...***...
Entah kenapa suasana saat itu terasa sangat tegang, atmosfir terasa tidak enak untuk mereka yang sebelumnya tidak akur sama sekali.
"Ada apa ibunda Ratu?." Sang Prabu tersenyum kecil. "Apa yang ingin ibunda sampaikan pada nanda?."
"Mohon maaf nanda Prabu." Jawabnya. "Ibunda hanya ingin menuntut keadilan pada nanda Prabu."
"Mohon ampun ibunda Ratu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memberi hormat. "Mengapa ibunda berkata seperti itu?." Raut wajah sang Prabu terlihat bingung. "Keadilan apa yang ibunda maksudkan?."
"Sebagai seorang Raja?." Respon Ratu Gendhis Cendrawati. "Kepala keluarga istana?." Lanjutnya. "Ibunda tidak pernah melihat, nanda menjenguk Raden hadyan hastanta." Ada perasaan sakit hati, yang ia tunjukkan pada sang prabu.
Deg!.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mulai mengerti.
"Apakah menurut nanda Prabu?." Tatapan matanya sangat tajam. "Putraku tidaklah penting?." Suaranya terdengar bergetar. "Sehingga tidak mendapatkan perhatian dari nanda Prabu?!." Ada kemarahan yang hendak ia sampaikan pada saat itu.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Dalam hati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mulai merasakan adanya perpecahan nantinya.
"Nanda sama sekali tidak peduli! Dengan keselamatan putraku!." Ucapannya dengan penuh penekanan. "Aku ingin menuntut tanggungjawab ananda!." Tegasnya. "Entah itu sebagai Raja? Ataupun sebagai kepala keluarga istana ini!."
Ratu Gendhis Cendrawati telah mengatakannya dengan jelas, ia tidak pernah melihat prabu Asmalaraya Arya Ardhana melihat kondisi anaknya.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menghela nafasnya pelan.
"Jangan hanya diam saja." Hatinya semakin memanas. "Katakan sesuatu!." Ucapnya lagi. "Atau? Kau ingin menghajar aku?." Ucapnya lagi. "Sama seperti masa lalu?!."
"Jadi ini? Alasan ibunda datang dalam keadaan marah?." Dalam hatinya mencoba untuk bersabar dengan itu.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana bangkit dari duduknya, mendekati Ratu Gendhis Cendrawati, sang Prabu bersimpuh dihadapan ibundanya.
"Sungguh maafkan nanda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dengan sungguh-sungguh. "Ibunda Ratu gendhis cendrawati." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memberi hormat. "Jika nanda tidak memperhatikan raka hadyan hastanta." Suara itu terdengar tulus, permintaan maaf seorang anak kepada ibunya. "Nanda tidak bermaksud lalai, sebagai seorang Raja." Lanjut sang Prabu. "Ataupun sebagai seorang kepala keluarga."
Ratu Gendhis Cendrawati dapat merasakannya, merasakan perasaan tulus itu, sama persis ketika mendiang suaminya prabu Kawiswara Arya Ragnala yang meminta maaf kepadanya.
"Maafkan nanda." Ucap Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Yang belum sempat mengunjungi raka hadyan hastanta." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana kembali memberi hormat. "Rencananya nanda akan segera menjenguk raka hadyan hastanta." Lanjut sang Prabu. "Setelah selesai pertemuan." Raut wajah sang Prabu sangat cemas. "Maafkan nanda, ibunda Ratu gendhis cendrawati." Ucapan tulus dari prabu Asmalaraya Arya Ardhana rasanya begitu menyentuh hati ratu Gendhis Cendrawati, rasanya ia tidak tega memarahi putranya ini.
Ratu Gendhis Cendrawati sangat mengetahui kesibukan seorang raja. Bahkan sampai malam hari pun, seorang Raja masih melihat laporan-laporan yang masuk ke istana, melalui menteri yang telah menyaring laporan mana saja yang pantas masuk ke ruang raja. Tapi saat itu juga, Ratu Ardiningrum Bintari datang bersama kedua putranya.
"Rayi gendhis cendrawati!."
Deg!.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Ratu Gendhis Cendrawati terkejut.
"Jangan mudah memaafkan." Ucapnya sambil mendekati mereka. "Kesalahan yang telah ia perbuat." Matanya menatap tajam. "Dia hanya bersandiwara saja." Lanjutnya. "Jangan berikan maaf padanya."
"Apa yang harus aku lakukan?." Dalam hati Ratu Gendhis Cendrawati masih bingung.
Apalagi yang harus ia perbuat?. Bukankah prabu Asmalaraya Arya Ardhana telah mengatakan, bahwa ia akan segera menemui putranya?.
"Ibunda Ratu ardiningrum bintari." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana melihat kedatangan ibundanya Ratu Ardiningrum Bintari, bersama kedua kakaknya. Ia segera memberi hormat kepada ibundanya.
"Apa maksud ibunda? Nanda sudah mengatakan." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba bersikap tenang. "Bahwa nanda akan mengunjungi raka hadyan hastanta." Lanjut sang Prabu. "Tapi kenapa ibunda berkata seperti itu?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sungguh tidak mengerti.
"Heh!." Ratu Ardiningrum Bintari mendengus kesal. "Kau hanya pura-pura saja.
"Ada masalah apa ibunda Ratu Ardiningrum Bintari? Sehingga berkata seperti itu?."
"Kau tidak usah berpura-pura bodoh cakara casugraha!."
"Ibunda!."
"Cakara casugraha!." Raden Ganendra Garjitha ikutan. "Bukankah sudah jelas?!." Bentaknya. "Kau tidak peduli dengan rayi hadyan hastanta." Ucapnya dengan penuh penekanan.
"Raka ganendra garjhita!."
"Tapi saat ibunda Ratu gendhis cendrawati datang menemuimu?." Ia terkesan mengejek. "Baru kau mengatakan ingin menjenguknya?." Lanjutnya. "Kau ini pandai sekali dalam berkata-kata rayi prabu." Raden Ganendra Garjitha malah berkata seperti itu, menuduh yang tidak-tidak terhadap prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Aastaghfirullah hal'azim, raka ganendra garjitha." Amarahnya hampir saja lepas begitu saja. "Aku tidak pernah berpikiran seperti itu!." Hatinya memanas mendadak begitu saja. $Aku sungguh-sungguh ingin melakukannya."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sungguh tidak mengerti, mengapa saudaranya ini malah membuat ia terkesan tidak peduli pada kakaknya Raden Hadyan Hastanta?.
"Sudahlah rayi Prabu!." Balasnya cepat. "Kau tidak usah membela diri lagi." Ia mendengus kesal. "Akuilah perbuatanmu!." Suaranya terdengar tinggi. "Jika kau masih menganggap dirimu sebagai raja?!." Lanjutnya. "Yang bertanggungjawab kepada keluargamu sendiri!." Raden Gentala Giandra juga memojokkan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, untuk mengakui kesalahan dan kelalaiannya.
...***...
Di sisi lain.
Jaya Satria berusaha mencari keberadaan kawanan perompak, beberapa hari yang lalu telah menyerang Raden Hadyan Hastanta. Ketika ia sampai di hutan di dekat desa Damai Selangit, ia dicegat oleh seorang laki-laki yang terlihat marah padanya.
"Jadi kau?!." Tunjuknya kasar. "Si bedebah! Yang telah menyandera anak buahku?!." Amarahnya sangat besar. Marah, dendam dan tidak suka tergambar jelas di wajah itu.
"Siapa kau?." Balasnya heran. "Datang, dan marah-marah padaku?." Jaya Satria sangat kesal. "Katakan duduk perkara masalahnya terlebih dahulu." Lanjutnya. "Baru kau boleh marah-marah padaku!."
"Aku ini ketua dari salah satu orang!." Hatinya memanas. "Yang telah kau sandera!." jawabnya dengan nada membentak. "Bocah tengik seperti kau?!." Tunjuknya. "Ternyata memiliki ilmu kanuragan, yang dapat menutup ilmu mata batin dengan sangat kuat!."
"Oh?." Responnya. "Jadi kau ketuanya?."
"Ya! Aku adalah ketuanya!." Amarahnya semakin memuncak. "Namaku dharma seta, dan kau?!." Tunjuknya lagi. "Telah berani membuat masalah denganku!." Hatinya hanya diisi oleh amarah. "Menyandera anak buahku, itu artinya kau mencari mati denganku!." Ki Dharma Seta sangat jelas terlihat marah, ia marah karena merasa dipermalukan oleh orang misterius itu memiliki ilmu Kanuragan yang bisa menandinginya?.
"Astaghfirullah hal'azim paman." Balasnya. "Bertaubatlah!." Tegasnya. "Sebelum ajal mendekat." Jaya Satria terkejut. "Jadi dia? Adalah ketua dari kelompok sengkar iblis?." Dalam hati Jaya Satria. ""Kau itu sudah hampir bau tanah, tapi kelakuanmu masih saja keji."
"Diam kau bedebah!." Umpatnya kasar. "Berani sekali kau berkata seperti itu padaku?!." Hatinya semakin panas. "Setelah kau menyandera anak buahku?!." Amarahnya tidak bisa ia kendalikan lagi.
"Pemarah, aku benci dengan orang yang suka marah-marah." Jaya Satria kesal juga melihatnya.
"Punya pegangan apa kau?." Ki Dharma Seta benar-benar memperlihatkan amarahnya. "Sehingga berani menantang aku?! Hah?!." Ki Dharma Seta benar-benar murka, mendengarkan apa yang dikatakan Jaya Satria.
"Aku punya ini." Jaya Satria mengeluarkan pedang pelebur Sukma.
Deg!.
Ki Dharma Seta terkejut melihatnya itu. "Pedang pelebur sukma?." Ia tidak percaya itu. "Hanya karena memiliki itu?." Ucapnya penuh amarah. "Kau berani menantang aku?!." Ia mulai memasang kuda-kuda. "Sombong sekali kau!."
Jaya Satria kembali menyimpan pedang pelebur sukma. "Tidak ada yang patut aku sombong kan." Jawabnya. "Aku takut Allah SWT akan laknat kepadaku."
"Heh!." Ia mendengus kesal. "Sebaiknya kau jangan banyak membuang-buang waktuku." Lanjutnya. "Aku hanya ingin anak buah ku kembali!."
"Tenanglah paman, kita bisa bicarakan dengan baik."
Jaya Satria mencoba menenangkan diri, agar tidak terlalu terpancing oleh amarah yang berlebihan.
...***...
Putri Gempita Bhadrika masih belum percaya atas apa yang telah terjadi pada ayahandanya, setelah bertarung dengan Prabu Kawiswara Arya Ragnala.
"Harus dengan cara apa? Aku mengobati ayahandaku?." Dalam hati Putri Gempita Bhadrika sedang memikirkan cara terbaik untuk menyembuhkan ayahanda. "Raja dari kerajaan suka damai itu, ternyata memiliki kekuatan yang sangat dahsyat." Dalam hatinya masih ingat, bagaimana pertarungan ayahandanya. "Bahkan ayahanda terpaksa menggunakan cara yang licik, untuk mengalahkan Raja itu." Ingatannya tidak akan pudar begitu saja, ketika menyaksikan pertempuran dua orang Raja saat bertarung.
"Pedang panggilan jiwa, pedang sukma naga pembelah bumi?." Hatinya merasa heran. "Pedang apa itu? Aku baru melihat pedang yang seperti itu."
Suasana hatinya saat itu sedang gelisah, tenaga dalam ayahandanya seperti terkunci oleh pedang panggilan jiwa pedang sukma naga pembelah bumi.
"Seberapa dahsyat kekuatan pedang itu?." Dalam hatinya lagi. "Sehingga melumpuhkan ayahanda ku separah ini?." Hatinya semakin panas jika ingat itu. "Aku pasti akan menyembuhkan ayahanda ku!." Tekadnya sangat kuat. "Setelah itu! Akan kami balas berkali lipat padanya!." Itulah tekad yang ia buat dari hatinya. Apakah ia akan berhasil melakukan itu?. Simak terus ceritanya.
...***...
Di saat yang bersamaan, putri Andhini Andita dan Putri Ambarsari masuk ke ruangan itu. Karena mereka tadi penasaran mengapa Ratu Ardiningrum Bintari dan kedua kakaknya menuju ruang pertemuan raja?.
Saat mereka masuk, mereka melihat Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedang dipojokkan oleh mereka.
"Ada apa ini rayi Prabu?." Ucapnya heran. "Mengapa kau membuat ibundaku marah?!." Putri Ambarsari bertanya kepada prabu Asmalaraya Arya Ardhana, tapi nada bertanyanya itu, sungguh tidak enak untuk didengar oleh prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Maaf yunda." Balasnya. "Aku tidak bermaksud membuat ibunda marah." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menatap kakak perempuannya. "Aku sudah menjelaskan bahwa." Tegas sang Prabu. "Aku ingin mengunjungi raka hadyan hastanta, setelah selesai pertemuan." Kali ini melihat ke arah dua wanita terhormat yang ia sebut ibunda. "Akan tetapi? Ibunda Ratu ardiningrum bintari." Lanjutnya. "Malah menuduhku yang bukan-bukan." Sang Prabu sama sekali tidak terima. "Rasanya tidak pantas menuduhku seperti itu." Sepertinya prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba mejelaskan apa yang dikatakan tadi, mungkin kakak perempuannya itu mengerti.
"Bukankah? Kau sudah menjenguk rakaku secara diam-diam?." Ucapnya begitu saja. "Dan malah mengobatinya rayi Prabu?." Entah refleks atau tidak sengaja, Putri Andhini Andita mengatakan apa yang pernah ia lihat.
Tentu saja ucapannya membuat mereka semua terkejut, bahkan dirinya juga terkejut, dan segera menutup mulutnya.
"Apa maksudmu, putriku andhini andita?." Responnya cepat. "Apakah kau tidak salah dalam berbicara?." Ratu Gendhis Cendrawati mendekati putrinya, dan berdiri di samping anaknya itu.
"Katakanlah yunda, Allah SWT telah menyaksikannya." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menekan ucapannya. "Jika yunda berbohong? Allah SWT akan murka kepada yunda." Tekan sang Prabu. "Yang telah menjadi saksi apa yang yunda lihat, katakan."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terpaksa berkata seperti itu, ia tidak menyangka, kakaknya melihat apa yang ia lakukan?. "Sepertinya aku harus berhati-hati bertindak." Dalam hati sang Prabu harus waspada. "Apalagi jika bersama jaya satria." Dalam hati sang Prabu waspada. "Aku takut lama-lama yunda andhini andita mengetahui semuanya." Dalam hati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mulai mewaspadai, jika kakaknya itu memata-matai gerak-geriknya di istana ini.
Putri Andhini Andita yang mendengarkan, apa yang dikatakan adiknya, sedikit bergetar takut. Ia takut Dewata yang Agung, murka padanya dan memberikan kutukan kepadanya, seperti yang dikatakan oleh mendiang ayahandanya.
"Jika kita terus hidup dalam kebohongan?." Ucap Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dengan hati-hati. "Allah SWT tentu akan mengutuknya, dan hidupnya akan dibalas dengan kebohongan pula." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mendorong lagi.
"Kau jangan mendesaknya cakara casugraha!." Ratu Ardiningrum Bintari malah kesal dengan ucapan itu.
...***...
Putri Agniasari Ariani yang saat itu sedang melakukan perjalanan untuk mengembara, namun di alam bawah sadarnya.
"Salam hormat ananda, ayahanda Prabu." Dengan penuh kasih sayang, ia memberi hormat pada ayahandanya.
"Salam ananda, ayahanda terima, putriku ananda agniasari ariani." Prabu Kawiswara Arya Ragnala mengelus sayang kepala anaknya, memeluknya dengan erat.
"Apa yang hendak ananda lakukan?." Tangannya mengelus sayang rambut anaknya. "Sehingga ananda sampai ke kawasan ini?."
"Ananda hendak mengembara ayahanda." Jawabnya. "Semoga saja ayahanda merestui, pengembaraan yang akan ananda lakukan."
"Apakah ananda telah pamitan pada ibunda?." Tatapan mata sang Prabu sangat lembut. "Jangan sampai ananda membuat ibunda cemas."
"Tentu saja ananda meminta izin pada ibunda." Ia tersenyum lembut. "Tidak mungkin ananda, tidak minta izin ayahanda."
"Syukurlah, jika memang seperti itu putriku." Prabu Kawiswara Arya Ragnala tampak lega mendengarnya. "Tapi? Apa yang hendak ananda capai?." Sang Prabu sangat heran. "Saat melakukan pengembaraan ini?." Prabu Kawiswara Arya Ragnala menatap lembut anaknya. "Apakah ananda tidak kasihan?." Lanjut sang Prabu. "Membiarkan ibunda sendirian di istana?."
"Maaf ayahanda Prabu." Putri Agniasari Ariani memberi hormat. "Bukan ananda bermaksud untuk meninggalkan ibunda di istana sendirian." Putri Agniasari Ariani dengan tulus meminta maaf pada ayahandanya. "Entah kenapa, dalam pengembaraan yang akan ananda lakukan ini?." Lanjutnya. "Nanda ingin melihat, bagaimana warna kehidupan di luar sana? Di luar istana." Hatinya terasa bergejolak. "Ananda juga ingin belajar agama Islam, sama seperti rayi Prabu."
Prabu Kawiswara Arya Ragnala tersenyum kecil menatap putrinya. "Kalau begitu? Kuatkan tekatmu putriku." Sang Prabu mengelus sayang kepala anaknya. "Semoga kelak? Kau bisa menggunakan pedang panggilan jiwa, pedang warna kehidupan."
"Pedang panggilan jiwa? Pedang warna kehidupan?." Putri Agniasari Ariani hampir tidak percaya mendengar ucapan itu. "Apakah ananda bisa ayahanda?."
"Hanya kau yang tentukan." Respon Prabu Kawiswara Arya Ragnala. "Kau yang memiliki keinginan untuk melihat, bagaimana warna kehidupan itu yang sebenarnya?."
Setelah berkata seperti itu, Prabu Kawiswara Arya Ragnala menghilang entah kemana.
"Ayahanda akan selalu melihatmu." Suara sang Prabu memberikan salam perpisahan pada anak gadisnya. "Lakukan dengan baik, putriku ananda agniasari ariani."
"Sandika ayahanda Prabu." Perlahan-lahan Putri Agniasari Ariani membuka matanya.
Ternyata ia dibawa ke alam bawah sadar, agar bisa berkomunikasi dengan mendiang ayahandanya, Prabu Kawiswara Arya Ragnala.
"Pedang panggilan jiwa? Pedang warna kehidupan?." Putri Agniasari Ariani memikirkan ucapan ayahandanya. "Ya, aku akan berusaha dengan baik." Dalam hatinya. "Aku tidak akan mengecewakan keinginan ayahanda Prabu." Ucapnya dengan yakin. "Agar aku memanggil pedang panggilan jiwa." Dalam hatinya membulatkan tekad untuk menggunakan pedang panggilan jiwa.
Pedang yang membuktikan bahwa ia adalah keturunan sah dari Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta, Prabu Bahuwirya Dihyan Darya ayahandanya yang mendapatkan gelar Prabu Kawiswara Arya Ragnala. Tapi apakah bisa?. Simak dengan baik kisahnya.
...***...
Istana kerajaan Suka Damai.
"Katakanlah kebenarannya, putriku! Katakan pada ibunda." Ratu Gendhis Cendrawati menunggu jawaban dari putrinya. "Apakah benar seperti itu? Yang dilakukan nanda Prabu?."
"Dewata yang agung, aku telah keceplosan dalam berbicara." Dalam hati Putri Andhini Andita merasa gugup.
Matanya kini menatap mata adiknya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, mata itu sangat tulus, juga jujur. Apakah ia akan tega membiarkan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana diperlakukan seperti itu, meskipun ia memang membenci adiknya?.
"Apa yang harus aku lakukan?." Dalam hatinya sangat bimbang. Bagaimanapun juga adiknya juga pernah mendengarkan, apa yang ia katakan.
Apakah ia juga akan mendengarkan apa yang dikatakan oleh adiknya?. Saat ini ia tahu bahwa, mereka semua hanyalah ingin memojokkan adiknya, untuk bertanggungjawab sebagai seorang raja kepada keluarganya?. Bukankah ia yang menjadi saksi bahwa adiknya melakukannya tanpa diketahui siapapun?.
Bahkan sebagai raja yang sangat sibuk dengan tugasnya?. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana secara diam-diam masih sempat mendatangi saudaranya, mengobatinya?. Lalu di mana lagi letak salahnya?. Katakan!.
"Ya, aku melihat rayi Prabu." Ucapnya. "Mengobati raka hadyan hastanta." Dengan hati-hati ia menjawabnya.
"Apa?!."
"Itu tidak mungkin!."
"Coba jelaskan putriku!."
"Katakan saja kebenarannya yunda."
Sepertinya mereka mendesak Putri Andhini Andita agar berkata yang sebenarnya?. Apakah yang mereka inginkan dari Prabu Asmalaraya Arya Ardhana?. Sehingga mereka ingin sang Prabu terlihat salah di mata mereka?.
"Ketika raka masih terbaring lemah." Jelasnya. "Karena pengaruh racun, rayi Prabu yang mengobatinya." Matanya melihat ke arah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Rayi Prabu meracik ramuan obat, sebelum ia pergi meninggalkan kamar raka hadyan hastanta." Putri Andhini Andita menjelaskan semua yang ia lihat, apa saja yang dilakukan prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
Mereka hampir tidak percaya dengan apa yang diceritakan oleh putri Andhini Andita. Mereka tidak percaya jika Prabu Asmalaraya Arya Ardhana melakukan itu secara diam.
"Apakah benar yang kau katakan rayi?." Raden Ganendra Garjitha menatap tajam. "Kau jangan berbohong!." Desaknya. "Katakan yang sejujurnya!." Suaranya terdengar keras. "Apakah kau sedang mencoba membela musuh kita semua?!."
"Tidak raka!." Bantahnya cepat. "Demi dewata agung, aku memang melihatnya!." Tegasnya. "Aku melihatnya!."
Putri Andhini Andita meyakinkan kesaksiannya terhadap, apa yang dilakukan oleh adiknya prabu Asmalaraya Arya Ardhana memang betul, namun mereka masih ragu?.
"Katakan yang sebenarnya putriku!." Hatinya masih bimbang. "Apakah kau bermaksud membelanya?." Bahkan Ratu Gendhis Cendrawati merasa ragu dengan ucapan putrinya. "Apakah kau yakin dengan ucapanmu itu?."
"Benar ibunda!." Tegas Putri Andhini Andita. "Ananda tidak berbohong sama sekali!." Putri Andhini Andita menatap mata ibundanya.
"Itu tidak mungkin!."
"Ananda tidak berbohong sama sekali." Kali ini ia kembali melihat ke arah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Dua malam berturut-turut, rayi Prabu mendatangi kamar raka hadyan hastanta." Ada rasa simpati yang ia rasakan dengan sikap adiknya yang seperti itu.
"Jadi? Yunda andhini andita benar-benar melihatnya?." Dalam hati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana waspada.
"Larut malam ketika semuanya sudah tidur, namun aku masih terbangun." Ucapnya lagi. "Ibunda, ananda melihat rayi Prabu yang hampir sempoyongan." Lanjutnya. "Menuju kamar raka hadyan hastanta." Entah kenapa ia tidak tega melihat itu. "Dengan tenaga dalamnya ia menyalurkan hawa murninya." Ucapnya lagi. "Untuk mengobati raka hadyan hastanta, yang masih terkena racun." Itulah yang ingat. "Ananda bahkan melihat rayi Prabu meramu obat." Ia benar-benar ingat dengan kejadian saat itu. "Meninggalkannya di meja itu, untuk paginya diminum oleh raka hadyan hastanta."
Putri Andhini Andita menjelaskan semuanya, tidak ada yang tertinggal, ataupun ditambah atau dikurang, semua ceritanya sesuai fakta yang ia lihat.
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin, jika memang saksi dari yunda andhini andita." Dalam hati sang Prabu merasa sangat bersyukur. "Setidaknya aku selamat dari tuduhan mereka." Dalam hati sang Prabu merasa lega. "Yang mengatakan bahwa aku, tidak bertanggungjawab sama sekali sebagai kepala keluarga istana."
Sedangkan mereka semua terdiam, setelah mendengarkan penjelasan dari Putri Andhini Andita.
Jadi seperti itu yang dilakukan oleh prabu Asmalaraya Arya Ardhana?. Lalu tuntutan apa yang mereka inginkan?. Apakah mereka masih berhak?. Untuk menuntut keadilan pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana?.
"Jadi nanda Prabu melakukannya diam-diam? Setelah kami semua terlelap?." Ratu Gendhis Cendrawati yang bertanya.
"Benar ibunda." Jawab Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Nanda melakukan seperti yang dikatakan oleh yunda andhini andita." Sang Prabu memberi hormat. "Nanda hanya tidak ingin mengganggu siapapun."
"Sungguh, aku tidak menyangka sama sekali." Dalam hatinya merasa canggung. "Ketika ia telah mengerjakan semua pekerjaan istana?." Dalam hatinya merasa bersalah. "Dan ia memang masih menyempatkan waktunya?." Dalam hatinya masih ragu?. "Untuk mengunjungi kamar putraku raden hadyan hastanta?." Dalam hatinya tidak menduga itu. "Bahkan ia mengabaikan rasa lelahnya? Untuk mengobati putraku?."
Dalam hati Ratu Gendhis Cendrawati merasa bersalah, karena terburu-buru menyalahkan prabu Asmalaraya Arya Ardhana, yang jelas-jelas memang memperhatikan keluarga istana dengan caranya sendiri?.
"Tapi mengapa kau melakukannya diam-diam rayi Prabu?." Raden Ganendra Garjitha malah heran. "Apakah kau sebenarnya ingin berniat? Mencelakai rayi hadyan hastanta?." Perasaan curiga itu belum hilang. "Tapi tidak jadi?." Lanjutnya. "Mungkin saja? Itu karena kau menyadari, jika rayi andhini andita melihatmu?." Ia sangat curiga. "Sehingga kau berpura-pura mengobati rayi hadyan hastanta." Ucapannya penuh tuduhan tidak-tidak.
Deg!.
Mereka benar-benar memikirkan ucapan itu.
"Dengan begitu? Kau terhindar dari tuduhan, dengan niat mencelakainya."
Begitu kejam tuduhan yang dikatakan oleh Raden Ganendra Garjitha. Benar-benar membuat Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa tersinggung.
"Astaghfirullah hal'azim, raka! Jaga ucapan raka!." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana hampir saja terbawa amarah. "Jika aku berniat untuk membunuh raka hadyan hastanta? Untuk apa aku mengobatinya." Suara itu terdengar sangat keras, dan membentak Raden Ganendra Garjitha.
"Jujur saja cakara casugraha!." Bentaknya. "Tidak usah berusaha untuk menutupi kesalahanmu." Putri Ambarsari yang malah memojokkan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Kau tidak usah merasa lega terlebih dahulu!." Ucapnya penuh amarah. "Hanya karena kesaksian yang diberikan rayi andhini andita!." Lanjutnya. "Bisa jadi itu hanyalah sandiwara belaka."
"Benar!." Sambungnya. "Tidak usah kau tutupi kebohonganmu!." Bentaknya. "Dengan membuat alasan, yang meyakinkan kami semua." Raden Gentala Giandra semakin memanasi suasana. "Karena apapun yang kau lakukan?! Akan salah di mata kami!." Tatapannya begitu tajam, seakan-akan hendak menikam Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Rayi Prabu sepertinya terdesak, karena perkataan mereka." Dalam hati Putri Andhini Andita memperhatikan itu. "Kenapa aku merasa kasihan padanya?." Dalam hatinya sangat heran. "Sangat jelas sekali, bahwa mereka ingin mengalahkan rayi Prabu."
Dalam hatinya merasa gelisah, ketika melihat bagaimana bagaimana ketiga saudara itu berusaha mencari-cari kesalahan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana?.
"Apa yang harus aku lakukan?." Dalam hatinya sangat bimbang.
Dalam suasana yang panas itu, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana membacakan surah An-Nur ayat 11.
اِنَّ الَّذِيْنَ جَاۤءُوْ بِالْاِفْكِ عُصْبَةٌ مِّنْكُمْۗ لَا تَحْسَبُوْهُ شَرًّا لَّكُمْۗ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۗ لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ مَّا اكْتَسَبَ مِنَ الْاِثْمِۚ وَالَّذِيْ تَوَلّٰى كِبْرَهٗ مِنْهُمْ لَهٗ عَذَابٌ عَظِيْمٌ.
Mereka semua terdiam saat mendengarkan suara merdu dari Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu (juga). Janganlah kamu mengira berita itu buruk bagi kamu bahkan itu baik bagi kamu, setiap orang dari mereka akan mendapat balasan dari dosa yang diperbuatnya. Dan barangsiapa di antara mereka yang mengambil bagian terbesar (dari dosa yang diperbuatnya), dia mendapat azab yang besar (pula)." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga membacakan arti dari ayat tersebut.
Mereka semua terdiam mendengarnya, tidak menduga jika Prabu Asmalaraya Arya Ardhana atau Raden Cakara Casugraha memiliki suara yang sangat indah.
"Berburuk sangka, hanyalah akan menimbulkan noda dosa dihari kita." Nasihatnya. "Lama-kelamaan akan menjadi menghitam, hati kita akan selalu dipenuhi oleh kedengkian, atau itu yang ibunda, raka, juga yunda inginkan?." Suara Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terdengar marah.
"Apa manfaat yang akan aku dapatkan?." Ucap Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sambil menahan amarah. "Jika aku membunuh raka hadyan hastanta?." Lanjutnya. "Jika tahta yang aku dapatkan sekarang?." Senyuman sang Prabu terlihat menyeramkan. "Bisa membuat raka, bahkan kalian semua terusir dari istana ini?." Lanjut sang Prabu. "Seperti yang kalian lakukan padaku dikala itu?." S
ebenarnya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak berniat marah, hanya saja ia tidak suka jika dirinya didesak, untuk mengakui hal yang sudah jelas tidak ia lakukan.
"Kau jangan coba-coba mengancam kami cakara casugraha?!." Amarahnya membuncah mendengarkan ucapan sang Prabu. "Ingat!." Tegasnya. "Suatu hari nanti, akan aku rebut!." Amarahnya kembali meledak. "Semua yang kau miliki, termasuk mahkota itu!." Raden Ganendra Garjitha sangat geram. Tentunya ia ingat dengan kejadian itu.
"Kau akan membayar apa yang kau lakukan hari ini, cakara casugraha." Raden Gentala Giandra juga terlihat marah. Apalagi mendapatkan ancaman seperti itu.
"Aku juga akan merebut tahta itu darimu! Kau tunggu saja." Putri Andhini Andita juga marah?.
Setelah itu, mereka meninggalkan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, kecuali Putri Andhini Andita yang merasa heran.
Apakah ia akan berada di pihak adiknya Prabu Asmalaraya Arya?. Setelah apa yang ia lihat tadi?. Ia bisa menilai, mana yang baik, dan mana yang salah. Selama ini, ia hanya terpengaruh oleh ucapan mereka, tanpa melihat fakta yang sesungguhnya.
"Oh dewata yang agung? Hamba berada di pihak mana?." Dalam hatinya mulai bimbang.
"Terima kasih karena yunda telah-."
"Aku tidak membelamu cakara casugraha!." Bantahnya cepat. "Jadi kau tidak perlu berterima kasih padaku." Ucapnya dengan sangat kesal.
"Baiklah." Respon Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dengan senyuman kecil. "Kalau begitu aku ke ruang pribadi Raja yunda, sampurasun." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memberi hormat pada kakaknya.
"Rampes." Putri Andhini Andita hanya melihat kepergian Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Kenapa aku malah membelanya? Apa yang salah denganku?." Dalam hatinya sangat kesal dengan perasaan hatinya. "Harusnya aku tidak mengatakan kebenaran itu." Dalam hatinya mengutuk. "Tapi dia malah membawa nama Dewata Agung." Dalam hatinya saat itu mendadak kesal dengan apa yang telah ia lakukan tadinya. "Sial!." Umpatnya kesal. "Aku malah jadi kepikiran dengan ucapan bodohku tadi." Dalam hatinya semakin kesal atas tindakan bodohnya yang membela musuhnya. "Aku harus menenangkan diriku." Dalam hatinya. "Ini adalah kecelakaan."
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Simak dengan baik kisahnya.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 372 Episodes
Comments
Elmo Damarkaca
keliatan sdh yg benar2 berambisi menjadi Raja namun belum terlaksana ...Gimana ya Kelanjutan nya ...
lanjut thor. . .
2022-06-03
1
dewi sherel
Disini sikap Raden ganendra dan Raden gentala sangat menyebalkan.Dan semoga dapat pelajaran dari sikap ambisinya terhadap merebut tahta mahkota raja.
2022-04-02
1
Suhadi Mangir
pergi ke kantor,pakai kaos buat author,ceritanya polos. tambahin kreasi ditema ceritanya
2021-12-28
1