TUDUHAN

...***...

Entah kenapa suasana saat itu terasa sangat tegang, atmosfir terasa tidak enak untuk mereka yang sebelumnya tidak akur sama sekali.

"Ada apa ibunda Ratu?." Sang Prabu tersenyum kecil. "Apa yang ingin ibunda sampaikan pada nanda?."

"Mohon maaf nanda Prabu." Jawabnya. "Ibunda hanya ingin menuntut keadilan pada nanda Prabu."

"Mohon ampun ibunda Ratu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memberi hormat. "Mengapa ibunda berkata seperti itu?." Raut wajah sang Prabu terlihat bingung. "Keadilan apa yang ibunda maksudkan?."

"Sebagai seorang Raja?." Respon Ratu Gendhis Cendrawati. "Kepala keluarga istana?." Lanjutnya. "Ibunda tidak pernah melihat, nanda menjenguk Raden hadyan hastanta." Ada perasaan sakit hati, yang ia tunjukkan pada sang prabu.

Deg!.

Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mulai mengerti.

"Apakah menurut nanda Prabu?." Tatapan matanya sangat tajam. "Putraku tidaklah penting?." Suaranya terdengar bergetar. "Sehingga tidak mendapatkan perhatian dari nanda Prabu?!." Ada kemarahan yang hendak ia sampaikan pada saat itu.

"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Dalam hati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mulai merasakan adanya perpecahan nantinya.

"Nanda sama sekali tidak peduli! Dengan keselamatan putraku!." Ucapannya dengan penuh penekanan. "Aku ingin menuntut tanggungjawab ananda!." Tegasnya. "Entah itu sebagai Raja? Ataupun sebagai kepala keluarga istana ini!."

Ratu Gendhis Cendrawati telah mengatakannya dengan jelas, ia tidak pernah melihat prabu Asmalaraya Arya Ardhana melihat kondisi anaknya.

"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menghela nafasnya pelan.

"Jangan hanya diam saja." Hatinya semakin memanas. "Katakan sesuatu!." Ucapnya lagi. "Atau? Kau ingin menghajar aku?." Ucapnya lagi. "Sama seperti masa lalu?!."

"Jadi ini? Alasan ibunda datang dalam keadaan marah?." Dalam hatinya mencoba untuk bersabar dengan itu.

Prabu Asmalaraya Arya Ardhana bangkit dari duduknya, mendekati Ratu Gendhis Cendrawati, sang Prabu bersimpuh dihadapan ibundanya.

"Sungguh maafkan nanda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dengan sungguh-sungguh. "Ibunda Ratu gendhis cendrawati." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memberi hormat. "Jika nanda tidak memperhatikan raka hadyan hastanta." Suara itu terdengar tulus, permintaan maaf seorang anak kepada ibunya. "Nanda tidak bermaksud lalai, sebagai seorang Raja." Lanjut sang Prabu. "Ataupun sebagai seorang kepala keluarga."

Ratu Gendhis Cendrawati dapat merasakannya, merasakan perasaan tulus itu, sama persis ketika mendiang suaminya prabu Kawiswara Arya Ragnala yang meminta maaf kepadanya.

"Maafkan nanda." Ucap Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Yang belum sempat mengunjungi raka hadyan hastanta." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana kembali memberi hormat. "Rencananya nanda akan segera menjenguk raka hadyan hastanta." Lanjut sang Prabu. "Setelah selesai pertemuan." Raut wajah sang Prabu sangat cemas. "Maafkan nanda, ibunda Ratu gendhis cendrawati." Ucapan tulus dari prabu Asmalaraya Arya Ardhana rasanya begitu menyentuh hati ratu Gendhis Cendrawati, rasanya ia tidak tega memarahi putranya ini.

Ratu Gendhis Cendrawati sangat mengetahui kesibukan seorang raja. Bahkan sampai malam hari pun, seorang Raja masih melihat laporan-laporan yang masuk ke istana, melalui menteri yang telah menyaring laporan mana saja yang pantas masuk ke ruang raja. Tapi saat itu juga, Ratu Ardiningrum Bintari datang bersama kedua putranya.

"Rayi gendhis cendrawati!."

Deg!.

Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Ratu Gendhis Cendrawati terkejut.

"Jangan mudah memaafkan." Ucapnya sambil mendekati mereka. "Kesalahan yang telah ia perbuat." Matanya menatap tajam. "Dia hanya bersandiwara saja." Lanjutnya. "Jangan berikan maaf padanya."

"Apa yang harus aku lakukan?." Dalam hati Ratu Gendhis Cendrawati masih bingung.

Apalagi yang harus ia perbuat?. Bukankah prabu Asmalaraya Arya Ardhana telah mengatakan, bahwa ia akan segera menemui putranya?.

"Ibunda Ratu ardiningrum bintari." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana melihat kedatangan ibundanya Ratu Ardiningrum Bintari, bersama kedua kakaknya. Ia segera memberi hormat kepada ibundanya.

"Apa maksud ibunda? Nanda sudah mengatakan." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba bersikap tenang. "Bahwa nanda akan mengunjungi raka hadyan hastanta." Lanjut sang Prabu. "Tapi kenapa ibunda berkata seperti itu?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sungguh tidak mengerti.

"Heh!." Ratu Ardiningrum Bintari mendengus kesal. "Kau hanya pura-pura saja.

"Ada masalah apa ibunda Ratu Ardiningrum Bintari? Sehingga berkata seperti itu?."

"Kau tidak usah berpura-pura bodoh cakara casugraha!."

"Ibunda!."

"Cakara casugraha!." Raden Ganendra Garjitha ikutan. "Bukankah sudah jelas?!." Bentaknya. "Kau tidak peduli dengan rayi hadyan hastanta." Ucapnya dengan penuh penekanan.

"Raka ganendra garjhita!."

"Tapi saat ibunda Ratu gendhis cendrawati datang menemuimu?." Ia terkesan mengejek. "Baru kau mengatakan ingin menjenguknya?." Lanjutnya. "Kau ini pandai sekali dalam berkata-kata rayi prabu." Raden Ganendra Garjitha malah berkata seperti itu, menuduh yang tidak-tidak terhadap prabu Asmalaraya Arya Ardhana.

"Aastaghfirullah hal'azim, raka ganendra garjitha." Amarahnya hampir saja lepas begitu saja. "Aku tidak pernah berpikiran seperti itu!." Hatinya memanas mendadak begitu saja. $Aku sungguh-sungguh ingin melakukannya."

Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sungguh tidak mengerti, mengapa saudaranya ini malah membuat ia terkesan tidak peduli pada kakaknya Raden Hadyan Hastanta?.

"Sudahlah rayi Prabu!." Balasnya cepat. "Kau tidak usah membela diri lagi." Ia mendengus kesal. "Akuilah perbuatanmu!." Suaranya terdengar tinggi. "Jika kau masih menganggap dirimu sebagai raja?!." Lanjutnya. "Yang bertanggungjawab kepada keluargamu sendiri!." Raden Gentala Giandra juga memojokkan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, untuk mengakui kesalahan dan kelalaiannya.

...***...

Di sisi lain.

Jaya Satria berusaha mencari keberadaan kawanan perompak, beberapa hari yang lalu telah menyerang Raden Hadyan Hastanta. Ketika ia sampai di hutan di dekat desa Damai Selangit, ia dicegat oleh seorang laki-laki yang terlihat marah padanya.

"Jadi kau?!." Tunjuknya kasar. "Si bedebah! Yang telah menyandera anak buahku?!." Amarahnya sangat besar. Marah, dendam dan tidak suka tergambar jelas di wajah itu.

"Siapa kau?." Balasnya heran. "Datang, dan marah-marah padaku?." Jaya Satria sangat kesal. "Katakan duduk perkara masalahnya terlebih dahulu." Lanjutnya. "Baru kau boleh marah-marah padaku!."

"Aku ini ketua dari salah satu orang!." Hatinya memanas. "Yang telah kau sandera!." jawabnya dengan nada membentak. "Bocah tengik seperti kau?!." Tunjuknya. "Ternyata memiliki ilmu kanuragan, yang dapat menutup ilmu mata batin dengan sangat kuat!."

"Oh?." Responnya. "Jadi kau ketuanya?."

"Ya! Aku adalah ketuanya!." Amarahnya semakin memuncak. "Namaku dharma seta, dan kau?!." Tunjuknya lagi. "Telah berani membuat masalah denganku!." Hatinya hanya diisi oleh amarah. "Menyandera anak buahku, itu artinya kau mencari mati denganku!." Ki Dharma Seta sangat jelas terlihat marah, ia marah karena merasa dipermalukan oleh orang misterius itu memiliki ilmu Kanuragan yang bisa menandinginya?.

"Astaghfirullah hal'azim paman." Balasnya. "Bertaubatlah!." Tegasnya. "Sebelum ajal mendekat." Jaya Satria terkejut. "Jadi dia? Adalah ketua dari kelompok sengkar iblis?." Dalam hati Jaya Satria. ""Kau itu sudah hampir bau tanah, tapi kelakuanmu masih saja keji."

"Diam kau bedebah!." Umpatnya kasar. "Berani sekali kau berkata seperti itu padaku?!." Hatinya semakin panas. "Setelah kau menyandera anak buahku?!." Amarahnya tidak bisa ia kendalikan lagi.

"Pemarah, aku benci dengan orang yang suka marah-marah." Jaya Satria kesal juga melihatnya.

"Punya pegangan apa kau?." Ki Dharma Seta benar-benar memperlihatkan amarahnya. "Sehingga berani menantang aku?! Hah?!." Ki Dharma Seta benar-benar murka, mendengarkan apa yang dikatakan Jaya Satria.

"Aku punya ini." Jaya Satria mengeluarkan pedang pelebur Sukma.

Deg!.

Ki Dharma Seta terkejut melihatnya itu. "Pedang pelebur sukma?." Ia tidak percaya itu. "Hanya karena memiliki itu?." Ucapnya penuh amarah. "Kau berani menantang aku?!." Ia mulai memasang kuda-kuda. "Sombong sekali kau!."

Jaya Satria kembali menyimpan pedang pelebur sukma. "Tidak ada yang patut aku sombong kan." Jawabnya. "Aku takut Allah SWT akan laknat kepadaku."

"Heh!." Ia mendengus kesal. "Sebaiknya kau jangan banyak membuang-buang waktuku." Lanjutnya. "Aku hanya ingin anak buah ku kembali!."

"Tenanglah paman, kita bisa bicarakan dengan baik."

Jaya Satria mencoba menenangkan diri, agar tidak terlalu terpancing oleh amarah yang berlebihan.

...***...

Putri Gempita Bhadrika masih belum percaya atas apa yang telah terjadi pada ayahandanya, setelah bertarung dengan Prabu Kawiswara Arya Ragnala.

"Harus dengan cara apa? Aku mengobati ayahandaku?." Dalam hati Putri Gempita Bhadrika sedang memikirkan cara terbaik untuk menyembuhkan ayahanda. "Raja dari kerajaan suka damai itu, ternyata memiliki kekuatan yang sangat dahsyat." Dalam hatinya masih ingat, bagaimana pertarungan ayahandanya. "Bahkan ayahanda terpaksa menggunakan cara yang licik, untuk mengalahkan Raja itu." Ingatannya tidak akan pudar begitu saja, ketika menyaksikan pertempuran dua orang Raja saat bertarung.

"Pedang panggilan jiwa, pedang sukma naga pembelah bumi?." Hatinya merasa heran. "Pedang apa itu? Aku baru melihat pedang yang seperti itu."

Suasana hatinya saat itu sedang gelisah, tenaga dalam ayahandanya seperti terkunci oleh pedang panggilan jiwa pedang sukma naga pembelah bumi.

"Seberapa dahsyat kekuatan pedang itu?." Dalam hatinya lagi. "Sehingga melumpuhkan ayahanda ku separah ini?." Hatinya semakin panas jika ingat itu. "Aku pasti akan menyembuhkan ayahanda ku!." Tekadnya sangat kuat. "Setelah itu! Akan kami balas berkali lipat padanya!." Itulah tekad yang ia buat dari hatinya. Apakah ia akan berhasil melakukan itu?. Simak terus ceritanya.

...***...

Di saat yang bersamaan, putri Andhini Andita dan Putri Ambarsari masuk ke ruangan itu. Karena mereka tadi penasaran mengapa Ratu Ardiningrum Bintari dan kedua kakaknya menuju ruang pertemuan raja?.

Saat mereka masuk, mereka melihat Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedang dipojokkan oleh mereka.

"Ada apa ini rayi Prabu?." Ucapnya heran. "Mengapa kau membuat ibundaku marah?!." Putri Ambarsari bertanya kepada prabu Asmalaraya Arya Ardhana, tapi nada bertanyanya itu, sungguh tidak enak untuk didengar oleh prabu Asmalaraya Arya Ardhana.

"Maaf yunda." Balasnya. "Aku tidak bermaksud membuat ibunda marah." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menatap kakak perempuannya. "Aku sudah menjelaskan bahwa." Tegas sang Prabu. "Aku ingin mengunjungi raka hadyan hastanta, setelah selesai pertemuan." Kali ini melihat ke arah dua wanita terhormat yang ia sebut ibunda. "Akan tetapi? Ibunda Ratu ardiningrum bintari." Lanjutnya. "Malah menuduhku yang bukan-bukan." Sang Prabu sama sekali tidak terima. "Rasanya tidak pantas menuduhku seperti itu." Sepertinya prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba mejelaskan apa yang dikatakan tadi, mungkin kakak perempuannya itu mengerti.

"Bukankah? Kau sudah menjenguk rakaku secara diam-diam?." Ucapnya begitu saja. "Dan malah mengobatinya rayi Prabu?." Entah refleks atau tidak sengaja, Putri Andhini Andita mengatakan apa yang pernah ia lihat.

Tentu saja ucapannya membuat mereka semua terkejut, bahkan dirinya juga terkejut, dan segera menutup mulutnya.

"Apa maksudmu, putriku andhini andita?." Responnya cepat. "Apakah kau tidak salah dalam berbicara?." Ratu Gendhis Cendrawati mendekati putrinya, dan berdiri di samping anaknya itu.

"Katakanlah yunda, Allah SWT telah menyaksikannya." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menekan ucapannya. "Jika yunda berbohong? Allah SWT akan murka kepada yunda." Tekan sang Prabu. "Yang telah menjadi saksi apa yang yunda lihat, katakan."

Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terpaksa berkata seperti itu, ia tidak menyangka, kakaknya melihat apa yang ia lakukan?. "Sepertinya aku harus berhati-hati bertindak." Dalam hati sang Prabu harus waspada. "Apalagi jika bersama jaya satria." Dalam hati sang Prabu waspada. "Aku takut lama-lama yunda andhini andita mengetahui semuanya." Dalam hati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mulai mewaspadai, jika kakaknya itu memata-matai gerak-geriknya di istana ini.

Putri Andhini Andita yang mendengarkan, apa yang dikatakan adiknya, sedikit bergetar takut. Ia takut Dewata yang Agung, murka padanya dan memberikan kutukan kepadanya, seperti yang dikatakan oleh mendiang ayahandanya.

"Jika kita terus hidup dalam kebohongan?." Ucap Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dengan hati-hati. "Allah SWT tentu akan mengutuknya, dan hidupnya akan dibalas dengan kebohongan pula." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mendorong lagi.

"Kau jangan mendesaknya cakara casugraha!." Ratu Ardiningrum Bintari malah kesal dengan ucapan itu.

...***...

Putri Agniasari Ariani yang saat itu sedang melakukan perjalanan untuk mengembara, namun di alam bawah sadarnya.

"Salam hormat ananda, ayahanda Prabu." Dengan penuh kasih sayang, ia memberi hormat pada ayahandanya.

"Salam ananda, ayahanda terima, putriku ananda agniasari ariani." Prabu Kawiswara Arya Ragnala mengelus sayang kepala anaknya, memeluknya dengan erat.

"Apa yang hendak ananda lakukan?." Tangannya mengelus sayang rambut anaknya. "Sehingga ananda sampai ke kawasan ini?."

"Ananda hendak mengembara ayahanda." Jawabnya. "Semoga saja ayahanda merestui, pengembaraan yang akan ananda lakukan."

"Apakah ananda telah pamitan pada ibunda?." Tatapan mata sang Prabu sangat lembut. "Jangan sampai ananda membuat ibunda cemas."

"Tentu saja ananda meminta izin pada ibunda." Ia tersenyum lembut. "Tidak mungkin ananda, tidak minta izin ayahanda."

"Syukurlah, jika memang seperti itu putriku." Prabu Kawiswara Arya Ragnala tampak lega mendengarnya. "Tapi? Apa yang hendak ananda capai?." Sang Prabu sangat heran. "Saat melakukan pengembaraan ini?." Prabu Kawiswara Arya Ragnala menatap lembut anaknya. "Apakah ananda tidak kasihan?." Lanjut sang Prabu. "Membiarkan ibunda sendirian di istana?."

"Maaf ayahanda Prabu." Putri Agniasari Ariani memberi hormat. "Bukan ananda bermaksud untuk meninggalkan ibunda di istana sendirian." Putri Agniasari Ariani dengan tulus meminta maaf pada ayahandanya. "Entah kenapa, dalam pengembaraan yang akan ananda lakukan ini?." Lanjutnya. "Nanda ingin melihat, bagaimana warna kehidupan di luar sana? Di luar istana." Hatinya terasa bergejolak. "Ananda juga ingin belajar agama Islam, sama seperti rayi Prabu."

Prabu Kawiswara Arya Ragnala tersenyum kecil menatap putrinya. "Kalau begitu? Kuatkan tekatmu putriku." Sang Prabu mengelus sayang kepala anaknya. "Semoga kelak? Kau bisa menggunakan pedang panggilan jiwa, pedang warna kehidupan."

"Pedang panggilan jiwa? Pedang warna kehidupan?." Putri Agniasari Ariani hampir tidak percaya mendengar ucapan itu. "Apakah ananda bisa ayahanda?."

"Hanya kau yang tentukan." Respon Prabu Kawiswara Arya Ragnala. "Kau yang memiliki keinginan untuk melihat, bagaimana warna kehidupan itu yang sebenarnya?."

Setelah berkata seperti itu, Prabu Kawiswara Arya Ragnala menghilang entah kemana.

"Ayahanda akan selalu melihatmu." Suara sang Prabu memberikan salam perpisahan pada anak gadisnya. "Lakukan dengan baik, putriku ananda agniasari ariani."

"Sandika ayahanda Prabu." Perlahan-lahan Putri Agniasari Ariani membuka matanya.

Ternyata ia dibawa ke alam bawah sadar, agar bisa berkomunikasi dengan mendiang ayahandanya, Prabu Kawiswara Arya Ragnala.

"Pedang panggilan jiwa? Pedang warna kehidupan?." Putri Agniasari Ariani memikirkan ucapan ayahandanya. "Ya, aku akan berusaha dengan baik." Dalam hatinya. "Aku tidak akan mengecewakan keinginan ayahanda Prabu." Ucapnya dengan yakin. "Agar aku memanggil pedang panggilan jiwa." Dalam hatinya membulatkan tekad untuk menggunakan pedang panggilan jiwa.

Pedang yang membuktikan bahwa ia adalah keturunan sah dari Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta, Prabu Bahuwirya Dihyan Darya ayahandanya yang mendapatkan gelar Prabu Kawiswara Arya Ragnala. Tapi apakah bisa?. Simak dengan baik kisahnya.

...***...

Istana kerajaan Suka Damai.

"Katakanlah kebenarannya, putriku! Katakan pada ibunda." Ratu Gendhis Cendrawati menunggu jawaban dari putrinya. "Apakah benar seperti itu? Yang dilakukan nanda Prabu?."

"Dewata yang agung, aku telah keceplosan dalam berbicara." Dalam hati Putri Andhini Andita merasa gugup.

Matanya kini menatap mata adiknya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, mata itu sangat tulus, juga jujur. Apakah ia akan tega membiarkan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana diperlakukan seperti itu, meskipun ia memang membenci adiknya?.

"Apa yang harus aku lakukan?." Dalam hatinya sangat bimbang. Bagaimanapun juga adiknya juga pernah mendengarkan, apa yang ia katakan.

Apakah ia juga akan mendengarkan apa yang dikatakan oleh adiknya?. Saat ini ia tahu bahwa, mereka semua hanyalah ingin memojokkan adiknya, untuk bertanggungjawab sebagai seorang raja kepada keluarganya?. Bukankah ia yang menjadi saksi bahwa adiknya melakukannya tanpa diketahui siapapun?.

Bahkan sebagai raja yang sangat sibuk dengan tugasnya?. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana secara diam-diam masih sempat mendatangi saudaranya, mengobatinya?. Lalu di mana lagi letak salahnya?. Katakan!.

"Ya, aku melihat rayi Prabu." Ucapnya. "Mengobati raka hadyan hastanta." Dengan hati-hati ia menjawabnya.

"Apa?!."

"Itu tidak mungkin!."

"Coba jelaskan putriku!."

"Katakan saja kebenarannya yunda."

Sepertinya mereka mendesak Putri Andhini Andita agar berkata yang sebenarnya?. Apakah yang mereka inginkan dari Prabu Asmalaraya Arya Ardhana?. Sehingga mereka ingin sang Prabu terlihat salah di mata mereka?.

"Ketika raka masih terbaring lemah." Jelasnya. "Karena pengaruh racun, rayi Prabu yang mengobatinya." Matanya melihat ke arah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Rayi Prabu meracik ramuan obat, sebelum ia pergi meninggalkan kamar raka hadyan hastanta." Putri Andhini Andita menjelaskan semua yang ia lihat, apa saja yang dilakukan prabu Asmalaraya Arya Ardhana.

Mereka hampir tidak percaya dengan apa yang diceritakan oleh putri Andhini Andita. Mereka tidak percaya jika Prabu Asmalaraya Arya Ardhana melakukan itu secara diam.

"Apakah benar yang kau katakan rayi?." Raden Ganendra Garjitha menatap tajam. "Kau jangan berbohong!." Desaknya. "Katakan yang sejujurnya!." Suaranya terdengar keras. "Apakah kau sedang mencoba membela musuh kita semua?!."

"Tidak raka!." Bantahnya cepat. "Demi dewata agung, aku memang melihatnya!." Tegasnya. "Aku melihatnya!."

Putri Andhini Andita meyakinkan kesaksiannya terhadap, apa yang dilakukan oleh adiknya prabu Asmalaraya Arya Ardhana memang betul, namun mereka masih ragu?.

"Katakan yang sebenarnya putriku!." Hatinya masih bimbang. "Apakah kau bermaksud membelanya?." Bahkan Ratu Gendhis Cendrawati merasa ragu dengan ucapan putrinya. "Apakah kau yakin dengan ucapanmu itu?."

"Benar ibunda!." Tegas Putri Andhini Andita. "Ananda tidak berbohong sama sekali!." Putri Andhini Andita menatap mata ibundanya.

"Itu tidak mungkin!."

"Ananda tidak berbohong sama sekali." Kali ini ia kembali melihat ke arah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Dua malam berturut-turut, rayi Prabu mendatangi kamar raka hadyan hastanta." Ada rasa simpati yang ia rasakan dengan sikap adiknya yang seperti itu.

"Jadi? Yunda andhini andita benar-benar melihatnya?." Dalam hati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana waspada.

"Larut malam ketika semuanya sudah tidur, namun aku masih terbangun." Ucapnya lagi. "Ibunda, ananda melihat rayi Prabu yang hampir sempoyongan." Lanjutnya. "Menuju kamar raka hadyan hastanta." Entah kenapa ia tidak tega melihat itu. "Dengan tenaga dalamnya ia menyalurkan hawa murninya." Ucapnya lagi. "Untuk mengobati raka hadyan hastanta, yang masih terkena racun." Itulah yang ingat. "Ananda bahkan melihat rayi Prabu meramu obat." Ia benar-benar ingat dengan kejadian saat itu. "Meninggalkannya di meja itu, untuk paginya diminum oleh raka hadyan hastanta."

Putri Andhini Andita menjelaskan semuanya, tidak ada yang tertinggal, ataupun ditambah atau dikurang, semua ceritanya sesuai fakta yang ia lihat.

"Alhamdulillah hirobbil a'lamin, jika memang saksi dari yunda andhini andita." Dalam hati sang Prabu merasa sangat bersyukur. "Setidaknya aku selamat dari tuduhan mereka." Dalam hati sang Prabu merasa lega. "Yang mengatakan bahwa aku, tidak bertanggungjawab sama sekali sebagai kepala keluarga istana."

Sedangkan mereka semua terdiam, setelah mendengarkan penjelasan dari Putri Andhini Andita.

Jadi seperti itu yang dilakukan oleh prabu Asmalaraya Arya Ardhana?. Lalu tuntutan apa yang mereka inginkan?. Apakah mereka masih berhak?. Untuk menuntut keadilan pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana?.

"Jadi nanda Prabu melakukannya diam-diam? Setelah kami semua terlelap?." Ratu Gendhis Cendrawati yang bertanya.

"Benar ibunda." Jawab Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Nanda melakukan seperti yang dikatakan oleh yunda andhini andita." Sang Prabu memberi hormat. "Nanda hanya tidak ingin mengganggu siapapun."

"Sungguh, aku tidak menyangka sama sekali." Dalam hatinya merasa canggung. "Ketika ia telah mengerjakan semua pekerjaan istana?." Dalam hatinya merasa bersalah. "Dan ia memang masih menyempatkan waktunya?." Dalam hatinya masih ragu?. "Untuk mengunjungi kamar putraku raden hadyan hastanta?." Dalam hatinya tidak menduga itu. "Bahkan ia mengabaikan rasa lelahnya? Untuk mengobati putraku?."

Dalam hati Ratu Gendhis Cendrawati merasa bersalah, karena terburu-buru menyalahkan prabu Asmalaraya Arya Ardhana, yang jelas-jelas memang memperhatikan keluarga istana dengan caranya sendiri?.

"Tapi mengapa kau melakukannya diam-diam rayi Prabu?." Raden Ganendra Garjitha malah heran. "Apakah kau sebenarnya ingin berniat? Mencelakai rayi hadyan hastanta?." Perasaan curiga itu belum hilang. "Tapi tidak jadi?." Lanjutnya. "Mungkin saja? Itu karena kau menyadari, jika rayi andhini andita melihatmu?." Ia sangat curiga. "Sehingga kau berpura-pura mengobati rayi hadyan hastanta." Ucapannya penuh tuduhan tidak-tidak.

Deg!.

Mereka benar-benar memikirkan ucapan itu.

"Dengan begitu? Kau terhindar dari tuduhan, dengan niat mencelakainya."

Begitu kejam tuduhan yang dikatakan oleh Raden Ganendra Garjitha. Benar-benar membuat Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa tersinggung.

"Astaghfirullah hal'azim, raka! Jaga ucapan raka!." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana hampir saja terbawa amarah. "Jika aku berniat untuk membunuh raka hadyan hastanta? Untuk apa aku mengobatinya." Suara itu terdengar sangat keras, dan membentak Raden Ganendra Garjitha.

"Jujur saja cakara casugraha!." Bentaknya. "Tidak usah berusaha untuk menutupi kesalahanmu." Putri Ambarsari yang malah memojokkan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Kau tidak usah merasa lega terlebih dahulu!." Ucapnya penuh amarah. "Hanya karena kesaksian yang diberikan rayi andhini andita!." Lanjutnya. "Bisa jadi itu hanyalah sandiwara belaka."

"Benar!." Sambungnya. "Tidak usah kau tutupi kebohonganmu!." Bentaknya. "Dengan membuat alasan, yang meyakinkan kami semua." Raden Gentala Giandra semakin memanasi suasana. "Karena apapun yang kau lakukan?! Akan salah di mata kami!." Tatapannya begitu tajam, seakan-akan hendak menikam Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.

"Rayi Prabu sepertinya terdesak, karena perkataan mereka." Dalam hati Putri Andhini Andita memperhatikan itu. "Kenapa aku merasa kasihan padanya?." Dalam hatinya sangat heran. "Sangat jelas sekali, bahwa mereka ingin mengalahkan rayi Prabu."

Dalam hatinya merasa gelisah, ketika melihat bagaimana bagaimana ketiga saudara itu berusaha mencari-cari kesalahan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana?.

"Apa yang harus aku lakukan?." Dalam hatinya sangat bimbang.

Dalam suasana yang panas itu, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana membacakan surah An-Nur ayat 11.

اِنَّ الَّذِيْنَ جَاۤءُوْ بِالْاِفْكِ عُصْبَةٌ مِّنْكُمْۗ لَا تَحْسَبُوْهُ شَرًّا لَّكُمْۗ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۗ لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ مَّا اكْتَسَبَ مِنَ الْاِثْمِۚ وَالَّذِيْ تَوَلّٰى كِبْرَهٗ مِنْهُمْ لَهٗ عَذَابٌ عَظِيْمٌ.

Mereka semua terdiam saat mendengarkan suara merdu dari Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.

"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu (juga). Janganlah kamu mengira berita itu buruk bagi kamu bahkan itu baik bagi kamu, setiap orang dari mereka akan mendapat balasan dari dosa yang diperbuatnya. Dan barangsiapa di antara mereka yang mengambil bagian terbesar (dari dosa yang diperbuatnya), dia mendapat azab yang besar (pula)." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga membacakan arti dari ayat tersebut.

Mereka semua terdiam mendengarnya, tidak menduga jika Prabu Asmalaraya Arya Ardhana atau Raden Cakara Casugraha memiliki suara yang sangat indah.

"Berburuk sangka, hanyalah akan menimbulkan noda dosa dihari kita." Nasihatnya. "Lama-kelamaan akan menjadi menghitam, hati kita akan selalu dipenuhi oleh kedengkian, atau itu yang ibunda, raka, juga yunda inginkan?." Suara Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terdengar marah.

"Apa manfaat yang akan aku dapatkan?." Ucap Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sambil menahan amarah. "Jika aku membunuh raka hadyan hastanta?." Lanjutnya. "Jika tahta yang aku dapatkan sekarang?." Senyuman sang Prabu terlihat menyeramkan. "Bisa membuat raka, bahkan kalian semua terusir dari istana ini?." Lanjut sang Prabu. "Seperti yang kalian lakukan padaku dikala itu?." S

ebenarnya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak berniat marah, hanya saja ia tidak suka jika dirinya didesak, untuk mengakui hal yang sudah jelas tidak ia lakukan.

"Kau jangan coba-coba mengancam kami cakara casugraha?!." Amarahnya membuncah mendengarkan ucapan sang Prabu. "Ingat!." Tegasnya. "Suatu hari nanti, akan aku rebut!." Amarahnya kembali meledak. "Semua yang kau miliki, termasuk mahkota itu!." Raden Ganendra Garjitha sangat geram. Tentunya ia ingat dengan kejadian itu.

"Kau akan membayar apa yang kau lakukan hari ini, cakara casugraha." Raden Gentala Giandra juga terlihat marah. Apalagi mendapatkan ancaman seperti itu.

"Aku juga akan merebut tahta itu darimu! Kau tunggu saja." Putri Andhini Andita juga marah?.

Setelah itu, mereka meninggalkan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, kecuali Putri Andhini Andita yang merasa heran.

Apakah ia akan berada di pihak adiknya Prabu Asmalaraya Arya?. Setelah apa yang ia lihat tadi?. Ia bisa menilai, mana yang baik, dan mana yang salah. Selama ini, ia hanya terpengaruh oleh ucapan mereka, tanpa melihat fakta yang sesungguhnya.

"Oh dewata yang agung? Hamba berada di pihak mana?." Dalam hatinya mulai bimbang.

"Terima kasih karena yunda telah-."

"Aku tidak membelamu cakara casugraha!." Bantahnya cepat. "Jadi kau tidak perlu berterima kasih padaku." Ucapnya dengan sangat kesal.

"Baiklah." Respon Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dengan senyuman kecil. "Kalau begitu aku ke ruang pribadi Raja yunda, sampurasun." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memberi hormat pada kakaknya.

"Rampes." Putri Andhini Andita hanya melihat kepergian Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.

"Kenapa aku malah membelanya? Apa yang salah denganku?." Dalam hatinya sangat kesal dengan perasaan hatinya. "Harusnya aku tidak mengatakan kebenaran itu." Dalam hatinya mengutuk. "Tapi dia malah membawa nama Dewata Agung." Dalam hatinya saat itu mendadak kesal dengan apa yang telah ia lakukan tadinya. "Sial!." Umpatnya kesal. "Aku malah jadi kepikiran dengan ucapan bodohku tadi." Dalam hatinya semakin kesal atas tindakan bodohnya yang membela musuhnya. "Aku harus menenangkan diriku." Dalam hatinya. "Ini adalah kecelakaan."

Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Simak dengan baik kisahnya.

...***...

Terpopuler

Comments

Elmo Damarkaca

Elmo Damarkaca

keliatan sdh yg benar2 berambisi menjadi Raja namun belum terlaksana ...Gimana ya Kelanjutan nya ...
lanjut thor. . .

2022-06-03

1

dewi sherel

dewi sherel

Disini sikap Raden ganendra dan Raden gentala sangat menyebalkan.Dan semoga dapat pelajaran dari sikap ambisinya terhadap merebut tahta mahkota raja.

2022-04-02

1

Suhadi Mangir

Suhadi Mangir

pergi ke kantor,pakai kaos buat author,ceritanya polos. tambahin kreasi ditema ceritanya

2021-12-28

1

lihat semua
Episodes
1 KEPERGIAN PRABU KAWISWARA ARYA RAGNALA
2 RAJA BARU
3 TERPILIHNYA RAJA BARU
4 PERDEBATAN
5 RACUN
6 SOSOK MISTERIUS
7 TUDUHAN
8 PERTARUNGAN JAYA SATRIA
9 MENYELESAIKAN MASALAH
10 KEPUTUSAN SANG PRABU
11 HUTAN TARING BELATI RAGA
12 PRABU ASMALARAYA ARYA DAN JAYA SATRIA
13 KABAR DUKA
14 KESEMBUHAN SANG PRABU?.
15 KEPULANGAN SANG PRABU
16 KERUSUHAN DI KOTA RAJA
17 SIDANG DI ISTANA
18 RASA PENASARAN
19 SYAIR PEMIKAT
20 PERTARUNGAN SENGIT
21 RENCANA JAHAT
22 KEMARAHAN DAN KASIH SAYANG
23 TULUS DAN KESUNGGUHAN
24 PUTRI ANDHINI ANDITA
25 PENGLIHATANNYA TENTANG RAJA
26 KEJAHATAN GAIB
27 JAMUAN
28 KECURANGAN PERTARUNGAN
29 TAHTA YANG SAH
30 KEPUTUSAN YANG BERAT
31 PERSIAPAN PERANG
32 PERANG DIMULAI
33 SITUASI PERANG
34 YANG BERPERANG
35 KEMARAHAN DAN BENCI
36 KEBENCIAN DAN KASIH SAYANG
37 PRABU ASMALARAYA ARYA ARDHANA
38 PRABU RAHWANA BIMANTARA
39 MEMAAFKAN DAN KEBAIKAN HATI
40 BERSABAR DALAM KESAKITAN
41 KEPULANGAN RATU DEWI ANINDYASWARI
42 KAKEK MISTERIUS
43 KEGELISAHAN DAN KEJADIAN
44 PERASAAN CEMAS
45 KEADAAN SANG PRABU DAN JAYA SATRIA
46 JAYA SATRIA DISERANG
47 KEJADIAN DEMI KEJADIAN
48 KEADAAN JAYA SATRIA
49 KESEMBUHAN DUA INSAN
50 JAYA SATRIA
51 PERSIAPAN
52 PERTARUNGAN DI KERAJAAN KEGELAPAN
53 KEMARAHAN DALAM PERTARUNGAN
54 PRABU ASMALARAYA ARYA ARDHANA DAN JAYA SATRIA
55 DIBALIK ALASAN
56 KASIH SAYANG DAN KERINDUAN
57 KEKUATAN BATIN SEORANG IBU
58 RENCANA DAN INGATAN
59 JANJI DAN KEINGINAN
60 DENDAM MASA LALU
61 KESESATAN YANG NYATA
62 KESALAHAN MASA LALU
63 PERTARUNGAN RADEN CAKARA CASUGRAHA
64 PATUH PADA ORANGTUA
65 PENDEKAR PEMBURU BENDA PUSAKA
66 ANCAMAN SANG PRABU
67 KEMARAHAN JAYA SATRIA
68 BENDA PUSAKA DAN TUANNYA
69 PEMBERONTAKAN
70 JALAN KELUAR
71 ILMU YANG BERMANFAAT
72 KEDATANGAN PUTRI AMBARSARI
73 PERASAAN HATI
74 KEADAAN KERAJAAN MEKAR JAYA
75 MASALAH YANG TERJADI
76 MIMPI
77 DILUAR DUGAAN
78 PERTARUNGAN DI KOTA RAJA
79 PEDANG PANGGILAN JIWA
80 RATU ARDININGRUM BINTARI
81 KEPULANGAN PRABU RAHWANA BIMANTARA
82 GEJOLAK HATI
83 DIMENSI WAKTU, PEDANG PELEBUR SUKMA
84 PERTARUNGAN TANPA AMPUN
85 JAYA SATRIA?
86 PESAN DARI LANGITYA SUKMANA
87 AMARAH DIHATI
88 KEGELAPAN TELAH DATANG
89 PEDANG PELEBUR SUKMA
90 PERTARUNGAN BATIN
91 LUKA YANG SAMA?
92 KELEMAHAN SANG PRABU?.
93 PERTARUNGAN DAHSYAT
94 RISIKO
95 KONDISI SETELAH PERTARUNGAN
96 GUNDAH KARENA SESUATU
97 PERASAAN CEMAS
98 KABAR BURUK
99 KENAPA SEPERTI ITU?
100 PETUNJUK
101 PANGGILAN
102 JAWABAN
103 MENEKAN PERASAAN HATI
104 USAHA MEREKA
105 KASIH SAYANG YANG TULUS
106 KEBAHAGIAAN DAN DENDAM
107 SANGAT MENGEJUTKAN
108 INGATAN NYAI BESTARI DHATU
109 PERUBAHAN SIKAP
110 TUJUAN
111 KEMARAHAN
112 KETETAPAN HATI
113 KEKUATAN BANTUAN
114 KEGUNDAHAN DAN KASIH SAYANG
115 HATI YANG GELISAH
116 BERUSAHA DENGAN BAIK
117 TEKAD YANG KUAT
118 MEMANCING AMARAH
119 SEMAKIN MARAH
120 BUKAN KEPUTUSAN BIASA
121 INGIN BERUBAH
122 HASRAT YANG MENGGEBU
123 JANGAN SOMBONG
124 PERASAAN CEMAS
125 ADA YANG ANEH
126 HAL YANG TERSEMBUNYI
127 JANGAN TERLALU BERPIKIRAN BURUK
128 MEMASTIKAN SEMUA
129 PERLAWANAN YANG KUAT
130 SUASANA PERTARUNGAN
131 MAHA PEMILIK KEKUASAAN
132 MEREKA YANG BERMASALAH
133 PILIHAN YANG SULIT
134 MENGOBATI PRABU MAHESWARA JUMANTA
135 DAPAT MELIHATNYA?
136 HANYA ITU SAJA
137 SAUDARA?
138 YANG DIBAYANGKAN
139 KEMBALI KE ISTANA
140 KEGELISAHAN DAN HARAPAN
141 KERUSUHAN DAN LAMARAN
142 KEDATANGAN YANG TAK TERDUGA
143 UCAPAN YANG MENYAKITKAN
144 MENGALAHKAN DAN ANEH
145 KETAKUTAN AKAN KEHILANGAN
146 HAL YANG SANGAT PENTING
147 WASPADA TERHADAP SESUATU
148 GETARAN AMARAH
149 PERASAAN YANG KUAT
150 AIR MATA KESEDIHAN
151 PIKIRAN DAN CINTA?
152 KESEDIHAN RATU DEWI ANINDYASWARI
153 KUTUKAN RADEN CAKARA CASUGRAHA
154 TANGISAN KESEDIHAN
155 TIDAK ADA PERASAAN KAH?
156 TIDAK PERLU DIPERJELAS
157 HANYA RAHASIA DI DALAM HATI
158 PELAJARAN YANG BERHARGA
159 RADEN CAKARA CASUGRAHA KEMBALI
160 ALASAN MENJADI RAJA?
161 MASALAH BARU?
162 HATI YANG KUAT
163 TIDAK GOYAH BEGITU SAJA
164 DALAM AMARAH YANG DIRASAKAN
165 RASAKAN KEMARAHANKU
166 JANGAN DENGARKAN MEREKA
167 MASA LALU YANG PERNAH DILALUI
168 KENAPA BERBOHONG?
169 INGATAN MASA LALU YANG TIDAK BISA DILUPAKAN
170 TIDAK BISA SEPERTI ITU.
171 KERESAHAN HATI YANG LARA
172 KEPERCAYAAN YANG SANGAT KUAT
173 KESEDIHAN HATI
174 HUBUNGAN YANG TERJALIN
175 DIJODOHKAN?
176 SUASANA HATI
177 MASA YANG TELAH DILALUI
178 GEJOLAK PERANG DI HATI
179 JIKA KAU INGIN ITU
180 HILANGNYA PERASAAN HATI
181 APAKAH AKU MELAKUKANNYA
182 SAKIT, SAMPAI KE ULU HATI
183 KABAR YANG MENGEJUTKAN
184 KERAGUAN, SIAPA YANG BERHAK
185 KEPUTUSAN YANG DIAMBIL
186 RATU AGUNG KERAJAAN MEKAR JAYA
187 HUKUMAN MATI
188 MENGUATKAN HATI YANG LARA
189 SUASANA HATI MEREKA
190 KENAPA BISA?
191 PERTEMUAN YANG MENGEJUTKAN
192 RASA PENASARAN YANG MENGGELITIK HATI
193 KISAH PUTRI AGNIASARI ARIANI
194 PERTANDA APA ITU?
195 SIAPA ORANG ASING ITU?
196 MIMPI YANG SANGAT BURUK
197 APA YANG KAU KETAHUI?
198 MENGUAK RAHASIA SANG PRABU
199 KATAKAN SELAMAT TINGGAL
200 APAKAH ITU BENAR?
201 MASIH MENJADI MISTERI
202 JANGAN COBA-COBA BERKHIANAT
203 INGIN MENDENGARKAN KISAH TENTANGNYA
204 GEJOLAK AMARAH YANG DIRASAKAN
205 PEDANG SUKMA MAGA PEMBELAH BUMI
206 JURUS CAKAR NAGA CAKAR PETIR
207 TERUS BERUSAHA
208 RASANYA BUKAN DIA
209 NAMA JAYA SATRIA
210 MUSTIKA NAGA MERAH DELIMA
211 BENARKAH BISA KEMBALI?
212 RASA SAKIT DI HATI
213 SUDAH DITENTUKAN
214 PENJELASAN YANG ANEH
215 ADA KECEMASAN DI DALAM HATI
216 SANGAT PEMARAH SEKALI
217 KERESAHAN HATI YANG MENDALAM
218 TAMU JAUH
219 PERMASALAHAN SUASANA HATI
220 PENGEMBARAAN JAYA SATRIA
221 PENDENGAR YANG BAIK
222 ALASAN KENAPA SEPERTI ITU?
223 PENYATUAN RAGA YANG MENYAKITKAN
224 JANGAN MEMBANTAH, TURUTI SAJA
225 KENYATAAN YANG TIDAK BISA DIBANTAH
226 MASIH DALAM MASA PENYESUAIAN
227 MARAH YANG BERLEBIHAN
228 BERHASIL DENGAN BAIK
229 KYAI YANG DIBURU
230 MEMBUNCAH BEGITU SAJA
231 PERASAAN DILEMA PRABU ASMALARAYA ARYA ARDHANA
232 SANGAT MENYENTUH HATI
233 MENCOBA BERSIKAP TEGAR
234 BERDEBAR-DEBAR KARENA APA?
235 PERTARUNGAN BATIN YANG DAHSYAT
236 DENGARKAN DENGAN BAIK
237 GAGAL UNTUK BERSAMA
238 SAKIT, MEMANG SAKIT
239 KABAR YANG TIDAK DIINGINKAN
240 SEMAKIN PARAH
241 MEREDAM SEGALA BENTUK EMOSI JIWA
242 SEDANG BERUSAHA
243 SIAPA DIA?
244 KEYAKINAN HATI YANG KUAT
245 ADA KECEMASAN YANG TIDAK BIASA
246 APAKAH ITU BENAR?
247 GEJOLAK HATI YANG TAK TERSAMPAIKAN
248 JANJI YANG PERNAH DIUCAPKAN
249 BAHAGIA? TAPI MASIH BINGUNG
250 PEMBUKTIAN?
251 APAKAH SEBUAH KEBETULAN?
252 SALAM PERPISAHAN
253 MENCARI PETUNJUK DARI MASALAH YANG TERJADI
254 MENERAPKAN PILIHAN HATI
255 JIKA TELAH MEMILIKI TEKAD
256 SIKAP KERAS HATI
257 SANGAT MENGEJUTKAN SEKALI
258 PERMINTAAN PRABU ASMALARAYA ARYA ARDHANA
259 BERTEMU DENGAN SANG PRABU
260 TIDAK PERNAH DIDUGA SEBELUMYA
261 TIDAK SEPERTI YANG DIBAYANGKAN
262 ADA YANG HARUS DIKETAHUI
263 PERTARUNGAN DI SUMBER MATA AIR DEWA
264 KEKUATAN YANG SANGAT DAHSYAT
265 BAGAIMANA BISA? KEKUATAN KERIS KEMBAR?
266 IDENTITAS ASLI JAYA SATRIA
267 MALAH JADI TAKUT
268 MEMAHAMI SITUASI YANG TERJADI
269 SESUATU YANG TIDAK BISA DIMENGERTI
270 MASALAH YANG CUKUP RUMIT
271 GONCANGAN HATI
272 SAKIT YANG MENUSUK HATI
273 KISAH LAMA YANG TELAH TERJADI
274 MEMANG TIDAK BISA
275 MEMBEBASKAN SUKMA YANG TERSESAT
276 UCAPAN YANG MENCEMASKAN HATI
277 MUNGKIN INI ALASAN YANG TEPAT
278 PERASAAN YANG KUAT
279 GEJOLAK API KEBENCIAN YANG TERTANAM DI HATI
280 HADIAH DARI KELUARGA ISTANA
281 KALIAN BERANI MENANTANG AKU?
282 MARI KITA BICARA
283 MENGUJI KESABARAN HATI?
284 HAL YANG TIDAK TERDUGA SEBELUMNYA
285 BERKOMUNIKASI DENGAN PENGHUNI ALAM SUKMA
286 BUKAN BERMAKSUD MENGHAKIMI SATU PIHAK SAJA
287 MENURUTI KEINGINAN HATI
288 BUKAN PENGLIHATAN BIASA
289 KEMUNGKINAN YANG AKAN TERJADI
290 KEJADIAN YANG SEBENARNYA
291 SESUATU YANG TIDAK BISA DIJELASKAN DENGAN KATA-KATA
292 MEMASUKI ALAM SUKMA
293 MENGUATKAN HATI YANG GELISAH
294 MENGATASI MASALAH TEKANAN BATIN
295 DESA GAIB
296 KETAKUTAN YANG MENYIKSA BATIN
297 MENGGANJAL DI HATI
298 KENANGAN MANIS YANG TAK TERLUPAKAN
299 SUASANA HATI YANG TIDAK KARUAN
300 KEPUTUSAN YANG SANGAT KUAT DARI HATI
301 DAPAT MELIHAT DENGAN JELAS
302 TAKDIR YANG DIJALANI
303 KEGELAPAN YANG MENGUSIK JIWA
304 YANG SEHARUSNYA DILAKUKAN
305 PENCARIAN SUKMA DEWI SUARABUMI
306 HUBUNGAN YANG TERJALIN ERAT
307 PERMOHONAN
308 PERTARUNGAN TIGA SUKMA
309 PASAR KOTA RAJA
310 KENAPA TIDAK BISA MENERIMANYA?
311 AKAR PERMASALAHANNYA
312 HATI YANG INGIN BERONTAK
313 DENGARKAN DENGAN BAIK
314 MASIH ADA HARAPAN
315 MEMPERSIAPKAN DIRI
316 HATI YANG MENENTUKAN
317 TIDAK MUDAH GOYAH
318 APA YANG DICEMASKAN?
319 APAKAH SEMUA ITU BENAR?
320 APA YANG INGIN KAU BUKTIKAN?
321 AKAN AKU TUNJUKKAN SEMUANYA
322 MENGATUR EMOSI JIWA
323 APAKAH MEMANG SEPERTI ITU?
324 MASALAH YANG SANGAT SERIUS
325 KEGELISAHAN YANG MENDALAM
326 PENGLIHATAN YANG TIDAK BIASA
327 PERASAAN HATI YANG TIDAK BISA BERBOHONG
328 KEBENARAN YANG TERSEMBUNYI
329 KEKUATAN YANG DAHSYAT
330 KEJADIAN YANG TIDAK MASUK AKAL
331 MEMIKIRKAN KEMUNGKINAN YANG AKAN DILAKUKAN
332 SIAPA YANG BERANI?
333 GEJOLAK HATI DALAM KEMARAHAN
334 GANASNYA SUASANA HATI RADEN CAKARA CASUGRAHA
335 PERASAAN YANG KUAT SEKALI
336 KETANGGUHAN HATI
337 PERTARUNGAN YANG TIDAK BISA DIHINDARI
338 TERIMA ATAU TIDAK? SEGERA TENTUKAN PILIHANNYA
339 KENAPA MEREKA BISA ADA?
340 KARMA YANG DIDAPATKAN
341 SEHARUSNYA TIDAK SEPERTI INI
342 AMARAH YANG SEMAKIN MEMBUNCAH
343 KEPUTUSAN, DAN MASA LALU
344 JANGAN TANYA KENAPA?
345 MAU MENGUJI KESABARAN KU?
346 MENGERAHKAN SEMUA KEKUATAN
347 HATI YANG TERLUKA
348 KUATKAN HATI SANG PRABU
349 TERHUBUNGNYA PERASAAN MEREKA
350 PERASAAN YANG LEBIH KUAT
351 APA YANG TERJADI SEBENARNYA?
352 TEKAD UNTUK MELAKUKANNYA
353 HARAPAN YANG BAIK
354 LAMARAN DARI DUA PANGERAN?
355 HARUSKAH SEPERTI ITU?
356 ADA YANG TIDAK BERES
357 HATI YANG TERLUKA PARAH
358 KENYATAAN YANG MENYAKITKAN BATIN
359 MENJAGA PERASAAN HATI
360 APAKAH ITU SUDAH TEPAT?
361 ADA YANG DISEMBUNYIKAN?
362 DIA SEORANG RAJA?
363 GEJOLAK AMARAH
364 KASIH SAYANG YANG DALAM
365 SANGAT BERBAHAYA SEKALI
366 MENGERIKAN SEKALI
367 HANYA BISA BERBUAT DEMIKIAN SAJA
368 APA YANG KAU LIHAT?
369 MAU MENGUJI AKU? BOLEH SAJA
370 AKAN AKU TUNJUKKAN KEBENARANNYA
371 KAU MAU APA SEBENARNYA?
372 MASALAH YANG SEAKAN TIADA HENTI
Episodes

Updated 372 Episodes

1
KEPERGIAN PRABU KAWISWARA ARYA RAGNALA
2
RAJA BARU
3
TERPILIHNYA RAJA BARU
4
PERDEBATAN
5
RACUN
6
SOSOK MISTERIUS
7
TUDUHAN
8
PERTARUNGAN JAYA SATRIA
9
MENYELESAIKAN MASALAH
10
KEPUTUSAN SANG PRABU
11
HUTAN TARING BELATI RAGA
12
PRABU ASMALARAYA ARYA DAN JAYA SATRIA
13
KABAR DUKA
14
KESEMBUHAN SANG PRABU?.
15
KEPULANGAN SANG PRABU
16
KERUSUHAN DI KOTA RAJA
17
SIDANG DI ISTANA
18
RASA PENASARAN
19
SYAIR PEMIKAT
20
PERTARUNGAN SENGIT
21
RENCANA JAHAT
22
KEMARAHAN DAN KASIH SAYANG
23
TULUS DAN KESUNGGUHAN
24
PUTRI ANDHINI ANDITA
25
PENGLIHATANNYA TENTANG RAJA
26
KEJAHATAN GAIB
27
JAMUAN
28
KECURANGAN PERTARUNGAN
29
TAHTA YANG SAH
30
KEPUTUSAN YANG BERAT
31
PERSIAPAN PERANG
32
PERANG DIMULAI
33
SITUASI PERANG
34
YANG BERPERANG
35
KEMARAHAN DAN BENCI
36
KEBENCIAN DAN KASIH SAYANG
37
PRABU ASMALARAYA ARYA ARDHANA
38
PRABU RAHWANA BIMANTARA
39
MEMAAFKAN DAN KEBAIKAN HATI
40
BERSABAR DALAM KESAKITAN
41
KEPULANGAN RATU DEWI ANINDYASWARI
42
KAKEK MISTERIUS
43
KEGELISAHAN DAN KEJADIAN
44
PERASAAN CEMAS
45
KEADAAN SANG PRABU DAN JAYA SATRIA
46
JAYA SATRIA DISERANG
47
KEJADIAN DEMI KEJADIAN
48
KEADAAN JAYA SATRIA
49
KESEMBUHAN DUA INSAN
50
JAYA SATRIA
51
PERSIAPAN
52
PERTARUNGAN DI KERAJAAN KEGELAPAN
53
KEMARAHAN DALAM PERTARUNGAN
54
PRABU ASMALARAYA ARYA ARDHANA DAN JAYA SATRIA
55
DIBALIK ALASAN
56
KASIH SAYANG DAN KERINDUAN
57
KEKUATAN BATIN SEORANG IBU
58
RENCANA DAN INGATAN
59
JANJI DAN KEINGINAN
60
DENDAM MASA LALU
61
KESESATAN YANG NYATA
62
KESALAHAN MASA LALU
63
PERTARUNGAN RADEN CAKARA CASUGRAHA
64
PATUH PADA ORANGTUA
65
PENDEKAR PEMBURU BENDA PUSAKA
66
ANCAMAN SANG PRABU
67
KEMARAHAN JAYA SATRIA
68
BENDA PUSAKA DAN TUANNYA
69
PEMBERONTAKAN
70
JALAN KELUAR
71
ILMU YANG BERMANFAAT
72
KEDATANGAN PUTRI AMBARSARI
73
PERASAAN HATI
74
KEADAAN KERAJAAN MEKAR JAYA
75
MASALAH YANG TERJADI
76
MIMPI
77
DILUAR DUGAAN
78
PERTARUNGAN DI KOTA RAJA
79
PEDANG PANGGILAN JIWA
80
RATU ARDININGRUM BINTARI
81
KEPULANGAN PRABU RAHWANA BIMANTARA
82
GEJOLAK HATI
83
DIMENSI WAKTU, PEDANG PELEBUR SUKMA
84
PERTARUNGAN TANPA AMPUN
85
JAYA SATRIA?
86
PESAN DARI LANGITYA SUKMANA
87
AMARAH DIHATI
88
KEGELAPAN TELAH DATANG
89
PEDANG PELEBUR SUKMA
90
PERTARUNGAN BATIN
91
LUKA YANG SAMA?
92
KELEMAHAN SANG PRABU?.
93
PERTARUNGAN DAHSYAT
94
RISIKO
95
KONDISI SETELAH PERTARUNGAN
96
GUNDAH KARENA SESUATU
97
PERASAAN CEMAS
98
KABAR BURUK
99
KENAPA SEPERTI ITU?
100
PETUNJUK
101
PANGGILAN
102
JAWABAN
103
MENEKAN PERASAAN HATI
104
USAHA MEREKA
105
KASIH SAYANG YANG TULUS
106
KEBAHAGIAAN DAN DENDAM
107
SANGAT MENGEJUTKAN
108
INGATAN NYAI BESTARI DHATU
109
PERUBAHAN SIKAP
110
TUJUAN
111
KEMARAHAN
112
KETETAPAN HATI
113
KEKUATAN BANTUAN
114
KEGUNDAHAN DAN KASIH SAYANG
115
HATI YANG GELISAH
116
BERUSAHA DENGAN BAIK
117
TEKAD YANG KUAT
118
MEMANCING AMARAH
119
SEMAKIN MARAH
120
BUKAN KEPUTUSAN BIASA
121
INGIN BERUBAH
122
HASRAT YANG MENGGEBU
123
JANGAN SOMBONG
124
PERASAAN CEMAS
125
ADA YANG ANEH
126
HAL YANG TERSEMBUNYI
127
JANGAN TERLALU BERPIKIRAN BURUK
128
MEMASTIKAN SEMUA
129
PERLAWANAN YANG KUAT
130
SUASANA PERTARUNGAN
131
MAHA PEMILIK KEKUASAAN
132
MEREKA YANG BERMASALAH
133
PILIHAN YANG SULIT
134
MENGOBATI PRABU MAHESWARA JUMANTA
135
DAPAT MELIHATNYA?
136
HANYA ITU SAJA
137
SAUDARA?
138
YANG DIBAYANGKAN
139
KEMBALI KE ISTANA
140
KEGELISAHAN DAN HARAPAN
141
KERUSUHAN DAN LAMARAN
142
KEDATANGAN YANG TAK TERDUGA
143
UCAPAN YANG MENYAKITKAN
144
MENGALAHKAN DAN ANEH
145
KETAKUTAN AKAN KEHILANGAN
146
HAL YANG SANGAT PENTING
147
WASPADA TERHADAP SESUATU
148
GETARAN AMARAH
149
PERASAAN YANG KUAT
150
AIR MATA KESEDIHAN
151
PIKIRAN DAN CINTA?
152
KESEDIHAN RATU DEWI ANINDYASWARI
153
KUTUKAN RADEN CAKARA CASUGRAHA
154
TANGISAN KESEDIHAN
155
TIDAK ADA PERASAAN KAH?
156
TIDAK PERLU DIPERJELAS
157
HANYA RAHASIA DI DALAM HATI
158
PELAJARAN YANG BERHARGA
159
RADEN CAKARA CASUGRAHA KEMBALI
160
ALASAN MENJADI RAJA?
161
MASALAH BARU?
162
HATI YANG KUAT
163
TIDAK GOYAH BEGITU SAJA
164
DALAM AMARAH YANG DIRASAKAN
165
RASAKAN KEMARAHANKU
166
JANGAN DENGARKAN MEREKA
167
MASA LALU YANG PERNAH DILALUI
168
KENAPA BERBOHONG?
169
INGATAN MASA LALU YANG TIDAK BISA DILUPAKAN
170
TIDAK BISA SEPERTI ITU.
171
KERESAHAN HATI YANG LARA
172
KEPERCAYAAN YANG SANGAT KUAT
173
KESEDIHAN HATI
174
HUBUNGAN YANG TERJALIN
175
DIJODOHKAN?
176
SUASANA HATI
177
MASA YANG TELAH DILALUI
178
GEJOLAK PERANG DI HATI
179
JIKA KAU INGIN ITU
180
HILANGNYA PERASAAN HATI
181
APAKAH AKU MELAKUKANNYA
182
SAKIT, SAMPAI KE ULU HATI
183
KABAR YANG MENGEJUTKAN
184
KERAGUAN, SIAPA YANG BERHAK
185
KEPUTUSAN YANG DIAMBIL
186
RATU AGUNG KERAJAAN MEKAR JAYA
187
HUKUMAN MATI
188
MENGUATKAN HATI YANG LARA
189
SUASANA HATI MEREKA
190
KENAPA BISA?
191
PERTEMUAN YANG MENGEJUTKAN
192
RASA PENASARAN YANG MENGGELITIK HATI
193
KISAH PUTRI AGNIASARI ARIANI
194
PERTANDA APA ITU?
195
SIAPA ORANG ASING ITU?
196
MIMPI YANG SANGAT BURUK
197
APA YANG KAU KETAHUI?
198
MENGUAK RAHASIA SANG PRABU
199
KATAKAN SELAMAT TINGGAL
200
APAKAH ITU BENAR?
201
MASIH MENJADI MISTERI
202
JANGAN COBA-COBA BERKHIANAT
203
INGIN MENDENGARKAN KISAH TENTANGNYA
204
GEJOLAK AMARAH YANG DIRASAKAN
205
PEDANG SUKMA MAGA PEMBELAH BUMI
206
JURUS CAKAR NAGA CAKAR PETIR
207
TERUS BERUSAHA
208
RASANYA BUKAN DIA
209
NAMA JAYA SATRIA
210
MUSTIKA NAGA MERAH DELIMA
211
BENARKAH BISA KEMBALI?
212
RASA SAKIT DI HATI
213
SUDAH DITENTUKAN
214
PENJELASAN YANG ANEH
215
ADA KECEMASAN DI DALAM HATI
216
SANGAT PEMARAH SEKALI
217
KERESAHAN HATI YANG MENDALAM
218
TAMU JAUH
219
PERMASALAHAN SUASANA HATI
220
PENGEMBARAAN JAYA SATRIA
221
PENDENGAR YANG BAIK
222
ALASAN KENAPA SEPERTI ITU?
223
PENYATUAN RAGA YANG MENYAKITKAN
224
JANGAN MEMBANTAH, TURUTI SAJA
225
KENYATAAN YANG TIDAK BISA DIBANTAH
226
MASIH DALAM MASA PENYESUAIAN
227
MARAH YANG BERLEBIHAN
228
BERHASIL DENGAN BAIK
229
KYAI YANG DIBURU
230
MEMBUNCAH BEGITU SAJA
231
PERASAAN DILEMA PRABU ASMALARAYA ARYA ARDHANA
232
SANGAT MENYENTUH HATI
233
MENCOBA BERSIKAP TEGAR
234
BERDEBAR-DEBAR KARENA APA?
235
PERTARUNGAN BATIN YANG DAHSYAT
236
DENGARKAN DENGAN BAIK
237
GAGAL UNTUK BERSAMA
238
SAKIT, MEMANG SAKIT
239
KABAR YANG TIDAK DIINGINKAN
240
SEMAKIN PARAH
241
MEREDAM SEGALA BENTUK EMOSI JIWA
242
SEDANG BERUSAHA
243
SIAPA DIA?
244
KEYAKINAN HATI YANG KUAT
245
ADA KECEMASAN YANG TIDAK BIASA
246
APAKAH ITU BENAR?
247
GEJOLAK HATI YANG TAK TERSAMPAIKAN
248
JANJI YANG PERNAH DIUCAPKAN
249
BAHAGIA? TAPI MASIH BINGUNG
250
PEMBUKTIAN?
251
APAKAH SEBUAH KEBETULAN?
252
SALAM PERPISAHAN
253
MENCARI PETUNJUK DARI MASALAH YANG TERJADI
254
MENERAPKAN PILIHAN HATI
255
JIKA TELAH MEMILIKI TEKAD
256
SIKAP KERAS HATI
257
SANGAT MENGEJUTKAN SEKALI
258
PERMINTAAN PRABU ASMALARAYA ARYA ARDHANA
259
BERTEMU DENGAN SANG PRABU
260
TIDAK PERNAH DIDUGA SEBELUMYA
261
TIDAK SEPERTI YANG DIBAYANGKAN
262
ADA YANG HARUS DIKETAHUI
263
PERTARUNGAN DI SUMBER MATA AIR DEWA
264
KEKUATAN YANG SANGAT DAHSYAT
265
BAGAIMANA BISA? KEKUATAN KERIS KEMBAR?
266
IDENTITAS ASLI JAYA SATRIA
267
MALAH JADI TAKUT
268
MEMAHAMI SITUASI YANG TERJADI
269
SESUATU YANG TIDAK BISA DIMENGERTI
270
MASALAH YANG CUKUP RUMIT
271
GONCANGAN HATI
272
SAKIT YANG MENUSUK HATI
273
KISAH LAMA YANG TELAH TERJADI
274
MEMANG TIDAK BISA
275
MEMBEBASKAN SUKMA YANG TERSESAT
276
UCAPAN YANG MENCEMASKAN HATI
277
MUNGKIN INI ALASAN YANG TEPAT
278
PERASAAN YANG KUAT
279
GEJOLAK API KEBENCIAN YANG TERTANAM DI HATI
280
HADIAH DARI KELUARGA ISTANA
281
KALIAN BERANI MENANTANG AKU?
282
MARI KITA BICARA
283
MENGUJI KESABARAN HATI?
284
HAL YANG TIDAK TERDUGA SEBELUMNYA
285
BERKOMUNIKASI DENGAN PENGHUNI ALAM SUKMA
286
BUKAN BERMAKSUD MENGHAKIMI SATU PIHAK SAJA
287
MENURUTI KEINGINAN HATI
288
BUKAN PENGLIHATAN BIASA
289
KEMUNGKINAN YANG AKAN TERJADI
290
KEJADIAN YANG SEBENARNYA
291
SESUATU YANG TIDAK BISA DIJELASKAN DENGAN KATA-KATA
292
MEMASUKI ALAM SUKMA
293
MENGUATKAN HATI YANG GELISAH
294
MENGATASI MASALAH TEKANAN BATIN
295
DESA GAIB
296
KETAKUTAN YANG MENYIKSA BATIN
297
MENGGANJAL DI HATI
298
KENANGAN MANIS YANG TAK TERLUPAKAN
299
SUASANA HATI YANG TIDAK KARUAN
300
KEPUTUSAN YANG SANGAT KUAT DARI HATI
301
DAPAT MELIHAT DENGAN JELAS
302
TAKDIR YANG DIJALANI
303
KEGELAPAN YANG MENGUSIK JIWA
304
YANG SEHARUSNYA DILAKUKAN
305
PENCARIAN SUKMA DEWI SUARABUMI
306
HUBUNGAN YANG TERJALIN ERAT
307
PERMOHONAN
308
PERTARUNGAN TIGA SUKMA
309
PASAR KOTA RAJA
310
KENAPA TIDAK BISA MENERIMANYA?
311
AKAR PERMASALAHANNYA
312
HATI YANG INGIN BERONTAK
313
DENGARKAN DENGAN BAIK
314
MASIH ADA HARAPAN
315
MEMPERSIAPKAN DIRI
316
HATI YANG MENENTUKAN
317
TIDAK MUDAH GOYAH
318
APA YANG DICEMASKAN?
319
APAKAH SEMUA ITU BENAR?
320
APA YANG INGIN KAU BUKTIKAN?
321
AKAN AKU TUNJUKKAN SEMUANYA
322
MENGATUR EMOSI JIWA
323
APAKAH MEMANG SEPERTI ITU?
324
MASALAH YANG SANGAT SERIUS
325
KEGELISAHAN YANG MENDALAM
326
PENGLIHATAN YANG TIDAK BIASA
327
PERASAAN HATI YANG TIDAK BISA BERBOHONG
328
KEBENARAN YANG TERSEMBUNYI
329
KEKUATAN YANG DAHSYAT
330
KEJADIAN YANG TIDAK MASUK AKAL
331
MEMIKIRKAN KEMUNGKINAN YANG AKAN DILAKUKAN
332
SIAPA YANG BERANI?
333
GEJOLAK HATI DALAM KEMARAHAN
334
GANASNYA SUASANA HATI RADEN CAKARA CASUGRAHA
335
PERASAAN YANG KUAT SEKALI
336
KETANGGUHAN HATI
337
PERTARUNGAN YANG TIDAK BISA DIHINDARI
338
TERIMA ATAU TIDAK? SEGERA TENTUKAN PILIHANNYA
339
KENAPA MEREKA BISA ADA?
340
KARMA YANG DIDAPATKAN
341
SEHARUSNYA TIDAK SEPERTI INI
342
AMARAH YANG SEMAKIN MEMBUNCAH
343
KEPUTUSAN, DAN MASA LALU
344
JANGAN TANYA KENAPA?
345
MAU MENGUJI KESABARAN KU?
346
MENGERAHKAN SEMUA KEKUATAN
347
HATI YANG TERLUKA
348
KUATKAN HATI SANG PRABU
349
TERHUBUNGNYA PERASAAN MEREKA
350
PERASAAN YANG LEBIH KUAT
351
APA YANG TERJADI SEBENARNYA?
352
TEKAD UNTUK MELAKUKANNYA
353
HARAPAN YANG BAIK
354
LAMARAN DARI DUA PANGERAN?
355
HARUSKAH SEPERTI ITU?
356
ADA YANG TIDAK BERES
357
HATI YANG TERLUKA PARAH
358
KENYATAAN YANG MENYAKITKAN BATIN
359
MENJAGA PERASAAN HATI
360
APAKAH ITU SUDAH TEPAT?
361
ADA YANG DISEMBUNYIKAN?
362
DIA SEORANG RAJA?
363
GEJOLAK AMARAH
364
KASIH SAYANG YANG DALAM
365
SANGAT BERBAHAYA SEKALI
366
MENGERIKAN SEKALI
367
HANYA BISA BERBUAT DEMIKIAN SAJA
368
APA YANG KAU LIHAT?
369
MAU MENGUJI AKU? BOLEH SAJA
370
AKAN AKU TUNJUKKAN KEBENARANNYA
371
KAU MAU APA SEBENARNYA?
372
MASALAH YANG SEAKAN TIADA HENTI

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!