...***...
Hutan Taring Belati Raga.
Duakh!.
"Eagkh!."
Terdengar suara teriakan yang sangat keras di sana, teriakan yang dipenuhi dengan kesakitan yang sangat luar biasa.
Prabu Asmalaraya Arya terkena jurus pukulan Telapak dewa kematian.
Sedangkan di saat yang bersamaan, Ki Dharma Seta juga terkena jurus cakar naga cakar petir milik Jaya Satria. Tubuh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terlempar jauh, karena jurus itu agak berbeda mengandung hawa racun yang berbahaya.
Namun siapa sangka tubuh itu ditangkap oleh seorang laki-laki tua, yang belum mereka ketahui. Lalu bagaimana dengan Jaya Satria?. Tubuhnya juga ditangkap oleh seseorang?. Kenapa dengan Jaya Satria?. Tubuh Jaya Satria seperti terkena hantaman tak kasat mata.
Tubuhnya juga terlempar jauh, dan seseorang menangkap tubuh itu agar tidak terbentur pohon.
Sementara itu, Ki Dharma Seta yang terkena jurus mematikan milik Jaya Satria berteriak keras, seluruh tubuhnya seakan terkena sengatan petir yang sangat kuat, hingga tubuhnya seperti hangus terbakar.
"Aki dharma seta!." Mayang Sari dan Semara Layana yang lolos dari Kematian terkejut, melihat kondisi ketua mereka dan segera menghampirinya.
"Aki dharma seta!."
Mayang Sari melihat ketuanya yang sedang sekarat, sepertinya ketuanya itu tidak bisa diselamatkan lagi.
"Bangunlah ki!."
"Sudahlah mayang sari, mari kita tinggalkan tempat ini."
"Tapi, mereka-."
"Sudahlah!." Balasnya cepat. "Tidak ada gunanya menangisi mereka." Lanjutnya. nyawa kita juga akan mati, jika terlalu lama berada di hutan ini."
Semara Layana menyeret tangan Mayang Sari agar meninggalkan tempat itu. Hanya saja Mayang Sari tidak tega untuk meninggalkan ketuanya di sana tanpa menguburkan jenazahnya, juga dua orang temannya yang tewas, akibat serangan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tadi.
...***...
Istana kerajaan Suka Damai.
Bilik Putri Andhini Andita.
"Rasanya sangat menyesal, aku sama sekali tidak bisa belajar ilmu Kanuragan." Ucapnya dengan kesalnya. Ia kembali ke kamarnya, ia terlihat cemberut. "Hampir saja aku menjadi korban, karena membuntuti anak terkutuk itu." Hatinya sangat kesal dengan itu.
"Lagi-lagi kau terlihat cemberut rayi." Tiba-tiba Putri Ambarsari menyapa adiknya yang terlihat merungut. "Kali ini masalah apa lagi?."
"Yunda?."
"Maaf, aku masuk begitu saja."
"Yunda terlihat bersemangat sekali." Ia mengamati raut wajah kakaknya. "Apakah ada sesuatu yang menyenangkan?." Lanjutnya. "Apa yang yunda dapatkan?."
"Coba tebak?."
"Hm." Putri Andhini Andita mencoba berpikir. "Aku tidak mengetahuinya yunda."
"Hahaha!."
"Jangan tertawa yunda."
"Kau ini ya."
Putri Ambarsari berusaha menahan tawanya.
"Dengarkan aku rayi." Ucapnya. "Kami telah membuat rencana, untuk menyingkirkan rayi Prabu."
"Apa?." Ia sangat terkejut. "Kenapa yunda berkata seperti itu?." Hatinya gelisah. "Apakah itu tidak berbahaya?." Lanjutnya. "Menyingkirkan Raja sah?."
"Tenanglah rayi."
"Coba ceritakan yunda."
"Kami telah melakukan rencana pembunuhan." Ucapnya. "Menyewa pendekar pembunuh bayaran." Lanjutnya. "Itu dilakukan ketika ia hendak pergi ke hutan taring belati raga."
"Tapi?." Ucapnya aneh. "Bukankah? Ia juga akan berhadapan? Dengan banyak pendekar golongan hitam?." Lanjutnya. "Di hutan taring belati raga?." Hatinya merasa aneh. "Kenapa? Masih menyewa pendekar pembunuh bayaran?."
"Lebih cepat, lebih baik rayi." Jawabnya dengan penuh percaya diri. "Tidak perlu menunggunya sampai di sana."
"Tapi kenapa? Yunda dan raka tidak mengajakku?."
Putri Ambarsari tersenyum kecil, ia mengelus rambut adiknya. "Kami hanya tidak ingin." Ucapnya lembut. "Adik kecil kami kenapa-kenapa." Lanjutnya. "Jika kau ikut dengan kami menemui pembunuh bayaran itu."
Tidak ada tanggapan dari Putri Andhini Andita, hatinya masih memikirkan hal yang lain.
"Kami berempat hanya menginginkan kau." Ucapnya lagi. "Yang nantinya menjadi rajanya."
Deg!.
Putri Andhini Andita terkejut mendengarnya.
"Kami berempat yang akan menjadi penggawamu yang setia" Lanjutnya lagi, dengan senyuman tulus.
"Apa-apaan ini?." Dalam hatinya benar-benar bingung. "Ini sangat aneh."
...***...
Sebuah pondok kecil.
"Demi dewata yang agung, aku tidak tega melihat keadaan mereka."
"Aku juga tidak tega melihatnya kakang."
Keduanya menghela nafas. Rasanya sesak, melihat Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, dan juga Jaya Satria terbaring lemah seperti ini.
"Semoga Allah SWT, selalu memberikan ketabahan pada keduanya kakang." Hatinya sangat sedih. "Rasanya aku gagal." Ungkapnya dengan perasaan sesak. "Aku malu pada mendiang gusti prabu kawiswara arya ragnala." Ucapnya dalam tangisnya.
"Setidaknya kita sudah berusaha adi Syekh." Balasnya. "Kita hanya menunggu reaksi obat saja." Matanya terus mengamati kondisi Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria. "Semoga dewata agung, masih menyayangi keduanya." Air matanya telah membasahi pipinya. "Memberikan kesembuhan pada Gusti Prabu."
"Semoga saja kakang." Syekh Asmawan Mulia menghapus air matanya. "Aku sangat berharap sekali." Ucapnya mencoba tegar. "Aku tidak akan memaafkan diriku." Hatinya terasa sakit. "Jika aku gagal melindunginya."
"Kuatkan hatimu adi Syekh." Aki Jarah Setandan menepuk pundak Syekh Asmawan Mulia. "Aku yakin keduanya adalah orang yang kuat." Ucapnya yakin. "Pasti ada keajaiban, bagi keduanya."
Keduamu tampak sangat cemas dengan apa yang terjadi pada Raden Cakara Casugraha.
"Sampurasun."
"Rampes."
"Gusti Prabu." Syekh Asmawan Mulia dan Aki Jarah Setandan memberi hormat.
"Terima kasih saya ucapkan." Sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala memberi hormat pada keduanya. "Pada kakang jarah setandan, juga adi Syekh asmawan mulia." Sang Prabu tersenyum kecil. "Karena telah menolong nanda cakara casugraha."
"Maafkan hamba Gusti Prabu." Syekh Asmawan Mulia memberi hormat. "Hamba gagal, dan tidak sempat." Ungkapnya. "Membantu nanda Prabu, dan menyelamatkannya."
"Kami terlambat datang." Ucap Aki Jarah Setandan. "Sehingga kondisi nanda Prabu, terluka parah seperti ini."
"Sungguh, maafkan kami Gusti Prabu."
Sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala memperhatikan keadaan kedua anaknya yang sedang terbaring di tempat tidur.
"Kakang jarah setandan, adi Syekh."
"Hamba Gusti." Kembali keduanya memberi hormat.
"Ini bukan salah kalian." Sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala tersenyum kecil. "Takdir memang tidak bisa kita hindari." Lanjut sang Prabu. "Kalian berdua, telah berusaha mengobatinya." Tatapan mata sang Prabu sangat tulus. "Terima kasih, telah mengobati nanda Prabu asmalaraya arya ardhana." Senyuman sang Prabu begitu lembut. "Tanpa adanya kalian berdua, nanda Prabu tidak akan bisa selamat."
"Oh? Gusti Prabu."
Syekh Asmawan Mulia dan Aki Jarah Setandan tidak dapat menahan air mata, ucapan Sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala sangat menyentuh hati keduanya.
...***...
Di desa Agung Setia.
"Mohon maaf sebelumnya." Ucapnya sambil memberi hormat. "Apakah hamba boleh bertanya Gusti Putri?."
"Apa yang hendak kau tanyakan rangga ulung?." Respon Putri Agniasari Ariani. "Tanyakan saja."
"Apa yang membuat Gusti Putri? Bisa sampai berada di kawasan ini?." Keningnya terlihat mengkerut aneh. "Apakah Gusti Putri? Hendak melakukan sesuatu?."
Putri Agniasari Ariani belum menjawabnya, ia memikirkan kembali tujuannya sampai ke desa itu.
"Sebenarnya aku hendak mengembara." Jawabnya. "Mencari seseorang yang bisa, mengajari aku tentang agama Islam."
"Gusti Putri ingin masuk Islam?."
"Ya." Jawabnya. "Aku ingin masuk Islam." Lanjutnya. "Aku ingin belajar mengenal sang pencipta." Tatapan matanya sangat jauh. "Aku ingin mengetahui semuanya."
"Keinginan Gusti Putri sangat berbeda sekali." Rangga Ulung tersenyum kecil. "Maaf, hamba tidak mengetahui." Kembali ia memberi hormat. "Siapa guru yang pantas? Untuk masalah itu."
"Tidak apa-apa." Balasnya. "Semoga saja, dalam pengembaraan yang aku lakukan." Lanjutnya. "Aku bisa menemukannya."
"Semoga Gusti Putri, menemukan apa? Yang Gusti Putri cari."
"Semoga saja." Putri Agniasari Ariani sangat senang mendengarnya.
...***...
Istana kerajaan Suka Damai, Istana Selatan.
Ratu Dewi Anindyaswari masih menunggu kepulangan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, hatinya belum usai mencemaskan keadaan anaknya.
"Putraku nanda cakara casugraha." Ratu Dewi Anindyaswari tidak bisa tenang. "Kenapa nanda belum kembali nak?." Matanya menatap ke halaman Istana. "Sebentar lagi malam akan datang." Hatinya terasa pedih. "Tapi kenapa? Nanda belum kembali?." Hatinya masih cemas, menunggu kedatangan anaknya.
Entah berapa kali Ratu Dewi Anindyaswari mondar-mandir di depan gerbang istana selatan.
"Mohon ampun Gusti Ratu." Seorang emban datang mendekati Ratu Dewi Anindyaswari sambil memberi hormat.
"Ada apa emban? Katakan padaku."
"Hamba telah menyiapkan makan malam untuk Gusti Ratu." Jawabnya. "Hamba harap Gusti Ratu memakannya sebelum dingin."
Ratu Dewi Anindyaswari memperhatikan emban tersebut. "Saat ini aku sangat gelisah." Balas Ratu Dewi Anindyaswari. "Aku tidak enak hati untuk makan." Lanjutnya. "Simpan saja makanan itu emban."
"Sandika Gusti Ratu."
Tanpa menunggu perintah lebih lanjut?. Emban tersebut pergi meninggalkan tempat itu, ia segera melakukan perintah Ratu Dewi Anindyaswari.
"Putraku?." Pikirannya masih tertuju pada anaknya. "Kembali lah nak." Hatinya seperti disayat sembilu tajam. "Semoga kau baik-baik saja nak." Ratu Dewi Anindyaswari hanya bisa menahan semua perasaaan sesak itu di hatinya.
...***...
Di bawah alam sadar Jaya Satria.
Ia seperti sedang bertemu dengan Gusti Prabu Kawiswara Arya Ragnala, sosok yang sangat ia rindukan.
"Gusti Prabu?."
Air matanya menetes deras dibalik topeng penutup wajahnya. Ia ingin sekali memeluk prabu Kawiswara Arya Ragnala. Namun ia tidak bisa melakukannya, karena saat ini kondisi tubuhnya sangat lemah, bahkan untuk bergerak sedikit saja tidak bisa.
"Tenanglah." Responnya dengan senyuman lembut. "Aku selalu bersamamu, di setiap langkahmu anakku." Prabu Kawiswara Arya Ragnala yang memeluk Jaya Satria, sang Prabu tidak tega melihat ketidakberdayaan Jaya Satria.
"Gusti Prabu, maafkan hamba." Jaya Satria menangis, karena tubuhnya sangat tidak bisa digerakkan.
"Tenanglah." Tangannya menghapus air mata Jaya Satria. "Aku yakin kau kuat, menghadapi masalah ini." Senyumannya mengembang begitu saja. "Karena kau orang yang kuat, dalam kondisi apapun." Sang Prabu memeluk erat tubuh itu, mengusap punggung itu penuh dengan kasih sayang, dan sesekali mencium puncak kepala Jaya Satria agar ia tenang.
"Gusti Prabu." Bibirnya bergetar ketika menyebut nama itu.
"Jangan menangis." Ucap Prabu Kawiswara Arya Ragnala sambil mengusap sayang kepala anaknya. "Walaupun keadaanmu terluka." Lanjut sang Prabu. "Tetapi menangis lah dengan bahagia." Perasaan sang Prabu sangat dalam. "Kau mampu mengendalikan kemarahan mu." Hati sang Prabu mencoba tegar. "Kau mampu melindunginya dengan baik." Prabu Kawiswara Arya Ragnala tahu, bagaimana kesedihan yang dirasakan oleh Jaya Satria saat ini.
"Hamba telah berusaha dengan baik." Dadanya terasa sesak. "Namun hamba, malah menyakitinya." Ia tidak dapat menyembunyikan perasaan pedih itu. "Dengan ketidakmampuan hamba, Gusti Prabu." Jaya Satri masih menangis terisak, ia merasa gagal melindungi prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Tidak." Bantah Prabu Kawiswara Arya Ragnala, menangkup wajah anaknya dengan lembut. "Ia baik-baik saja." Senyumannya begitu lembut. "Rasakan lah keadaannya di sini." Sang Prabu menunjuk ke arah dada kiri Jaya Satria. "Karena sesungguhnya kau dan dirinya, bisa saling terhubung." Lanjut sang Prabu. "Kau bisa mengetahui dirinya, melalui dirimu sendiri."
"Benarkah itu Gusti Prabu?." Ada harapan di hatinya. 'Apakah memang seperti itu yang terjadi?."
Suasana hatinya sangat gelisah. Perasaan bersalah telah menghantui dirinya, ia tidak bisa menghindari itu dengan baik.
"Percayalah." Respon sang Prabu. "Maka kau akan mengetahui kebenarannya."
Prabu Kawiswara Arya Ragnala, selalu meyakinkan Jaya Satria, agar percaya dengan apa yang ia katakan.
"Jangan bebani pikiranmu." Tangannya kembali mengelus sayang kepala Jaya Satria. "Dengan hal-hal yang menakutkan tentangnya."
Prabu Kawiswara Arya Ragnala mencium puncak kepala Jaya Satria, hatinya masih tetap sama. Cinta seorang ayah, terhadap anaknya.
...***...
Malam harinya.
Sesuai dengan rencana, Putri Agniasari Ariani dan Rangga Ulung melakukan rencana yang telah mereka buat.
Putri Agniasari Ariani berpura-pura menjadi gadis desa, ia memancing dua orang pendekar jahat untuk mengikutinya.
"Hei!." Cegatnya. "Sebenarnya? Kau ingin mau membawa kami ke mana?."
Putri Agniasari Ariani tersenyum kecil. "Aku akan membawa kalian ke neraka."
Deg!.
Keduanya sangat terkejut ketika melihat sosok mengerikan berdiri di belakang Putri Agniasari Ariani.
"Kurang ajar!." Umpatnya penuh amarah. "Ternyata kita ditipu kakang!."
"Kalau begitu?." Responnya. "Kita hajar saja mereka!."
Dengan perasaan marah yang luar biasa? Mereka menyerang Putri Agniasari Ariani dan Rangga Ulung, namun itu hanyalah sia-sia, karena mereka telah terkena pengaruh racun asap yang sangat mematikan. Dengan sangat mudahnya keduanya dapat dilumpuhkan.
"Apakah menurutmu ini cara yang baik?."
"Gusti Putri tidak tega melakukannya?."
"Tidak!." Responnya cepat. "Mereka bahkan tidak tega melakukan kejahatan!." Tegasnya. "Pada orang lain." Hatinya sangat benci. "Maka kita tidak boleh lembek pada mereka!."
"Baiklah." Balasnya. "Kalau begitu mari kita lanjutkan."
"Mari."
Putri Agniasari Ariani dan Rangga Ulung bersembunyi, mereka menunggu para penjahat itu masuk ke dalam desa. Mereka telah sepakat akan melakukan itu, walaupun tidak wajar?. Namun hanya itu satu-satunya cara agar mereka tidak masuk ke dalam desa, dan membunuh penduduk desa Agung Setia.
...***...
Di pinggir telaga warna bidadari.
Akhirnya putri Gempita Bhadrika sampai di telaga warna bidadari. Ia sangat senang, karena telah berada di tempat yang sudah lama ia cari.
"Aku harus segera mengambil airnya." Ucapnya dengan sangat yakin. "Agar ayahandaku bisa selamat dari kematian." Putri Gempita segera mengambil botol kecil, yang ia bawa untuk menyimpan air itu. Namun ketika ia hendak mengambil air itu, tiba-tiba ada sosok wanita yang melompat ke arahnya, mencegahnya mengambil air telaga warna bidadari.
"Hei! Siapa kau?!." Tegur wanita itu, yang tak lain adalah Nini Kabut Bidadari, yang terlihat marah padanya. "Siapa kau?!." Ulangnya lagi. "Berani sekali! Kau mengambil air itu! Tanpa izin dariku!."
Suara Nini Kabut Bidadari terdengar cukup keras, ia benar-benar tidak suka, ada yang masuk ke wilayahnya tanpa izin, apalagi mengambil air telaga warna bidadari.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku!." Balasnya penuh amarah. "Aku hanya membutuhkan air telaga ini!." Tegasnya. "Untuk menyembuhkan ayahandaku!." Hatinya terasa panas seketika. *Minggir kau!."
"Kau berani memasuki wilayah ini?." Matanya melotot tajam. "Dan kau berani menyuruh aku minggir?." Hatinya sangat tidak terima itu. "Apakah kau sudah tidak tahu sopan santun?." Kemarahannya sudah tidak bisa dikendalikan lagi. "Ketika masuk wilayah orang?! Hah?!." Nini kabut Bidadari sangat jengkel.
"Cerewet sekali wanita tua ini." Dalam hati Putri Gempita Bhadrika dengan jengkelnya.
"Siapa wanita muda ini?." Dalam hatinya heran. "Mengapa sorot matanya itu terlihat sedang dendam?." Dalam hatinya dapat menangkap bagaimana sorot mata Putri Gempita Bhadrika. "Hei! Kenapa kau diam saja?!." Entah kenapa ia sangat jengkel.
"Aku tidak perlu izin dari siapapun!." Balasnya cepat. "Untuk melakukan apapun!." Lanjutnya penuh amarah. "Karena aku ini!." Tegasnya dengan keras. "Adalah seorang putri penguasa di dunia kegelapan! Bahkan di dunia ini!." Balas Putri Gempita mengatakan dirinya adalah seorang putri dari seorang Raja penguasa?. Yang artinya ia berkuasa segala-galanya?.
"Kurang ajar!." Umpatnya kesal. "Kau memang harus aku beri pelajaran!." Ia tidak dapat lagi menahan dirinya. "Agar kau tahu!." Ucapnya penuh penegasan. "Tidak semuanya bisa kau kuasai!." Lanjutnya. "Termasuk air telaga warna bidadari ini!." Nini Kabut Bidadari benar-benar dibuat marah, oleh wanita muda itu.
Nini Kabut Bidadari menyerang Putri Gempita Bhadrika, yang menurutnya sangat tidak sopan, dan malah menyombongkan diri padanya. Apakah wanita muda ini ingin merasakan jurus mematikan miliknya?.
Pertarungan terjadi diantara mereka berdua. Nini Kabut Bidadari menyerangnya, dengan memberikan pukulan ke arah tubuh kiri Putri Gempita Bhadrika.
Namun putri Gempita Bhadrika, tidak membiarkan diserang. Ia menangkis serangan yang datang padanya, ia malah menyerang balik Nini Kabut Bidadari, dengan menggunakan pedang yang ia bawa sebagai senjatanya.
Sedangkan Nini Kabut Bidadari mencabut salah satu daun itu, dan ia mengubah daun itu menjadi sebuah senjata berupa cambuk. Apakah pertarungan mereka akan berlangsung seru?. Baca terus ceritanya.
......***......
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memacu cepat kudanya. Namun ditengah perjalanan, ia dicegat oleh dua orang pendekar yang berlagak sombong. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedikit terkejut, begitu juga dengan kuda yang ia tunggangi. Hampir saja ia jatuh dari kudanya jika saja ia tidak memegang kuat tali pengekang kudanya.
"Turun kau!." Ucap salah satu dari mereka dengan suara keras.
Sementara sang Prabu sedang berusaha, untuk menenangkan kudanya yang terkejut, karena kehadiran mereka yang mendadak. Setelah kudanya tenang, sang Prabu turun dari kudanya, dan mengikat kudanya agar tidak melarikan diri nantinya.
"Apa yang kalian inginkan dariku?." Sang Prabu masih bersikap biasa saja. "Hingga kalian mencegat perjalananku kisanak?."
Dan mereka saling bertatapan satu sama lain, setelah itu mereka tertawa keras?. Tentunya membuat sang Prabu kebingungan, apa yang mereka tertawakan?. Apakah ada yang lucu dengan ucapannya tadi?. Namun kebingungan sang prabu terjawab karena ucapan salah satu dari mereka.
"Kami menginginkan kematianmu!."
"Kau harus segera mati di sini!."
Suara itu semakin tinggi, apalagi saat mengatakan menginginkan kematian sang prabu, setelah itu mereka kembali tertawa aneh.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa aneh dengan sikap mereka, sang Prabu sedikit menghela nafasnya dengan pelan. "Allah SWT yang telah menciptakan aku." Ucap sang Prabu. "Namun belum menginginkan kematianku." Lanjut sang Prabu. "Tapi mengapa? Manusia seperti kalian? Malah menginginkan kematianku?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menatap mereka dengan aneh. "Apa salahku pada kalian?."
"Banyak bicara kau!." Balasnya. "Prabu asmalaraya arya ardhana." Ucap salah satu dari mereka dengan nada membentak. "Banyak yang akan kami tuntut darimu!."
"Ya Allah, siapa mereka?." Dalam hati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat waspada. "Mengapa mereka mengenali hamba?." Dalam hati sang Prabu sangat heran. "Bahkan ketika hamba mengenakan topeng seperti ini?." Dalam hati prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa cemas.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak mengerti, padahal tujuannya mengenakan topeng ini adalah agar dirinya tidak dikenali, namun siapa sangka ada yang mengenalinya?. Apakah mereka orang yang sengaja membututi dirinya dari istana?.
"Siapa yang kalian maksudkan?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana masih terlihat tenang. A"ku ini hanyalah seorang pengembara." Lanjut sang Prabu. "Yang ingin meneruskan perjalanannya." Senyuman ramah masih terlihat darinya, walaupun setengah dari wajahnya tertutup oleh topeng hitam. "Sepertinya kalian salah orang."
Prabu Asmalaraya Arya mencoba mengelabui mereka, akan tetapi. Tetap saja mereka tidak percaya, dan malah semakin menertawakan sang prabu?.
"Kami tahu kau siapa?!." Mereka malah semakin membentak Prabu Asmalaraya Arya Ardhana?. "Tidak usah berlagak lagi!." Lanjutnya. "Karena sebentar lagi, kau akan mati ditangan kami."
"Serang saja dia!."
"Kau akan mati di sini cakara casugraha!."
Setelah berkata seperti itu, mereka berdua malah menyerang sang Prabu, beruntung Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang menyadari serangan itu, dengan cepat menghindarinya, bahkan membalas serangan kedua pendekar itu.
"Aku rasa mereka ini adalah orang suruhan." Dalam hati sang Prabu. "Jika tidak? Mana mungkin mereka mengenali aku." Dalam hati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memikirkan kemungkinan itu, mengapa mereka menyerang dirinya, sementara belum banyak mengetahui sosoknya yang sekarang. prabu Asmalaraya Arya Ardhana kembali menyerang dengan jurus-jurusnya, karena ia sedang terburu-buru.
"Jaya Satria." Dalam hati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana semakin gelisah. "Tunggulah aku barang sebentar." Sang Prabu berusaha melawan mereka. "Aku akan segera ke sana, setelah aku berhasil mengalahkan mereka!." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memainkan jurus Cakar Naga Cakar Petir, untuk mempercepat pertarungan, disertai dengan pedang pelebur Sukma. "Jadi aku mohon, bertahanlah."
Dalam hati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana berusaha, agar tidak membuang-buang waktu, hanya untuk meladeni kedua penjahat itu. Tapi sayangnya, tidak semudah itu melewati kedua orang itu karena mereka memiliki ilmu kanuragan yang cukup mempuni.
Berbagai serangan yang ia terima. Mulai hantaman, tendangan, baik pukulan ia terima dari keduanya disaat yang bersamaan. Seakan mereka ingin memecahkan konsentrasi prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
Pertarungan itu terasa cukup lama, membuat sang Prabu merasa gusar, karena memikirkan keadaan Jaya Satria. Apakah ia masih bisa bertahan, sebelum ia sampai ke sana?. Pikiran buruknya mendadak keluar begitu saja.
"Jaya Satria, bertahanlah!."
Teriaknya sekuat tenaga, hingga tanpa sadar tubuh itu terbangun?. Terbangun dengan cepat?. Apakah yang terjadi?. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terkejut, hingga terbangun?.
Begitu juga dengan raga Jaya Satria yang tadinya duduk malah mendadak bangun karena terkejut. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana melihat ke samping kanannya, namun tidak menemukan siapapun.
Saat menoleh ke arah kiri, matanya melihat sosok yang mengenakan topeng, juga duduk disampingnya. Entah mengapa hatinya merasa lega melihat sosok itu, hingga tanpa sadar memeluknya, membuat Jaya Satria sedikit heran.
"Gusti Prabu?!."
"Jaya Satria?!."
Apa yang akan terjadi berikutnya?. Baca terus ceritanya.
...***...
Putri Agniasari Ariani dan Rangga Ulung kembali beraksi, keduanya benar-benar melakukan tugas itu dengan sangat baik, tidak mereka beri kesempatan pada para pendekar jahat itu melawan.
"Kurang ajar!." Dengan keadaan yang hampir sekarat?. Ia masih melihat musuhnya. "Kalian memang pengecut!." Suaranya hampir tidak bisa didengar.
"Maaf saja." Balasnya. "Kami tidak memiliki waktu yang banyak." Lanjutnya. "Untuk bertarung dengan kalian." Putri Agniasari Ariani mencoba menekan perasaan iba di hatinya.
"Itu adalah hukuman yang pantas! Untuk kalian." Rangga Ulung menatap tajam ke arah mereka. "Kalian yang telah melanggar perjanjian!." Ucapnya keras. "Dengan mendiang Gusti Prabu kawiswara arya ragnala!." Tegasnya. "Maka terima hukuman ini dari kami!."
Namun setelah itu tidak ada lagi tanggapan dari mereka, karena racun asap itu sangat ganas, bukan hanya menggerogoti pakaian, racun itu juga menggerogoti tubuh mereka. Sehingga mereka tidak dapat melawan, tenaga mereka terkuras habis oleh racun ganas itu.
"Dengan ini tugas kita telah selesai." Ia tersenyum puas. "Dan penduduk desa akan kembali aman." Rangga Ulung menatap mereka yang sudah pindah alam?.
"Kalau begitu." Balasnya. "Kita panggil kepala desa." Ia tersenyum kecil. "Kita kubur mereka malam ini juga."
"Ya, tidak baik menunggu sampai besok." Responnya. "Akan berbahaya, jika anak-anak melihat pemandangan mengerikan ini."
"Kalau begitu?." Balasnya. "Mari kita segera ke rumah kepala desa."
"Mari Gusti Putri."
Keduanya segera pergi meninggalkan perbatasan desa, mereka tidak mau berlama-lama.
"Sepertinya ini akan membutuhkan waktu yang cukup lama." Ucapnya. "Hamba harap Gusti langsung istirahat saja." Rangga Ulung melirik ke arah Putri Agniasari Ariani. "Sisanya serahkan pada hamba." Lanjutnya lagi. "Karena ini sudah tengah malam." Ia mengamati keadaan sekitarnya. "Hamba akan mengantar Gusti, menuju tempat penginapan di desa."
"Baiklah kalau begitu." Putri Agniasari Ariani tersenyum kecil. "Mohon bantuannya rangga ulung."
"Sandika Gusti Putri."
"Kau juga istirahat lah." Balasnya. "Setelah melakukan semua pekerjaan merepotkan itu."
"Tentu saja Gusti Putri, hehehe!." Rangga Ulung malah terkekeh geli mendengarkan ucapan Putri Agniasari Ariani. "Gusti Putri agniasari ariani ternyata bisa diajak bercanda." Dalam hatinya tidak menduga itu, ia pikir akan berbicara kaku dengan Putri Agniasari Ariani.
Hanya itu yang bisa dilakukan untuk melindungi desa, apakah tidak apa-apa?. Hanya waktu yang akan menjawab semua pertanyaan itu.
Bagaimana kisah selanjutnya?. Apa yang akan dilakukan Putri Agniasari Ariani selanjutnya?. Simak dengan baik kisahnya..
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 372 Episodes
Comments
Anonymous
apakah kembar mereka
2024-09-03
0
SoVay
masih nunggu konfirmasi dr editor lg
2021-12-18
1