...****...
Pedanda Istana mengambil nampan emas dari wanita cantik itu. "Terima kasih karena Gusti dewi telah membawakan nampan emas ini."
"Sama-sama." Balasnya dengan senyuman yang sangat manis, setelah itu ia pergi menghilang dari hadapan mereka semua.
"Kalau begitu akan hamba bacakan." Pedanda Istana membuka gulungan nama gelar Raja dengan sangat hati-hati. "Wahai hadirin sekalian." Ucapnya dengan penuh semangat. "Raja baru kita telah terpilih dengan sangat sempurna! Gelar sang Prabu adalah Gusti Prabu Maharaja asmalaraya arya ardhana."
Mereka semua sangat terkejut mendengarkan nama gelar itu, nama gelar yang sangat agung dalam melindungi sebuah kerajaan.
"Kau berhak mendapatkan gelar itu putraku nanda cakara casugraha." Sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala menatap dengan penuh kebanggaan. "Karena memang selama ini, kau membantu ayahanda tanpa ada yang mengetahuinya sama sekali."
"Ayahanda Prabu." Raden Cakara Casugraha memberi hormat pada ayahandanya.
"Oh? Putraku?." Ratu Dewi Anindyaswari terharu melihat itu.
"Rayi cakara casugraha." Putri Agniasari Ariani juga terharu melihat itu.
"Ayahanda titipkan istana ini padamu." Senyumannya kembali mengembang begitu saja. "Jagalah ngerti ini, sesuai dengan nama gelar kau dapatkan anakku."
"Akan nanda usahakan ayahanda Prabu."
"Tunggu dulu ayahanda Prabu!." Hatinya sangat tidak terima. "Aku adalah putra sulung!." Tegasnya. "Kenapa bukan aku?! Yang mendapatkan gelar Raja ayahanda?." Raden Ganendra Garjitha tampak tidak terima dengan apa yang telah terjadi.
"Benar itu kanda Prabu!." Ratu Ardiningrum Bintari juga tersulut amarah. "Tidak mungkin anak terkutuk itu menjadi Raja!." Tunjuknya ke arah Raden Cakara Casugraha. "Dinda tidak terima sama sekali!." Ratu Ardiningrum Bintari juga menunjukkan sikap tidak suka.
"Ayahanda Prabu!." Ucapnya. "Istana dan kerajaan ini akan hancur!." Ia lupakan amarahnya. "Jika cakara casugraha! Yang memimpinnya ayahanda!." Raden Hadyan Hastanta yang masih kesakitan, memperlihatkan sikap protesnya.
"Ayahanda Prabu!." Putri Andhini Andita juga marah. "Kenapa bisa? Orang terkutuk seperti cakra casugraha! Menjadi Raja?!." Putri Andhini Andita juga protes.
"Saya merasa ini adalah sebuah permainan!." Ucapnya diisi oleh kemarahan yang membara. "Di mana saya merasa dibodohi! Dengan cara pengangkatan Raja yang seperti ini ayahanda Prabu." Putri Ambarsari juga tidak terima.
Sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala tersenyum kecil pada mereka yang masih saja belum mau menerima kenyataan itu.
"Suatu saat nanti kalian akan melihat kebenarannya." Balas sang Prabu. "Kalian akan mengerti, kenapa rayi kalian cakara casugraha? Yang terpilih menjadi Raja."
Setelah berkata seperti itu Prabu Kawiswara Arya Ragnala pergi menghilang dari hadapan mereka.
"Kanda Prabu!."
"Ayahanda Prabu!."
Tentu saja mereka terkejut dengan menghilangnya sang Prabu, karena masih banyak yang akan mereka sampaikan saat itu.
"Cakara casugraha!." Bentaknya keras. "Sebaiknya kau lepaskan mahkota itu!." Tunjuknya kasar. "Karena kau tidak pantas! Menggunakan mahkota itu!."
"Benar itu!." Sambungnya. "Kau hanya akan menghancurkan kerajaan ini!."
"Tenanglah semuanya." Pedanda istana mencoba menenangkan mereka. "Pemilihan Raja yang seperti ini, tidak bisa diganggu gugat lagi." Lanjutnya. "Karena ini sangat mutlak."
"Diam kau sepuh!." Bantahnya. "Ini adalah masalah kami!."
"Putraku nanda cakara casugraha." Ratu Dewi Anindyaswari menatap sedih ke arah anaknya. "Berikan saja mahkota itu padanya." Hatinya sangat gelisah. "Ibunda hanya tidak ingin, nanda nantinya terbawa amarah." Ratu Dewi Anindyaswari hanya tidak ingin anaknya dalam masalah nantinya.
"Baiklah kalau begitu ibunda."
"Rayi?."
Mereka semua mendadak tegang mendengarkan ucapan Raden Cakara Casugraha yang sangat mudahnya menuruti apa yang telah dikatakan oleh ibundanya?.
"Heh!." Ia mendengus keras. "Harusnya memang seperti ini." Raden Ganendra Garjitha terlihat sangat senang dengan apa yang akan ia dapatkan saat itu. "Dengan ini aku pasti akan menjadi Raja." Dalam hatinya saat itu dipenuhi dengan ambisi yang sangat membara.
Deg!.
"Kegh!."
Namun apa yang terjadi?. Saat itu Raden Ganendra Garjitha sangat terkejut karena tangannya seperti mati rasa ketika ia menyentuh mahkota itu.
"Ada apa putraku?." Ratu Ardiningrum Bintari mendekati anaknya yang tampak kaku?.
"Sudahlah." Pedanda istana benar-benar muak melihat itu. "Selagi seseorang yang memiliki hati yaang tidak baik?." Lanjutnya. "Mahkota ini tidak akan menerima siapa saja." Pedanda Istana akhirnya menjelaskannya.
Seketika suasana kembali ribut, mendengarkan penjelasan dari Pedanda istana.
"Sumpah Gusti Prabu Maharaja Bahuwirya jayantaka byakta!." Tegasnya. "Bahwa hanya orang-orang berhati bersih lah!." Lanjutnya. "Yang pantas memimpin kerajaan ini!." Ia menatap Raden Cakara Casugraha. "Dan menduduki singgasana ini!." Tegasnya kembali. "Maka terkutuk lah ia! Jika memiliki niat yang tidak baik! Mamun ingin duduk di singgasana ini."
Mereka semua terdiam mendengarkan ucapan sepuh?. Apakah memang seperti itu yang terjadi sebenarnya?.
...***...
Di kerajaan kegelapan yang dipimpin oleh Prabu Wajendra Bhadrika. Saat ini ia dalam keadaan koma setelah berhadapan dengan Prabu Kawiswara Arya Ragnala. Sudah banyak tabib kegelapan yang mencoba untuk mengobatinya, namun hasilnya sangat mustahil?.
"Bagaimana dengan keadaan ayahandaku?." Hatinya merasa rapuh. "Apakah beliau bisa diobati?."
"Mohon ampun Gusti Putri." Ia memberi hormat. "Agaknya memang membutuhkan waktu yang lama, supaya bisa sembuh sepenuhnya."
"Kalau begitu lakukan tugasmu dengan baik!." Hatinya seketika memanas. "Atau kau! Yang akan aku tumbalkan! Untuk menghidupi ayahandaku lagi."
Deg!.
Tabib itu tentunya sangat terkejut mendengarkan ucapan mematikan itu.
"Apakah dia pikir aku ini dewa?." Dalam hatinya getar. "Yang dapat menghidupkan orang mati?." Dalam hatinya ingin berkata seperti itu, tapi mulutnya tidak akan berani mengucapkan kalimat itu. "Berikan hamba waktu, untuk melakukannya Gusti."
"Lakukan dengan baik!."
"Baik Gusti Putri." setelah memberi hormat ia segera pergi meninggalkan tempat itu. "Pukulan delapan mata angin memang sangat hebat." Ia terkesan. "Dadanya hampir saja hancur." Dalam hati Tabib itu merasa ngeri dengan luka dalam yang dialami oleh Prabu Wajendra Bhadrika. "Beruntung saja dia adalah seorang Raja, kalau dia orang biasa? Aku yakin dia benar-benar akan mati." Ia sedang memikirkan obat apa yang tepat untuk menyembuhkan luka itu.
"Ayahanda, bertahanlah, aku yakin kau akan sembuh." Putri Gempita Bhadrika sangat takut ayahandanya belum juga sembuh. "Aku mohon ayahanda tetap bertahan, aku tidak mau kehilanganmu ayahanda." Hatinya sangat sakit, apalagi ketika ia menyaksikan bagaimana ayahandanya saat itu bertarung dengan seseorang yang memiliki tenaga dalam yang sangat kuat. "Aku pasti akan membalaskan dendamku pada orang itu ayahanda." Dalam hatinya mulai timbul bara api dendam yang sangat membara.
...****...
Istana bagian kediaman Ratu Dewi Anindyaswari.
"Ibunda tidak menduga." Ratu Dewi Anindyaswari menatap lembut anaknya. "Jika kau akan menjadi seorang Raja anakku." Dengan perasan hari Ratu Dewi Anindyaswari berkata seperti itu.
"Ini semua karena Allah SWT ibunda." Responnya. "Juga kebaikan yang selama ini nanda terapkan."
"Syukurlah jika memang seperti itu Rayi." Ia senang mendengarnya. "Saya sangat senang, jika memang engkau yang menjadi Rajanya." Putri Agniasari Ariani tersenyum lega.
"Yunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menatap kakaknya.
"Saya tidak bisa membayangkan." Ungkapnya. "Jika salah satu dari mereka yang menjadi Raja." Raut wajahnya kali ini terlihat lebih muram. "Kehidupan kita akan semakin menderita." Hatinya semakin sedih. "Dan yang paling parah adalah? Kita akan diusir dari istana ini."
"Astaghfirullah hal'azim yunda." Balas Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Jangan berpikiran jauh seperti itu."
"Tapi memang seperti itu yang terjadi rayi." Responnya lagi. "Bahkan kau mengalaminya rayi." Hatinya terasa sakit. "Jau baru saja berkumpul bersama kami dalam purnama ini." Putri Agniasari Ariani hampir saja menangis mengingat bagaimana masa lalu adiknya.
"Ibunda rasa benar." Ucap Ratu Dewi Anindyaswari. "Apa yang telah dikatakan yundamu." Lanjutnya. "Setelah kepergianmu dari istana ini? Ibunda, yundamu." Matanya menatap ke arah anak perempuannya. "Tidak berani masuk ke istana utama." Lanjutnya dengan perasaan sedih. "Hanya tempat ini yang menjadi pelindung kami nak." Ungkap Ratu Dewi Anindyaswari. "Tempat yang engkau minta, pada ayahandamu." Air matanya perlahan-lahan mengalir begitu saja. "Dengan pengorbananmu yang sangat besar." Ratu Dewi Anindyaswari menangis sedih ketika mengingat bagaimana tekanan hidup yang mereka rasakan saat itu. "Terima kasih putraku nanda cakara casugraha."
"Selama kau pergi." Ucap Putri Agniasari Ariani. "Kami hanya berada di sini saja rayi." Ungkapnya lagi. "Hingga saat itu kau kembali."
Kembali ke masa itu.
Prabu Kawiswara Arya Ragnala saat itu membawa anaknya ke istana yang didiami oleh Ratu Dewi Anindyaswari dan Putri Agniasari Ariani.
"Apakah ini tidak apa-apa ayahanda?."
"Masuklah putraku." Prabu Kawiswara Arya Ragnala tersenyum kecil. "Ayahanda sangat yakin, jika ibunda, yundamu." Lanjut sang Prabu. "Sangat ingin bertemu denganmu." Tangannya mengusap sayang kepala anaknya. "Ini saatnya kau hadir di hadapan mereka."
"Tapi ayahanda?."
"Apakah kau tidak ingin?." Prabu Kawiswara Arya Ragnala kembali tersenyum. "Bertemu langsung dengan mereka?."
"Tentu saja ayahanda."
"Kalau begitu masuklah."
Raden Cakara Casugraha mencoba untuk masuk ke halaman, namun siapa yang menduga jika ibunda dan kakak perempuannya duduk di taman yang tak jauh dari halaman istana kecil itu?.
"Putraku nanda cakara casugraha." Ratu Dewi Anindyaswari langsung bangkit dari duduknya, melihat anaknya yang telah tumbuh menjadi remaja yang sangat gagah.
"Ibunda, hormat nanda, ibunda." Raden Cakara Casugraha memberi hormat pada ibunda.
"Rayi!." Putri Agniasari Ariani langsung berlari mendekati adiknya dan memeluk erat adiknya. "Rayi!." Tangisnya pecah begitu rasa rindu yang dalam telah meluap ketika melihat sosok yang ia nantikan selama ini.
"Kanda Prabu?." Ratu Dewi Anindyaswari menatap suaminya. "Apakah kanda membawa putra dinda kembali?." Dengan suara bergetar Ratu Dewi Anindyaswari bertanya seperti itu.
"Sesuai dengan janji." Respon Prabu Kawiswara Arya Ragnala. "Kanda membawa putra dinda kembali." Senyuman itu sangat meyakinkan.
"Putraku cakara casugraha." Ratu Dewi Anindyaswari memeluk anaknya dengan penuh kerinduan yang sangat dalam.
"Ibunda."
"Putraku cakara casugraha, akhirnya kau kembali anakku." Tangis sang Ratu pecah begitu ia dekap dengan erat tubuh anaknya.
"Saya kembali ibunda." Raden Cakara Casugraha membalas pelukan ibundanya.
"Ibunda sangat menantikan kepulangan mu anakku." Ratu Dewi Anindyaswari mengungkapkan semua gejolak di hatinya. "Ibunda sangat merindukanmu."
"Saya juga merindukan ibunda." Raden Cakara Casugraha mencoba menahan perasaan sedih yang membuncah di dalam hatinya saat. "Sangat ingin bersama dengan ibunda."
"Jangan pergi lagi." Tangannya menangkup wajah anaknya. "Jangan tinggalkan ibunda." Ia tatap wajah anaknya dengan lekat. "Ibunda sangat tersiksa, jika kau pergi lagi dari sisi ibunda." Kembali Ratu Dewi Anindyaswari memeluk anaknya. Begitu erat pelukannya hingga membuat Raden Cakara Casugraha sedikit sesak.
"Saya juga memohon padamu rayi." Ungkap Putri Agniasari Ariani. "Jangan pernah tinggalkan kami."
"Semoga saja tidak."
"Sungguh, maafkan kanda." Dalam hati Prabu Kawiswara Arya Ragnala. "Karena telah membuat kalian menangis seperti ini." Dalam hati Prabu Kawiswara Arya Ragnala merasakan haru yang sangat dalam. "Begitu banyak cobaan yang dilalui putraku cakara casugraha." Sang Prabu mengingat kembali. "Aku harap dia akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi." Dalam hati Sang Prabu hanya berharap yang terbaik untuk keluarga kecilnya bersama Ratu Dewi Anindyaswari.
Kembali ke masa ini.
"Tanpa ibunda sadari." Ratu Dewi Anindyaswari mencoba untuk tersenyum. "Kau telah tumbuh besar seperti ini anakku." Ungkapnya. "Begitu banyak, yang telah ibunda lewatkan." Matanya semakin berkaca-kaca. "Tidak menyaksikan engkau tumbuh sebesar ini."
"Ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat tersentuh.
"Pasti sangat besar, hari-hari yang telah engkau lewati." Hatinya sangat sesak. "Tapi sepertinya, engkau sangat tegar, untuk melewati semuanya."
"Ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sudah tidak tahan lagi. "Saya selalu berada di dekat ibunda." Dalam hatinya. "Hanya saja, saya tidak bisa mendekati ibunda secara langsung." Dalam hati sang Prabu sangat sakit, dan sesak mengingat masa lalu.
Ya, dengan kembalinya Raden Cakara Casugraha di hadapan ibundanya memberikan warna yang baru. Ada banyak kebahagiaan yang diungkapkan oleh sang Ratu untuk menyambut kepulangan anak bungsunya setelah sekian lama menjalani hukuman buangan. Hati ibu mana yang sanggup berpisah dengan anaknya dengan cara yang menyakitkan seperti itu?. Pasti tidak ada, ibu mana yang rela anaknya diperlakukan dengan tidak adil seperti itu.
...****...
Malam telah menyapa kerajaan Suka Damai, malam yang sangat sepi di beberapa tempat, apalagi dengan tersiarnya kabar kepergian Prabu Kawiswara Arya Ragnala, dan kini telah digantikan oleh putra bungsunya dengan gelar Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Kawasan hutan Sengkar Iblis, salah satu tempat yang ada di kerajaan Suka Damai, kawasan yang belum terjangkau oleh siapa saja, hingga kawasan itu dijadikan sebagai tempat para perampok, penjahat besar untuk bersembunyi di sana. Hutan yang tidak akan pernah didatangi oleh orang normal, hanya mereka yang berbuat kerusuhan saja tinggal di sana. Hari ini mereka ingin membuat kerusuhan di sebuah desa yang tak jauh dari hutan Sengkar Iblis, mereka seakan-akan hendak ingin menguji kekuatan yang dimiliki oleh Raja baru, karena mereka selama ini sedikit takut pada Prabu Kawiswara Arya Ragnala sehingga tidak berani masuk ke kawasan desa kerajaan Suka Damai.
Malam ini mereka beraksi untuk berbuat kerusuhan di desa, sehingga warga desa berlari ketakutan menyelamatkan diri dari amukan para penjahat. Suasana benar-benar panik, mereka menyerang tanpa perasaan iba pada orang tua, anak-anak dan wanita.
"Hahaha!." Ia tertawa keras. "Ini adalah hal yang sangat menyenangkan sekali!." Ucapnya dengan penuh kebahagiaan. "Saat melihat mereka berlari ketakutan." Seorang wanita tertawa keras melihat bagaimana situasi saat itu.
"Kau terlihat bersemangat sekali." Responnya. "Aku juga ikut senang melihat ini."
"Hajar saja mereka!." Teriaknya. "Aku yakin raja baru itu, tidak akan mengetahui!." Teriaknya lagi. "Apa yang kita lakukan pada rakyatnya malam ini."
Kedua wanita itu terlihat sangat bersemangat ketika melihat bagaimana mereka yang terkapar karena serangan dahsyat itu. Namun di dalam kepanikan itu ada sekelebat bayangan hitam yang menghampiri mereka. Tentu saja itu membuat ketiga pendekar kelompok Sengkar Iblis memperhatikan itu.
"Hei!." Ucapnya kesal. "Siapa kau?!." Tunjuknya kasar. "Berani sekali kau masuk! Ke dalam permainan kami!."
"Kalian yang siapa?." Responnya. "Kalian yang berani berbuat kerusuhan! Di wilayah kerajaan suka damai."
"Kami adalah kelompok pendekar dari sengkar iblis!." Jawabnya. "Kami yang akan menguasai wilayah ini!."
"Bukankah kalian itu tunduk pada Gusti Prabu kawiswara arya ragnala?!." Balasnya. "Lantas kenapa? Kalian sekarang malah berbuat kerusuhan di desa ini?."
Mereka tertawa mendengarkan ucapan sosok hitam misterius, sosok yang tidak dapat mereka ketahui itu?.
"Kami telah mendengarkan kabar." Jawabnya. "Bahwa Raja hebat itu telah tiada!." Lanjutnya. "Jadi? Kami tidak takut lagi! Untuk berbuat kerusuhan lagi! Di wilayah kerajaan ini! Hahaha!."
"Jadi? Kalian meremehkan kekuatan Raja baru ini?." Ada amarah yang hendak ia keluarkan.
"Kami tidak takut sama sekali!." Balasnya cepat. "Buktinya dia tidak datang! Di saat rakyatnya kami bantai seperti ini?! Hahaha!."
"Raja baru itu tidak ada apa-apanya." Ucapnya percaya diri. "Jadi? Kami akan merebut wilayah ini dari tangannya."
"Dan kau?!." Tunjuknya kasar. "Jika kau berani menghadapi kami?." Ucapnya lagi. "Kau duluan yang akan kami bunuh!." Tegasnya. "Kecuali kau mau ikut bergabung dengan kami, hahaha!."
Kembali tawa mereka pecah ketika salah satu dari temannya berkata seperti itu.
"Astaghfirullah hal'azim." Responnya. "Allah SWT tidak akan pernah menyukai orang zalim seperti kalian." Tunjuknya satu persatu pada merek. "Apalagi aku?." Balasnya dengan santai.
"Kurang ajar!." Responnya penuh amarah.
"Sebaiknya kalian pergi dari sini dengan damai!." Ucapnya lagi. "Aku ampuni kalian kali ini saja!." Tegasnya. "Tapi jika kalian berbuat kerusuhan lagi? Tidak ada maaf bagi kalian."
"Bedebah!." Makinya kasar. "Sombong sekali gaya bicaramu itu!."
"Dari ucapannya, itu artinya dia ingin mencari musuh dengan kita."
"Kalau begitu kita serang saja dia!."
Kelima pemuda itu maju untuk menyerang sosok misterius, tentu saja mereka merasa terhina dengan ucapan itu. Malam itu terjadi pertarungan antara pendekar Sengkar Iblis dengan sosok misterius. Walaupun tidak seimbang?.
Namun sosok itu menghadapi mereka dengan sangat santai, apalagi ketika dua orang diantara mereka menggunakan senjata yang sangat tajam, namun masih bisa menghindari serangan bertubi-tubi yang datang padanya. Keduanya mencoba untuk memberikan tebasan yang sangat kuat, tapi tetap saja pemuda misterius itu dengan sangat mudahnya menghindarinya, ia salurkan hawa murninya ke senjata kedua pendekar itu sehingga mereka merasakan adanya tekanan yang sagat kuat, untuk sesaat mereka tidak bisa bergerak karena tekanan hawa tenaga dalam dari pemuda misterius itu.
Akan tetapi tiba-tiba saja dari arah samping kirinya?. Ia melihat ada dua orang pemuda lainnya yang menyerangnya dengan pukulan tenaga dalam yang sangat kuat hendak menghantam tubuhnya, namun saat itu ia menyadarinya sehingga ia sempat memanfaatkan energi angin untuk melompat ke atas. Pemuda misterius itu selamat dari serangan pukulan tenaga dalam, dan tentu saja itu membuat mereka sangat terkejut.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Pemuda itu mendarat dengan sempurna setelah melompat untuk menghindari serangan tadi. "Ternyata kalian ingin main licik, main keroyokan?." Hatinya tidak terima. "Nyali kalian memang besar, akan aku ladani kalian." Ada hawa merah yang menyelimuti tubuhnya sebagai ungkapan kemarahan yang sangat luar biasa ia rasakan karena perbuatan mereka padanya.
"Maju saja kau orang buruk rupa, tidak usah banyak bicara!."
"Aku yakin kau hanya pandai bicara saja."
Duakh!.
"Eagkh!."
Namun apa yang terjadi?. Mereka semua terkejut, tiba-tiba saja tubuh kedua teman mereka terlempar begitu sangat jauh, menubruk pepohonan. Pemuda misterius itu menggunakan jurus nampak angin gempar, yaitunya jurus langkah cepat seperti angin. Jurus ini membuat lawannya kaku seperti patung karena tubuh mereka dialiri dengan sengatan aneh, saat itulah pengguna jurus ini dapat memanfaatkan tendangan atau pukulan yang sangat kuat untuk melumpuhkan lawannya.
"Bedebah!." Makinya keras. "Berani sekali kau melukai mereka!."
"Tidak usah banyak bicara, maju saja."
"Mari kita hadapi orang buruk rupa ini."
Sisa tiga diantara mereka yang tidak terima sama sekali atas apa yang telah terjadi pada dua lainnya. Malam itu pertarungan yang sangat sengit terjadi antara mereka, malam yang cukup panjang untuk pertarungan antar pendekar. Dengan kemapuan yang mereka miliki, pertarungan itu agak memakan waktu yang lama.
"Baiklah, jika kalian memang sangat memaksa." Suaranya tampak berbeda dari yang sebelumnya. Sorot matanya terlihat sangat tajam.
Walaupun seluruh sebagian wajahnya ditutupi oleh topeng hitam itu, namun sorot mata itu terlihat sangat jelas bahwa ia sedang marah besar, begitu juga dengan hawa kemerahan yang semakin menyelimuti tubuhnya.
"Siapa dia sebenarnya? Kenapa kekuatannya semakin besar?."
"Kita harus berhati-hati pada orang ini."
"Majulah kalian bersama-sama." Tantangnya. "Bukankah kalian yang menantang aku?!." Ia tersenyum aneh. "Tunjukkan nyali kecil kalian itu."
"Setan busuk! Kau merendahkan aku?!."
"Maju saja!." Setelah selesai memainkan gerakan jurusnya, ia maju untuk menyerang mereka semua.
Gerakannya semakin cepat, sehingga membuat mereka semua kewalahan menghadapi pemuda lincah itu, mereka seperti anak kecil yang sedang dipermainkan. Apalagi ketika tubuh mereka mendapatkan pukulan, sepakan, dari sosok misterius itu?.
"Kurang ajar!." Makinya dengan kasar. "Aku benar-benar merasa bodoh! Karena jurus orang itu!."
"Kita harus waspada."
"Lindungi aku, rasanya tubuhku mulai sakit karena pukulannya."
"Tidak usah banyak bicara." Ucapnya dengan santai. "Di mana sikap sombong kalian tadi?." Ia tersenyum licik. "Apakah sudah mulai pudar?."
"Bedebah!." Makinya, hatinya semakin panas. "Jika kau memang berani? Hadapi kami dengan nyata!."
"Aku tidak akan pernah tertipu, dengan orang jahat seperti kalian."
Mereka semua merasakan ada tekanan angin yang datang dari arah depan, sehingga mereka merasakan adanya pukulan kuat yang membuat mereka mundur beberapa langkah.
"Kurang ajar!." Seorang pendekar wanita mencoba untuk menyerang sosok misterius itu dengan jurusnya.
Sangat disayangkan sekali, ia gagal melakukan itu. Sosok misterius itu lebih pintar dari apa yang ia duga, pendekar wanita itu terjebak hingga mendapatkan sebuah totokan yang dapat membuat tubuhnya kaku tidak bergerak sama sekali.
Deg!.
Mereka yang melihat itu sangat terkejut, dan berniat untuk membantu temannya.
"Lepaskan dia!."
"Maju satu langkah lagi? Nyawanya akan melayang." Ia tempelkan belati kecil yang sangat tajam tepat di leher wanita itu.
"Kegh!."
"Pengecut!."
"Lepaskan dia!."
"Bertarung lah secara jantan!." Tegasnya, namun ada kepanikan di hatinya. "Pengecut kau orang buruk rupa!."
"Sebut saja aku seperti itu." Responnya. "Sementara kalian berani main keroyokan." Lanjutnya. "Jadi siapa yang lebih pengecut?."
"Keparat busuk! Lepaskan dia!."
"Tidak semudah itu aku melepaskannya." Ia menepuk pundak wanita itu. "Jika kalian ingin dia kembali? Cari lah aku jika kalian bisa."
Deg!.
"Hei! Bajing tengik!." Makinya kasar. "Jangan kabur kau!."
"Hei! Setan alus! Keluar kau!."
"Katanya kalian adalah pendekar kelompok iblis." Responnya dengan sangat santai. "Apakah hanya nama saja?." Ejeknya. "Tidak berguna sama sekali."
"Keparat busuk!." Makinya. "Jangan hina kami seperti itu!."
Mereka semua benar-benar sangat panik karena salah satu dari mereka diculik oleh sosok misterius itu, dan mereka tidak mengetahui ke mana pemuda asing itu membawa teman mereka.
"Ke mana dia pergi?." Hatinya sangat panas. "Aku tidak dapat merasakannya kakang."
"Kita benar-benar bodoh!." Umpatnya. "Karena ilmu kanuragannya lebih tinggi."
"Lantas? Apa yang harus kita lakukan?."
"Kita harus mencarinya sampai dapat." Balasnya. "Jangan sampai dia membunuhnya!." Ia panik. "Atau bahkan diberikan kepada Raja baru! Untuk diberikan hukuman."
"Tapi kita urus dulu mereka yang terluka."
"Sial! Malah ada beban lagi!." Umpatnya semakin marah. "Memang tidak berguna kalian ini! Hah! Merepotkan!."
"Mau bagaimana lagi? Kita urus mereka."
"Awas saja kau!." Dalam hatinya sangat marah.
Tentu saja tugas mereka akan bertambah, bukan hanya teman saja yang dibawa kabur oleh orang misterius itu, namun mereka juga harus mengurus kedua teman lainnya yang terluka akibat serangan orang misterius itu.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 372 Episodes
Comments
Anonymous
raja muda mulai memperlihatkan taring walaupun pakai penutup muka
2024-09-03
0
Anonymous
ajaran mulai menunjukkan perlindungan pada rakyatnya
2024-09-03
0
SoVay
hebat Thor
2021-12-14
0