...***...
Ruangan pertemuan Istana Kerajaan Suka Damai.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tahu, jika apa yang diucapkan menjadi tanda tanya bagi mereka semuanya.
"Sejak kapan? Gusti Prabu melakukan penangkapan itu?." Ucapnya aneh. "Mengapa kami sama sekali tidak mengetahuinya?."
"Apakah nanda Prabu bergerak dengan diam-diam?."
"Tapi desa itu sangat jauh dari istana."
Suasana pertemuan itu sedikit gaduh, seakan-akan mereka meragukan, apa yang telah dilakukan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Ya, saya memang bergerak dengan diam-diam." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba menjelaskan, agar mereka semua tidak salah faham. "Malam itu, kebetulan saya bertemu dengan mereka." Lanjut sang Prabu. "Saya tidak tega melihat rakyat ketakutan."
Untuk sesaat mereka diam, menyimak penjelasan dari Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Mereka seperti binatang buas, yang membantai rakyat suka damai!." Ada bentuk kemarahan di dalam ucapannya. "Itulah kenapa? Saya tangkap salah satu dari mereka?!."
"Lantas? Apa yang akan Gusti Prabu lakukan padanya?."
"Lalu ke mana ia sekarang?." Ucapnya. "Kenapa tidak ada kabar penangkapan dari istana?."
"Tahanan tersebut, saya bawa ke hutan taring belati raga." Sang Prabu menatap jauh, seperti sedang menerawang sesuatu. "Jika saya tahan di istana ini? Saya takut mereka akan datang." Sang Prabu menatap mereka semua. "Menyerbu istana dan kita?." Lanjut sang Prabu. "Akan kewalahan mengahadapi serangan licik mereka nantinya."
"Keputusan yang sangat tepat Gusti Prabu."
"Gusti Prabu benar-benar memikirkan keselamatan kita semua." Ucapnya lega. "Dengan menjauhkan tahanan dari istana."
"Ya, kami sangat setuju dengan rencana itu."
"Lalu bagaimana selanjutnya Gusti?." Ia memberi hormat. "Apa yang akan gusti prabu lakukan? Pada tahanan itu?."
"Saya ingin, penggawa istana memberikan pengamanan yang ketat." Jawab Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Selama saya berada di hutan taring belati raga."
Deg!.
Mereka semua terkejut mendengar ucapan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
...***...
Putri Agniasari Ariani yang berada di desa Agung Setia. Ingatannya kembali pada malam ketika ia berbincang dengan kepala desa, mengenai apa yang telah terjadi.
"Maaf tuan." Ucapnya sambil memberi hormat. "Maaf jika saya lancang dalam bertanya." Lanjutnya. "Apa yang terjadi sebenarnya di desa ini?." Ucapnya heran. "Kenapa ada masalah yang seperti itu?."
"Setelah tersebar kabar, bahwa Gusti Prabu kawiswara arya ragnala tiada?." Jawabnya dengan perasaan sedih. "Begitu banyak para pendekar jahat, yang masuk ke desa ini." Hatinya juga dipenuhi oleh ketakutan. "Mereka tidak segan-segan membunuh siapa saja."
"Memangnya? Apa yang pernah terjadi antara mereka?." Putri Agniasari Ariani semakin heran. "Dengan mendiang Gusti Prabu kawiswara arya ragnala?."
"Dahulu, ketika mereka menyerang desa ini?." Jawabnya mengingat kejadian masa lalu. 'Mendiang Gusti Prabu kawiswara arya ragnala lah, yang menghadang mereka semua." Lanjutnya. "Dahulu, mereka telah berjanji." Matanya menatap ke arah Putri Agniasari Ariani. "Bawah tidak akan menyerang desa ini." Ia terlihat menarik nafas panjang. "Tapi entah? Ketika kabar kepergian Gusti Prabu kawiswara arya ragnala?." Kali ini raut wajahnya sangat sedih. "Membuat mereka kembali menyerang desa ini."
"Jadi? Ayahanda pernah sampai ke desa ini?." Dalam hatinya merasa gelisah. "Maaf sekali lagi." Ucap Putri Agniasari Ariani. "Apakah? Mereka memiliki kelompok besar?." Lanjutnya. "Semoga saja saya bisa membantu."
"Di hutan rindu jati, di sana mereka bercokol."
"Baiklah." Responnya. "Kalau begitu saya akan memeriksa ke sana."
"Jangan nini!." Balasnya cepat. "Mereka itu sangat ganas!." Ia terlihat ketakutan. "Nini bisa terbunuh, mereka sangat tidak manusiawi sama sekali."
"Percayalah, semoga saja saya bisa mengatasi mereka." Putri Agniasari Ariani berusaha meyakinkan. "Jika saya tidak bergerak? Maka desa ini akan dalam bahaya."
"Saya akan mencoba melaporkan masalah ini, pada Gusti Ratu asmalaraya arya ardhana." Ucapnya dengan cepat. "Semoga beliau bisa membantu kami."
"Tidak sempat." Balasnya. "Saya yakin, malam ini mereka akan bergerak."
Kembali ke masa ini.
Itulah yang diingat Putri Agniasari Ariani ketika malam itu.
"Aku harus melakukan sesuatu." Dalam hatinya telah bertekad, akan membantu adiknya dalam menyelesaikan masalah. "Ayahanda Prabu, semoga saja ananda bisa melakukannya." Dengan hati-hati Putri Agniasari Ariani memasuki hutan Rindu Jati.
...***...
Di sebuah tempat.
Ki Dharma Seta sedang melatih beberapa jurus yang akan ia persiapkan nantinya. Dengan sangat lincah ia memainkan jurus itu, walaupun bentuk tubuhnya sekarang telah menua?. Namun semangatnya dalam dunia persilatan tidak luntur begitu saja, bahkan telah banyak pendekar muda yang ia kalahkan dengan mudahnya.
"Aku masih penasaran dengan sosok anak muda itu." Dalam hatinya ingat sesuatu. "Bahkan ketika aku membuka mata batin ku untuk melihat wajahnya dari jarak dekat?." Dalam hatinya sangat kesal. "Pandangan ku seakan-akan terganggu, dan ada kabut hitam pekat, yang menutupinya."
Kembali ia melakukan gerakan ringan, untuk melampiaskan emosinya.
"Ilmu penghalang sukma jenis apa?." Ucapnya heran. "Yang ia gunakan untuk menutupi jati dirinya?." Perasaan kesal itu semakin tinggi. "Sehingga aku tidak dapat menerawang jauh ke dalam sukmanya." Hatinya sangat kesal jika ingat itu. "Aku pasti akan membongkar identitas asli anak muda itu." Dalam suasana yang masih kesal, ia mencoba untuk memusatkan pikirannya. "Lihat saja kau anak muda! Kau pasti akan aku binasakan!."
Gerakannya semakin cepat, bahkan dengan sengaja ia menyalurkan tenaga dalamnya ke segala arah. Hatinya sedang panas karena tidak dapat menahan perasaan gejolak hatinya yang bergemuruh.
...***...
Istana kerajaan Suka Damai.
"Mohon ampun Gusti Prabu." Ia memberi hormat. "Apakah Gusti Prabu berniat ke sana? Tapi kenapa?."
"Benar, Saya akan ke sana." Jawab Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Karena mereka telah mengetahui lokasi itu." Lanjut sang Prabu. "Dan ada kemungkinan, akan terjadinya pertarungan di sana nantinya."
"Bukankah itu terlalu berbahaya?." Responnya. "Jika Gusti Prabu pergi ke sana sendirian?."
"Apakah Gusti Prabu? Tidak membawa pasukan atau prajurit?."
"Ini bukanlah perang." Tanggap sang Prabu. "Saya rasa, tidak perlu membawa prajurit, atau pasukan khusus." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menjelaskan. "Ini adalah perkara lama mendiang ayahanda Prabu." Lanjut sang Prabu. "Saya sendiri yang akan menyelesaikannya."
Tidak ada jawaban dari mereka semua, karena mereka tidak dapat lagi membantah perkataan sang prabu. Apalagi jika sang Prabu pergi, atas nama mendiang Gusti Prabu Kawiswara Arya Ragnala.
"Jadi, selama saya pergi?." Ucap Prabu Asmalaraya Arya menatap mereka. "Perketat penjagaan istana, di desa ataupun kota raja!." Tegas sang Prabu. "Jangan sampai ada satupun marabahaya, yang mengancam keselamatan rakyat, atau keluarga istana." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memberi perintah pada mereka semua. "Saya pergi bukan karena dendam pribadi ayahanda Prabu Kawiswara Arya Ragnala!." Sekali lagi sang Prabu mempertegas ucapnya. "Akan tetapi saya pergi! Untuk menyelamatkan kehidupan rakyat suka damai!." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terlihat sangat bersemangat. "Agar terbebas dari ancaman para perusuh kerajaan ini."
......***......
Di tempat Aki Jarah Setandan.
"Hormat hamba Gusti Prabu."
"Kakang jarah setandan, sudah lama kita tidak bertemu."
"Gusti Prabu benar, sudah cukup lama kita tidak bertemu." Aki Jarah Setandan dapat merasakan itu. "Namun? Apa gerangan yang membuat Gusti Prabu sampai ke tempat hamba?." Hatinya sangat penasaran. "Apakah ada sesuatu? Yang hendak Gusti Prabu sampaikan pada hamba?."
"Kemungkinan, nanda jaya satria, nanda Prabu." Jawab Sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala. "Mereka akan pergi bertarung ke hutan taring belati raga." Raut wajah sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala terlihat sangat sedih. "Saya sangat cemas akan keselamatan mereka berdua kakang." Ungkap sang Prabu. "Apakah kakang bisa membantu mereka?."
"Oh? Gusti Prabu?." Aki Jarah Setandan sangat terkejut mendengarnya. "Hamba akan berusaha, untuk membantu nanda cakara casugraha."
"Terima kasih kakang." Balas Sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala. "Maaf, jika saya telah merepotkan kakang."
"Tidak apa-apa Gusti Prabu." Aku Jarah Setandan memberi hormat. "Nanda cakara casugraha adalah murid hamba, sudah sepantasnya hamba membantunya."
"Sekali lagi terima kasih kakang." Setelah itu Sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala menghilang dari tempat itu.
"Kalau begitu? Aku harus segera ke sana, akan berbahaya." Hatinya semakin cemas. "Jika membiarkan nanda cakara casugraha pergi ke sana." Dengan terburu-buru Aki Jarah Setandan meninggalkan kaki bukit menawan batin.
...***...
Masih di lingkungan istana.
"Apa?!." Ia sangat terkejut. "Rayi Prabu akan pergi ke hutan taring belati raga?."
"Benar Gusti Putri." Kembali ia memberi hormat. "Kami di perintahkan Gusti Prabu." Lanjutnya. "Untuk berjaga di kaputren, tempat tinggal putri dan permaisuri raja."
"Memangnya apa yang rayi Prabu lakukan di sana?." Ucapnya heran. "Sehingga memerintahkan melakukan penjagaan yang sangat ketat?."
"Gusti Prabu asmalaraya arya ardhana akan bertarung." Jawabnya. "Menghadapi kelompok sengkar iblis, karena Gusti Prabu telah menahan salah satu dari anggota mereka."
"Apakah ia akan membawa pasukan penggawa istana ke sana?."
"Tidak Gusti Putri." Jawabnya cepat. "Gusti Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, pergi sendirian ke hutan taring belati raga." Lanjutnya. "Karena itulah kami disuruh berjaga-jaga, saat beliau berada di sana."
"Rayi Prabu pergi sendirian?."
"Sepertinya begitu Gusti Putri."
Putri Andhini Andita tampak terdiam, ia tidak habis pikir. "Apa yang dipikirkan oleh cakara casugraha itu?." Dalam hatinya bingung. "Mengapa ia pergi sendirian? Apakah ia mau mati? Atau apa?." Pikirannya terasa kusut. "Apa hanya karena dia memiliki kekuatan yang lebih kuat? Sehingga dia berani pergi sendirian?." Dalam hatinya tampak memikirkan alasan apa yang membuat Prabu Asmalaraya Arya Ardhana berani pergi ke sana.
"Apakah ada yang ingin ditanyakan lagi Gusti Putri?."
"Baiklah prajurit, kau boleh pergi."
"Baik Gusti."
Setelah memberi hormat, prajurit itu segera kembali melakukan tugasnya.
"Tanpa pengawalan siapapun?." Dalam hati Putri Andhini Andita heran. "Sombong sekali dia itu, pergi ke sana sendirian?." Putri Andhini Andita kembali berpikir. "Aku harap kau mati di sana, supaya aku yang akan menggantikan dirimu nantinya." Dalam hatinya sangat berharap seperti itu. "Tapi tunggu dulu." Tiba-tiba saja ia ingat sesuatu. "Aku rasa rayi Prabu pergi bersama orang itu." Ucapnya aneh. "Tidak mungkin rayi Prabu pergi ke sana sendirian."
Putri Andhini Andita benar-benar bertarung dengan gejolak emosinya sendiri, mengenai keberangkatan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menuju Hutan Taring Belati Kegelapan.
"Aku yakin dia menyimpan sesuatu, hingga ia pergi tanpa pengawalan."
...***...
Di tempat Syekh Asmawan Mulia.
"Sampurasun."
"Rampes."
"Syekh asmawan mulia."
"Hormat hamba Gusti Prabu."
"Apa kabar adi Syekh? Semoga keadaan adi Syekh baik-baik saja."
"Alhamdulillah hirobbil'alamin, keadaan hamba baik-baik saja." Syekh Asmawan Mulia tampak sedih. "Apakah benar? Kabar yang hamba dapatkan?." Terlihat sedang menahan perasaan sesak di hatinya. "Jika Gusti Prabu telah pergi meninggalkan dunia ini?."
"Kabar itu benar adi Syekh." Jawab Sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala dengan senyuman ramah. "Dan saat ini, saya datang padamu hanyalah bentuk Sukma saja."
"Oh? Gusti Prabu." Syekh Asmawan Mulia hampir saja meneteskan air mata mendengarnya. "Lantas? Apa yang hendak Gusti Prabu sampaikan pada hamba?." Hatinya terasa sesak. "Sehingga Gusti Prabu datang menemui hamba?."
"Saya hanya membutuhkan bantuan mu adi Syekh."
"Bantuan seperti apa yang Gusti Prabu inginkan dari hamba?." Responnya. "Semoga saja hamba bisa membantu."
"Nanda jaya satria, nanda Prabu akan pergi ke hutan taring belati." Sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala terlihat sedih. "Saya takut terjadi sesuatu padanya." Lanjut sang Prabu. "Apakah adi Syekh bisa membantunya?."
"Sandika Gusti Prabu." Syekh Asmawan Mulia memberi hormat. "Hamba akan membantu nanda jaya satria, juga nanda Prabu." Syekh Asmawan Mulia memberi hormat.
"Terima kasih atas bantuannya adi Syekh." Sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala tersenyum lega. "Maaf jika saya merepotkan mu adi Syekh."
"Hamba tidak merasa direpotkan sama sekali." Balas Syekh Asmawan Mulia. "Hamba akan terus membantu mereka Gusti."
"Sekali lagi terima kasih adi Syekh." Setelah berkata seperti itu, Sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala pergi meninggalkan tempat.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Syekh Asmawan Mulia benar-benar cemas. "Semoga saja nanda cakara casugraha tidak mengalami kesulitan." Dalam hati Syekh Asmawan Mulia sangat cemas.
...***...
Bilik prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
Ratu Dewi Anindyaswari membantu putranya, melakukan persiapan sebelum berangkat menuju hutan Taring Belati Raga.
"Ibunda tenang saja." Sang Prabu memberi hormat. "Doa ibunda akan selalu menyertai langkah nanda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil, tidak mau melihat wajah ibundanya sedih, karena mencemaskan dirinya.
"Seorang ibu, akan selalu mencemaskan kepergian anaknya." Ratu Dewi Anindyaswari mencoba untuk menguatkan hatinya, karena mengetahui itu adalah tugas penting anaknya sebagai raja. Namum sebelum-sebelumnya, anaknya juga pergi dalam waktu yang lama. Karena itulah, ia selalu berusaha untuk tetap kuat, demi anaknya.
"Ibunda akan selalu mendoakan mu nak."
"Terima kasih ibunda."
"Nanda prabu."
Saat itu Ratu Ardiningrum Bintari dan ratu Gendhis Cendrawati masuk ke kamar prabu Asmalaraya Arya Ardhana dengan senyuman ramah.
"Ibunda Ratu ardiningrum bintari, ibunda Ratu gendhis cendrawati."
Walaupun sebagai seorang raja, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tetap memberi hormat kepada kedua ibunda tirinya tersebut. Rasa hormatnya sama seperti menghormati ibunda kandungnya Ratu Dewi Anindyaswari.
"Ibunda mendengar kabar." Ucapnya. "Bahwa nanda akan pergi ke hutan taring belati raga." Lanjutnya. "Apakah itu benar?."
"Benar ibunda, nanda akan pergi ke sana setelah ini." Jawab prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil.
"Kenapa nanda Prabu pergi sendirian?." Ucapnya heran. "Apakah nanda Prabu tidak takut mati? Jika pergi tanpa pengawalan." Ratu Ardiningrum Bintari berkata seperti itu?. Entah itu simpati atau ada maksud lain dari ucapannya?.
"Apa maksud yunda ardiningrum bintari berkata seperti itu? Kepada putraku?." Ratu Dewi Anindyaswari merasa sedih mendengarnya. Itu seperti doa yang buruk untuk putranya.
"Aku berkata apa adanya!." Balasnya. "Dengan pergi sendirian ke sana, itu seperti dia menyombongkan diri! Mengantar kematiannya!." Hatinya terasa panas. "Apakah kau tidak menyadari? Betapa sombong putramu setelah menjadi raja?." Suara Ratu Ardiningrum Bintari sangat keras, memenuhi bilik prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
...***...
Putri Agniasari Ariani telah berhasil memasuki hutan Rindu Jati, saat ini ia naik ke atas pohon jati yang tinggi. Tentunya ia ingin melihat bagaimana keadaan sekitarnya.
"Akan aku lihat terlebih dahulu." Ia mengamati keadaan sekitarnya. "Sepertinya sangat berbahaya, jika aku memaksa masuk lebih lagi." Dalam hatinya sedang mengamati bagaimana sebuah pondok besar di tengah hutan berdiri dengan kokohnya.
"Sepertinya mereka memang sangat banyak." Ia kembali mengamati keadaan.
Deg!.
Namun saat itu ia terkejut, ketika ada seorang pemuda yang melompat naik bersama dengannya?. Hanya saja beda pohon?.
"Siapa kau?." Putri Agniasari Ariani mulai waspada.
"Tenang saja nini, aku bukan orang jahat." Dengan sangat ramah ia mencoba meyakinkan Putri Agniasari Ariani.
"Lantas? Apa yang kau lakukan?."
"Aku sedang mengamati mereka." Jawabnya. "Yang berada di sana." Tunjuknya. "Mereka adalah orang-orang jahat."
"Jadi? Kau juga sedang mengincar mereka?."
"Bisa dikatakan seperti itu nini."
"Apakah kau dimintai oleh seseorang untuk mengatasi mereka?."
Pemuda itu tampak berpikir sejenak. "Mungkin ini adalah kewajiban."
"Kewajiban?."
"Ya." Responnya. "Dahulunya aku bersama mendiang Gusti Prabu kawiswara arya ragnala." Lanjutnya "yang telah melawan mereka semua."
"Jadi begitu?." Putri Agniasari Ariani mulai lega.
"Lantas? Bagaimana dengan nini sendiri?." Matanya mengamati penampilan Putri Agniasari Ariani. "Apakah nini ingin mengalahkan mereka sendirian?."
"Bisa jadi seperti itu."
"Itu sangat berbahaya nini." Balasnya. "Mereka bukan lawan biasa." Pemuda itu tampak cemas. "Mereka adalah pendekar golongan hitam." Lanjutnya. "Nini akan terbunuh dengan sia-sia, jika memaksa berhadapan dengan mereka."
Tidak ada jawaban dari Putri Agniasari Ariani, ia sedang memikirkan rencana apa yang akan ia lakukan untuk menyelesaikan masalah itu.
...***...
Jaya Satria sedang mempersiapkan diri untuk menuju hutan Taring Belati Raga.
"Sampurasun."
"Rampes."
Jaya Satria membalikkan tubuhnya, karena sumber suara itu berasal dari belakangnya.
Deg!.
Matanya terbelalak lebar dengan sempurna, ketika menangkap sosok yang sangat dirindukan.
"Ayahanda Prabu?."
"Putraku jaya satria."
"Ayahanda? Ada apa ayahanda?." Jaya Satria memberi hormat. "Apakah ayahanda berniat mencegah nanda? Agar tidak pergi ke hutan itu?."
"Nanda akan tetap pergi ke sana." Balas sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala. "Rasanya percuma saja ayahanda melarang nanda."
"Maafkan nanda." Kembali Jaya Satria memberi hormat. "Karena ini semua demi keselamatan rakyat suka damai, ayahanda Prabu."
"Ayahanda sangat mengerti itu." Respon sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala dengan senyuman kecil. "Nanda dari dahulu telah melakukannya." Sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala sangat memahami itu. "Maaf, ayahanda tidak bisa masuk ke dalam hutan taring belati raga." Hati sang Prabu sangat sedih. "Ayahanda tidak bisa membantu nanda."
"Tidak apa-apa ayahanda." Ucapnya. "Nanda hanya minta pendapat ayahanda." Lanjutnya. "Cara seperti apa? Yang harus nanda lakukan?." Ucapnya lagi. "Agar tidak membahayakan raga Gusti Prabu nantinya." Kali ini sorot matanya terlihat sedih.
"Untuk masalah itu, ayahanda hanya berdoa kepada sang hyang Widhi." Respon Sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala. "Semoga kalian baik-baik saja, selama berada di hutan taring belati raga."
Itu artinya Sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala juga tidak mengetahui bagaimana caranya memisahkan kedua raga itu?.
...***...
Bilik Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Ibunda Ratu ardiningrum bintari!." Spontan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengeraskan suaranya, membuat mereka semua terkejut. "Jika ibunda datang ke sini?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tampak marah. "Hanya untuk membuat ibunda saya bersedih?." Hati sang Prabu memanas. "Lebih baik simpan saja, rasa simpati ibunda miliki."
Tidak ada tanggapan dari Ratu Ardiningrum Bintari, ada perasaan takut di hatinya. Jika Prabu Asmalaraya Arya Ardhana akan menghajarnya, sama seperti masa lalu.
"Astaghfirullah hal'azim, astaghfirullah hal'azim." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba menenangkan dirinya, ia tidak boleh terbawa emosi sebelum pergi.
"Putraku, tenanglah nak." Ratu Dewi Anindyaswari sangat cemas. "Jangan sampai nanda terbawa amarah, kendalikan emosimu nak."
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah, ampunilah dosa hamba ya Allah." Sang prabu mencoba menenangkan dirinya, mundur ke belakang, duduk di pinggir tempat tidurnya.
"Tenanglah nak, jangan nanda pikirkan." Ratu Dewi Anindyaswari mendekati anaknya. "Apa yang ibunda Ratu ardiningrum bintari katakan." Ratu Dewi Anindyaswari mendekap anaknya. "Ibunda percaya bahwa, nanda mampu melakukan tugas itu dengan baik."
Ratu Dewi Anindyaswari mengusap bahu kiri putranya. Mengelus kepala putranya dengan cintanya sebagai seorang ibu, ia cium sayang puncak kepala anaknya.
Ratu Ardiningrum Bintari dan Ratu Gendhis Cendrawati segera pergi dari bilik itu.
"Meskipun hati ibunda terasa perih." Ucap Ratu Dewi Anindyaswari. "Mendengarkan perkataan tadi? Tapi hati ibunda jauh lebih perih lagi." Sorot matanya terlihat sangat sedih. "ketika melihat engkau marah." Ungkapnya. "Dan kehilangan kendali atas dirimu, putraku."
"Maaf ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga sedih. "Nanda tidak bermaksud untuk membuat ibunda bersedih."
"Ibunda hanya berharap, jika nanda lebih bersabar lagi." Ratu Dewi Anindyaswari mencoba untuk tersenyum. "Ibunda akan selalu bersama nanda, akan selalu meredakan amarah nanda."
"Terima kasih ibunda, karena bunda selalu memahami nanda."
"Putraku nanda cakara casugraha." Ratu Dewi Anindyaswari memeluk anaknya.
"Ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana berusaha menenangkan diri.
......***......
Raden Ganendra Garjitha, Raden Gentala Giandra, dan Raden Hadyan Hastanta juga mendengar kabar kepergian prabu Asmalaraya Arya Ardhana dari Senopati Mandala Sakuta.
"Jadi? Apa yang akan kita lakukan?." Ia menatap mereka. "Saat rayi prabu tidak ada di istana?."
"Dari pada berbuat rusuh?." Jawabnya. "Atau merenung di istana?." Lanjutnya. "Bagaimana kita buntuti rayi Prabu?." Ia terlihat bersemangat. "Dan diperjalanan kita serang dia, kita habisi saja dia?."
"Apakah kita bisa melakukannya raka?." Responnya. "Ilmu Kanuragan yang ia miliki sangat tinggi." Lanjutnya. "Rasanya sangat mustahil, kita dengan mudahnya, menghabisi nyawanya.
"Betul raka!." Ucapnya setuju. "Kita sama-sama tahu sebelumnya?." Lanjutnya. "Cakara casugraha bukanlah orang baik-baik." Ia masih ingat itu. "Namun setelah masuk agama Islam?." Ucapnya aneh. "Baru lah dia seperti orang jinak kena pelet penunduk."
Mereka tampak berpikir, mengenai cara mencelakai Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Kita tidak sembarangan bisa melumpuhkannya begitu saja."
"Benar apa yang dikatakan oleh raka gentala giandra." Responnya. "Rasanya tidak mungkin kita menghabisi rayi Prabu." Lanjutnya. "Dia memiliki kekuatan di atas kita."
"Kita bisa menggunakan pembunuh bayaran." Jawabnya. "Aku yakin mereka bisa melakukannya." Ia mendapatkan ide lain. "Jika mereka berhasil menghabisi rayi Prabu?." Lanjutnya. "Maka kita akan menyebarkan fitnah lainnya, untuk kematian rayi Prabu."
"Raka sangat cerdas, itu ide yang sangat bagus." Responnya.
"Aku tahu siapa yang pantas, menjalankan tugas itu raka."
"Bagus kalau begitu."
...***...
Hutan Taring Belati Kegelapan.
"Aki dharma seta, tolong bebaskan aku ki." Dalam hatinya mencoba untuk berontak. Namun ia tidak bisa mengatakannya, karena ia dalam keadaan tertotok.
"Tenyata kau di sini bedebah busuk?!." Ki Dharma Seta terlihat marah, ia sudah menduganya. Ia sudah menduga bahwa orang bertopeng itu, tidak akan membiarkan mereka membawa Mayang Sari, keluar dari tempat itu dengan mudah.
"Di mana bedebah busuk, yang telah menyelamatkanmu tempo hari lalu? Panggil dia!." Suaranya terdengar tinggi, menuruti kata hatinya yang sedang panas. "Aku tidak yakin kau akan terbebas dari maut hari ini." Ucapnya lagi. "Jika kau tidak bertarung bersamanya? Panggil dia sekarang!." Ki Dharma Seta masih mengingatnya, ada dua orang bertopeng saat itu.
"Aku tidak perlu repot-repot memanggilnya." Responnya dengan sangat santai. "Cukup aku saja yang melawan kalian semua."
"Ternyata kau masih sombong!." Ada perasaan kesal di hatinya. "Akan aku ladani kau sampai puas!." Ki Dharma Seta sangat kesal dengan sikap Jaya Satria. "Kau masih saja mempermainkan kami."
"Kau saja yang merasa seperti itu." Responnya. "Aku hanya melindungi kawasan, yang telah kalian jarah dengan seenaknya saja." Ia terlihat kesal. "Kalian harus membayar, atas apa yang telah kalian lakukan selama ini." Jaya Satria mengamati dengan baik bagaimana gerakan mereka yang seperti hendak melakukan sesuatu padanya.
"Kali ini aku pasti bisa mengusir mereka." Dalam hati Jaya Satria sangat waspada dengan situasinya. "Lihat saja kalian semua."
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Apakah Jaya Satria bisa mengatasi mereka semua?. Temukan jawabannya, next.
...**...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 372 Episodes
Comments
Anonymous
lanjutkan Om
2024-09-03
0
SoVay
jadinya, aku minta dukungan di buku detektif muda yg baru yaaa
2021-12-18
1
Cimai (IG : cimai_author)
keren kak👍
2021-12-11
1