Beautiful Disaster, I'm Coming!
(Bencana yang indah, aku datang!)
----------
Anggi
"Kamu bisa pakai semua yang ada di kamar ini. Karena semua fasilitas dari pemilik kost. Tempat tidur, lemari, meja, kursi, sofa."
Ia pun memperhatikan seluruh isi kamar dengan takjub. Luas keseluruhan kamarnya bahkan tiga kali lipat lebih besar dibanding kost lamanya.
"Barang-barang temanku udah di rapihin kok. Udah di packing di gudang. Jadi ... kamar ini udah free and ready."
"Berapa duit, Nik?" ia menelusuri salur-salur halus di gorden warna kuning yang menutupi jendela berkaca lebar. Ketika melongokkan kepala keluar, jelas terlihat lampu taman di halaman kost yang asri.
"Dua setengah juta sebulan."
"Waduh."
"Santai aja. Ini kan hubungannya sama temenku yang punya kamar, bukan sama pemilik kost. Nggak harus bayar cash sekarang kok, kapan aja kamu ada uang."
"Iya ... tapi sama aja, Nik. Jauh melebihi budget," ia meringis sambil kepalanya menghitung dengan cepat. Apakah uang yang dimilikinya cukup untuk membayar sewa kost Niken. Dan masih ada sisa untuk membayar kost yang sesungguhnya nanti.
"Ya ... terserah kamu."
"Memang nyaman sih ... di sini ...." Ia kembali memperhatikan keseluruhan kamar yang rapi, bersih, cenderung mewah malahan.
"Bersih, asri, tempat parkir luas, nggak terlalu jauh dari kampus, fasilitas super lengkap," ia kembali melongokkan kepala keluar jendela.
Bertepatan dengan masuknya sebuah Rubicon warna hitam pekat ke halaman. Dan parkir tepat di bawah jendela kamar yang sedang sedang dilihatnya. "Wih, keren."
Membuat Niken tertarik ikut melongokkan kepala ke luar jendela. Di mana terlihat sesosok jangkung berjaket hijau keluar sambil melompat riang dari dalam Rubicon. Dengan mata memandang penuh rasa ingin tahu ke arah jendela kamar yang sedang mereka tempati.
Kening si jaket hijau terlihat mengernyit. Niken pun melempar senyum ke arah si jaket hijau. Namun ia tak melihat itu semua, karena sudah keburu beralih mengecek isi kamar mandi.
"Kamar mandinya bagus banget," ujarnya kagum. "Water heater, bath tub, shower kaca ...." Ia berusaha melihat lebih ke dalam.
"Oya, sori, khusus kamar mandi deretan sini, lagi mampet dan nggak ada air, Nggi. Udah lapor ke yang punya, semingguan lagi baru mau diperbaiki."
"Waduh."
"Tapi tenang aja, kamu bisa pakai kamar mandi umum, di ujung lorong. Ada empat kamar mandi di sana. Desainnya nggak jauh beda ama yang di sini kok."
"Oh, gitu ya."
"Gimana, jadi diambil?"
"Kalau seminggu dulu boleh nggak. Istilahnya trial kost gitu hehe ...."
"Boleh aja sih. Ntar aku bilangin ke temenku."
"Hah? Serius nih?"
"Dua rius. Biar sama sama enak. Kalo kamu nggak betah kan tinggal pindah, cuma ambil seminggu ini. Kalau kamu betah ... bisa lanjut kan?"
"Yang penting ... budget segitu. Dan sebetah-betahnya kamu di sini, maksimal enam bulan. Karena akhir taun ... temenku udah balik lagi ke sini."
"Deal," ia mengulurkan tangan mengajak Niken bersalaman.
"Sip!" Niken tersenyum.
"Oya, dapur ada di bawah. Turun tangga belok kanan."
"Rak punyaku yang warna ungu. Kamu boleh pakai semua yang ada di sana selama barang-barang kamu belum pindahan."
"Oke ... oke ...."
"Oya, aku jam sembilanan mau keluar. Ada acara yang mesti kudatangi."
"Siap."
"Jangan lupa kunci pintu. Trus ... jam sembilan ke atas kalau bisa ... kamu jangan keluar kamar."
"Kenapa?"
"Khawatir kamu jadi kurang nyaman. Penghuni kost di sini kan banyak, tipenya macem-macem, jaga-jaga aja kalau-kalau kamu belum terbiasa."
"Oke," ia mengangguk setuju.
Kostan ini berdiri megah setinggi 3 lantai. Di tiap lantai kurang lebih terdiri dari puluhan kamar. Lebih besar berkali lipat dibanding kost lamanya yang hanya satu lantai dengan 12 kamar.
"Kalau gitu ... aku bayar sekarang buat seminggu," ia hendak mengambil dompet yang ada di dalam tas.
"Cashless deh."
"Kirimin noreknya ya. Kamu masih punya Line id ku kan?"
"Oke. Iya, ada. Oya, aku udah bilang ke Mba Suko penjaga kost, kalau mulai malem ini .. kamu nempatin kamarnya Megis. Jadi ... kalau perlu apa-apa, bilang aja ke Mba Suko. Nanti aku kirimin nomer WAnya ke kamu."
Ia mengangguk-angguk mengerti.
"Aku tinggal dulu ya. Mesti siap-siap."
"Makasih banyak ya Nik," ia tersenyum.
"Sans," Niken balas tersenyum.
Setelah Niken pergi, ia pun langsung menjatuhkan diri ke atas kasur.
Capenyoo.
Hmmm, empuk banget kasurnya.
Sambil memandang langit-langit kamar, ia tersenyum sendiri. Demi merasakan betapa nikmatnya punggung yang lelah bertemu dengan kasur empuk nan wangi. Sementara di luar, suara hujan turun terdengar semakin deras. Menambah nikmat suasana. Membuat matanya otomatis terpejam.
Setelah sekitar 15 menit tidur-tidur ayam, ia mulai merasa lapar. Dengan malas ditegakkan tubuhnya, mengambil donat yang tersimpan di atas nakas.
Sambil makan, iseng-iseng diambilnya ponsel untuk merekam seisi kamar. Termasuk keluar jendela. Yang entah mengapa, mendadak halaman sudah penuh dengan deretan mobil merk prestisius. Padahal tadi baru terparkir satu Rubicon. Namun sekarang, tiba-tiba sudah berubah menjadi showroom mobil keren.
Usai merekam ia langsung mengirim ke Mala.
Anggi : 'Kost an baru.'
Mala. : 'Gileee ...kereeen ...."
Anggi : '2,5 jeti bo, sebulan.'
Mala. : 'APAH?! Ga salah?"
Anggi : 'Nasib. Hiks. Masih trial. Numpang bobo doang. Sementaun.'
Mala : 'Itu Rubicon?'
Anggi : 'Aselik.'
Mala : 'Parkiran fakultas sebelah pindah ke situ kali.'
Anggi : 'Parkiran sebelah paling banter Lexus.'
Mala : 'Jadi ... belom fixed?'
Anggi : 'Belum lah. Mau bayar pake daun? Besok bantuin nyari lagi yak, abis gathering.'
Mala : 'Oceh. Ntar ku tanyain anak-anak di sekber.'
Anggi: 'Siip.'
Baru selesai mengetik balasan untuk Mala dan berniat ke kamar mandi, ponselnya kembali bergetar.
Grup Romansa
Bayu : 'Woiii, sepi amat elah.'
Fira : 'Ko esih preian ya (kamu masih liburan ya)?"
Bayu : 'Ngesuk bali (besok pulang). Panggilan negara.'
Chris : 'Endi sing nembe pindahan (mana yang baru pindahan)?'
Anggi : 'Dih.'
Bayu : 'Enakeun panggonan anyar (tempat baru)?'
Chris : 'Selayang pandang, dong.'
Anggi : 'Maksa.'
Fira : 'Kasih dah tuh kriskros.'
Anggi membalas Bayu : '2,5 jeti bo. Dikira aku anak sultan.'
Bayu : 'Apartemen?'
Anggi : 'Rumah biasa, tapi baguuus. Ada lift.'
Chris : 'Woii, mana penampakan?'
Fira : 'Kasih Nggi, daripada ribut.'
Ia pun mengeshare video yang tadi direkamnya.
Chris : 'Hotel?'
Fira : 'RUBICON?!'
Chris : 'Endi ... endi (mana)?'
Bayu : 'Worth it.'
Anggi : '2,5 jeti?!'
Bayu : 'Yup. Fasilitas?'
Chris : 'Is dat min.' -stiker mobil-
Fira : 'Ngimpi.'
Anggi : 'Kamar isi lengkap, kamar mandi standar hotel, AC, laundry, free WiFi.'
Bayu : 'Ntaps.'
Anggi : 'Trial doang, gaes. Seminggu.'
Chris : 'Goks kostane ko (kamu), Nggi.'
Fira : 'Fotoin tampak depan-belakang-samping.'
Chris : 'Cah (anak) Arsi gatel lihat penampakan baru.'
Fira : 'Kamar mandi aja kelalen (jangan lupa).'
Anggi : 'Rebes.'
Bayu : 'Naruto Uzumaki kemana, woi?!'
-Maksudnya Dio, suka dipanggil Naruto oleh anak-anak yang lain. Karena Dio adalah hokage dari desa Konoha. Eh, maksudnya, Naruto mania.-
Fira : 'Paketos sibuk miting pastinya.'
Chris : 'Kena kutukan miting. HAHA.'
Bayu : 'Naik pangkat jadi Kahim.'
Chris : 'Anjay, ambis.'
Ia pun diam-diam keluar dari grup. Hanya untuk mengecek WA info di sudut kanan atas. Benar saja, Dio sedang tak aktif. Hmm.
Anggi : 'Sori gaes, nyong (aku) pamit. Ngantuk, lom Isya.'
Fira : 'Jangan lupa foto.'
Bayu : 'Ok.'
Chris : 'Dadah ... Anggi sayang.'
Fira : 'Dih. Pake sayang-sayangan.'
Kemudian ia menyimpan ponsel di atas nakas. Matanya sedikit berair karena mengantuk. Lalu diambilnya perlengkapan mandi dan handuk dari dalam tas.
Dengan langkah berat, diseretnya kaki menuju kamar mandi di luar. Sebelum membuka pintu kamar, getar notifikasi di ponselnya masih terus berbunyi. Tiga anak gokil itu pasti masih melanjutkan chat di grup.
Di luar ia harus celingak-celinguk guna mencari letak kamar mandi.
"Kamar mandi umum, di ujung lorong."
Begitu kalimat Niken masih terngiang.
Dengan langkah terseok diseretnya kaki menuju ujung lorong. Yang dari kamar Niken berjarak sekitar 8 pintu.
Baru juga berjalan melewati 2 pintu, ia melihat dua orang keluar dari lift yang terletak di tengah lorong. Seorang berjaket hijau dan cewek seksi yang menempel layaknya perangko.
'Jaket hijau?' ia mendadak teringat sesuatu, namun lupa itu apa.
Dan saat ia masih bingung, dua orang tersebut telah menghilang di balik salah satu pintu kamar.
Hmm, akhirnya ketemu juga kamar mandinya. Dan benar saja, sebagus kamar mandi yang ada di dalam. Lebih luas malah.
Ia pun menggosok gigi, mencuci muka, dan mengambil wudhu.
Setelah selesai, ia langsung kembali ke kamar. Dalam perjalanan menuju kamar, terdengar riuh rendah orang berbicara di lantai bawah. Beberapa tertawa dan ada yang mengobrol. Seseorang bahkan memainkan gitar. Nada yang tertangkap di telinga adalah reffrain Don't start now nya Dua Lipa.
'Don't show up
Don't come out
Don't start caring about me now
Walk away
You know how
Don't start caring about me now'
'Aren't you the guy who tried to
Hurt me with the word goodbye
Though it took some time to, survive you
I'm better on the other-side'
(Dua Lipa, Don't Start Now)
Membuatnya mempercepat langkah menuju ke kamar.
Selesai sholat Isya, suara-suara di luar semakin riuh rendah. Bahkan terdengar lebih jelas. Sepertinya ada banyak orang yang berjalan melewati lorong depan kamar.
Dengan mata berat, ia melemparkan diri ke atas tempat tidur. Dan langsung tertidur.
Tengah malam, ia sempat terbangun karena mendengar suara orang tertawa yang cukup keras. Sambil mengucek mata, ia meraih jam tangan yang sengaja disimpan di bawah bantal, 23.40 WIB.
Meski heran kenapa semakin malam justru semakin ramai, namun kantuk yang menggelayut lebih besar daripada hasrat memenuhi rasa keingintahuannya. Beberapa detik setelah menyimpan kembali jam tangan di bawah bantal, ia pun telah terlelap.
***
Catatan :
Sekber. : sekertaris bersama (disini artinya) tempat berkumpul beberapa organisasi kemahasiswaan
Rubicon. : merk mobil sejenis jeep
Worth it. : setimpal, sesuai
Is dat min : slank dari is that mine?
Ntaps. : mantap
Goks. : gokil
Anak arsi : anak jurusan arsitektur
Rebes. : beres
Paketos. : pak ketua OSIS
Miting : meeting, rapat
Kahim : ketua himpunan
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
mak iik
baca ulang entah yg keberapa...
2024-11-18
0
Ayodya
again
2024-11-18
0
Syarifah Ainun
yes!!!! Uda kesekian kalinya
2024-10-11
0