PERTARUNGAN JAYA SATRIA

...***...

Pertarungannya keduanya sangat sengit, tidak ada yang mau mengalah satu sama lain. Keduanya menggunakan kekuatan tenaga dalam mereka untuk saling menjatuhkan, tentunya menjadi pemenang yang terkuat. Dalam pertarungan itu mereka terlihat sangat buas, seperti hewan yang sedang merebut wilayah kekuasaan.

"Kau tidak usah banyak bicara!." Ki Dharma Seta sangat marah. Kemarahannya karena tidak menyukai apa yang dikatakan oleh orang bertopeng itu. Berani sekali orang misterius itu menasehatinya?. "Kau pikir kau siapa hah?." Amarahnya benar-benar meledak. "Kembalikan saja anak buahku! Atau akan aku bunuh kau?!."

"Hidup dan matiku, hanya karena Allah SWT." Balasnya dengan senyuman ramah. "Hidupku sekarang akan aku gunakan, untuk menghentikan kejahatan yang telah kalian lakukan." Jaya Satria masih bersikap tenang, ia menghela nafasnya. "Ternyata menghadapi orang yang sedang dirasuki oleh kemarahan tidaklah mudah." Dalam hatinya waspada.

"Kau benar-benar ingin mati!."

Ki Dharma Seta sudah tidak tahan lagi, ia segera menyerang Jaya Satria.

Tentunya Jaya Satria tidak mau diserang begitu saja, ia menahan pukulan yang datang padanya.

"Sha! Sha! Sha!."

Ki Dharma Seta dengan kuat, menyalurkan tenaga dalamnya di tangannya. Mencoba memukul tubuh Jaya Satria, akan tetapi ia masih bisa menghindarinya, bahkan menahan pukulan itu dengan tenaga dalam pula.

"Orang ini bernafsu sekali."

Dalam hati Jaya Satria, ia terus menghindari dan bahkan sesekali memberikan serangan yang cukup membahayakan musuhnya.

"Ternyata benar, anak ini tidak bisa di remehkan." Dalam hati Ki Dharma Seta, ia sedikit terkesan dengan ilmu Kanuragan yang dimiliki oleh pendekar misterius ini.

"Hyah!."

Keduanya beradu tendangan, tetapi masih bisa menahannya.

Kekuatan mereka benar-benar seimbang. Sehingga belum ada yang mau mengalah diantara keduanya.

"Kalau begitu, rasakan jurusku!." Setelah berkata seperti itu, Ki Dharma Seta mundur beberapa langkah ke belakang, ia membuat gerakan jurusnya.

Jaya Satria memperhatikannya, jurus orang itu sepertinya cukup berbahaya. Jurus yang dimiliki oleh orang-orang yang berjalan di aliran hitam, cukup berbahaya, jadi ia harus waspada.

"Ya Allah, berikan hamba kekuatan untuk menghadapi jurus orang itu." Dalam hatinya. "Hamba hanya berlindung kepada-MU." Dalam hati Jaya Satria berdoa agar diberi keselamatan dan terhindar dari marabahaya ketika bertarung.

...***...

Sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala yang tidak bisa tenang.

"Sampurasun."

"Rampes."

"Apa yang membuat nanda terlihat gelisah?." Senyumannya begitu lembut. "Apa yang sedang kau rasakan? Nanda Prabu kawiswara arya ragnala?."

"Mohon ampun eyang Prabu, maafkan nanda." Sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala memberi hormat. "Bukan nanda bermaksud, untuk ikut campur dalam urusan duniawi." Lanjut Sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala. "Terhadap nanda Prabu asmalaraya arya ardhana." Hatinya sangat gelisah. "Namun nanda memang tidak bisa tenang, eyang Prabu."

"Kali ini saja, aku izinkan engkau ikut campur dalam masalah." Respon Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta. "Yang akan dihadapi oleh putramu, nanda Prabu asmalaraya arya ardhana."

"Benarkah itu eyang Prabu?."

"Ya, hanya kali ini saja." Jawabnya. "Tidak ada kesempatan kedua nantinya."

"Terima kasih eyang Prabu." Sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala memberi hormat. "Nanda akan menggunakan kesempatan ini dengan baik."

"Kalau begitu pergilah, jangan buang-buang waktu." Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta tersenyum lembut. "Lakukan apa yang menurut nanda." Lanjutnya. "Itu adalah hal baik, untuk membantu nanda Prabu asmalaraya arya ardhana."

"Ya, tentu saja eyang Prabu." Sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala telah memikirkan hal penting apa, yang akan dilakukan untuk membantu putranya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.

...***...

Disatu sisi, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa gelisah. Tiba-tiba saja teringat dengan Jaya Satria, dan entah kenapa sang Prabu merasakan kedekatan dengannya.

"Ya Allah, penglihatan apa yang sebenarnya hamba lihat?." Hati sang Prabu sangat gelisah. "Mengapa hamba seperti seseorang yang menyerang hamba?." Sang Prabu merasa tidak nyaman. "Sepertinya jaya satria sedang bertarung dengan seseorang?."

Dalam hati sang Prabu sangat bergemuruh gelisah. Sang Prabu seperti melihat kilasan bayangan, namun tidak tahu itu apa. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana berdoa kepada Allah, agar terhindar dari perbuatan keburukan.

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِىْ، وَمِنْ شَرِّ بَصَرِىْ، وَمِنْ شَرِّلِسَانِيْ، وَمِنْ شَرِّقَلْبِيْ، وَمِنْ شَرِّ قَلْبِيْ، وَمِنْ شَرِّمَنِيِّي

"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Mu dari keburukan pendengaranku, kejahatan penglihatanku, keburukan lidahku, keburukan hatiku dan keburukan air maniku." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana hanya berharap, semuanya akan baik-baik saja.

...***...

Di kaki Bukit Menawan Batin.

Seorang laki-laki tua sedang merenung panjang di sebuah pondok kecil, suasana hatinya saat itu bercampur aduk.

"Nanda cakara casugraha telah diangkat menjadi raja agung." Suara hatinya berkata demikian.

"Sudah sepantasnya ia mendapatkan tahta itu." Ia tersenyum kecil. "Bukankah itu adalah takdir yang harus ia jalani?." Suaranya yang lainnya juga berpendapat.

"Ya, nanda cakara casugraha, memang telah ditakdirkan untuk menjadi Raja." Ucapnya dengan yakin. "Hanya saja jalan hang ia tempuh tidaklah mudah."

"Jika menjadi raja itu mudah? Maka semua orang bisa melakukannya."

"Ya, kau benar."

Kembali Aki Jarah Setandan tampak merenung panjang.

"Namun, takdir keturunan sah seorang Raja." Lanjutnya. "Dari mendiang Gusti Prabu bahuwirya jayantaka byakta cukup unik."

Entah kenapa Aki Jarah Setandan malah terkekeh kecil, jika ingat apa yang telah dilakukan oleh Raden Cakara Casugraha saat itu.

Kembali ke masa itu.

"Hei!." Ucapnya pada seseorang. "Jika kau ingin singgah?." Lanjutnya. "Singgah saja, tapi jangan berpenampilan seram seperti itu."

Sosok menyeramkan itu melihat ke arah Raden Cakara Casugraha yang tampak kesal padanya.

"Kau ini ya?." Ia menghela nafas dengan lelahnya. "Memangnya apa yang kau inginkan? Sehingga kau sampai ke sini?."

Aki Jarah Setandan yang berada di dalam pondok merasa heran mendengarkan suara Raden Cakara Casugraha.

"Ada apa nanda?." Keningnya mengkerut aneh. "Apakah nanda sedang bermain sandiwara?."

Aki Jarah Setandan merasa heran, matanya tidak dapat menangkap siapapun di sana kecuali Raden Cakara Casugraha yang memang sedang kesal.

"Nanda tidak bermain sandiwara guru." Decaknya dengan kesal. "Tapi hantu buruk rupa ini memaksa ingin bertemu dengan guru." Lanjutnya sambil menunjuk ke arah sosok seram itu. "Katanya dia ingin menyampaikan, bahwa anak buah pendekar tapak harimau hutan kegelapan akan menyerang guru."

Deg!.

Tentu saja ucapan itu membuat Aki Jarah Setandan terkejut. Hatinya terasa sakit jika ingat peristiwa mengerikan itu di masa lalu.

"Katakan padanya, aku telah membunuh mereka semua." Hatinya bergetar takut. "Dan kau? Pergilah dengan damai."

Raden Cakara Casugraha menatap sosok itu, terlihat sangat jelas bagaimana pemuda itu bersedih mendengarkan ucapan Aki Jarah Setandan.

"Kau tenang saja." Ucap Raden Cakara Casugraha. "Masalah dunia yang membebani kau telah beres." kembalilah dengan damai." Raden Cakara Casugraha tersenyum lembut.

Saat itu juga perlahan-lahan sosok pemuda yang menyeramkan itu berubah menjadi pemuda yang gagah perkasa. Bahkan ia menunjukkan wujudnya di hadapan Aki Jarah Setandan.

"Terima kasih guru." Ucapnya sambil memberi hormat. "Maafkan, jika saya tidak mendengarkan ucapan guru saat itu." Ada bentuk penyesalan yang ia sampaikan.

"Pergilah tohpati." Ucapnya dengan perasaan sedih. "Kau adalah murid kesayangan ku." Hatinya terasa sakit. "Aku telah membalaskan semua, perasaan sakit yang kau rasakan."

"Terima kasih guru, selamat tinggal guru." Setelah berkata seperti itu ia pergi menghilang.

Kembali ke masa ini.

...***...

Kembali ke pertarungan.

Sedangkan Ki Dharma Seta sudah siap dengan jurusnya, jurus jarum angin menggempar hutan kesunyian. Memang terdengar jurus biasa, namun jurus itu lumayan kuat. Karena pengaruh jurus itu, angin disekitar mereka tiba-tiba berhembus kencang.

Dedaunan beterbangan, bahkan ada yang tampak terbelah dua atau hancur. Sungguh jurus yang tidak bisa diremehkan.

Bahkan dengan kekuatan tekanan angin sekitar, Ki Dharma Seta dapat memanfaatkan angin sebagai senjatanya.

"Ya Allah, sesungguhnya tidak ada kekuatan yang maha dahsyat." Dalam hati Jaya Satria sangat cemas. "Selain kekuatan yang ada pada-Mu, karena itu lindungilah hamba dari kejahatan makhluk-Mu." Dalam hatinya kembali berdoa. "Hanya kepada Engkaulah hamba meminta bantuan." Jaya Satria tidak henti-hentinya berdoa dalam hati, ia selalu mengingat Allah sebagai tempat ia meminta pertolongan.

"Ada apa? Hah?!." Ia menyeringai lebar. "Kenapa kau diam saja?." Senyumannya mengembang begitu saja. "Apakah kau takut dengan jurusku?!."

Ki Dharma Seta terlihat berbangga hati, ia merasa diatas angin sekarang, ia terlihat puas karena Jaya Satria tidak berkutik sama sekali.

"Aku diam bukan berarti aku takut paman." Balas Jaya Satria.

Ia sedang menahan hawa angin ganas, yang berusaha menyerang tubuhnya. Dengan menyalurkan tenaga dalamnya, angin disekitarnya sedang dikendalikan seperti senjata tajam yang merobek tubuhnya.

Jika dilihat sekilas tadi, lengan baju kanan Jaya Satria seperti disabet oleh senjata tajam. Sehingga ada bekas robekan di sana, juga meninggalkan luka di lengan kanan Jaya Satria.

...***...

Di saat bersamaan.

"Kegh!."

Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merintih sakit. Sehing gelas yang dipegang, tiba-tiba jatuh dari tangannya, karena merasakan sakit di lengan kanannya.

"Nanda Prabu?."

Ratu Dewi Anindyaswari terkejut, melihat putranya yang tiba-tiba mendesis sakit. Ratu Dewi Anindyaswari segera menghampiri putranya, ada perasaan cemas di hatinya.

"Nanda baik-baik saja ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana meyakinkan ibundanya. Meskipun perasaannya mengatakan, memang ada sesuatu yang terjadi pada Jaya Satria.

"Katakan pada ibunda, apa yang nanda rasakan nak?." Perasaan cemas itu sangat besar. "Mungkin nanda prabu lelah setelah sidang tadi?." Hatinya benar-benar tidak nyaman. "Apakah nanda sedang sakit?."

"Nanda baik-baik saja." Balasnya. "Ibunda tidak perlu khawatir, sungguh nanda baik-baik saja."

"Benarkah?."

"Benar ibunda."

Prabu Asmalaraya Arya Ardhana hanya berusaha meyakinkan ibundanya.

"Ya Allah, apa yang sebenarnya terjadi pada jaya Satria?." Dalam hati sang Prabu sangat cemas. "Dengan siapa ia bertarung saat ini? Lindungilah ia di mana pun ia berada ya Allah." Dalam hati prabu Asmalaraya Arya Ardhana berdoa kepada Allah, sangat mencemaskan keadaan Jaya Satria. Bisa jadi sakit yang dirasakan itu karena Jaya Satria dalam bahaya?.

...***...

Tempat Syekh Asmawan Mulia.

"Terima kasih nini." Syekh Asmawan Mulia tersenyum lembut, ketika istinya Nyai Ayudiyah Purwati menyajikan beberapa lauk pauk untuk dimakan bersama.

"Sama-sama kakang." Nyai Ayudiyah Purwati duduk di depan suaminya. "Apakah kakang Syekh?." Ia tersenyum kecil. "Telah mendapatkan kabar mengenai nanda cakara casugraha?." Ucapnya sambil mengambil beberapa lauk, setelah itu ia serahkan pada Syekh Asmawan Mulia.

"Hanya beberapa kabar yang aku dapatkan." Jawabnya. "Termasuk pengangkatan nanda cakara casugraha, sebagai Raja baru di kerajaan suka damai." Lanjutnya sambil mengambil piring itu dari tangan istrinya.

"Jadi benar?." Responnya. "Kabar yang beredar? Bahwa Gusti Prabu kawiswara arya ragnala telah tewas?."

Syekh Asmawan Mulia belum menjawabnya, sedang mengunyah makanan di mulutnya, sambil memikirkan kembali apa yang terjadi saat itu.

Kembali ke masa itu.

"Mohon ampun Gusti Prabu." Syekh Asmawan Mulia memberi hormat.

"Ada apa adi Syekh?." Balasnya dengan senyuman ramah. "Apakah ada sesuatu yang hendak kau sampaikan?."

"Maaf, jika hamba lancang, bagaimana?." Syekh Asmawan Mulia memberi hormat. "Jika hamba serta kakang jarah setandan? Ikut menemani Gusti Prabu memerangi raja kegelapan?." Syekh Asmawan Mulia mengeluarkan ungkapan hatinya. "Jangan terlalu membahayakan nyawa Gusti Prabu, kami siap membantu Gusti Prabu."

Prabu Kawiswara Arya Ragnala tersenyum kecil.

"Terima kasih atas perhatiannya adi Syekh." Respon sang Prabu. "Namun pertarungan ini hanya saya yang bisa melakukannya." Prabu Kawiswara Arya Ragnala tampak meyakinkan. "Aku tidak ingin kalian ikut terbawa arus kegelapan."

"Apakah Gusti Prabu tidak percaya? Dengan kemampuan kami?."

"Bukan begitu maksudnya adi Syekh." Balas Prabu Kawiswara Arya Ragnala. "Ada tugas penting yang harus kalian lakukan."

"Apa maksud Gusti Prabu?."

"Dengan membuat batu naga merah delima itu?." Jawab sang Prabu. "Kalian telah membantu saya membantu masa depan kerajaan."

"Tapi Gusti?."

"Sebenarnya saya telah bertarung dengannya sekali." Ucap Prabu Kawiswara Arya Ragnala. "Dan hawa kegelapan itu telah menggerogoti tubuh saya." Prabu Kawiswara Arya Ragnala menyentuh dadanya. "Dalam pertemuan terakhir, saya akan mempertaruhkan semuanya Syekh."

"Apa maksud Gusti Prabu?." Syekh Asmawan Mulia tidak mengerti sama sekali.

...**...

kembali ke pertarungan.

"Aku diam, karena sedang berpikir paman." Jaya Satria tersenyum kecil, terlihat dibibirnya.

Walaupun sebagain wajahnya tertutup oleh topeng. Saat ia merasakan dirinya bisa menahan tekanan angin itu, agar tidak melukai tubuhnya. Jaya Satria mulai membuat gerakan jurus yang membuat Ki Dharma Seta cukup terkejut.

"Jurus pembalik, menyapu angin dalam kesunyian?."

Deg!.

Ki Dharma Seta terkejut, ia tidak menyangka pemuda itu memiliki jurus pembalik dari jurusnya?. Jurus itu bukan hanya sebagai pertahanan dari serangan angin berupa jarum, melainkan jurus yang dapat melebur jurus itu sendiri.

"Bedebah!." Umpatnya penuh amarah. "Bagaimana mungkin bisa? Kau memiliki jurus itu?." Amarahnya meledak. "Siapa kau sebenarnya?."

"Kau tidak perlu tau siapa aku!." Balasnya. "Tapi yang pastinya? Aku dulu juga termasuk orang jahat!." Lanjutnya. "Tapi sudah bertaubat." Jawab Jaya Satria tersenyum puas, ia berhasil memjokkan Ki Dharma Seta dengan jurus yang ia keluarkan.

"Heh!." Ia mendengus kesal. "Kau tidak usah berbicara yang tidak-tidak padaku!."

"Aku juga pendekar yang memanfaatkan angin." Ucapnya dengan sangat yakin. "Untuk dijadikan senjata andalanku, bukan hanya kau saja."

"Banyak bicara kau!."

Setelah itu, mereka kembali bertarung dengan jurus masing-masing.

Jika Ki Dharma Seta jurus penghancur raga, dengan memanfaatkan angin menjadi jarum tajam seperti pedang untuk senjata. Maka Jaya Satria menggunakan jurus pembaliknya, jurus pelebur angin menggemparkan hutan kesunyian.

Ki Dharma Seta mencoba mengalirkan tenaga dalamnya ke tangan kirinya, ia memukul bahu kiri Jaya Satria. Terlihat sekali aura yang keluar dari hawa kanuragannya. Jarum runcing tajam berwarna hitam yang siap menusuk bahu kiri itu.

Namun Jaya Satria dapat menahan serangan itu dengan menangkisnya, menggunakan lengan kirinya. Jarum-jarum tajam itu seketika hancur, seperti debu yang melebur di udara oleh perisai tebal, yang tercipta dari jurus pembalik itu. Sehingga aura hawa murni mereka beradu kuat. Membuat angin melawan angin, menciptakan hembusan angin yang dahsyat.

"Kurang ajar!." Umpatnya penuh amarah. "Jurusku memang berhasil dipatahkannya dengan jurus pembalik!." Hatinya semakin panas. "Benar-benar kurang ajar!." Umpat Ki Dharma Seta mengutuk Jaya Satria, ia tidak terima jika ada pendekar yang mampu mematahkan jurusnya?.

...***...

Ratu Dewi Anindyaswari hendak menuju istana Selatan, saat tidak sengaja bertemu dengan Ratu Gendhis Cendrawati, dan Ratu Ardningrum Bintari.

"Lihatlah rayi?." Ucapnya dengan keras. "Dia semakin sombong setelah anaknya menjadi Raja."

"Bagaimana mungkin dia tidak sombong yunda?." Responnya. "Anaknya telah berhasil menyingkirkan kanda Prabu, ketika kanda Prabu dalam keadaan sekarat."

Ratu Dewi Anindyaswari hanya diam sambil berusaha menekan semua perasaan sesak di dadanya, Ratu Dewi Anindyaswari mencoba mengabaikan ucapan itu.

"Heh!." Ia mendengus kesal. "Tidak ada gunanya kau berpura-pura tegar dewi anindyaswari!." Bentaknya. "Jika kau ingin marah? Katakan saja!."

"Ya, tidak usah kau tahan." Sambungnya. "Aku yakin kau sebenarnya ingin menyingkirkan kami semua!." Dengan perasaan membuncah ia berkata seperti itu. "Katakan!." Teriaknya. "Setelah anakmu membunuh kanda Prabu?!." Teriaknya. "Kau juga ingin membunuh kami semua!." Lanjutnya. "Menyingkirkan kami dari istana ini!."

"Hufh!." Dengan sekuat tenaga Ratu Dewi Anindyaswari menarik nafasnya, menahan semua gejolak hatinya ketika mendengarkan ucapan itu.

"Jika kalian memiliki banyak waktu?." Hatinya menekan segala gejolak amarahnya. "Sebaiknya kalian merenungkan diri." Ratu Dewi Anindyaswari mencoba menahan dirinya. "Jika aku mengatakan usir?." Senyumannya sangat ramah. "Atau menggantung kalian sampai mati, pada putraku nanda cakara casugraha?." Lanjutnya. "Maka dengan senang hati, ia akan segera melakukannya hari ini juga." Ancamnya, membuat keduanya terkejut tak percaya.

Deg!.

Ratu Ardiningrum Bintari dan Ratu Gendhis Cendrawati terkejut dengan ancaman itu.

"Segera pergi dari sini!." Tegasnya. "Karena aku tidak ingin berurusan dengan kalian!."

Setelah berkata seperti itu?. Ratu Dewi Anindyaswari lah yang pergi meninggalkan mereka.

Ratu Gendhis Cendrawati dan Ratu Ardningrum Bintari tercengang mendapatkan ancaman seperti itu?.

...***...

Kembali ingatan Syekh Asmawan Mulia.

"Tubuh saya telah dinodai oleh kegelapan, tidak akan selamat dengan obat apapun."

"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Respon Syekh Asmawan Mulia. "Apakah karena alasan itu? Gusti Prabu ingin kami membuatkan mustika naga merah delima itu?."

"Ya, nanda cakara casugraha harus menjadi raja." Jawab Prabu Kawiswara Arya Ragnala. "Karena ia telah terpilih sejak ia lahir."

"Tapi bagaimana dengan Gusti Prabu?." Hatinya sangat cemas. "Tentunya Gusti Prabu tidak akan menyerah begitu saja, ketika berhadapan dengan raja kegelapan." Syekh Asmawan Mulia semakin cemas.

"Untuk masalah itu?." Respon sang Prabu. "Saya telah menyiapkan segalanya." Lanjut sang Prabu. "Saya telah mempelajari jurus baru dari eyang Prabu."

"Jurus baru?."

Prabu Kawiswara Arya Ragnala mengeluarkan pedang panggilan jiwa, pedang sukma naga pembelah bumi.

"Bukankah? Pedang itu adalah pedang yang merupakan simbol sebagai seorang Raja?."

"Ya, adi Syekh benar." Prabu Kawiswara Arya Ragnala memperlihatkan pamor itu. "Saya juga sangat yakin, jika Syekh telah melihat pedang ini, melalui nanda cakara casugraha."

"Ya, hamba pernah melihatnya." Jawabnya. "Ketika nanda cakara casugraha berhadapan dengan musuh yang sangat kuat."

"Pedang ini merupakan simbol tertinggi." Ucap Prabu Kawiswara Arya Ragnala. "Yang dimiliki oleh keturunan sah! Eyang Prabu bahuwirya jayantaka byakta." Prabu Kawiswara Arya Ragnala sangat ingat dengan silsilah keluarga Bahuwirya. "Jika ia telah berhasil menggunakan pedang ini? Maka sudah dipastikan ia akan menjadi Raja generasi berikutnya."

"Tapi? Bukankah Gusti Prabu mengatakan?." Ucapnya dengan aneh. "Jika nanda cakara casugraha? Tidak bisa menjadi Raja?." Hatinya masih ingat dengan ucapan itu. "Karena kekuatan kutukan yang ia miliki?."

"Karena itulah adi Syekh." Prabu Kawiswara Arya Ragnala tersenyum ramah. "Saya meminta bantuan pada adi Syekh." Lanjut sang Prabu lagi. "Agar menggunakan kekuatan adi Syekh, untuk membuat batu mustika naga merah delima itu."

Syekh Asmawan Mulia memikirkan kembali ucapan itu.

Belum ada tanggapan dari Syekh Asmawan Mulia dan Aki Jarah Standan.

"Eyang Prabu mengatakan." Raut wajah sang Prabu terlihat sedih. "Setelah membuat mustika naga merah delima itu?." Matanya menatap keduanya. "Kekuatan kalian akan terkunci untuk sementara waktu." Prabu Kawiswara Arya Ragnala tampak sedih. "Karena itulah alasan, kenapa?." Ungkap sang Prabu. " Saya tidak bisa membawa kalian ikut bersama saya."

***

Kembali ke masa ini.

"Lantas? Apa yang akan kakang Syekh lakukan?."

"Aku hanya bisa melihat situasi saja." Jawabnya. "Jika diperlukan? Pada saatnya aku akan menemui nanda cakara casugraha."

"Semoga keadaan baik-baik saja."

"Kita hanya bisa berdoa saja."

Tentu saja mereka berharap, semuanya akan baik-baik saja.

...***...

Pertarungan Jaya Satria.

"Tidak usah banyak berpikir paman." Ucapnya dengan nada mengejek. "Sebentar lagi kau juga akan ditangkap!." Tegasnya. "Kau harus bertanggungjawab! Atas apa yang kau lakukan selama ini!."

Jaya Satria mendelik tajam ke arah Ki Dharma Seta. Jaya Satria akhirnya ia menyadari jika orang itu adalah orang yang pernah membuat kerusuhan juga di masa itu.

Ki Dharma Seta terkejut mendengarkan ucapan Jaya Satria, ia berusaha menyerang lagi Jaya Satria dengan jurus lain. Dari tangan kanannya, ada aura kilat petir yang hampir saja menyambar wajah Jaya Satria.

"Akan aku bunuh kau!."

Akan tetapi Jaya Satria berhasil menghindarinya. Meskipun ia sempat terkejut karena serangan cepat dari Ki Dharma Seta. Jaya Satria tidak tinggal diam, ia hantam dada Ki Dharma Seta dengan telapak tangannya yang telah ia salurkan tenaga dalamnya. Ki Dharma Seta terlempar ke belakang, namun ia masih bisa mengimbangi tubuhnya, hingga ia tidak jatuh, ia masih bisa menahan tubuhnya, walaupun dadanya terasa sesak akibat pukulan Jaya Satria.

"Aku ingat sekarang." Ucap jaya Satria melotot ke arah Ki Dharma Seta, seketika aura kemarahannya muncul menguar dari tubuhnya. "Kau!-." Ketika Jaya Satria hendak meneruskan ucapannya, tiba-tiba ia mendapatkan serangan yang lumayan kuat menghantam tubuhnya, hingga ia terlempar ke belakang. Tubuh Jaya Satria menghantam pohon yang ada di belakangnya, hingga Jaya Satria merintih kesakitan.

Deg!.

"Uhuk!."

Lagi-lagi disaat yang bersamaan, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasakan sakit di bagian tubuhnya.

...***...

Istana kerajaan Suka Damai.

"Astaghfirullah hal'azim ya Allah, apa yang sedang terjadi pada jaya satria?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana meringis kesakitan. "Tidak salah lagi, pasti ada sesuatu yang terjadi pada jaya satria." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Jika tidak? Maka tidak mungkin tubuhku terasa sakit."

Tapi setidaknya sang Prabu saat ini berada di ruang pribadinya, jadi tidak ada yang tau bahwa ia sedang kesakitan saat ini. Tadi sempat pamitan pada ibundanya, dengan alasan ada sesuatu yang akan segera kerjakan di ruang pribadi Raja. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba mengatur hawa murninya, agar tubuhnya tidak terlalu terasa sakit. Dalam hatinya juga lisannya, sang Prabu membacakan kalimat-kalimat takbir, tahmid, tahlil, juga mencoba lebih fokus.

...***...

Kembali ke Jaya Satria.

Ternyata Jaya Satria diserang oleh kelompok sengkar iblis. Ia di serang oleh orang-orang yang kemarin berhadapan dengannya. Jaya Satria mencoba untuk berdiri tegap, meski nafasnya sedikit sesak karena serangan tadi.

"Apakah aki baik-baik saja?."

Narumi Putih terlihat mencemaskan ketuanya yang terlihat kewalahan menghadapi orang misterius itu.

"Ya, aku baik-baik saja." Ki Dharma Seta tidak menyangka, jika anak buahnya datang membantunya.

Sementara itu, Jaya Satria mendekati mereka, aura kemarahannya terlihat jelas.

"Bukan hanya padaku saja, kalian sampah tidak berguna!." Umpatnya kasar. "Juga berbuat curang Prabu kawiswara arya ragnala." Jaya Satria mengingat saat ia bersama Gusti prabu Kawiswara Arya Ragnala menghadapi para perusuh yang membuat negeri ini kacau.

Kelompok sengkar iblis ikutan membuat kerusuhan dengan menyerang sang prabu dengan cara yang curang.

Jaya Satria tidak menyangka jika mereka akan berbuat kerusuhan lagi, di wilayah kerajaan ini, dan ia tidak akan membiarkan itu terjadi.

"Aku telah bersumpah!." Tegasnya. "Pada Prabu Kawiswara Arya Ragnala!." Hatinya terasa panas. "Bahwa aku akan membunuh semua penjahat busuk! Yang berkeliaran di negeri ini." Suara Jaya Satria menggelegar seperti suara petir yang sedang menyambar, membuat mereka semua terkejut.

"Jadi kau adalah? Cecunguknya Prabu kawiswara arya ragnala yang telah tewas itu?." Ki Dharma Seta tidak percaya, jika anak muda itu adalah bawahannya mendiang Prabu Kawiswara Arya Ragnala?. "Pantas saja dia memiliki ilmu kanuragan yang cukup tinggi." Lanjutnya. "Sebab kabar yang aku dengar?!." Hatinya sangat heran. "Tidak mudah menjadi bawahan sang prabu, jika tidak memiliki ilmu kanuragan yang mempuni."

Ki Dharma Seta mulai waspada terhadap Jaya Satria. Ia tidak menyangka, jika ia berhadapan dengan bawahannya prabu Kawiswara Arya Ragnala yang terkenal kekuatannya.

"Jika memang dia bawahannya prabu kawiswara arya ragnala?." Ucapnya heran. "Itu artinya mayang sari berada di istana kerajaan suka damai?." Ia mencoba memikirkan ke arah sana. "Apakah ia ditahan oleh mereka?."

"Betul ki." Sambungnya. "Kita harus ke istana kerajaan suka damai." Lanjutnya. "Untuk membebaskan mayang sari." Raksa Bumi juga sependapat dengan temannya.

Mereka harus segera membebaskan Mayang Sari sebelum mereka menjatuhi hukum pada Mayang Sari.

"Kawan kalian yang aku tangkap itu?." Responnya. "Tidak berada di istana kerajaan suka damai." Ucapnya seakan mengerti dengan maksud mereka. "Aku telah mengurungnya di hutan taring belati raga." Lanjutnya. "Percuma saja kalian ke istana kerajaan suka damai."

Jaya Satria mengatakan dimana ia menyembunyikan teman mereka, dan mereka tidak menyangka sejauh itu teman mereka disembunyikan?.

"Kegh! Tubuhku lumayan sakit." Dalam hatinya sedikit jengkel.

"Bedebah!." Umpatnya penuh amarah. "Pantas saja aku tidak bisa menemukan keberadaan mayang sari!." Hatinya benar-benar panas. "Karena hutan taring belati raga adalah, hutan yang dapat menyembunyikan hawa keberadaan seseorang! Jika masuk ke sana." Ki Dharma Seta sangat marah, ia merasa dipermainkan oleh pemuda itu.

"Kau saja yang bodoh." Dalam hati Jaya Satria sangat jengkel.

"Heh!." Ia mendengus kesal. "Aku terlalu tinggi menilai kelicikan mu!."

"Heh!." Responnya. "Kau saja yang bodoh!." Jaya Satria mendengus kesal. "Katanya pintar?." Ejeknya. "Begitu saja kau tidak mengetahuinya."

"Kalau begitu?." Balasnya. "Akan aku paksa kau menyerahkan anak buahku!." Tegasnya. "Dan mengeluarkannya dari sana."

Ki Dharma Seta sangat marah, memang hutan itu adalah hutan istimewa.

Hutan yang dapat menutupi keberadaan seseorang, namun tidak mudah masuk ke hutan itu jika tidak memiliki ilmu Kanuragan yang mempuni.

"Lakukan kalau kau bisa."

Jaya Satria yang dalam keadaan marah, malah menantang mereka semua, dan pertarungan terjadi lagi antara Jaya Satria dengan kelompok sengkar iblis.

...***...

Di dalam istana Selatan.

Ratu Dewi Anindyaswari gelisah, masih memikirkan keadaan putranya, ingin melihat keadaan putranya. Namun prajurit mengatakan, jika sang Prabu sedang tidak ingin diganggu, jadi harap mengerti.

"Tapi aku ibundanya." Dalam hatinya yang sedang bergejolak. "Aku sangat mengkhawatirkan keadaan putraku nanda cakara casugraha."

Ratu Dewi Anindyaswari menjelaskan kepada mereka para prajurit jaga, bahwa ia hanya melihat kondisi putranya. Apa yang terjadi pada putra tadi setelah minum bersama?. Putranya sedang kesakitan, hatinya sangat gelisah.

"Mohon ampun Gusti Ratu." Mereka memberi hormat. "Tapi kami diperintahkan oleh prabu Asmalaraya Arya Ardhana, agar tidak memperbolehkan siapa saja." Lanjutnya. "Yang mengganggu prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang sedang bersemedi."

Ucap salah satu prajurit yang ditugaskan oleh prabu Asmalaraya Arya Ardhana, untuk berjaga di depan Raung pribadinya.

"Maafkan kami Gusti Ratu." Ia juga memberi hormat. "Kami hanya menjalankan perintah dari Gusti Prabu."

"Kami takut, Gusti Prabu akan murka pada kami nantinya."

"Sekali lagi, maafkan kami Gusti Ratu."

Prajurit merasa berat hati, namun itulah yang dikatakan oleh sang Prabu, bahwa ia tidak mau diganggu siapapun.

"Oh? Putraku nanda cakara casugraha?." Ratu Dewi Anindyaswari semakin cemas. "Semoga nanda prabu baik-baik saja nak." Ratu Dewi Anindyaswari merasa khawatir dengan kondisi putranya, ia mencemaskan putranya yang tadinya terlihat kesakitan. "Ibunda akan membantu nanda, jika nanda mengalami kesulitan." Dalam hati Ratu Dewi Anindyaswari semakin cemas memikirkan keselamatan anaknnya.

Sementara itu di dalam ruangan Pribadi Raja, ruangan yang berada di Istana Utama.

Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba untuk mengendalikan dirinya agar tidak terbawa amarah yang dirasakan.

"Ya Allah, apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa amarah ini kembali dirasakan?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana hampir tidak dapat menahan diri. "Apa yang terjadi pada jaya satria? Hamba mohon lindungilah ia ya Allah." Dalam hati sang Prabu memohon keselamatan Jaya Satria yang sedang bertarung?. "Jangan sampai jaya satria lepas kendali, atas amarah yang ia rasakan saat ini." Dalam hati sang Prabu semakin cemas.

Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Apakah mereka akan baik-baik saja?. Simak terus kisahnya.

...***...

Terpopuler

Comments

Anonymous

Anonymous

tambahkan kekuatannya Om. Prabu

2024-09-03

0

iwak ngasin

iwak ngasin

alur ceritana,blum tersambung,,,🤔🤔🤔

2022-01-12

1

Asep Dki

Asep Dki

tetap semangat thor...👍👍👍👍👍

2021-12-14

1

lihat semua
Episodes
1 KEPERGIAN PRABU KAWISWARA ARYA RAGNALA
2 RAJA BARU
3 TERPILIHNYA RAJA BARU
4 PERDEBATAN
5 RACUN
6 SOSOK MISTERIUS
7 TUDUHAN
8 PERTARUNGAN JAYA SATRIA
9 MENYELESAIKAN MASALAH
10 KEPUTUSAN SANG PRABU
11 HUTAN TARING BELATI RAGA
12 PRABU ASMALARAYA ARYA DAN JAYA SATRIA
13 KABAR DUKA
14 KESEMBUHAN SANG PRABU?.
15 KEPULANGAN SANG PRABU
16 KERUSUHAN DI KOTA RAJA
17 SIDANG DI ISTANA
18 RASA PENASARAN
19 SYAIR PEMIKAT
20 PERTARUNGAN SENGIT
21 RENCANA JAHAT
22 KEMARAHAN DAN KASIH SAYANG
23 TULUS DAN KESUNGGUHAN
24 PUTRI ANDHINI ANDITA
25 PENGLIHATANNYA TENTANG RAJA
26 KEJAHATAN GAIB
27 JAMUAN
28 KECURANGAN PERTARUNGAN
29 TAHTA YANG SAH
30 KEPUTUSAN YANG BERAT
31 PERSIAPAN PERANG
32 PERANG DIMULAI
33 SITUASI PERANG
34 YANG BERPERANG
35 KEMARAHAN DAN BENCI
36 KEBENCIAN DAN KASIH SAYANG
37 PRABU ASMALARAYA ARYA ARDHANA
38 PRABU RAHWANA BIMANTARA
39 MEMAAFKAN DAN KEBAIKAN HATI
40 BERSABAR DALAM KESAKITAN
41 KEPULANGAN RATU DEWI ANINDYASWARI
42 KAKEK MISTERIUS
43 KEGELISAHAN DAN KEJADIAN
44 PERASAAN CEMAS
45 KEADAAN SANG PRABU DAN JAYA SATRIA
46 JAYA SATRIA DISERANG
47 KEJADIAN DEMI KEJADIAN
48 KEADAAN JAYA SATRIA
49 KESEMBUHAN DUA INSAN
50 JAYA SATRIA
51 PERSIAPAN
52 PERTARUNGAN DI KERAJAAN KEGELAPAN
53 KEMARAHAN DALAM PERTARUNGAN
54 PRABU ASMALARAYA ARYA ARDHANA DAN JAYA SATRIA
55 DIBALIK ALASAN
56 KASIH SAYANG DAN KERINDUAN
57 KEKUATAN BATIN SEORANG IBU
58 RENCANA DAN INGATAN
59 JANJI DAN KEINGINAN
60 DENDAM MASA LALU
61 KESESATAN YANG NYATA
62 KESALAHAN MASA LALU
63 PERTARUNGAN RADEN CAKARA CASUGRAHA
64 PATUH PADA ORANGTUA
65 PENDEKAR PEMBURU BENDA PUSAKA
66 ANCAMAN SANG PRABU
67 KEMARAHAN JAYA SATRIA
68 BENDA PUSAKA DAN TUANNYA
69 PEMBERONTAKAN
70 JALAN KELUAR
71 ILMU YANG BERMANFAAT
72 KEDATANGAN PUTRI AMBARSARI
73 PERASAAN HATI
74 KEADAAN KERAJAAN MEKAR JAYA
75 MASALAH YANG TERJADI
76 MIMPI
77 DILUAR DUGAAN
78 PERTARUNGAN DI KOTA RAJA
79 PEDANG PANGGILAN JIWA
80 RATU ARDININGRUM BINTARI
81 KEPULANGAN PRABU RAHWANA BIMANTARA
82 GEJOLAK HATI
83 DIMENSI WAKTU, PEDANG PELEBUR SUKMA
84 PERTARUNGAN TANPA AMPUN
85 JAYA SATRIA?
86 PESAN DARI LANGITYA SUKMANA
87 AMARAH DIHATI
88 KEGELAPAN TELAH DATANG
89 PEDANG PELEBUR SUKMA
90 PERTARUNGAN BATIN
91 LUKA YANG SAMA?
92 KELEMAHAN SANG PRABU?.
93 PERTARUNGAN DAHSYAT
94 RISIKO
95 KONDISI SETELAH PERTARUNGAN
96 GUNDAH KARENA SESUATU
97 PERASAAN CEMAS
98 KABAR BURUK
99 KENAPA SEPERTI ITU?
100 PETUNJUK
101 PANGGILAN
102 JAWABAN
103 MENEKAN PERASAAN HATI
104 USAHA MEREKA
105 KASIH SAYANG YANG TULUS
106 KEBAHAGIAAN DAN DENDAM
107 SANGAT MENGEJUTKAN
108 INGATAN NYAI BESTARI DHATU
109 PERUBAHAN SIKAP
110 TUJUAN
111 KEMARAHAN
112 KETETAPAN HATI
113 KEKUATAN BANTUAN
114 KEGUNDAHAN DAN KASIH SAYANG
115 HATI YANG GELISAH
116 BERUSAHA DENGAN BAIK
117 TEKAD YANG KUAT
118 MEMANCING AMARAH
119 SEMAKIN MARAH
120 BUKAN KEPUTUSAN BIASA
121 INGIN BERUBAH
122 HASRAT YANG MENGGEBU
123 JANGAN SOMBONG
124 PERASAAN CEMAS
125 ADA YANG ANEH
126 HAL YANG TERSEMBUNYI
127 JANGAN TERLALU BERPIKIRAN BURUK
128 MEMASTIKAN SEMUA
129 PERLAWANAN YANG KUAT
130 SUASANA PERTARUNGAN
131 MAHA PEMILIK KEKUASAAN
132 MEREKA YANG BERMASALAH
133 PILIHAN YANG SULIT
134 MENGOBATI PRABU MAHESWARA JUMANTA
135 DAPAT MELIHATNYA?
136 HANYA ITU SAJA
137 SAUDARA?
138 YANG DIBAYANGKAN
139 KEMBALI KE ISTANA
140 KEGELISAHAN DAN HARAPAN
141 KERUSUHAN DAN LAMARAN
142 KEDATANGAN YANG TAK TERDUGA
143 UCAPAN YANG MENYAKITKAN
144 MENGALAHKAN DAN ANEH
145 KETAKUTAN AKAN KEHILANGAN
146 HAL YANG SANGAT PENTING
147 WASPADA TERHADAP SESUATU
148 GETARAN AMARAH
149 PERASAAN YANG KUAT
150 AIR MATA KESEDIHAN
151 PIKIRAN DAN CINTA?
152 KESEDIHAN RATU DEWI ANINDYASWARI
153 KUTUKAN RADEN CAKARA CASUGRAHA
154 TANGISAN KESEDIHAN
155 TIDAK ADA PERASAAN KAH?
156 TIDAK PERLU DIPERJELAS
157 HANYA RAHASIA DI DALAM HATI
158 PELAJARAN YANG BERHARGA
159 RADEN CAKARA CASUGRAHA KEMBALI
160 ALASAN MENJADI RAJA?
161 MASALAH BARU?
162 HATI YANG KUAT
163 TIDAK GOYAH BEGITU SAJA
164 DALAM AMARAH YANG DIRASAKAN
165 RASAKAN KEMARAHANKU
166 JANGAN DENGARKAN MEREKA
167 MASA LALU YANG PERNAH DILALUI
168 KENAPA BERBOHONG?
169 INGATAN MASA LALU YANG TIDAK BISA DILUPAKAN
170 TIDAK BISA SEPERTI ITU.
171 KERESAHAN HATI YANG LARA
172 KEPERCAYAAN YANG SANGAT KUAT
173 KESEDIHAN HATI
174 HUBUNGAN YANG TERJALIN
175 DIJODOHKAN?
176 SUASANA HATI
177 MASA YANG TELAH DILALUI
178 GEJOLAK PERANG DI HATI
179 JIKA KAU INGIN ITU
180 HILANGNYA PERASAAN HATI
181 APAKAH AKU MELAKUKANNYA
182 SAKIT, SAMPAI KE ULU HATI
183 KABAR YANG MENGEJUTKAN
184 KERAGUAN, SIAPA YANG BERHAK
185 KEPUTUSAN YANG DIAMBIL
186 RATU AGUNG KERAJAAN MEKAR JAYA
187 HUKUMAN MATI
188 MENGUATKAN HATI YANG LARA
189 SUASANA HATI MEREKA
190 KENAPA BISA?
191 PERTEMUAN YANG MENGEJUTKAN
192 RASA PENASARAN YANG MENGGELITIK HATI
193 KISAH PUTRI AGNIASARI ARIANI
194 PERTANDA APA ITU?
195 SIAPA ORANG ASING ITU?
196 MIMPI YANG SANGAT BURUK
197 APA YANG KAU KETAHUI?
198 MENGUAK RAHASIA SANG PRABU
199 KATAKAN SELAMAT TINGGAL
200 APAKAH ITU BENAR?
201 MASIH MENJADI MISTERI
202 JANGAN COBA-COBA BERKHIANAT
203 INGIN MENDENGARKAN KISAH TENTANGNYA
204 GEJOLAK AMARAH YANG DIRASAKAN
205 PEDANG SUKMA MAGA PEMBELAH BUMI
206 JURUS CAKAR NAGA CAKAR PETIR
207 TERUS BERUSAHA
208 RASANYA BUKAN DIA
209 NAMA JAYA SATRIA
210 MUSTIKA NAGA MERAH DELIMA
211 BENARKAH BISA KEMBALI?
212 RASA SAKIT DI HATI
213 SUDAH DITENTUKAN
214 PENJELASAN YANG ANEH
215 ADA KECEMASAN DI DALAM HATI
216 SANGAT PEMARAH SEKALI
217 KERESAHAN HATI YANG MENDALAM
218 TAMU JAUH
219 PERMASALAHAN SUASANA HATI
220 PENGEMBARAAN JAYA SATRIA
221 PENDENGAR YANG BAIK
222 ALASAN KENAPA SEPERTI ITU?
223 PENYATUAN RAGA YANG MENYAKITKAN
224 JANGAN MEMBANTAH, TURUTI SAJA
225 KENYATAAN YANG TIDAK BISA DIBANTAH
226 MASIH DALAM MASA PENYESUAIAN
227 MARAH YANG BERLEBIHAN
228 BERHASIL DENGAN BAIK
229 KYAI YANG DIBURU
230 MEMBUNCAH BEGITU SAJA
231 PERASAAN DILEMA PRABU ASMALARAYA ARYA ARDHANA
232 SANGAT MENYENTUH HATI
233 MENCOBA BERSIKAP TEGAR
234 BERDEBAR-DEBAR KARENA APA?
235 PERTARUNGAN BATIN YANG DAHSYAT
236 DENGARKAN DENGAN BAIK
237 GAGAL UNTUK BERSAMA
238 SAKIT, MEMANG SAKIT
239 KABAR YANG TIDAK DIINGINKAN
240 SEMAKIN PARAH
241 MEREDAM SEGALA BENTUK EMOSI JIWA
242 SEDANG BERUSAHA
243 SIAPA DIA?
244 KEYAKINAN HATI YANG KUAT
245 ADA KECEMASAN YANG TIDAK BIASA
246 APAKAH ITU BENAR?
247 GEJOLAK HATI YANG TAK TERSAMPAIKAN
248 JANJI YANG PERNAH DIUCAPKAN
249 BAHAGIA? TAPI MASIH BINGUNG
250 PEMBUKTIAN?
251 APAKAH SEBUAH KEBETULAN?
252 SALAM PERPISAHAN
253 MENCARI PETUNJUK DARI MASALAH YANG TERJADI
254 MENERAPKAN PILIHAN HATI
255 JIKA TELAH MEMILIKI TEKAD
256 SIKAP KERAS HATI
257 SANGAT MENGEJUTKAN SEKALI
258 PERMINTAAN PRABU ASMALARAYA ARYA ARDHANA
259 BERTEMU DENGAN SANG PRABU
260 TIDAK PERNAH DIDUGA SEBELUMYA
261 TIDAK SEPERTI YANG DIBAYANGKAN
262 ADA YANG HARUS DIKETAHUI
263 PERTARUNGAN DI SUMBER MATA AIR DEWA
264 KEKUATAN YANG SANGAT DAHSYAT
265 BAGAIMANA BISA? KEKUATAN KERIS KEMBAR?
266 IDENTITAS ASLI JAYA SATRIA
267 MALAH JADI TAKUT
268 MEMAHAMI SITUASI YANG TERJADI
269 SESUATU YANG TIDAK BISA DIMENGERTI
270 MASALAH YANG CUKUP RUMIT
271 GONCANGAN HATI
272 SAKIT YANG MENUSUK HATI
273 KISAH LAMA YANG TELAH TERJADI
274 MEMANG TIDAK BISA
275 MEMBEBASKAN SUKMA YANG TERSESAT
276 UCAPAN YANG MENCEMASKAN HATI
277 MUNGKIN INI ALASAN YANG TEPAT
278 PERASAAN YANG KUAT
279 GEJOLAK API KEBENCIAN YANG TERTANAM DI HATI
280 HADIAH DARI KELUARGA ISTANA
281 KALIAN BERANI MENANTANG AKU?
282 MARI KITA BICARA
283 MENGUJI KESABARAN HATI?
284 HAL YANG TIDAK TERDUGA SEBELUMNYA
285 BERKOMUNIKASI DENGAN PENGHUNI ALAM SUKMA
286 BUKAN BERMAKSUD MENGHAKIMI SATU PIHAK SAJA
287 MENURUTI KEINGINAN HATI
288 BUKAN PENGLIHATAN BIASA
289 KEMUNGKINAN YANG AKAN TERJADI
290 KEJADIAN YANG SEBENARNYA
291 SESUATU YANG TIDAK BISA DIJELASKAN DENGAN KATA-KATA
292 MEMASUKI ALAM SUKMA
293 MENGUATKAN HATI YANG GELISAH
294 MENGATASI MASALAH TEKANAN BATIN
295 DESA GAIB
296 KETAKUTAN YANG MENYIKSA BATIN
297 MENGGANJAL DI HATI
298 KENANGAN MANIS YANG TAK TERLUPAKAN
299 SUASANA HATI YANG TIDAK KARUAN
300 KEPUTUSAN YANG SANGAT KUAT DARI HATI
301 DAPAT MELIHAT DENGAN JELAS
302 TAKDIR YANG DIJALANI
303 KEGELAPAN YANG MENGUSIK JIWA
304 YANG SEHARUSNYA DILAKUKAN
305 PENCARIAN SUKMA DEWI SUARABUMI
306 HUBUNGAN YANG TERJALIN ERAT
307 PERMOHONAN
308 PERTARUNGAN TIGA SUKMA
309 PASAR KOTA RAJA
310 KENAPA TIDAK BISA MENERIMANYA?
311 AKAR PERMASALAHANNYA
312 HATI YANG INGIN BERONTAK
313 DENGARKAN DENGAN BAIK
314 MASIH ADA HARAPAN
315 MEMPERSIAPKAN DIRI
316 HATI YANG MENENTUKAN
317 TIDAK MUDAH GOYAH
318 APA YANG DICEMASKAN?
319 APAKAH SEMUA ITU BENAR?
320 APA YANG INGIN KAU BUKTIKAN?
321 AKAN AKU TUNJUKKAN SEMUANYA
322 MENGATUR EMOSI JIWA
323 APAKAH MEMANG SEPERTI ITU?
324 MASALAH YANG SANGAT SERIUS
325 KEGELISAHAN YANG MENDALAM
326 PENGLIHATAN YANG TIDAK BIASA
327 PERASAAN HATI YANG TIDAK BISA BERBOHONG
328 KEBENARAN YANG TERSEMBUNYI
329 KEKUATAN YANG DAHSYAT
330 KEJADIAN YANG TIDAK MASUK AKAL
331 MEMIKIRKAN KEMUNGKINAN YANG AKAN DILAKUKAN
332 SIAPA YANG BERANI?
333 GEJOLAK HATI DALAM KEMARAHAN
334 GANASNYA SUASANA HATI RADEN CAKARA CASUGRAHA
335 PERASAAN YANG KUAT SEKALI
336 KETANGGUHAN HATI
337 PERTARUNGAN YANG TIDAK BISA DIHINDARI
338 TERIMA ATAU TIDAK? SEGERA TENTUKAN PILIHANNYA
339 KENAPA MEREKA BISA ADA?
340 KARMA YANG DIDAPATKAN
341 SEHARUSNYA TIDAK SEPERTI INI
342 AMARAH YANG SEMAKIN MEMBUNCAH
343 KEPUTUSAN, DAN MASA LALU
344 JANGAN TANYA KENAPA?
345 MAU MENGUJI KESABARAN KU?
346 MENGERAHKAN SEMUA KEKUATAN
347 HATI YANG TERLUKA
348 KUATKAN HATI SANG PRABU
349 TERHUBUNGNYA PERASAAN MEREKA
350 PERASAAN YANG LEBIH KUAT
351 APA YANG TERJADI SEBENARNYA?
352 TEKAD UNTUK MELAKUKANNYA
353 HARAPAN YANG BAIK
354 LAMARAN DARI DUA PANGERAN?
355 HARUSKAH SEPERTI ITU?
356 ADA YANG TIDAK BERES
357 HATI YANG TERLUKA PARAH
358 KENYATAAN YANG MENYAKITKAN BATIN
359 MENJAGA PERASAAN HATI
360 APAKAH ITU SUDAH TEPAT?
361 ADA YANG DISEMBUNYIKAN?
362 DIA SEORANG RAJA?
363 GEJOLAK AMARAH
364 KASIH SAYANG YANG DALAM
365 SANGAT BERBAHAYA SEKALI
366 MENGERIKAN SEKALI
367 HANYA BISA BERBUAT DEMIKIAN SAJA
368 APA YANG KAU LIHAT?
369 MAU MENGUJI AKU? BOLEH SAJA
370 AKAN AKU TUNJUKKAN KEBENARANNYA
371 KAU MAU APA SEBENARNYA?
372 MASALAH YANG SEAKAN TIADA HENTI
Episodes

Updated 372 Episodes

1
KEPERGIAN PRABU KAWISWARA ARYA RAGNALA
2
RAJA BARU
3
TERPILIHNYA RAJA BARU
4
PERDEBATAN
5
RACUN
6
SOSOK MISTERIUS
7
TUDUHAN
8
PERTARUNGAN JAYA SATRIA
9
MENYELESAIKAN MASALAH
10
KEPUTUSAN SANG PRABU
11
HUTAN TARING BELATI RAGA
12
PRABU ASMALARAYA ARYA DAN JAYA SATRIA
13
KABAR DUKA
14
KESEMBUHAN SANG PRABU?.
15
KEPULANGAN SANG PRABU
16
KERUSUHAN DI KOTA RAJA
17
SIDANG DI ISTANA
18
RASA PENASARAN
19
SYAIR PEMIKAT
20
PERTARUNGAN SENGIT
21
RENCANA JAHAT
22
KEMARAHAN DAN KASIH SAYANG
23
TULUS DAN KESUNGGUHAN
24
PUTRI ANDHINI ANDITA
25
PENGLIHATANNYA TENTANG RAJA
26
KEJAHATAN GAIB
27
JAMUAN
28
KECURANGAN PERTARUNGAN
29
TAHTA YANG SAH
30
KEPUTUSAN YANG BERAT
31
PERSIAPAN PERANG
32
PERANG DIMULAI
33
SITUASI PERANG
34
YANG BERPERANG
35
KEMARAHAN DAN BENCI
36
KEBENCIAN DAN KASIH SAYANG
37
PRABU ASMALARAYA ARYA ARDHANA
38
PRABU RAHWANA BIMANTARA
39
MEMAAFKAN DAN KEBAIKAN HATI
40
BERSABAR DALAM KESAKITAN
41
KEPULANGAN RATU DEWI ANINDYASWARI
42
KAKEK MISTERIUS
43
KEGELISAHAN DAN KEJADIAN
44
PERASAAN CEMAS
45
KEADAAN SANG PRABU DAN JAYA SATRIA
46
JAYA SATRIA DISERANG
47
KEJADIAN DEMI KEJADIAN
48
KEADAAN JAYA SATRIA
49
KESEMBUHAN DUA INSAN
50
JAYA SATRIA
51
PERSIAPAN
52
PERTARUNGAN DI KERAJAAN KEGELAPAN
53
KEMARAHAN DALAM PERTARUNGAN
54
PRABU ASMALARAYA ARYA ARDHANA DAN JAYA SATRIA
55
DIBALIK ALASAN
56
KASIH SAYANG DAN KERINDUAN
57
KEKUATAN BATIN SEORANG IBU
58
RENCANA DAN INGATAN
59
JANJI DAN KEINGINAN
60
DENDAM MASA LALU
61
KESESATAN YANG NYATA
62
KESALAHAN MASA LALU
63
PERTARUNGAN RADEN CAKARA CASUGRAHA
64
PATUH PADA ORANGTUA
65
PENDEKAR PEMBURU BENDA PUSAKA
66
ANCAMAN SANG PRABU
67
KEMARAHAN JAYA SATRIA
68
BENDA PUSAKA DAN TUANNYA
69
PEMBERONTAKAN
70
JALAN KELUAR
71
ILMU YANG BERMANFAAT
72
KEDATANGAN PUTRI AMBARSARI
73
PERASAAN HATI
74
KEADAAN KERAJAAN MEKAR JAYA
75
MASALAH YANG TERJADI
76
MIMPI
77
DILUAR DUGAAN
78
PERTARUNGAN DI KOTA RAJA
79
PEDANG PANGGILAN JIWA
80
RATU ARDININGRUM BINTARI
81
KEPULANGAN PRABU RAHWANA BIMANTARA
82
GEJOLAK HATI
83
DIMENSI WAKTU, PEDANG PELEBUR SUKMA
84
PERTARUNGAN TANPA AMPUN
85
JAYA SATRIA?
86
PESAN DARI LANGITYA SUKMANA
87
AMARAH DIHATI
88
KEGELAPAN TELAH DATANG
89
PEDANG PELEBUR SUKMA
90
PERTARUNGAN BATIN
91
LUKA YANG SAMA?
92
KELEMAHAN SANG PRABU?.
93
PERTARUNGAN DAHSYAT
94
RISIKO
95
KONDISI SETELAH PERTARUNGAN
96
GUNDAH KARENA SESUATU
97
PERASAAN CEMAS
98
KABAR BURUK
99
KENAPA SEPERTI ITU?
100
PETUNJUK
101
PANGGILAN
102
JAWABAN
103
MENEKAN PERASAAN HATI
104
USAHA MEREKA
105
KASIH SAYANG YANG TULUS
106
KEBAHAGIAAN DAN DENDAM
107
SANGAT MENGEJUTKAN
108
INGATAN NYAI BESTARI DHATU
109
PERUBAHAN SIKAP
110
TUJUAN
111
KEMARAHAN
112
KETETAPAN HATI
113
KEKUATAN BANTUAN
114
KEGUNDAHAN DAN KASIH SAYANG
115
HATI YANG GELISAH
116
BERUSAHA DENGAN BAIK
117
TEKAD YANG KUAT
118
MEMANCING AMARAH
119
SEMAKIN MARAH
120
BUKAN KEPUTUSAN BIASA
121
INGIN BERUBAH
122
HASRAT YANG MENGGEBU
123
JANGAN SOMBONG
124
PERASAAN CEMAS
125
ADA YANG ANEH
126
HAL YANG TERSEMBUNYI
127
JANGAN TERLALU BERPIKIRAN BURUK
128
MEMASTIKAN SEMUA
129
PERLAWANAN YANG KUAT
130
SUASANA PERTARUNGAN
131
MAHA PEMILIK KEKUASAAN
132
MEREKA YANG BERMASALAH
133
PILIHAN YANG SULIT
134
MENGOBATI PRABU MAHESWARA JUMANTA
135
DAPAT MELIHATNYA?
136
HANYA ITU SAJA
137
SAUDARA?
138
YANG DIBAYANGKAN
139
KEMBALI KE ISTANA
140
KEGELISAHAN DAN HARAPAN
141
KERUSUHAN DAN LAMARAN
142
KEDATANGAN YANG TAK TERDUGA
143
UCAPAN YANG MENYAKITKAN
144
MENGALAHKAN DAN ANEH
145
KETAKUTAN AKAN KEHILANGAN
146
HAL YANG SANGAT PENTING
147
WASPADA TERHADAP SESUATU
148
GETARAN AMARAH
149
PERASAAN YANG KUAT
150
AIR MATA KESEDIHAN
151
PIKIRAN DAN CINTA?
152
KESEDIHAN RATU DEWI ANINDYASWARI
153
KUTUKAN RADEN CAKARA CASUGRAHA
154
TANGISAN KESEDIHAN
155
TIDAK ADA PERASAAN KAH?
156
TIDAK PERLU DIPERJELAS
157
HANYA RAHASIA DI DALAM HATI
158
PELAJARAN YANG BERHARGA
159
RADEN CAKARA CASUGRAHA KEMBALI
160
ALASAN MENJADI RAJA?
161
MASALAH BARU?
162
HATI YANG KUAT
163
TIDAK GOYAH BEGITU SAJA
164
DALAM AMARAH YANG DIRASAKAN
165
RASAKAN KEMARAHANKU
166
JANGAN DENGARKAN MEREKA
167
MASA LALU YANG PERNAH DILALUI
168
KENAPA BERBOHONG?
169
INGATAN MASA LALU YANG TIDAK BISA DILUPAKAN
170
TIDAK BISA SEPERTI ITU.
171
KERESAHAN HATI YANG LARA
172
KEPERCAYAAN YANG SANGAT KUAT
173
KESEDIHAN HATI
174
HUBUNGAN YANG TERJALIN
175
DIJODOHKAN?
176
SUASANA HATI
177
MASA YANG TELAH DILALUI
178
GEJOLAK PERANG DI HATI
179
JIKA KAU INGIN ITU
180
HILANGNYA PERASAAN HATI
181
APAKAH AKU MELAKUKANNYA
182
SAKIT, SAMPAI KE ULU HATI
183
KABAR YANG MENGEJUTKAN
184
KERAGUAN, SIAPA YANG BERHAK
185
KEPUTUSAN YANG DIAMBIL
186
RATU AGUNG KERAJAAN MEKAR JAYA
187
HUKUMAN MATI
188
MENGUATKAN HATI YANG LARA
189
SUASANA HATI MEREKA
190
KENAPA BISA?
191
PERTEMUAN YANG MENGEJUTKAN
192
RASA PENASARAN YANG MENGGELITIK HATI
193
KISAH PUTRI AGNIASARI ARIANI
194
PERTANDA APA ITU?
195
SIAPA ORANG ASING ITU?
196
MIMPI YANG SANGAT BURUK
197
APA YANG KAU KETAHUI?
198
MENGUAK RAHASIA SANG PRABU
199
KATAKAN SELAMAT TINGGAL
200
APAKAH ITU BENAR?
201
MASIH MENJADI MISTERI
202
JANGAN COBA-COBA BERKHIANAT
203
INGIN MENDENGARKAN KISAH TENTANGNYA
204
GEJOLAK AMARAH YANG DIRASAKAN
205
PEDANG SUKMA MAGA PEMBELAH BUMI
206
JURUS CAKAR NAGA CAKAR PETIR
207
TERUS BERUSAHA
208
RASANYA BUKAN DIA
209
NAMA JAYA SATRIA
210
MUSTIKA NAGA MERAH DELIMA
211
BENARKAH BISA KEMBALI?
212
RASA SAKIT DI HATI
213
SUDAH DITENTUKAN
214
PENJELASAN YANG ANEH
215
ADA KECEMASAN DI DALAM HATI
216
SANGAT PEMARAH SEKALI
217
KERESAHAN HATI YANG MENDALAM
218
TAMU JAUH
219
PERMASALAHAN SUASANA HATI
220
PENGEMBARAAN JAYA SATRIA
221
PENDENGAR YANG BAIK
222
ALASAN KENAPA SEPERTI ITU?
223
PENYATUAN RAGA YANG MENYAKITKAN
224
JANGAN MEMBANTAH, TURUTI SAJA
225
KENYATAAN YANG TIDAK BISA DIBANTAH
226
MASIH DALAM MASA PENYESUAIAN
227
MARAH YANG BERLEBIHAN
228
BERHASIL DENGAN BAIK
229
KYAI YANG DIBURU
230
MEMBUNCAH BEGITU SAJA
231
PERASAAN DILEMA PRABU ASMALARAYA ARYA ARDHANA
232
SANGAT MENYENTUH HATI
233
MENCOBA BERSIKAP TEGAR
234
BERDEBAR-DEBAR KARENA APA?
235
PERTARUNGAN BATIN YANG DAHSYAT
236
DENGARKAN DENGAN BAIK
237
GAGAL UNTUK BERSAMA
238
SAKIT, MEMANG SAKIT
239
KABAR YANG TIDAK DIINGINKAN
240
SEMAKIN PARAH
241
MEREDAM SEGALA BENTUK EMOSI JIWA
242
SEDANG BERUSAHA
243
SIAPA DIA?
244
KEYAKINAN HATI YANG KUAT
245
ADA KECEMASAN YANG TIDAK BIASA
246
APAKAH ITU BENAR?
247
GEJOLAK HATI YANG TAK TERSAMPAIKAN
248
JANJI YANG PERNAH DIUCAPKAN
249
BAHAGIA? TAPI MASIH BINGUNG
250
PEMBUKTIAN?
251
APAKAH SEBUAH KEBETULAN?
252
SALAM PERPISAHAN
253
MENCARI PETUNJUK DARI MASALAH YANG TERJADI
254
MENERAPKAN PILIHAN HATI
255
JIKA TELAH MEMILIKI TEKAD
256
SIKAP KERAS HATI
257
SANGAT MENGEJUTKAN SEKALI
258
PERMINTAAN PRABU ASMALARAYA ARYA ARDHANA
259
BERTEMU DENGAN SANG PRABU
260
TIDAK PERNAH DIDUGA SEBELUMYA
261
TIDAK SEPERTI YANG DIBAYANGKAN
262
ADA YANG HARUS DIKETAHUI
263
PERTARUNGAN DI SUMBER MATA AIR DEWA
264
KEKUATAN YANG SANGAT DAHSYAT
265
BAGAIMANA BISA? KEKUATAN KERIS KEMBAR?
266
IDENTITAS ASLI JAYA SATRIA
267
MALAH JADI TAKUT
268
MEMAHAMI SITUASI YANG TERJADI
269
SESUATU YANG TIDAK BISA DIMENGERTI
270
MASALAH YANG CUKUP RUMIT
271
GONCANGAN HATI
272
SAKIT YANG MENUSUK HATI
273
KISAH LAMA YANG TELAH TERJADI
274
MEMANG TIDAK BISA
275
MEMBEBASKAN SUKMA YANG TERSESAT
276
UCAPAN YANG MENCEMASKAN HATI
277
MUNGKIN INI ALASAN YANG TEPAT
278
PERASAAN YANG KUAT
279
GEJOLAK API KEBENCIAN YANG TERTANAM DI HATI
280
HADIAH DARI KELUARGA ISTANA
281
KALIAN BERANI MENANTANG AKU?
282
MARI KITA BICARA
283
MENGUJI KESABARAN HATI?
284
HAL YANG TIDAK TERDUGA SEBELUMNYA
285
BERKOMUNIKASI DENGAN PENGHUNI ALAM SUKMA
286
BUKAN BERMAKSUD MENGHAKIMI SATU PIHAK SAJA
287
MENURUTI KEINGINAN HATI
288
BUKAN PENGLIHATAN BIASA
289
KEMUNGKINAN YANG AKAN TERJADI
290
KEJADIAN YANG SEBENARNYA
291
SESUATU YANG TIDAK BISA DIJELASKAN DENGAN KATA-KATA
292
MEMASUKI ALAM SUKMA
293
MENGUATKAN HATI YANG GELISAH
294
MENGATASI MASALAH TEKANAN BATIN
295
DESA GAIB
296
KETAKUTAN YANG MENYIKSA BATIN
297
MENGGANJAL DI HATI
298
KENANGAN MANIS YANG TAK TERLUPAKAN
299
SUASANA HATI YANG TIDAK KARUAN
300
KEPUTUSAN YANG SANGAT KUAT DARI HATI
301
DAPAT MELIHAT DENGAN JELAS
302
TAKDIR YANG DIJALANI
303
KEGELAPAN YANG MENGUSIK JIWA
304
YANG SEHARUSNYA DILAKUKAN
305
PENCARIAN SUKMA DEWI SUARABUMI
306
HUBUNGAN YANG TERJALIN ERAT
307
PERMOHONAN
308
PERTARUNGAN TIGA SUKMA
309
PASAR KOTA RAJA
310
KENAPA TIDAK BISA MENERIMANYA?
311
AKAR PERMASALAHANNYA
312
HATI YANG INGIN BERONTAK
313
DENGARKAN DENGAN BAIK
314
MASIH ADA HARAPAN
315
MEMPERSIAPKAN DIRI
316
HATI YANG MENENTUKAN
317
TIDAK MUDAH GOYAH
318
APA YANG DICEMASKAN?
319
APAKAH SEMUA ITU BENAR?
320
APA YANG INGIN KAU BUKTIKAN?
321
AKAN AKU TUNJUKKAN SEMUANYA
322
MENGATUR EMOSI JIWA
323
APAKAH MEMANG SEPERTI ITU?
324
MASALAH YANG SANGAT SERIUS
325
KEGELISAHAN YANG MENDALAM
326
PENGLIHATAN YANG TIDAK BIASA
327
PERASAAN HATI YANG TIDAK BISA BERBOHONG
328
KEBENARAN YANG TERSEMBUNYI
329
KEKUATAN YANG DAHSYAT
330
KEJADIAN YANG TIDAK MASUK AKAL
331
MEMIKIRKAN KEMUNGKINAN YANG AKAN DILAKUKAN
332
SIAPA YANG BERANI?
333
GEJOLAK HATI DALAM KEMARAHAN
334
GANASNYA SUASANA HATI RADEN CAKARA CASUGRAHA
335
PERASAAN YANG KUAT SEKALI
336
KETANGGUHAN HATI
337
PERTARUNGAN YANG TIDAK BISA DIHINDARI
338
TERIMA ATAU TIDAK? SEGERA TENTUKAN PILIHANNYA
339
KENAPA MEREKA BISA ADA?
340
KARMA YANG DIDAPATKAN
341
SEHARUSNYA TIDAK SEPERTI INI
342
AMARAH YANG SEMAKIN MEMBUNCAH
343
KEPUTUSAN, DAN MASA LALU
344
JANGAN TANYA KENAPA?
345
MAU MENGUJI KESABARAN KU?
346
MENGERAHKAN SEMUA KEKUATAN
347
HATI YANG TERLUKA
348
KUATKAN HATI SANG PRABU
349
TERHUBUNGNYA PERASAAN MEREKA
350
PERASAAN YANG LEBIH KUAT
351
APA YANG TERJADI SEBENARNYA?
352
TEKAD UNTUK MELAKUKANNYA
353
HARAPAN YANG BAIK
354
LAMARAN DARI DUA PANGERAN?
355
HARUSKAH SEPERTI ITU?
356
ADA YANG TIDAK BERES
357
HATI YANG TERLUKA PARAH
358
KENYATAAN YANG MENYAKITKAN BATIN
359
MENJAGA PERASAAN HATI
360
APAKAH ITU SUDAH TEPAT?
361
ADA YANG DISEMBUNYIKAN?
362
DIA SEORANG RAJA?
363
GEJOLAK AMARAH
364
KASIH SAYANG YANG DALAM
365
SANGAT BERBAHAYA SEKALI
366
MENGERIKAN SEKALI
367
HANYA BISA BERBUAT DEMIKIAN SAJA
368
APA YANG KAU LIHAT?
369
MAU MENGUJI AKU? BOLEH SAJA
370
AKAN AKU TUNJUKKAN KEBENARANNYA
371
KAU MAU APA SEBENARNYA?
372
MASALAH YANG SEAKAN TIADA HENTI

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!