Anggi
Ia tak berhenti batuk selama hampir 15 menit lamanya. Semula ia mencoba bertahan di bawah tatapan tajam Rendra. Namun akhirnya menyerah. Dan memilih untuk meminta ijin pergi ke toilet. Meninggalkan piring sarapan pagi yang baru disantap kurang dari setengahnya.
"Kamu nggak apa-apa?" Rupanya Aji masih khawatir, hingga menyusulnya ke toilet.
"Nggak apa-apa, Mas. Udah biasa," ia tersenyum. Sebab ia memang alergi asap.
"Maaf. Udah bikin alergi kamu kambuh," Aji menatapnya tak enak.
"Kenapa malah Mas Aji yang minta maaf?" Elva mengernyit setelah Aji beranjak pergi. "Harusnya kan Bang Rendra yang minta maaf ke kamu?"
"Ngarep," ia memutar bola mata sambil menyusut air mata dan ingus yang keluar karena terlalu lama batuk.
"Eh, tapi kamu nggak apa-apa, kan? Biasanya nggak separah ini batuknya?" Elva memberi tatapan penuh penyesalan.
"Aku emang paling anti asap rokok," ia menjelaskan. "Ditambah udara dingin dari kemarin ... bikin hidungku jadi lebih sensitif."
"Udah pernah ke dokter tapinya?" selidik Elva.
"Udah," ia mengangguk.
"Terus? Nggak apa-apa, kan? Bukan indikasi suatu penyakit?" tanya Elva lagi.
"Bukan," kali ini ia menggeleng. "Semua normal. Memang aku ada alergi, ditambah membran hidungku tipis. Jadi sensitif kalau ada perubahan suhu."
"Syukur, deh," Elva tersenyum lega.
"Tapi ... kalau kayak begini, aku jadi kurang respek sama Bang Rendra," Elva menerawang.
"Meski aura Bang Rendra menguar-nguar. Luber, tumpah ruah. Cool banget, nggak kaleng-kaleng cakepnya," lanjut Elva dengan mata tetapmenerawang.
"Exactly," ia membenarkan. Senang karena Elva sadar, jika Rendra tak sebaik yang dicitrakan.
"Tapi yang bagian tumpah ruah terlalu berlebihan nggak, sih?" ia jelas tak setuju mendengar penilaian berlebihan Elva tentang Rendra.
"Enggak, lah. Bang Rendra jelas ganteng abis. No debat," jawab Elva penuh keyakinan. "Tapi jujur aja ... ekspresi sama respon Bang Rendra tadi, jauh dari kata ganteng."
Membuatnya tertawa sambil memutar bola mata.
"Eh, tapi ... kalian kok bisa pakai kaos yang sama?" Elva kembali mengernyit. "Aneh banget kalau cuma kebetulan, kan?"
"Kayak yang seribu satu bisa terjadi?" Elva menatapnya penuh selidik.
"Emang cuma kebetulan," jawabnya sambil lalu. Merasa masih kesal, demi mengingat episode harus menjual kaos, yang ternyata justru sama-sama mereka pakai sendiri.
Eh, tunggu sebentar. Kenapa Rendra bisa memakai kaos yang dijualnya? Kira-kira Rendra dapat beli dari siapa? Hm, mencurigakan.
Dan agenda setelah sarapan adalah diskusi. Mereka bergabung saat sebagian besar peserta sudah duduk melingkar di ruang tengah. Elva langsung mendudukkan diri di sebelah Jihan dan Ayu di barisan depan. Sementara ia lebih memilih duduk di tempat yang menurutnya paling invisible.
Dengan memakai jaket favorit yang multifungsi. Selain untuk menghangatkan tubuh -karena mulai bersin-bersin lagi-udara masih terasa terlalu dingin- sekaligus untuk menutupi kaos 'menyebalkan' yang kini sedang dipakainya. Tak ingin mengambil resiko, dan membuat orang lain salah paham.
Sekilas ia melihat di tengah spotlight, Rendra juga masih mengenakan kaos yang sama.
Setelah peserta lengkap, forum diskusi langsung dibuka oleh Faisal. Dilanjutkan dengan pemaparan dari masing-masing divisi.
Suasana mulai memanas, saat Angky yang mewakili komdis menerangkan jobdesknya. Dan Zaki muncul menjadi cofas yang paling vokal.
"Screening, penggeledahan, evaluasi lapangan apapun istilahnya udah nggak relevan," Zaki mencoba memberikan masukan.
"Konsep udah fixed, nggak ada intervensi," Angky menggeleng.
"Ini yang dikhawatirkan, salah satu divisi punya otoritas penuh," Zaki masih berusaha.
"Harap diingat, di sini saya sedang mempresentasikan. Bukan meminta pendapat. Semua aspek sudah matang digodok dalam internal kami," jawab Angky cepat.
"Saya hanya berharap ... pelaksanaan ospek lebih baik lagi tiap tahunnya," Zaki mengemukakan alasan.
"Kami setuju, di sinilah peran komdis, menawarkan kedisiplinan. Mengajarkan bahwa setiap kesalahan ada harganya," timpal Angky tetap pada pendiriannya.
"Tugas bisa dilimpahkan kepada kami. Lebih persuasif seperti yang dikemukakan sebelumnya," Zaki melirik ke arahnya. Memancing back up untuk diskusi lebih lanjut. Namun ia tak sadar, karena sedang asyik menunduk.
"Apa para cofas siap dengan tugas berlapis di tengah padatnya acara, waktu moving, pengkondisian gugus, sesi materi?" Angky melempar pertanyaan pada seluruh peserta.
"Kami siap!" jawab mereka hampir serempak.
"Teman-teman, saya minta waktu sebentar," Aji mengangkat tangan menginterupsi. "Saya ingatkan kembali, kita di sini sedang menyatukan ...."
Ia sama sekali tak memperhatikan jalannya diskusi. Sejak awal sibuk memelototi layar ponsel. Di mana grup Romansa sedang tinggi intensitas chatnya. Tentu sambil sesekali menyusut hidung yang berair.
Chris : 'Ko nembe putus (kamu baru putus), Fir?'
Bayu : 'Lahkok.'
Fira : 'Brisik.'
Anggi : 'Fir?'
Chris. : 'Ni aku barusan ketemu sama Reza.'
Fira : 'Di?'
Chris. : 'Rakorfasil.'
Bayu : 'Kamu yang mutusin, Fir?'
Fira. : 'Idih, nuduh.'
Anggi. : 'Fira.'
Fira. : 'Apah.'
Anggi. : 'Beneran?'
Fira. : 'Kriskros bigos.'
Chris. : 'Korfasilku galau. Tanggung jawab, Fir.'
"So wise mas Presmakuh," bisik Dini yang duduk di sampingnya. Saat melihat Aji mampu mengkondisikan forum dengan sangat baik. Kekhawatiran adanya perbedaan pendapat yang berujung emosional dan mengakibatkan perpecahan urung, berkat tangan dingin Aji sang Presma.
Tapi ia tetap tak peduli. Lebih memilih untuk asyik dengan ponselnya.
Pun ketika diskusi selesai dan dilanjutkan dengan FGD (forum group discussion). Sambil berpindah tempat duduk sesuai kelompok masing-masing. Perhatiannya masih terus terkonsentrasi pada layar ponsel. Namun satu hal membuatnya beralih. Yaitu suara yang membuka forum.
"Apa kabar semua?" Rendra memasang senyum terbaik, menyapukan pandangan pada seluruh anggota kelompok.
Ya ampun, ia buru-buru menyimpan ponsel ke dalam saku jaket. It's gonna be a long long daaay, hoaaaam ....
"Kita ngobrol santai," ujar Rendra tenang.
Dan dengan kemampuan komunikasi verbal tingkat tinggi, ditandai oleh bahasa yang lugas sekaligus enak didengar. Rendra mengingatkan kembali tugas utama seorang cofas. Bagaimana komunikasi yang efektif, manajemen kelas. Sekaligus sedikit membahas tentang experential learning. Kemudian dilanjutkan dengan mengulang poin materi saat hari H, latihan ice breaking, dan terakhir adalah roleplay kelas.
"Ingat! Minggu depan adalah jadwal kalian mengikuti workshop public speaking. Persiapkan dengan sebaik mungkin," terang Rendra.
Ia pun memilih untuk kembali tenggelam di depan layar ponsel. Ketika Rendra membuka forum tanya jawab dan diskusi. Karena anak-anak Romansa semakin ramai di grup.
Dio : 'Rame bats.'
Ia melotot tak percaya melihat siapa yang muncul di layar ponsel. Dio?! Wow. Pucuk dicinta ulampun tiba.
Chris : 'Woi, nak ilang.'
Bayu. : 'Kemane aje, bruh?'
Fira. : 'Kahimku, i miss you.' -tanda cinta-
Chris. : 'Lenjeh (centil).'
Fira. : 'Ape sirik aja Kriskros!'
Ia hampir mengetik sesuatu di grup, bertepatan dengan sebuah pesan chat yang baru masuk.
Dio
1 Unread Message
Oh, my ....
Dio. : 'How's ur day?'
Membaca tulisan yang selalu paling ditunggu membuatnya langsung memejamkan mata sambil tersenyum-senyum sendiri. Hatinya bahkan mendadak menghangat. Dio memamg selalu mengirim chat pribadi di saat yang bersamaan anak-anak Romansa sedang ramai di grup.
"Ya kamu, yang senyum-senyum sendiri," sebuah suara keras mengagetkannya. "Apa pendapatmu?"
Ia terperanjat dan celingukan, begitu menyadari sembilan orang sedang melihat ke arahnya. Dengan ekspresi menunggu jawaban. Ditambah sepasang mata kesal dan tak sabar yang menyala-nyala, Rendra.
Parahnya, ia sama sekali tak memiliki clue tentang apa yang sedang dibicarakan. Double kill.
"Nggak ngerti apa yang lagi diomongin? Nggak ngedengerin?" tanya Rendra dengan nada suara kaku.
"Begini mau jadi cofas. Nanti di lapangan, ada banyak hal yang membuat kalian harus selalu fokus. Nggak abai kayak begini!" suara kesal Rendra menggelegar memenuhi seluruh ruangan. Membuat beberapa kepala dari kelompok lain menengok ke arah kelompok mereka dengan penuh rasa ingin tahu.
Diam-diam Zaki mengangsurkan selembar kertas fotokopian berisi materi diskusi. Telunjuk Zaki menunjuk nomor 2 dari 5 nomor yang ada.
Setelah membaca sekilas, dengan terbata-bata dan kurang meyakinkan, ia mulai mengemukakan pendapat.
Dan berbicara tanpa menguasai materi di depan sembilan orang cofas -sebagian kating-. Plus satu orang paling menyebalkan yang pernah ada. Benar-benar menguras emosi dan tenaga.
Terlebih Rendra selalu berusaha mengcounter setiap kalimat yang diucapkannya. Memutarbalikkan fakta, lalu mencecarnya dengan pertanyaan absurd yang tak masuk akal.
Ia hampir menyerah berdebat kusir dengan Rendra. Ketika tiba-tiba sesuatu mengalir keluar dari dalam hidungnya. Dan terasa asin saat menyentuh mulut.
Zaki yang pertama berteriak, "Kamu kenapa?"
Seluruh anggota kelompok langsung gaduh. Seorang kating dengan sigap mengangsurkan tisu padanya.
"Makasih," ia tersenyum mengangguk, seolah tak terjadi apapun. Padahal sekelilingnya sudah gaduh demi melihat darah terus mengucur dari hidungnya.
Dengan tenang ia menyusut darah yang keluar dari hidung. Namun sekilas, sudut matanya sempat menangkap kilatan aneh di mata Rendra, yang kini sedang terpaku menatapnya.
***
Catatan :
FGD. : forum group discussion.
Rakorfasil : rapat koordinasi fasilitator.
Korfasil. : koordinator fasilitator.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Zi❤Cakra❤Rendra❤️Dean❤Zico
pesona bang Rendra tetep meluber-luber bagi aq
pokoknya cinta banget 😍😍😍
2024-12-30
0
Bebby_Q'noy
😁
2024-10-24
0
Syarifah Ainun
yes.... love is begins
2024-10-13
0