How They Met
(Bagaimana mereka bertemu)
---------
Anggi
"Jadi gimana ... kamu tidur di tempat aku aja?" Mala menarik rem tangan usai parkir di depan sebuah gerai ATM. Sayup-sayup terdengar adzan Isya dari kejauhan.
"Lihat ntar," ia menjawab sambil membuka pintu mobil.
"Eh, tunggu sebentar, ya," ia langsung berlari berjingkat-jingkat menghindari genangan air di sepanjang jalan menuju ATM.
Sambil menunduk dan mengibas-ngibaskan jaket favorit yang terkena tetesan air hujan, ia berjalan menyeberangi tempat parkir menuju gerai ATM. Namun tiba-tiba ....
BUK!
"Aduh!" mulutnya refleks mengaduh. Karena kepalanya menabrak sesuatu yang keras dan liat. Membuatnya sontak mendongak.
"Jalan pakai mata!!!" gerutu si pemilik dada yang ditabraknya. Nadanya ketus campur songong.
Ia pun meringis sambil mengelus kening yang terasa pegal. Busyet, itu tadi dada apa batako, keras amat?
Orang tersebut masih sempat memelototinya kesal sebelum kembali melangkah.
Sebenarnya ia ingin meminta maaf, memang salahnya sendiri jalan sambil menunduk, jadi menabrak orang lain deh.
Namun orang yang ditabraknya sudah keburu pergi. Sekilas sudut matanya sempat menangkap, bayangan seorang cowok jangkung berbalut jaket hijau. Dengan cewek seksi yang menggelayut manja di lengan pemilik dada batako itu.
"Dih," ia yang sebenarnya masih beritikad baik ingin meminta maaf jadi mencibir. Sombong amat!
Setelah menarik sejumlah uang yang diperlukan, ia lebih dulu mampir ke Booth Donat dan Coffe Milk yang terletak persis di sebelah gerai ATM. Berkeliling mencari kost membuat perutnya cepat lapar.
"Mba, Oreo frappuccino dua. Saya tinggal ke sebelah dulu ya," ujarnya beranjak ke Booth Donat. Tapi baru juga berbalik seseorang menepuk bahunya.
"Anggi?!"
Ia tertegun sebentar, dan begitu menengok ke belakang seseorang sedang tersenyum lebar, "Ya ampuun, Niken?!" pekiknya antusias.
Mereka langsung cipika cipiki sambil berpelukan.
"Apa kabar? Lama nggak ketemu."
"Ya gini deh," Niken tertawa.
"Kamu nggak pulang?"
"Enggak, lagi banyak kerjaan disini."
"Ikut ngospek juga?"
"Enggak lah, kerajinan amat, ada kerjaan lain."
"Widih ... project gede nih kayaknya."
"Aku sekarang kerja di radio, Nggi. Lagi banyak program. Nggak bisa mudik, deh. Lagian Papi sama Mami kan di Bandung."
"Oya? Keren ... keren. Selamat ... selamat. Terus berlanjut nih ceritanya?" ia mengulurkan tangan mengajak bersalaman.
Niken memang selalu memiliki kesibukan di dunia showbiz. Sejak MOS SMA, sudah sering didaulat menjadi MC tiap kali ada event di sekolah mereka. Bahkan saat kelas XI, Niken sudah berhasil menjadi penyiar di salah satu radio hits anak muda di kota mereka.
"Apaan, sih," Niken merengut, tapi disambutnya juga uluran tangannya.
"Keren banget di radio, Nik. Minimal, ntar kalau ada konser, aku bisa beli tiket lagi ke kamu, ya. Diskon," ia tertawa senang.
Dulu jaman sekolah, Niken sering menjual tiket konser band-band yang sedang nge hits dengan harga khusus internal radio alias diskon. Yang langsung laris manis diserbu oleh anak-anak satu sekolah.
"Jiah," Niken ikut tertawa. "Eh, kamu ngapain disini? Ini jaket, kok kayak kenal?!"
Ia spontan langsung bersidekap, sambil tersipu malu mencoba menutupi inisial nama di dada sebelah kiri.
"Ini pesanannya," ujar Mba-mba Coffe Milk kearah Niken. Membuatnya semakin mengeratkan pelukan ke diri sendiri.
"Oya, makasih, Mba," Niken menerima sekresek penuh Coffe Milk berbagai rasa dari Mba-mba tersebut.
"Banyak amat, buat se RT, Nik?"
"Haha ... iya buat anak-anak di kostan. Hujan gini suka pada mager, males keluar."
"Mbanya dua, ya?" Mba-mba Coffe Milk kembali menginterupsi obrolan mereka.
"Iya, saya dua," ia mengangguk.
Akhirnya mba Coffe Milk mempunyai kesibukan sendiri. Yaitu menyiapkan orderannya.
"Eh, ngomong-ngomong, kamu kost di mana? Masih yang dulu?"
Dulu sekali, waktu awal kuliah jaman-jaman mau ospek. Ia pernah bertandang ke kostan Niken bersama Fira, Bayu, dan Dio. Ceritanya mereka bertiga sedang mengantar pindahan ke Jogja. Kebetulan bertemu dengan Niken. Jadi sekalian mampir deh.
"Udah pindah."
"Ada yang kosong nggak?"
"Buat siapa?"
"Aku."
"Kamu mau pindah kost?"
"Bukan mau pindah lagi, udah harus pindah malah. Aku salah nyatet tanggal di agenda, jadi ambyar semuanya. Nih barang-barang masih dititip di temen. Ini baruu aja habis dari keliling-keliling nyari kost sama Mala."
"Waduh, iya, aku sama Mala, bisa bete dia kelamaan nunggu. Bentar yak," ia menepuk jidat begitu teringat Mala. Buru-buru mengetik Line chat.
Anggi : 'Sori bentar yak, aku ketemu Niken.'
Sent
"Ada sih yang kosong."
"Hah? Serius? Aku mau, dong," matanya membelalak semangat.
"Ini Mba, pesanannya," Mba-mba Coffe Milk kembali berada diantara mereka.
"Makasih, Mba," ia menerima pesenan dan membayarnya dengan uang pas. "Eh, Nik, pindah ke sebelah, yuk. Aku mo beli donat. Kamu nggak lagi buru-buru kan?"
"Enggak, nyantai aja."
"Mba, donat satu lusin jadi dua ya. Yang oreo, almond, keju, sama taro."
Mba-mba di Booth Donat dengan cekatan menyiapkan pesanannya.
"Eh, gimana gimana? Ada kost yang kosong, aku mau, dong. Udah hopeless banget nih."
"Bukan kosong sih. Jadi ada temen aku lagi pulang kampung, katanya mau cuti semester ini. Baru balik akhir tahun ntar. Nih kuncinya ada di aku. Kata dia, boleh disewain. Bulanan tapinya. Sambil nunggu dia balik."
"Oya? Boleh deh Nik, boleh."
"Lihat dulu aja, siapa tahu nggak cocok."
"Cocok cocok. Udah malem gini mau nyari di mana lagi."
"Ini pesenannya," kini giliran mba-mba di Booth Donat yang menginterupsi mereka.
"Makasih, Mba," ia menerima dua kantong donat lalu membayarnya. "Kamu sekarang langsung pulang atau mau kemana dulu?"
"Langsung pulang, ntar malem aku mau pergi lagi ada acara."
"Oh ya udah, eh kamu bawa kendaraan?"
Niken mengangguk.
"Bentar bentar, aku bilang ke Mala dulu yak. Kalau mau pulang bareng sama kamu."
"Oke. Aku tunggu di sana, ya," Niken menunjuk sedan berwarna merah tak jauh dari tempat mereka berdiri. Hanya selisih 3 kendaraan dari tempat Mala parkir.
"Oke oke ... sip."
Niken pergi lebih dulu ke tempat parkir. Sementara ia masih menunggu uang kembalian dari Booth Donat. Setelah uang kembalian diterima, sambil setengah berlari ia pun menemui Mala.
"Reunian dulu bok?" Mala menggerutu.
"Iya sori ... sori ... barusan ketemu sama Niken. Kamu ingat sama Niken temen SMAku, kan?"
"Yang suka ikut lomba putri-putrian? Yang pacarnya basis The Crash kan?"
"Pinterr! Yang pertama 100. Kalau yang kedua ... tahu deh kabarnya mereka udah putus lama."
"Yah, jadi ghibah deh kita."
Ia hanya mencibir sambil tertawa.
"Mal, makasih banyak ya udah nemenin setengah harian ini. Sampai hujan-hujanan nyari kostan. Tengkiu ... tengkiu ... tengkiu," ujarnya sambil mengangsurkan sekantung donat. "Buat Noah."
Selama kuliah, Mala tinggal di rumah Abangnya yang sudah memiliki anak berumur 3 tahun. Mamaknya sama sekali tak memberi ijin Mala untuk ngekost. Terlalu riskan, kata Mamak. Dan Mala sebagai anak bungsu yang patuh san sayang orangtua, tentu tak bisa berkutik.
"Ish, pakai repot-repot segala."
"Sans. Eh, aku udah dapet kost."
"Hah? Serius? Di mana?"
"Niken. Di tempat dia ada yang kosong. Bukan kosong yang sesungguhnya sih. Lagi ditinggal mudik cuti katanya. Lumayan lah daripada lontang lantung nyari belum tentu dapet."
"Aku antar kamu ke Niken, ya."
"Eh, nggak usah. Aku bareng Niken aja. Kamu kan besok mesti ngumpul anak materi. Job desk udah selesai belum?"
"Ah, cincai, koor nya si Johan. Bisa dinego."
Ia mencibir. "Aku juga besok udah mulai ngumpul cofas. Makanya langsung mutusin ambil yang di Niken. Biar bisa lonjoran malem ini."
"Ya udah ... kalo keputusannya begitu. Aku sih asyik asyik aja. Eh tapi ... barang-barang kamu, gimana?"
"Masih di Sinta. Aku ngobrolnya target seminggu maksimal. Yang penting ada tempat buat tidur malam ini."
"Oke."
***
Catatan :
Anak materi : (disini artinya) panitia bidang materi
Job Desk : uraian pekerjaan / tugas
Koor. : koordinator
Cofas. : co fasilitator, pemandu kelompok kecil dalam ospek
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
S𝟎➜ѵїёяяа
ngulang baca kisah Anggi dan Rendra, entah keberapa kali aku baca.
di antara Tama , Cakra , Dio atau Rendra .. paling favorit Rendra karena lebih sat set dari Dio, karakternya gk se sad Cakra, entah menurut ku Cakra ini selalu gk enakan, Rendra ini agak egois dikit tapi aku syuka /Drool/ , dan karakter Rendra ini hampir mirip karakter Tama tipe alpha male , tapi Rendra agak bad boy wkwkwk
2025-03-19
0
Ayodya
baca ulaanggg,maless cari othor yg bagus belom nemu
2024-11-18
2
Bebby_Q'noy
aggghhhhhhh bang Rendra nih😍🤭
2024-10-24
1