Deadly Nightmare
(Mimpi buruk paling mematikan)
---------------
Anggi
"Siang ini ... kita kedatangan tamu agung. Jarang-jarang orang sibuk kayak beliau, bisa gabung sama kita-kita," Zaki tersenyum lebar.
"Wah ... yang begini ini nih," orang itu menggelengkan kepala tanda tak setuju, tapi sambil tertawa.
"Bagi yang sering ke gelanggang, pasti udah nggak asing sama Abang kita yang satu ini, kan?"
"Banyak juga wajah yang belum gua kenal," ujar orang itu sambil mengedarkan pandangan ke seluruh lingkaran. Membuat giginya gemeletuk menahan marah. Sambil berusaha menundukkan kepala dalam-dalam, tak ingin dikenali.
"Langsung aja Bang, tak kenal maka tak sayang," Zaki mempersilahkan.
Orang itu mengangguk. Lalu melempar senyum pada mereka semua yang berada di dalam forum, "Siang semuanya."
"Siaaanngng ...."
"Apa kabar hari ini?"
"Baiiik ...."
"Kenalin ... nama gua Rendra, dari TI (Teknik Industri). Angkatannya nggak usah disebut, ya," orang itu tertawa seraya mengerling ke arah Zaki.
"Bebas, Bang," Zaki ikut tertawa. "Senior pastinya."
"Selamat datang di Fakultas Teknik," lanjut orang itu. "Tempat di mana orang-orang ...."
Ia berusaha keras tak mendengarkan ocehan orang menyebalkan itu sambil terus menundukkan kepala dalam-dalam. Hatinya dongkol bukan main. Si mesum itu bisa-bisanya ada di sini!?!
Mulutnya bahkan mencibiri setiap kalimat yang diucapkan. Tapi sayang, telinganya justru menerima dengan baik setiap pilihan kata yang jelas enak didengar, tegas dan bernas.
Jelas jenis komunikasi verbal tingkat tinggi, khas orator ulung. Tapi kenapa orang itu bisa ada di sini? Menjadi pemateri pula. Jabatannya apa tadi? Pjs Presidium Senat KM?
Horrible nightmare (mimpi buruk yang mengerikan).
"Sori ... baru bisa gabung sekarang. Bukan tidak memprioritaskan. Tapi berhubung ada tugas lain yang harus diselesaikan ...."
"Tugas mesum!" Ia langsung terlonjak kaget. Ketika menyadari, jika apa yang tengah berkecamuk di dalam hati dan pikiran, justru terucap oleh mulut dengan sangat lugas. Sekaligus terdengar oleh semua orang di dalam forum tanpa kecuali.
Deadly nightmare (mimpi buruk yang mematikan).
Kini semua mata sontak tertuju padanya. Tak terkecuali ... orang menyebalkan itu, Rendra.
"Ehm ...." Zaki berdehem berusaha mencairkan suasana yang mendadak hening akibat celetukannya.
Ia pun hanya bisa mengerutkan bibir sambil menundukkan kepala kian dalam. Berusaha keras menghindari tatapan terkejut Rendra.
"Bang Rendra ini ...." Zaki berinisiatif untuk mengambil alih forum. Karena Rendra masih terdiam, sebab tengah menatapnya tajam. Dengan ekspresi yang tak bisa diartikan.
"Sudah malang melintang di dunia kepanitiaan dan kepengurusan, BEM, dan sekarang Senat," lanjut Zaki.
Sementara ia harus menelan ludah berkali-kali hanya dalam waktu singkat. Karena tatapan tajam Rendra padanya tak juga berakhir.
"Pastinya banyak pengalaman beliau yang bisa menjadi ilmu dan input berharga bagi kita semua. Dan saya .... " Zaki masih terus berbicara.
"Sudah mengajukan kepada kordum, untuk menjadikan Bang Rendra sebagai pemateri tetap selama workshop. Bagaimana ... apakah semua setuju?!" Zaki jelas sedang memberikan pertanyaan retoris.
"Setujuuuu!" jawab semua yang ada di dalam forum serempak.
"Sekarang ... kita perkenalan dengan semua anggota cluster teknik aja dulu, Bang," imbuh Zaki. "Karena ... tak kenal maka ta'aruf."
Semua yang ada di dalam forum langsung tersenyum simpul mendengar candaan Zaki. Kecuali dirinya tentu saja. Sebab, Rendra jelas-jelas masih memandanginya tanpa tedeng aling-aling.
Sialan, batinnya yang semakin merasa marah.
"Bisa dimulai dari ... sebelah kanan saya."
Lalu sesi perkenalan pun dimulai. Seperti biasa, mereka diharuskan menyebut nama, asal fakultas dan tahun angkatan.
Kini Rendra tak lagi memandanginya. Orang mesum dan menyebalkan itu terlihat sedang memperhatikan setiap sesi perkenalan dengan seksama.
Namun ia sangat yakin, jika si mesum itu tak benar-benar sedang memperhatikan. Palingan hanya sekedar akting.
Masih belum hilang dari ingatan, bagaimana sentuhan tangan Rendra berhasil membuat sekujur tubuhnya menjadi panas dingin tak karuan. Sekaligus bisikan aroma mint di telinganya, yang membuat sekujur tubuhnya meremang bahkan hingga saat ini. Aarggghhh, sialan!
"Nggi! Anggi!" Elva menyikut pinggangnya. "Giliran kamu!"
Wajahnya langsung merah padam menahan malu. Demi menyadari, semua orang sedang melihat ke arahnya. Termasuk Rendra yang menatap tajam, lurus tepat di kedua matanya.
"Kenalkan ... nama saya Anggi ... komunikasi ... angkatan ...."
Namun tak disangka, Rendra sama sekali tak menaruh perhatian padanya. Rendra bahkan tak bereaksi, meski hanya sekedar anggukan kepala atau senyuman tanda mengerti.
Rendra juga sama sekali tak melempar candaan. Tidak seperti pada sesi perkenalan sebelumnya, yang selalu disisipi jokes atau sedikit pertanyaan.
Rendra bahkan langsung mempersilakan Ayu, yang duduk di sebelahnya, untuk memperkenalkan diri.
Meski kesal karena merasa diabaikan, ia hanya bisa menunduk dan bernapas lega. Karena ternyata, Rendra tak mengincar dirinya. Yang telah membuat celetukan kurang mengenakkan tadi.
"Kamu kenal sama Bang Rendra?" bisik Elva penasaran.
Ia menggeleng keras-keras, tak mau mengakui.
"Kok tadi ... nyeletuk begitu?"
"Tahu deh!" dadanya mendadak bergemuruh. "Males banget bahas orang itu!"
Elva hanya mengernyit melihat reaksinya yang penuh emosi. "Kamu tadi ... udah maksi (makan siang) belum?"
Kini giliran keningnya mengernyit mendengar pertanyaan Elva.
"Kalau laper ... aku juga sering marah nggak jelas," tambah Elva dengan tampang tak berdosa.
Membuatnya mendecak kesal.
Usai perkenalan, mereka mulai masuk ke dalam materi. Lagi-lagi Rendra dengan bahasa yang tertata rapi, serta enak didengar, menjelaskan bagaimana gambaran ospek secara umum.
Apa yang akan mereka hadapi di lapangan, kemungkinan yang bisa terjadi, resiko sekaligus pilihan solusi, serta sikap yang harus diambil. Semua dijelaskan secara detail. Beberapa poin penting bahkan di breakdown hingga subpoin terkecil.
Tanpa sadar, ia pun terbawa suasana serius. Buku agendanya kini bahkan telah dipenuhi oleh beberapa catatan penting.
Ia juga sesekali mengangguk-angguk setuju, saat mendengarkan pemaparan Rendra. Tapi begitu teringat kejadian tadi pagi, ia kembali merasa kesal dan sangat marah.
Bagaimana bisa, orang semesum itu memiliki kemampuan public speaking di atas rata-rata?! Pilihan kalimat Rendra bahkan selalu ear catching, komunikatif. Dengan gaya bicara yang memukul telak jiwa pendengarnya. Hingga mampu mempengaruhi. Sekaligus pembawaan yang menyenangkan. Hell no.
"Keren ya, Bang Rendra," bisik Elva. Yang pastinya sedang tak bisa menyembunyikan kekaguman.
Terhadap Rendra, yang kini masih berbicara di depan forum. Sambil sesekali menghentikan pandangan ke arahnya. Hingga tanpa sadar, mata mereka berdua tiba-tiba saja sudah saling bertautan.
Tapi ia buru-buru menundukkan kepala. Sambil mengomel di dalam hati. Sebab masih merasa sangat marah dengan kejadian tadi pagi.
"Aku langsung ngefans deh sama Bang Rendra," lanjut Elva dengan mata berbinar. Memandangi Rendra, yang kini tengah menjelaskan tentang pengalaman Ospek di tahun-tahun sebelumnya.
Tapi ia hanya mencibir. Karena lagi-lagi, mata mereka kembali saling bertautan tanpa sengaja. Sebab Rendra secara tiba-tiba, memusatkan perhatian padanya.
"Kalau yang kayak gini jadi pemateri tetap mah ... aku iyes banget," bisik Elva lagi.
Membuatnya semakin mencibir. Karena Rendra terus saja berbicara sambil menatapnya.
Dan di sesi tanya jawab, Elva menjadi salah satu cofas yang paling aktif bertanya. Sementara ia terus saja memasang muka ditekuk, sambil mencorat-coret buku agenda. Mencoba tak terpengaruh dengan diskusi seru teman-temannya.
Materi selesai menjelang sore, Rendra pun pamit undur diri. Tak lupa memberi yel yel penyemangat sebelum berpisah.
Ia terus saja mencibir dalam hati, dongkol bukan kepalang. Karena Rendra lagi-lagi menyapukan pandangan ke arahnya.
Setelah Rendra pergi, acara langsung dilanjutkan dengan latihan ice breaking. Seru juga. Kehebohan dan keceriaan mereka sama sekali tak menggambarkan kebersamaan yang belum genap satu hari. Ia bahkan mulai lupa dengan pemateri sebelumnya alias Rendra. Dan tenggelam dengan keseruan latihan ice breaking.
"Seru juga di cluster ini," ujar Elva setelah acara selesai. "Anaknya rame-rame."
"Semoga beneran seru," jawabnya asal.
"Lupakan moving yang berat," Elva mengepalkan tangan. "Semangat wrekso!"
Ia meringis melihat semangat Elva.
"Teknik!"
"Jaya!"
"Teknik!"
"Jaya!"
"Teknik!"
"Jaya!"
Begitu cara Zaki menutup first gath, yaitu dengan teriakan semangat. Setelah sebelumnya, mereka semua menyepakati rundown kegiatan di cluster teknik.
Kini ia sedang berkemas pulang ketika Ayu menghampiri.
"Mau bareng?" tawar Ayu.
"Thanks Yu, tapi aku udah pindah," jawabnya.
Ayu tinggal di dekat kost lama. Meski beda fakultas, tapi mereka telah saling mengenal sebelumnya. Tipikal teman yang murah hati, alias sering memberi tumpangan bagi yang membutuhkan.
"Loh, pindah ke mana? Kok aku nggak tahu."
"Iya, kan kostan lamaku mau direnov. Jadi mesti pindah sementara waktu."
"Trus ... kamu sekarang kost di mana?"
Ia pun menyebut alamat kost Niken.
"Yang bener?" Ayu langsung melotot.
Ia mengangguk, "Kenapa kaget?"
"Yang halamannya luas? Cat putih, ada lift, 3 lantai?" tanya Ayu cepat.
"Iya ... yang itu. Kenapa memang?" ia mengernyit heran.
"Kok bisa sih kost di situ?"
"Yaa ... ada temen yang nawarin waktu lagi pusing nyari. Ya udah deh ... aku ambil aja."
"Kamu nggak tahu?" Ayu menatapnya dengan penuh selidik.
"Tahu apa?" ia balik bertanya karena merasa bingung.
"Itu kost kan ... terkenal sebagai ... tempat tanda kutip."
"Tempat tanda kutip? Maksudnya gimana?" ia semakin mengernyit tak mengerti.
"Pitaloka udah terkenal dari dulu ... kalau yang kost di sana bisa dipakai. Beberapa jadi profesi. Side job atau main job malah. Status mahasiswi cuma kedok aja. Kamu ... beneran belum tahu?"
***
Catatan :
TI. : jurusan teknik industri
Wrekso. : (disini artinya) nama gugus
Breakdown. : perincian
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Bebby_Q'noy
🤣🤣🤣🤣
2024-10-24
1
‼️n
Walah....to mb Anggi kok y keceplosan ngono to?.....
Boleh ga sih thor kalo aq mbayangin Anggi kayak itu ...Bulan Sutena y??? cantik, manis, berlesung pipi,....
2024-08-04
1
Herlina Lina
/Facepalm/
2024-06-07
0