Bad Senior, Ever
(Senior terburuk yang pernah ada)
---------------------
Rendra dan Frida
"Taraaaa ...." Frida tersenyum lebar, sembari merentangkan sebuah kaos oblong berwarna hitam.
Namun Rendra tetap acuh sambil terus memainkan game Xbox di depan layar televisi.
"Kaos baru. Pakai ya ... nanti pas ke villa," Frida menyampirkan kaos ke leher Rendra, lalu memeluknya dari belakang.
"Biasa deh, kalau ngegame langsung ansos," Frida merajuk sambil mencium pipi Rendra.
Tapi Rendra bergeming, masih tetap berkonsentrasi dengan gamenya. Sama sekali tak memedulikan rajukan Frida.
"Aku ikut aja ke villa kenapa, sih? Bosen tahu ... di sini sendirian," kali ini Frida beralih tidur di pangkuan Rendra.
"Nggak bisa. Ini acara kampus," jawab Rendra acuh. Konsentrasinya tetap tertuju ke depan layar televisi.
"Iya tahuu ... kemarin juga si Claris ikut waktu Arjun makrab di villa. Padahal beda kampus. Masa sih aku enggak bisa. Kamu kan bosnya."
Mulut Rendra berdecak kesal karena jagoannya kalah. Namun sedetik kemudian sudah beralih memainkan game lain. Kali ini balap MotoGP.
"Nggak bener!" Rendra menggelengkan kepala.
"Ih ... emang kamu bener?" Frida tersenyum menggoda sambil mengusap dagu Rendra.
Spontan membuat Rendra menarik wajah sekaligus melepas kaos, yang Frida sampirkan ke lehernya. "Awas, gua lagi main!"
Frida merengut, memilih bangkit karena Rendra mengacuhkannya. Lalu berjalan menuju kulkas dan membukanya. Berusaha mencari-cari red velvet in jar favoritnya.
Menghadapi kelakuan kekasih seperti seorang Rendra, jelas memerlukan asupan energi yang banyak.
Syailendra Darmastawa, most wanted to die for hampir seluruh gadis normal di muka bumi ini.
Frida hampir putus asa mengejar cinta seorang Rendra. Tapi dewi keberuntungan rupanya masih berpihak.
Setelah usaha keras pendekatan, bersikap manis, sedikit caper, modal wajah di atas rata-rata, dan mau diperlakukan sesuai dengan keinginan Rendra. Akhirnya ia berhasil dekat dengan Rendra.
Karena, tak sembarang orang bisa berada di sekitar Rendra. Meski womanizer sejati, Rendra terkenal sangat selektif memilih siapa saja yang bisa masuk ke dalam ring 1 kehidupannya. Begitulah.
"Yaaah!"
Teriakan kesal karena jagoannya kalah kembali keluar dari mulut Rendra. Tapi Rendra tak kapok, kembali memilih jenis game yang lain lagi. Kali ini sepakbola.
Frida tersenyum sendiri memperhatikan tingkah kekanakan Rendra. Padahal di kampus, Rendra termasuk sosok yang paling menonjol dari sekian banyak bintang kampus.
Selain menjadi mahasiswa cerdas kesayangan para dosen. Rendra juga termasuk kating yang paling disegani. Sejak pertama masuk kuliah, jabatan ketua, koordinator, dan sebangsanya seolah melekat pada diri Rendra.
Tapi, tak ada kesempurnaan di dunia ini kecuali Sang Pencipta. No body's perfect. Kesuksesan di bidang akademik dan keorganisasian, berbanding terbalik dengan perilaku individu dan kepribadian Rendra. Playboy, womanizer, player sejati, brengsek, ba ji ngan, you name it, menjadi label yang melekat sempurna di dahi Rendra.
Kadang Frida berpikir, apakah lingkungan yang membentuk Rendra menjadi demikian. Ia tahu betul bagaimana para gadis berlomba 'menyodorkan' diri pada seorang Rendra. Termasuk dirinya.
Sad but true yeah.
Bayangkan, benteng prinsip dan iman sekuat apa yang harus dimiliki oleh tipe orang seperti Rendra, agar mampu menolak 'sodoran nikmat menggiurkan' di dunia yang sudah gila ini. Siapapun tak bakal lolos jika mendapat ujian semenyenangkan ini bukan?
Tek tek
Sendok kecil yang dipegang Frida menyentuh sisi jar tanpa ada satupun red velvet yang tersisa. Hmmm, melamun membuat ngemil jadi tak terasa, dan cake habis dalam waktu yang lebih cepat. Ia pun bangkit untuk mengambil air putih.
"Babe, gua mau juga dong, haus nih," teriak Rendra sembari tetap berkutat di depan layar televisi. Masih memainkan game sepakbola.
Frida menurut, mengambilkan sebotol air mineral dingin dari dalam kulkas.
"Nggak bosen apa ... main game terus?" rajuknya sambil menyerahkan botol air mineral.
Rendra menerima botol tanpa menoleh, dan langsung meneguk isinya sampai habis.
Rendra menurut dengan memilih exit game. Lalu mematikan televisi dari remote. Tapi sebelum perhatian Rendra tertuju penuh padanya, ponsel di atas nakas menggelepar-gelepar tanda ada panggilan masuk.
"Jangan diangkat," ancam Frida demi melihat Rendra bangkit.
Namun Rendra sama sekali tak menghiraukan rengekan Frida. Tetap bangkit, lalu berjalan menuju nakas untuk mengangkat ponsel.
Sementara di layar ponsel Rendra, muncul nama Tommy sebagai penelepon.
"Halo?"
"Bro, ada yang nyariin nih."
"Siapa?"
"Cewek," sepertinya Tommy sedang menjauhkan ponsel.
"Cakep, man," Tommy terdengar bertanya pada seseorang. "Katanya ... cuma mau ngasihin amplop isi laporan sama uang. Terima jangan?"
"Dari?" Rendra mengernyit. Sebab merasa tak memiliki janji dengan seseorang.
Tommy terdengar kembali bertanya pada orang lain.
"Anggi, Ilkom," bisik Tommy. Lalu melanjutkan dengan suara setengah berbisik, "Terima man."
Rendra terbahak, "Terima, tengkiu bro."
"Siapa yang nelpon? Kok senyum-senyum?" telisik Frida curiga, demi melihat Rendra tersenyum-senyum sendiri dengan wajah sumringah.
"Tommy, anak sekre."
Rendra mengangguk sambil tersenyum penuh arti. Entah senyum kepada siapa atau karena apa. Who knows (siapa yang tahu).
***
Anggi
Ia girang bukan main begitu mengetahui Mba Suko berhasil menjual tujuh dari delapan kaos yang tersisa.
"Mba Sukooo terlaaafffff ...." ia tak berhenti berterima kasih.
"Sisa satu, Mba."
"Nggak apa-apa, yang satu biar dibeli sama saya," ia terus-terusan tersenyum senang.
"Mba ini lucu, masa beli dagangan sendiri."
Membuatnya tertawa. "Yang penting kan ... udah terjual semua. Makasih banyak ya, Mba Suko."
"Saya juga makasih loh Mba, jadi dapet untung," Mba Suko ikut tertawa.
"Oiya, sekalian pamit. Habis ini saya mau pergi. Ada acara kampus di Kaliurang."
"Oh, ya ... monggo, hati-hati di jalan, Mba Anggi."
Ia mengangguk.
Begitu Mba Suko berlalu, ia segera mengetik Line chat untuk dikirim ke Zaki.
Anggi : 'Pakoor, kaos udah terjual semua. Uangnya di kemanain?'
Zaki : 'Koordinasi sama Bang Rendra.'
Anggi : 'Nggak punya nomornya.'
Zaki : 'Sent Line id @RendraD'
Anggi dalam hati : ogah -sambil mengomel-
Anggi : 'Titip di mana, ya?'
Ia harus menunggu beberapa saat sebelum Zaki kembali memberikan balasan.
Zaki : 'Titip di sekre taekwondo, plus laporan keuangannya.'
APA?
Ia kembali mengomel dalam hati. Itu orang ya, seolah tak ada puasnya. Maunya apa, sih?! Cari masalah?
Namun meski kesal, tetap diturutinya permintaan Rendra. Dengan membuat laporan keuangan paling simple, di atas selembar kertas HVS, hanya memakai tulisan tangan.
Puas, batinnya sambil membayangkan, kira-kira bagaimana reaksi Rendra. Ketika membaca laporan keuangan ala kadarnya itu.
Dan begitu urusan laporan selesai, ia langsung memasukkan laporan tersebut ke dalam amplop cokelat, lengkap dengan uang hasil penjualan kaos.
Selanjutnya, ia mulai berbenah mempersiapkan barang yang hendak dibawa ke villa.
Saking sibuknya mencari kost dan persiapan ospek, ia sampai lupa kalau belum pernah mencuci baju sejak pertama pindah ke Pitaloka.
Jadilah baju yang ada terbatas. Karena sebagian besar masih dititip di kost Sinta. Mau mengambil ke sana dulu jelas tak memungkinkan. Akhirnya ia memilih untuk membawa baju yang ada saja.
Berbenah selesai. Ia pun mulai bersiap untuk berangkat. Anak-anak yang mendapat jatah menumpang mobil Ayu, janjian kumpul di Mirota kampus.
Ia melirik jam dinding, hmm, masih ada 30 menitan lagi. Cukup untuk sampai tepat waktu di tempat janjian.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
✨️ɛ.
komenan warga adalah jalan ninjaku..
2024-12-03
0
Zi❤Cakra❤Rendra❤️Dean❤Zico
Bang Rendra i love you full😍😍
2024-12-30
0
Putri Dhamayanti
eh apanie apanie .... celap celup keq oreo kah ? 😒
2024-01-21
0