Rengganis, Girl From Nowhere
(Rengganis, gadis antah berantah)
------------------
Anggi
"Wah, nggak bener. Mesti dikonfront ke Niken. Bisa-bisanya dia nawarin kost yang begituan ke kamu?!" gerutu Mala, saat mereka janjian ketemu di Mirota Kampus. Setelah semua acara dengan subdiv masing-masing selesai.
"Masalahnya ... Niken tahu nggak, kalau kostnya tuh 'begitu'?" ia mengambil beberapa mie instant, lalu memasukkannya ke dalam keranjang. Ia berniat mengganti mie instant Niken yang tadi pagi dimasak.
"Yang bener aja! Pasti tahu lah!" Mala semakin menggerutu.
"Lagian ... aku duluan yang nanya kost. Bukan dia yang nawarin."
"Siapapun yang duluan nanya, harusnya dia terus terang dari awal dong ... tentang 'kondisi' kostnya. Jadi, kamu bisa hati-hati. Jadi ... kamu nggak sampai dilecehin kayak tadi pagi."
Ia menghela napas panjang. Di dalam kepala mendadak melintas bayangan seorang berkemeja putih garis biru. Sial!
"Intinya ... ada cowok kurang ajar ke kamu. Dan kamu mesti konfront ke Niken. Perlu aku temenin?"
"Makasih, Mal. Aku sendiri aja."
"Tega banget kalau sampai Niken sebenernya tahu ... tapi malah sengaja nawarin ke kamu," Mala geleng-geleng kepala. "Nih ... aku udah pengumuman di anak-anak sekitaran gelanggang tentang kost, mungkin sebentar lagi ada info."
"Thanks, Mal."
Dari Mirota Kampus, ia pulang sendiri ke kost. Namun ada rasa malas sekaligus enggan. Jangan-jangan nanti ketemu si mesum lagi di kost. Jangan-jangan ....
Tapi kekhawatirannya tak terbukti. Halaman kost masih sepi. Hanya terdapat sekitar 3 kendaraan yang terparkir. Dengan tanpa seorangpun terlihat di ruang tamu, lift, hingga ia keluar lift di lantai 2. Aman.
Saat melewati kamar Niken, lagi-lagi tertulis out di depan pintu.
Akhirnya, dengan langkah gontai ia berjalan menuju kamar, dan berharap besok pagi bisa bertemu dengan Niken.
Ia baru memutar kunci pintu, ketika suara barang pecah terdengar dari seberang kamarnya.
PRANGNG!
Dengan kaget ia melihat ke arah pintu yang terbuka sebagian. Sambil menimbang-nimbang dalam hati. Tetap masuk ke kamar sendiri, atau mencari tahu ke arah suara.
PRANGNG!
Suara pecahan kedua terdengar.
Dengan berat hati campur was was, ia memberanikan diri mengetuk pintu kamar seberang.
TOK TOK TOK
"Mba ... permisi ...."
Namun sepi. Sama sekali tak ada jawaban.
"Mba?" ia mencoba melebarkan pintu. Dan langsung terbelalak, demi melihat seorang gadis berwajah pucat pasi, sedang meringkuk kesakitan di atas tempat tidur. Dengan keadaan sprei dan selimut yang berantakan tak karuan. Kemungkinan akibat bekas hentakan kaki yang menahan rasa sakit dalam waktu lama.
"Kenapa?" dengan setengah berlari ia menghampiri gadis tersebut. Matanya sempat menangkap bekas pecahan gelas yang berserakan di samping tempat tidur.
"Sshhh! Sakit ... sakiiiiit ...." ujar gadis tersebut sambil memegangi perut.
"Mba?" ia pun semakin bingung harus melakukan apa.
"Mminumm ... hhausss ...."
Matanya dengan cepat melihat ke arah nakas yang kosong. Sepertinya gelas di atas nakas sudah jatuh semua dan pecah.
Ia kemudian beralih meneliti seisi kamar. Dispenser terletak di salah satu sudut. Lalu dengan tergesa ia berusaha mencari gelas.
"Gelas ... gelas ... di mana gelas, Mba?" matanya nyalang menyisir seantero ruangan.
Tangan gadis tersebut menunjuk ke sebuah lemari.
Ia pun bergegas mengambil gelas, mengisi dengan air, lalu meminumkannya.
"Uhukk! Uhukk!"
Gadis tersebut terbatuk dan langsung memuntahkan air yang baru diminum. Membuatnya menatap cemas.
"Saya antar ke rumah sakit, ya?"
Tapi gadis tersebut menggelengkan kepala keras-keras.
"Tapi ... Mba kan sakit."
"Sshhh ... sshhhh ...." gadis tersebut kembali memegangi perut sembari mengaduh.
"Yang sakit perutnya, Mba? Saya balur pakai kayu putih, ya?"
Ia segera berlari masuk ke kamarnya, untuk mengambil minyak kayu putih.
"Maaf ya, Mba ...." ujarnya saat hendak membalurkan minyak kayu putih ke perut gadis tersebut.
"Sshhhh .... sshhhh ...." gadis tersebut masih saja mengaduh kesakitan.
"Mba .... Saya antar ke Rumah Sakit, ya?"
Gadis tersebut lagi-lagi menggeleng.
"Tapi Mba udah kesakitan. Baju Mba basah sama keringat dingin. Mba harus dirawat."
"Sshhhh ... ssshhhhh ...." gadis tersebut terus saja memegangi perut sambil meringis kesakitan.
"Atau ... Mba mau saya hubungi siapa? Keluarga Mba mungkin. Atau temen?"
"Ssshhhhh ... sshhhh ... aduuuuh, sakiiiiit ... sakiiiiit ...."
Tanpa berpikir apalagi menunggu jawaban, ia langsung meraih ponsel di saku guna memesan Taxi online.
"Mba kuat berdiri?" tanyanya usai seorang pengemudi menerima orderannya.
"Ssshhhhh ... sakiiiiit ...."
Ia pun buru-buru menyambar sweater yang tergeletak di atas sofa. Lalu memakaikannya pada gadis tersebut. Yang kini tengah berusaha untuk mendudukkan diri.
Tak lupa ia menyisiri rambut gadis tersebut. Kemudian menyeka wajah yang basah oleh keringat dingin, dengan tisu basah yang diambilnya dari atas nakas.
Gadis tersebut tetap meringis kesakitan memegangi perut. Tapi tak protes ketika ia melakukan semuanya.
"Taxinya udah nunggu di bawah, Mba. Ayo ..." Ia kemudian membantu gadis tersebut untuk berdiri pelan-pelan. Lalu merangkulkan lengan ke belakang punggung, untuk membantu gadis tersebut berjalan.
Pelan tapi pasti, mereka mulai keluar dari dalam kamar. Dengan masih diiringi suara mengaduh menahan rasa sakit. Yang keluar dari mulut gadis tersebut.
"Ssshhhhh ... ssshhhhh ...."
Di depan pintu kamar, mereka berpapasan dengan seorang pria. Sepertinya tamu. Membuatnya sedikit berharap bisa mendapat bantuan. Tapi harapan langsung sirna, begitu mendapat reaksi acuh dari cowok tersebut, meski sempat melihatnya sedang kerepotan memapah seseorang.
Sambil menghela napas, ia memapah gadis tersebut melewati lorong. Beberapa meter sebelum mencapai pintu lift, seseorang membuka pintu kamar.
Ia pun tersenyum ramah pada gadis yang baru saja membuka pintu. Sekaligus meminta bantuan secara tak langsung. Tapi yang didapat justru ....
"Yaelah, lu kenapa?" cibir gadis yang kini sedang berkacak pinggang di depan pintu seraya melirik gadis yang sedang dipapah olehnya.
Ia pun hanya bisa menghela napas panjang. Dan memilih untuk buru-buru mempercepat langkah menuju lift.
Begitu pintu lift terbuka, sepasang pria dan wanita berjalan keluar dari dalam lift. Namun lagi-lagi mereka bersikap acuh. Sama sekali tak terlihat keinginan untuk membantunya yang sedang kerepotan.
"Sshhh ... sshhhh ...." bisik gadis yang sedang dipapahnya hampir tak terdengar. Dengan sebelah tangan memeluk perut seerat mungkin.
"Sabar ya Mba, sebentar lagi," ia mencoba menenangkan. Meski ia juga tak memahami apa yang sebenarnya sedang dilakukan.
Begitu pintu lift terbuka, suara Mba Suko memekik nyaring. "Ya ampun?! Mba Ninis ... kenapa Mba?!" Mba Suko yang hendak memasuki lift langsung mengurungkan niat demi melihatnya kepayahan.
"Mba ini sakit ... mau ke rumah sakit," jawabnya sambil terengah. Karena memapah tubuh yang memiliki postur lebih tinggi darinya.
"Waduh, Mba Ninis ... kenapa?" Mba Suko jutru menangis.
"Mba Suko bisa bantu saya naikkin Mba ini ke Taxi nggak?" pintanya yang semakin kewalahan.
"Iya ... iya ... iya. Sini ... sini ... sini ...." sambil berurai air mata, Mba Suko kemudian membantunya memapah Ninis untuk memasuki Taxi online yang telah menunggu di halaman kost.
***
"Nama pasien?" perawat di bagian administrasi menanyakan untuk yang ketiga kalinya.
Ia hanya bisa meringis bingung, "Maaf ... saya nggak tau Sus ...."
Perawat di depannya mengernyit heran, "Mba yang bawa pasien ke sini?"
"Iya betul," ia mengangguk. "Masalahnya ... saya belum kenal. Saya baru pindah kost kemarin malem. Mba ini ... tetangga depan kamar saya," ia berusaha menerangkan.
"Kalau begitu ... silakan tunggu. Nanti kami panggil kembali."
"Baik Sus, terima kasih."
"Sama-sama."
Ia pun bangkit, lalu berjalan menuju deretan kursi tunggu di depan resepsionis. Namun belum juga sempat duduk, ia teringat jika harus mengetahui identitas pasien. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk kembali ke ruang IGD.
Suasana di dalam ruang IGD, malam ini terlihat sangat sibuk. Beberapa dokter dan suster jaga hilir mudik merawat para pasien. Beberapa yang datang hampir bersamaan dengannya sebagian besar adalah pasien berusia kanak-kanak. Bahkan ada seorang bayi yang terus menangis meski sudah ditangani oleh dokter.
Dengan hati-hati, ia berjalan menuju tempat tidur paling ujung. Di mana gadis yang tadi mendapat perawatan pertama. Belum juga sampai, sebuah suara penuh kepanikan menginterupsi langkahnya.
"Di mana pasien yang baru datang?"
"Nama?"
"Rengganis."
"Tidak ada pasien bernama Rengganis."
"Saya dapat info ... tadi dibawa ke sini."
"Tapi di daftar kami ... tidak ada pasien bernama Rengganis."
"Tapi dia dibawa ke sini!"
"Baik, tunggu sebentar."
Membuatnya berbalik. Dan langsung mendapati seorang pria paruh baya, yang sedang berdiri dengan gelisah. Menunggu suster jaga meneliti berkas pasien. Dengan sedikit ragu, ia memutuskan untuk berjalan mendekat.
"Maaf, Pak," ujarnya hati-hati. Membuat pria itu menengok.
"Saya nggak tahu siapa yang Bapak cari. Tapi ... tadi saya membawa teman ke sini ... maksud saya ... saya mengantar seseorang ke sini dari Pondok Pitaloka," ia teringat tulisan besar di depan kost, yang baru sempat dilihatnya tadi pagi. Sewaktu memotret halaman depan permintaan dari Fira. Pondok Pitaloka. "Saya nggak tahu namanya ...."
"Pitaloka di ...." Pria itu menyebut alamat lengkap kostnya.
"Iya, betul," ia mengangguk.
"Di mana dia?"
Ia pun bergegas menuju tempat tidur paling ujung. Diikuti pria tersebut, yang tak menghiraukan panggilan suster.
"Pak ... pak ... loh kok malah pergi? Katanya nanya pasien?" seru perawat yang bengong, demi melihat pria itu justru pergi mengikutinya, tak memedulikan panggilan perawat.
"My Gosh," ujar pria itu tertahan. Demi melihat seseorang yang kini tengah tergolek lemah di atas tempat tidur, lengkap dengan selang infus dan oksigen.
Ia pun bernapas lega. Karena sepertinya benar, bahwa pria ini mencari gadis tersebut.
"Kamu ... siapa?" pria itu beralih ke arahnya.
"Saya yang di kamar seberang Pak, Om, eh, Pak. Baru pindah kemarin malam."
"Pantesan, saya nggak kenal."
Ia hanya meringis.
"Jadi .... Kamu, yang bawa Ninis ke sini?"
"Oh, namanya Ninis?"
Kini gliran pria itu yang mengernyit.
"Ee .... Saya belum tahu namanya, maaf ...." Ia kembali meringis malu.
"Pasien nomor tiga puluh empat," seorang dokter jaga berpakaian hijau menyeruak gorden IGD.
"Ya?" pria itu menjawab tegas.
"Anda keluarganya?"
"Ya."
"Pasien sudah kami periksa darah, urine, dan USG. Diagnosa awal infeksi usus buntu ...."
Dokter jaga menjelaskan indikasi medis sekaligus menyarankan agar penunggu pasien segera mengurus administrasi untuk rawat inap.
"Pak ... saya pamit pulang dulu," ujarnya setelah dokter jaga pergi. Demi melihat jam dinding besar di tengah ruang IGD, telah menunjukkan pukul 22.30 WIB.
"Oh ya, silakan ... silakan. Terima kasih, ya."
Ia tersenyum mengangguk.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
☠Arin_
penasaran
2024-02-14
0
Arie Sri Mulyani
owh ini di Jogja tow, kuliyah ya di UGM ya kak?
2023-10-13
0
Dwi Sasi
Pria paruh baya... Apakah bpknya, atau...
2023-02-09
0