...***...
Pondok pesantren.
"Nimas, apakah kau yakin?." Tatapan matanya sangat serius. "Ingin memeluk agama Islam?."
Putri Agniasari Ariani menarik nafas dalam-dalam, meyakini dirinya.
"Karena-." Ucap Dewi Cantika sambil tersenyum. "Tidak ada paksaan sama sekali."
Bagaimana dengan tanggapan Putri Agniasari Ariani?.
...***...
Istana Kerajaan Suka Damai.
"Karena agama islam, bukanlah agama yang memaksa seseorang." Ucap Prabu Asmalaraya Arya Ardhana pada prajurit yang ikut mendengarkan penjelasan sang Prabu. "Untuk mengikuti apa saja, yang dilarang ataupun, yang disunnahkan."
Mereka semua mendengarkan dengan baik, apa yang telah disampaikan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Bahkan yang diwajibkan." Lanjut sang Prabu. "Agama islam adalah agama yang membawa perdamaian bagi siapapun." Jelas sang Prabu. "Bagi mereka yang meresapi makna kenikmatan-kenikmatan, yang memberikan ketenangan jiwa dan raga seseorang."
...***...
Pondok pesantren.
"Karena itulah nimas." Senyumannya begitu ramah. "Pikirkan baik-baik, nimas pelajari terlebih dahulu." Lanjutnya. "Tentang dasar agama Islam." Ucap Dewi Cantika dengan suara yang sangat lembut.
"Tentang dasar agama Islam?." Dalam hatinya.
"Jika nimas sudah mengerti? Baru lah saya akan mengajak nimas." Ucapnya lagi. "Menemui kanda muhammad sabar, untuk menuntun nimas, mengucap dua kalimat syahadat."
"Saya memang berniat mempelajarinya terlebih dahulu." Balasnya. "Sebab saat berada di istana, saya pernah mendengarkan rayi Prabu, melantunkan ayat-ayat suci Alquran."
"Mendengarkan ayat suci Al-Qur'an?." Dalam hatinya sangat heran.
"Saya sangat senang mendengarnya." Ia tersenyum kecil. "Hati saya terasa damai, tenang dan tentram." Ia mengungkapkan apa yang ia rasakan saat itu. "Karena saya tidak mau mengganggu rayi Prabu." Jelasnya. "Makanya saya pergi mencari seseorang, yang dapat mengajarkan saya tentang agama islam." Lanjutnya.
"Jadi? Keluarga nimas? Tidak semuanya beragama islam?." Dewi Cantika sedikit terkejut.
"Benar sekali nini." Jawabnya. Ia tidak menyembunyikan fakta itu. "Karena ayahanda dan ibunda kami." Lanjutnya. "Telah menganut agama hindu-budha sejak lahir." Jawabnya dengan jujur. "Jadi? Kami anak-anaknya, tentulah mengikutinya juga."
"Lalu? Bagaimana bisa?." Ucapnya aneh. "Gusti Prabu asmalaraya arya ardhana masuk islam?." Pikirannya seperti tidak sampai ke sana. "Jika saya boleh mengetahuinya."
"Saya juga tidak mengetahuinya dengan pasti." Jawabnya. "Namun ayahanda Prabu mendapatkan sebuah wangsit." Lanjutnya. "Bahwa untuk mengendalikan kekuatan kutukan, yang ada di dalam tubuh rayi Prabu." Hatinya terasa sedih. "Ia harus masuk agama islam, karena agama Islam." Ia menekan perasaan hatinya. "Agama yang mampu mengendalikan diri seseorang." Putri Agniasari Ariani mencoba tersenyum. "Meskipun saya tidak mengetahui, apakah itu benar atau tidak?."
Dewi Cantika tersenyum kecil menatap Putri Agniasari Ariani. "Semuanya tergantung niatnya saja." Balasnya. "Apakah ia benar-benar berniat? Ingin merubah dirinya ke arah yang lebih baik." Ucapnya dengan senyuman ramah. "Atau ke arah keburukan."
"Ya, itu sangat benar." Respon Putri Agniasari Ariani.
"Tapi, setidaknya agama islam." Ucap Dewi Cantika. "Memang agama yang memberikan kedamaian, dalam diri seseorang." Lanjutnya. "Tetaplah bersabar di jalan Allah SWT." Dewi Cantika mencoba menjelaskan pada Putri Agniasari Ariani.
Apakah Putri Agniasari Ariani akan masuk agama Islam?. Temukan jawabannya.
...**...
Istana Kerajaan Suka Damai.
"Jika memang kalian ingin masuk agama Islam? Itu hal yang baik." Sang prabu tersenyum kecil menatap mereka semua. "Nanti akan saya carikan guru." Ucap sang Prabu. "Yang dapat membimbing kalian semua, masuk agama islam."
"Terima kasih Gusti Prabu."
Ucap mereka serentak, sambil memberi hormat pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Kalau begitu lanjutkan lanjutkan latihan." Mata sang Prabu tertuju pada sosok ibundanya. "Ada urusan yang harus saya selesaikan."
"Sandika Gusti Prabu."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana meninggalkan mereka, segera menuju ibundanya.
"Ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencium tangan ibundanya.
"Apakah nanda Prabu telah selesai?."
"Tentu saja ibunda." Jawab Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Apakah ibunda mengganggu nanda?."
"Sama sekali tidak ibunda." Sang Prabu tersenyum lembut. "Nanda senang, ibunda datang ke sini."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Ratu Dewi Anindyaswari menuju istana Selatan.
"Apakah? Mereka mengganggu ibunda?." Tatapan mata sang Prabu sangat serius. "Ketika nanda belum kembali ke istana?."
Ratu Dewi Anindyaswari hanya bisa tersenyum saja, walaupun hatinya terasa pahit.
"Ibunda hanya bersabar." Ucap Ratu Dewi Anindyaswari. "Menunggu kepulangan nanda Prabu." Ungkapnya. "Ibunda sangat senang, saat mendengarkan suara nanda saat itu."
"Maaf ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa bersalah. "Saat itu, nanda mengalami luka yang cukup parah." Lanjut sang Prabu. "Sehingga nanda tidak bisa kembali, dalam waktu yang cepat."
"Ibunda sangat cemas." Ungkap Ratu Dewi Anindyaswari. "Ketika Senopati mandala sakuta berkata, menemukan pakaian robek di sana." Hatinya terasa sakit. "Mereka menyimpan, bahwa nanda telah tewas di sana."
"Alhamdulillah hirobbil 'alamiin." Respon Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Nanda masih selamat ibunda." Lanjut sang Prabu. "Karena bantuan dari Syekh guru, dan aki jarah setandan."
"Syukurlah kalau begitu." Hatinya merasa lega mendengarnya.
...***...
Kota Raja kerajaan Suka Damai.
Nini Kabut Bidadari, Putri Gempita Bhadrika, Semara Layana dan juga Mayang Sari saat ini berada di kota raja kerajaan Suka Damai. Saat ini mereka sedang berbaur dengan penduduk kota raja, mereka menyamar menjadi rakyat biasa. Agar tidak menimbulkan kecurigaan sama sekali.
"Apa yang akan kita lakukan setelah ini nini?." Putri Gempita Bhadrika memperhatikan sekitarnya. "Apakah nini punya saran?."
"Gusti Putri bisa mengamati sekitar." Jawabnya. "Bukalah mata Gusti, amati sekitar." Lanjutnya. "Manfaatkan pikiran pintar Gusti." Ucapnya dengan sangat santainya. "Jika merasa tertarik? Maka lakukan."
"Itu bukanlah, jawaban yang aku inginkan." Raut wajahnya tampak cemberut. "Berikan aku sebuah ide bagus."
"Hamba ingin melihat." Responnya. "Seberapa pintar, putri dari Gusti Prabu wajendra bhadrika." Ia tersenyum lebar. "Dalam bertindak, bergerak, dan tidak mudah dikendalikan bawahannya."
"Heh!." Putri Gempita Bhadrika mendengus dingin. "Jadi? Nini ingin menguji kepintaran aku?."
"Anggap saja seperti itu Gusti."
"Baiklah." Balasnya. "Berikan aku waktu sebentar." Lanjutnya. "Untuk memikirkannya."
"Tentu saja."
Putri Gempita Bhadrika merasa tertantang, atas apa yang telah dikatakan oleh Nini Kabut Bidadari. Putri Gempita Bhadrika memperhatikan keadaan sekitar, dan mencoba memikirkannya.
"Sepertinya aku menemukan sesuatu yang menarik, untuk membuat keributan di sini nini."
"Benarkah?."
"Ya."
Putri Gempita melangkah pergi meninggalkan mereka. Dan ia mengeluarkan sekantong uang, yang ia simpan di kantong bajunya. setelah itu ia mengeraskan suaranya sambil berkata
"Pengumuman!." Ucapnya keras.
Tentu saja mereka yang mendengarkan itu langsung melihat ke arahnya.
"Namaku embun swarna."
"Wah? Apa itu?."
"Ayo kita lihat."
"Ya, ayo kita lihat."
"Ada apa Gusti?."
"Apakah ada sesuatu? Yang ingin disampaikan?."
"Aku seorang putri kadipaten." Jawabnya. "Aku sedang mencari seorang pengawal." Ia tersenyum ramah pada mereka. "Yang akan mengawalku sampai ke rumahku."
Mereka yang berkerumun di sana tampak berpikir.
"Apakah pihak istana?." Responnya. "Tidak memberikan pengawalan? Pada Gusti?."
"Saya hanya ingin pengawal, salah satu dari kalian saja."
"Kenapa?."
"Karena bayaran pengawalan istana." Jawabnya. "Sangat mahal." Lanjutnya. "Apakah kalian? Tidak bisa membantu aku?."
"Wah? Tentu saja Gusti."
Tentu saja itu menjadi daya tarik bagi mereka semua.
"Sepertinya dia tuan putri yang cukup pintar." Matanya memperhatikan itu. "Untuk bertualang di dunia luar."
Nini Kabut Bidadari cukup terkesan, dengan apa yang dilakukan oleh Putri Gempita Bhadrika, dalam melakukan hal yang menurutnya akan menyenangkan hatinya.
"Kalian berdua perhatikan baik-baik." Ia melirik ke arah Mayang Sari dan Semara Layana. "Apa yang akan ia lakukan, sebagai seorang putri raja kegelapan." Lanjutnya. "Yang memiliki ide-ide cemerlang, untuk membuat kerusuhan di suatu tempat."
"Ya, tentu saja nini." Mayang Sari memperhatikan itu dengan baik.
"Ini akan menjadi tontonan yang menarik." Dalam hati Semara Layana."
"Semoga saja, ini awal yang baik." Dalam hati Nini Kabut Bidadari.
...***...
Kaputren Istana Utama.
"Bagaimana mungkin?." Raden Gentala Giandra heran. "Dia bisa hidup?." Lanjutnya. "Keluar dari hutan taring belati raga." Ia menatap mereka. "Yang katanya bisa menyerap ilmu Kanuragan seseorang."
"Ya." Respon Putri Ambarsari. "Apa lagi musuhnya kejam, para rampok." Lanjutnya. "Mungkin saja, dia memiliki nyawa yang kuat." Ucapnya aneh. "Sehingga dia masih selamat."
"Aku rasa tidak seperti itu yunda, raka."
Tatapan mata mereka tertuju pada Putri Andhini Andita.
"Apa maksudnya itu rayi?."
"Coba jelaskan pada kami."
"Cakara casugraha." Jawabnya. "Dia pasti ditolong oleh orang misterius itu."
"Orang misterius?." Ulangnya. "Maksudmu orang bertopeng?."
"Benar raka." Jawabnya. Penampilannya sama persis." Lanjutnya. "Dengan orang yang menyelamatkan raka waktu itu." Putri Andhini Andita sangat yakin itu.
"Jadi maksudmu?." Responnya. "Rayi Prabu juga diselamatkan? Oleh orang bertopeng itu juga?."
"Bisa jadi seperti itu raka." Jawabnya. "Mengingat beberapa kali ia pernah menyelamatkan keluarga istana." Ia tampak berpikir. "Ada kemungkinan seperti itu itu yang terjadi."
Mereka sedang memikirkan ucapkan Putri Andhini Andita.
"Apalagi, aku pernah melihat orang bertopeng itu." Lanjutnya. "Beberapakali bersama ayahanda." Ucapnya heran. "Bisa jadi dia adalah orang kepercayaan ayahanda Prabu."
"Orang kepercayaan ayahanda Prabu?."
"Apakah itu mungkin?."
"Aku tidak pernah melihatnya." Ungkapnya. "Atau mendengar bahwa, mendiang Prabu bekerjasama dengan sosok asing."
"Kapan kau melihatnya rayi andhini andita?." Putri Ambarsari heran. "Coba jelaskan pada kami."
"Kita bisa mengambil kesimpulan." Ucap Raden Ganendra Garjhita. "Jika itu bisa kita gunakan." Lanjutnya. "Untuk menjatuhkan cakara casugraha."
"Dulu aku pernah melihat sosok itu." Jawabnya. "Bersama ayahanda, dalam membereskan para pemberontak kerajaan." Lanjutnya. "Mungkin lebih tepatnya, dua tahun sebelum cakara casugraha kembali."
"Apakah itu mungkin saja cakara casugraha?."
"Itu tidak mungkin." Balasnya cepat. "Karena beberapa akhir-akhir ini." Ucap Putri Andhini Andita. "Aku melihatnya bersama cakara casugraha."
"Ya." Ucap Raden Hadyan Hastanta. "Dia bersama cakara casugraha." Lanjutnya. "Ketika orang bertopeng itu." Ia mengingat kejadian itu. "Mengantar aku ke istana ini."
"Jadi? Siapa dia sebenarnya?."
"Apa hubungannya dengan mendiang ayahanda Prabu?."
"Kenapa ia bisa dekat dengan cakara casugraha?."
"Rasanya kepalaku sakit, memikirkan masalah itu."
Untuk sesaat mereka terdiam, memikirkan apa yang akan dilakukan setelah ini?.
"Bagaimana? Kalau kita manfaatkan orang asing itu." Putri Andhini Andita menatap mereka. "Kita sebarkan informasi, bahwa sebenarnya." Lanjutnya. "Cakara casugraha, dia bekerjasama, dengan dukun." Ia tersenyum lebar. "Untuk mendapatkan tahta Kerajaan ini."
"Bagaimana? Kalau seandainya? Dia memang orang kepercayaan ayahanda Prabu?."
"Siapa yang mau percaya?." Balasnya. "Karena selama ini, kita pernah melihatnya secara kasat."
"Ya, ayahanda pun." Responnya. "Tidak pernah memperkenalkan pada kita."
"Baiklah." Responnya. "Kita akan bergerak, dengan menyebarkan informasi itu."
"Mari kita lakukan."
...***...
Kota Raja.
Ternyata suasana kota raja terlihat ramai, ada beberapa orang pemuda yang sedang adu tanding.
"Bertarung lah kalian dengan sepuasnya." Ucapnya keras. "Jika kalian menang? Maka kalian akan menjadi pengawal ku." Lanjutnya. "Dan aku akan membayar kalian, dengan seratus kepeng uang emas."
Putri Gempita Bhadrika menyoraki mereka yang sedang bertarung mati-matian. Mereka yang mendengarkan itu merasa bersemangat, begitu juga yang menontonnya. Menyaksikan ada dua sampai tiga orang pemuda, yang mencoba ilmu kanuragan mereka.
Sementara itu, Nini Kabut Bidadari yang memperhatikan itu tertawa kecil. Ia merasa lucu, dengan apa yang dilakukan oleh Putri Gempita Bhadrika, untuk memancing keributan di kota Raja.
"Aku tidak pernah melihat, ide gila seperti ini. Ia berusaha menahan tawanya. "Yang dilakukan oleh seorang putri raja."
Nini Kabut Bidadari tidak dapat menyembunyikan tawanya, sedangkan Mayang Sari dan Semara Layana hanya tercengang melihat itu.
Namun ketika mereka sedang bertarung karena upah yang akan mereka terima, prajurit istana datang melerai mereka semua.
"Hentikan!." Teriaknya.
"Hah?."
Mereka terpaksa mundur, karena didatangi oleh prajurit istana.
"Apa yang sedang kalian lakukan?." Matanya memperhatikan keadaan sekitarnya. "Apakah kalian sedang kesurupan? Hah?!."
"Cehk!." Putri Gempita Bhadrika berdecak kesal. "Mengganggu saja."
"Tidakkah kalian sadar? Bahwa kalian telah membuat keributan?!." Lanjutnya. "Lihatlah sekitar kalian!." Ucap salah satu prajurit, dengan suara keras.
Mereka melihat sekitar, memang parah kerusakan yang ditimbulkan, akibat pertarungan mereka tadi.
"Hei!." Bentaknya keras. "Kalian prajurit! Tidak usah ikut campur!." Bentak Putri Gempita Bhadrika merasa kesal karena kesenangan yang ia lakukan berakhir begitu saja.
"Nyai." Balasnya. "Mengapa nyai? Malah memancing keributan di kota raja?." Lanjutnya. "Ini sangat berbahaya nyai." Prajurit tersebut mencoba untuk memperingati Putri Gempita Bhadrika.
"Kami tidak membuat keributan!." Bantahnya. "Kami hanya ingin adu tanding saja."
"Apa maksud nyai?." Responnya. "Berkata seperti itu?!."
"Aku hanya ingin mencari pengawal saja." Jawabnya. "Karena aku ingin kembali ke kadipaten." Lanjutnya. "Pihak istana, sama sekali tidak mau, memberikan pengawalan padaku!."
"Fitnah!." Bantahnya. "Gusti Prabu asmalaraya arya ardhana!." Tegasnya. "Selalu memberikan pengawalan, kepada siapapun saja!."
"Tuan membuat aku takut." Ucapnya dengan nada bergetar. "Tuan jahat sekali."
Deg!.
Prajurit itu sangat terkejut dengan ucapan Putri Gempita Bhadrika.
"Kau itu seorang prajurit!." Bentak seorang pemuda. "Tapi kau malah bersikap kasar! Pada seorang wanita!."
"Hajar saja dia!."
"Kalian!." Prajurit itu mundur beberapa langkah.
Ada beberapa orang pemuda yang mendekati prajurit itu, menghajarnya beramai-ramai.
Di saat itulah ada sosok bertopeng datang menghalau serangan yang datang ke arah prajurit.
Semara Layana yang mengenali orang itu, langsung menarik Putri Gempita Bhadrika dari sana. Ia tidak mau orang itu mengenali putri Gempita Bhadrika. Semara Layana juga bahkan, menyuruh Nini Kabut Bidadari dan Mayang Sari untuk bersembunyi sementara waktu.
"Hentikan!."
Orang bertopeng itu menyuruh mereka, menghentikan apa yang mereka lakukan. Suaranya terdengar keras, hingga mereka terkejut. Sehingga mereka menghentikan aksi melempari, dan menyakiti prajurit.
Mereka semua memperhatikan orang bertopeng itu, dengan tatapan aneh serta takut. Siapakah orang itu?. Apa hubungannya dengan prajurit istana?.
"Siapa orang ini? Kenapa tiba-tiba saja dia datang?." Dalam hati Putri Gempita Bhadrika sangat kesal.
Next.
...**...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 372 Episodes
Comments