...****...
Begitu sampai di Istana. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasakan kehadiran Jaya Satria. la segera keluar istana, menuju gerbang istana.
"Prajurit, bantu raden hadyan hastanta menuju ruang pengobatan." Perintah Jaya Satria, meskipun mereka awalnya ragu siapa yang membawa Raden Hadyan Hastanta dalam keadaan terluka. "Tunggu apalagi?! Apa kalian menginginkan junjungan kalian mati?."
Agak kesal juga Jaya Satria karena prajurit istana malah seperti mau menyerangnya. Namun akhirnya mereka menyambut Raden Hadyan Hastanta karena ia terlihat kesakitan.
"Ada apa raka jaya Satria?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mendekat. "Mengapa raka hadyan hastanta terluka seperti itu?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terlihat sangat gelisah.
"Tadi ia terkena jarum beracun." Jawabnya. "Serangan dari salah satu kelompok sengkar iblis."
"Apa?." Respon sang Prabu. "Raka hadyan hastanta terkena jarum beracun?." Terkejut?. "Lantas? Apakah raka bisa menyembuhkannya?."
"Gusti prabu tenang saja." Jaya Satria memberi hormat. "Hamba telah menghentikan aliran darahnya." Lanjutnya. "Setidaknya racun itu tidak terlalu menyebar, nyawanya masih bisa diselamatkan."
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa lega. "Syukurlah, akan berbahaya jika racun itu, sampai menyebar ke tubuhnya."
Namun yang tak terduga adalah, putri Andhini Andita lagi-lagi melihat kedekatan adiknya dengan sosok misterius itu. Putri Andhini Andita yang melihat itu selalu bertanya, siapakah sosok itu?. Dulu sosok misterius itu juga pernah menolongnya beberapa kali.
"Sebenarnya siapa orang itu?." Dalam hatinya. "Mengapa ia bersama dengan rayi Prabu?." Hatinya semakin penasaran. "Bahkan ia dulu juga pernah bersama ayahanda prabu." Dalam hati putri Andhini Andita bertanya-tanya. "Apakah mereka memiliki hubungan yang sangat dekat?." Ia tampak berpikir. "Atau apa?." Ia merasakan ada yang aneh. "Rasanya aku semakin penasaran dengan hubungan mereka." Dalam hati Putri Andhini Andita semakin penasaran dengan itu. "Aku akan mencaritahu jawabannya." Ia mulai bertekad. "Aku sangat penasaran dengan orang itu." Ia menghela nafas lelah. "Aku yakin ada aib yang bisa aku bongkar dari cakara casugraha, melalui orang itu." Rasa penasaran yang menyelimuti hatinya. Membuat ia mengamati adiknya juga orang bertopeng itu.
Sementara itu.
"Hamba mohon pamit Gusti Prabu." Jaya Satria memberi hormat. "Sebab hamba ingin menyelidiki, sejauh mana kelompok sengkar iblis." Lanjutnya. "Berkeliaran di wilayah kerajaan suka damai."
"Baiklah jaya satria." Respon Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Saya harap engkau berhati- hati dalam bertindak, jangan sampai ceroboh."
"Insyaallah." Balasnya. "Semoga saja hamba selalu bisa mengendalikan diri." Lanjutnya. "Untuk tidak mengeluarkan amarah yang merugikan itu Gusti."
"Kalau begitu berhati-hatilah." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat cemas. "Tapi ingat!." Tegas sang Prabu. "Jagalah amarahmu, jangan sampai kau melepaskan amarahmu itu." Pesan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana pada Jaya Satria agar terus berhati-hati.
"Sandika Gusti Prabu." Jaya Satria kembali memberi hormat. "Akan hamba ingat selalu, pesan Gusti Prabu." Lanjutnya dengan senyuman kecil. "Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh." Jawab sang Prabu
"Berhati-hatilah raka jaya satria." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana melihat kepergian Jaya Satria. "Ya Allah." Dalam hati sang Prabu. "Lindungi dia dari bahaya, yang selalu mengancam keselamatannya." Dalam hati sang Prabu berdoa. "Hanya kepada-Mu lah, hamba berserah diri. Aamiin, amin, Rabbal 'alamin"
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana selalu mendoakan keselamatan Jaya Satria. Ia tidak mau terjadi sesuatu padanya. Hatinya sangat cemas bila Jaya Satria pergi menjauh darinya. Sementara itu, Putri Andhini melihat dan mendengarkan apa yang dikatakan kakaknya. Sejenak dia ingat apa yang dikatakan ayahandanya kepada orang misterius itu.
Kembali ke masa ketika Prabu Kawiswara Arya Ragnala masih hidup. Ini adalah ingatannya tentang hari itu. Ketika ayahnya mengatakan persis sama dengan saudara perempuannya.
"Hormat hamba Gusti Prabu." Jaya Satria memberi hormat kepada Prabu Kawiswara Arya Ragnala, rasa hormatnya begitu tulus sang prabu.
"Aku terima hormatmu jaya satria." Balas sang Prabu sambil tersenyum kecil.
Sementara itu disisi lain ada putri Andhini yang sedang melihat ayahandanya bersama sosok misterius bertopeng. Ia begitu penasaran dengan sosok yang berkali-kali bersama ayahandanya.
"Apa yang ingin kau katakan padaku jaya satria?." Senyuman sang Prabu sangat tulus. "Sepertinya kau terlihat sedang memikirkan sesuatu."
Prabu Kawiswara Arya Ragnala dapat membaca dengan baik, gelagat yang ditunjukkan oleh Jaya Satria.
"Mohon ampun Gusti Prabu." Jaya Satria kembali memberi hormat. "Sepertinya ada kerusuhan di desa lesung batu." Lanjutnya. "Hamba mohon Gusti Prabu, agar mengutus hamba ke sana." Ucapnya dengan serius. "Untuk mereda kerusuhan tersebut."
Prabu Kawiswara Arya Ragnala nampak sedikit berpikir. Apakah sang Prabu akan mengizinkan kepergian Jaya Satria?.
"Hamba mohon gusti mempertimbangkannya." Kembali ia memberi hormat. "Karena hanya hamba yang bisa ke sana."
"Tapi jaya satria-."
"Para Senopati, juga putra mahkota sedang tidak ada di istana." Balasnya cepat. "Dan tidak mungkin Gusti Prabu meninggalkan istana." Lanjutnya lagi. "Jadi? Hamba mohon pertimbangkan kembali." Ia menatap Prabu Kawiswara Arya Ragnala dengan sungguh-sungguh. "Hamba takut para perusuh itu, akan membunuh rakyat yang tidak berdosa, gusti prabu."
Jaya Satria terus memohon kepada sang Prabu agar segera mengutusnya ke sana. la tidak mau terjadi sesuatu di desa itu.
Prabu Kawiswara menghela nafasnya. Agak terasa berat ia memberi izin pada Jaya Satria. Tapi sang Prabu mengetahui, bahwa Jaya Satria akan tetap pergi ke sana, karena sesuai nama yang ia berikan padanya. Bahwa Jaya Satria akan membantu siapa saja yang dalam kesulitan. Jiwa Satrianya merasa terpanggil untuk berbuat kebaikan kepada siapapun juga.
"Baiklah!." Prabu Kawiswara Arya Ragnala dengan berat hati. "Kalau begitu pergilah!."
"Sandika Gusti Prabu."
Dengan berat hati sang Prabu mengizinkannya. "Memang saat ini keadaan negerinya sedang kacau." Dalam hati sang Prabu. "Para Senopati sedang berperang, melawan keberutalan kerajaan-kerajaan tetangga." Dalam hati sang Prabu merasakan perasaan gelisah. "Yang ingin memperluas wilayah kekuasaan mereka." Tatapan mata sang Prabu begitu lurus. "Juga putra-putraku sedang tidak ada di istana." Prabu Kawiswara Arya Ragnala sangat lelah. "Karena berguru ilmu kanuragan di luar sana." Hati sang Prabu sangat sedih. "Hanya Jaya Satria, yang dapat melakukan tugas ini." Dalam hati Prabu Kawiswara Arya Ragnala merasa sangat cemas.
"Terima kasih, Gusti Prabu."
"Tapi ingatlah?!." Tegas sang Prabu. "Jaga amarahmu!." Ucap sang Prabu penuh penekanan. "Jangan sampai kau melepaskan amarahmu!." Suara sang Prabu sangat khawatir. "Itu sangat berbahaya!." Matanya menatap tajam ke arah Jaya Satria. "Bukan hanya untukmu saja! Tetapi untuk mereka! Yang berada di sekitarmu."
Itulah pesan sang prabu pada jaya Satria sebelum pemuda itu pergi. Ia hanya tidak ingin terjadi sesuatu pada Jaya Satria.
"Sandika Gusti Prabu." Jaya Satria memberi hormat. "Akan hamba ingat pesan Gusti Prabu dengan baik." Jaya Satria memahami apa yang dikatakan prabu Kawiswara Arya Ragnala.
"Kalau begitu hamba pamit Gusti Prabu."
"Berhati-hatilah." Balas Prabu Kawiswara Arya Ragnala dengan senyuman lembut. "Aku harap kau bisa menjaga dirimu dengan baik."
"Sampurasun."
"Rampes."
Prabu Kawiswara Arya Ragnala hanya berharap Jaya Satria mampu mengatasi masalah yang terjadi dengan baik. Sang Prabu selalu berdoa Jaya Satria mampu mengendalikan amarahnya.
Kembali ke masa ini.
...***...
Di ruang pengobatan Istana.
Ratu Gendhis Cendrawati sangat panik ketika mendengar kabar bahwa anaknya Raden Hadyan Hastanta pulang dalam keadaan terluka. la segera menemui putranya, perasaan takut menghantui pikirannya.
"Oh? Putraku!." Hatinya sangat takut. "Apa yang terjadi padamu nak?!." Jiwa emosinya keluar begitu saja. "Kenapa kau bisa? Dalam kondisi seperti ini?." Ratu Gendhis Cendrawati begitu mencemaskan keadaan anaknya.
Namun saat ini anaknya sedang terbaring di tempat tidur, mata anaknya terpejam seperti sedang tidur?.
"Tabib!." Suaranya terdengar keras. "Apa yang terjadi pada putraku?!." Ia melotot tajam. "Kenapa kondisinya seperti ini?!."
Namun sebelum tabib itu menjawab, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Ratu Dewi Anindyaswari masuk dalam ruangan pengobatan.
"Yunda gendhis cendrawati." Ratu Dewi Anindyaswari memberi hormat. "Bagaimana keadaan nanda hadyan hastanta?." Raut wajahnya tampak cemas. "Apakah baik-baik saja?."
"Aku juga tidak tahu rayi dewi!." Responnya keras. "Tabib belum menjelaskan! Bagaimana kondisi putraku kenapa seperti ini?." Ratu Gendhis terlihat sangat marah.
"Tuan tabib." Ucap Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Apakah raka hadyan hastanta baik-baik saja?."
"Mohon ampun Gusti Prabu, Gusti Ratu." Tabib Istana memberi hormat pada mereka bertiga. "Raden hadyan hastanta terkena jarum beracun." Jawaban dari tabib istana membuat Ratu Gendhis Cendrawati dan Ratu Dewi Anindyaswari terkejut.
"Lalu bagaimana keadaan putraku sekarang?." Hatinya semakin memanas. "Apakah tidak bisa disembuhkan? Cepat selamatkan putraku!." Saking terkejutnya, ia refleks mendekati putranya yang sedang terbaring di tempat tidur, ia mendekap kepala putranya.
"Tentu saja Gusti Ratu."
"Oh? Putraku? malang sekali nasibmu nak." Ratu Gendhis Cendrawati merintih sedih karena kondisi anaknya. "Kesialan apa yang menimpa dirimu?." Hatinya terasa sakit. "Sehingga kau mengalami nasib buruk seperti ini?." Dalam tangisnya Ratu Gendhis Cendrawati berkata seperti itu.
"Yunda, aku harap yunda bersabar." Ucap Ratu Dewi Anindyaswari. "Semoga saja dewata agung menyelamatkan putra kita." Ratu Dewi Anindyaswari mencoba untuk menghibur Ratu Gendhis Cendrawati.
"Diam kau dewi anindyaswari!." Hatinya sangat tidak terima. "Ucapanmu itu! Tidak membantu kesembuhan anakku!."
"Gusti Ratu tenang saja." Ucap Tabib istana dengan perasaan heran. "Keadaan raden hadyan hastanta sudah baikan." Lanjutnya. "Hanya butuh waktu untuk istirahat sejenak saja." Jawab tabib istana tersenyum kecil, agar mereka tidak terlalu cemas dengan kondisi Raden Hadyan Hastanta.
"Apa maksudmu?." Ratu Gendhis Cendrawati mendekati Tabib istana. "Apakah kau telah mengobati anakku dengan baik?." Hatinya masih panas.
"Hamba hanya meneruskan pengobatan saja Gusti Ratu." Ia memberi hormat. "Raden hadyan hastanta selamat." Lanjutnya. "Itu karena ada orang yang membantunya, dengan cara menotok aliran darahnya." Ia tersenyum menatap Raden Hadyan Hastanta yang masih terbaring di ruangan pengobatan. "Sehingga racunnya tidak menyebar ke tubuhnya." Lanjutnya lagi. "Raden hadyan hastanta bisa dapat diselamatkan Gusti Ratu."
Penjelasan dari tabib istana membuat Ratu Gendhis Cendrawati dan Ratu Dewi Anindyaswari merasa lega.
"Syukurlah putraku baik-baik saja." Ucapnya dengan perasaan tenang. "Ibunda sangat senang kau baik-baik saja anakku." Suasana hatinya mulai merasa lega.
Ratu Gendhis Cendrawati merasa lega mendengarnya. Ia mencium kening putranya dengan penuh kasih sayang.
"Syukurlah yunda, putramu baik-baik saja." Ratu Dewi Anindyaswari juga merasa lega mendengarnya.
Meskipun bukan anak kandungnya, tapi tetap saja Raden Hadyan Hastanta adalah anak dari Prabu Kawiswara Arya Ragnala. Itu artinya putranya juga. Walaupun mereka tidak terlalu dekat. Apalagi setelah putranya Cakara Casugraha menjadi raja. Hubungan mereka semakin memiliki jarak pemisah yang jauh.
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin." Dalam hati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Sepertinya apa yang dilakukan oleh jaya satria tadi." Dalam hati sang Prabu lagi. "Memang dapat membantu raka hadyan hastanta, terima kasih ya Allah." Dalam hati prabu Asmalaraya Arya Ardhana bersyukur kepada Allah karena masih menyelamatkan saudara-saudaranya dari ancaman bahaya racun. "Syukurlah, semuanya dalam keadaan baik-baik saja."
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Bagaimana hubungan mereka setelah ini?. Simak dengan baik kisahnya.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 372 Episodes
Comments
Anonymous
wlaupun sdh dikasari Prabu Arya tetap menyayangi saudaranya
2024-09-03
0
SoVay
yuhu mang prabu..aku jd tim horeew
2021-12-18
1