When It All Began
(Ketika semuanya dimulai)
-----------
Anggi
Ia terbangun karena mendengar suara adzan subuh dari kejauhan. Suara hiruk pikuk yang terdengar hampir semalaman sudah menghilang.
Selesai sholat subuh, ia berniat untuk tidur sebentar. Namun perut tak mau kompromi, seolah enggan diajak bekerja sama. Terasa lapar karena semalam ia tak sempat makan nasi. Hanya memakan 4 buah donat. Beginilah nasib warga +62, rasanya belum makan kalau tak makan nasi. Yeah.
Kembali teringat pesan Niken tentang dapur di lantai bawah, ia pun mencoba keberuntungan. Berharap semoga Niken menyimpan mie instan di dalam rak nya. Diganjal mie instan boleh juga. Sebelum nanti sarapan di kantin kampus, batinnya.
Dengan hati-hati ia berjalan keluar kamar. Melewati sepanjang lorong yang suasananya sepi seakan tak ada kehidupan. Ia pun memilih turun menggunakan tangga daripada lift.
Sesuai petunjuk Niken, tangga belok kanan, terpampang nyata dapur modern yang sangat luas dan mewah untuk ukuran sebuah kost-kostan.
Pantry lengkap dengan kompor listrik tanam, microwave, blender, kulkas setinggi kepala. Wow. Tak ketinggalan peralatan memasak premium, meja bar, hingga seperangkat meja makan di tengah-tengahnya.
Fira kalau lihat ini bisa nangis bombay, batinnya tertawa. Di antara mereka berenam geng Romansa, Fira yang paling keibuan karena jago memasak. Sebab apapun masakan buatan Fira, pasti uenak.
Selesai mengagumi betapa luas, bersih, dan modern dapur kost ini, matanya mulai mencari rak ungu yang disinyalir milik Niken.
Di satu sudut pantry terdapat banyak rak warna-warni yang sepertinya milik para penghuni kost. Ada 3 warna ungu di sana. Yang mana punya Niken, ya?
Ia pun mulai memeriksa satu persatu. Ada ungu muda pupus, ungu terong, dan ungu lavender. Hmm, matanya langsung menangkap stiker bertuliskan Niken Octavia di sudut rak yang berwarna ungu terong. Oke sip.
"Sori, Nik, aku pinjam mie instan ya. Nanti kuganti," bisiknya sambil mulai membuka rak ungu terong itu.
Rupanya Niken adalah duplikasi Fira yang hobi memasak. Di dalam rak ungu terong itu, terpampang nyata sederet mie instan berbagai merk dan rasa. Termasuk spaghetti, makaroni bentuk pipa dan spiral, kecap manis, asin, inggris, saos tiram, thousand island, hingga bumbu dapur instan. Luar biasa, daebakk.
Ia mengambil sebungkus mie rebus. Matanya lalu mencari-cari panci yang bisa dipakai. Ini dia, dapat, ujarnya sambil mengambil panci teflon berukuran sedang. Oiya, kulkas, apakah kulkas umum?
Namanya juga usaha, batinnya sambil membuka kulkas. Setelah meneliti satu persatu, ia hampir menjerit kegirangan begitu menemukan sekotak Tupperware besar bertuliskan Niken Octavia. Thank God.
Di dalamnya terdapat telur, frozen foods, dan sedikit sayur yang mulai layu. Sepertinya karena sudah terlalu lama tersimpan di dalam kulkas.
Ia kemudian mengambil sebutir telur, sepotong sosis, dan sebatang brokoli.
Seraya bersenandung riang, ia mulai merebus air. Sambil menunggu air mendidih, ia pun memotong brokoli dan mencucinya. Lalu memotong sosis.
Air telah mendidih, ia segera memasukkan telur. Ketika matanya sedang mencari-cari letak tempat sampah untuk membuang cangkang telur, seseorang tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Mowning, babe (selamat pagi, sayang) ...." bisik orang tersebut parau. Tepat di telinga kanannya. Lembut, hangat, dengan aroma mint yang segar.
Dunia mendadak berhenti berputar selama sepersekian detik ....
Namun meski begitu, otaknya bergerak cepat berusaha memetakan keadaan.
Pertama, orang tersebut jelas memiliki postur tubuh jauh lebih tinggi darinya. Karena, sekilas dari bayangan keramik dinding dapur, orang itu harus menunduk dalam-dalam untuk berbisik di telinganya.
Kedua, orang tersebut pasti bertelanjang dada. Karena, jelas-jelas punggungnya yang hanya dibalut kaos oblong tipis, menempel di atas kulit orang lain yang keras dan liat. Dengan lengan kokoh yang melingkari tubuhnya, sama sekali tak tertutup pakaian.
Ketiga, orang tersebut kini semakin kurang ajar. Yang awalnya hanya memeluk dari belakang, sekarang mulai merengkuh lengan, bahu, kemudian merayap ke ...
APA?!?!
Ia yang awalnya seperti terhipnotis, mulai timbul kesadaran dan langsung memberontak melepaskan diri. Dengan sekuat tenaga didorongnya tubuh besar orang tersebut ke belakang.
BRAK!
BRUK!
DUG! DUG! DUG!
"ADAWW!"
Punggung orang tersebut menghantam keras lemari stainless yang berada tepat di belakang mereka. Saking kerasnya hantaman, menjadikan pintu lemari terbuka sebagian. Membuat beberapa barang yang ada di dalam lemari berhamburan keluar. Mulai dari wajan wok, panci aluminium, teflon, dan terakhir panci presto. Tepat mengenai bahu kanan orang tersebut.
"SIAPA KAMU?!" ia berteriak marah sambil mengacungkan pisau. Benda pertama yang terdekat dengannya dan bisa diraih dalam waktu singkat.
"ADUH!" orang tersebut justru mengaduh. Karena beberapa barang masih terus berhamburan keluar. Terakhir adalah satu set sendok sayur beraneka ukuran. Lagi-lagi mengenai bahu sebelah kanan.
Ia masih mengacungkan pisau dengan tangan gemetaran, sambil melotot murka.
"JUSTRU GUA YANG NANYA ... SIAPA LO?!"
Di luar dugaan, orang tersebut malah balas membentaknya.
"KAMU PEGANG-PEGANG ... MAU MACEM-MACEM?!?!!"
"ENAK AJA!! Dih, ge er!?" sungut orang tersebut sambil mengelus bahu kanan.
"Brengsek!" maki orang tersebut saat menyadari panci presto berhasil melukai bahunya sampai berdarah.
"ADUH! Ada apa ini pagi-pagi ribut-ribut ...." Seorang wanita paruh baya mendadak muncul dan langsung menyeruak di antara mereka berdua dengan wajah panik. "Mas Rendra ... ada apa?"
"TAHU TUH ... ADA CEWEK GILA NYASAR!"
"ENAK AJA! DIA NIH BU YANG PEGANG-PEGANG DULUAN!"
"ENAK AJA! SIAPA PEGANG-PEGANG?!?"
"KAMU?!"
"GE ER! Gua salah orang!" gerutu orang tersebut sambil masih mengelus bahu kanan. Yang kini jelas terlihat berwarna merah, dengan luka mengeluarkan darah.
"SEMBARANGAN SALAH ORANG!" ia semakin meradang tak terima.
"ADUH! Ini siapa yang lagi masak, airnya meluap!" pekik ibu tersebut begitu melihat air di dalam panci berbusa dan meluap keluar.
Ia pun kembali teringat akan panci rebusannya. Dan langsung berbalik untuk mengecilkan api. Namun terlambat, karena air di dalam panci keburu meluap. Dengan kesal, ia akhirnya mematikan kompor.
"Ini ada apa sih ... pagi-pagi kok sudah teriak-teriak?"
"DIA duluan!" ia kembali mengacungkan pisau yang masih dipegangnya kesal.
Bersamaan dengan orang tersebut yang menggerutu, "DIA!"
"Haduh, wis (udah) ... wis (udah)! Mba, tolong pisaunya disimpan dulu, aku wedi je (aku takut)...." kata ibu itu dengan wajah ngeri, sambil pelan-pelan mengambil pisau yang sedang dipegangnya.
Dengan muka ditekuk ia pun menurut, menyerahkan pisau ke ibu itu.
"Mba ini ... yang temennya Mba Niken, to? Yang nempatin kamar Kak Megis? Perkenalkan, saya yang jaga disini, Mba Suko. Panggil Mba aja ya, jangan Bu," ujar ibu tersebut menekankan kalimat terakhir seperti motivator sedang closing.
Meski bingung dengan uban yang banyak menghiasi rambut Mba Suko, namun ia tetap mengangguk.
"Owalah ... sepertinya ini semua hanya salah paham," ujar Mba Suko yakin.
"SALAH PAHAM GIMANA?! DIA SEENAKNYA PEGANG-PEGANG!"
"UDAH DIBILANG SALAH ORANG!"
"NGACO!"
"Aduh, sudah ... sudah ... sudah ...." Mba Suko terlihat pening melerai mereka berdua.
Namun sebelum ia sempat meluapkan kemarahan lagi, orang yang bertelanjang dada itu sudah keburu melangkah pergi. Dan dengan sengaja melewatinya, sembari menabrakkan bahu mereka berdua keras-keras. Sampai ia hampir terjengkang ke belakang.
"KAMU?!" bentaknya kesal.
Namun orang tersebut hanya menyeringai dan melenggang pergi.
"Haduh, sudah Mba ... sudah ...."
Ia hanya bisa menatap marah punggung telanjang yang berjalan semakin menjauh.
"Dia siapa sih?! Nyebelin banget tiba-tiba pegang-pegang seenaknya," ia terduduk lemas di kursi yang mengitari meja makan.
"Maafin Mas Rendra ya, Mba ... Mba siapa namanya, ya? Saya lupa ... padahal sudah dikasih tahu sama Mba Niken ...."
"Anggi."
"Oiya ... Mba Anggi. Maafin Mas Rendra ya, Mba Anggi. Dia memang orangnya begitu ... suka bercanda," Mba Suko tertawa, seolah yang baru saja terjadi adalah hal biasa yang cukup lucu.
Sungguh menyedihkan.
"Nggak bisa begitu Mba," ia menelan ludah dengan napas memburu akibat marah. "Masa bercanda begitu?! Itu sih udah pelecehan!"
"Sssttt! Sudah Mba ... sudah .... Tolong maafin Mas Rendra, ya Mba. Oya, Mba mau masak apa? Mie rebus? Sini ... biar saya buatkan ...."
Ia hanya terdiam menatap kotoran bekas luapan rebusan telur di atas kompor, yang kini tengah dibersihkan oleh Mba Suko. Nafsu makannya mendadak menguap, hilang entah kemana.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Zi❤Cakra❤Rendra❤️Dean❤Zico
Rubicon ,langsung inget Abang Rendra😍😍😍
2024-12-30
1
‼️n
Selalu ...euh....pas baca ini....
2024-08-04
1
Mak sulis
sakit bin malu pastinya 😁
2024-06-16
0