Their First Fight
(Pertengkaran pertama mereka)
------------------
Anggi
Ia baru sampai di Pitaloka jam 23.30 WIB. Di halaman telah terparkir puluhan mobil merk prestisius dan lalu lalang orang di ruang tamu.
Dengan tanpa menyapa semua yang ada di sana, karena memang tak seorangpun yang dikenal. Ia bergegas menaiki tangga menuju ke kamar. Dan langsung melemparkan diri ke atas tempat tidur.
Ia bahkan sholat Isya menjelang waktu Subuh.
Rasa cape serta kantuk yang masih menggelayut, membuatnya kembali tertidur usai menunaikan sholat Subuh. Lupa tentang jadwal workshop di jam 7 pagi.
Ddrrtttttt
Dddrrrttttttt
Dddrrrttttttt
Dengan mata masih terpejam, ia mencoba mengulurkan tangan menggapai nakas. Berusaha meraih ponsel yang bergetar.
Dddrrrttttttt
Dddrrrttttttt
Ia terpaksa membuka mata yang berat. Demi menyadari, tangannya tak berhasil menggapai apapun. Sementara ponsel masih terus bergetar.
"KAMU DI MANA?!" pekikan Elva di seberang membuatnya spontan menjauhkan ponsel dari telinga.
"Kenapa, Va?" jawabnya malas.
"CEPET KE KAMPUS!"
Klik.
Tanpa basa-basi, Elva langsung memutuskan sambungan telepon. Dengan mata masih menyipit-nyipit silau akibat cahaya matahari yang masuk melalui celah jendela yang tak tertutup gorden, ia mencoba membuka ponsel.
3 Missed Calls
Elva
7 Unread Messages
Zaki
3 Unread Messages
Grup Cofas Teknik
76 Unread Messages
Grup Subdiv Cofas
41 Unread Messages
Grup Romansa
25 Unread Messages
Matanya langsung melotot, demi melihat deretan notifikasi yang masuk ke dalam ponselnya. Apa-apaan?
Missed calls dari Elva dan Zaki. Hmmm.
Namun tangannya justru gatal ingin membuka chat dari grup Romansa terlebih dahulu. Tapi pada kenyataannya, jempol justru menyentuh chat paling atas. Dari Elva.
Elva : 'Nggi, udah baca grup belum?'
Elva : 'Diminta pakoor ngingetin. Lagi otw, kan?'
Elva : 'Anggi! Cepet ke kampus!'
Ia mengernyit membaca pesan dari Elva. Dan memutuskan untuk beralih membuka pesan dari Zaki.
Zaki : pesan diteruskan
pengumuman perubahan jadwal hari ini
Matanya kembali melotot membaca pesan dari Zaki. Dan tambah melotot begitu melihat jam dinding yang seolah dengan bangga menunjukkan tepat pukul 7.30 WIB.
Kali ini dengan tanpa berpikir, ia langsung melompat dari tempat tidur. Lalu terbang ke kamar mandi.
Tapi si dalam kamar mandi, ia justru mengomel. Begitu menyadari jika air masih belum mengalir.
Dengan langkah tersuruk-suruk, ia pun mengambil peralatan mandi. Dengan perasaan terpaksa keluar kamar menuju ke kamar mandi umum, yang terletak di ujung lorong. Ia bahkan tak memedulikan tatapan aneh beberapa orang yang ditemuinya di lorong.
Setelah mandi kilat, menyambar baju yang berada paling dekat dengan jangkauan, lalu menyambar backpack. Ia langsung keluar kamar. Berharap bisa secepat mungkin tiba di kampus.
Sambil gelisah menunggu ojek online yang dipesan, ia memberi kabar pada Zaki.
Anggi : 'Maaf terlambat, kesiangan.'
Bersamaan dengan datangnya ojek online, Zaki membalas.
Zaki : 'Ok. Langsung gabung, kita baru mulai tur.'
"Ngebut ya, Mas," ujarnya penuh harap. Yang dibalas dengan anggukan setuju dari Mas ojek online.
Tapi, untung tak bisa diraih, malang tak dapat ditolak. Baru juga sampai di depan Maskam, motor yang ditumpanginya mendadak berhenti.
"Kenapa, Mas?" ia mulai panik, jam di pergelangan tangan kiri jelas menunjukkan pukul 7.50 WIB.
"Rantainya putus, Mba."
"Apa?!"
Ia pun memutuskan untuk membayar ongkos sesuai dengan yang tertera di aplikasi. Kemudian memesan ojek online yang baru. Meski awalnya, Mas ojek online tak bersedia menerima uang pemberiannya, dengan dalih belum sampai di tempat tujuan.
"Tapi saya nggak bisa nunggu, Mas. Saya lagi buru-buru. Buru-buru banget," ia memberi alasan.
"Kayak dikejar setan aja, Mba?" Mas ojek online mengernyit heran melihat kepanikannya.
Sesungguhnya, ia belum pernah dikejar setan, hantu, atau apapun namanya. Amit-amit jangan sampai.
Di atas ojek online kedua yang melaju kencang, ia berusaha mengirim Line chat ke Zaki.
Anggi : 'Maaf lagi, ada kendala di jalan. Jadi langsung gabung ke mana?'
1 menit, 5 menit, bahkan hingga motor yang ditumpanginya melaju melewati gedung MM, Zaki tak kunjung membalas.
Ia pun memutuskan untuk mengechat Elva.
Anggi : 'Di mana, Va?'
Elva : 'Telat banget. Langsung ke lab.'
Anggi : 'Lab mana?'
Sama seperti Zaki, Elva juga tak membalas.
Akhirnya, ia memutuskan untuk menunggu di salah satu ruang kelas DTSL (Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan). Tempat di mana materi kedua akan berlangsung.
Setelah bertanya ke bagian akademik, ia pun berhasil menemukan ruang yang dimaksud.
Namun sama sekali tak pernah menyangka, jika di dalam ruangan sudah ada seseorang yang duduk di kursi paling depan. Dengan kepala tertunduk sedang membaca sebuah buku.
Langkahnya otomatis terhenti. Niat utama jelas berbalik arah. Namun kedua kaki seolah terpaku di tempat. Tak mampu bergerak.
Dan kemungkinan urung memasuki ruangan jelas gagal, karena seorang berjaket hijau yang mulanya tengah tertunduk, kini sudah beralih dari buku yang sedang dibaca. Tengah melihat ke arahnya dengan tatapan tajam.
Jaket hijau? Sedikit mengingatkannya pada sesuatu, tapi lupa itu apa.
Dengan langkah kaku yang diusahakan sehati-hati mungkin, ia bergegas memasuki ruang kelas. Kemudian mengambil duduk di barisan tengah. Mencoba mengabaikan keberadaan si jaket hijau, yang tak lain dan tak bukan adalah cowok mesum di Pitaloka, Rendra.
Betapa malang nasibnya.
"Telat?" menjadi suara pertama yang terdengar di ruangan. Kaku, persis seperti kanebo kering.
"Iya," ia menjawab sambil berusaha (keras) mencari kesibukan dengan ponselnya.
"Nggak nyusul yang lain?" pertanyaan kedua masih kaku. Sama seperti yang pertama terlontar.
"Nggak tahu di mana," jawabnya singkat.
"Bisa nanya, kan?"
Entah telinganya salah mendengar atau tidak, tapi pertanyaan ketiga terdengar lebih rileks. Tak sekaku pertanyaan yang pertama dan kedua tadi.
"Tadi nanya sama teman ... dijawab lagi di lab. Lab mana? Saya nggak tahu daerah sini."
Punggung berbalut jaket hijau itu mendadak membalikkan badan, lalu menatapnya tajam. Yang entah mengapa membuat pipinya memanas.
Tidak.
"Bisa na-nya, kan?" ulang Rendra dengan nada berjeda yang sangat ditekankan.
Keningnya mengernyit kesal, "Nanya kalau saya nggak paham sama aja. Nggak efektif."
"Keterlambatan kamu efektif?"
Suara yang mulanya terdengar rileks, kini kembali kaku seperti kanebo kering. Oh, ya ampun.
"Apa?!" ia menelan ludah dengan gugup.
Bersamaan dengan Rendra yang bangkit dari duduk. Membuatnya bersiap memasang kuda-kuda. Mau ngapain nih orang?
Ternyata, Rendra hanya pindah tempat berdiri. Rendra kini sudah bersandar ke meja tempat dosen biasa mengajar, dengan kaki menekuk sebelah. Sungguh posisi yang sangat mengintimidasi.
Dengan jarak mereka yang tepat segaris, posisi ini semakin membuatnya merasa kian tak nyaman. Mendadak ide melintas, yaitu pura-pura sibuk dengan ponselnya, dengan membuka chat grup Romansa. Ide bagus.
"Keterlambatan kamu ... jelas mendefinisikan ketidakefektifan waktu. Tapi kamu bicara soal 'efektif'. So pathetic (sangat menyedihkan)."
"Maksudnya?" ia dengan sangat terpaksa mengalihkan pandangan dari layar ponsel. Di mana Fira, Chris, dan Bayu sedang asyik berkirim pesan.
"Bisa ... menghargai orang? Saya lagi ngomong sama kamu!" suara Rendra mendadak meninggi, jelas bercampur kesal demi melihatnya sibuk sendiri dengan ponsel.
Dan nada suara tinggi berhasil membuatnya terpancing, lalu mendecak kesal. Matanya kini bertabrakan dengan tatapan tajam Rendra. Sial, bukan hanya pipi, seluruh wajahnya bahkan mulai memanas.
"Kenapa terlambat ... disaat hampir 40 teman lainnya bisa tepat waktu?" tanya Rendra kaku, sembari melipat tangan di depan dada.
"Urusan pribadi," jawabnya cepat.
"Ciri orang efektif ... salah satunya mempunyai skala prioritas," kini suara Rendra terdengar mengejek.
"Masih bahas efektif?!" ia mulai kesal.
"Dan standar skala prioritas adalah ... kepentingan umum di atas kepentingan pribadi," lanjut Rendra lagi. Sama sekali tak memedulikan kekesalannya.
"Saya benar-benar belum pernah masuk fakultas teknik," ia mencoba beralasan.
"First gath kemarin yang pertama. Jadi menurut saya, lebih baik nunggu di sini ... daripada muter-muter nyari tempatnya. Sementara saya nggak paham daerah sini. Dan petunjuk yang ada kurang memadai. Hanya membuang waktu," ia memungkasi kalimat terpanjang pertamanya dengan perasaan bangga.
"Kamu bisa berkomunikasi dengan bahasa manusia, kan?" pertanyaan Rendra kembali terdengar mengejek.
"Saya bisa minta resume dari yang lain," tapi ia tetap menjawab pertanyaan Rendra sesuai dengan tracknya. Berusaha keras agar tak terpancing.
"Bisa tur sendiri!" lanjutnya seraya memberi pandangan kesal ke arah Rendra. Yang juga tengah menatapnya tajam.
"Yang penting tujuan tercapai!" imbuhnya cepat.
"Kepanitiaan ... nggak cuma fokus pada tujuan. Tapi di sana ada kerjasama, kontribusi, interaksi ...." Rendra masih menatapnya tajam.
Membuatnya menghela napas panjang, "Ini arahnya ke mana?"
"Asal kamu tahu ...." Rendra terlihat mengeraskan rahang. "Cofas adalah ujung tombak hari H. Jadi ... ja-ngan per-nah bi-ar-kan prin-sip kamu merugikan tim."
"Siapa yang dirugikan?!" ia jelas tak terima dengan pernyataan Rendra.
"Saya hanya terlambat sekali ini!" ia sangat yakin untuk yang satu ini.
"Jangan berbicara seolah-olah saya nggak bisa bekerja sama dalam tim!" geramnya dengan penuh kekesalan.
"Luar biasa ...." Rendra menggelengkan kepala dengan ekspresi sinis.
"Oprec bertingkat ternyata hanya menghasilkan SDM yang ...." Kalimat Rendra tertahan di udara. Karena rombongan cofas yang baru saja menyelesaikan agenda tur kampus, sudah keburu memasuki ruangan.
Membuat mereka berdua spontan memalingkan muka. Seolah tak pernah terjadi apapun. Rendra bahkan langsung menyambut Zaki dengan ber high five. Sementara ia pura-pura membaca sesuatu di dalam ponsel.
"Kemana aja, Say?" tiba-tiba Elva sudah mendudukkan diri di sampingnya.
"Kesiangan," ia meringis.
"Aku juga ... hampir aja telat. Baru buka grup jam setengah enam. Gimana sih Zaki, bikin jadwal tapi berubah-ubah. Untung nggak jadi telat," cerocos Elva. "Tadi juga banyakan yang nyusul."
"Serius?"
Elva mengangguk. "Kebanyakan anak sini, jadi udah paham medan. Langsung nyusulin deh."
"Iya," keluhnya. "Kalau aku kan nggak ngerti kalian ada di mana. Kamu cuma jawab lab aja. Lab mana pula?"
"Sori ... sori ... tadi lagi seru soalnya," Elva nyengir. "Eh, berarti kamu berdua aja dong, sama Bang Rendra di sini?"
Ia hanya mengangkat bahu malas.
"Senengnyaaa ...." Mata Elva mendadak berbinar. "Ngobrolin apa aja?"
Namun ia justru mencibir.
Elva terlihat masih ingin kepo, namun tertahan oleh suara Zaki yang membuka forum. Sekaligus memaparkan poin yang akan dibahas hari ini.
Selesai memberi pengantar, Zaki langsung menyerahkan forum kepada Rendra. Yang tanpa basa basi langsung bertanya di depan kelas.
"Siapa yang tadi terlambat?"
Beberapa orang terlihat mengacungkan tangan, termasuk dirinya.
"Maju ke depan," perintah Rendra tegas.
Hanya dalam hitungan detik, telah berdiri 14 orang di depan kelas.
"Kenapa terlambat?" Rendra bertanya kepada mereka satu persatu.
"Maaf, Bang," Zaki mencoba menginterupsi. "Apa nggak sebaiknya kita langsung masuk materi? Terlambat termasuk ranah internal, dan kami belum membahas tentang hal ini."
"Sekarang kita bahas," Rendra terlihat tak senang diinterupsi. "Langsung evaluasi."
"Saya ingatkan kembali ... tentang esensi diadakannya ospek. Yang utama adalah meningkatkan kerjasama interdisipliner dan menghilangkan keangkuhan tiap fakultas," ujar Rendra seraya menyapukan pandangan ke seluruh kelas.
"Dan cofas sebagai ujung tombak ... memiliki potensi besar yang harusnya bisa dimaksimalkan. Untuk berkontribusi lebih banyak dalam kepanitiaan," lanjut Rendra, yang kini menghentikan pandangan tepat di kedua matanya.
Membuatnya buru-buru menundukkan wajah yang mendadak memanas.
"Di sini tidak ada toleransi untuk keterlambatan!" imbuh Rendra tegas. "Tolong dibantu subkoor cofas teknik, saya harap ini yang terakhir."
Zaki memilih untuk mengangguk setuju, daripada harus mendebat katingnya di depan kelas.
"Karena sudah ada sukarelawan," kini suara Rendra terdengar melunak. "Langsung kita coba latihan ice breaking. Dan hukuman bagi yang terlambat adalah ... menjadi peraga."
Kemudian Rendra mulai menjelaskan teknis ice breaking yang akan mereka lakukan, lengkap beserta filosofinya. Ternyata lumayan seru dan menyenangkan. Sampai ia lupa, jika mereka yang berdiri di depan kelas, sebenarnya sedang dihukum.
"Yang terlambat dan menyusul tur ... silakan duduk," ujar Rendra begitu latihan ice breaking selesai.
Tentu saja tinggal menyisakan dirinya seorang.
"Yang terlambat dan tidak menyusul tur ... nanti hubungi saya selesai materi," lanjut Rendra tanpa berusaha untuk menoleh ke arahnya. "Ada konsekuensi lain."
Ia hanya bisa memutar bola mata menahan kesal.
"Besok ... kalau Bang Rendra jadi pemateri, aku mau telat, ah," bisik Elva. Begitu ia kembali ke tempat duduk. Membuatnya berdecak sekaligus mengernyit heran mendengar keinginan aneh Elva.
Materi kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi. Zaki membagi mereka menjadi 4 kelompok. Dan masing-masing kelompok mendapatkan tema yang berbeda.
Mereka diberi waktu selama 30 menit untuk mendiskusikan bahan materi, sebelum nantinya dipresentasikan di depan kelas oleh juru bicara kelompok.
Dan materi kelompok mereka adalah strategi cofas. Sayangnya, teman-teman sekelompok menunjuknya menjadi jubir, dengan suara mutlak. Jadilah ia kini berdiri di depan kelas, bersama dengan 4 jubir kelompok lainnya.
Tanpa prasangka, ia pun mulai menjelaskan poin-poin yang telah didiskusikan tadi bersama kelompoknya. Ada sekitar 4 strategi yang telah mereka diskusikan. Yaitu strategi adaptasi, strategi kebersamaan, strategi emosi, dan strategi sukses bersama.
Seperti yang sudah bisa ditebak sebelumnya, Rendra menginterupsi saat ia masih memaparkan strategi emosi.
"Nggak ada sanksi?" Rendra menatapnya tanpa ekspresi.
"Persuasif, controlling, evaluasi. Dan saya belum selesai menjelaskan poinnya," jawabnya sambil menahan kesal. Belum juga selesai memaparkan penjelasan, sudah di framing sedemikian rupa.
"Lebih memilih maba dihukum komdis?" cecar Rendra dengan wajah tak puas.
"Kami tidak sedang membuat pilihan," ia menggeleng. "Dan menurut informasi yang saya peroleh, tahun ini ruang lingkup komdis terbatas."
"Kamu tahu ... di antara mereka ada mahasiswa lama yang mengulang?" tatapan menusuk Rendra, bisa dipastikan akan mampu menembus dinding paling tebal sekalipun.
"Kami bahkan sudah mempertimbangkan keanekaragaman maba," dalihnya antara kesal dan tak nyaman.
"Persuasif sama sekali nggak efektif," protes Rendra.
"Harus yang straight to the point. Setiap divisi kepanitiaan harus mempunyai plan a, plan b, dan seterusnya," terang Rendra lugas.
"Terutama jika sudah berhubungan dengan kondisi lapangan. Kalian juga harus punya itu!" Rendra memberi penekanan pada kalimat terakhir.
"Menurut kami ... dalam strategi adaptasi ada komunikasi dua arah," ia berusaha menjelaskan dengan kepala dingin. Padahal hatinya bergemuruh menahan marah.
"Jika semua tahapan dilakukan dengan baik dan benar, persuasif sudah cukup," terangnya dengan penuh keyakinan.
Rendra bangkit dari duduk. "Kita sedang bicara pengalaman ... bukan perencanaan."
"Jadi menurut anda ... mahasiswa patuh karena takut atau murni kesadaran?" ia memberanikan diri melawan tatapan Rendra.
"Asal kalian tahu ...." Rendra sama sekali tak menanggapi panggilan kaku anda darinya. Justru mengalihkan pandangan ke seluruh kelas.
"Kondisi di lapangan sering jauh dari ekspektasi. Ada maba yang tak pernah peduli, bandel, over, berulah. Banyak malah yang menyepelekan kating!" terang Rendra.
"Yang paling parah adalah berani melawan," kini Rendra menatapnya tajam.
"Dan kalian ... sebagai cofas, harus tetap bisa mengatur mereka. Dalam situasi paling tidak kondusif sekalipun. Tanpa melibatkan komdis!" pungkas Rendra tanpa mengalihkan pandangan darinya.
"Mereka sudah dewasa," ia harus menelan ludah berkali-kali. Karena tatapan elang Rendra seakan sedang mengulitinya hidup-hidup.
"Paham tentang disiplin sekaligus menghormati orang lain," lanjutnya dengan gigi gemeletuk sebab menahan marah. "Dan sebagai kaum terpelajar, saya yakin mereka memiliki prinsip etika dan moral."
"Etika dan moral?!" Suara Rendra sontak meninggi. "Korelasinya?"
"Etika dan moral satu paket nggak bisa dipisahkan," jawabnya datar.
"Orang yang beretika ... akan berbanding lurus dengan integritas moralnya. Sebaliknya, jika bermoral bagus, etika juga bagus," ia berusaha memberi ungkapan yang bisa dimengerti.
Rendra terlihat mengeraskan rahang begitu mendengar kalimat terakhir yang diucapkannya, "Poinnya? Relevansinya? Sekarang melebar jadi membahas baik dan buruk?"
"Maaf, kita sedang bicara tatanan umum, bukan pribadi," desisnya sinis.
"Wow," Rendra tersenyum tak kalah sinis. "Sepertinya polisi moral kita kurang jauh mainnya. Konsepnya idealis tanpa mempertimbangkan aspek lain."
"Jika yang dimaksud adalah suatu kejadian. Ya! Itu jelas definisi dari etika dan moral seseorang. Dibuktikan oleh fakta, konkret, empiris, apapun istilahnya!" balasnya cepat dan keras, sambil memandang Rendra dengan penuh kemenangan.
Dan kalimat yang diucapkannya berhasil memancing Rendra, untuk kembali mengeraskan rahang. Lalu membalas tatapannya dengan mata yang jelas-jelas memancarkan amarah.
Kini, semua orang memandang ke arah mereka berdua dengan wajah 'apa yang terjadi?'
Sementara ia dan Rendra masih saling menatap kesal, seolah di ruangan itu hanya ada mereka berdua.
"Tenang ... tenang ...." Zaki mencoba menengahi.
"Ya ... okey ... mohon perhatiannya ... saya masih moderator di sini," Zaki tertawa sumbang karena merasa diabaikan. "Mari kita lanjutkan diskusi dengan kepala dingin ...."
***
Catatan :
Maskam. : masjid kampus
DTSL. : departemen teknik sipil dan lingkungan
Komdis : Komite disiplin, panitia ospek bagian penegakan disiplin
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Nita Ria Nita
lagi seru" Zaki jgn di ganggu dlu .aku suka perdebatan😅🤭
2024-11-14
2
Syarifah Ainun
bagian ini paling seruuuu... awal rasa itu ada Rendra.. oh I Miss uuu
2024-10-13
1
Renesme
Mulai seru nih 😀😀
2024-08-23
0