Tanpa memedulikan semua orang, Alvaro meninggalkan orang-orang tersebut, memilih menyusul Azlina ke atas, menuju kamar sang istri.
Perlahan Alvaro memelankan langkahnya ketika sudah berada di depan pintu kamar Azlina. Dia mematung sejenak, menatap pintu kamar yang beberapa waktu memberinya kenangan manis dengan perempuan itu. Apakah semua akan berakhir sekarang?
Sungguh kejam jika mereka semua masih berada dalam ego masing-masing untuk tetap dalam pendirian memisahkan dirinya dan Azlina. Lelaki itu memutar kenop pintu, begitu pintu terbuka, matanya disuguhkan dengan kamar yang gelap gulita. Hanya seberkas cahaya matahari yang masuk melewati ventilasi udara mampu menerangi sedikit ruangan itu.
Azlina tidur dengan tengkurap, membenamkan wajahnya di bantal dengan tubuh yang bergetar karena isak tangis. Alvaro bisa mendengar senggukan-senggukan kecil yang keluar dari bibir perempuan itu.
Kakinya melangkah perlahan, lalu terhenti tepat di sisi ranjang Azlina. Dia duduk di sisi yang kosong tanpa membuat suara sama sekali, begitu senyap sehingga Azlina tak menyadari jika dirinya telah berada di kamar tersebut.
"Zi!" Dia memanggil dengan mengusap kepala perempuan itu, membelai rambut panjangnya yang tergerai.
Suara Alvaro yang khas dan lembut menarik perhatian Azlina. Dia mengusap tangisnya, lalu berbalik menghadap ke arah lelaki itu.
Tatapannya dipenuhi ketidakpercayaan bahwa lelaki itu telah berada di kamarnya, bersamanya. Dia mengubah posisinya menjadi duduk, lalu berhambur memeluk lelaki itu.
"Kakak, ...." Tangis Azlina pecah, tetapi dibenamkan di dada lelaki itu.
Alvaro bisa merasakan getaram tubuh Azlina. Entah apa yang baru saja terjadi, yang jelas semua itu pasti begitu melukai hati perempuan yang berada dalam dekapannya itu.
"Maafin Kakak, ya. Kamu baik-baik saja, 'kan, Sayang?" Alvaro mengecup pucuk kepala Azlina, begitu rindu dirinya dengan perempuan itu.
Dalam dekapannya, dia tak ingin melepaskan wanita yang telah berhasil mengambil sebagian hatinya, mengisi ke…
Pengantin Kecil Alvaro
123. Terlelap Dalam Buaian
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 147 Episodes
Comments
Juan Sastra
rani ggak otak,,udah habis otaknya di makan sama almera
2023-05-04
0
Bzaa
biasanya yg namanya emak inginnya anaknya bahagia, lhaa ini mamak Rani apa Mao mu 😁
2023-04-16
0
Sunarty Narty
cepat varo tunjukkan buktinya
2022-10-30
0