Utuk memperkenalkan agama Islam." Lanjut sang Prabu. "Karena beliau lebih banyak mengetahui agama islam dari pada saya." Ungkap sang Prabu . "Bagaimana pendapat syekh guru? Mengenai penyebaran agama Islam di kerajaan ini." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana meminta pendapat dari gurunya.
"Terima kasih Gusti Prabu." Syekh Asmawan Mulia kembali memberi hormat. "Karena telah mengizinkan hamba untuk memberikan pendapat." Syekh Asmawan Mulia tersenyum kecil, sambil memberi hormat pada sang Prabu.
"Jadi? Beliau adalah guru, dari Gusti Prabu?."
"Saya tidak menduga sama sekali."
"Penampilannya memang berbeda dari kita semua."
"Ya, tidak biasanya."
Setidaknya itulah yang mereka bisikkan, untuk mengungkapkan apa yang dirasakan.
"Hadirin sekalian." Syekh Asmawan Mulia juga memberi hormat pada mereka. "Seperti yang dijelaskan oleh Gusti Prabu." Lanjutnya sambil memberi hormat. "Bahwa agama Islam itu, bukanlah agama yang memaksa seseorang untuk mengikutinya." Syekh Asmawan Mulia mencoba untuk memberikan gambaran pada mereka semua. "Akan tetapi, agama islam dijadikan sebagai pedoman hidup." Syekh Asmawan Mulia tersenyum ramah. "Sebagai agama yang menyempurnakan, agama yang sudah ada."
Mereka menyimak dengan baik, apa yang disampaikan oleh Syekh Asmawan Mulia.
"Suatu negeri, atau suatu kaum akan diuji oleh penciptanya." Syekh Asmawan Mulia kembali menjelaskan. "Oleh perbedaan, tapi apakah mereka bisa? Melakukan toleransi dalam beragama?." Lanjutnya. "Itulah yang akan kita hadapi bersama-sama setelah ini." Ada raut wajah kekhawatiran yang tersirat di sana.
"Ya, rasanya memang seperti itu." Ungkapnya.
"Tapi? Toleransi yang seperti apa tuan?."
"Ya, apakah tuan bisa menjelaskannya?."
"Toleransi merupakan sikap terbuka." Jawab Syekh Asmawan Mulia. "Dan mau mengakui adanya berbagai macam perbedaan." Syekh Asmawan Mulia tersenyum kecil. "Baik dari sisi suku bangsa, warna kulit, bahasa, adat-istiadat, budaya, bahasa, serta agama." Senyumannya mengembang begitu saja. "Seperti yang dijelaskan dalam Alquran."
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ (13)
Artinya: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS. Al-Hujurat: 13)."
Mereka semua juga terpaku dengan penjelasan dari Syekh Asmawan Mulia. Mereka sekarang mengerti, pantas saja sang prabu begitu mantap dalam menyampaikan tentang agama jika gurunya saja seperti ini. Dalam hati mereka mulai menerima dengan baik, dan membandingkan dengan agama yang sudah ada.
"Kira-kira seperti itulah pendapat hamba, Gusti Prabu." Syekh Asmawan Mulia telah menyampaikan pendapatnya.
"Terima kasih Syekh guru." Balas Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dengan senyuman yang ramah.
Mereka semua Kembali membahas masalah agama. Mereka benar-benar saling menyimak satu sama lain dengan apa yang disampaikan, tanpa adanya pertentangan diantara mereka.
"Terima kasih atas penjelasan hadirin semua." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memberi hormat pada mereka. "Semoga dengan pertemuan ini, kita semua bisa mengambil pelajaran." Lanjut sang Prabu. "Dari apa yang kita dengarkan hari ini." Ucap Sang prabu penuh harapan.
"Ya, semoga saja Gusti Prabu."
"Kami akan mempelajarinya kembali."
"Kami akan melakukannya dengan baik."
"Alhamdulillah hirobbil 'alamiin, saya senang mendengarnya."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat senang, mendengarkan tanggapan baik dari mereka.
"Semoga kerajaan suka damai, hidup dalam toleransi yang indah."
Tentunya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat berharap demikian.
...***...
Putri Andhini Andita yang berada di kamarnya.
"Aku masih penasaran, bagaimana mungkin ia bisa melakukannya?." Dalam hatinya memikirkan apa yang terjadi pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Aku yakin, orang itu telah membantunya." Dalam hatinya masih ingat itu.
"Tapi? Sejak kapan?." Hatinya terasa ganjal. "Mereka memiliki hubungan yang sangat dekat?." Keningnya mengkerut aneh. "Apakah ayahanda Prabu?." Ia berpikiran ke arah sana. "Telah mempersiapkan ini semua? Untuk cakara casugraha?." Dalam hatinya malah teringat dengan percakapan ayahandanya.
Kembali ke masa itu.
Putri Andhini Andita berniat ingin menemui ayahandanya, ia merasa keberatan saat ada seorang pendekar wanita yang mengatakan, jika ia masih bersikeras menjadi guru silatnya.
"Hormat hamba Gusti Prabu."
"Jaya satria? Duduklah."
Jaya Satria duduk di hadapan Prabu Kawiswara Arya Ragnala.
"Bagaimana pendapatmu? Apakah semuanya aman?."
"Untuk saat ini masih aman Gusti Prabu."
"Syukurlah kalau begitu, aku senang mendengarnya." Tatapan matanya dipenuhi kasih sayang yang sangat luar biasa. "Kalau begitu, lakukanlah persiapan." Lanjut sang Prabu. "Sebentar lagi putraku nanda cakara casugraha, akan segera kembali ke istana ini."
Deg!.
Putri Andhini Andita sangat terkejut mendengarnya, ia yang saat itu sedang menguping pembicaraan ayahandanya.
"Apakah aku tidak salah dengar?." Dengan hati-hati ia mundur beberapa langkah, setelah itu ia berlari meninggalkan tempat.
Sementara itu di dalam ruangan pribadi Raja.
"Kau akan kembali lagi." Ada kesedihan yang terpancar dari matanya. "Maaf, jika ayahanda membiarkan dirimu." Hati sang Prabu terasa sesak. "Terlalu lama berada di balik topeng ini nak."
"Tidak apa-apa ayahanda." Jaya Satria memberi hormat. "Nanda tidak akan menyalahkan ayahanda."
Jaya Satria tidak merasa keberatan, hatinya telah ikhlas menerima itu semua.
Kembali ke masa ini.
"Apa yang harus aku jelaskan pada mereka?." Ia malah bertanya-tanya pada dirinya sendiri. "Aku merasa bingung." Keluhnya. "Dengan hubungan mereka? Yang sangat aneh." Hatinya semakin gelisah. "Apa mungkin? Ayahanda memang menginginkan ini terjadi?." Pikirannya semakin kusut. "Tidak percaya pada anaknya yang lain? Sehingga ayahanda membiarkan cakara casugraha kembali ke istana ini?." Keluhnya lagi. "Juga membiarkan jaya satria, bekerja dibawah kepemimpinan cakara casugraha."
Begitu berat masalah yang sedang dipikirkan Putri Andhini Andita saat itu. Apakah yang akan ia lakukan dengan masalah rumit itu?. Simak dengan baik kisahnya.
...***...
Pondok pesantren.
Putri Agniasari Ariani terpaksa menarik tangan Nila Ayu agar menjauh dari mereka semua.
"Apa yang nimas lakukan?." Ucapnya heran. "Biarkan aku menghajar mereka semua!."
"Sudah lah nila ayu." Putri Agniasari Ariani tersenyum kecil. "Tidak ada gunanya bertengkar dengan mereka."
"Tapi?."
"Ingat kata guru dewi cantika." Putri Agniasari Ariani yang belum fasih, namun masih ingat dengan bacaan ayat itu.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Ya ayyuhallazina amanustainu bis sabri was salah, innallaha ma ashobirin
Artinya, “Hai orang-orang beriman, jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah 153.)
"Hufh!." Nila Ayu mencoba mengatur nafasnya. "Walaupun nimas baru belajar beberapa hari?." Ucapnya. "Dan belum mengucapkan kalimat syahadat? Nimas telah memahami beberapa ayat." Nila Ayu sangat terkesan. "Terima kasih telah mengingatkan aku nimas."
"Aku hanya belajar devisanya saja." Putri Agniasari Ariani merasa seperti itu.
"Baiklah, kalau begitu?." Responnya. "Kita lanjutkan pembicaraan kita mengenai pesantren ini."
"Mari."
Setelah itu mereka kembali berkeliling sekitar kawasan pesantren.
Sementara itu di dalam pesantren.
"Nimas agniasari ariani sangat luar biasa sekali kakang." Dewi Cantika, nama guru yang mengajari santri wanita merasa kagum. "Dia belajar dengan sangat cepat, dan sangat cerdas."
"Benar-benar menggambarkan keturunan raja yang sangat hebat." Syekh Muhammad Arsyad juga dapat merasakan itu. "Namun aku tidak menduga, entah mimpi apa?." Lanjutnya. "Seorang putri Raja mau berguru? Dan ingin memeluk agama Islam?." Ucapnya heran. "Di pesantren kita ini nini."
"Ya, kakang benar." Dewi Cantika tersenyum kecil. "Sepertinya kita sedang bermimpi indah kakang Syekh." Lanjutnya. "Bermimpi untuk mencetak sejarah baru."
"Tapi kita harus berhati-hati mengajarinya nini." Balasnya. "Karena ia sangat cerdas." Matanya memperhatikan Putri Agniasari Ariani. "Jangan sampai ia menyalahgunakan ilmu, yang telah kita ajarkan padanya."
"Tentu saja kakang Syekh."
Mereka hanya cemas, jika Putri Agniasari Ariani hanya sekedar menguji kepintarannya saja?. Karena jarang ada seorang putri Raja yang mau belajar ilmu agama. Apalagi dari kerajaan yang sangat jauh, mereka merasa sangat heran. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Simak dengan baik kisahnya. Next halaman.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 372 Episodes
Comments
SoVay
mantap bgt mah Mang Prabu... kerajaan sunda kuno memang ada yg muslim ada yg hindunya kan
2021-12-20
1
Koba
Ada... ayat sucinya juga!!
2021-11-21
1
nur fatimah
lanjutttt🙃
2021-11-10
1