Anggi
Rangkaian kegiatan menuju hari H terus berlangsung. Deretan jadwal workshop, kelas materi, third gath, ToT, roleplay, pelatihan soft skill, dan printilan lain memenuhi hari-harinya.
Jika separuh waktu sebelumnya, Rendra hampir selalu menjadi pemateri di beberapa kelas. Di paruh kedua ini, ia bahkan tak pernah melihat batang hidung si mesum itu barang sekalipun. Rendra seolah hilang bagai ditelan bumi.
Terakhir, ia sempat melihat sekelebatan bayangan punggung Rendra yang pergi menjauh, keluar dari auditorium. Saat ia sedang mendapat bagian tampil di sesi workshop public speaking. Siapa yang merasa kehilangan? Tak lain tak bukan adalah para gadis ceriwis cofas.
"Bang Rendra kemana, ya? Workshop tanpa dia terasa hampa," Elva merengut. "Bosen diisi sama Pados, Budos terus."
Ia hanya mencibir. Justru merasa senang tak bertemu Rendra dalam jangka waktu lama. Karena kehadiran Rendra di sekitar, selalu membuatnya merasa kesal pada diri sendiri. Apalagi kalau bukan karena mengingatkannya pada kejadian menyebalkan di dapur Pitaloka.
"Bang Rendra kemana sih, Zak?" Elva tak tahan untuk tak bertanya pada koordinator.
"Kangen yaa ...." seloroh Zaki.
"Bukan aku aja yang nanya, tuh barisan ciwi ciwi pada gelisah."
"Jiah," Zaki mencibir. "Si Abang ngancel semua jadwal materi karena satu dan lain hal."
"Satu dan lain hal apakah itu?"
"Ada deh."
Bahkan hingga berlangsungnya four gath sebagai rakor terakhir keseluruhan panitia sebelum hari H, Rendra tetap tak terlihat. Good.
Malam ini, usai membereskan perlengkapan untuk gladi bersih besok dan bersiap tidur, ada kejutan menyenangkan di ponselnya.
Dio : 'Howdy?'
Huaaa ... dreams come true. Ini chat pribadi pertama Dio setelah chat terakhir beberapa waktu lalu yang belum sempat ia balas.
Anggi : 'Fine. U?'
Tanpa harus menunggu lama, ponselnya kembali bergetar tanda notifikasi masuk.
Dio. : 'Good.'
Dio. : 'Besok GR, ya?'
Anggi : 'Kok tahu?'
Dio. : -emoticon senyum lebar-
Dio. : 'Jaga kesehatan, semangat ya!'
Dudududu ....
Anggi. : 'Makasih. Kamu kapan?'
Dio. : 'Masih lama. 10 harian lagi.'
Anggi. : 'Lagi sibuk-sibuknya, dong?'
Dio. : ' Nih lagi tidur di sekre sama anak-anak.'
Anggi. : 'Walah.'
Dio. : 'Ok. G night, sweet dreams.'
Ia langsung tersedak, tangannya bahkan mendadak mengalami tremor sesaat ketika hendak mengetik balasan, duh!
Anggi. : 'U too.'
Ia pun tertidur dengan hati berbunga-bunga. Tubuhnya serasa melayang terbang ke awang-awang.
Esok hari tepat jam 7 pagi, seusai briefing panitia, ia dan teman-teman sesama cofas lain sudah stand by di halaman parkir gedung pusat teknik. Bersiap untuk menyambut para maba, yang akan menjalani technical meeting sebelum gladi bersih di lapangan GSD.
Sebelumnya, panitia cofas hanya mendapat daftar nama maba dari ditmawa (direktorat kemahasiswaan), tanpa nomor telepon seluler.
Sebagai usaha dari universitas, untuk meminimalisir tindak kejahatan kepada para maba. Karena, jika panita mendapatkan daftar nomor telepon seluler maba, sangat dimungkinkan nomor tersebut akan menyebar. Lalu ada kemungkinan bisa dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Seperti memawarkan MLM atau penipuan untuk mengirimkan sejumlah uang.
Sistem ini mendorong maba untuk bersikap proaktif dan penuh inisiatif, yaitu mengubungi cofas sesuai dengan gugus masing-masing.
Hingga kemarin sore, baru 38 maba yang menghubungi mereka, dari total 45 anggota gugus. Ia sangat berharap, hari ini seluruh maba bisa berkumpul tanpa kecuali.
Akhirnya pada pukul 07.45 WIB, hampir seluruh anggota gugus sudah berkumpul di halaman. Berjumlah 44 orang dari total 45 peserta. Bersama-sama dengan yang lain, mereka berjalan menuju auditorium untuk mengikuti technical meeting.
Tepat pukul 08.00 WIB, Elva dan Aiman membuka acara technical meeting. Dilanjutkan dengan sambutan dari pihak ditmawa, perkenalan seluruh panitia sub divisi teknik. Dan terakhir, Zaki tampil untuk mempresentasikan tugas-tugas ospek.
Presentasi ditutup dengan sesi tanya jawab. Yang disambut gembira, karena ternyata banyak maba yang belum memahami beberapa tugas. Meskipun sudah dijelaskan secara detail di situs resmi.
Technical meeting selesai tepat menjelang siang. Saat maba diberi kesempatan untuk ishoma, panitia melakukan briefing.
Ia baru saja hendak bergabung dengan teman cofas yang lain, ketika seorang maba mendatanginya dengan tergopoh-gopoh.
"Kak Anggi?"
"Ya."
"Sori ... telat."
Nezard beralasan, baru datang dari Jakarta subuh tadi, sehingga terlambat. Akhirnya lengkap sudah seluruh anggota gugusnya, yaitu 45 orang.
Karena Zaki harus memimpin briefing panitia, jadilah ia yang menjelaskan poin-poin yang telah dibahas di technical meeting tadi.
"Ini maksudnya gimana, Kak?"
Rupanya Nezard adalah maba yang sangat percaya diri. Nezard banyak bertanya, bahkan untuk hal remeh sekalipun. Namun karena waktu ishoma hampir habis, ia terpaksa segera menyudahi sesi 'menjelaskan'.
"Nanti ... kalau masih ada yang belum mengerti gimana, Kak?"
"Japri."
Nezard langsung sumringah. "Siap, Kak Anggi."
Ia bergegas menuju ruangan tempat panitia briefing. Begitu sampai, semua sudah berpencar di sudut masing-masing sedang menikmati makan siang. Yah, ternyata briefing panitia sudah selesai. Di salah satu sudut terlihat Zaki sedang berkoordinasi dengan Damas dan Faisal.
Akhirnya, ia memutuskan menghampiri Elva, Jihan, Dini, dan Ayu. Yang sedang menikmati makan siang bersama.
"Dari mana aja?"
"Ada maba telat."
"Kakak teladan."
Ia meringis. "Makanan ambil di mana?"
"Tuh," Elva menunjuk meja panjang di bagian depan ruangan. Yang ternyata sudah kosong melompong.
"Cari apa?" sapa Kurnia yang kebetulan lewat di depannya.
"Maksi ambil di mana?" ia balik bertanya pada Kurnia.
"Kamu belum dapet?" Kurnia keheranan.
"Belum," ia menggeleng. "Ambil di mana, sih?"
"Yah, telat," Kurnia menyayangkan. "Udah dibawa lagi sama anak konsumsi."
"Kok bisa?" ia mencoba memanjangkan leher untuk mencari letak konsumsi.
"Dikira udah dapat semua kali," Kurnia mengangkat bahu.
"Bukannya konsumsi udah dihitung sesuai dengan jumlah panitia?" tanyanya sambil celingukan ke kanan dan ke kiri. Berharap menemukan konsumsi yang dimaksud.
"Tahu," Kurnia kembali mengangkat bahu. "Protes noh ke Citra."
-Citra adalah koordinator konsumsi-.
"Beneran nggak dapet, nih?" ia mengembuskan napas.
Semalam, saking bahagianya mendapat chat dari Dio, ia jadi susah tidur. Alhasil membuatnya bangun kesiangan. Belum sempat sarapan, Nila sudah mengajaknya berangkat.
"Tapi udah sarapan, kan?" tanya Kurnia.
Ia menggeleng pasrah.
"Parah, sih," Kurnia mengernyit. "Habis ini lumayan movingnya, mana panas lagi."
Ia pun menggaruk-garuk kepala yang tak gatal.
"Harus makan," ujar Kurnia serius. "Kecuali kamu mau dirawat sama medik."
"Jangan sampai," ia tertawa. "Eh, kantin paling deket, di mana ya?"
"Oh iya," Kurnia seperti teringat sesuatu. "Ke kantin TI aja. Lumayan lengkap."
"Di?"
"Dari sini belok kanan, ngikutin selasar, lewatin akademik, nyebrang dikit, kantin nyempil di sana."
"Oke deh, makasih Kur. Kalau ada yang nyariin ... tolong bilangin, kalau aku lagi cari makan."
"Siap!" Kurnia mengiyakan.
Ia pun keluar melalui pintu utama.
----------
Tanpa pernah menyadari, di waktu yang sama, Rendra justru masuk melalui pintu yang berbeda.
"Udah ngumpul semua?" tanya Rendra cepat ke arah Zaki.
"Udah, Bang," Zaki beranjak ke tengah ruangan.
"Temen-temen ... tolong perhatiannya sebentar. Kita briefing terakhir sebelum moving."
Semua sigap berkumpul mengelilingi Zaki dan Rendra.
"Udah semua, ya?" Zaki mengecek satu persatu.
"Anggi ijin, Zak," Kurnia mengangkat tangan.
"Kenapa?"
Bukan Zaki yang menjawab, tapi Rendra.
"Lagi ke kantin cari makan."
"Kok bisa?" lagi-lagi Rendra mendahului respon Zaki.
"Tanya lah ke konsumsi, kenapa belum semua panitia dapat makan siang, udah diambil lagi."
Rendra tak menggubris omelan Kurnia, matanya terlihat menyipit memikirkan sesuatu.
---------
Setelah mencari-cari sesuai petunjuk dari Kurnia. Akhirnya ia berhasil menemukan kantin yang dimaksud.
Ia langsung memesan nasi rames dan melahapnya dengan cepat. Begitu selesai, ia bergegas kembali ke ruang panitia. Di mana Zaki sudah menunggunya dengan gelisah.
"Waktunya moving."
Ia mengangguk, langsung menuju auditorium menemui para maba anggota gugus mereka yang telah menunggu.
Dan, keteledoran berikutnya setelah tak sempat sarapan pagi adalah ... lupa tak membawa topi. Padahal siang ini cuaca sangat terik, sinar matahari seolah setia mengiringi langkah mereka dari FT menuju lapangan GSD.
Sambil berlari-lari kecil, beberapa kali ia harus menyeka keringat yang mengalir di dahi. Saking panasnya cuaca, bahkan anggota gugusnya yang kesemuanya laki-laki juga terlihat kepayahan, meski mereka telah memakai caping sebagai penutup kepala.
Mereka menjadi gugus terakhir yang sampai di lapangan GSD.
Setelah memandu maba memasuki lapangan, ia dan Zaki pergi ke tempat teduh. Karena komando sudah diambil alih subdiv seremonial. Yang akan melatih para maba membuat beberapa formasi untuk upacara pembukaan sekaligus penutupan.
Ia memilih untuk bergabung dengan deretan para cofas. Menunggu di pinggir lapangan sambil mengawasi para maba. Berjaga-jaga jika ada yang memerlukan bantuan.
Saat tengah asyik memperhatikan para maba membuat formasi, tiba-tiba ada seseorang yang memakaikan topi ke kepalanya.
"Pakai topi ... nanti pingsan!"
Orang tersebut langsung berlalu. Sebelum ia sempat melihat siapa dia dan berterima kasih.
Beberapa panitia di sekitarnya terkejut demi melihat kejadian tersebut. Zaki yang pertama kali menyadari apa yang sedang terjadi, langsung tersenyum jahil.
Ia yang masih mengernyit heran, lalu menoleh ke arah samping kanan. Di mana orang yang baru saja memakaikan topi padanya melangkah pergi.
Dan di sana, dapat dilihat dengan sangat jelas, sebuah punggung berbalut jaket warna hijau -so familiar-, berjalan tegap menjauh. Dia?
Melalui gerak refleks, ia melepaskan topi dari atas kepala. Dengan masygul, dipandanginya topi berwarna putih berlogo merk ternama. Bergantian dengan punggung si pemilik yang semakin menjauh.
Samar-samar hidungnya mencium wangi buah-buahan yang berpadu dengan aroma kayu.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
adisty aulia
Reread..
Anggi yg ditopiin, saya yg degdegan💓🤗
2025-01-20
1
mak iik
hadehhh malah aku yg mau pingsan bang ren...
2024-11-18
2
novnov
anggi yg dikasi topii aq yg baperrrr..😭😭😭
2024-10-14
1