16. Bad Smoker, Ever

Bad Smoker, Ever

(Perokok terburuk yang pernah ada)

 -------------------

Anggi

Malam terasa sangat panjang. Semua hanyut dalam keriaan dan kebersamaan.

Sebenarnya masih ada sederet penampilan dari teman-teman lain untuk semakin mengeratkan bonding. Tapi ia memilih masuk lebih dulu ke dalam villa. Karena hidungnya benar-benar tak bisa lagi diajak kompromi. Sensitif dengan udara dingin yang menusuk. Ditambah stok tissue di saku jaket sudah semakin menipis.

Langkahnya diikuti oleh Jihan dan Difa, yang rupanya juga sudah mengantuk. Padahal jam baru menunjukkan pukul 23.50 WIB. Dan anak-anak di luar masih riuh rendah mengelilingi api unggun menghidupkan malam.

Namun begitu sampai di dalam villa, mereka malah tak bisa tidur. Justru rame mengobrol ke sana kemari tak ada juntrungan.

Sampai akhirnya Elva, Ayu, dan sebagian besar peserta perempuan yang lain, menyusul masuk ke dalam. Mereka masih saja asyik mengobrol.

"Yah, malah pada di sini," Elva menggelengkan kepala.

"Dingin di luar," dalihnya sembari mengeratkan pelukan pada diri sendiri.

"Ih, seru lagi," Elva menyayangkan.

"Tambah malem ... tambah gila aja tuh anak-anak."

Ia pun melirik pergelangan tangan kiri, 01.17 WIB. Hm, semakin malam, obrolan justru bertambah seru. Semua dibahas. Sesekali mereka terpingkal bersama.

Ternyata dari yang awalnya masih malu-malu kucing karena baru saling kenal dan berlatar belakang beda fakultas . Kini mereka seolah diikat satu sama lain dengan perasaan yang sama. Yaitu rasa ekspresif dan kebersamaan.

Sayup-sayup masih terdengar suara petikan gitar dan gelak tawa di luar villa. Mungkin dari peserta laki-laki yang juga belum bisa tidur. Suasana hangat dikelilingi para sahabat seperti saat ini memang jarang terjadi. Itulah mengapa, banyak yang tak ingin melewatkannya.

"Eh, kamu tadi ... sempat liat performnya Bang Rendra nggak?" Elva yang kebagian tidur di sebelahnya berbisik. Saat semua mulai bersiap terbang ke alam mimpi.

Ia menggeleng, untungnya enggak. Males banget coba, jika ia harus sering melihat dan bertemu dengan orang, yang jelas-jelas pernah berbuat kurang ajar seperti Rendra, justru eksis di mana-mana.

"Suara Bang Rendra bagus, main gitarnya ... beuh, keren ...." Tanpa diminta, Elva langsung menyerocos dengan penuh semangat. "Kata anak-anak tadi pada ngobrol ... dulu Bang Rendra pernah ikut unit band. Tapi keluar."

Ia hanya mengangkat bahu, sambil menyetel alarm tepat di waktu Subuh.

"Riska anak TI di sebelahku tadi cerita, dua tahun ... lalu sebenernya Bang Rendra yang kepilih jadi Presma (Presiden Mahasiswa), mutlak. Tapi mengundurkan diri ... nggak tahu kenapa."

Bagus lah, ia mencibir sinis. Untung ospek angkatannya bukan si mesum itu Presmanya. Bakalan geger seisi kampus, kalau sampai terbongkar the darkest side seorang Presma.

"Bang Rendra malah lebih milih ngurus unit taekwondo," lanjut Elva lagi.

"Eh, Bang Rendra juga pernah jadi atlet loh. Sering ikut turnamen mewakili daerahnya. Nggak tahu kenapa nggak diterusin. Padahal keren ya," mata Elva terlihat menerawang, entah sedang memikirkan apa.

Elva terus saja berbicara seolah tak memerlukan tanggapan atau jawaban darinya.

"Sayangnya, Bang Rendra udah punya cewek," Elva masih menerawang. "Padahal kan, high quality calon pacar ideal. Menantu idaman mertua. Iya, nggak?" Elva tersenyum.

Ia pun mulai terusik dengan kalimat terakhir Elva, "Kadang ... apa yang kita lihat, nggak seperti apa yang kita lihat."

Tapi Elva sama sekali tak menangkap maksud dari ucapannya. Justru kembali melanjutkan, "Ceweknya Bang Rendra, mantan finalis pageant lagi. How can i reach. Pasti banyak cewek yang nunggu kapan mereka putus. Antri bo, sampai masuk waiting list," Elva tertawa seolah itu adalah hal yang sangat lucu.

Membuatnya tak tahan lagi, "Girls support girls dong, Va. Apa banget deh ... ngarepin orang lain putus. Kamu tahu perumpamaan, gunung yang dilihat dari jauh lebih indah dibanding saat kita mendakinya?"

"Maksudnya?" Elva mengernyit.

"Apa yang kita lihat ... belum tentu seindah yang kita bayangkan. Ibarat objek yang dipantulkan, sering terlihat lebih bagus dari aslinya. Ilusi optik."

"Ah, kamu suka nggak nyambung deh," Elva mencibir.

Membuatnya ingin berteriak saat itu juga, agar semua yang ada di sini mengetahui, bahwa Rendra itu tak sesempurna seperti kesan yang ditampilkan. Rendra justru termasuk jenis tipe cowok yang harus dihindari jauh-jauh.

Tapi kekesalannya seolah terhenti di tenggorokan. Tertahan oleh kilasan hal yang dialaminya kemarin. Menimbulkan rasa marah, kesal, jengkel, malu, sekaligus sedih yang menggumpal di dada.

Elva terus saja menyerocos tentang 'kehebatan' Rendra, meski ia hanya manggut-manggut memasang ekspresi bosan. Masuk kuping kanan keluar kuping kiri.

Entah jam berapa mereka bisa terlelap. Seperti baru saja tertidur. Tapi alarm di ponsel sudah berteriak-teriak memanggil membangunkan mereka.

Tak lama kemudian, Zaki mengetuk pintu villa. Mengumumkan pada peserta perempuan, jika ada yang ingin ikut beribadah bersama, bisa dilakukan di masjid terdekat.

Ia pun bersiap untuk mengikuti rombongan yang akan berangkat ke masjid. Meski beberapa peserta perempuan, ada yang tetap melaksanakan sholat di villa. Dengan alasan, di luar dingin dan usai sholat hendak tidur kembali.

Rupanya letak masjid tak terlalu jauh. Hanya berjarak beberapa puluh meter dari villa. Masjidnya juga bersih dan terawat. Dan jamaah yang sholat pagi itu lumayan banyak. Namun sebagian besar telah berusia lanjut.

"Kami ... dari kampus, sedang mengadakan kegiatan di villa," begitu Aji dan Zaki memperkenalkan diri kepada seorang yang dituakan.

"Monggo ... silakan," begitu sambutan ramah yang mereka terima.

Melihat kehadiran para mahasiswa, takmir masjid langsung meminta salah satu dari mereka untuk mengisi kultum seusai sholat. Meski Aji dengan halus menolak, karena merasa tak memiliki kapasitas. Namun takmir masjid memiliki pendapat berbeda.

"Biar ada suasana baru di desa kami."

Akhirnya, dengan terpaksa Aji menuruti permintaan takmir masjid.

"Mas Presmaku," Elva berbinar menatap Aji yang sedang kultum di depan jamaah. Duh, Elva, semua orang saja dikagumi.

"Can't relate, biasa kultum di Maskam, not surprised," ujarnya. Tak heran lah ya, Aji yang juara debat, jago orasi, cuma kultum sih kecil.

"Kalau Bang Rendra yang kultum, surprise ya?" Elva mengerling.

Yaelah Elva, kenapa jadi ke Rendra lagi?

Ia pun hanya memutar bola mata.

Selesai beramah tamah dengan beberapa warga, Zaki mempunyai ide, untuk mengisi waktu sebelum sarapan tiba, dengan berjalan-jalan di lingkungan sekitar villa. Beberapa orang setuju, namun sebagian yang lain memilih pulang ke villa untuk melanjutkan tidurrr.

Ia, Elva, Ayu, dan Jihan, termasuk yang memilih untuk berjalan-jalan. Kapan lagi coba, mereka bisa menghirup udara pagi yang bersih dan segar khas daerah pegunungan.

Meski beberapa kali bersin dan harus menyusut ingus dari hidung. Ia tetap menikmati jalan keliling kampung bersama teman-teman. Beberapa warga yang melihat keberadaan mereka, menyambut dengan penuh keramahan.

Di pertigaan terakhir arah jalan pulang menuju ke villa, mereka menemukan warung kecil. Yang ternyata milik mbah-mbah penjual jadah tempe serta kopi merapi. Sontak semua langsung menyerbu.

Pagi yang dingin, udara segar, matahari mengintip dari balik gunung, segelas kopi merapi nikmat yang masih mengepul panas, cemilannya jadah tempe. Nikmat mana lagi yang kau dustakan.

Sambil menunggu jadah tempenya dingin dan siap untuk dimakan, berkali-kali ia mengeratkan pelukan pada diri sendiri. Dan itu menarik perhatian si ceriwis Elva.

"Woo ... pelanggaran nih, acara kampus malah pakai atribut kampus nun jauh di sana," Elva menyeringai menggoda. Begitu menemukan logo Ganapati menyembul di bawah kerah jaket yang sedang dipakainya.

Spontan ia membalikkan badan untuk menghindari tatapan penuh selidik Elva.

"Sekilas mirip jakang anak Fekon. Tapi begitu diperhatiin ... ada unidentified object," Elva terkikik sambil menunjuk logo Ganapati. "Sama anak Ganapati nih sekarang?"

"Apa, sih?" ia pura-pura tak mengerti.

"Jurusan apa? Masku juga kuliah di sana," Jihan ikut nimbrung setelah melihat logo di jaketnya.

"Mas-masan apa mas beneran?" Elva masih terkikik.

"Kakak sulungku, mas beneran lah ...." Jihan tertawa. "Siapa tahu saling kenal."

"Memang masmu jurusan apa?" Ayu ikut menimpali.

"Tambang."

"Wah? Kapan-kapan aku boleh main ke rumahmu ya, Han?" ceorocos Elva dengan gerak cepat. Membuat semua yang ada di sana tersenyum seraya menggelengkan kepala.

"Va ... Va ...." Ia menggeleng-gelengkan kepala. Sepertinya Elva memiliki motto hidup, gabungan antara 1001 jalan menuju Roma dan patah satu tumbuh seribu. Ha.

Usai menghabiskan jadah tempe dan kopi merapi yang lezat, mereka pun kembali ke villa. Di mana peserta yang lain sudah memulai sarapan pagi.

"Aku mandi dulu, ya! Rasanya gerah habis jalan. Nggak enak kalau langsung sarapan," Elva mengibaskan jaket yang dipakai karena terasa lengket di kulit. Rupanya perjalanan pulang ke villa yang lumayan menanjak dan berliku membuatnya berkeringat.

"Aduh, aku udah laper, nih," Ayu memegangi perutnya yang kempis. Ayu tadi memang tak memesan apapun di warung jadah.

"Aku juga. Mandinya entaran deh," Jihan sepakat.

"Nggi, temenin, dong," Elva merajuk. "Masa aku sendirian?"

"Iya, deh," ia mengangguk setuju.

Begitu mereka mandi dan beres-beres, selesai pula sebagian besar peserta yang sarapan. Ternyata banyak yang memilih mengisi perut terlebih dahulu dibandingkan membersihkan diri.

"Wah, kita ketinggalan kereta?" Elva celingukan di ruang tengah villa. Tempat di mana sarapan telah disediakan.

Suasana di ruang tengah yang lumayan luas ini cenderung sepi. Hanya terlihat beberapa kating yang sedang asyik mengobrol sambil tertawa.

"Nggak usah sarapan, deh," namun ia mendadak kehilangan napsu makan. Demi melihat tak satupun teman seangkatannya berada di ruang tengah.

"Ih, kenapa?" Elva mengernyit heran.

"Udah sepi," dalihnya memberi alasan.

"Laper tahu," tapi Elva bergeming.

"Aku ada cemilan di kamar," ia mencoba memberi alternatif.

"Maunya makan nasi, ah," Elva tak memedulikan protes kerasnya. Dan langsung berjalan menuju ke meja prasmanan. Mau tak mau, ia pun mengikuti langkah Elva.

"Wah, telat, nih?" sapa seseorang yang ikut antre di belakang mereka.

Ternyata Aji Presma, yang baru pulang dari kunjungan ke rumah Pak Kadus (kepala dusun). Tadi sebelum mampir ke warung jadah, mereka sempat melihat Aji dan Zaki berkunjung ke rumah Pak Kadus. Sepertinya untuk beramah tamah.

"Hehe ... iya nih, Mas," Elva yang menjawab.

"Kita masih kebagian nggak?" Aji memanjangkan leher memperhatikan isi meja prasmanan.

"Masih ada kok," Elva mengangguk. "Masih banyak."

"Alhamdulillah," Aji tersenyum senang. "Silakan ... lady's first."

Elva tersenyum mengangguk.

Sementara ia hanya diam mengekori langkah Elva.

"Wah, dikit amat makannya. Lagi diet?" komentar Aji ketika melihat isi piringnya.

"Enggak, udah sempet makan jadah tadi," jawabnya cepat.

"Anggi mah emang makannya sedikit," sahut Elva.

"Makan yang banyak dong, biar cepet gede," seloroh Aji. "Tumbuh tuh ke atas."

"Wah, Nggi? Mas Aji nih ngajak ribut, nih," Elva tersenyum kocak. Sementara ia hanya memutar bola mata. Iya deh yang badannya jangkung-jangkung.

"Makannya gabung aja di sini," Aji menawarkan. "Nggak enak jauh-jauhan kayak lagi marahan aja," seloroh Aji.

Membuat Elva tertawa. Kecuali dirinya, yang langsung terkesiap. Begitu melihat sebagian besar meja di ruang tengah telah kosong ditinggalkan oleh para kating, yang sedari tadi sedang asyik mengobrol. Namun kini hanya menyisakan satu orang yang masih duduk di sana. Orang yang paling tak disukai dan hindari, Rendra.

"Makan di kamar aja, yuk," bisiknya penuh permohonan. "Ayo dong, Va."

"Kenapa di kamar?" Elva mengernyit heran.

"Nggak enak kalau makan di sini," ia mencoba beralasan.

Tapi Elva tak berminat untuk menggubris permintaannya. Karena telah menerima ajakan Aji dengan senang hati. Elva bahkan langsung mendudukkan diri di kursi yang kosong.

Sambil mengembuskan napas panjang, mau tak mau ia mengikuti langkah Elva. Dengan mengambil duduk di sebelah Elva. Berada tepat segaris di hadapan Rendra yang sedang merokok.

Dih, ia paling tak menyukai asap rokok. Jangan sampai karena terpaksa harus duduk di sini dan menghirup asap rokok, membuat alerginya kambuh.

"Nah, gini kan asyik," Aji tersenyum. "Eh, kita udah pernah kenalan belum?"

"Saya jelas kenal sama Mas Aji. Nggak tahu deh, Mas kenal nggak sama saya?" Elva tertawa senang.

"Kalau gitu ... kenalan deh, aku Aji," Aji tersenyum seraya mengangsurkan tangan kanan mengajak bersalaman.

"Yeee, udah tahu juga," Elva kembali tertawa. "Elva," namun tetap disambut juga uluran tangan Aji.

"Kamu?" Aji menunjuk ke arahnya.

"Anggi," jawabnya singkat, sekaligus berjabat tangan dengan Aji.

"Dari mana?" tanya Aji lagi.

"Sesama Ilkom," Elva uang menjawab.

"Oh, si Fahmi, ya?" Aji menyebut nama ketua BEM fakultas mereka.

Elva mengangguk.

"Kalau sama yang ini, udah kenal belum?" Aji menepuk bahu Rendra yang sedang acuh memainkan sesuatu di dalam ponsel, sambil sesekali mengisap rokok.

"Udah, dong," Elva tersenyum antusias. "Bang Rendra, kan?"

"Ada nggak sih ... yang nggak kenal kamu, Bro?" Aji tertawa.

Namun Rendra tak peduli. Jangankan menyapa. Rendra bahkan tak mengalihkan pandangan dari layar ponsel barang sedikitpun. Sopan banget, kan?

Mereka pun kembali melanjutkan menyantap isi piring masing-masing. Aji mengobrol dengan Rendra, sesekali diselingi tawa. Sementara ia dan Elva hanya mengobrol seperlunya saja. Terlebih, ia sedang malas untuk sekedar berbicara. Apalagi sebabnya, kalau bukan karena pemandangan tak menyenangkan, yang berada tepat di hadapannya. Rendra.

Namun di tengah acara makan, Aji mendadak memperhatikan dirinya dan Rendra dengan intensitas tinggi. Seperti menyadari sesuatu yang aneh.

"Busyet deh, kalian pakai kaos couple?" tanya Aji lebih seperti tuduhan. Kemudian diiringi dengan ledakan tawa. Membuat mereka berempat saling berpandangan bingung.

APA??

Matanya terbelalak sampai hampir copot. Ia bahkan langsung tersedak begitu menyadari mereka, ia dan Rendra, sedang mengenakan kaos dengan warna dan desain yang sama. Yang benar saja.

"Kok bisa, sih? Kalian janjian?" Aji tak mampu menyembunyikan senyum jahil yang kembali diikuti dengan tawa paling keras.

"Enggak janjian," ia buru-buru menjawab sambil merengut kesal setengah mati. Demi menyadari jika ini adalah satu-satunya baju bersih yang ia bawa.

Sementara Rendra masih bergaya stay cool. Meski sekilas Rendra juga terlihat terkejut. Sambil menyipitkan mata, Rendra melihat ke arahnya dengan tatapan yang tak dapat diartikan.

"Skandal apalagi nih, Ren?" Aji jelas meledek. "Kalian berdua sebenarnya udah saling kenal atau gimana, sih? Kok bisa pakai kaos samaan?"

"Probabilitasnya kan hampir mustahil," Aji masih tertawa. "Ya ... kecuali kalau memang udah janjian. Atau ...." Aji jelas sengaja menggantung kalimat.

Sementara Elva sempat melongo, berulangkali memperhatikan kaos yang sedang dipakainya dan Rendra. Sebelum akhirnya ikut tertawa garing, namun sambil terus mengernyit bingung.

Tinggal menyisakan mereka berdua, ia dan Rendra, yang tetap diam sambil saling melempar pandangan sengit.

"Destiny or coincidence?" Elva mulai ikut menggoda mereka.

"Aku nggak ikut-ikutan," Aji berlagak mengangkat tangan, namun dengan gaya kocak dan dibuat-buat.

Sedangkan Rendra tetap memasang ekspresi wajah stay cool, sembari mengisap rokok dalam-dalam. Kemudian mengembuskannya perlahan. Membuat asap putih tebal mengitari udara di sekeliling mereka.

Ia yang sedang kesal tak mampu menahan diri lagi. Begitu asap rokok terhirup masuk ke dalam rongga hidung. Membran mukosanya langsung bereaksi mengirimkan rasa menyengat. Membuat pangkal hidungnya pedih. Kemudian berakhir di tenggorokan, yang rasanya mendadak gatal bukan main. Membuatnya tak lagi bisa menahan batuk.

"Eh, kenapa?" Aji mulai panik melihatnya batuk tanpa henti.

"Alergi asap," Elva menjawab sambil menyodorkan segelas air mineral padanya, "Minum dulu, Nggi."

Namun meski sudah minum, batuknya tak kunjung berhenti.

"Yah, kamu sih! Kalau mau ngerokok di luar, dong," Aji melirik Rendra yang sedang mengernyit heran, melihatnya batuk terus menerus.

"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"

Sembari terus menatapnya, Rendra menggerus rokok yang masih panjang ke atas piring bekas makan. Namun dengan ekspresi wajah yang tak terdefinisikan.

***

Catatan :

Jakang. : jaket angkatan

Fekon. : fakultas ekonomi

Terpopuler

Comments

Bebby_Q'noy

Bebby_Q'noy

hahahahaa

2024-10-24

0

SweetMuffin SM

SweetMuffin SM

rindu renren

2024-09-28

0

Lia Kiftia Usman

Lia Kiftia Usman

balik baca thor ... yg lalu asyik baca karyamu belum kasih kado 🙏😁🤭

2023-11-19

3

lihat semua
Episodes
1 1. Dio, The First Love Never Die
2 2. Di Pasir Putih
3 3. Mencari Kost Baru
4 4. How They Met
5 5. Beautiful Disaster, I'm Coming!
6 6. When It All Began
7 7. What A Morning!
8 8. Terrible Things
9 9. Deadly Nightmare
10 10. Rengganis, Girl From Nowhere
11 11. Their First Fight
12 12. Mba Suko
13 13. Salah Paham
14 14. Bad Senior, Ever
15 15. "Ketika Senyummu Hadir"
16 16. Bad Smoker, Ever
17 17. Mimisan di Depan Rendra
18 18. Bye, Pitaloka. Bye, Disaster.
19 19. Welcome to Raudhah
20 20. "Pakai Topi ... Nanti Pingsan!"
21 21. Sekaleng Bear Brand
22 22. "Sleep Tight"
23 23. D-Day
24 24. Kiriman Makan Siang
25 25. End of Days
26 26. Eyes on You
27 27. "Maaf"
28 28. "I Just Simply Love You"
29 29. "You're Every Reason"
30 30. "Sorry, I Can't"
31 31. Kejutan di Akhir Pekan
32 32. Senja Yang Indah di Malioboro
33 33. Lagu Cinta tentang Engkau dan Aku
34 34. Blue Night, Broken Heart
35 35. Tak Bisa ke Lain Hati
36 36. All is Well, Love You More
37 37. Iam A Fighter!
38 38. Senior's Eyes
39 39. Who's The Boss?
40 40. Indescribable Feeling
41 41. The Rising Star
42 42. Young and Dangerous
43 43. Deepest Pain
44 44. Deepest Sadness
45 45. Rapuh dalam Langkah
46 46. Pergilah Kasih
47 47. Always Here For You
48 48. Setelah Kau Pergi
49 49. Being Someone's 2nd
50 50. Really Deadly Disaster
51 51. Tell Me How To Win Your Heart
52 52. Kisah dari Masa Lalu
53 53. Family Portrait
54 54. The World We Have To Live In
55 55. Achilles Heel
56 56. Hi Heart, How Are You Today?
57 57. "Now You See Me?"
58 58. Trully, Madly, Deeply
59 59. Moshimo Mata Itsuka*
60 60. Witing Tresno Jalaran Soko Kulino
61 61. Boys Gonna Be Boys
62 62. River Flows in You
63 63. Tell Me We Belong Together
64 64. Kiss The Rain
65 65. Still Fall For You Everyday
66 66. Daun-Daun Gugur
67 67. Judgement Day
68 68. Loving Too Much Always Kills You
69 69. Berdiri di Tengah Badai
70 70. Luluh Lantak
71 71. Lemme be Yours
72 72. "Jalanku Hampa, dan Kusentuh Dia"
73 73. Don't Look Back In Anger
74 74. Seberapa Pantaskah Kau untuk Kutunggu?
75 75. Hadirmu Tenangkan Diriku
76 END- Ini Aku, Kau Genggam Hatiku
77 Teruntuk Readers Tersayang
78 From Author with Love
79 TERBIT CETAK
Episodes

Updated 79 Episodes

1
1. Dio, The First Love Never Die
2
2. Di Pasir Putih
3
3. Mencari Kost Baru
4
4. How They Met
5
5. Beautiful Disaster, I'm Coming!
6
6. When It All Began
7
7. What A Morning!
8
8. Terrible Things
9
9. Deadly Nightmare
10
10. Rengganis, Girl From Nowhere
11
11. Their First Fight
12
12. Mba Suko
13
13. Salah Paham
14
14. Bad Senior, Ever
15
15. "Ketika Senyummu Hadir"
16
16. Bad Smoker, Ever
17
17. Mimisan di Depan Rendra
18
18. Bye, Pitaloka. Bye, Disaster.
19
19. Welcome to Raudhah
20
20. "Pakai Topi ... Nanti Pingsan!"
21
21. Sekaleng Bear Brand
22
22. "Sleep Tight"
23
23. D-Day
24
24. Kiriman Makan Siang
25
25. End of Days
26
26. Eyes on You
27
27. "Maaf"
28
28. "I Just Simply Love You"
29
29. "You're Every Reason"
30
30. "Sorry, I Can't"
31
31. Kejutan di Akhir Pekan
32
32. Senja Yang Indah di Malioboro
33
33. Lagu Cinta tentang Engkau dan Aku
34
34. Blue Night, Broken Heart
35
35. Tak Bisa ke Lain Hati
36
36. All is Well, Love You More
37
37. Iam A Fighter!
38
38. Senior's Eyes
39
39. Who's The Boss?
40
40. Indescribable Feeling
41
41. The Rising Star
42
42. Young and Dangerous
43
43. Deepest Pain
44
44. Deepest Sadness
45
45. Rapuh dalam Langkah
46
46. Pergilah Kasih
47
47. Always Here For You
48
48. Setelah Kau Pergi
49
49. Being Someone's 2nd
50
50. Really Deadly Disaster
51
51. Tell Me How To Win Your Heart
52
52. Kisah dari Masa Lalu
53
53. Family Portrait
54
54. The World We Have To Live In
55
55. Achilles Heel
56
56. Hi Heart, How Are You Today?
57
57. "Now You See Me?"
58
58. Trully, Madly, Deeply
59
59. Moshimo Mata Itsuka*
60
60. Witing Tresno Jalaran Soko Kulino
61
61. Boys Gonna Be Boys
62
62. River Flows in You
63
63. Tell Me We Belong Together
64
64. Kiss The Rain
65
65. Still Fall For You Everyday
66
66. Daun-Daun Gugur
67
67. Judgement Day
68
68. Loving Too Much Always Kills You
69
69. Berdiri di Tengah Badai
70
70. Luluh Lantak
71
71. Lemme be Yours
72
72. "Jalanku Hampa, dan Kusentuh Dia"
73
73. Don't Look Back In Anger
74
74. Seberapa Pantaskah Kau untuk Kutunggu?
75
75. Hadirmu Tenangkan Diriku
76
END- Ini Aku, Kau Genggam Hatiku
77
Teruntuk Readers Tersayang
78
From Author with Love
79
TERBIT CETAK

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!