...***...
Pertarungannya keduanya sangat sengit, tidak ada yang mau mengalah satu sama lain. Keduanya menggunakan kekuatan tenaga dalam mereka untuk saling menjatuhkan, tentunya menjadi pemenang yang terkuat. Dalam pertarungan itu mereka terlihat sangat buas, seperti hewan yang sedang merebut wilayah kekuasaan.
"Kau tidak usah banyak bicara!." Ki Dharma Seta sangat marah. Kemarahannya karena tidak menyukai apa yang dikatakan oleh orang bertopeng itu. Berani sekali orang misterius itu menasehatinya?. "Kau pikir kau siapa hah?." Amarahnya benar-benar meledak. "Kembalikan saja anak buahku! Atau akan aku bunuh kau?!."
"Hidup dan matiku, hanya karena Allah SWT." Balasnya dengan senyuman ramah. "Hidupku sekarang akan aku gunakan, untuk menghentikan kejahatan yang telah kalian lakukan." Jaya Satria masih bersikap tenang, ia menghela nafasnya. "Ternyata menghadapi orang yang sedang dirasuki oleh kemarahan tidaklah mudah." Dalam hatinya waspada.
"Kau benar-benar ingin mati!."
Ki Dharma Seta sudah tidak tahan lagi, ia segera menyerang Jaya Satria.
Tentunya Jaya Satria tidak mau diserang begitu saja, ia menahan pukulan yang datang padanya.
"Sha! Sha! Sha!."
Ki Dharma Seta dengan kuat, menyalurkan tenaga dalamnya di tangannya. Mencoba memukul tubuh Jaya Satria, akan tetapi ia masih bisa menghindarinya, bahkan menahan pukulan itu dengan tenaga dalam pula.
"Orang ini bernafsu sekali."
Dalam hati Jaya Satria, ia terus menghindari dan bahkan sesekali memberikan serangan yang cukup membahayakan musuhnya.
"Ternyata benar, anak ini tidak bisa di remehkan." Dalam hati Ki Dharma Seta, ia sedikit terkesan dengan ilmu Kanuragan yang dimiliki oleh pendekar misterius ini.
"Hyah!."
Keduanya beradu tendangan, tetapi masih bisa menahannya.
Kekuatan mereka benar-benar seimbang. Sehingga belum ada yang mau mengalah diantara keduanya.
"Kalau begitu, rasakan jurusku!." Setelah berkata seperti itu, Ki Dharma Seta mundur beberapa langkah ke belakang, ia membuat gerakan jurusnya.
Jaya Satria memperhatikannya, jurus orang itu sepertinya cukup berbahaya. Jurus yang dimiliki oleh orang-orang yang berjalan di aliran hitam, cukup berbahaya, jadi ia harus waspada.
"Ya Allah, berikan hamba kekuatan untuk menghadapi jurus orang itu." Dalam hatinya. "Hamba hanya berlindung kepada-MU." Dalam hati Jaya Satria berdoa agar diberi keselamatan dan terhindar dari marabahaya ketika bertarung.
...***...
Sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala yang tidak bisa tenang.
"Sampurasun."
"Rampes."
"Apa yang membuat nanda terlihat gelisah?." Senyumannya begitu lembut. "Apa yang sedang kau rasakan? Nanda Prabu kawiswara arya ragnala?."
"Mohon ampun eyang Prabu, maafkan nanda." Sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala memberi hormat. "Bukan nanda bermaksud, untuk ikut campur dalam urusan duniawi." Lanjut Sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala. "Terhadap nanda Prabu asmalaraya arya ardhana." Hatinya sangat gelisah. "Namun nanda memang tidak bisa tenang, eyang Prabu."
"Kali ini saja, aku izinkan engkau ikut campur dalam masalah." Respon Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta. "Yang akan dihadapi oleh putramu, nanda Prabu asmalaraya arya ardhana."
"Benarkah itu eyang Prabu?."
"Ya, hanya kali ini saja." Jawabnya. "Tidak ada kesempatan kedua nantinya."
"Terima kasih eyang Prabu." Sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala memberi hormat. "Nanda akan menggunakan kesempatan ini dengan baik."
"Kalau begitu pergilah, jangan buang-buang waktu." Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta tersenyum lembut. "Lakukan apa yang menurut nanda." Lanjutnya. "Itu adalah hal baik, untuk membantu nanda Prabu asmalaraya arya ardhana."
"Ya, tentu saja eyang Prabu." Sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala telah memikirkan hal penting apa, yang akan dilakukan untuk membantu putranya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
...***...
Disatu sisi, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa gelisah. Tiba-tiba saja teringat dengan Jaya Satria, dan entah kenapa sang Prabu merasakan kedekatan dengannya.
"Ya Allah, penglihatan apa yang sebenarnya hamba lihat?." Hati sang Prabu sangat gelisah. "Mengapa hamba seperti seseorang yang menyerang hamba?." Sang Prabu merasa tidak nyaman. "Sepertinya jaya satria sedang bertarung dengan seseorang?."
Dalam hati sang Prabu sangat bergemuruh gelisah. Sang Prabu seperti melihat kilasan bayangan, namun tidak tahu itu apa. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana berdoa kepada Allah, agar terhindar dari perbuatan keburukan.
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِىْ، وَمِنْ شَرِّ بَصَرِىْ، وَمِنْ شَرِّلِسَانِيْ، وَمِنْ شَرِّقَلْبِيْ، وَمِنْ شَرِّ قَلْبِيْ، وَمِنْ شَرِّمَنِيِّي
"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Mu dari keburukan pendengaranku, kejahatan penglihatanku, keburukan lidahku, keburukan hatiku dan keburukan air maniku." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana hanya berharap, semuanya akan baik-baik saja.
...***...
Di kaki Bukit Menawan Batin.
Seorang laki-laki tua sedang merenung panjang di sebuah pondok kecil, suasana hatinya saat itu bercampur aduk.
"Nanda cakara casugraha telah diangkat menjadi raja agung." Suara hatinya berkata demikian.
"Sudah sepantasnya ia mendapatkan tahta itu." Ia tersenyum kecil. "Bukankah itu adalah takdir yang harus ia jalani?." Suaranya yang lainnya juga berpendapat.
"Ya, nanda cakara casugraha, memang telah ditakdirkan untuk menjadi Raja." Ucapnya dengan yakin. "Hanya saja jalan hang ia tempuh tidaklah mudah."
"Jika menjadi raja itu mudah? Maka semua orang bisa melakukannya."
"Ya, kau benar."
Kembali Aki Jarah Setandan tampak merenung panjang.
"Namun, takdir keturunan sah seorang Raja." Lanjutnya. "Dari mendiang Gusti Prabu bahuwirya jayantaka byakta cukup unik."
Entah kenapa Aki Jarah Setandan malah terkekeh kecil, jika ingat apa yang telah dilakukan oleh Raden Cakara Casugraha saat itu.
Kembali ke masa itu.
"Hei!." Ucapnya pada seseorang. "Jika kau ingin singgah?." Lanjutnya. "Singgah saja, tapi jangan berpenampilan seram seperti itu."
Sosok menyeramkan itu melihat ke arah Raden Cakara Casugraha yang tampak kesal padanya.
"Kau ini ya?." Ia menghela nafas dengan lelahnya. "Memangnya apa yang kau inginkan? Sehingga kau sampai ke sini?."
Aki Jarah Setandan yang berada di dalam pondok merasa heran mendengarkan suara Raden Cakara Casugraha.
"Ada apa nanda?." Keningnya mengkerut aneh. "Apakah nanda sedang bermain sandiwara?."
Aki Jarah Setandan merasa heran, matanya tidak dapat menangkap siapapun di sana kecuali Raden Cakara Casugraha yang memang sedang kesal.
"Nanda tidak bermain sandiwara guru." Decaknya dengan kesal. "Tapi hantu buruk rupa ini memaksa ingin bertemu dengan guru." Lanjutnya sambil menunjuk ke arah sosok seram itu. "Katanya dia ingin menyampaikan, bahwa anak buah pendekar tapak harimau hutan kegelapan akan menyerang guru."
Deg!.
Tentu saja ucapan itu membuat Aki Jarah Setandan terkejut. Hatinya terasa sakit jika ingat peristiwa mengerikan itu di masa lalu.
"Katakan padanya, aku telah membunuh mereka semua." Hatinya bergetar takut. "Dan kau? Pergilah dengan damai."
Raden Cakara Casugraha menatap sosok itu, terlihat sangat jelas bagaimana pemuda itu bersedih mendengarkan ucapan Aki Jarah Setandan.
"Kau tenang saja." Ucap Raden Cakara Casugraha. "Masalah dunia yang membebani kau telah beres." kembalilah dengan damai." Raden Cakara Casugraha tersenyum lembut.
Saat itu juga perlahan-lahan sosok pemuda yang menyeramkan itu berubah menjadi pemuda yang gagah perkasa. Bahkan ia menunjukkan wujudnya di hadapan Aki Jarah Setandan.
"Terima kasih guru." Ucapnya sambil memberi hormat. "Maafkan, jika saya tidak mendengarkan ucapan guru saat itu." Ada bentuk penyesalan yang ia sampaikan.
"Pergilah tohpati." Ucapnya dengan perasaan sedih. "Kau adalah murid kesayangan ku." Hatinya terasa sakit. "Aku telah membalaskan semua, perasaan sakit yang kau rasakan."
"Terima kasih guru, selamat tinggal guru." Setelah berkata seperti itu ia pergi menghilang.
Kembali ke masa ini.
...***...
Kembali ke pertarungan.
Sedangkan Ki Dharma Seta sudah siap dengan jurusnya, jurus jarum angin menggempar hutan kesunyian. Memang terdengar jurus biasa, namun jurus itu lumayan kuat. Karena pengaruh jurus itu, angin disekitar mereka tiba-tiba berhembus kencang.
Dedaunan beterbangan, bahkan ada yang tampak terbelah dua atau hancur. Sungguh jurus yang tidak bisa diremehkan.
Bahkan dengan kekuatan tekanan angin sekitar, Ki Dharma Seta dapat memanfaatkan angin sebagai senjatanya.
"Ya Allah, sesungguhnya tidak ada kekuatan yang maha dahsyat." Dalam hati Jaya Satria sangat cemas. "Selain kekuatan yang ada pada-Mu, karena itu lindungilah hamba dari kejahatan makhluk-Mu." Dalam hatinya kembali berdoa. "Hanya kepada Engkaulah hamba meminta bantuan." Jaya Satria tidak henti-hentinya berdoa dalam hati, ia selalu mengingat Allah sebagai tempat ia meminta pertolongan.
"Ada apa? Hah?!." Ia menyeringai lebar. "Kenapa kau diam saja?." Senyumannya mengembang begitu saja. "Apakah kau takut dengan jurusku?!."
Ki Dharma Seta terlihat berbangga hati, ia merasa diatas angin sekarang, ia terlihat puas karena Jaya Satria tidak berkutik sama sekali.
"Aku diam bukan berarti aku takut paman." Balas Jaya Satria.
Ia sedang menahan hawa angin ganas, yang berusaha menyerang tubuhnya. Dengan menyalurkan tenaga dalamnya, angin disekitarnya sedang dikendalikan seperti senjata tajam yang merobek tubuhnya.
Jika dilihat sekilas tadi, lengan baju kanan Jaya Satria seperti disabet oleh senjata tajam. Sehingga ada bekas robekan di sana, juga meninggalkan luka di lengan kanan Jaya Satria.
...***...
Di saat bersamaan.
"Kegh!."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merintih sakit. Sehing gelas yang dipegang, tiba-tiba jatuh dari tangannya, karena merasakan sakit di lengan kanannya.
"Nanda Prabu?."
Ratu Dewi Anindyaswari terkejut, melihat putranya yang tiba-tiba mendesis sakit. Ratu Dewi Anindyaswari segera menghampiri putranya, ada perasaan cemas di hatinya.
"Nanda baik-baik saja ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana meyakinkan ibundanya. Meskipun perasaannya mengatakan, memang ada sesuatu yang terjadi pada Jaya Satria.
"Katakan pada ibunda, apa yang nanda rasakan nak?." Perasaan cemas itu sangat besar. "Mungkin nanda prabu lelah setelah sidang tadi?." Hatinya benar-benar tidak nyaman. "Apakah nanda sedang sakit?."
"Nanda baik-baik saja." Balasnya. "Ibunda tidak perlu khawatir, sungguh nanda baik-baik saja."
"Benarkah?."
"Benar ibunda."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana hanya berusaha meyakinkan ibundanya.
"Ya Allah, apa yang sebenarnya terjadi pada jaya Satria?." Dalam hati sang Prabu sangat cemas. "Dengan siapa ia bertarung saat ini? Lindungilah ia di mana pun ia berada ya Allah." Dalam hati prabu Asmalaraya Arya Ardhana berdoa kepada Allah, sangat mencemaskan keadaan Jaya Satria. Bisa jadi sakit yang dirasakan itu karena Jaya Satria dalam bahaya?.
...***...
Tempat Syekh Asmawan Mulia.
"Terima kasih nini." Syekh Asmawan Mulia tersenyum lembut, ketika istinya Nyai Ayudiyah Purwati menyajikan beberapa lauk pauk untuk dimakan bersama.
"Sama-sama kakang." Nyai Ayudiyah Purwati duduk di depan suaminya. "Apakah kakang Syekh?." Ia tersenyum kecil. "Telah mendapatkan kabar mengenai nanda cakara casugraha?." Ucapnya sambil mengambil beberapa lauk, setelah itu ia serahkan pada Syekh Asmawan Mulia.
"Hanya beberapa kabar yang aku dapatkan." Jawabnya. "Termasuk pengangkatan nanda cakara casugraha, sebagai Raja baru di kerajaan suka damai." Lanjutnya sambil mengambil piring itu dari tangan istrinya.
"Jadi benar?." Responnya. "Kabar yang beredar? Bahwa Gusti Prabu kawiswara arya ragnala telah tewas?."
Syekh Asmawan Mulia belum menjawabnya, sedang mengunyah makanan di mulutnya, sambil memikirkan kembali apa yang terjadi saat itu.
Kembali ke masa itu.
"Mohon ampun Gusti Prabu." Syekh Asmawan Mulia memberi hormat.
"Ada apa adi Syekh?." Balasnya dengan senyuman ramah. "Apakah ada sesuatu yang hendak kau sampaikan?."
"Maaf, jika hamba lancang, bagaimana?." Syekh Asmawan Mulia memberi hormat. "Jika hamba serta kakang jarah setandan? Ikut menemani Gusti Prabu memerangi raja kegelapan?." Syekh Asmawan Mulia mengeluarkan ungkapan hatinya. "Jangan terlalu membahayakan nyawa Gusti Prabu, kami siap membantu Gusti Prabu."
Prabu Kawiswara Arya Ragnala tersenyum kecil.
"Terima kasih atas perhatiannya adi Syekh." Respon sang Prabu. "Namun pertarungan ini hanya saya yang bisa melakukannya." Prabu Kawiswara Arya Ragnala tampak meyakinkan. "Aku tidak ingin kalian ikut terbawa arus kegelapan."
"Apakah Gusti Prabu tidak percaya? Dengan kemampuan kami?."
"Bukan begitu maksudnya adi Syekh." Balas Prabu Kawiswara Arya Ragnala. "Ada tugas penting yang harus kalian lakukan."
"Apa maksud Gusti Prabu?."
"Dengan membuat batu naga merah delima itu?." Jawab sang Prabu. "Kalian telah membantu saya membantu masa depan kerajaan."
"Tapi Gusti?."
"Sebenarnya saya telah bertarung dengannya sekali." Ucap Prabu Kawiswara Arya Ragnala. "Dan hawa kegelapan itu telah menggerogoti tubuh saya." Prabu Kawiswara Arya Ragnala menyentuh dadanya. "Dalam pertemuan terakhir, saya akan mempertaruhkan semuanya Syekh."
"Apa maksud Gusti Prabu?." Syekh Asmawan Mulia tidak mengerti sama sekali.
...**...
kembali ke pertarungan.
"Aku diam, karena sedang berpikir paman." Jaya Satria tersenyum kecil, terlihat dibibirnya.
Walaupun sebagain wajahnya tertutup oleh topeng. Saat ia merasakan dirinya bisa menahan tekanan angin itu, agar tidak melukai tubuhnya. Jaya Satria mulai membuat gerakan jurus yang membuat Ki Dharma Seta cukup terkejut.
"Jurus pembalik, menyapu angin dalam kesunyian?."
Deg!.
Ki Dharma Seta terkejut, ia tidak menyangka pemuda itu memiliki jurus pembalik dari jurusnya?. Jurus itu bukan hanya sebagai pertahanan dari serangan angin berupa jarum, melainkan jurus yang dapat melebur jurus itu sendiri.
"Bedebah!." Umpatnya penuh amarah. "Bagaimana mungkin bisa? Kau memiliki jurus itu?." Amarahnya meledak. "Siapa kau sebenarnya?."
"Kau tidak perlu tau siapa aku!." Balasnya. "Tapi yang pastinya? Aku dulu juga termasuk orang jahat!." Lanjutnya. "Tapi sudah bertaubat." Jawab Jaya Satria tersenyum puas, ia berhasil memjokkan Ki Dharma Seta dengan jurus yang ia keluarkan.
"Heh!." Ia mendengus kesal. "Kau tidak usah berbicara yang tidak-tidak padaku!."
"Aku juga pendekar yang memanfaatkan angin." Ucapnya dengan sangat yakin. "Untuk dijadikan senjata andalanku, bukan hanya kau saja."
"Banyak bicara kau!."
Setelah itu, mereka kembali bertarung dengan jurus masing-masing.
Jika Ki Dharma Seta jurus penghancur raga, dengan memanfaatkan angin menjadi jarum tajam seperti pedang untuk senjata. Maka Jaya Satria menggunakan jurus pembaliknya, jurus pelebur angin menggemparkan hutan kesunyian.
Ki Dharma Seta mencoba mengalirkan tenaga dalamnya ke tangan kirinya, ia memukul bahu kiri Jaya Satria. Terlihat sekali aura yang keluar dari hawa kanuragannya. Jarum runcing tajam berwarna hitam yang siap menusuk bahu kiri itu.
Namun Jaya Satria dapat menahan serangan itu dengan menangkisnya, menggunakan lengan kirinya. Jarum-jarum tajam itu seketika hancur, seperti debu yang melebur di udara oleh perisai tebal, yang tercipta dari jurus pembalik itu. Sehingga aura hawa murni mereka beradu kuat. Membuat angin melawan angin, menciptakan hembusan angin yang dahsyat.
"Kurang ajar!." Umpatnya penuh amarah. "Jurusku memang berhasil dipatahkannya dengan jurus pembalik!." Hatinya semakin panas. "Benar-benar kurang ajar!." Umpat Ki Dharma Seta mengutuk Jaya Satria, ia tidak terima jika ada pendekar yang mampu mematahkan jurusnya?.
...***...
Ratu Dewi Anindyaswari hendak menuju istana Selatan, saat tidak sengaja bertemu dengan Ratu Gendhis Cendrawati, dan Ratu Ardningrum Bintari.
"Lihatlah rayi?." Ucapnya dengan keras. "Dia semakin sombong setelah anaknya menjadi Raja."
"Bagaimana mungkin dia tidak sombong yunda?." Responnya. "Anaknya telah berhasil menyingkirkan kanda Prabu, ketika kanda Prabu dalam keadaan sekarat."
Ratu Dewi Anindyaswari hanya diam sambil berusaha menekan semua perasaan sesak di dadanya, Ratu Dewi Anindyaswari mencoba mengabaikan ucapan itu.
"Heh!." Ia mendengus kesal. "Tidak ada gunanya kau berpura-pura tegar dewi anindyaswari!." Bentaknya. "Jika kau ingin marah? Katakan saja!."
"Ya, tidak usah kau tahan." Sambungnya. "Aku yakin kau sebenarnya ingin menyingkirkan kami semua!." Dengan perasaan membuncah ia berkata seperti itu. "Katakan!." Teriaknya. "Setelah anakmu membunuh kanda Prabu?!." Teriaknya. "Kau juga ingin membunuh kami semua!." Lanjutnya. "Menyingkirkan kami dari istana ini!."
"Hufh!." Dengan sekuat tenaga Ratu Dewi Anindyaswari menarik nafasnya, menahan semua gejolak hatinya ketika mendengarkan ucapan itu.
"Jika kalian memiliki banyak waktu?." Hatinya menekan segala gejolak amarahnya. "Sebaiknya kalian merenungkan diri." Ratu Dewi Anindyaswari mencoba menahan dirinya. "Jika aku mengatakan usir?." Senyumannya sangat ramah. "Atau menggantung kalian sampai mati, pada putraku nanda cakara casugraha?." Lanjutnya. "Maka dengan senang hati, ia akan segera melakukannya hari ini juga." Ancamnya, membuat keduanya terkejut tak percaya.
Deg!.
Ratu Ardiningrum Bintari dan Ratu Gendhis Cendrawati terkejut dengan ancaman itu.
"Segera pergi dari sini!." Tegasnya. "Karena aku tidak ingin berurusan dengan kalian!."
Setelah berkata seperti itu?. Ratu Dewi Anindyaswari lah yang pergi meninggalkan mereka.
Ratu Gendhis Cendrawati dan Ratu Ardningrum Bintari tercengang mendapatkan ancaman seperti itu?.
...***...
Kembali ingatan Syekh Asmawan Mulia.
"Tubuh saya telah dinodai oleh kegelapan, tidak akan selamat dengan obat apapun."
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Respon Syekh Asmawan Mulia. "Apakah karena alasan itu? Gusti Prabu ingin kami membuatkan mustika naga merah delima itu?."
"Ya, nanda cakara casugraha harus menjadi raja." Jawab Prabu Kawiswara Arya Ragnala. "Karena ia telah terpilih sejak ia lahir."
"Tapi bagaimana dengan Gusti Prabu?." Hatinya sangat cemas. "Tentunya Gusti Prabu tidak akan menyerah begitu saja, ketika berhadapan dengan raja kegelapan." Syekh Asmawan Mulia semakin cemas.
"Untuk masalah itu?." Respon sang Prabu. "Saya telah menyiapkan segalanya." Lanjut sang Prabu. "Saya telah mempelajari jurus baru dari eyang Prabu."
"Jurus baru?."
Prabu Kawiswara Arya Ragnala mengeluarkan pedang panggilan jiwa, pedang sukma naga pembelah bumi.
"Bukankah? Pedang itu adalah pedang yang merupakan simbol sebagai seorang Raja?."
"Ya, adi Syekh benar." Prabu Kawiswara Arya Ragnala memperlihatkan pamor itu. "Saya juga sangat yakin, jika Syekh telah melihat pedang ini, melalui nanda cakara casugraha."
"Ya, hamba pernah melihatnya." Jawabnya. "Ketika nanda cakara casugraha berhadapan dengan musuh yang sangat kuat."
"Pedang ini merupakan simbol tertinggi." Ucap Prabu Kawiswara Arya Ragnala. "Yang dimiliki oleh keturunan sah! Eyang Prabu bahuwirya jayantaka byakta." Prabu Kawiswara Arya Ragnala sangat ingat dengan silsilah keluarga Bahuwirya. "Jika ia telah berhasil menggunakan pedang ini? Maka sudah dipastikan ia akan menjadi Raja generasi berikutnya."
"Tapi? Bukankah Gusti Prabu mengatakan?." Ucapnya dengan aneh. "Jika nanda cakara casugraha? Tidak bisa menjadi Raja?." Hatinya masih ingat dengan ucapan itu. "Karena kekuatan kutukan yang ia miliki?."
"Karena itulah adi Syekh." Prabu Kawiswara Arya Ragnala tersenyum ramah. "Saya meminta bantuan pada adi Syekh." Lanjut sang Prabu lagi. "Agar menggunakan kekuatan adi Syekh, untuk membuat batu mustika naga merah delima itu."
Syekh Asmawan Mulia memikirkan kembali ucapan itu.
Belum ada tanggapan dari Syekh Asmawan Mulia dan Aki Jarah Standan.
"Eyang Prabu mengatakan." Raut wajah sang Prabu terlihat sedih. "Setelah membuat mustika naga merah delima itu?." Matanya menatap keduanya. "Kekuatan kalian akan terkunci untuk sementara waktu." Prabu Kawiswara Arya Ragnala tampak sedih. "Karena itulah alasan, kenapa?." Ungkap sang Prabu. " Saya tidak bisa membawa kalian ikut bersama saya."
***
Kembali ke masa ini.
"Lantas? Apa yang akan kakang Syekh lakukan?."
"Aku hanya bisa melihat situasi saja." Jawabnya. "Jika diperlukan? Pada saatnya aku akan menemui nanda cakara casugraha."
"Semoga keadaan baik-baik saja."
"Kita hanya bisa berdoa saja."
Tentu saja mereka berharap, semuanya akan baik-baik saja.
...***...
Pertarungan Jaya Satria.
"Tidak usah banyak berpikir paman." Ucapnya dengan nada mengejek. "Sebentar lagi kau juga akan ditangkap!." Tegasnya. "Kau harus bertanggungjawab! Atas apa yang kau lakukan selama ini!."
Jaya Satria mendelik tajam ke arah Ki Dharma Seta. Jaya Satria akhirnya ia menyadari jika orang itu adalah orang yang pernah membuat kerusuhan juga di masa itu.
Ki Dharma Seta terkejut mendengarkan ucapan Jaya Satria, ia berusaha menyerang lagi Jaya Satria dengan jurus lain. Dari tangan kanannya, ada aura kilat petir yang hampir saja menyambar wajah Jaya Satria.
"Akan aku bunuh kau!."
Akan tetapi Jaya Satria berhasil menghindarinya. Meskipun ia sempat terkejut karena serangan cepat dari Ki Dharma Seta. Jaya Satria tidak tinggal diam, ia hantam dada Ki Dharma Seta dengan telapak tangannya yang telah ia salurkan tenaga dalamnya. Ki Dharma Seta terlempar ke belakang, namun ia masih bisa mengimbangi tubuhnya, hingga ia tidak jatuh, ia masih bisa menahan tubuhnya, walaupun dadanya terasa sesak akibat pukulan Jaya Satria.
"Aku ingat sekarang." Ucap jaya Satria melotot ke arah Ki Dharma Seta, seketika aura kemarahannya muncul menguar dari tubuhnya. "Kau!-." Ketika Jaya Satria hendak meneruskan ucapannya, tiba-tiba ia mendapatkan serangan yang lumayan kuat menghantam tubuhnya, hingga ia terlempar ke belakang. Tubuh Jaya Satria menghantam pohon yang ada di belakangnya, hingga Jaya Satria merintih kesakitan.
Deg!.
"Uhuk!."
Lagi-lagi disaat yang bersamaan, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasakan sakit di bagian tubuhnya.
...***...
Istana kerajaan Suka Damai.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah, apa yang sedang terjadi pada jaya satria?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana meringis kesakitan. "Tidak salah lagi, pasti ada sesuatu yang terjadi pada jaya satria." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Jika tidak? Maka tidak mungkin tubuhku terasa sakit."
Tapi setidaknya sang Prabu saat ini berada di ruang pribadinya, jadi tidak ada yang tau bahwa ia sedang kesakitan saat ini. Tadi sempat pamitan pada ibundanya, dengan alasan ada sesuatu yang akan segera kerjakan di ruang pribadi Raja. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba mengatur hawa murninya, agar tubuhnya tidak terlalu terasa sakit. Dalam hatinya juga lisannya, sang Prabu membacakan kalimat-kalimat takbir, tahmid, tahlil, juga mencoba lebih fokus.
...***...
Kembali ke Jaya Satria.
Ternyata Jaya Satria diserang oleh kelompok sengkar iblis. Ia di serang oleh orang-orang yang kemarin berhadapan dengannya. Jaya Satria mencoba untuk berdiri tegap, meski nafasnya sedikit sesak karena serangan tadi.
"Apakah aki baik-baik saja?."
Narumi Putih terlihat mencemaskan ketuanya yang terlihat kewalahan menghadapi orang misterius itu.
"Ya, aku baik-baik saja." Ki Dharma Seta tidak menyangka, jika anak buahnya datang membantunya.
Sementara itu, Jaya Satria mendekati mereka, aura kemarahannya terlihat jelas.
"Bukan hanya padaku saja, kalian sampah tidak berguna!." Umpatnya kasar. "Juga berbuat curang Prabu kawiswara arya ragnala." Jaya Satria mengingat saat ia bersama Gusti prabu Kawiswara Arya Ragnala menghadapi para perusuh yang membuat negeri ini kacau.
Kelompok sengkar iblis ikutan membuat kerusuhan dengan menyerang sang prabu dengan cara yang curang.
Jaya Satria tidak menyangka jika mereka akan berbuat kerusuhan lagi, di wilayah kerajaan ini, dan ia tidak akan membiarkan itu terjadi.
"Aku telah bersumpah!." Tegasnya. "Pada Prabu Kawiswara Arya Ragnala!." Hatinya terasa panas. "Bahwa aku akan membunuh semua penjahat busuk! Yang berkeliaran di negeri ini." Suara Jaya Satria menggelegar seperti suara petir yang sedang menyambar, membuat mereka semua terkejut.
"Jadi kau adalah? Cecunguknya Prabu kawiswara arya ragnala yang telah tewas itu?." Ki Dharma Seta tidak percaya, jika anak muda itu adalah bawahannya mendiang Prabu Kawiswara Arya Ragnala?. "Pantas saja dia memiliki ilmu kanuragan yang cukup tinggi." Lanjutnya. "Sebab kabar yang aku dengar?!." Hatinya sangat heran. "Tidak mudah menjadi bawahan sang prabu, jika tidak memiliki ilmu kanuragan yang mempuni."
Ki Dharma Seta mulai waspada terhadap Jaya Satria. Ia tidak menyangka, jika ia berhadapan dengan bawahannya prabu Kawiswara Arya Ragnala yang terkenal kekuatannya.
"Jika memang dia bawahannya prabu kawiswara arya ragnala?." Ucapnya heran. "Itu artinya mayang sari berada di istana kerajaan suka damai?." Ia mencoba memikirkan ke arah sana. "Apakah ia ditahan oleh mereka?."
"Betul ki." Sambungnya. "Kita harus ke istana kerajaan suka damai." Lanjutnya. "Untuk membebaskan mayang sari." Raksa Bumi juga sependapat dengan temannya.
Mereka harus segera membebaskan Mayang Sari sebelum mereka menjatuhi hukum pada Mayang Sari.
"Kawan kalian yang aku tangkap itu?." Responnya. "Tidak berada di istana kerajaan suka damai." Ucapnya seakan mengerti dengan maksud mereka. "Aku telah mengurungnya di hutan taring belati raga." Lanjutnya. "Percuma saja kalian ke istana kerajaan suka damai."
Jaya Satria mengatakan dimana ia menyembunyikan teman mereka, dan mereka tidak menyangka sejauh itu teman mereka disembunyikan?.
"Kegh! Tubuhku lumayan sakit." Dalam hatinya sedikit jengkel.
"Bedebah!." Umpatnya penuh amarah. "Pantas saja aku tidak bisa menemukan keberadaan mayang sari!." Hatinya benar-benar panas. "Karena hutan taring belati raga adalah, hutan yang dapat menyembunyikan hawa keberadaan seseorang! Jika masuk ke sana." Ki Dharma Seta sangat marah, ia merasa dipermainkan oleh pemuda itu.
"Kau saja yang bodoh." Dalam hati Jaya Satria sangat jengkel.
"Heh!." Ia mendengus kesal. "Aku terlalu tinggi menilai kelicikan mu!."
"Heh!." Responnya. "Kau saja yang bodoh!." Jaya Satria mendengus kesal. "Katanya pintar?." Ejeknya. "Begitu saja kau tidak mengetahuinya."
"Kalau begitu?." Balasnya. "Akan aku paksa kau menyerahkan anak buahku!." Tegasnya. "Dan mengeluarkannya dari sana."
Ki Dharma Seta sangat marah, memang hutan itu adalah hutan istimewa.
Hutan yang dapat menutupi keberadaan seseorang, namun tidak mudah masuk ke hutan itu jika tidak memiliki ilmu Kanuragan yang mempuni.
"Lakukan kalau kau bisa."
Jaya Satria yang dalam keadaan marah, malah menantang mereka semua, dan pertarungan terjadi lagi antara Jaya Satria dengan kelompok sengkar iblis.
...***...
Di dalam istana Selatan.
Ratu Dewi Anindyaswari gelisah, masih memikirkan keadaan putranya, ingin melihat keadaan putranya. Namun prajurit mengatakan, jika sang Prabu sedang tidak ingin diganggu, jadi harap mengerti.
"Tapi aku ibundanya." Dalam hatinya yang sedang bergejolak. "Aku sangat mengkhawatirkan keadaan putraku nanda cakara casugraha."
Ratu Dewi Anindyaswari menjelaskan kepada mereka para prajurit jaga, bahwa ia hanya melihat kondisi putranya. Apa yang terjadi pada putra tadi setelah minum bersama?. Putranya sedang kesakitan, hatinya sangat gelisah.
"Mohon ampun Gusti Ratu." Mereka memberi hormat. "Tapi kami diperintahkan oleh prabu Asmalaraya Arya Ardhana, agar tidak memperbolehkan siapa saja." Lanjutnya. "Yang mengganggu prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang sedang bersemedi."
Ucap salah satu prajurit yang ditugaskan oleh prabu Asmalaraya Arya Ardhana, untuk berjaga di depan Raung pribadinya.
"Maafkan kami Gusti Ratu." Ia juga memberi hormat. "Kami hanya menjalankan perintah dari Gusti Prabu."
"Kami takut, Gusti Prabu akan murka pada kami nantinya."
"Sekali lagi, maafkan kami Gusti Ratu."
Prajurit merasa berat hati, namun itulah yang dikatakan oleh sang Prabu, bahwa ia tidak mau diganggu siapapun.
"Oh? Putraku nanda cakara casugraha?." Ratu Dewi Anindyaswari semakin cemas. "Semoga nanda prabu baik-baik saja nak." Ratu Dewi Anindyaswari merasa khawatir dengan kondisi putranya, ia mencemaskan putranya yang tadinya terlihat kesakitan. "Ibunda akan membantu nanda, jika nanda mengalami kesulitan." Dalam hati Ratu Dewi Anindyaswari semakin cemas memikirkan keselamatan anaknnya.
Sementara itu di dalam ruangan Pribadi Raja, ruangan yang berada di Istana Utama.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba untuk mengendalikan dirinya agar tidak terbawa amarah yang dirasakan.
"Ya Allah, apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa amarah ini kembali dirasakan?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana hampir tidak dapat menahan diri. "Apa yang terjadi pada jaya satria? Hamba mohon lindungilah ia ya Allah." Dalam hati sang Prabu memohon keselamatan Jaya Satria yang sedang bertarung?. "Jangan sampai jaya satria lepas kendali, atas amarah yang ia rasakan saat ini." Dalam hati sang Prabu semakin cemas.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Apakah mereka akan baik-baik saja?. Simak terus kisahnya.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 372 Episodes
Comments
Anonymous
tambahkan kekuatannya Om. Prabu
2024-09-03
0
iwak ngasin
alur ceritana,blum tersambung,,,🤔🤔🤔
2022-01-12
1
Asep Dki
tetap semangat thor...👍👍👍👍👍
2021-12-14
1