KEPUTUSAN SANG PRABU

...***...

Ruangan pertemuan Istana Kerajaan Suka Damai.

Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tahu, jika apa yang diucapkan menjadi tanda tanya bagi mereka semuanya.

"Sejak kapan? Gusti Prabu melakukan penangkapan itu?." Ucapnya aneh. "Mengapa kami sama sekali tidak mengetahuinya?."

"Apakah nanda Prabu bergerak dengan diam-diam?."

"Tapi desa itu sangat jauh dari istana."

Suasana pertemuan itu sedikit gaduh, seakan-akan mereka meragukan, apa yang telah dilakukan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.

"Ya, saya memang bergerak dengan diam-diam." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba menjelaskan, agar mereka semua tidak salah faham. "Malam itu, kebetulan saya bertemu dengan mereka." Lanjut sang Prabu. "Saya tidak tega melihat rakyat ketakutan."

Untuk sesaat mereka diam, menyimak penjelasan dari Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.

"Mereka seperti binatang buas, yang membantai rakyat suka damai!." Ada bentuk kemarahan di dalam ucapannya. "Itulah kenapa? Saya tangkap salah satu dari mereka?!."

"Lantas? Apa yang akan Gusti Prabu lakukan padanya?."

"Lalu ke mana ia sekarang?." Ucapnya. "Kenapa tidak ada kabar penangkapan dari istana?."

"Tahanan tersebut, saya bawa ke hutan taring belati raga." Sang Prabu menatap jauh, seperti sedang menerawang sesuatu. "Jika saya tahan di istana ini? Saya takut mereka akan datang." Sang Prabu menatap mereka semua. "Menyerbu istana dan kita?." Lanjut sang Prabu. "Akan kewalahan mengahadapi serangan licik mereka nantinya."

"Keputusan yang sangat tepat Gusti Prabu."

"Gusti Prabu benar-benar memikirkan keselamatan kita semua." Ucapnya lega. "Dengan menjauhkan tahanan dari istana."

"Ya, kami sangat setuju dengan rencana itu."

"Lalu bagaimana selanjutnya Gusti?." Ia memberi hormat. "Apa yang akan gusti prabu lakukan? Pada tahanan itu?."

"Saya ingin, penggawa istana memberikan pengamanan yang ketat." Jawab Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Selama saya berada di hutan taring belati raga."

Deg!.

Mereka semua terkejut mendengar ucapan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.

...***...

Putri Agniasari Ariani yang berada di desa Agung Setia. Ingatannya kembali pada malam ketika ia berbincang dengan kepala desa, mengenai apa yang telah terjadi.

"Maaf tuan." Ucapnya sambil memberi hormat. "Maaf jika saya lancang dalam bertanya." Lanjutnya. "Apa yang terjadi sebenarnya di desa ini?." Ucapnya heran. "Kenapa ada masalah yang seperti itu?."

"Setelah tersebar kabar, bahwa Gusti Prabu kawiswara arya ragnala tiada?." Jawabnya dengan perasaan sedih. "Begitu banyak para pendekar jahat, yang masuk ke desa ini." Hatinya juga dipenuhi oleh ketakutan. "Mereka tidak segan-segan membunuh siapa saja."

"Memangnya? Apa yang pernah terjadi antara mereka?." Putri Agniasari Ariani semakin heran. "Dengan mendiang Gusti Prabu kawiswara arya ragnala?."

"Dahulu, ketika mereka menyerang desa ini?." Jawabnya mengingat kejadian masa lalu. 'Mendiang Gusti Prabu kawiswara arya ragnala lah, yang menghadang mereka semua." Lanjutnya. "Dahulu, mereka telah berjanji." Matanya menatap ke arah Putri Agniasari Ariani. "Bawah tidak akan menyerang desa ini." Ia terlihat menarik nafas panjang. "Tapi entah? Ketika kabar kepergian Gusti Prabu kawiswara arya ragnala?." Kali ini raut wajahnya sangat sedih. "Membuat mereka kembali menyerang desa ini."

"Jadi? Ayahanda pernah sampai ke desa ini?." Dalam hatinya merasa gelisah. "Maaf sekali lagi." Ucap Putri Agniasari Ariani. "Apakah? Mereka memiliki kelompok besar?." Lanjutnya. "Semoga saja saya bisa membantu."

"Di hutan rindu jati, di sana mereka bercokol."

"Baiklah." Responnya. "Kalau begitu saya akan memeriksa ke sana."

"Jangan nini!." Balasnya cepat. "Mereka itu sangat ganas!." Ia terlihat ketakutan. "Nini bisa terbunuh, mereka sangat tidak manusiawi sama sekali."

"Percayalah, semoga saja saya bisa mengatasi mereka." Putri Agniasari Ariani berusaha meyakinkan. "Jika saya tidak bergerak? Maka desa ini akan dalam bahaya."

"Saya akan mencoba melaporkan masalah ini, pada Gusti Ratu asmalaraya arya ardhana." Ucapnya dengan cepat. "Semoga beliau bisa membantu kami."

"Tidak sempat." Balasnya. "Saya yakin, malam ini mereka akan bergerak."

Kembali ke masa ini.

Itulah yang diingat Putri Agniasari Ariani ketika malam itu.

"Aku harus melakukan sesuatu." Dalam hatinya telah bertekad, akan membantu adiknya dalam menyelesaikan masalah. "Ayahanda Prabu, semoga saja ananda bisa melakukannya." Dengan hati-hati Putri Agniasari Ariani memasuki hutan Rindu Jati.

...***...

Di sebuah tempat.

Ki Dharma Seta sedang melatih beberapa jurus yang akan ia persiapkan nantinya. Dengan sangat lincah ia memainkan jurus itu, walaupun bentuk tubuhnya sekarang telah menua?. Namun semangatnya dalam dunia persilatan tidak luntur begitu saja, bahkan telah banyak pendekar muda yang ia kalahkan dengan mudahnya.

"Aku masih penasaran dengan sosok anak muda itu." Dalam hatinya ingat sesuatu. "Bahkan ketika aku membuka mata batin ku untuk melihat wajahnya dari jarak dekat?." Dalam hatinya sangat kesal. "Pandangan ku seakan-akan terganggu, dan ada kabut hitam pekat, yang menutupinya."

Kembali ia melakukan gerakan ringan, untuk melampiaskan emosinya.

"Ilmu penghalang sukma jenis apa?." Ucapnya heran. "Yang ia gunakan untuk menutupi jati dirinya?." Perasaan kesal itu semakin tinggi. "Sehingga aku tidak dapat menerawang jauh ke dalam sukmanya." Hatinya sangat kesal jika ingat itu. "Aku pasti akan membongkar identitas asli anak muda itu." Dalam suasana yang masih kesal, ia mencoba untuk memusatkan pikirannya. "Lihat saja kau anak muda! Kau pasti akan aku binasakan!."

Gerakannya semakin cepat, bahkan dengan sengaja ia menyalurkan tenaga dalamnya ke segala arah. Hatinya sedang panas karena tidak dapat menahan perasaan gejolak hatinya yang bergemuruh.

...***...

Istana kerajaan Suka Damai.

"Mohon ampun Gusti Prabu." Ia memberi hormat. "Apakah Gusti Prabu berniat ke sana? Tapi kenapa?."

"Benar, Saya akan ke sana." Jawab Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Karena mereka telah mengetahui lokasi itu." Lanjut sang Prabu. "Dan ada kemungkinan, akan terjadinya pertarungan di sana nantinya."

"Bukankah itu terlalu berbahaya?." Responnya. "Jika Gusti Prabu pergi ke sana sendirian?."

"Apakah Gusti Prabu? Tidak membawa pasukan atau prajurit?."

"Ini bukanlah perang." Tanggap sang Prabu. "Saya rasa, tidak perlu membawa prajurit, atau pasukan khusus." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menjelaskan. "Ini adalah perkara lama mendiang ayahanda Prabu." Lanjut sang Prabu. "Saya sendiri yang akan menyelesaikannya."

Tidak ada jawaban dari mereka semua, karena mereka tidak dapat lagi membantah perkataan sang prabu. Apalagi jika sang Prabu pergi, atas nama mendiang Gusti Prabu Kawiswara Arya Ragnala.

"Jadi, selama saya pergi?." Ucap Prabu Asmalaraya Arya menatap mereka. "Perketat penjagaan istana, di desa ataupun kota raja!." Tegas sang Prabu. "Jangan sampai ada satupun marabahaya, yang mengancam keselamatan rakyat, atau keluarga istana." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memberi perintah pada mereka semua. "Saya pergi bukan karena dendam pribadi ayahanda Prabu Kawiswara Arya Ragnala!." Sekali lagi sang Prabu mempertegas ucapnya. "Akan tetapi saya pergi! Untuk menyelamatkan kehidupan rakyat suka damai!." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terlihat sangat bersemangat. "Agar terbebas dari ancaman para perusuh kerajaan ini."

......***......

Di tempat Aki Jarah Setandan.

"Hormat hamba Gusti Prabu."

"Kakang jarah setandan, sudah lama kita tidak bertemu."

"Gusti Prabu benar, sudah cukup lama kita tidak bertemu." Aki Jarah Setandan dapat merasakan itu. "Namun? Apa gerangan yang membuat Gusti Prabu sampai ke tempat hamba?." Hatinya sangat penasaran. "Apakah ada sesuatu? Yang hendak Gusti Prabu sampaikan pada hamba?."

"Kemungkinan, nanda jaya satria, nanda Prabu." Jawab Sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala. "Mereka akan pergi bertarung ke hutan taring belati raga." Raut wajah sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala terlihat sangat sedih. "Saya sangat cemas akan keselamatan mereka berdua kakang." Ungkap sang Prabu. "Apakah kakang bisa membantu mereka?."

"Oh? Gusti Prabu?." Aki Jarah Setandan sangat terkejut mendengarnya. "Hamba akan berusaha, untuk membantu nanda cakara casugraha."

"Terima kasih kakang." Balas Sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala. "Maaf, jika saya telah merepotkan kakang."

"Tidak apa-apa Gusti Prabu." Aku Jarah Setandan memberi hormat. "Nanda cakara casugraha adalah murid hamba, sudah sepantasnya hamba membantunya."

"Sekali lagi terima kasih kakang." Setelah itu Sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala menghilang dari tempat itu.

"Kalau begitu? Aku harus segera ke sana, akan berbahaya." Hatinya semakin cemas. "Jika membiarkan nanda cakara casugraha pergi ke sana." Dengan terburu-buru Aki Jarah Setandan meninggalkan kaki bukit menawan batin.

...***...

Masih di lingkungan istana.

"Apa?!." Ia sangat terkejut. "Rayi Prabu akan pergi ke hutan taring belati raga?."

"Benar Gusti Putri." Kembali ia memberi hormat. "Kami di perintahkan Gusti Prabu." Lanjutnya. "Untuk berjaga di kaputren, tempat tinggal putri dan permaisuri raja."

"Memangnya apa yang rayi Prabu lakukan di sana?." Ucapnya heran. "Sehingga memerintahkan melakukan penjagaan yang sangat ketat?."

"Gusti Prabu asmalaraya arya ardhana akan bertarung." Jawabnya. "Menghadapi kelompok sengkar iblis, karena Gusti Prabu telah menahan salah satu dari anggota mereka."

"Apakah ia akan membawa pasukan penggawa istana ke sana?."

"Tidak Gusti Putri." Jawabnya cepat. "Gusti Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, pergi sendirian ke hutan taring belati raga." Lanjutnya. "Karena itulah kami disuruh berjaga-jaga, saat beliau berada di sana."

"Rayi Prabu pergi sendirian?."

"Sepertinya begitu Gusti Putri."

Putri Andhini Andita tampak terdiam, ia tidak habis pikir. "Apa yang dipikirkan oleh cakara casugraha itu?." Dalam hatinya bingung. "Mengapa ia pergi sendirian? Apakah ia mau mati? Atau apa?." Pikirannya terasa kusut. "Apa hanya karena dia memiliki kekuatan yang lebih kuat? Sehingga dia berani pergi sendirian?." Dalam hatinya tampak memikirkan alasan apa yang membuat Prabu Asmalaraya Arya Ardhana berani pergi ke sana.

"Apakah ada yang ingin ditanyakan lagi Gusti Putri?."

"Baiklah prajurit, kau boleh pergi."

"Baik Gusti."

Setelah memberi hormat, prajurit itu segera kembali melakukan tugasnya.

"Tanpa pengawalan siapapun?." Dalam hati Putri Andhini Andita heran. "Sombong sekali dia itu, pergi ke sana sendirian?." Putri Andhini Andita kembali berpikir. "Aku harap kau mati di sana, supaya aku yang akan menggantikan dirimu nantinya." Dalam hatinya sangat berharap seperti itu. "Tapi tunggu dulu." Tiba-tiba saja ia ingat sesuatu. "Aku rasa rayi Prabu pergi bersama orang itu." Ucapnya aneh. "Tidak mungkin rayi Prabu pergi ke sana sendirian."

Putri Andhini Andita benar-benar bertarung dengan gejolak emosinya sendiri, mengenai keberangkatan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menuju Hutan Taring Belati Kegelapan.

"Aku yakin dia menyimpan sesuatu, hingga ia pergi tanpa pengawalan."

...***...

Di tempat Syekh Asmawan Mulia.

"Sampurasun."

"Rampes."

"Syekh asmawan mulia."

"Hormat hamba Gusti Prabu."

"Apa kabar adi Syekh? Semoga keadaan adi Syekh baik-baik saja."

"Alhamdulillah hirobbil'alamin, keadaan hamba baik-baik saja." Syekh Asmawan Mulia tampak sedih. "Apakah benar? Kabar yang hamba dapatkan?." Terlihat sedang menahan perasaan sesak di hatinya. "Jika Gusti Prabu telah pergi meninggalkan dunia ini?."

"Kabar itu benar adi Syekh." Jawab Sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala dengan senyuman ramah. "Dan saat ini, saya datang padamu hanyalah bentuk Sukma saja."

"Oh? Gusti Prabu." Syekh Asmawan Mulia hampir saja meneteskan air mata mendengarnya. "Lantas? Apa yang hendak Gusti Prabu sampaikan pada hamba?." Hatinya terasa sesak. "Sehingga Gusti Prabu datang menemui hamba?."

"Saya hanya membutuhkan bantuan mu adi Syekh."

"Bantuan seperti apa yang Gusti Prabu inginkan dari hamba?." Responnya. "Semoga saja hamba bisa membantu."

"Nanda jaya satria, nanda Prabu akan pergi ke hutan taring belati." Sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala terlihat sedih. "Saya takut terjadi sesuatu padanya." Lanjut sang Prabu. "Apakah adi Syekh bisa membantunya?."

"Sandika Gusti Prabu." Syekh Asmawan Mulia memberi hormat. "Hamba akan membantu nanda jaya satria, juga nanda Prabu." Syekh Asmawan Mulia memberi hormat.

"Terima kasih atas bantuannya adi Syekh." Sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala tersenyum lega. "Maaf jika saya merepotkan mu adi Syekh."

"Hamba tidak merasa direpotkan sama sekali." Balas Syekh Asmawan Mulia. "Hamba akan terus membantu mereka Gusti."

"Sekali lagi terima kasih adi Syekh." Setelah berkata seperti itu, Sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala pergi meninggalkan tempat.

"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Syekh Asmawan Mulia benar-benar cemas. "Semoga saja nanda cakara casugraha tidak mengalami kesulitan." Dalam hati Syekh Asmawan Mulia sangat cemas.

...***...

Bilik prabu Asmalaraya Arya Ardhana.

Ratu Dewi Anindyaswari membantu putranya, melakukan persiapan sebelum berangkat menuju hutan Taring Belati Raga.

"Ibunda tenang saja." Sang Prabu memberi hormat. "Doa ibunda akan selalu menyertai langkah nanda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil, tidak mau melihat wajah ibundanya sedih, karena mencemaskan dirinya.

"Seorang ibu, akan selalu mencemaskan kepergian anaknya." Ratu Dewi Anindyaswari mencoba untuk menguatkan hatinya, karena mengetahui itu adalah tugas penting anaknya sebagai raja. Namum sebelum-sebelumnya, anaknya juga pergi dalam waktu yang lama. Karena itulah, ia selalu berusaha untuk tetap kuat, demi anaknya.

"Ibunda akan selalu mendoakan mu nak."

"Terima kasih ibunda."

"Nanda prabu."

Saat itu Ratu Ardiningrum Bintari dan ratu Gendhis Cendrawati masuk ke kamar prabu Asmalaraya Arya Ardhana dengan senyuman ramah.

"Ibunda Ratu ardiningrum bintari, ibunda Ratu gendhis cendrawati."

Walaupun sebagai seorang raja, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tetap memberi hormat kepada kedua ibunda tirinya tersebut. Rasa hormatnya sama seperti menghormati ibunda kandungnya Ratu Dewi Anindyaswari.

"Ibunda mendengar kabar." Ucapnya. "Bahwa nanda akan pergi ke hutan taring belati raga." Lanjutnya. "Apakah itu benar?."

"Benar ibunda, nanda akan pergi ke sana setelah ini." Jawab prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil.

"Kenapa nanda Prabu pergi sendirian?." Ucapnya heran. "Apakah nanda Prabu tidak takut mati? Jika pergi tanpa pengawalan." Ratu Ardiningrum Bintari berkata seperti itu?. Entah itu simpati atau ada maksud lain dari ucapannya?.

"Apa maksud yunda ardiningrum bintari berkata seperti itu? Kepada putraku?." Ratu Dewi Anindyaswari merasa sedih mendengarnya. Itu seperti doa yang buruk untuk putranya.

"Aku berkata apa adanya!." Balasnya. "Dengan pergi sendirian ke sana, itu seperti dia menyombongkan diri! Mengantar kematiannya!." Hatinya terasa panas. "Apakah kau tidak menyadari? Betapa sombong putramu setelah menjadi raja?." Suara Ratu Ardiningrum Bintari sangat keras, memenuhi bilik prabu Asmalaraya Arya Ardhana.

...***...

Putri Agniasari Ariani telah berhasil memasuki hutan Rindu Jati, saat ini ia naik ke atas pohon jati yang tinggi. Tentunya ia ingin melihat bagaimana keadaan sekitarnya.

"Akan aku lihat terlebih dahulu." Ia mengamati keadaan sekitarnya. "Sepertinya sangat berbahaya, jika aku memaksa masuk lebih lagi." Dalam hatinya sedang mengamati bagaimana sebuah pondok besar di tengah hutan berdiri dengan kokohnya.

"Sepertinya mereka memang sangat banyak." Ia kembali mengamati keadaan.

Deg!.

Namun saat itu ia terkejut, ketika ada seorang pemuda yang melompat naik bersama dengannya?. Hanya saja beda pohon?.

"Siapa kau?." Putri Agniasari Ariani mulai waspada.

"Tenang saja nini, aku bukan orang jahat." Dengan sangat ramah ia mencoba meyakinkan Putri Agniasari Ariani.

"Lantas? Apa yang kau lakukan?."

"Aku sedang mengamati mereka." Jawabnya. "Yang berada di sana." Tunjuknya. "Mereka adalah orang-orang jahat."

"Jadi? Kau juga sedang mengincar mereka?."

"Bisa dikatakan seperti itu nini."

"Apakah kau dimintai oleh seseorang untuk mengatasi mereka?."

Pemuda itu tampak berpikir sejenak. "Mungkin ini adalah kewajiban."

"Kewajiban?."

"Ya." Responnya. "Dahulunya aku bersama mendiang Gusti Prabu kawiswara arya ragnala." Lanjutnya "yang telah melawan mereka semua."

"Jadi begitu?." Putri Agniasari Ariani mulai lega.

"Lantas? Bagaimana dengan nini sendiri?." Matanya mengamati penampilan Putri Agniasari Ariani. "Apakah nini ingin mengalahkan mereka sendirian?."

"Bisa jadi seperti itu."

"Itu sangat berbahaya nini." Balasnya. "Mereka bukan lawan biasa." Pemuda itu tampak cemas. "Mereka adalah pendekar golongan hitam." Lanjutnya. "Nini akan terbunuh dengan sia-sia, jika memaksa berhadapan dengan mereka."

Tidak ada jawaban dari Putri Agniasari Ariani, ia sedang memikirkan rencana apa yang akan ia lakukan untuk menyelesaikan masalah itu.

...***...

Jaya Satria sedang mempersiapkan diri untuk menuju hutan Taring Belati Raga.

"Sampurasun."

"Rampes."

Jaya Satria membalikkan tubuhnya, karena sumber suara itu berasal dari belakangnya.

Deg!.

Matanya terbelalak lebar dengan sempurna, ketika menangkap sosok yang sangat dirindukan.

"Ayahanda Prabu?."

"Putraku jaya satria."

"Ayahanda? Ada apa ayahanda?." Jaya Satria memberi hormat. "Apakah ayahanda berniat mencegah nanda? Agar tidak pergi ke hutan itu?."

"Nanda akan tetap pergi ke sana." Balas sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala. "Rasanya percuma saja ayahanda melarang nanda."

"Maafkan nanda." Kembali Jaya Satria memberi hormat. "Karena ini semua demi keselamatan rakyat suka damai, ayahanda Prabu."

"Ayahanda sangat mengerti itu." Respon sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala dengan senyuman kecil. "Nanda dari dahulu telah melakukannya." Sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala sangat memahami itu. "Maaf, ayahanda tidak bisa masuk ke dalam hutan taring belati raga." Hati sang Prabu sangat sedih. "Ayahanda tidak bisa membantu nanda."

"Tidak apa-apa ayahanda." Ucapnya. "Nanda hanya minta pendapat ayahanda." Lanjutnya. "Cara seperti apa? Yang harus nanda lakukan?." Ucapnya lagi. "Agar tidak membahayakan raga Gusti Prabu nantinya." Kali ini sorot matanya terlihat sedih.

"Untuk masalah itu, ayahanda hanya berdoa kepada sang hyang Widhi." Respon Sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala. "Semoga kalian baik-baik saja, selama berada di hutan taring belati raga."

Itu artinya Sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala juga tidak mengetahui bagaimana caranya memisahkan kedua raga itu?.

...***...

Bilik Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.

"Ibunda Ratu ardiningrum bintari!." Spontan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengeraskan suaranya, membuat mereka semua terkejut. "Jika ibunda datang ke sini?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tampak marah. "Hanya untuk membuat ibunda saya bersedih?." Hati sang Prabu memanas. "Lebih baik simpan saja, rasa simpati ibunda miliki."

Tidak ada tanggapan dari Ratu Ardiningrum Bintari, ada perasaan takut di hatinya. Jika Prabu Asmalaraya Arya Ardhana akan menghajarnya, sama seperti masa lalu.

"Astaghfirullah hal'azim, astaghfirullah hal'azim." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba menenangkan dirinya, ia tidak boleh terbawa emosi sebelum pergi.

"Putraku, tenanglah nak." Ratu Dewi Anindyaswari sangat cemas. "Jangan sampai nanda terbawa amarah, kendalikan emosimu nak."

"Astaghfirullah hal'azim ya Allah, ampunilah dosa hamba ya Allah." Sang prabu mencoba menenangkan dirinya, mundur ke belakang, duduk di pinggir tempat tidurnya.

"Tenanglah nak, jangan nanda pikirkan." Ratu Dewi Anindyaswari mendekati anaknya. "Apa yang ibunda Ratu ardiningrum bintari katakan." Ratu Dewi Anindyaswari mendekap anaknya. "Ibunda percaya bahwa, nanda mampu melakukan tugas itu dengan baik."

Ratu Dewi Anindyaswari mengusap bahu kiri putranya. Mengelus kepala putranya dengan cintanya sebagai seorang ibu, ia cium sayang puncak kepala anaknya.

Ratu Ardiningrum Bintari dan Ratu Gendhis Cendrawati segera pergi dari bilik itu.

"Meskipun hati ibunda terasa perih." Ucap Ratu Dewi Anindyaswari. "Mendengarkan perkataan tadi? Tapi hati ibunda jauh lebih perih lagi." Sorot matanya terlihat sangat sedih. "ketika melihat engkau marah." Ungkapnya. "Dan kehilangan kendali atas dirimu, putraku."

"Maaf ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga sedih. "Nanda tidak bermaksud untuk membuat ibunda bersedih."

"Ibunda hanya berharap, jika nanda lebih bersabar lagi." Ratu Dewi Anindyaswari mencoba untuk tersenyum. "Ibunda akan selalu bersama nanda, akan selalu meredakan amarah nanda."

"Terima kasih ibunda, karena bunda selalu memahami nanda."

"Putraku nanda cakara casugraha." Ratu Dewi Anindyaswari memeluk anaknya.

"Ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana berusaha menenangkan diri.

......***......

Raden Ganendra Garjitha, Raden Gentala Giandra, dan  Raden Hadyan Hastanta juga mendengar kabar kepergian prabu Asmalaraya Arya Ardhana dari Senopati Mandala Sakuta.

"Jadi? Apa yang akan kita lakukan?." Ia menatap mereka. "Saat rayi prabu tidak ada di istana?."

"Dari pada berbuat rusuh?." Jawabnya. "Atau merenung di istana?." Lanjutnya. "Bagaimana kita buntuti rayi Prabu?." Ia terlihat bersemangat. "Dan diperjalanan kita serang dia, kita habisi saja dia?."

"Apakah kita bisa melakukannya raka?." Responnya. "Ilmu Kanuragan yang ia miliki sangat tinggi." Lanjutnya. "Rasanya sangat mustahil, kita dengan mudahnya, menghabisi nyawanya.

"Betul raka!." Ucapnya setuju. "Kita sama-sama tahu sebelumnya?." Lanjutnya. "Cakara casugraha bukanlah orang baik-baik." Ia masih ingat itu. "Namun setelah masuk agama Islam?." Ucapnya aneh. "Baru lah dia seperti orang jinak kena pelet penunduk."

Mereka tampak berpikir, mengenai cara mencelakai Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.

"Kita tidak sembarangan bisa melumpuhkannya begitu saja."

"Benar apa yang dikatakan oleh raka gentala giandra." Responnya. "Rasanya tidak mungkin kita menghabisi rayi Prabu." Lanjutnya. "Dia memiliki kekuatan di atas kita."

"Kita bisa menggunakan pembunuh bayaran." Jawabnya. "Aku yakin mereka bisa melakukannya." Ia mendapatkan ide lain. "Jika mereka berhasil menghabisi rayi Prabu?." Lanjutnya. "Maka kita akan menyebarkan fitnah lainnya, untuk kematian rayi Prabu."

"Raka sangat cerdas, itu ide yang sangat bagus." Responnya.

"Aku tahu siapa yang pantas, menjalankan tugas itu raka."

"Bagus kalau begitu."

...***...

Hutan Taring Belati Kegelapan.

"Aki dharma seta, tolong bebaskan aku ki." Dalam hatinya mencoba untuk berontak. Namun ia tidak bisa mengatakannya, karena ia dalam keadaan tertotok.

"Tenyata kau di sini bedebah busuk?!." Ki Dharma Seta terlihat marah, ia sudah menduganya. Ia sudah menduga bahwa orang bertopeng itu, tidak akan membiarkan mereka membawa Mayang Sari, keluar dari tempat itu dengan mudah.

"Di mana bedebah busuk, yang telah menyelamatkanmu tempo hari lalu? Panggil dia!." Suaranya terdengar tinggi, menuruti kata hatinya yang sedang panas. "Aku tidak yakin kau akan terbebas dari maut hari ini." Ucapnya lagi. "Jika kau tidak bertarung bersamanya? Panggil dia sekarang!." Ki Dharma Seta masih mengingatnya, ada dua orang bertopeng saat itu.

"Aku tidak perlu repot-repot memanggilnya." Responnya dengan sangat santai. "Cukup aku saja yang melawan kalian semua."

"Ternyata kau masih sombong!." Ada perasaan kesal di hatinya. "Akan aku ladani kau sampai puas!." Ki Dharma Seta sangat kesal dengan sikap Jaya Satria. "Kau masih saja mempermainkan kami."

"Kau saja yang merasa seperti itu." Responnya. "Aku hanya melindungi kawasan, yang telah kalian jarah dengan seenaknya saja." Ia terlihat kesal. "Kalian harus membayar, atas apa yang telah kalian lakukan selama ini." Jaya Satria mengamati dengan baik bagaimana gerakan mereka yang seperti hendak melakukan sesuatu padanya.

"Kali ini aku pasti bisa mengusir mereka." Dalam hati Jaya Satria sangat waspada dengan situasinya. "Lihat saja kalian semua."

Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Apakah Jaya Satria bisa mengatasi mereka semua?. Temukan jawabannya, next.

...**...

Terpopuler

Comments

Anonymous

Anonymous

lanjutkan Om

2024-09-03

0

SoVay

SoVay

jadinya, aku minta dukungan di buku detektif muda yg baru yaaa

2021-12-18

1

Cimai (IG : cimai_author)

Cimai (IG : cimai_author)

keren kak👍

2021-12-11

1

lihat semua
Episodes
1 KEPERGIAN PRABU KAWISWARA ARYA RAGNALA
2 RAJA BARU
3 TERPILIHNYA RAJA BARU
4 PERDEBATAN
5 RACUN
6 SOSOK MISTERIUS
7 TUDUHAN
8 PERTARUNGAN JAYA SATRIA
9 MENYELESAIKAN MASALAH
10 KEPUTUSAN SANG PRABU
11 HUTAN TARING BELATI RAGA
12 PRABU ASMALARAYA ARYA DAN JAYA SATRIA
13 KABAR DUKA
14 KESEMBUHAN SANG PRABU?.
15 KEPULANGAN SANG PRABU
16 KERUSUHAN DI KOTA RAJA
17 SIDANG DI ISTANA
18 RASA PENASARAN
19 SYAIR PEMIKAT
20 PERTARUNGAN SENGIT
21 RENCANA JAHAT
22 KEMARAHAN DAN KASIH SAYANG
23 TULUS DAN KESUNGGUHAN
24 PUTRI ANDHINI ANDITA
25 PENGLIHATANNYA TENTANG RAJA
26 KEJAHATAN GAIB
27 JAMUAN
28 KECURANGAN PERTARUNGAN
29 TAHTA YANG SAH
30 KEPUTUSAN YANG BERAT
31 PERSIAPAN PERANG
32 PERANG DIMULAI
33 SITUASI PERANG
34 YANG BERPERANG
35 KEMARAHAN DAN BENCI
36 KEBENCIAN DAN KASIH SAYANG
37 PRABU ASMALARAYA ARYA ARDHANA
38 PRABU RAHWANA BIMANTARA
39 MEMAAFKAN DAN KEBAIKAN HATI
40 BERSABAR DALAM KESAKITAN
41 KEPULANGAN RATU DEWI ANINDYASWARI
42 KAKEK MISTERIUS
43 KEGELISAHAN DAN KEJADIAN
44 PERASAAN CEMAS
45 KEADAAN SANG PRABU DAN JAYA SATRIA
46 JAYA SATRIA DISERANG
47 KEJADIAN DEMI KEJADIAN
48 KEADAAN JAYA SATRIA
49 KESEMBUHAN DUA INSAN
50 JAYA SATRIA
51 PERSIAPAN
52 PERTARUNGAN DI KERAJAAN KEGELAPAN
53 KEMARAHAN DALAM PERTARUNGAN
54 PRABU ASMALARAYA ARYA ARDHANA DAN JAYA SATRIA
55 DIBALIK ALASAN
56 KASIH SAYANG DAN KERINDUAN
57 KEKUATAN BATIN SEORANG IBU
58 RENCANA DAN INGATAN
59 JANJI DAN KEINGINAN
60 DENDAM MASA LALU
61 KESESATAN YANG NYATA
62 KESALAHAN MASA LALU
63 PERTARUNGAN RADEN CAKARA CASUGRAHA
64 PATUH PADA ORANGTUA
65 PENDEKAR PEMBURU BENDA PUSAKA
66 ANCAMAN SANG PRABU
67 KEMARAHAN JAYA SATRIA
68 BENDA PUSAKA DAN TUANNYA
69 PEMBERONTAKAN
70 JALAN KELUAR
71 ILMU YANG BERMANFAAT
72 KEDATANGAN PUTRI AMBARSARI
73 PERASAAN HATI
74 KEADAAN KERAJAAN MEKAR JAYA
75 MASALAH YANG TERJADI
76 MIMPI
77 DILUAR DUGAAN
78 PERTARUNGAN DI KOTA RAJA
79 PEDANG PANGGILAN JIWA
80 RATU ARDININGRUM BINTARI
81 KEPULANGAN PRABU RAHWANA BIMANTARA
82 GEJOLAK HATI
83 DIMENSI WAKTU, PEDANG PELEBUR SUKMA
84 PERTARUNGAN TANPA AMPUN
85 JAYA SATRIA?
86 PESAN DARI LANGITYA SUKMANA
87 AMARAH DIHATI
88 KEGELAPAN TELAH DATANG
89 PEDANG PELEBUR SUKMA
90 PERTARUNGAN BATIN
91 LUKA YANG SAMA?
92 KELEMAHAN SANG PRABU?.
93 PERTARUNGAN DAHSYAT
94 RISIKO
95 KONDISI SETELAH PERTARUNGAN
96 GUNDAH KARENA SESUATU
97 PERASAAN CEMAS
98 KABAR BURUK
99 KENAPA SEPERTI ITU?
100 PETUNJUK
101 PANGGILAN
102 JAWABAN
103 MENEKAN PERASAAN HATI
104 USAHA MEREKA
105 KASIH SAYANG YANG TULUS
106 KEBAHAGIAAN DAN DENDAM
107 SANGAT MENGEJUTKAN
108 INGATAN NYAI BESTARI DHATU
109 PERUBAHAN SIKAP
110 TUJUAN
111 KEMARAHAN
112 KETETAPAN HATI
113 KEKUATAN BANTUAN
114 KEGUNDAHAN DAN KASIH SAYANG
115 HATI YANG GELISAH
116 BERUSAHA DENGAN BAIK
117 TEKAD YANG KUAT
118 MEMANCING AMARAH
119 SEMAKIN MARAH
120 BUKAN KEPUTUSAN BIASA
121 INGIN BERUBAH
122 HASRAT YANG MENGGEBU
123 JANGAN SOMBONG
124 PERASAAN CEMAS
125 ADA YANG ANEH
126 HAL YANG TERSEMBUNYI
127 JANGAN TERLALU BERPIKIRAN BURUK
128 MEMASTIKAN SEMUA
129 PERLAWANAN YANG KUAT
130 SUASANA PERTARUNGAN
131 MAHA PEMILIK KEKUASAAN
132 MEREKA YANG BERMASALAH
133 PILIHAN YANG SULIT
134 MENGOBATI PRABU MAHESWARA JUMANTA
135 DAPAT MELIHATNYA?
136 HANYA ITU SAJA
137 SAUDARA?
138 YANG DIBAYANGKAN
139 KEMBALI KE ISTANA
140 KEGELISAHAN DAN HARAPAN
141 KERUSUHAN DAN LAMARAN
142 KEDATANGAN YANG TAK TERDUGA
143 UCAPAN YANG MENYAKITKAN
144 MENGALAHKAN DAN ANEH
145 KETAKUTAN AKAN KEHILANGAN
146 HAL YANG SANGAT PENTING
147 WASPADA TERHADAP SESUATU
148 GETARAN AMARAH
149 PERASAAN YANG KUAT
150 AIR MATA KESEDIHAN
151 PIKIRAN DAN CINTA?
152 KESEDIHAN RATU DEWI ANINDYASWARI
153 KUTUKAN RADEN CAKARA CASUGRAHA
154 TANGISAN KESEDIHAN
155 TIDAK ADA PERASAAN KAH?
156 TIDAK PERLU DIPERJELAS
157 HANYA RAHASIA DI DALAM HATI
158 PELAJARAN YANG BERHARGA
159 RADEN CAKARA CASUGRAHA KEMBALI
160 ALASAN MENJADI RAJA?
161 MASALAH BARU?
162 HATI YANG KUAT
163 TIDAK GOYAH BEGITU SAJA
164 DALAM AMARAH YANG DIRASAKAN
165 RASAKAN KEMARAHANKU
166 JANGAN DENGARKAN MEREKA
167 MASA LALU YANG PERNAH DILALUI
168 KENAPA BERBOHONG?
169 INGATAN MASA LALU YANG TIDAK BISA DILUPAKAN
170 TIDAK BISA SEPERTI ITU.
171 KERESAHAN HATI YANG LARA
172 KEPERCAYAAN YANG SANGAT KUAT
173 KESEDIHAN HATI
174 HUBUNGAN YANG TERJALIN
175 DIJODOHKAN?
176 SUASANA HATI
177 MASA YANG TELAH DILALUI
178 GEJOLAK PERANG DI HATI
179 JIKA KAU INGIN ITU
180 HILANGNYA PERASAAN HATI
181 APAKAH AKU MELAKUKANNYA
182 SAKIT, SAMPAI KE ULU HATI
183 KABAR YANG MENGEJUTKAN
184 KERAGUAN, SIAPA YANG BERHAK
185 KEPUTUSAN YANG DIAMBIL
186 RATU AGUNG KERAJAAN MEKAR JAYA
187 HUKUMAN MATI
188 MENGUATKAN HATI YANG LARA
189 SUASANA HATI MEREKA
190 KENAPA BISA?
191 PERTEMUAN YANG MENGEJUTKAN
192 RASA PENASARAN YANG MENGGELITIK HATI
193 KISAH PUTRI AGNIASARI ARIANI
194 PERTANDA APA ITU?
195 SIAPA ORANG ASING ITU?
196 MIMPI YANG SANGAT BURUK
197 APA YANG KAU KETAHUI?
198 MENGUAK RAHASIA SANG PRABU
199 KATAKAN SELAMAT TINGGAL
200 APAKAH ITU BENAR?
201 MASIH MENJADI MISTERI
202 JANGAN COBA-COBA BERKHIANAT
203 INGIN MENDENGARKAN KISAH TENTANGNYA
204 GEJOLAK AMARAH YANG DIRASAKAN
205 PEDANG SUKMA MAGA PEMBELAH BUMI
206 JURUS CAKAR NAGA CAKAR PETIR
207 TERUS BERUSAHA
208 RASANYA BUKAN DIA
209 NAMA JAYA SATRIA
210 MUSTIKA NAGA MERAH DELIMA
211 BENARKAH BISA KEMBALI?
212 RASA SAKIT DI HATI
213 SUDAH DITENTUKAN
214 PENJELASAN YANG ANEH
215 ADA KECEMASAN DI DALAM HATI
216 SANGAT PEMARAH SEKALI
217 KERESAHAN HATI YANG MENDALAM
218 TAMU JAUH
219 PERMASALAHAN SUASANA HATI
220 PENGEMBARAAN JAYA SATRIA
221 PENDENGAR YANG BAIK
222 ALASAN KENAPA SEPERTI ITU?
223 PENYATUAN RAGA YANG MENYAKITKAN
224 JANGAN MEMBANTAH, TURUTI SAJA
225 KENYATAAN YANG TIDAK BISA DIBANTAH
226 MASIH DALAM MASA PENYESUAIAN
227 MARAH YANG BERLEBIHAN
228 BERHASIL DENGAN BAIK
229 KYAI YANG DIBURU
230 MEMBUNCAH BEGITU SAJA
231 PERASAAN DILEMA PRABU ASMALARAYA ARYA ARDHANA
232 SANGAT MENYENTUH HATI
233 MENCOBA BERSIKAP TEGAR
234 BERDEBAR-DEBAR KARENA APA?
235 PERTARUNGAN BATIN YANG DAHSYAT
236 DENGARKAN DENGAN BAIK
237 GAGAL UNTUK BERSAMA
238 SAKIT, MEMANG SAKIT
239 KABAR YANG TIDAK DIINGINKAN
240 SEMAKIN PARAH
241 MEREDAM SEGALA BENTUK EMOSI JIWA
242 SEDANG BERUSAHA
243 SIAPA DIA?
244 KEYAKINAN HATI YANG KUAT
245 ADA KECEMASAN YANG TIDAK BIASA
246 APAKAH ITU BENAR?
247 GEJOLAK HATI YANG TAK TERSAMPAIKAN
248 JANJI YANG PERNAH DIUCAPKAN
249 BAHAGIA? TAPI MASIH BINGUNG
250 PEMBUKTIAN?
251 APAKAH SEBUAH KEBETULAN?
252 SALAM PERPISAHAN
253 MENCARI PETUNJUK DARI MASALAH YANG TERJADI
254 MENERAPKAN PILIHAN HATI
255 JIKA TELAH MEMILIKI TEKAD
256 SIKAP KERAS HATI
257 SANGAT MENGEJUTKAN SEKALI
258 PERMINTAAN PRABU ASMALARAYA ARYA ARDHANA
259 BERTEMU DENGAN SANG PRABU
260 TIDAK PERNAH DIDUGA SEBELUMYA
261 TIDAK SEPERTI YANG DIBAYANGKAN
262 ADA YANG HARUS DIKETAHUI
263 PERTARUNGAN DI SUMBER MATA AIR DEWA
264 KEKUATAN YANG SANGAT DAHSYAT
265 BAGAIMANA BISA? KEKUATAN KERIS KEMBAR?
266 IDENTITAS ASLI JAYA SATRIA
267 MALAH JADI TAKUT
268 MEMAHAMI SITUASI YANG TERJADI
269 SESUATU YANG TIDAK BISA DIMENGERTI
270 MASALAH YANG CUKUP RUMIT
271 GONCANGAN HATI
272 SAKIT YANG MENUSUK HATI
273 KISAH LAMA YANG TELAH TERJADI
274 MEMANG TIDAK BISA
275 MEMBEBASKAN SUKMA YANG TERSESAT
276 UCAPAN YANG MENCEMASKAN HATI
277 MUNGKIN INI ALASAN YANG TEPAT
278 PERASAAN YANG KUAT
279 GEJOLAK API KEBENCIAN YANG TERTANAM DI HATI
280 HADIAH DARI KELUARGA ISTANA
281 KALIAN BERANI MENANTANG AKU?
282 MARI KITA BICARA
283 MENGUJI KESABARAN HATI?
284 HAL YANG TIDAK TERDUGA SEBELUMNYA
285 BERKOMUNIKASI DENGAN PENGHUNI ALAM SUKMA
286 BUKAN BERMAKSUD MENGHAKIMI SATU PIHAK SAJA
287 MENURUTI KEINGINAN HATI
288 BUKAN PENGLIHATAN BIASA
289 KEMUNGKINAN YANG AKAN TERJADI
290 KEJADIAN YANG SEBENARNYA
291 SESUATU YANG TIDAK BISA DIJELASKAN DENGAN KATA-KATA
292 MEMASUKI ALAM SUKMA
293 MENGUATKAN HATI YANG GELISAH
294 MENGATASI MASALAH TEKANAN BATIN
295 DESA GAIB
296 KETAKUTAN YANG MENYIKSA BATIN
297 MENGGANJAL DI HATI
298 KENANGAN MANIS YANG TAK TERLUPAKAN
299 SUASANA HATI YANG TIDAK KARUAN
300 KEPUTUSAN YANG SANGAT KUAT DARI HATI
301 DAPAT MELIHAT DENGAN JELAS
302 TAKDIR YANG DIJALANI
303 KEGELAPAN YANG MENGUSIK JIWA
304 YANG SEHARUSNYA DILAKUKAN
305 PENCARIAN SUKMA DEWI SUARABUMI
306 HUBUNGAN YANG TERJALIN ERAT
307 PERMOHONAN
308 PERTARUNGAN TIGA SUKMA
309 PASAR KOTA RAJA
310 KENAPA TIDAK BISA MENERIMANYA?
311 AKAR PERMASALAHANNYA
312 HATI YANG INGIN BERONTAK
313 DENGARKAN DENGAN BAIK
314 MASIH ADA HARAPAN
315 MEMPERSIAPKAN DIRI
316 HATI YANG MENENTUKAN
317 TIDAK MUDAH GOYAH
318 APA YANG DICEMASKAN?
319 APAKAH SEMUA ITU BENAR?
320 APA YANG INGIN KAU BUKTIKAN?
321 AKAN AKU TUNJUKKAN SEMUANYA
322 MENGATUR EMOSI JIWA
323 APAKAH MEMANG SEPERTI ITU?
324 MASALAH YANG SANGAT SERIUS
325 KEGELISAHAN YANG MENDALAM
326 PENGLIHATAN YANG TIDAK BIASA
327 PERASAAN HATI YANG TIDAK BISA BERBOHONG
328 KEBENARAN YANG TERSEMBUNYI
329 KEKUATAN YANG DAHSYAT
330 KEJADIAN YANG TIDAK MASUK AKAL
331 MEMIKIRKAN KEMUNGKINAN YANG AKAN DILAKUKAN
332 SIAPA YANG BERANI?
333 GEJOLAK HATI DALAM KEMARAHAN
334 GANASNYA SUASANA HATI RADEN CAKARA CASUGRAHA
335 PERASAAN YANG KUAT SEKALI
336 KETANGGUHAN HATI
337 PERTARUNGAN YANG TIDAK BISA DIHINDARI
338 TERIMA ATAU TIDAK? SEGERA TENTUKAN PILIHANNYA
339 KENAPA MEREKA BISA ADA?
340 KARMA YANG DIDAPATKAN
341 SEHARUSNYA TIDAK SEPERTI INI
342 AMARAH YANG SEMAKIN MEMBUNCAH
343 KEPUTUSAN, DAN MASA LALU
344 JANGAN TANYA KENAPA?
345 MAU MENGUJI KESABARAN KU?
346 MENGERAHKAN SEMUA KEKUATAN
347 HATI YANG TERLUKA
348 KUATKAN HATI SANG PRABU
349 TERHUBUNGNYA PERASAAN MEREKA
350 PERASAAN YANG LEBIH KUAT
351 APA YANG TERJADI SEBENARNYA?
352 TEKAD UNTUK MELAKUKANNYA
353 HARAPAN YANG BAIK
354 LAMARAN DARI DUA PANGERAN?
355 HARUSKAH SEPERTI ITU?
356 ADA YANG TIDAK BERES
357 HATI YANG TERLUKA PARAH
358 KENYATAAN YANG MENYAKITKAN BATIN
359 MENJAGA PERASAAN HATI
360 APAKAH ITU SUDAH TEPAT?
361 ADA YANG DISEMBUNYIKAN?
362 DIA SEORANG RAJA?
363 GEJOLAK AMARAH
364 KASIH SAYANG YANG DALAM
365 SANGAT BERBAHAYA SEKALI
366 MENGERIKAN SEKALI
367 HANYA BISA BERBUAT DEMIKIAN SAJA
368 APA YANG KAU LIHAT?
369 MAU MENGUJI AKU? BOLEH SAJA
370 AKAN AKU TUNJUKKAN KEBENARANNYA
371 KAU MAU APA SEBENARNYA?
372 MASALAH YANG SEAKAN TIADA HENTI
Episodes

Updated 372 Episodes

1
KEPERGIAN PRABU KAWISWARA ARYA RAGNALA
2
RAJA BARU
3
TERPILIHNYA RAJA BARU
4
PERDEBATAN
5
RACUN
6
SOSOK MISTERIUS
7
TUDUHAN
8
PERTARUNGAN JAYA SATRIA
9
MENYELESAIKAN MASALAH
10
KEPUTUSAN SANG PRABU
11
HUTAN TARING BELATI RAGA
12
PRABU ASMALARAYA ARYA DAN JAYA SATRIA
13
KABAR DUKA
14
KESEMBUHAN SANG PRABU?.
15
KEPULANGAN SANG PRABU
16
KERUSUHAN DI KOTA RAJA
17
SIDANG DI ISTANA
18
RASA PENASARAN
19
SYAIR PEMIKAT
20
PERTARUNGAN SENGIT
21
RENCANA JAHAT
22
KEMARAHAN DAN KASIH SAYANG
23
TULUS DAN KESUNGGUHAN
24
PUTRI ANDHINI ANDITA
25
PENGLIHATANNYA TENTANG RAJA
26
KEJAHATAN GAIB
27
JAMUAN
28
KECURANGAN PERTARUNGAN
29
TAHTA YANG SAH
30
KEPUTUSAN YANG BERAT
31
PERSIAPAN PERANG
32
PERANG DIMULAI
33
SITUASI PERANG
34
YANG BERPERANG
35
KEMARAHAN DAN BENCI
36
KEBENCIAN DAN KASIH SAYANG
37
PRABU ASMALARAYA ARYA ARDHANA
38
PRABU RAHWANA BIMANTARA
39
MEMAAFKAN DAN KEBAIKAN HATI
40
BERSABAR DALAM KESAKITAN
41
KEPULANGAN RATU DEWI ANINDYASWARI
42
KAKEK MISTERIUS
43
KEGELISAHAN DAN KEJADIAN
44
PERASAAN CEMAS
45
KEADAAN SANG PRABU DAN JAYA SATRIA
46
JAYA SATRIA DISERANG
47
KEJADIAN DEMI KEJADIAN
48
KEADAAN JAYA SATRIA
49
KESEMBUHAN DUA INSAN
50
JAYA SATRIA
51
PERSIAPAN
52
PERTARUNGAN DI KERAJAAN KEGELAPAN
53
KEMARAHAN DALAM PERTARUNGAN
54
PRABU ASMALARAYA ARYA ARDHANA DAN JAYA SATRIA
55
DIBALIK ALASAN
56
KASIH SAYANG DAN KERINDUAN
57
KEKUATAN BATIN SEORANG IBU
58
RENCANA DAN INGATAN
59
JANJI DAN KEINGINAN
60
DENDAM MASA LALU
61
KESESATAN YANG NYATA
62
KESALAHAN MASA LALU
63
PERTARUNGAN RADEN CAKARA CASUGRAHA
64
PATUH PADA ORANGTUA
65
PENDEKAR PEMBURU BENDA PUSAKA
66
ANCAMAN SANG PRABU
67
KEMARAHAN JAYA SATRIA
68
BENDA PUSAKA DAN TUANNYA
69
PEMBERONTAKAN
70
JALAN KELUAR
71
ILMU YANG BERMANFAAT
72
KEDATANGAN PUTRI AMBARSARI
73
PERASAAN HATI
74
KEADAAN KERAJAAN MEKAR JAYA
75
MASALAH YANG TERJADI
76
MIMPI
77
DILUAR DUGAAN
78
PERTARUNGAN DI KOTA RAJA
79
PEDANG PANGGILAN JIWA
80
RATU ARDININGRUM BINTARI
81
KEPULANGAN PRABU RAHWANA BIMANTARA
82
GEJOLAK HATI
83
DIMENSI WAKTU, PEDANG PELEBUR SUKMA
84
PERTARUNGAN TANPA AMPUN
85
JAYA SATRIA?
86
PESAN DARI LANGITYA SUKMANA
87
AMARAH DIHATI
88
KEGELAPAN TELAH DATANG
89
PEDANG PELEBUR SUKMA
90
PERTARUNGAN BATIN
91
LUKA YANG SAMA?
92
KELEMAHAN SANG PRABU?.
93
PERTARUNGAN DAHSYAT
94
RISIKO
95
KONDISI SETELAH PERTARUNGAN
96
GUNDAH KARENA SESUATU
97
PERASAAN CEMAS
98
KABAR BURUK
99
KENAPA SEPERTI ITU?
100
PETUNJUK
101
PANGGILAN
102
JAWABAN
103
MENEKAN PERASAAN HATI
104
USAHA MEREKA
105
KASIH SAYANG YANG TULUS
106
KEBAHAGIAAN DAN DENDAM
107
SANGAT MENGEJUTKAN
108
INGATAN NYAI BESTARI DHATU
109
PERUBAHAN SIKAP
110
TUJUAN
111
KEMARAHAN
112
KETETAPAN HATI
113
KEKUATAN BANTUAN
114
KEGUNDAHAN DAN KASIH SAYANG
115
HATI YANG GELISAH
116
BERUSAHA DENGAN BAIK
117
TEKAD YANG KUAT
118
MEMANCING AMARAH
119
SEMAKIN MARAH
120
BUKAN KEPUTUSAN BIASA
121
INGIN BERUBAH
122
HASRAT YANG MENGGEBU
123
JANGAN SOMBONG
124
PERASAAN CEMAS
125
ADA YANG ANEH
126
HAL YANG TERSEMBUNYI
127
JANGAN TERLALU BERPIKIRAN BURUK
128
MEMASTIKAN SEMUA
129
PERLAWANAN YANG KUAT
130
SUASANA PERTARUNGAN
131
MAHA PEMILIK KEKUASAAN
132
MEREKA YANG BERMASALAH
133
PILIHAN YANG SULIT
134
MENGOBATI PRABU MAHESWARA JUMANTA
135
DAPAT MELIHATNYA?
136
HANYA ITU SAJA
137
SAUDARA?
138
YANG DIBAYANGKAN
139
KEMBALI KE ISTANA
140
KEGELISAHAN DAN HARAPAN
141
KERUSUHAN DAN LAMARAN
142
KEDATANGAN YANG TAK TERDUGA
143
UCAPAN YANG MENYAKITKAN
144
MENGALAHKAN DAN ANEH
145
KETAKUTAN AKAN KEHILANGAN
146
HAL YANG SANGAT PENTING
147
WASPADA TERHADAP SESUATU
148
GETARAN AMARAH
149
PERASAAN YANG KUAT
150
AIR MATA KESEDIHAN
151
PIKIRAN DAN CINTA?
152
KESEDIHAN RATU DEWI ANINDYASWARI
153
KUTUKAN RADEN CAKARA CASUGRAHA
154
TANGISAN KESEDIHAN
155
TIDAK ADA PERASAAN KAH?
156
TIDAK PERLU DIPERJELAS
157
HANYA RAHASIA DI DALAM HATI
158
PELAJARAN YANG BERHARGA
159
RADEN CAKARA CASUGRAHA KEMBALI
160
ALASAN MENJADI RAJA?
161
MASALAH BARU?
162
HATI YANG KUAT
163
TIDAK GOYAH BEGITU SAJA
164
DALAM AMARAH YANG DIRASAKAN
165
RASAKAN KEMARAHANKU
166
JANGAN DENGARKAN MEREKA
167
MASA LALU YANG PERNAH DILALUI
168
KENAPA BERBOHONG?
169
INGATAN MASA LALU YANG TIDAK BISA DILUPAKAN
170
TIDAK BISA SEPERTI ITU.
171
KERESAHAN HATI YANG LARA
172
KEPERCAYAAN YANG SANGAT KUAT
173
KESEDIHAN HATI
174
HUBUNGAN YANG TERJALIN
175
DIJODOHKAN?
176
SUASANA HATI
177
MASA YANG TELAH DILALUI
178
GEJOLAK PERANG DI HATI
179
JIKA KAU INGIN ITU
180
HILANGNYA PERASAAN HATI
181
APAKAH AKU MELAKUKANNYA
182
SAKIT, SAMPAI KE ULU HATI
183
KABAR YANG MENGEJUTKAN
184
KERAGUAN, SIAPA YANG BERHAK
185
KEPUTUSAN YANG DIAMBIL
186
RATU AGUNG KERAJAAN MEKAR JAYA
187
HUKUMAN MATI
188
MENGUATKAN HATI YANG LARA
189
SUASANA HATI MEREKA
190
KENAPA BISA?
191
PERTEMUAN YANG MENGEJUTKAN
192
RASA PENASARAN YANG MENGGELITIK HATI
193
KISAH PUTRI AGNIASARI ARIANI
194
PERTANDA APA ITU?
195
SIAPA ORANG ASING ITU?
196
MIMPI YANG SANGAT BURUK
197
APA YANG KAU KETAHUI?
198
MENGUAK RAHASIA SANG PRABU
199
KATAKAN SELAMAT TINGGAL
200
APAKAH ITU BENAR?
201
MASIH MENJADI MISTERI
202
JANGAN COBA-COBA BERKHIANAT
203
INGIN MENDENGARKAN KISAH TENTANGNYA
204
GEJOLAK AMARAH YANG DIRASAKAN
205
PEDANG SUKMA MAGA PEMBELAH BUMI
206
JURUS CAKAR NAGA CAKAR PETIR
207
TERUS BERUSAHA
208
RASANYA BUKAN DIA
209
NAMA JAYA SATRIA
210
MUSTIKA NAGA MERAH DELIMA
211
BENARKAH BISA KEMBALI?
212
RASA SAKIT DI HATI
213
SUDAH DITENTUKAN
214
PENJELASAN YANG ANEH
215
ADA KECEMASAN DI DALAM HATI
216
SANGAT PEMARAH SEKALI
217
KERESAHAN HATI YANG MENDALAM
218
TAMU JAUH
219
PERMASALAHAN SUASANA HATI
220
PENGEMBARAAN JAYA SATRIA
221
PENDENGAR YANG BAIK
222
ALASAN KENAPA SEPERTI ITU?
223
PENYATUAN RAGA YANG MENYAKITKAN
224
JANGAN MEMBANTAH, TURUTI SAJA
225
KENYATAAN YANG TIDAK BISA DIBANTAH
226
MASIH DALAM MASA PENYESUAIAN
227
MARAH YANG BERLEBIHAN
228
BERHASIL DENGAN BAIK
229
KYAI YANG DIBURU
230
MEMBUNCAH BEGITU SAJA
231
PERASAAN DILEMA PRABU ASMALARAYA ARYA ARDHANA
232
SANGAT MENYENTUH HATI
233
MENCOBA BERSIKAP TEGAR
234
BERDEBAR-DEBAR KARENA APA?
235
PERTARUNGAN BATIN YANG DAHSYAT
236
DENGARKAN DENGAN BAIK
237
GAGAL UNTUK BERSAMA
238
SAKIT, MEMANG SAKIT
239
KABAR YANG TIDAK DIINGINKAN
240
SEMAKIN PARAH
241
MEREDAM SEGALA BENTUK EMOSI JIWA
242
SEDANG BERUSAHA
243
SIAPA DIA?
244
KEYAKINAN HATI YANG KUAT
245
ADA KECEMASAN YANG TIDAK BIASA
246
APAKAH ITU BENAR?
247
GEJOLAK HATI YANG TAK TERSAMPAIKAN
248
JANJI YANG PERNAH DIUCAPKAN
249
BAHAGIA? TAPI MASIH BINGUNG
250
PEMBUKTIAN?
251
APAKAH SEBUAH KEBETULAN?
252
SALAM PERPISAHAN
253
MENCARI PETUNJUK DARI MASALAH YANG TERJADI
254
MENERAPKAN PILIHAN HATI
255
JIKA TELAH MEMILIKI TEKAD
256
SIKAP KERAS HATI
257
SANGAT MENGEJUTKAN SEKALI
258
PERMINTAAN PRABU ASMALARAYA ARYA ARDHANA
259
BERTEMU DENGAN SANG PRABU
260
TIDAK PERNAH DIDUGA SEBELUMYA
261
TIDAK SEPERTI YANG DIBAYANGKAN
262
ADA YANG HARUS DIKETAHUI
263
PERTARUNGAN DI SUMBER MATA AIR DEWA
264
KEKUATAN YANG SANGAT DAHSYAT
265
BAGAIMANA BISA? KEKUATAN KERIS KEMBAR?
266
IDENTITAS ASLI JAYA SATRIA
267
MALAH JADI TAKUT
268
MEMAHAMI SITUASI YANG TERJADI
269
SESUATU YANG TIDAK BISA DIMENGERTI
270
MASALAH YANG CUKUP RUMIT
271
GONCANGAN HATI
272
SAKIT YANG MENUSUK HATI
273
KISAH LAMA YANG TELAH TERJADI
274
MEMANG TIDAK BISA
275
MEMBEBASKAN SUKMA YANG TERSESAT
276
UCAPAN YANG MENCEMASKAN HATI
277
MUNGKIN INI ALASAN YANG TEPAT
278
PERASAAN YANG KUAT
279
GEJOLAK API KEBENCIAN YANG TERTANAM DI HATI
280
HADIAH DARI KELUARGA ISTANA
281
KALIAN BERANI MENANTANG AKU?
282
MARI KITA BICARA
283
MENGUJI KESABARAN HATI?
284
HAL YANG TIDAK TERDUGA SEBELUMNYA
285
BERKOMUNIKASI DENGAN PENGHUNI ALAM SUKMA
286
BUKAN BERMAKSUD MENGHAKIMI SATU PIHAK SAJA
287
MENURUTI KEINGINAN HATI
288
BUKAN PENGLIHATAN BIASA
289
KEMUNGKINAN YANG AKAN TERJADI
290
KEJADIAN YANG SEBENARNYA
291
SESUATU YANG TIDAK BISA DIJELASKAN DENGAN KATA-KATA
292
MEMASUKI ALAM SUKMA
293
MENGUATKAN HATI YANG GELISAH
294
MENGATASI MASALAH TEKANAN BATIN
295
DESA GAIB
296
KETAKUTAN YANG MENYIKSA BATIN
297
MENGGANJAL DI HATI
298
KENANGAN MANIS YANG TAK TERLUPAKAN
299
SUASANA HATI YANG TIDAK KARUAN
300
KEPUTUSAN YANG SANGAT KUAT DARI HATI
301
DAPAT MELIHAT DENGAN JELAS
302
TAKDIR YANG DIJALANI
303
KEGELAPAN YANG MENGUSIK JIWA
304
YANG SEHARUSNYA DILAKUKAN
305
PENCARIAN SUKMA DEWI SUARABUMI
306
HUBUNGAN YANG TERJALIN ERAT
307
PERMOHONAN
308
PERTARUNGAN TIGA SUKMA
309
PASAR KOTA RAJA
310
KENAPA TIDAK BISA MENERIMANYA?
311
AKAR PERMASALAHANNYA
312
HATI YANG INGIN BERONTAK
313
DENGARKAN DENGAN BAIK
314
MASIH ADA HARAPAN
315
MEMPERSIAPKAN DIRI
316
HATI YANG MENENTUKAN
317
TIDAK MUDAH GOYAH
318
APA YANG DICEMASKAN?
319
APAKAH SEMUA ITU BENAR?
320
APA YANG INGIN KAU BUKTIKAN?
321
AKAN AKU TUNJUKKAN SEMUANYA
322
MENGATUR EMOSI JIWA
323
APAKAH MEMANG SEPERTI ITU?
324
MASALAH YANG SANGAT SERIUS
325
KEGELISAHAN YANG MENDALAM
326
PENGLIHATAN YANG TIDAK BIASA
327
PERASAAN HATI YANG TIDAK BISA BERBOHONG
328
KEBENARAN YANG TERSEMBUNYI
329
KEKUATAN YANG DAHSYAT
330
KEJADIAN YANG TIDAK MASUK AKAL
331
MEMIKIRKAN KEMUNGKINAN YANG AKAN DILAKUKAN
332
SIAPA YANG BERANI?
333
GEJOLAK HATI DALAM KEMARAHAN
334
GANASNYA SUASANA HATI RADEN CAKARA CASUGRAHA
335
PERASAAN YANG KUAT SEKALI
336
KETANGGUHAN HATI
337
PERTARUNGAN YANG TIDAK BISA DIHINDARI
338
TERIMA ATAU TIDAK? SEGERA TENTUKAN PILIHANNYA
339
KENAPA MEREKA BISA ADA?
340
KARMA YANG DIDAPATKAN
341
SEHARUSNYA TIDAK SEPERTI INI
342
AMARAH YANG SEMAKIN MEMBUNCAH
343
KEPUTUSAN, DAN MASA LALU
344
JANGAN TANYA KENAPA?
345
MAU MENGUJI KESABARAN KU?
346
MENGERAHKAN SEMUA KEKUATAN
347
HATI YANG TERLUKA
348
KUATKAN HATI SANG PRABU
349
TERHUBUNGNYA PERASAAN MEREKA
350
PERASAAN YANG LEBIH KUAT
351
APA YANG TERJADI SEBENARNYA?
352
TEKAD UNTUK MELAKUKANNYA
353
HARAPAN YANG BAIK
354
LAMARAN DARI DUA PANGERAN?
355
HARUSKAH SEPERTI ITU?
356
ADA YANG TIDAK BERES
357
HATI YANG TERLUKA PARAH
358
KENYATAAN YANG MENYAKITKAN BATIN
359
MENJAGA PERASAAN HATI
360
APAKAH ITU SUDAH TEPAT?
361
ADA YANG DISEMBUNYIKAN?
362
DIA SEORANG RAJA?
363
GEJOLAK AMARAH
364
KASIH SAYANG YANG DALAM
365
SANGAT BERBAHAYA SEKALI
366
MENGERIKAN SEKALI
367
HANYA BISA BERBUAT DEMIKIAN SAJA
368
APA YANG KAU LIHAT?
369
MAU MENGUJI AKU? BOLEH SAJA
370
AKAN AKU TUNJUKKAN KEBENARANNYA
371
KAU MAU APA SEBENARNYA?
372
MASALAH YANG SEAKAN TIADA HENTI

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!